Selasa, 30 April 2013

NPW (National Protection of Women) Chapter 3


Title : National Protection Of Women
Genre : Action, thriller, Mystery
Release Date : 26 Maret 2013
Story by : Chikafusa Chikanatsu
  Ini Merupakan Kisah Fiktif.


PERHATIAN : CERITA INI MENGANDUNG TINDAK KEKERASAN, PENYIKSAAN SERTA PEMBUNUHAN. DI KHUSUSKAN BAGI MEREKA YANG SUDAH BERUMUR 17 TAHUN KEATAS.


Ruang Investigasi milik Team W. Seluruh sisi dinding bangunan terbuat dari besi tebal, ruangannya berbentuk persegi empat, selain meja dan dua kursi, tidak ada barang lain yang terlihat diruangan tersebut. Bersih, luas serta ruangannya sungguh terang. Mungkin tidak ada para tawanan atau tersangka yang merasa takut di interogasi diruangan itu, sebab mereka yang masuk keruang investigasi akan merasa nyaman akan suasananya. Sebetulnya, ruangan interogasi tersebut memang diperuntukkan oleh team organisasi mereka sendiri, bukan dari pihak asing, namun itu hanya bersifat sementara.

Diruangan investigasi, Tawanan itu sudah duduk menunggu seseorang untuk memeriksanya. Dia adalah tawanan yang tertangkap dibandara oleh Team N. Ve datang lengkap dengan PC tabletnya untuk menginterogasi tawanan tersebut, mereka duduk saling berhadapan.

Dibalik wajahnya yang seram, tawanan tersebut menertawakan Ve. "Lagi lagi yang akan menginterogasiku adalah seorang wanita."
   "Apa ada yang salah?" Sahut Ve.
   "Oh, tidak, tidak. Jadi, informasi seperti apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Tanyanya.
   "Semuanya."

Tawanan terkejut dalam sekejap. Lantas ia mendekatkan wajahnya pada Ve seraya berbisik. "Sebelumnya, bagaimana jika kita bermalam terlebih dahulu, aku akan memberitahukanmu semua yang kuketahui. Apa kau akan menerimanya?"

Ajakan yang kurang tepat, Dengan cepat Ve mengambil pistol yang ia simpan dibelakang punggungnya dan menodongkannya pada tawanan dengan tatapan tajam. "Jangan main main. Ini bukan tempat dimana kau bebas melakukan lelucon seperti itu. Dan untuk saat ini jawablah saja apa yang kutanyakan padamu."
Dengan perasaan sedikit terancam oleh pistol, tawanan tersebut menggangguk menuruti perkataan Ve.

Ve kembali menyimpan pistolnya dan memulai penginterogasian. "Apa benar kau datang ke bali ini hanya untuk memantau area yang akan dijadikan tempat pelarian para teroris?"
   "Benar." Jawabnya singkat.
   "Lalu, apa kau tahu siapa dalang dibalik rencana pemboman itu?"
   "Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mempunyai atasan, lalu atasan ku mempunyai atasan lagi, atasan mempunyai atasan. Jadi, seperti itulah rantai perputaranya nya. kau pasti mengerti maksudku, kan?"

Ve sedikit kecewa mendengarnya. "Kalau begitu, beritahu aku siapa nama yang memberikanmu perintah."
Tawanan tersebut menatap Ve sungguh sungguh. "Namanya ... Raul. Dikalangan kami ia sungguh dipuja. Tidak ada diantara kami yang berani menentang perintahnya. Sebab, ia selalu memberi perintah dengan ancaman, seperti yang ia lakukan padaku, jika sampai aku menghianatinya, maka keluargaku dalam bahaya."

   "Aku tidak peduli sekejam apa atasanmu. Berikan saja alamat tempat kalian bersembunyi." Kata Ve santai.
Tawanan terkejut dengan alis terangkat. "Apa kau sungguh sungguh?"




Markas tawanan milik organisasi NDO, masih didaerah Bali, lebih tepatnya didaerah perbukitan. Suasana pagi yang masih segar, penuh angin yang menyejukkan. 100 Meter dari tempat markas target, Yona serta Akicha keduanya masih berada didalam mobil. Akicha terlihat sedang sibuk mempersiapkan alat tempurnya, meliputi alat komunikasi radio, laptop serta sebuh tower mini yang dibuat khusus untuk memberikan sebuah sinyal agar mempermudah sesama agen untuk melakukan komunikasi jarak jauh dengan hasil kualitas tinggi.

Tepat disebelah kursi Akicha bagian depan, Yona dengan santainya meneguk secangkir kopi hangatnya. "Apa semuanya sudah siap?" Tanyanya pada Akicha.
   "Sebentar lagi."
Kemudian Akicha memberikan sebuah kacamata NPW Cam HD pada Yona. "Kau pakailah itu. Kacamata itu mempunyai kamera tersembunyi dibagian tengah, itu akan mempermudahkanku untuk memantau situasi. Dan juga, kacamata itu mampu mendeteksi benda benda yang terbuat dari logam berat. Cara kerjanya simpel, kau hanya tinggal menjelajahi matamu dengan kacamata tersebut, maka akan terlihat benda yang terang menyala nyala, dan sudah dipastikan itu logam berat, lebih tepatnya senjata api. Apa kau siap?"
Yona menggangguk, ia menelankan ludah cemas. Bagaimanapun hanya dialah seorang yang bertugas langsung dilapangan.

Yona menghela nafas kuat, merasa sedikit agak tegang. Ia mengambil baju anti peluru yang tergeletak dikursi belakang, lalu memakainya. Sambil menunggu Yona memakai perlengkapan tempurnya, Akicha mencoba menyelundup masuk ke server CCTV markas NDO. Setelah proses hacking selesai, Akicha memberi isyarat pada Yona bahwa semua sudah siap dan mulai untuk bergerak. Yona menggangguk.

Senjata jenis MP9 Submachine gun sebagai senjata utama Yona, bentuknya mungil serta lengkap dengan peredam. Walau senjata itu memiliki power yang rendah, itu tidak masalah selagi puluru tersebut tepat mengenai kepala si target. Seperti yang kita ketahui, Yona adalah wanita unggulan dalam hal menembak tepat sasaran. Senjatanya pun sungguh ringan, mudah digerakkan kanan, kiri, atas serta bawah dengan cepat. Yona mulai bergerak mengendap ngendap masuk ke sarang markas pihak NDO dari sisi belakang.

   "Tepat 30 meter diarah jam satu dan sebelas diatas sebuah bangunan dari tempatmu, terdapat 2 orang pengawas lengkap dengan senjata api. Lumpuhkan mereka, dan ingat, tembaklah langsung ke titik otak bagian kepala belakang. Sedikit saja tembakanmu melenceng, maka keberadaanmu pun akan terganggu." Kata Akicha melalui alat komunikasi yang menempel dikuping Yona.
   "Aku mengerti." 

Yona mulai mencari keberadaan pengawas tersebut, setelah ketemu ia langsung membidiknya, Yona menarik nafas dalam dalam dan kemudian ia tahan nafasnya, itu akan menghasilkan bidikan yang lebih akurat dibanding dengan membidik sambil bernafas. "Shoot!" dua pengawas tersebut tewas seketika akibat peluru yang bersarang tepat dikepalanya. "Nice Shoot! Baby ..." Kata Akicha kagum.

Yona tersenyum tipis dengan wajah sinis setelah melakukannya, ia kembali merasakan rangsangan jiwa killernya setelah hampir satu tahun tidak melakukannya. Ia kembali memandangi senjata MP9 nya dengan kagum. "Aku rasa aku akan bersenang senang dengan ini."
    "Jangan merasa percaya diri dahulu, Kita masih belum mengetahui kekuatan musuh yang ada didepan sana." Kata Akicha memberi nasehat.

Yona melanjutkan langkahnya, sekarang ia tepat berada didepan pintu masuk diarea belakang bangunan. Yona menjelajahi area bangunan, pandangannya terhenti pada tembok tepat dihadapannya. "Apa kacamata ini mampu menembus tembok? aku melihat sebuah cahaya terang dengan bentuk yang kecil didepan sana."
   "Benar, Kacamata itu didesain untuk melakukan pengintaian tingkat tinggi. Namun, kau hanya bisa melihat dengan jarak maksimal 10 meter dari tempatmu berada." Sahut Akicha.
   "Aku rasa 50 tahun lagi mungkin kau akan membuat sebuah senjata yang mampu menghipnotis musuh hanya dengan melihatnya saja di jarak 20 meter." Gurau Yona.
   "Disaat genting begini kau masih bisa bercanda. Diumurku yang sudah setua itu, mungkin aku lebih memilih membuat kursi roda berkecepatan 250km per jam. hahaha." Sahutnya.
Yona jengkel. "Apa kau sedang bercanda saat ini?" Lantas Akicha membalasnya. "Kau juga!"


Didalam ruangan isolasi pihak NDO, Stella sudah tidak sadarkan diri dalam posisi duduk dengan tangan dan kaki yang terikat. Penampilannya sudah tidak layak untuk dilihat, tubuhnya dipenuhi luka memar serta baretan senjata tajam dikulitnya. Ia pun hanya memakai helaian kain yang tipis, sedangkan udara didalam sana sungguh dingin. Wajahnya pucat serta bibir kering yang berwarna keunguan. Kejiwaan Stella mulai terganggu, tidak ada kehidupan didalam sana, ruangannya kosong serta gelap. Yang tinggal hanyalah mimpi buruk serta kutukan yang menimpanya.

Terdengar suara pintu besi yang tergeser, seorang pria bertubuh besar serta tampang yang menyeramkan, dialah mantan teroris yang akan menginterogasi Stella. Pintu besi tersebut kembali ia tutup. Pihak NDO sebelumnya sudah sepenuhnya menyerahkan tawanan itu pada pria sangar tersebut, cara seperti apapun yang akan dipakai pria tersebut akan diterima oleh pihak NDO, namun dengan catatan bahwa Stella harus mengakui semua fakta yang ia sembunyikan.

Pria tersebut berjalan mendekati Stella. Ia memandang tubuh Stella dari ujung kepala hingga kaki. Sungguh sempurna, pikirnya. Tubuh yang berisi serta kain tipis yang menyelimutinya, membuat hawa seks muncul dari wajah bejatnya. Pria tersebut mengamati sisi ruangan, ia sadar bahwa tidak ada CCTV diruang isolasi tingkat 2, membuat tekad nya semakin kuat. Jari telunjuknya menyentuh bibir Stella dengan lembutnya, kemudian telapak tangannya mengusap wajah Stella secara perlahan hingga sampai perutnya.

Ia berniat bermain main dahulu ketika itu, bibirnya mulai mendekati bibir milik Stella, ia berusaha menciumnya, Namun, Stella tersadar dari tidurnya, matanya memelotot serta kedua alisnya terangkat setelah melihat wajah pria yang ada dihadapanya, Dengan cepat Stella bertindak, ia membenturkan kepala miliknya pada si pria tersebut. Pria itu kesakitan dan tidak segan untuk menggampar keras wajah Stella.

Sedangkan Yona, ia berhasil masuk kedalam ruang bawah tanah yang merupakan tempat dimana para tawanan dikumpulkan. Sungguh sepi, seperti berada ditengah makam pada malam hari, tidak ada tanda tanda kehidupan didalamnya. Yona memberikan laporan pada Akicha. "Aku sudah berada tepat dilantai bawah tanah tingkat 2. aku kesulitan mencari jalan, karena disini sungguh gelap. Apa kau bisa menuntunku?" Bisiknya.
   "Disebelah pojok kanan atas bagian kacamatamu, terdapat tombol untuk mengaktifkan Night Vision. Segeralah untuk mengaktifkannya." Balas Akicha. (Night vision, alat berkemampuan melihat suasana dikondisi cahaya yang rendah).

Dengan cepat Yona segera menekan tombol tersebut. "Aku sudah mengaktifkannya, sekarang tujuanku kemana?"
   "Tepat lima langkah dari tempatmu berdiri, beloklah ke arah kanan, disana ada satu orang pengawas. Lumpuhkanlah secara diam diam. Saat ini aku sedang berusaha menduplikat kamera CCTV agar dirimu bebas melakukan pergerakan tanpa ketahuan."
   "Aku mengerti."

Yona mengambil senjata pelontar proyektil Elektronik yang akan ia gunakan untuk melumpuhkan musuh. Tepat 10 meter berada dibelakang target, senjata itu Yona tusukkan pada bagian leher si target, dalam hitungan detik target pingsan, peluru tersebut menyebabkan kelumpuhan syaraf otot pada target. Yona menyembunyikan tubuh target dibalik tembok. Namun, keberadaan Yona diketahui rekan target. Musuh berlari menuju ruang pengawas untuk mengaktifkan bell darurat yang menyatakan bahwa sedang ada seorang penyusup. Tidak ada cara lain, Yona harus menghentikannya.

   "Sial, keberadaanku diketahui." Lapor Yona pada Akicha.
Dengan cepat Akicha menjawab. "Jangan dikejar!"
   "Apa maksudmu? Kenapa?" Lantas Akicha membalasnya lagi. "Aku yang akan melumpuhkannya. Aku tahu ruang pengawas tersebut berada dilantai atas. Kau lanjutkan saja perjalananmu, tepat disisi kirimu terdapat sebuah pintu besar yang terbuat dari besi, itu adalah ruangan isolasi tingkat 2."

Akicha mengambil sebuah Sniper jenis L–96 A-1/AWP lengkap dengan peredam, Sniper tersebut dapat beraksi menghantam target dikejauhan 1100 Meter. Akicha memanjat naik keatas atap mobilnya, Dalam posisi tengkurap ia membidik ruang pengawas tempat target yang akan menghidupkan bell darurat. Dengan satu mata ia mengeker scope mengarah target. Dan akhirnya target mulai muncul, Akicha siap meletupkan Snipernya.
"Shoot!" seketika Peluru tersebut menembus leher serta memutuskan saluran pernafasan sang target.

Waktu pintu besi itu Yona geser, seorang laki laki tepat disebelah Stella itu dalam posisi mesum memaksa si tersangka menyerahkan tubuhnya. Yona yang melihat itu segera menodongkan MP9 nya pada musuh. "Jangan bergerak!."  Stella terkejut. "Yona."

   "Mundurlah 5 langkah dari tempatmu." Tambah Yona. Pria itu sedikit terancam dan mau mengikuti omongan Yona barusan. Pria itu tersenyum tipis, Namun dibalik senyum wajahnya itu, terdapat rencana kotor. "Sungguh sempurna, 2 orang wanita mendatangiku."

Dengan cepat sebuah pisau kecil yang ia sembunyikan dibalik bajunya ia lempar melayang mengenai bahu Yona. Senjata Yona terjatuh, lantas pria tersebut berlari menendang perut Yona hingga tubuhnya terlempar. Ia mangambil senjata Yona yang tergeletak dilantai lalu membuangnya jauh jauh. "Aku tidak perlu menggunakan senjata ini untuk melawan kalian. Aku akan menikmati pertarungan ini." Ucapnya percaya diri.

Dibalik luka sayat yang diterima Yona, terpaksa ia harus melawan pria tersebut dengan hati hati. Dan terkadang luka itu bisa menyengat perih pada bahunya, itu akan mempengaruhi pergerakannya. Yona menghembuskan nafasnya perlahan, dan kemudian ia berlari ke arah pria tersebut dan memulai serangan bela dirinya. Teknik teknik pukulan karate ia gunakan, pukulan pukulan dari keduanya terlihat seimbang. Sayang sekali, Sudah saatnya Yona mesti harus terkena oleh pukulan tangan si pria tersebut, Yona tidak bisa konsentrasi akibat luka sayat yang sering sekali menyengat tiba tiba. Wajahnya mulai berkeringat dengan tangan memegang bahu yang terluka.

Kini giliran Pria itu yang mulai menyerang, Yona berkonsentrasi membaca gerakan si target, terutama gerakan lengan. Saat lengan si target hampir mengenai perut Yona, ia melakukan teknik Juji Uke untuk menangkis dan melakukan serangan balik dengan teknik Fumi Kiri yang menyebabkan target tergelincir terjatuh. Yona mengambil kesempatan, ia menarik kunci borgol yang tersambung dicelana pria tersebut, Yona berlari untuk membebaskan Stella dari besi yang melilit di tangan serta kakinya.

Setelah Stella terbebas, ia terus memandang pria bejat itu dengan tajam. Hatinya sudah sungguh membara bara, matanya menunjukkan bahwa kesabarannya sudah habis. Stella sadar tidak banyak cara yang bisa ia lakukan akibat beberapa luka yang menyebabkan kakinya lumpuh.
Pria tersebut mulai berlari menuju tubuh Stella, Stella hanya terdiam. Seperti yang dilakukan Yona sebelumnya, Stella menangkis menggunakan teknik Juji Uke, setelah itu Stella memberi serangan balik melalui teknik Nukite dengan keempat jari yang menusuk nusuk cepat kearah leher korban. Dan kemudian, tahap akhir Stella memegang leher korban dengan menekan sendi melebihi ruang gerak diarea leher hingga menyebabkan tulang belakang lehernya tergeser. Pria tersebut tewas seketika.

   "Luar biasa." Kagum Yona memandang Stella.
Stella memandang pria yang sudah tak bernyawa itu. "Jangan pernah membuat wanita kesal, Ingat itu."
   "Kita tidak punya banyak waktu, Akicha sudah menunggu kita diluar." Kata Yona pada Stella.
Stella sedikit terkejut. "Akicha? maksudmu Akicha dari Team W? Apa dia sudah kembali?"
   "Ceritanya panjang, nanti akan aku jelaskan setelah kita aman nanti." Sahutnya.
Sesegera Yona merangkul Stella menuntun menuju tempat Akicha bersembunyi dimobilnya.


Sesampainya ditempat Akicha, Yona menuntun Stella masuk kedalam mobil. Stella berada dikursi belakang, sedangkan Yona tepat disebelah Akicha dikursi depan. Mobil pun segera berjalan meninggalkan markas NDO. Dalam perjalanan Akicha melirik Stella dari kaca spion tengah, Rasa prihatin membayang banyangi Akicha. "Keadaanmu sungguh buruk." Ucapnya pada Stella.
Stella hanya menunduk. "Tidak usah perdulikan aku." Jawabnya singkat. Stella masih membuang mukanya, raut wajahnya menunjukkan kejengkelannya.
   "Apa kau masih marah padaku? Sejak NPW pecah, aku tidak lagi menghubungimu. Maafkan aku." Simpulnya pada Stella. Stella masih saja membuang wajahnya, namun sekali kali lirikkan matanya tertuju pada spion tengah. Diam diam Stella pun melirik Akicha, dalam hati ia sungguh rindu akan kehadirannya, namun kemunafikan masih terpajang diwajahnya.

   "Sepertinya kita sedang diikuti." Kata Akicha sambil menoleh ke arah spion kanan.
Yona serta Stella serentak menengok kebelakang. "Kira kira siapa?" Tanya Yona.

Tak lama, kaca mobil bagian kanan si pengemudi yang mengejar kawanan Akicha terbuka. Terlihat seorang wanita berpakaian tertutup lengkap dengan masker yang menutupi area wajahnya. Ditangan si pengemudi sudah terdapat pistol yang siap menembak mobil kawanan Akicha. Yona yang melihat itu segera mengambil tindakan, ia pun mengantisipasinya dengan mengarahkan pistolnya pada mobil yang mengejar dibelakangnya. Sedangkan Akicha mempercepat laju mobilnya untuk menghindari pengejaran.


Bersambung ...
Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Copyright © JKT48 NOVEL

0 comments:

Poskan Komentar