Selasa, 30 April 2013

-Journey- BabII -Beginning- #Chapter8


"aku nabilah, aku tinggal dirumah yang lagi kaka liatin!" jawab nabilah begitu enteng
"nabilah.." bisik hatinya, dengan memperhatikan nabilah dari atas sampai bawah ... "kamu udah besar yah!"
"kaka ngomong apa? nabilah ga denger!" ,, "ia! itu.. barusan, ga... kaka ga ngomong apa-apa! Maaf ya kaka harus pergi!!" pria itu segera menstarter motornya dan melesat meninggalkan nabilah "hiiii.. Cowo yang aneh!!" nabilah bicara sendiri melihat pria dengan jaket baseball warna merah yang sudah berbelok dengan motornya. Nabilah kembali berjalan untuk masuk, saat tangannya bersiap membuka gerbang rumah..
*tididdddd* ... "wahh,," suara klakson yang cukup lama membuat nabilah melompat kaget, dengan wajah kesal dicampur kaget.
Nabilah membalikan badannya untuk melihat asal suara yang membuatnya kaget.
"Haaah.. Ka melody!! bikin jantungan aja!" protesnya melihat kearah melody,
"hehehe.. seneng ya dikasih klakson?!" seru melody mendongakan kepalanya dari pintu kemudinya.
"ga asik!" kata nabilah seraya berjalan tanpa membukakan gerbang secara lebar "e,,eh.. bukain lah de! kaka kan mau masuk!" ujar melody
"buka aja sendiri! Wee" jawab nabilah dengan menjulurkan lidahnya, "ehhh! keras kepala!" melody keluar dari mobilnya, membuka gerbang sendiri
"ehhh siapa suruh ngerjain! emang enak!" dengan senyum meledek nabilah melihat kakanya yang sedang mendorong gerbang.

***
Satu hari berlalu sangat cepat, dari terbitnya sang fajar hingga tenggelamnya. Setiap langkah berhenti sejenak untuk mengistirahatkan
anggota tubuh mereka dari penatnya rutinitas harian.
"jeje mana nak?" tanya papa "ke kamar kayaknya pah!" jawab ve,
setelah itu dia melangkah menuju teras belakang villa. pa tama (papa ve), bu siska (mama jeje), ve, jeje, dan juga jordi (adik jeje) baru sampai di puncak. Tempat akan dilangsungkannya pesta pernikahan pa tama dan bu siska, jam 10 tadi pagi mereka sudah resmi menjadi suami-istri.
Satu jam kemudian keluarga baru itu berangkat ke puncak.
"kamu ga istirahat sayang?"
"eh, tante.."
"ko masih panggil tante!" kata mama jeje mendekat ke ve, ve terlihat tersipu "ah, maaf tan.. eh maksud ve mama! maaf mah, mmm,, semua ini... kayak mimpi buat ve!" sudah saling bertatap muka dengan mama barunya. "hari ini.. ve punya keluarga baru! bukan cuma mama. tapi, saudara sama adik.. dan ini benar-benar lebih dari bahagia mah!" ve tersenyum dengan raut mukanya penuh kebahagiaan di sambut sebuah pelukan dari mama
"begitupun mama.. kamu anak yang sangat baik, manis, cantik, dan kamu bisa menerima mama juga saudara baru kamu.. rasa cinta dan sayang mama sama kamu akan sama seperti rasa cinta dan sayang mama pada jeje dan jordi... kalian mutiara yang akan selalu mama lindungi!" mama mengelus rambut ve yang tergerai, dan ve begitu menikmati pelukan seorang ibu yang sudah cukup lama tidak dia rasakan.
Pada awalnya, ve memang tidak bisa menerima begitu saja kehadiran bu siska untuk bersanding dengan papanya dan menjadi ibu untuk dirinya. Meski kala itu ve meng ia kan keinginan papa namun tidak bisa dipungkiri rasa marah juga kesal ada dihatinya saat melihat bu siska orang yang akan menggantikan posisi almarhumah mama nya. Tapi, dengan terus bergulirnya waktu ve bisa merasakan kasih sayang yang begitu tulus dari bu siska. Belum lagi ve jadi merasa tidak kesepian saat malam menjelang, dia sering telponan dengan jordi untuk sekedar mendengar cerita dari anak kelas 5 Sekolah Dasar itu, ataupun bercanda. Hanya dengan jeje yang masih ve rasakan begitu sulit untuk bisa dekat.
"makasih ya mah, udah mau jadi penerang buat papa!" bisik ve dalam hati, tangannya begitu kuat melingkar di pinggang mama nya.

Jeje masih mencoba menghubungi cleo, dia tidak berhenti untuk terus meminta maaf pada cleo. dia dapat sms dari stella dan juga dhike berupa ucapan selamat atas pernikahan mama nya dan jeje kini punya papa baru. Hanya senyum getir yang terlukis di sudut bibirnya, kalau saja di inbox nya ada pesan juga dari cleo, jeje pasti akan sangat senang. "aku ga mau jadi musuh kamu cleo!" lirih batinnya, jeje merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur itu.
...*tok, tok, tok*...
jeje melihat kearah pintu "masuk aja! ga dikunci ko!" teriak jeje, tanpa bangun dari rebahannya.
"papa ganggu kamu ga?" ucap pa tama setelah membuka pintu, jeje terkejut dia lalu menarik tubuhnya.
"ha! om engga ko.." jawabnya melihat pa tama yang sedang berjalan menghampirinya, pa tama duduk di samping jeje
"turun dulu yu nak, kita makan siang! hari ini hari pertama kita makan siang sebagai sebuah keluarga. jadi kita sambut dengan makan bersama di satu meja makan! Mama, jordi juga ve sudah meunggu!" ujar pa tama "ia om, nanti jeje turun!" kata jeje dengan tangannya masih menggenggam ponsel.
"om!" jeje menghentikan langkah pa tama saat akan kembali, pa tama berhenti dan membalikan badannya "maafin jeje ya om, jeje belum bisa manggil om dengan pangilan ...,-" ... "om ngerti nak, tidak masalah untuk om. kalaupun kamu hanya memanggil om bukan papa! jangan lupa turun ya buat makan," tutur pa tama dengan senyum penuh sahaja.
Seperti halnya ve, jeje pun tidak bisa menerima begitu saja kehadiran pa tama sebagai papa barunya. tapi bedanya, ve akhirnya luluh sedangkan jeje, dia tidak bisa memanggil pa tama dengan sebutan papa. Karena buat jeje papa nya hanya satu, meski sampai detik ini pun jeje tidak pernah tahu apa alasan orang tuanya bercerai. jeje terlalu lama tidak memanggil papa dan juga sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang papa. dan itu membuat jeje merasa kaku akan kehadiran pa tama sebagai papa barunya. Perpisahan mama papa nya dulu saat jeje masih duduk di bangku sekolah dasar, membuat jeje sedih. karena tanpa dia tahu dan belum paham apa yang terjadi sama mama papanya kala itu yang tiba-tiba memutuskan untuk pisah rumah, papa kembali ke surabaya dan mama ke jakarta, jeje hanya bisa menangis. Setelah beranjak remaja jeje pun enggan menanyakan kenapa dulu papa dan mama berpisah, karena jeje masih ingat betul bagaimana ekspresi mamanya saat jeje lulus SD jeje menanyakan kenapa mereka berpisah dan mamanya hanya tertunduk kemudian menangis dan memeluk jeje begitu erat.  

**
"cepat dong sayang.. cleo... Masa kamu ga mau ikut ke pesta pernikahannya om tama!" mama sedang membujuk cleo yang tidak ingin ikut.
"engga ahh, pokonya cleo ga mau ikut! titik!!! mama sama papa aja!!!!" jawab cleo, masih sambil tiduran.
"kasian gaunnya dong sayang, mama udah pesenin masa kamu ga mau pakai!" "buat acara lain aja deh mah!"
"hemm, ya sudahlah terserah kamu saja, kalau memang tidak mau ikut!" kata mama sambil menggeleng.
Mama berjalan keluar kamar, cleo sibuk dengan ipadnya. Setelah mama keluar, cleo menjatuhkan ipadnya kemudian menerawang memainkan
lamunannya sendiri.

Nabilah begitu terlihat asik mendengarkan alunan lagu dari ipod nya, sesekali terdengar suaranya mengikuti penyanyi yang sedang melantunkan lagu yang berdendang ditelinganya. Dia rebahan diatas tempat tidurnya dengan keduatangannya memainkan handphone.
Nabilah tidak menyadari kedatangan kaka nya yang sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban darinya.
Melody berdiri di tepi ranjang dengan kedua tangannya memegang gaun. Saat nabilah menyadari kedatangan kaka nya yang sudah berdiri dihadapannya, nabilah hanya menatapnya heran. Nabilah menggerakan kedua bola matanya melihat satu-persatu gaun kemudian melihat ke arah melody. Dengan senyum dan keduatangannya mengacungkan gaun, melody berbicara pada nabilah "kita coba gaun!". Bukannya nabilah bangun, dia malah menatap melody dengan mengerungkan wajahnya karena tidak mendengar apa yang diucapkan melody, sekaligus heran untuk apa kakanya membawa-bawa 2gaun yang terlihat begitu bagus dengan gaun 1berwarna putih dan gaun 1nya berwarna merah maroon.
melody yang melihat kabel earphone warna putih yang tergantung dikedua daun telinga nabilah, memberikan isyarat pada adiknya yang cadel itu dengan sedikit menekuk bibirnya dan matanya menunjuk kearah earphone. Dengan segera nabilah bangun dan mencabut earphone nya "oh! pantesan suara kaka ga jelas! hehe.." ucapnya sambil bangun.
"ayo de, kita cobain gaunnya!" kata melody,
"kenapa gaunnya harus dicoba? terus emang.. itu buat nabilah ka?" tanyanya menanggapi ajakan melody
"ialah, ini buat kamu sama kaka!" "ho.. buat nabilah(?) emangnya kita mau kemana ka?" "aduhh, udah ah cerewet! cepetan berdiri pakai gaunnya!" ujar melody memberikan gaun yang berwarna putih.
Mencoba gaun sebagus itu pastinya akan menghadiri acara yang 'wahh' dan untuk nabilah itu jelas membingungkan, karena selama ini nabilah jarang (bisa dihitung dengan sebelah tangan) terlibat dalam acara yang menuntutnya mengenakan sebuah gaun. Setiap acara resmi dengan ayah sebagai tokoh utama yang punya acara biasanya hanya mengajak melody tanpa mengikutsertakan nabilah.

Nabilah dan Melody saling menatap dengan kekagumannya masing-masing setelah mereka berganti pakaian "wahh, kamu cantik banget de! gaunnya cocok udah gitu ukurannya pas banget!" kata melody dengan tangannya menggenggam tangan nabilah "muter, muter de! wihh, mama emang jago banget milihin kamu dress!" melody tersenyum melihat adiknya yang terlihat malu-malu.
"kaka juga, warna gaunnya bagus ka! Match sama warna kulit kaka!" ucap nabilah dengan ekspresi malu dan tangan kanannya menggaruk bagian belakang telinganya yang padahal tidak terasa gatal. "ini.. kita mau kemana ka? ko sampai pakai gaun sebagus ini?" tanya nabilah
"nanti malam kita akan pergi ke pesta pernikahan temennya papa di puncak!" jelas melody "dan.. nabilah ikut ka?" lagi-lagi nabilah membuat pertanyaan, melody menjawabnya dengan anggukan. Melody tahu kenapa nabilah sampai bertanya seperti itu.
"ohh.." ucap nabilah dengan senyum yang memperlihatkan gigi gingsulnya.

Saat ghaida sedang ngobrol dengan kinal dirumah ghaida. Ghaida mendapat pesan singkat yang isinya membuat kedua alis matanya naik, dengan setengah berteriak ghaida memegang tangan kinal tanpa sadar "oy, oy.. ada apaan?!" ucap kinal ditengah kebingungannya "liburan kali ini ga bakal sepi nal!" ujar ghaida "ni liat!" lanjutnya sambil memberikan hp nya pada kinal "Walah!! ini seriusan ghai? Pesan ini buat kita?" tanya kinal dengan wajahnya yang sumringah, ghaida mengangguk dengan terus tak henti tersenyum "yoi,, huuu akhirnya tembus juga!"
"aaaa.. kita beneran bakal main di nero's cafe nih!" kinal berteriak girang
"ia! keren kan?" kata ghaida
"banget! hahaha.." sambut kinal,
"hah! kita harus menampilkan yang terbaik di cafe entar!" ujar kinal, mereka sudah kembali duduk dikursi dengan wajahnya ditengadahkan.
Ghaida mendapat pesan dari temannya yang dia mintai tolong untuk mempromosikan band nya pada pamannya yang adalah pemilik sebuah cafe.
"perjuangan emang ga pernah berakhir sia-sia ya! meskipun baru dapet jawabannya sekarang!" tutur ghaida
"ia, kita udah minta tolong dari beberapa bulan yang lalu! aku pikir ga bakal ada respon, ehh ga taunya di jawab!!" kata kinal dengan melihat kearah ghaida. Kinal main dirumah ghaida karena nanti malam dia akan ketempat ve bareng sama ghaida.
"ve pasti bakal seneng nih! Liburan kali ini bakal beda dari liburan sebelum-sebelum-seeeebelumnya!" ungkap kinal
"yap! yah, anggap aja ini hadiah buat pelengkap kebahagiaannya ve. dia punya mama baru, saudara baru, adik baru dan ini... bisa jadi kerjaan tambahan baru buat ve! singing di cafe.. hohoho" ujar ghaida dengan tertawa
"semoga pengunjung suka dengan perform kita!" "amin" sambut ghaida pada doa kinal.

*
Malam pun menjelang. Ve masih siap-siap dikamarnya begitupun jeje. Sebelum keluar kamar ve mengirim pesan pada kedua sahabatnya "Kalian dimana?" ve kemudian berjalan untuk keluar, diwaktu yang bersamaan jeje pun keluar dari kamarnya. Mereka saling melempar tatapan, ve melihat raut muka jeje yang begitu tidak semangat. inginnya menghampiri tapi saat akan mendorong kakinya mendekati jeje, jeje malah pergi duluan tanpa meninggalkan sepatah katapun, ve terlihat kecewa. tidak bisa ve pungkiri, hatinya begitu lantang meneriakan kalau sikap jeje yang terkesan dingin itu pasti ada hubungannya dengan cleo. sambil berjalan menuruni lantai atas, ve memikirkan masa lalunya saat masih berteman dengan cleo. Meski ve selalu berusaha untuk bersikap biasa bahkan dia selalu baik pada cleo, tapi nyatanya cleo masih marah sama dia dan menganggapnya sebagai musuh. penghianatlah, teman yang menusuknya dari belakang lah, teman yang tidak punya hati lah. Sepertinya ve memang sudah di blacklist oleh cleo yang menyimpan kebencian dari bertahun yang lalu padanya.

Suasana malam dengan semilir anginnya tidak begitu terasa. Meski acara diadakan dipuncak dengan latar pemandangan kerlipan lampu dari sudut kota dibawah sana, tapi banyaknya lampu yang menyorot dari taman yang cukup luas itu mampu membuat hangat para tamu undangan yang mulai berdatangan. Satu-persatu kolega, rekan, teman, keluarga jauh berdatangan dengan dresscode setelan jas yang berdampingan dengan gaun. Mereka menghampiri kedua pengantin baru yang duduk disebuah pelaminan berbentuk lingkaran dengan dibalut pakaian pengantin berwarna putih dan latar pelamin yang serba putih terlihat begitu indah ditengah banyaknya bunga yang menjadi hiasan, untuk mengucapkan selamat.

Sendy mengajak stella dan juga sonia untuk pergi ke mall, sendy bermaksud mentraktir mereka atas kelulusan sonia dan pembagian raport stella.
Kebetulan malam ini stella dapat giliran libur dari club, jadi stella bisa pergi.
"masuk sini yu?" ajak sendy memasuki sebuah toko pakaian.
Sonia melihat-lihat baju-baju yang terpajang di manekin,
"nih, yang ini cocok buat kamu!" kata stella dengan menempelkan pakaian yang terbuat dari kain chiffone dengan warna tosca sebagai dasar di badan sendy. "ahahaha,, tipis banget stell! tembus pandang nih!" ucap sendy, "bagus dong! U Can See, hemph!" stella tertawa renyah, "keenakan buat yang ngeliat dong!" ujar sendy "ehh, beramal dikit sen!" bisik stella pada sendy, membuat sendy memukul pelan bahu stella sambil tertawa.
Sendy melihat sonia yang sedang melihat sebuah cardigan, dia menghampiri sonia "cobain, itu pasti pas dibadan kamu! Warnanya juga ceria!" sendy yang tiba-tiba berbicara membuat sonia kaget "eh, ka sendy! Hehe.. ia sih ka, tapi.. liat deh ka harganya! Hemmmp.. perlu nabung dulu sebulan nih!" kata sonia, "kalau kamu suka, ambil aja! ga usah mikirin harganya. biar ka sendy yang bayarin!"
"ah,, jangan.. Kan sayang uangnya!"
"aduhh, wawa! udahlah ambil aja mumpung lagi discount juga!" sonia menggeleng, "hemm!" sendy melirik pada sonia.
"eh,, eh.. ka sendy! ko cardigan nya dibawa!!" ujar sonia yang melihat sendy melepaskan cardigan itu dari manekin
"ayo, ke kasir! stella udah nungguin disana!" "tapi.. itu... itunya!" .....
"hadiah buat kamu!" ucap sendy memberikan bungkusan yang didalamnya sudah ada cardigan. "ka sendy... makasih ya ka!" kata sonia dengan senyumnya. Stella ikut tersenyum melihat adiknya, "sekarang kita ke... toko sepatu!" seru sendy begitu semangat. 

 "malam yang indah bukan! Lihatlah betapa berbunga sekali wajah pengantin baru kita!" dengan tawa nakal, MC itu menunjuk kearah pa tama dan bu siska. "saya mewakili suara dari kedua mempelai, mau mengucapkan terima kasih untuk kedatangan kalian semua yang cantik dan ganteng, yang masih muda-mudi ... tentunya untuk anak-anak mereka, dan yang sudah tua-menua! Yang itu baru untuk orang tuanya.." MC mencoba menghangatkan suasana; ve sudah berdiri dengan disampingnya kinal dan ghaida yang terlihat anggun dalam balutan gaun yang mereka kenakan; jeje berdiri dengan jordi di meja yang tidak jauh dari pelaminan. "bagaimana kalau saya tawarkan pada tamu undangan sekalian, siapa yang mau menyumbangkan suara kalian untuk pasangan yang sedang berbahagia ini! Tapi, tentunya... yang masih mudaan ya yang nyanyinya, hahaha.." kata MC yang masih terlihat muda itu.
"Jayus ya!" kata nabilah berbisik pada melody, ayah dan ibu tidak begitu memperhatikan ke2 anaknya itu. melody melihat kearah nabilah dan... dia menarik tangan nabilah untuk maju kedepan "ka,, ka.. mau ngapain ka?" tanya nabilah dalam keheranannya, melody tidak menjawab. dia terus menarik nabilah dan sampai di depan panggung berukuran sedang tidak terlalu tinggi. "ini.. yang saya maksud muda!" ucap MC itu melihat ke arah melody
"naiklah, jadi... kalian mau menyumbangkan suara kalian? dari wajahnya bisa dipastikan kalau malam ini tamu undangan akan terhibur, dan sang pengantin.. wajahnya akan semakin merona!" tutur si MC, kemudian melody berbisik di telinga MC yang tingginya berkisar 180an dengan setelan jas berwarna hitam dengan sedikit sisipan unsur warna putih. MC itu tersenyum sambil manggut-manggut, sepertinya dia mengerti apa yang dibisikan melody. Nabilah masih kerung dengan sesekali melihat kearah tamu undangan. Setelah selesai dengan MC, melody bergilir membisikan sesuatu di telinganya nabilah.
"ohh... ok, nabilah bisa bawain itu ka!" ucap nabilah setelah mendengar bisikan melody.
"selamat malam semua.. aku melody dan juga adik ku nabilah, mau ngucapin selamat menempuh hidup baru buat om tama dan tante siska yang begitu cantik tentunya! Selan itu, karena aku sudah berdiri dan menggantikan posisinya MC kita di stand Mic ini. aku dan adikku akan membawakan sebuah lagu untuk pasangan yang sangat serasi dan terlihat sempurna malam ini.." tamu undangan melihat kearah panggung "sekali lagi selamat ya untuk om tama dan tante siska, sebuah lagu special dari Nat King Cole dengan L.O.V.E" suara tepuk tangan mengawali suara dentingan piano yang dimainkan nabilah dengan didampingi petikan gitar yang dimainkan sang MC yang usianya kira-kira sama dengan melody. Suara melody pun mulai terdengar 
"L is for the way you look at me    
O is for the only one i see     
V is very, very extraordinary     
E is even more than anyone that you adore can"
Tamu undangan, terlebih pa tama dan bu siska sebagai raja dan ratu begitu tampak menikmati suara melody ditengah alunan piano dan accoustic gitar. adik-kakak yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaunnya, sukses membuat puluhan mata berdecak kagum dengan penampilan mereka.

"Sendy ini ke..ren ga" suara stella menurun, saat dia akan menunjukan sepatu pada sendy. Stella melihat sendy sedang memegangi salah satu sepatu dengan dihadapan sendy sudah berdiri cewe yang juga sama-sama sedang memegang sepatu itu.
"buat lu aja!" kata sendy dengan tangannya melepaskan sepatu berwarna coklat tua yang terbuat dari denim (kain jeans).
"ah! engga.. Lu ambil aja!" balas cewe yang cukup lama memandangi sendy. "ya udah, gue ambil ya!" ucap sendy, dia mengambil sepatunya.
Mova mengangguk seraya melepas sepatu itu. "lu yang kemarin ngobrol sama panda di kampus kan?" tiba-tiba mova bertanya pada sendy,
stella menghampiri sendy "kamu ga apa-apa sen?" sendy menggelengkan kepalanya "ga, aku ga apa-apa! Ia aku kemarin emang sempet ngobrol sama sonya!" lalu sendy menjawab pertanyaan mova "berarti kita sekampus, gue temennya panda!" kata mova begitu ramah,
kalau sonya ataupun melody saat itu melihat gimik muka yang diperlihatkan mova pada sendy yang notabennya adalah orang yang belum dia kenal.
pasti melody juga sonya akan heran dengan perubahan mova yang begitu ramah pada orang "asing"
"wahh, ka Alissa!" suara sonia memotong pembicaraan mova dan juga sendy "kamu kenal son?" tanya stella heran, sendy melihat sonia
"yah kaka, itu kan ka Alissa Galliamova ka!" "ya terus?" stella melihat adiknya yang begitu antusias "dia itu artis!" suara sonia yang cukup lantang sambil menunjuk mova, membuat customer yang kala itu sedang ada di toko langsung melihat kearah mova.
mova tersenyum setengah kesal pada sonia, karena sonia sudah menarik perhatian pengunjung untuk berburu tanda tangan dan juga wajah dirinya.
"mba alissa minta tanda tangannya dong!" kata seorang fans, fans lainnya memphoto mova dengan handphone mereka. "aisyah...." ibu-ibu yang sedang melewati toko itu, masuk lalu mencubit gemes pipinya mova. Tak lama fans lain mendengar dan.... toko sepatu itu pun jadi ramai oleh orang-orang yang ingin meminta tanda tangan, photo bareng, photoin mova atau sekedar melihat wajah mova.
"huuu.. So crowd!" kata stella, mereka bertiga sudah keluar dari toko itu.
"gara-gara kamu nih! aku ga jadi dapet sepatu!" keluh stella melihat adiknya "ahh, aku ga bisa dapet ttd nya! aku juga ga bisa photo bareng sama ka alissa!" sonia tidak mendengar keluhan stella, dia sibuk menggerutu sendiri. Sendy tersenyum melihat adik-kaka itu; mova mencuri pandang keluar sambil tangannya sibuk memberikan tanda tangan, bodyguard pun segera mengamankan mova; sonia beralih pada sendy dan menanyai nya tentang mova; stella melihat-lihat toko sepatu yang akan di jadikan target selanjutnya untuk dimasuki.

0 comments:

Poskan Komentar