Selasa, 30 April 2013

NPW (National Protection of Women) Chapter 4


Title : National Protection Of Women
Genre : Action, thriller, Mystery
Release Date : 26 Maret 2013
Story by : Chikafusa Chikanatsu
  Ini Merupakan Kisah Fiktif.


PERHATIAN : CERITA INI MENGANDUNG TINDAK KEKERASAN, PENYIKSAAN SERTA PEMBUNUHAN. DI KHUSUSKAN BAGI MEREKA YANG SUDAH BERUMUR 17 TAHUN KEATAS.


   Yona serta Akicha telah berhasil menyelamatkan Stella dari ruang Isolasi milik NDO, Namun dalam perjalanan kembali menuju markas Team W, mobil mereka sedang dibuntuti oleh mobil lain yang tidak mereka kenal. Seseorang dari pengemudi tersebut memegang pistol membidik mobil yang dikendarai Akicha. Yona tidak mau telat dalam mengambil tindakan, ia mengantisipasinya dengan mengarahkan pistol miliknya pada mobil yang sedang mengikutinya.

   "Apa dia inspektur itu?" Terka Yona. "Aku rasa bukan, mobil yang sedang mengikuti kita saat ini bukanlah mobil dinas." Jawab Akicha.

   Akicha mempercepat laju mobil untuk menghindari penembakan, Namun terlambat. Si pengemudi yang mengejar mereka sudah melepaskan peluru hingga menancap Ban mobil milik Akicha. Yona membalasnya dengan menembak bagian kaca mobil pengemudi terus menerus. "Sial! Kita tidak bisa melaju cepat." Kata Akicha.

Laju mobil milik Akicha pun terhenti, didepan mereka sudah ada dua mobil jenis Jeep yang dalam posisi memblok jalan raya, disertai dengan para petugas asing yang masing masing dari mereka menodongkan pistol kearah mobil milik Akicha. Jarak antara tempat Akicha dengan para petugas kira kira 20 meter. Jumlahnya belasan, dari cara mereka memegang senjata sangatlah telaten, sudah dipastikan bahwa petugas yang ada dihadapan mereka sangat profesional.

Akicha, Yona serta Stella keluar dari dalam mobil. Akicha memberi kode isyarat 8-8 (Bertemu langsung pada atasan yang memberi perintah) pada petugas yang ada dihadapannya melalui lengannya. Namun tidak ada yang mengerti arti dari kode yang Akicha berikan, sudah dipastikan petugas yang ada dihadapannya bukan dari pihak kepolisian. "Waspadalah!" Nasehatnya pada Yona serta Stella.

Mereka bertiga mengokang senjata apinya masing masing. "Jangan bertindak bodoh! Yang kalian hadapi saat ini adalah petugas dengan pangkat setara Mayor. Jika kalian bergerak sedikitpun, aku tidak bisa pastikan bahwa kalian masih bisa hidup." Kata seorang wanita misterius yang muncul dari belakang mereka. Orang itu adalah wanita yang mengejar kawanan Akicha barusan. Wajahnya ditutupi oleh kain masker, membuat keberadaannya tidak diketahui.

   "Apa tujuanmu?" Tanya Yona pada wanita misterius. "Menangkap kalian." Jawabnya singkat. "Untuk apa?" Balasnya lagi. "Untuk memastikan sesuatu." Katanya kurang jelas. "Atas dasar apa kalian menangkap kami? Dan siapa orang yang sudah memerintahkan kalian?" 
   "Nanti juga kalian akan tahu. Aku tidak mau ada pertumpahan darah disini, jadi ikuti saja apa yang aku perintahkan. Kalian mengerti?"

Tepat disebelah Wanita misterius, Stella mencoba melawan dengan mengayunkan gumpalan tangannya pada wanita itu. Namun Wanita itu bisa menghindar serangan Stella dan tidak melakukan balasan. Sayang sekali, para petugas yang melihat aksi nekat Stella membuat tindakan yang menyebabkan Stella tertembak dibagian perut serta kaki kanan. "Stella!" Teriak panik Akicha.

    "Hentikan tembakan kalian!" Pekik wanita misterius dengan kerasnya pada para petugas. Wanita itu mengeluarkan walky talky dan segera berbicara pada pimpinan petugas konvoi miliknya. "Sudah aku katakan jangan bertindak sebelum aku perintahkan. Apa kalian tidak memahami perkataanku? Cepat panggil tim medis kemari!" Katanya dengan wajah yang kesal. "Aku minta maaf, aku takut terjadi apa apa pada pimpinan. Aku akan segera kirim tim medis kesana." Balasnya.

Stella runtuh saat itu juga, ia tergeletak dijalan dan tak sadarkan diri. Wanita tersebut menghampiri tubuh Stella dan segera melakukan pengecekan pada nadi leher. "Ia masih hidup." Katanya. Lantas wanita misterius tersebut menoleh pada Akicha. "Jika kalian mencoba melawan dengan tindakan yang sembrono, maka nasib mu akan sama dengannya." 

Mata Akicha tampak berkaca kaca memandangi Stella yang sudah tumbang dijalan. Penyiksaan yang dilakukan pihak NDO sungguh kejam, ditambah luka tembak yang ia terima kali ini, sungguh malang nasibnya. Tanpa sadar tubuh Akicha menjadi lemas, ia menjatuhkan senjata apinya kejalan, pandangannya masih tertuju pada Stella dengan perasaan iba menyelimutinya. "Bawalah kami sebagai tawananmu, tapi aku mohon dengan sangat, selamatkanlah teman kami." Katanya.


Ruang Pengontrolan, Markas Team W. Dengan wajah cemas Haruka mengamati monitor besar yang tertempel didinding. Monitor tersebut menampilkan peta lokasi tempat Akicha dan kawan kawan berada, Namun ada yang ganjil pada saat itu, yakni jalur yang mereka tempuh sangat berbeda dari yang semestinya.

   Haruka menoleh pada Acha. "Apa kau mengubah jalur tempuh?" Lantas Acha menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak mengubahnya, kenapa?"
   "Ada yang tidak beres. cepat kau hubungi Akicha."  Acha menghubungi Akicha saat itu juga dengan telepon, ia mengeluh. "Aku tidak bisa menghubunginya. Apa terjadi sesuatu?"

Tidak lama kemudian ponsel Haruka berbunyi, ia mendapat pesan dari Akicha yang isinya sebuah kode darurat. Haruka menyimpulkannya pada Acha. "Mereka sedang ditawan. Beritahu berita ini pada ketua Tim, aku akan melacak keberadaan Akicha dengan Satelit." Sesegera Acha berjalan cepat menghampiri Ve.


Setelah Acha sampai diruang khusus milik Ketua mereka, Acha melapor pada Ve. "Kawanan Akicha saat ini sedang ditawan oleh pihak asing." Ve terperanjat. "Apa maksudmu? Bukankah mereka telah berhasil lolos dari markas NDO?" Acha menjelaskan. "Mereka ditawan saat perjalanan menuju kemari, apa perintahmu?"
Ve kesal, ia memukul meja dengan kepalan tangannya. "Segera lacak keberadaan mereka melalui satelit, dan panggil Ayen untuk segera menemuiku." Acha menggangguk.

Tidak lama kemudian Ayen datang menemui Ve. "Apa kau memanggilku?"
   "Duduklah." Ayen duduk berhadapan dengan Ve, ia memasang wajah serius. "Apa ini mengenai penangkapan Akicha oleh pihak asing?" Ve pun ikut memasang wajah genting. "Apa yang kau pikirkan tentang penangkapan itu? Apa kau mencurigai siapa dalang dibalik penangkapan tersebut? dulu, kau pernah bilang padaku bahwa ada orang dalam yang mencoba melakukan perebutan kekuasaan di organisasi kita."

Ayen menggangguk. "Sesudah Direktur NPW tewas, Aku menemukan bukti bahwa Ghaida telah bersekutu oleh pihak musuh. Ia kepergok telah membocorkan data rahasia mengenai teroris dari informasi yang kita miliki sebelumnya." Lantas Ve kesal memandang Ayen. "Kenapa baru sekarang kau memberitahuku informasi penting ini?" 
   "Aku minta maaf. Aku merahasiakannya karena Ghaida belum sepenuhnya bersalah, jika aku menuduhnya tanpa barang bukti yang cukup kuat, maka akan ada perpecahan lagi diantara kelompok kita. Aku tidak mau itu terjadi. Rekan satu tim Ghaida mungkin tidak terima jika ketuanya menerima tudukan kosong."
   "Saat ini, Team N serta W sudah bergabung, aku tidak mau lagi jika kau menyembunyikan informasi penting. Aku mohon kerja samanya. Siapa saja yang tahu berita bahwa Ghaida bersekutu dengan musuh?" 
   "Hanya aku dan Akicha."
Ve menggangguk.   "Kita harus melacak keberadaan Team P terlebih dahulu untuk memastikan kemungkinan tuduhan yang kau ucapkan barusan adalah benar."
   "Aku mengerti." Kata Ayen menggangguk.



Kawasan Markas Team P, Sore hari. Didalam lorong gelap tempat menuju pintu masuk, Wanita misterius itu membawa Akicha serta Yona sambil menodongkan pistol, ditemani dua orang petugas lengkap dengan senjata AK-47 yang berjaga jaga. Lorong yang panjang, menghabiskan lima menit berjalan kaki menuju tempat tujuan. Mereka sudah sampai diruangan khusus, semua barang yang ada dalam ruangan terlihat modern serta canggih. Akicha serta Yona menjelajah isi ruangan dengan cermat.

Seseorang yang bisa dikatakan Ketua Team P datang dengan wajah sangarnya. Yona serta Akicha tentu akan terperanjat melihat sosok Ghaida dihadapannya. Belum lagi wanita misterius yang ada disampingnya membuka kedoknya, dia adalah kaki tangan Ghaida, yakni Diasta.

Yona mendengus kesal. "Apa ini semua bagian dari rencanamu?" Dengan santainya Ghaida berkata. "Benar. Aku terpaksa melakukannya karena ada yang aku inginkan dari kalian."
   "Kau berkata dengan mudahnya setelah melukai Stella?" Tambah Yona.
   "Saat itu aku memang tidak berniat melukai kalian. Itu hanya sebuah kecelakaan. Stella memang tidak pernah berubah, ia selalu saja ceroboh hingga melukai dirinya sendiri." Yona bertambah kesal. "Tutup mulutmu! Kau lah yang seharusnya disalahkan atas kejadian itu. Jika sampai terjadi apa apa dengan Stella, maka aku tidak akan tinggal diam."

Ghaida terbahak. "Apa kau tidak sadar siapa yang telah menghancurkan NPW? Kaulah sendiri! Kau melanggar aturan yang dibuat direktur dengan berusaha membebaskan seorang agen yang telah gagal dan hilang lima tahun yang lalu, kau menyalahgunakan kekuasaanmu untuk mencari agen tersebut. Langkah mu itu membuat keberadaan markas NPW diketahui pihak musuh dan membuat Direktur terbunuh. Bukan begitu?" Kata Ghaida Blak Blakan.


Yona bergetar Kesal.  Tolong hentikan!" Pekik Akicha berusaha menenangkan keduanya. Ia menoleh pada Ghaida. "Apa yang kau inginkan dari kami?" Tanyanya.
Ghaida sejenak terdiam memandang Akicha, kemudian ia memasangkan wajah serius. "Beritahu aku semua informasi mengenai senjata terkuat yang sudah kalian pelajari di Organisasi NPW dari pihak asing, meliputi Peluru Kendali jelajah, Railgun, Alat pengintai tingkat tinggi Hybrid Insect MEMS (HI-MEMS) dan juga DREAD (Sebuah pistol tanpa kokang dan dapat menembakkan 120rb peluru dalam 1 menit)."
Akicha mengeluh. "Semua senjata tersebut masih dalam tahap percobaan, aku belum bisa memastikan keakuratannya." Ghaida membalasnya. "Tak apa, aku sudah mempunyai seorang ahli serta peneliti untuk pembuatan senjata tersebut. Kau cukup berikan aku data data informasi mengenai senjata tersebut." 

Akicha menatap Ghaida sungguh sungguh. "Apa yang akan kau rencanakan dengan senjata itu?"  
   "Kalian tidak perlu tahu. Namun yang pasti, aku akan menegakkan keadilan."
Dengan wajah keheranan Yona bertanya. "Lalu kenapa kau tidak bergabung dengan kami untuk bersama sama menegakkannya?"
   "Apa yang kalian lakukan sungguh berbeda dengan kami. Ini seperti memelihara kucing pertama kali, jika kalian terus memberinya makanan enak, maka kucing tersebut akan kembali dan merasa nyaman oleh majikannya. Aku perlu tindakan yang seperti itu pada musuhku. Aku akan bersandiwara, memanfaatkannya, lantas mengkhianatinya."

Ghaida berjalan ke sudut ruangan untuk menyalakan sebuah kamera HD, ia akan merekam suasana yang terjadi disana dan mengirimkannya ke pusat markas Team W.

   "Ini aku, ketua dari Team P, Ghaida. Seperti yang kalian lihat, saat ini sebagian anggota kalian sedang dibawah kendaliku untuk sementara waktu. Jika kalian ingin rekan kalian kembali, aku ada permintaan." Lantas Ghaida melirik Akicha, ia memberi isyarat pada Akicha untuk segera berbicara di depan kamera.

Akicha berjalan mendekati Kamera, dan ia mulai berbicara.   "Aku dan Yona saat ini baik baik saja disini, namun Stella mendapat luka tembak yang menyebabkan dirinya harus dirawat intensif oleh pihak Team P. Aku ingin berbicara pada Haruka, suruh dia untuk masuk keruang arsip dengan memakai kartu ID ku untuk mengambil beberapa dokumen berisi informasi pembuatan senjata Tahap akhir dilaci nomer 468. Tolong amankan arsip tersebut." 

Ghaida menambahkan. "Aku ingin melakukan pertukaran. Tepat besok pagi pada pukul sepuluh, aku ingin kalian membawa arsip itu jika kalian ingin rekan tim kalian kembali. Temui kami di pelabuhan Batam Center dekat pusat perbelanjaan Mega Mall. Aku janji akan melepaskan Tim kalian dengan selamat."

Begitulah isi rekaman Video tersebut untuk segera dikirimkan ke pusat server markas Team W.



Didalam ruang pengontrolan Team W, Haruka dan Kinal sangat terkejut setelah menonton Video barusan. Ayen serta Ve yang sudah menduganya hanya bisa terdiam menontonya. Ayen menoleh pada Ve. "Apa rencanamu?" Tanyanya.
   "Kita ikuti perintahnya untuk melakukan penukaran. Kita harus menghentikan Bom yang akan meledak dibukit ungasan terlebih dahulu. Kita sangat memerlukan Agen untuk menghentikannya. Dan juga aku sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai teroris yang akan meledakkan bukit itu melalui tawanan yang Team N temukan dibandara." Ve menambahkan, ia menoleh pada Haruka. "Sisanya aku serahkan padamu. Kau lacak IP Video tersebut berasal. Setelah mendapatkannya, diam diam kita akan cari tahu apa yang sudah terjadi pada  kelompok P."
   "Baik!" Patuh Haruka.




Bersambung ...
Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Copyright © JKT48 NOVEL

0 comments:

Poskan Komentar