Senin, 13 Mei 2013

...PELANGI DALAM SAKURA... *1st Chapter*


Tuhan, Keluarga, dan Teman, 3 hal penting yang bisa membuat kehidupan seseorang lebih hidup. 3 hal itu bagaikan bunga Sakura yang mekar, menemani dalam keindahan kala kita merasakan bahagia. Bagaikan pelangi yang muncul setelah hujan, ketika hati kita merasakan kesedihan, ia hadir dalam warnanya yang memberi kebahagiaan.

Jika salah satu dari ke 3 nya ada yang hilang, maka sebagian dari apa yang di jalani akan terasa berbeda.

Kehilangan Tuhan dalam hati dan jalan hidup, Kehilangan pelukan dan nasehat dari keluarga dalam perjalanan hidup, dan kehilangan genggaman lembut dari seorang teman saat berbagi tawa dan sedih dalam mengejar mimpi di kehidupan, akan membuat perjalanan kehidupan kita bagai berjalan di musim semi tanpa bermekarannya Sakura. Melewati guyuran hujan tanpa adanya pelangi yang bisa kita lihat setelahnya.

Menjalani kehidupan tanpa rasa, tanpa asa, dan tanpa mimpi... itulah kehidupan ketika kita kehilangan Tuhan, Keluarga dan Sahabat! tidak ada lagi Pelangi dalam Sakura...


Namanya Shania Junianatha, saat ini dia baru berusia 15th. Kehidupannya bisa dibilang sempurna, dalam kehangatan keluarga di sebuah hunian yang sederhana, ia dan kedua orang tuanya beserta kakak satu-satunya menjalani setiap jalan yang di berikan oleh Tuhan dalam kehidupannya. Jatuh bangun selalu bisa keluarga kecil yang harmonis itu lewati.

“Maaaah, Kak Ve jahil tuh! Masa makan siang Shania di duluin sih..” Dengan nada manja Shania mengadu,
“kalo kakak sama adek boleh kayak gitu, tapi kalo adek ke kakak, gak boleh kayak gitu.. heheheeee
:p” jawab Veranda yang lebih akrab dan lebih suka di panggil Ve. Shania memanyunkan bibirnya pada kakak nya itu.

“Kak Veranda… jangan gitu dong sama adiknya!” ucap mama mencoba menengahi
“tuh denger apa kata mama, kak V..E..RANDA!! Hahahaa..”
ledek Shania, karena Ve memang tidak suka jika di panggil dengan begitu lengkap, kalaupun mau, biasanya teman-teman dia, suka memanggilnya Jessica atau cukup dengan Ve saja.

Kedua adik-kakak itu sangat terlihat harmonis dan juga akrab, meski kadang suka ada selingan bercanda, seperti yang di lakukan Ve pada Shania.


Jogja tempat kelahirannya, selain memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, ia pun memiliki sahabat, mereka berteman sudah dari kecil. Beby Chaesara Anadila nama sahabatnya, mereka tinggal dalam satu komplek dengan letak rumahnya yang bersebrangan. Keduanya terlihat sangat akrab, kompak, saling menjaga dan menyayangi satu-sama lain, untuk Shania 'keluarga Beby adalah keluarganya juga' dan untuk Beby 'keluara Shania adalah keluarganya juga', dia juga punya panggilan yang hanya Beby yang memanggilnya dengan nama itu… Shanju panggilannya.

Shania itu... periang, supel, baik, tidak pilih-pilih teman, cepat akrab dengan orang yang baru ia kenal. Beda dengan Beby yang sedikit pemalu dan selalu kesulitan untuk memulai percakapan jika dengan orang yang baru ia kenal. Seperti waktu mereka pertama kali bertemu dan berkenalan.


*Ting-Tong*
“selamat siang...”
seorang ibu beserta anak perempuannya yang bersembunyi di belakang tubuhnya, berdiri di depan pintu rumah.

“ya, tunggu sebentar...”
terdengar sahutan dari dalam rumah yang bernuansa khas Jogja dengan sentuhan minimalis di beberapa titik itu.

“Shania datanggggg...”

*cklek* saat pintu rumah terbuka, si ibu yang ada di luar terheran karena tadi ia mendengar sahutan itu suara dari perempuan dewasa, tapi yang keluar malah anak kecil.

“siang tante, mau cari siapa?”
tanya Shania pada ibu itu, si ibu tersenyum hangat lalu berjongkok
“pintar sekali kamu nak, nama kamu siapa? mama kamu ada sayang?” lalu ia bertanya

“nama aku Shania, tante temannya mama ya? mama ada tante.. lagi masak di dapur” jawabnya dengan sedikit menjelaskan
“tante mau bantuin mama masak ya? Ya udah ayo masuk tante, mama lagi kerepotan soalnya, kalo tante bantuin mama, makan siangnya pasti cepat selesa,-“

“Shaaaania... itu gak sopan sayang, ada tamu itu harusnya di persilahkan masuk, bukan malah di ajak ngobrol di depan pintu!” mama Shania datang dari belakang

“eh, mama.. mama kok kesini sih, kan lagi masak mah? Entar masakanya gosong loh!” ujar Shania pada mama nya, mama dan ibu yang sedang berdiri tersenyum dengan tingkah Shania.

“hus, kamu itu.. mama di belakang cuma masak air, gak mungkin gosong lah!” jawab mama sambil melihat si ibu yang usianya sepertinya sama dengannya.

“huh? Masak air? Shania gak makan si,-”
“aduhh, bawel.. itu tamunya kasian dari tadi berdiri terus!”
Shania diam dalam bekapan lembut mamanya, keduanya memang terlihat sangat akrab.
“ayo jeng silahkan masuk, maklum anak-anak!” kata mama Shania

“gak apa-apa jeng, namanya juga anak-anak, saya senang melihatnya, anak jeng begitu aktif, sudah begitu, pintar.. lagi”
puji si ibu “oh ya, jadi lupa.. nama saya Ana, saya warga baru di komplek ini jeng.. saya beserta keluarga tinggal di rumah seberang, saya bermaksud untuk mengunjungi tetangga, biar lebih akrab jeng!"
jelasnya pada mama Shania berpanjang lebar

“ohh, jadi jeng warga baru, pantes... saya belum pernah lihat jeng”

sementara kedua ibu itu saling mengenalkan diri, Shania malah sedang asik sendiri mengamati Beby yang masih ngumpet di belakang tubuh ibunya, dan Beby hanya bisa mencuri-curi pandang pada Shania dengan wajah malu-malu.

“ehh.. tante, tante... itu... itu anak tante ya?”
tunjuk Shania, Ibunya Beby melihat anaknya, lalu tersenyum
“iya, itu anak tante sayang.. namanya Beby, dia sangat pemalu..”
“emm… Hai Beby, nama aku Shania... Beby, mau main gak sama Shania? Mau yah!” tanpa banyak pertanyaan, Shania segera memperkenalkan dirinya dan sok akrab dengan Beby, lalu meraih tangan Beby dan membawanya masuk ke dalam rumah (emang dasarnya dia akraban dari kecil), ibunya Beby dan mamanya Shania tersenyum melihat kedua anak itu. Yang satu begitu aktif dan satunya terlihat sangat pemalu.


Dari sanalah Shania kecil dan Beby kecil mulai jalinan pertemanan yang lambat-laun tumbuh menjadi persahabatan. Keduanya selalu bersama menghabiskan waktu, bermain sehabis pulang sekolah, menonton kartun favorit bersama. sungguh, masa kecil yang penuh dengan keceriaan di tengah keluarga yang bahagia. mereka menghabiskan waktunya dalam selimut persahabatan.



“haah- Beby, lari kamu cepet banget sih... capek tahu ngejarnya!” keluh Shania, kini mereka sedang berdiri di sebuah jembatan yang menghubungkan kelurahan komplek tempat tinggal mereka dengan kelurahan satunya, yang terpisah oleh anak sungai.

Shania dan Beby baru pulang sekolah, tepatnya mereka baru pulang dari sekolah setelah mencurat-coret pakaian mereka dengan pilok karena hari ini hari kelulusan mereka dari Sekolah Dasar.

“ah, dasar kamunya aja yang malas! Baru juga lari segitu udah kecapek an, gimana kalo ngejar aku yang bakal lari ke Jepang!! :)”
dengan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya Beby bicara

“Huh? Lari… ke Jepang? JEPANG woy bukan Jepara! Gimana bisa, ke jepang lari! Delusi sih Delusi~ tapi gak segitu nya juga kali!! –a” sahut Shania

“ya! Makanya pinteran dikit nangkep makna kalo orang bicara, Lari kan gak selalu berarti lari telanjang kaki, Shanjuuu!”

“iya, iya- tahu deh yang pinter mah! Lagian kan jawabanku cuma becanda, biar gak garing aja
!! Shania berkilah, Beby hanya tersenyum.

Di sekolah, Beby memang di kenal pintar dalam hal akademi, sementara Shania tidak terlalu (bukan berarti tidak pintar loh!). Sahabat ada untuk saling melengkapi dalam kekurangan, hingga adanya kata sempurna. Beby meski pintar dalam masalah yang menyangkut belajar dan pelajaran, sifat bawaan dari dia kecil tidak pernah hilang, dia tetaplah Beby yang pemalu dan susah untuk membuka pergaulannya. Dan Shania, dalam hal akademis memang di bawah Beby, tapi dalam hal sifat untuk membangun chemistry dengan orang lain dalam social… dialah Masternya. Selama ini dia yang selalu mengajak Beby untuk kenal dengan si A, K, B atau lainnya si J, K, T dan teman-teman-teman-teman- lainnya.

“suatu hari nanti, aku akan bawa lari kamu ke Jepang! Kita akan lihat Pohon Sakura yang sedang bermekaran secara langsung, terus kita abadikan moment disana biar nanti anak-cucu kita tahu tentang kisah persahabatan kita, kalo perlu kita pahat di pohon itu… tulisan favorit kita,-”

“Pelangi Dalam Sakura”
“Pelangi Dalam Sakura”
Keduanya mengucapkan kalimat itu secara bersamaan, lalu tertawa bareng.

“Hahahaaa- ya, ya,-- suatu hari... Suatu hari nanti... itu pasti datang! Iya kan?”
“emp!” Beby mengangguk pasti sambil tersenyum,
mereka berdua bertatapan dalam tawa renyah memimpikan negara sakura, lalu melihat lagi kearah anak sungai dari atas jembatan yang sedang mereka pijaki.

Dari semenjak akrab dan saling berbagi cerita, mereka ternyata memiliki satu kesamaan, yaitu Pelangi dan bunga Sakura. Dengan masing-masing alasan yang keduanya ungkapkan tentang kenapa mereka suka dengan Pelangi dan Sakura yang jika di pikir-pikir sepertinya tidak ada kaitannya.

Bahkan mereka mempunyai satu kalimat favorit yaitu 'Pelangi Dalam Sakura' yang artinya mereka akan saling melengkapi dalam mengarungi sungai kehidupan untuk mencapai impian. Kegagalan, keberhasilan, kesedihan, keceriaan, masalah, dan kebahagiaan. mereka akan terus saling berbagi dalam genggaman tangan.
pelangi itu lambang keceriaan ketika mereka merasakan kesedihan, dan sakura itu lambang kebahagiaan ketika mereka berhasil mencapai titik yang di tuju. Kedua hal itu seperti malam dan siang untuk Shania dan Beby, mereka mungkin memang masih kecil, tapi itulah... hasil pemikiran dari mereka yang masih polos dan hanya bisa melihat masalah dari orang-orang di sekitar mereka yang mereka lalui.

Mengambil pelajaran dari masalah orang lain bukan sesuatu yang salah kan?


“Hey! Gimana kalo kita balap lari sampe ke rumah.. yang sampai duluan bakal dapet D,-”
belum Shania menyelesaikan ucapannya, Beby sudah berlari lebih dulu “BEBYYyyy! itu curang namanya, aku belum selesai sama hadiahnya!!” teriak Shania sambil menunjuk Beby

“kan kamu yang belum selesai, aku sih udah! Yang sampai duluan bakal dapet DVD Sakura No Ushiro Ni Reinbo buat di tonton lebih dulu, iya kan? kalo gitu aku Deal, i got it!! Hahahaa~” Beby terus berlari di depan Shania “makanya jangan kebanyakan bicara, jadi ketinggalan kan!!”

“Argh! Beby nyebelinnnnn...--” teriak Shania yang mulai meningkatkan speed larinya untuk mengejar Beby.




***
“Shania, bangun!”
“hem~”
“mau sampe jam berapa tidurnya? Bukalah mata kamu, dek! Lihat tuh keluar, matahari udah mulai naik!!”
“iyaaa ahhh-- bawel nih kakak!”
sambil menggaruk rambutnya, lalu menyembunyikan kembali wajahnya dalam guling Shania menjawab Ve.

“ya udah, kalo gitu… selamat mendapat hukuman di hari pertama ospek kamu... tukang tidur!”
Ve berbisik pada adiknya itu, sampai Shania membuka matanya dengan kekagetan saat mendengar kata hukuman dan ospek

“HAH! ini hari senin, Shania ospek!”
ucapnya sambil terbangun dan tergesa keluar dari selimutnya
“kenapa kakak baru bangunin sih! Shania jadi telat nih!!”
dengan posisi tangannya mengubek ini-itu untuk mencari handuk, matanya terbelalak ketika handuk sudah di dapat tapi melihat jam dinding '06.20' “Aaaa--- kak Veeeeee, Shania telat abis nih...”

“makanya, jangan KEBO jadi anak! Alarm kamu aja kedengeran sampai di meja makan, masa kamu yang di sebelahnya gak bisa denger!!”

“malah ceramah lagi! Awas ahh, Shania mau gosok gigi sama cuci muka!!”

“eh? Mandi sekalian!”
Ve setengah berteriak, karena Shania sudah berlari keluar kamar

“nggak ahh, entar di sekolah juga bakal keringetan lagi... di bantai ama senior!!”
sahutnya lalu *jleek* menutup pintu kamar mandi yang mengeluarkan suara keras, Ve hanya bias menggelengkan kepalanya.

Orang tua Ve dan Shania sudah berangkat kerja dari jam 6 tadi, semula hanya papa yang bekerja tapi 2bulan sebelumnya, mama meminta ijin pada papa agar di perbolehkan kerja dengan alasan bosan di rumah karena anak-anak mereka sudah besar dan mama.. tidak tahu harus melakukan apa ketika ada di rumah, tadinya ada mamanya Beby yang menemani kegiatan mama Shania. Seperti kedua anaknya, ibu mereka pun menjalin hubungan pertemanan yang cukup akrab. Namun, sudah 6bulan sebelum Beby lulus dari Sekolah Dasar, mama nya mendapat pekerjaan di sebuah rumah sakit sebagai perawat, karena memang basic nya mama Beby itu lulusan sekolah keperawatan.
Jadi... mama Shania pun memutuskan untuk meminta ijin mencari pekerjaan, alhasil ia dapat kerja dengan posisi sebagai assisten Marketing di sebuah perusahaan Garment yang sedang merintis.

Awalnya papa tidak menyetujui keinginan mama, mama mengeluarkan semua alibinya untuk meyakinkan papa kalau mama perlu kerja selain untuk mengusir rasa jenuhnya itu juga untuk tabungan pendidikan kedua puterinya. Mama terus menekan, dan ia seperti mendapat angin segar karena mendapat dukungan dari Shania dan juga Ve, yang merasa kasihan pada mama nya yang jika mereka pulang mama sedang tertidur di sofa ruang keluarga atau terlihat begitu bosan untuk melakukan sesuatu. Akhirnya papa kalah, 2 suara lawan 1, Papa pun mengijinkan dengan syarat mama tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu untuk Shania dan Ve, juga sebagai istri untuknya, selain itu mama tidak boleh terlalu overwork, Kalau sudah mendapat pekerjaan, papa takut jika mama jatuh sakit nantinya.



‘Selamat pagi untuk semua calon siswa-siswi SMP N 48 Jogja......’
suara dari kepala sekolah mulai membuka acara Ospek di tahun pelajaran baru.

Shania terlihat tengah berlari dari arah luar gerbang Sekolah, dengan nafas yang terus dia pakai untuk mendorongnya berlari kencang, lari- lari- lari- dan terus berlari untuk segera memijakan kakinya di sekolah, namun sial... untuknya, meski speed berlarinya tidak terlalu cepat, tetapi karena ia tergesa-gesa dan hanya fokus pada sekolah yang tinggal beberapa meter lagi di depan mata, akhirnya membuat kakinya saling bertubrukan dan.... *gedebrukk* Shania jatuh dengan posisi tengkurep, lututnya mendarat lebih dulu mencium aspal berwarna abu dengan kerikil halus tapi bisa membuat lutut Shania berlukiskan goresan merah.

“Aaawww, hssss--” ia meringis setelah tubuhnya mendarat
“Sssiallll-- hari pertama ospek, telat, jatuh lagi!! Aduhh...”
Shania tidak langsung berdiri setelah pose jatuhnya, ia terduduk diatas aspal itu sambil menggerutu akan kesialannya, dan memperhatikan luka gores di lututnya.
“kerjaan kak Ve nih, bukannya bangunin! Kalo susah pake suara dari mulut, pake toa mesjid ke!! Hss--” ..... “ini malah, berhasil bangunin pas udah telat! Emang kurang banget tuh punya kakak satu!!” … “mana ni lutut sakit lagi!!”

“hmm-- malah nyalahin kakaknya, bukannya introspeksi!!”
Shania mendongakan kepalanya melihat orang yang bicara
“Ayo bangun, mau sampai kapan duduk disana!?”
ia menyipitkan matanya untuk mengenali si empunya suara yang berdiri di depannya
“Hoooy! Mau bangun gak? Atau aku tinggalin masuk duluan ke sekolah!”

“Beby...”
Shania menyebutkan nama yang punya suara, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri

“iyalah, ini aku Beby! Cepetan bangun!!”
Beby mengulurkan tangannya untuk membantu Shania berdiri.

“Ha!
Bebyyyyyyy, thanks God!! Kenapa kamu masih di luar!? Telat ya? :D” Shania terlihat senang, ia menyambut tangan Beby dan berdiri “aduhhh, anak pintar ternyata bisa telat juga ya?! Hahaa, bagus Beb, kita emang Soulmate! Aku telat kamu ikutan telat!! hahahaaa-- cocok deh!”

“iya, aku telat.. tahu gak kenapa telatnya? Itu karena aku nungguin kamu!” balas Beby, mereka saling berdiri berhadapan

“Eh? Kok nyalahin aku sih, udah... sama-sama telat mah jangan suka nyari alasan! :p” seru Shania

“mm… ya sudahlah, yuk masuk! kita sudah sangat terlambat di hari pertama ini!”
ucap Beby mengajak Shania, dan Shania pun membalas ajakan Beby dengan anggukan.
“emm,, emang bener ya? Kamu telat karena nungguin aku dulu? Di depan gerbang gitu? Sendirian? Beby soooo sweet… ”

Keduanya mulai berjalan menuju sekolah, dalam perjalanan mereka berbincang ria sambil bercanda padahal sudah telat untuk mengikuti ospek. Selain itu mereka juga bicara, kalau nanti kena hukuman dari senior, apalagi hukuman yang aneh-aneh. Jangan sampai hukuman itu berbuntut panjang hingga menjadi cerita nostalgila di waktu ospek, lalu salah satu dari mereka bercerita pada orang lain yang akhirnya akan membuat mereka malu.



Seperti yang mereka bicarakan tentang hukuman keterlambatan, mereka memang berhasil masuk kedalam sekolah dan ikut berbaur dalam barisan paling belakang calon murid, ketika kepala sekolah sedang memberi sedikit sambutan sebelum akhirnya meresmikan acara ospeknya. Namun, setelah acara pembukaan selesai... bukannya di suruh masuk untuk mengikuti kegiatan selanjutnya, mereka berdua malah di panggil senior yang adalah panitia Ospek di SMP saat itu. Keduanya diberi hukuman untuk bernyanyi dan menari gokil di depan seniornya, setelah selesai mereka dipaksa jalan bebek menuju ruangan untuk mengikuti ospek.

“Beb, ni senior asem juga ya! Liat aja ntar kalo aku udah resmi jadi murid disini-,”
“emang kamu mau ngapain sama kakak senior itu?”
“aku kerjain balik lah! Belum tahu dia siapa Shania, hehe-”
“ck, kayak yang berani aja!!”
“eits, jangan salah... yang bicara ini Shanjuuu, aku pasti berani lah!!”

“Heh! Kalian berdua, jalan yang benar, malah bisik-bisik lagi! Mau hukumannya di tambah? Mau kalian dari jalan jongkok jadi jalan tengkurep buat balik ke kelas!!”
si senior terdengar tegas. Shania dan Beby yang tadi bisik-bisik seketika terdiam dan menggelengkan kepalanya karena tidak ingin hukuman mereka di tambah oleh senior-seniornya.


...Belum Selesai...

aku tunggu responnya ya
Arigatou ne...

0 comments:

Poskan Komentar