Sabtu, 20 April 2013

Nabilah Ingin Rena Kembali!




Hujan menyamarkan setiap tetes air mata Nabilah, Guntur seakan berbaur menemani tiap isakan tangis Nabilah, petir bahkan tak menjadi masalah lagi bagi Nabilah. ia terus berjalan menembus lebatnya hujan saat itu. Setiap mata melihat kearah Nabilah, tak ada setitik dari seragam sekolahnya yang kering, semuanya basah karena hujan. Bebarapa orang merasa begitu iba melihat Nabilah yang berjalan ditengah hujan dengan isakan tangis, semua orang bisa mengetahui bahwa Nabilah sedang benar-benar sedih. Kemudian saat Nabilah berada di salah satu kuburan ,Hujan mulai berhenti menyisakan beberapa tetes air. Nabilah kembali mengingat kejadian dimana sahabatnya benar-benar pergi untuk selama-lamanya tanpa mengucapkan sepatah kata untuknya.

                Sebulan yang lalu saat terik panas benar-benar menyengat kulit, Nabilah dan sahabatnya yang bernama Rena yang sudah ia kenal sejak kecil tengah berjalan dipinggir jalan dekat sekolah, mereka baru saja pulang sekolah. Saat itu Nabilah melakukan aksi diam seribu bahasa kepada sahabatnya itu 

“ngambek jangan lama-lama dong , aku harus minta maaf berapa juta kali sih biar kamu ga marah lagi..? Aku akan terus mengikutimu sampai kamu maafin aku! ” Keluh Rena merasa bersalah karena tanpa sengaja menjatuhkan Handphone Nabilah hingga rusak.

 “hey. Denger dong!” pinta Rena sambil menepuk pundak Nabilah 

“jangan sentuh aku ! ”
bentak Nabilah sambil mendorong pelan sahabatnya itu kemudian berjalan lebih cepat saat menyeberang agar sahabatnya itu tertinggal jauh dibelakangnya, tepat saat Nabilah tiba ditrotoar, lampu hijau pun menyala, tanpa disadari Rena yang tengah berlari mengejar dirinya.


 *PIIIIIIPPPP*


suara klakson begitu nyaring ditengah keramaian lalu lintas berbarengan dengan suara teriakan Rena dan seketika suasana jalanan menjadi sangat riuh, semua orang  berlarian menuju ketengah jalan kearah sumber teriakan tadi. Nabilah ingin teriak, menangis sekeras-kerasnya tapi semua itu tertahan di tenggorokan, nafasnya memburu , dadanya begitu sesak dan tubuhnya terjatuh lemas memandang kerumunan orang tak percaya, beberapa menit kemudian pandangan Nabilah kabur entah karena air mata atau kerena kepalanya begitu pusing melihat kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya.

                Saat bangun Nabilah sudah berada dirumah sakit, menemukan sosok kedua orang tuanya dan orang tua Rena .

“bagaimana keadaan Re...”

belum sempat Nabilah menyelesaikan pertanyaan tiba-tiba saja Mama Rena menangis memeluk suaminya, ibu Nabilah memandang anaknya dengan tatapan sedih, sedangkan Papa Nabilah langsung memeluk diri Nabilah sambil mengelus kepalanya. Tentu saja Nabilah langsung mengetahui apa yang baru saja terjadi.

 “ga mungkin ! Bilang pah, ! apa yang Nabilah pikirkan itu salah. Ayooo bilang pah !!”
 jerit Nabilah berderai air mata, ia melepaskan pelukan Papanya kemudian menangis histeris , melepas selang infuse ditangannya lalu berlari melewati pintu kamarnya.

 “Nabilah !!” panggil Papanya langsung memeluk anaknya itu, membiarkan Nabilah meronta dalam pelukannya, membiarkan Nabilah menangis memukul-mukul dadanya.

 “Papa lepaskan. Aku ingin melihat Rena. Ia pasti ada disalah satu kamar ini !!”

tangis Nabilah semakin menjadi-jadi, dadanya kembali sesak, kepalanya terasa begitu berat, ia begitu lemas bahkan butuh perjuangan untuk tetap mempertahankan tubuhnya berdiri.

 “sabar sayang…” ucap Papa Nabilah sambil mengelus punggung anaknya.

 “Rena berjanji akan terus ada disamping aku sampai aku maafin Rena. Aku belum maafin Rena sampai aku melihatnya. Jadi Rena tidak mungkin pergi !!”  ungkap Nabilah masih terus menangis.

 Melihat tingkah Nabilah, membuat orang tua Rena kembali bersedih teramat sedih mendapatkan sosok sahabat Rena sedang menangis histeris mencari sosok anaknya yang sudah berada jauh dari mereka semua.

“ini semua karena aku pah. tante om maafin Nabilah, tante om boleh marah pada Nabilah. Harusnya Nabilah yang ada di posisi itu, om tante !” Nabilah manyalahkan dirinya, ia benar-benar membenci dirinya.

 “bukan nak. Om dan tante tidak akan menyalahkanmu. Semua ini karena takdir” ucap orang tua Rena sambil mengelus kepala Nabilah kemudian membawanya kembali kekamar.




…..

0 comments:

Poskan Komentar