Sabtu, 27 April 2013

JKT48 NOVEL SEASON III #6



Title   : Experience Of Jewel
Genre : Tragedy, Friendship, Inspiratif, Melodrama.
Story by : Chikafusa Chikanatsu
   Ini Merupakan Kisah Fiktif. 


    Ini merupakan akhir pekan, Ronald memanfaatkan waktunya untuk menemui teman lama saat SMP, yaitu Melody. Ronald berdiri memandang laut dipelabuhan tempat Ia bekerja. Seperti biasa, tidak ada yang berubah pada kehidupan Ronald, Ia masih saja bekerja menyikat badan kapal dari lumut yang tertempel. Melody datang saat itu juga, Ia memberikan sebotol susu hangat pada Ronald. Suasananya juga masih sangat pagi, sekitar pukul lima lewat. Sepi dan tenang, memudahkan Ronald untuk menyampaikan keluhan isi hatinya.

Ronald meneguk susu hangat yang diberikan Melody. "Menjadi dewasa itu tidak menyenangkan, bukan? Kita harus lebih menjagai perasaan orang lain agar tidak menimbulkan sakit hati atau mungkin tersinggung dengan ucapan yang akan kita sampaikan." Kata Ronald tanpa menatap Melody.

Melody menghela nafas, Ia pun merasa setuju dengan perkataan Ronald. "Dan juga ... Kita sudah harus bisa menghidupi diri sendiri." Tambah Melody. "Sebenarnya ada apa?" Tanyanya.
   "Apa Rica baik baik saja disana? Dia tidak pernah kelaparan, bukan? Ia sering makan enak, bukan? Ia tidur ditempat yang sungguh empuk dan hangat, bukan?"
   "Kamu sendiri apa sudah mendapatkan kemewahan itu?" Balas Melody Ketus.
Ronald tercenung beberapa saat. "Aku tidak masalah dengan kehidupan yang aku jalani. Aku senang melakukannya, walaupun hanya menyikat kapal, itu lebih baik daripada aku mengemis ngemis pada orang."
Melody mendesis. "Jangan munafik gitu. Wajahmu menunjukkan bahwa ada rasa kekecewaan yang tumbuh. Kamu kecewa bahwa Rica sudah tidak lagi disisimu, bukan?"
Ronald menyangkalnya. "Aku senang bila ia senang, setidaknya satu diantara kami sudah bisa mencapai mimpinya dan menjadi orang sukses. Ia tidak perlu merasa kelaparan dan kedinginan lagi. Dia adalah dia, aku adalah aku."

Lantas Melody membentak. "Jangan terus membela diri sendiri! Bagaimanapun kamu tidak bisa seperti ini terus. Suatu saat nanti kamu akan menikah dan punya anak, Apa kamu akan bilang pada anakmu bahwa kamu juga mempunyai impian yang bahkan kamu tidak bisa menggapainya?"
Ronald membalasnya.  "Apa yang bisa dilakukan oleh orang lulusan SMP yang bahkan untuk mencari makan sendiri saja tidak cukup."

Melody menoleh pada Ronald dan menatapnya sungguh sungguh. "Kamu bukan orang yang bodoh, sejak kita sekelas dulu, kamu selalu mendapat ranking satu. Orang pintar akan selalu dicari oleh orang banyak. Tidak bisakah kamu melanjutkan pendidikanmu?" Pinta Melody.
Ronald balik menatap melody, ia sedikit putus asa. "Aku ingin, sungguh aku ingin. tetapi aku tidak mau jika kamu yang membiayaiku. Aku hanya merasa tidak enak."
   "Aku ini bukan orang asing. Aku ini temanmu, wajar jika aku mengkhawatirkan hidupmu. Siapa sih yang ingin melihat temanya sengsara." Kata Melody menerangkan.

Lantas Melody mendekatkan dirinya pada Ronald, Ia memegang bahu Ronald agar Ronald mau mengerti niat baik dirinya. Seketika tubuh Ronald merinding, mendadak gugup, perasaannya menjadi gelisah. Itu semua karena lengan Melody yang menempel dibahunya. Melody menyadari kecanggungan Ronald, Ia cepat cepat melepas lengan yang menempel dibahu pria pemalu disebelahnya.

   "Aku akan memikirkannya dalam dalam tentang permintaanmu." Kata Ronald basa basi.
Melody tersenyum tipis. "Pikirkanlah masa depanmu."

Lantas Ronald tercengang diam, matanya mengarah pada Melody, sebetulnya Ia tidak menatap Melody, Namun Ia menatap orang yang baru saja datang tepat dibelakang Melody. Melody sedikit binggung, Ia menengok kebelakang. Batinnya melemah saat tahu bahwa yang dihadapannya adalah Rica. Rica membuang wajahnya, tak acuh. Kedekatan mereka memang bisa dibilang tidak begitu baik, mereka tidak pernah sepihak dalam hal apapun.

Rica berjalan menghampiri Ronald, Ia memberikan bungkusan makanan pada Ronald. "Kamu sudah sarapan? Aku bawakan ini untukmu. Aku tidak menyangka bahwa kalian bisa saling kenal." Kata Rica menyindir keberadaan Melody.
   "Dia teman sekelas ku saat SMP." Sahut Ronald.

Bagi Melody, suasana saat itu sungguh menjengkelkan. Setelah Rica hadir, posisinya seketika bagaikan debu. Rica malah asik bercengkrama dengan Ronald, entah disengaja atau tidak, sepertinya Rica ingin sekali membuat Melody kesal. Dengan dahi yang mengerut Melody memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, namun saat Melody mulai melangkah, Ronald menghalanginya.

   "Kamu mau kemana? Jarang jarang kita bisa bersama kayak gini, aku takut kedepannya kamu akan mulai sibuk dan tidak bisa bertemu denganku."
Rica menyerobot. "Apakah kehadiranku membuatmu tak nyaman? Aku tidak tahu apa yang membuatmu selalu merasa kesal padaku. Jangan bawa perasaan pribadimu kemari."

   "Kamu sendiri bagaimana?" Balas Melody menatap kuat Rica. "Aku rasa perasaan pribadimu juga masih menghantui pikiranmu. Kalau begitu, Aku permisi dulu." Kata Melody sambil mengakhiri pertemuan singkat itu.
Ronald menoleh pada Rica. "Ada apa dengan kalian? Apa kalian saling bermusuhan?"
Rica tidak berkata apa apa, Ia hanya terdiam dengan wajah mendungnya.

***

Demi menyenangkan hati seseorang yang disayanginya, orang akan melakukan apa saja agar keinginannya terpenuhi. Semakin melihatnya menderita, maka akan semakin teriris melihat keadaannya. Apakah semua ini belum berakhir? Mengapa ada saja hal buruk yang menimpanya, terus dan terus. Aku semakin tak tahan dengan kehidupan ini.

Dhike baru saja menemui dokter spesialis yang sudah menangani Ayu dirumah sakit. Namun kabar buruk menimpa pikirannya. Kalimat kalimat yang diucapkan dokter masih saja memutar mutar di otaknya. Sepertinya ini mustahil!

   "Efek benturan yang dialami pasien sungguh dalam keadaan yang berat. Benturan tersebut menguncang seluruh komponen kepala termasuk organ didalamnya, antara lain bola mata.  Goncangan pada bola mata akan mengoyak selaput lensa mata yang berfungsi sebagai pelindung dan pengatur metabolisme lensa mata. Akibatnya sejak saat benturan, proses metabolisme di bola mata mulai kacau. Ini tidak akan bertahan lama dari sekarang, lama kelamaan pasien akan mengalami kebutaan. Saya pun cukup prihatin menyampaikan berita ini pada Anda."

Tubuh Dhike lemas tak berdaya dalam perjalanan menuju kamar Ayu dirawat. Apa yang bisa dilakukan orang tanpa penglihatan diumurnya yang masih sangat muda? Melalui penglihatan, berbagai gambaran buruk dan baik ada didalamnya. Aku takut, Aku takut jika ia tak bisa melihat keberadaanku. Apakah aku sedang tersenyum, atau mungkin sedih. 

Dhike terdiam manatap Ayu yang sedang tertidur ditempatnya. Ia mengingat semua kenangan indah saat bersamanya, Dhike takut bahwa tidak akan ada lagi yang namanya kegembiraan dalam hidupnya. Dhike menangis tersedu, Ia memegang pipi Ayu dengan lembut, Air matanya menetes tepat di pipi anak malang dihadapanya. 


Ayu merasakan kehangatan Air yang mengalir diwajahnya, Ia terbangun. Yang pertama dilakukan Ayu saat melihat Dhike dihadapannya, yakni memegang tangannya erat. Ayu bangkit dan bersandar dipojokan kasur, otot syarafnya memang bisa dikatakan sudah membaik sehingga Ayu sudah mampu bergerak.

Ayu menoleh dan terus menatap kakak angkatnya, Ayu menarik lengan Dhike untuk segera ikut bertumpu disebelahnya. Walau tak tahu pasti, namun Ayu menduga akan ada hal buruk yang menimpanya. Ayu berusaha tersenyum walau berat, tujuannya hanya agar Dhike menghentikan kecemasan yang ditimbulkannya pada dirinya.

   "Apa kakak tidak lihat aku sedang tersenyum? Aku sudah merasa sungguh baikan, jadi kakak jangan terlalu mengkhawatirkan aku." Kata Ayu berusaha membuat Dhike tenang.
   "Apa kamu tahu? Aku tak pernah bisa tersenyum bila melihatmu bersandiwara seperti itu. Kita sudah cukup lama hidup bersama, aku bisa bedakan mana senyum tulus dan senyum palsu hanya dengan melihat wajahmu." 
Lantas Ayu mengeluh diselipi rasa kesal. "Lalu aku harus bagaimana? Kakak pernah bilang padaku untuk tidak membuat kakak cemas, tapi apa yang aku lakukan selalu salah. Aku mencoba tersenyum pada kakak, walau kakak bisa bedakan senyum tulus atau palsu, tapi bisakah kakak menerima senyumku?"

Dhike tampak berkaca kaca memandang Ayu, hatinya sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Dhike mendekap tubuh Ayu dengan erat, Ia menangis.

   "Aku berjanji untuk segera menemukan Ayahmu, Aku janji. Aku harap, kehadiran Ayahmu dikemudian hari bisa mengubah hidupmu lebih baik." Kata Dhike.
Ayu menangis, Ia begitu ketakutan. "Apa yang akan terjadi padaku, Kak? Tolong jawab aku. Selama ini aku tidak pernah jahat pada orang, lalu mengapa aku selalu menderita menerima semua ini?"
Dhike memukul mukul pundak Ayu untuk menenangkannya. "Kamu harus berjanji, apapun yang akan terjadi padamu, kamu harus tetap tersenyum. Kamu tidak ingin membuat kakak cemas, kan? Apa kamu bisa melakukannya?"
Disela air matanya, Ayu menatap Dhike kuat. "Aku berjanji. Aku tidak punya siapa siapa kecuali kakak sendiri, maka dari itu kakak pun harus tetap berada disisiku."

Tiba tiba saja pintu kamar rumah sakit terbuka, muncul 3 gadis belia yang masing masing membawa tas, entah apa isi dari tas tersebut. Mereka adalah Cindy, beby serta Delima. Dhike tersenyum memandang ketiga wanita belia itu, sedangkan Ayu hanya bisa diam kebingungan. Ayu sama sekali tidak mengenal para wanita yang baru saja datang. Lantas Dhike menyuruh masuk ketiganya.

Cindy mengingat perkataan Dhike sebelumnya saat diluar rumah sakit. Diam Diam Dhike kembali menghubungi Cindy untuk meminta bantuannya.

Aku merupakan teman baik dari anak yang mengalami kejadian maut itu. Ia tidak punya siapa siapa untuk menghiburnya kecuali aku sendiri. Ia tidak punya teman seumurannya untuk bermain, Ia begitu kesepian. Aku yakin kamu orang yang baik, aku mohon bantuanmu. Bisakah kamu menemaninya? 

Cindy, Beby serta Delima, ketiganya berjalan menghampiri Ayu.
   "Apa kabar? Namaku Cindy Gulla. Sebelumnya, aku rasa kita sudah berteman. Aku melihatmu saat Aku juga berada dirumah sakit ini. Aku ingin sekali menghampirimu dan mengobati luka pada tubuhmu. Namun, kenyataannya aku sendiri pun tergeletak disebelahmu. Dan juga, aku ini bukan seorang dokter." Kata Cindy basa basi. Cindy menambahkan. "Kita sama sama berada diruang UGD yang sama. Kita tergeletak saling bersebelahan saat itu, Aku tidak kuat melihatmu dibedah oleh dokter, itu pasti sungguh sakit. Tanpa sadar, tangan ini menggenggam kuat tangan mu. Aku berharap sangat saat itu agar kamu diberikan keselamatan, entahlah, aku ini orang yang tidak tegaan. Kini, aku bisa melihatmu dan bertemu langsung hari ini, Aku harap kita bisa berteman baik." Senyumnya.

Kini giliran Beby, Ia mengambil permen lolipop dari tasnya. Ia menyodorkannya pada Ayu. "Ini untukmu." 
Ayu menerimanya dengan wajah yang penuh tanya. Sungguh, Ayu begitu binggung dengan suasana yang berlangsung saat itu.
   "Aku merupakan teman baik Cindy, Namaku Beby Chaesara. Aku selalu mengikuti kemana langkahnya berjalan. Orang orang lama berkata, perbanyaklah teman, maka segala sesuatunya akan mudah dilakukan. Aku harap kamu bisa menerima pertemanan dariku." Kata Beby pada Ayu.
   "Dan namaku Delima ... Udah gitu aja." Serobot si Delima. Cindy serta beby menoleh pada Delima setelah ucapannya, sepertinya Delima memang tidak mahir dalam menyambut seseorang. Beby menyikut nyikut lengan Delima, tujuannya agar Delima bisa berkata lebih baik untuk meyakinkan Ayu. Namun Delima tidak tahu harus berbuat apa. Lantas Delima mempunyai Ide, Ia merapihkan selimut yang dipakai Ayu, selimut tersebut Delima posisikan agar tubuh Ayu tetap terjaga. Namun apes, Ayu malah mengeluh. "Aku kepanasan, Aku sengaja membuka selimut ini." Kata Ayu.

Beby menghela nafas, Ia menepuk jidatnya karena merasa kecewa. "Apa ini ide yang bagus untuk mengajak Delima kemari?" Kata Beby berbisik pada Cindy. "Tak apa, Delima mempunyai selera humor yang tinggi." Balas Cindy berbisik.

Ayu masih tercengang. "Aku tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi sebenarnya. Namun, Jika memang kalian ingin berteman denganku ... Justru aku akan semakin senang." Ayu menoleh pada Cindy. "Dan juga, apa yang membuatmu berada diruang UGD pada saat itu? Apa yang kamu alami?"

Dhike menggangkat kepalanya menatap Ayu, Ia berusaha memotong pertanyaan Ayu barusan. "Apa kalian sudah makan? Selagi kita kumpul, Lebih baik kita makan bersama saja." Katanya. Dhike sudah mengetahui kejadian yang dialami Cindy waktu itu, maka dari itu mungkin hati Cindy akan kembali terluka jika mengungkit kejadian waktu itu.

   "Benar! Ayo kita makan dulu. Aku sudah sangat lapar." Keluh Delima.
   "Kapan sih kamu tidak pernah lapar, yang ada dipikiranmu hanya makanan saja." Sindir Beby pada Delima dengan wajah judesnya. Delima cengegesan.

   "Kalau begitu, Ayo kita makan." Seru Ayu.

Cindy, Beby serta Delima, masing masing mengeluarkan makanan yang mereka bawa dari dalam tasnya. Dhike kagum. "Wahh.. Banyak sekali, apa semua ini kalian yang buat?" 
Ketiganya menggangguk. "Benar, Apalagi Cindy, Ia yang paling bersemangat membuat ini semua. Makanan buatannya sungguh enak!" Kata beby.
Cindy tersipu sipu. "Jangan berlebihan, Beb."


Ia tiba diruang rapat, gedung Pelangi Entertainment. Orang yang baru saja datang merupakan orang penting dalam pembuatan Film yang akan segera dilaksanakan. Tidak jauh Dia adalah direktur Pelangi Entertainment sendiri. Dihadiri oleh seorang sutradara ternama serta penulis dari film terkait. Semua sudah rapih duduk ditempatnya masing masing, sutradara itu mulai menjelaskan.

   "Kali ini, kita akan mulai fokus mencasting beberapa peran wanita. Dari 68 peserta, Saya hanya bisa menyeleksi 5 orang saja."
Sutradara itu maju kedepan, dengan bermodalkan mading serta foto peserta, sutradara itu mulai melanjutkan omongannya.

   "Yang pertama, Nama lengkap, Rica Leyona, umur 21 tahun. Ia merupakan pemeran terbaik tahun ini. Dan ia juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai Aktris terbaik di Pelangi Entertainment. Tahun ini Ia sedang tidak mendapatkan jadwal, jadi aku memutuskan untuk memakainya." 
Kata Sutradata.

Ia melanjutkan. "Yang satu ini bernama Melody Nurramdhani, umur serta postur tubuhnya sangat cocok untuk berperan dalam film ini. Namun sungguh disayangkan, Ia sudah mendapatkan jadwal lain oleh managernya sendiri. Maka dari itu aku masih mau mempertahankan dirinya dengan berusaha bekerja sama melalui managernya."

    "Yang ketiga, Stella Cornelia. Dijadwalkan syuting Sitkom minggu ini dengan honor sebesar 60jt per Episode. Namun itu tidak masalah, Drama tersebut akan berakhir pada minggu ini, Setelah itu aku akan memakainya."

Penulis memotong omongan sutradara. "Bagaimana bisa kamu yakin untuk bisa bekerja sama dengan managernya?"
Sutradara itu tertawa dengan nada rendah. "Tidak ada yang tidak suka dengan uang. Film ini menawarkan sejumlah honor yang besar pada mereka, yakni 200jt per Episode, dengan total keseluruhan 35 Episode. Belum termasuk honor diawal sebesar 450jt. kualitas PH kita sudah diakui oleh dunia, berbagai iklan sudah mengantri."

   "Yang keempat, Jessica Veranda. Ia lulus dalam casting yang berlangsung baru baru ini. Mungkin ini akan memulai debutnya sebagai aktris. Apa ada pertanyaan?" Kata sutradara.

Setelah mendalami omongan sutradara, direktur itu mulai membuka mulutnya. "Rata rata dari semua orang yang anda sebutkan berasal dari bidang musik. Saya tidak yakin bahwa mereka akan bisa mengatur jadwalnya yang penuh itu. Bagaimana anda mengatasi ini?"

   "Saya sudah pikirkan itu semua, maka dari itu saya mencantumkan isi kontrak yang berisi tentang pembagian jadwal yang seimbang. Ini akan menjadi jadwal tersibuk bagi beberapa orang, namun persetujuan tetap saja ada pada pihak orang terkait." Jawab Sutradara.

Direktur itu kembali melihat isi daftar peserta casting, pandangannya jatuh pada Sonya Pandarmawan. "Sonya ... Sonya... Bagaimana dengan wanita ini? Wanita ini pernah memenangkan penghargaan sebagai dancer terbaik, mungkin tubuhnya sangat cocok dipadukan dalam genre aksi ini."

Sutradara itu terbahak. "Dia telah gugur. Mengucapkan dialognya saja seperti sedang membaca buku, tidak ada emosi, penghayatan serta improvivasi yang menonjol dari dirinya."
   "Lalu, Apa saya harus menyebut diri anda profesional? Dalam hal ini, anda dituntut untuk bisa mengajak siapa saja untuk berperan. Ini resiko anda, tidak ada yang tidak bisa jika tanpa berlatih. Anda ajarkan dia tehnik penting dalam akting." Kata Direktur.
Sutradara itu menentang. "Tidak bisa, Saya tidak mau mengulang casting sebanyak dua kali."

   "kalau begitu, Saya sendiri yang akan mencasting ulang. Saya akan memberi kesempatan pada mereka yang ingin meraih mimpinya. Berikan pada Saya semua daftar peserta yang telah gugur dari segala bidang, meliputi penyanyi, aktor/aktris serta dancer dari pas pertama kali Pelangi Entertainment dibangun. Saya akan membuka wadah baru bagi mereka. Saya tidak akan membuang atau menjual barang rongsokan, Saya akan mendaur ulang barang rongsokan itu menjadi barang yang kembali berguna. Prinsip yang Saya tegakkan sungguh berbeda, dalam hal ini, Saya tidak membeda bedakan mana yang berpengalaman dan yang tidak. Setiap orang memiliki keunggulannya masing masing, Saya akan mulai mengasah kemampuan mereka."  Kata Direktur.


Bersambung ...


Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Copyright © JKT48 NOVEL

0 comments:

Poskan Komentar