Senin, 22 April 2013

SKETSA JKT48 Episode "PENGHARAPAN YANG BESAR"

Writter : Amrul Nizar
   CAST : Dhike, Heruw As Jud

   Mungkin kenyataannya ada suatu hal yang mulai memberanikan dan menguatkan hatinya kali ini, ditengah kondisi Dhike yg kemudian biasanya hanya bisa terungkup dalam kamarnya akibat tak kuat pada lemah tubuhnya, mulai tekad untuk sesekali, ia ingin nampak sebagai wanita kuat yg tegar meski ditempa dengan penyakit yg membuat dropnya itu.
   ''Aku harus kuat, Kuat! dan setidaknya aku juga ingin bisa diliat oleh Ayu bahwa disaat aku dilanda dengan jenuhnya masalahku, aku akan tetap bisa tersenyum bagi Ayu!'' tegar Dhike.

Selangkah kemudian. Ia menyegerakan niatnya dengan pergi ke kamar  apartemen Ayu, hanya untuk mengunjunginya dan tanpa membawa apapun, yang akan dipakai menjadi oleh-oleh untuk Ayu. Sebatas hanya membawa sekuntum senyum nan penuh rindu pada sahabat yg dianggap paling dekat, hingga bisa melebihi ikatan saudara kandung sekali pun.

***

   Diambilnya sebuah sweater hangat polos berwarna merah yang biasa ia letakkan di kasurnya, ia pun kenakan sambil berdo’a dan memantapkan diri semoga tak sia-sia juga ia berusaha datang ke Apartemen Ayu, yang tak biasanya, justru dirinyalah yang sering dikunjungi oleh Ayu. Terlintas, Dhike pun sudah bisa mengkondisikan tubuhnya meski ditengah sakitnya itu. perlahan dia keluar dari kamarnya dan menuju ketempat apartement Ayu yang tak jauh dari apartementnya sendiri.

   ''Tentang Ayu, semoga dia baik2 saja untuk kali ini. Lagian, setidaknya aku berharap dengan kehadiranku disana. kemelut masalah yg diderita Ayu sedikit2 berkurang. Semoga!'' pinta Dhike dalam hati. yang menulusuri lorong apartemen hingga menuju kamar Ayu. Tiba-tiba ada kejadian, seseorang entah ranahnya darimana, muncul dari belakang Dhike, berusaha seseorang itu ingin bertatapan dengan Dhike dengan kehadirannya.
   ''Sore... Ikey!'' ucapnya sambil tertegun dan malu2 karena takutnya dengan datang lewat sapaannya malah menganggu aktivitas Dhike sendiri.

   ''Sore, oh kamu her. ada apa?'' sahut Dhike.
   ''nggak kok. ga' ada apa-apa. aku nyapa kamu cuma pengen nyapa dan liat keadaanmu sekarang kek gimana.. hehehe!! ''seloroh Heruw.
pemuda yg masih sepantaran dengan Dhike, tinggal di apartemen bersama namun hanya beda lantai saja. dan juga beda sekolah dengan Dhike. Tak asing kemudian mereka basa-basi sedikit sembari menguatkan ikatan persahabatan lama sehidup seapartemen saja.

   ''Ngomong ngomong, aku sebeneranya pengen kesini, disamping ngecek kondisi juga ada sesuatu yg ingin kucek juga!'' seloroh Heruw yg tiba-tiba memberhentikan basa-basi dg pertanyaan yg menjurus ke serius sekarang.

   ''hmm.. soal apa yah? dan apa yg harus juga dicek yah?'' utas dhike.

   ''err... bukan maksudnya gitu juga gini ...' 'sejenak terdiam yg menyebabkan keheningan sebentar akibat perkataan Heruw ada yg ditahan dan belum diucap secara jelas.
   "Jadi... tentang nomer hapemu, entah kenapa dari list contact aku, kok baru nyadar yah kalo ga' ada nomermu. lagian kalo nantinya aku tau, seenggaknya lewat begini aku bisa mengetahui kondisi, mengingat juga, aku liat dari kabar2 bahwa kesehatanmu agak begitu drop. hingga kemudian beberapa hari katanya harus ijin untuk tidak masuk sekolah. sekalipun akhirnya aku dapet nomer kamu. akupun juga ga' bisa mastiin secara perkembangan kondisi ikey sendiri secara langsung. toh lagipula, dengan begini ada hal yg bikin aku tenang. nomermu ada di list-ku, itu saja buatku tenang kok!" seloroh Heruw yang mulai agak berani dari sebelumnya yg awalnya agak sedikit malu dan canggung.
akhirnya diutarakan juga niat awalnya bertemu dengan Ikey. Seketika itupun hape jenis Touch screenpun, Heruw keluarkan dari saku celana. yg sedari awal udah disiapkan matang-matang atas usaha dia bertemu dengan Dhike .

Dhikepun sedikit terdiam sejenak... ''hehe... begitu yah!''.
entah hal apa yang didapatkan dari Dhike. kekalutan akan terhadap masalahnya, penyakitnya tiba sedikit redup dg senyuman polosnya. pertanda ada suatu hal yg melupakan bebannya dan hal yang barusan terjadilah yg membuatnya Dhike terliat agak berbeda dari auranya yg biasa.

   ''yah... mungkin kita aja yg jarang ketemuan. makanya sampai hal kayak gini antara kamu sendiri dengan aku malah tidak ingat...''. ulas dhike.

   ''jadi???'' penasaran Heruw. Setidaknya dialah yg pertama kali merasa yg ingat duluan, dan sesegera mungkin menemui Dhike untuk minta kepastian.

   ''hmm... tapi untuk sekarang, dan maaf yah her! aku belum bisa jawab ya atau tidak sekarang! mengingat, sebelum aku bertemu dg kamu sendiri. aku udah punya janji dari aku sendiri untuk bertemu dengan seseorang yang lebih membutuhkan aku saat ini.. '' belum sempat habis perkataannya yg diucapkan ke Heruw. dia meneruskan sendiri perkataannya tapi diucapkan dalam hati ''... dan ditengah kondisi batin dan fisikku ini..''.

   ''... jadi maaf yah her! untuk saat ini belum dulu, dan untuk sekarang aku emang buru-buru ketemu dg seseorang yg kusebut itu!'' tegas dhike, sambil kemudian sedikit acuh memalingkan muka temannya itu untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat Ayu.

agak sedikit hening kemudian...

   ''ya sudah, aku mengerti kok. dan terima kasih yah, Ikey! dan, oh iya.. tetap jaga kesehatanmu. karena itu yg terpenting buatmu!!''. sahut heruw sembari senyum menghargai.

   Meski pelak, percakapan terakhirnya yang ia dapati cuma memandang Dhike terus berjalan ke depan tanpa menoleh sedikitpun kepada dia. Dan juga tak mendapati apa yg ia ingin dapati kali. hingga kemudian Heruwpun ikut meninggalkan bekas pertemuan itu. Ponsel yang sempat ia keluarkan dan masih dalam genggamanny juga jadi saksi bisu pertemuan yang ia rencanakan, namun tak direncanai bagi Dhike sendiri. Alhasil, kembalilah ponsel touch screen ukuran mininya itu kembali ke saku celananya, sembari tetap puas terhadap hasil pertemuan itu dan sudah terekam dalam langkah2 terakhir untuk pulang balik ke kamar apartemennya.

***
Lepas kemudian. tibalah Heruw menuju kamar apartemennya. Bisa jadi, pengalaman tadi tentu masih tetap merekat dibenaknya.

Tahu dirilah, dia laki-laki. sudah bisa dikatakan dewasa. Menerima kenyataan, hanya sekedar bertemu dengan seorang perempuan, sendirian pula meski tetap memegang prinsip hanya sebatas teman dan bertemu cuma minta hal yg dianggap mudah untuk bisa direspon baik saja. itu merasakan canggung yang berat.

Bisiknya ia dalam hati. ''Tau gini, kenapa sama temen aja sekalian, barangkali ga' ditolak penawarannya. Hadehh..''

Sambil menghembuskan nafas panjang. Dia letakkan Ponselnya itu diatas meja belajar yang jaraknya sekitaran 2 meter saja di kasurnya. Diletakkan. dan memang aktivitas selanjutnya ia ingin merebahkan tubuhnya ke kasur karena tidak hal yang lebih penting dikerjakan baginya saat ini kecuali berimajinasi sedikit meng-alur-kan kejadian tadi hingga sampai mendapati hasil yang justru ia merasa tidak ingin dia dapati.

   ''Dhike... Dhike...'' gumamnya.

Merasa Ponselnya bergetar pertanda ada SMS masuk dalam inbox. langsung seketika terperanjat dari rebahannya, membuyarkan angan2 kosongnya, dan memberhentikan gumamnya hanya untuk fokus pada satu tujuan sekarang. Ingin tahu, siapa barusan yang mengirimi SMS pada nomernya.

Berangkatlah ia dari kasurnya, menuju letak Ponsel yang bergeletak tadi di atas meja belajarnya. Memang suara dering ponselnya disaat ada SMS serta Panggilan masuk cuma dalam keadaan getar saja. karena ia sendiri yang menyengaja. Tujuannya, agar orang disekitar merasa tak terganggu dengan suara pemberitahuan yang masuk di Ponselnya. Idealis, yang mencoba tak menggangu orang lain disekitarnya.

   ''Semoga, SMS ini dari Dhike, amin aja lah!'' Heruw berkata. 

Entah kemudian masih menyisakan kejadian tadi atau apa. dipikirnya, SMS yg barusan dan belum dia baca sendiri itu sudah beranggapan kalau itu dari Dhike sendiri. Padahal kenyataan dia sendiri tahu apa tidak kalau Dhike itu sudah punya nomernya.

Dibukanya, dan dilihat dari yang punya pesan bagi dirinya, adalah nomer asing.''Ga' salah lagi'' simpul Heruw. seolah pertanda makin menguatkan itu dari Dhike, yang kondisinya barangkali sudah dari awal Dhike sudah punya nomernya, tapi dia yang tidak punya nomernya Dhike.

Dibacanya isi pesan secara perlahan. Sambil tetap senyum-senyum simpul sedari tadi. dan baru sadar yang bikin dia sendiri merasa sontak. ditemui dalam isi pesan yang baru masuk adalah :

''INI MAMA, TOLONG BELIKAN PULSA RP 20 RIBU DI NOMOR BARUNYA MAMA. MAMA LAGI DI KANTOR POLISI. KARENA ADA MASALAH. JANGAN DI TELEPON / SMS NANTI MAMA YANG TELEPON. PENTING!"

Credit: @JKT48FanFiction

0 comments:

Poskan Komentar