Senin, 22 April 2013

JKT48 NOVEL #4 (SEASON II)

"Dok, bagaimana dengan keadaan Teman saya?" Tanyanya dari balik pintu kamar rumah sakit, Keningnya mengkerut mengkhawatirkannya. 
   "Tidak ada gejala yang serius akibat dampak terkena pukulan yang ia terima, ia hanya mendapat luka memar dibagian belakang kepala. Walau hanya luka memar, Namun ia butuh istirahat untuk tiga hari ini. Sesekali ia akan merasa pusing." Jawabnya sekilas dan langsung berjalan meninggalkan Sendy.

Sendy terdiam mendengarnya, ia kecewa dengan apa yang diucapkan dokter barusan.
   "Tiga hari? Lalu bagaimana dengan hari ini? Apakah akan sia sia?"

Diliriknya arloji yang ia kenakan, semakin gelisah saja setelah tau bahwa ia tidak mempunyai waktu banyak. Sendy memandang Ayu dari balik pintu yang ditengahnya terdapat kaca transparan, timbul rasa Iba hati. Dibukakannya pintu itu dan langkahnya melaju mendekati anak malang yang tergeletak di kasur. Sendy menoleh ke arah tas kecil milik Ayu. Perlahan ia meraba tasnya lalu membukanya. Ia mengambil sebuah ponsel milik Ayu dari dalam Tas itu. Sendy Ragu ragu untuk melihat isi ponsel milik anak malang tersebut. Ia mulai menyentuh bagian tombol (Home) dari ponsel touch yang bisa dibilang canggih itu. Namun sayang, ponsel itu meminta sebuah password untuk bisa mengakses nya. Semakin penasaran saja Sendy.

Ia mencoba memasukkan password pertama nya, yaitu N&D2007. Karena mungkin menurutnya password itu merupakan password global yang digunakan Ayu. Namun sayang, password yang dimasukkan Sendy ditolak. Sendy langsung kehabisan Cara, ia hanya mengetahui satu password saja. Dikembalikannya ponsel itu kedalam tas milik Ayu. Sendy juga melihat dua buah boneka kecil yang saling bergandengan tangan, di tiap tubuh boneka tersebut tertulis nama Ayu dan juga Dhike. 

Persahabatan seperti apa yang mereka jalani?  Tali diantara mereka begitu kuat. 

Diliriknya kembali tas Ayu. Rasa penasaran Sendy semakin menjadi jadi. Ia penasaran bukan karena ingin mengetahui data data mengenai Ayahnya, melainkan ia penasaran dengan apa yang dijalani mereka berdua (Ayu&Dhike) dimasa lalu. 

Tahun 2007, ada apa ditahun itu? Mengapa hati ini selalu memikirkannya. Padahal ini bukan merupakan salah satu diantara misi ku.

Sendy kembali mengambil Ponsel milik Ayu, serta Sendy juga tidak lupa untuk mengambil notebook nya dari dalam tas miliknya. Sendy menempelkan kabel USB pada Ponsel tersebut yang kemudian tersambung melalui Notebook nya. Proses Hacking dimulai.

Software yang meminta password pertama kali yang dijalankan pada ponsel ini bukan bersumber dari aplikasi penyedia ponsel itu sendiri, melainkan hanya sebuah software yang dikembangkan dari pihak lain. Mungkin aku akan lebih mudah menyusupnya, aku tidak perlu repot repot masuk kedalam data server dari pihak pengembang ponsel tersebut. Aku hanya tinggal menjalankan sebuah program yang merekam semua log atau aktifitas storage pada ponsel ini.

Mungkin ini adalah sotfware berbayar, tingkat keamanan nya sungguh ketat. Baiklah, pada tanggal 18 November software tersebut terinstall pada ponsel Ayu. Aku akan membuka command prompt dan aku hanya tinggal menulis beberapa script. list/p "pass=>" kemudian ENTER. Bagus, semua data yang berkaitan dengan Password akan tertera disini. Sekarang aku hanya tinggal mencari tanggal dimana Software Lock tersebut terinstall.

Ketemu! Aku hanya tinggal menyambungkan beberapa kode yang tertera disini.

Sendy mendelik setelah menyambungkan beberapa kode Script. 

Apa ini, Password nya tidak jauh berbeda dengan password yang kuketahui. Setelah aku dibuat penasaran dengan angka 2007, kini 2009. Sebenarnya ada apa ditahun tersebut? N&D2009. Sial!

Setelah Sendy berhasil mendapatkan Passwordnya, ia cepat cepat menutup notebooknya dan kemudian ia simpan kembali kedalam tas nya, takut takut Ayu sadar dan mencurigai Sendy.
Sendy kembali menatap Ayu yang sedang tidak sadarkan diri, ia memanfaatkan ketidaksadaran Ayu untuk menjelajahi ponsel milik Anak malang tersebut.

Sendy mulai memasukkan password yang ia dapat, ternyata benar, password yang Sendy masukkan dapat diterima. Hal yang pertama kali Sendy lakukan adalah membuka beberapa folder album foto. Ia melihat begitu banyak foto foto Ayu bersama dengan Dhike. Bahkan mereka pernah berfoto bersama diluar negeri beberapa kali, seperti Singapura, Malaysia serta Jepang. Sendy berfikir memang sebelumnya kehidupan Ayu bisa dibilang mewah. Sendy juga melihat Ayah serta Ibu kandung Ayu dalam album tersebut. Yang membuatnya heran, mengapa Dhike selalu hadir ditiap foto foto tersebut. 

Setelah puas melihat lihat foto, Sendy beralih ke inbox ponsel tersebut. Ternyata ada beberapa pesan yang belum diterima Ayu, pesan tersebut berasal dari Dhike.

-Kamu dimana? Jika memang benar langkah yang kamu ambil bersama dengan teman mu itu benar benar matang, Ayo kita bersaing dalam Audisi tersebut.-
-Kenapa diam saja? Aku tidak melihatmu disini. Apa kamu bimbang? Kamu akan tau seperti apa kehidupan yang akan terjadi didepan setelah kamu mengambil langkah itu. Aku tidak pernah dendam sedikitpun padamu. jadi, jika kamu kesulitan atau kesusahan aku akan selalu menunggumu datang untuk meminta bantuan dariku. Hanya saja, aku sedikit kecewa karena kamu telah melakukan tindakan sembrono tanpa meminta pendapat dariku. itu saja yang ingin aku ucapkan padamu.-

Seperti itulah kalimat pesan dalam ponsel Ayu yang belum sempat terbaca olehnya. Disisi lain, Sendy juga merasa bahwa perkataan Dhike memang ada benarnya. Namun Sendy akan berusaha menemani Ayu dan akan melawan semua perkataan Dhike barusan. 

Tidak lama kemudian Sendy jadi mengingat kata Audisi. Ia menjadi gelisah dan segera bangkit dari sandarannya. Ia menaruh kembali ponsel Ayu kedalam tas dan kemudian ia berlari menuju Gedung Audisi berlangsung. Ia tidak mempunyai waktu banyak, Pembukaan Audisi akan segera berlangsung.


Pembukaan Audisi berlangsung diruang seminar. Terdiri atas tiga tingkatan yang masing masing lantai memiliki empat ratus buah kursi berlapis busa yang sungguh empuk dan nyaman bila ditempati. Di tiap tiap meja sudah dilengkapi nomor peserta dan juga minuman botol air putih. Hampir seluruh kursi sudah ditempati oleh para peserta dan juga para panitia. Hanya tinggal menunggu beberapa menit saja untuk bisa memulai acara pembukaan. Namun, hari pertama bukanlah hari eliminasi dimulai, melainkan hanya sebuah pembukaan yang berisi rules atau peraturan peraturan dalam proses Audisi berlangsung. 

Suasana saat itu sungguh padat dan sumpek, bayangkan saja, yang mengikuti Audisi hingga mencapai ribuan orang. Yang hadir terdiri atas seorang pelaksana (Yasushi Akimoto), beberapa Panitia dan juga para peserta. Waktu Audisi Mungkin tidak akan selesai dalam waktu sehari. Maka dari itu para panitia pelaksana menarik sebuah solusi, yaitu dengan melakukan proses eliminasi selama empat hari. Selama empat hari itu juga para peserta dimanjakan dengan menempati sebuah asrama dan fasilitas lainnya yang bisa dikatakan mewah. Sungguh luar biasa biaya yang sudah dikeluarkan oleh pihak pelaksana.

Waktunya telah tiba, Seorang wanita yang merupakan pembawa acara mulai berjalan menuju panggung dengan sebuah mikrofon ditangan kanannya. Ia akan memberikan sedikit pidato dan juga peraturan dalam proses Audisi berlangsung.

Selamat Pagi dan Kami ucapkan Selamat Datang Kepada seluruh peserta yang hadir disini. Terima kasih telah berkenan Hadir. Seperti yang kalian ketahui, bahwa sebelumnya proses audisi hanya dilangsungkan selama dua hari saja, namun dengan berbagai pertimbangan dari pihak panitia kami telah mengambil kesepakatan. Yaitu, Proses audisi akan berlangsung selama empat hari dikarenakan banyaknya para peserta yang mencalonkan diri. Yang kedua, para peserta akan diperbolehkan menginap disebuah asrama selama proses audisi berlangsung, yakni empat hari. Yang ketiga, Bagi para peserta yang tidak hadir atau absen dalam pembukaan kali ini, maka kami selaku panitia akan menghapus data orang tersebut, lebih tepatnya dia akan gugur sebelum proses eliminasi dimulai.

Ada pun beberapa hal lainnya yang ingin saya sampaikan kepada kalian selaku peserta Audisi. Kami menilai peserta bukan hanya dari segi dance, tapi juga kami menilai kalian dari segi akting, gaya bahasa dan juga keterampilan dalam memainkan alat musik. Jadi, tunjukan dan keluarkan semua bakat yang kalian punya. Jangan pernah malu dan ragu untuk melakukannya.

Ini merupakan persaingan, penyingkiran dan juga penyisihan. Ini bukan merupakan tempat mangasihani satu sama lain, baik itu teman baru kalian atau mungkin sahabat. Jika kalian tidak ingin terinjak, maka langkahi dan lampaui lah setinggi mungkin. Kami melakukan Audisi ini bukan hanya mencari seorang dancer yang handal, melainkan seorang aktor/aktris dan bahkan seorang komposer. Jadi, Keluarkan semua kemampuan yang kalian bisa. 

Gagal bukan berarti kalian harus menyerah, kalian harus mempertahankan keyakinan yang ada pada diri kalian. Asah terus bakat yang kalian miliki, jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Jangan buat mimpi kalian hanya berputar dipikiran saja, Tetapi Buatlah mimpi kalian menjadi nyata.

Hanya itu saja kalimat singkat yang dapat saya sampaikan, Terima kasih dan selamat berjuang.

   "Merinding aku dengarnya. Ini sih sama aja gugur sebelum mencobanya. Aku begitu drop." Gugup Melody.
Dibalasnya keraguan Melody itu oleh Ve. "Jangan menyerah dulu, Mel. Jangan jadi seorang pecundang. Justru kalo kamu gugup kayak gitu rasa percaya diri mu akan berkurang. Jangan sampai itu terjadi, maka kamu akan semakin drop saja sebelum pentas berlangsung."
Stella menambahkan. "Ve benar, bawa santai saja. Meskipun kamu gak terlalu mahir dalam hal tari, tapi kamu mempunyai suara yang lembut, itulah kelebihanmu, Mel." 

Melody menoleh, memperhatikan Dhike yang terlihat gelisah disebelahnya. Sebaliknya, Dhike menoleh kanan kiri memperhatikan suasana sekitar. Seperti ada yang sedang ia cari.
   "Kamu lagi cari siapa, key?" Tanya Melody.
   "Bukan apa apa." Jawabnya singkat. Sebetulnya saat itu Dhike sedang mencari keberadaan Ayu, tetapi ia tidak ingin teman teman nya tau.

Sebenarnya dimana dia? Apa dia gak jadi mengikuti audisi ini? Apa perkataan ku waktu itu terlalu kasar hingga menyebabkan ia menyerah? Pesan ku juga masih belum ia balas, padahal ia sudah menerimanya.

   "Aku juga mencarinya." Ucap Melody tiba tiba.
   "Aku juga menghkawatirkannya, Key. Sama seperti kamu menghkawatirkan dia." Tambahnya.
   "Lalu kira kira ia berada dimana sekarang? Kenapa tiba tiba aku merasa bersalah padanya. Jika ia gak hadir maka ia akan gugur sebelum pentas besok."
   "Mungkin ia adik yang baik, ia mengikuti semua yang kamu ucapkan pada saat itu."
   "Tapi aku melihat tatapannya, tatapannya menandakan bahwa ia bersi keras untuk mengikuti audisi ini. Aku harus mencarinya." Ucapnya sambil bangkit dari kursi. Namun Melody menarik lengan Dhike.
   "Sudah terlambat, Key. Pembukaan sudah berlangsung saat ini. Apa kamu mau gugur juga?" 


Melihat percakapan yang dilakukan Melody dengan Dhike membuat Ve mangambil tindakan. Ia menelepon seorang pengawas/bodyguard nya untuk segera mencari lokasi keberadaan Ayu.
   "Kamu tunggu saja disini, Key. Aku akan menyuruh beberapa pengawas untuk mencari keberadaan Ayu. Boleh aku minta beberapa Foto Ayu dan juga nomor ponselnya? Aku akan mengirimkannya pada pengawas dan akan segera dilacak."

Secepat kilat Dhike segera memberikan beberapa Foto Dan nomor ponselnya kepada Ve. "Aku minta bantuanmu, Ve."
Ve menggangguk dan segera menghubungi pengawas miliknya.

Tiga baris dari tempat Melody dan kawan kawan nya duduk terlihat Sendy yang mengenakan kacamata hitam dari belakang. Ia mengamati gerak gerik Dhike dan juga kawan kawan nya. Ia pun mendengar percakapan mereka saat itu.

Sial! Apa yang harus aku lakukan? Jika mereka sampai tau keberadaan Ayu, Maka mereka akan berprasangka buruk terhadap diriku. Aku harus melakukan sesuatu.

Sendy bergegas bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar seminar. Ia sempat dihadang oleh panitia yang berjaga di pintu.

   "Mohon Maaf, Dalam pembukaan Audisi berlangsung peserta dilarang keluar masuk ruang seminar begitu saja."
   "Aku ingin ke toilet sebentar, jika kalian tidak percaya kalian boleh mengikutiku."

Kemudian Panitia memberi isyarat pada rekannya agar segera mengikuti Sendy menuju Toilet. Sendy pun berhasil dipersilahkan keluar dengan catatan ia harus ditemani oleh pria pengawas gedung yang berjaga. Gerak gerik Sendy sungguh aman dan tentram, sebisa mungkin ia bersikap tenang. 

Sendy sudah berada didepan pintu kamar toilet. Kemudian ia mulai membuka pintu dan segera masuk kedalam. Namun lagi lagi pengawas tersebut mengikutinya hingga kedalam. Sendy berpura pura jengkel dan berekpresi marah seperti layaknya seorang wanita perawan.

   "Ini kamar toilet wanita, apa anda juga akan masuk kedalam nya? Apa yang bisa dilakukan wanita sepertiku didalam sana?"
Pengawas tersebut hanya tersenyum dan berusaha memakluminya dan menunggunya dari balik pintu.

Secepat mungkin Sendy mengeluarkan Notebook nya dari dalam Tas miliknya. Ia membuka suatu program yang dirancang oleh dirinya sendiri. Program tersebut berisi nomor nomor IP hampir seluruh perusahaan bergengsi dan mampu membobol atau menyusup masuk kedalam data server sebuah jaringan.

Baiklah, yang dilakukan pertama kali yaitu dengan menduplikat kartu SIM milik Ayu. Aku hanya tinggal mengetahui data pribadi user yang dimiliki oleh Ayu. Ia menggunakan Jaringan Telk*msel, aku hanya tinggal mencari IP operator tersebut lalu menyusupnya kedalam data server. 

Ketemu! Aku akan mulai menyalin data operator user yang dimiliki Ayu dan menimpanya kedalam kartu SIM ku, seolah olah kartu SIM milikku akan menjadi bayangan SIM milik Ayu dan sebaliknya, kartu SIM milik Ayu akan menjadi milik ku. Maka jika ada yang mencarinya lewat GPS atau alamat IP, mereka akan mendapatkan Lokasi dan alamat tempat ku berada saat ini, karena kartu ku kini menjadi kartu bayangan milik Ayu. Aku juga akan mem blok SIM CARD ku untuk sementara waktu. Ini untuk menghindari Crash antara kedua SIM. Walau Aku sudah menyalin nya sama percis seperti milik Ayu, Namun itu hanya sebuah Duplikat bayangan untuk mengecoh lokasi yang mencarinya lewat GPS atau alamat IP.

Selesai ... Aku harap Ayu tidak sadar sampai aku mengembalikan data user ke posisi semula. Karena jika ia bangun ia tidak akan bisa menggunakan ponselnya sebab aku sudah membloknya untuk sementara waktu.

Sendy kembali menaruh Notebook nya kedalam tas, ia juga tidak lupa untuk membuka air keran seolah olah memang benar kalau dia habis selesai buang air kecil. Sendy membuka pintu dan kembali berjalan menuju ruang seminar dengan pengawas yang masih mengikutinya dibelakang.

Sesampainya diruang seminar, Sendy kembali duduk sambil mengamati sekelompok Kawan kawan Melody yang ada dihadapannya. Kemudian Ponsel Ve berbunyi, pesan tersebut datang dari pengawas milik Ve sendiri dan melaporkan keberadaan Ayu.

   "Hey, lihat sini. Benar kan kalau sebenarnya Ayu ada di ruang seminar. Ruangan ini terbagi atas tiga lantai dan mencapai ribuan kursi. Mungkin kita gak bisa mencarinya dengan mata telanjang karena suasana saat ini sungguh padat. Jadi, apa kamu sudah merasa baikan, Dhike?"

Mendengarnya Dhike tersenyum dan manggut manggut senang. "Makasih ya, Ve."
Ve hanya tersenyum membalasnya.

Sendy yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum nista. Kemudian ia mengambil ponsel miliknya dan menonaktifkan GPS nya. 



Lima Jam kemudian, Pembukaan Audisi sudah berakhir. Tiap tiap peserta kini memiliki sebuah nomor kamar asrama yang akan ditempati oleh tiap tiap peserta. Ditaman sudah ada Melody dan kawan kawan yang memperbincangkan nomor asrama masing masing.

   "Kenapa kamar kita semua harus terpisah? Kalian kan tau sendiri aku sungguh pendiam pada orang orang baru  atau yang belum aku kenal." Keluh Ve memanyunkan Bibirnya.
   "Ini kan hanya sementara, Ve. Kita masih bisa berkumpul kayak gini kalo ada waktu istirahat." Jawab Melody yang berusaha menenangkan Ve.
Stella berpendapat. "Ditiap kamar terdiri atas lima orang peserta. Bukankah ini sungguh konyol?" 
   "Maksud kamu?" Tanya Melody keheranan.
   "Maksud ku ini sungguh mengagumkan! Aku kira jumlah satu kamar bisa mencapai sepuluh atau lima belas peserta saja dan juga kita akan berdesak desakan nanti."
   "Wajar, ini sih bisa dikatakan Gedung berbintang Lima." Jawab Melody dengan kagumnya.
   "Tapi tetap saja gak sebanding dengan biaya yang kita keluarkan saat pendaftaran."
   "Entahkan, yang tahu dan mengatur itu semua hanya orang orang dalam. Beruntung kita sudah mendapat fasilitas seperti ini, bukan begitu?"

Lagi lagi Melody menoleh ke arah Dhike. Ia begitu pendiam dan sering melamun saat saat ini, itu pasti karena ia sedang memikir kan Ayu.

   "Key, apa kamu lapar?" Tanyanya berusaha membuat Dhike membuka mulut.
   "Aku gak lapar, kok. Apa kalian lapar?" Balik Dhike bertanya. 
   "Aku lapar! Ayo kita makan siang dulu." Keluh Stella.

Disaat mereka ingin bergegas menuju restoran, Mereka diberhentikan oleh seorang pria yang berlari dari kejauhan dan memanggil manggil nama Ve.

   "Ve! Ve! Ini aku, Yuda!." Teriaknya dengan senyum lebarnya. Ditangan kanan Yuda sudah ada plastik berisi makanan yang akan diberikan pada Ve dan kawan kawannya.

Semua balik menoleh ke arah Yuda. Semua menyambut teman satu kelasnya dengan senyum, kecuali Ve sendiri yang wajah nya menunjukkan kejengkelannya. Bagaimana tidak jengkel, Ve sering sekali dikejutkan dengan tingkah nya yang menurutnya sungguh mengganggu. Ve tahu betul kalau Yuda sering mengejar ngejarnya.

   "Yuda, kamu datang juga kesini? dengan siapa?" Tanya Melody.
   "Aku datang seorang diri dan aku akan menyemangati kalian dalam Audisi ini, Terutama Ve ku."
   "So, Sweeet ..." Ledek Melody.
Ve jengkel. "Ve ku? Apa maksud kamu? Jangan pernah panggil namaku seperti itu. Aku gak suka, tau."
Lagi lagi Melody menggoda Ve. "Ehem, Ehem... Cie cie. Kamu gak boleh begitu, Ve. Niat Yuda kan sungguh baik, Jadi kamu harus membalasnya juga."
   "Ish kamu apa apaan sih, Mel?"

Semua tertawa mendengarnya, bahkan Dhike yang semula pendiam kini ia kembali tersenyum melihat suasana saat itu.

   "Oya, kalian mau kemana? Jangan bilang bahwa kalian ingin makan siang di kawasan gedung mewah ini? Jangan sampai, deh. Harga makanan disini sungguh mahal. Namun kalian gak usah khawatir, karena aku sudah membelikan makanan untuk kalian. Ayo semua kumpul kita makan siang bareng!." Seru Yuda.
   "Ternyata kamu ada untungnya juga." Ucap Ve dari balik wajah jengkelnya itu.

Semua kembali menuju kursi taman, di tengah rumput yang tebal dan bersih mereka berkumpul. Makanan demi makanan mulai disajikan, seperti suasana piknik. Semuanya terlihat bahagia, rasa gugup serta khawatir hilang begitu saja. Kebersamaan lah yang membuat mereka kuat.




Writer : Chikafusa Chikanatsu
Terima Kasih Yang Masih Setia Mengikuti Kisah Novel Ini.
Ayo Dukung terus Novel ini dengan MemFollow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com

0 comments:

Poskan Komentar