Minggu, 26 Mei 2013

Nabilah, Mau Kemana?



Beberapa menit lagi bus yang aku tumpangi dengan keberangkatan ke Yogyakarta akan berangkat, dan aku menunggu keberangkatan dengan earphone di telingaku dan handphone untuk memutar lagu. Tidak beberapa lama bus yang aku naikipun berangkat dan akupun mulai terlelap sesaat setelahnya. Tak terasa sekitar 4 jam berlalu karena aku yang tidur terlalu lelap mungkin, akupun sampai di terminal Giwangan Yogyakarta untuk selanjutnya mencari penginapan yang dekat dengan lokasi tempat tes berlangsung. Karna di Jogja, aku bukan untuk bermain-main atau untuk sekedar liburan, aku mengikuti tes seleksi untuk masuk perguruan tinnggi.
Setelah mencari  beberapa lama bahakan sampai berputar-putar di kota yang cukup besar itu, aku tidak menemukan penginapan yang pas untukku bermalam. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke lokasi ujian dan coba untuk meminta izin bermalam. Untuk sampai ke lokasi ujian aku menaiki angkutan umum yang ada di sana yaitu Trans Jogja yang hampir mirip dengan Trans yang ada di Jakarta. Sambil menunggu kedatangan bus, aku mulai memainkan musik player yang ada di handphoneku. Saat itu juga tak kusangka seorang gadis cantik dengan bawaan yang cukup banyak duduk disebelahku yang sepertinya dia juga sedang menunggu bus. Hatikupun mulai bergejolak, ingin rasanya aku bisa berkenalan dengannya. Tapi aku urungkan niatku itu karna memang aku tak punya cukup keberanian untuk berkenalan dengannya.
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, bus yang akan kunaikipun datang. Langsung saja aku bergegas masuk agar bisa mendapat tempat duduk yang nyaman. Lagi-lagi entah kebutalan atau apa, gadis cantik tadi rupanya searah denganku dan diapun duduk disampingku untuk kedua kalinya. “ini mimpi atau apa ya, ngga nyangka bisa 2 kali duduk sebelahan sama cewe, cantik lagi” bisikku dalam hati. Dan untuk kali ini aku cuba untuk kalahin rasa malu dan takutku untuk caba bisa kenalan sama cewe itu. Mengapa perasaanku jadi berat begini sesaat aku akan mengucapkan sepatah kata kepadanya. Dan lagi-lagi aku urungkan niatku itu karna memang aku ini tipe orang yang pemalu, apalagi kalo didepan cewe.
Sambil menunggu pemberhentian berikutnya gadis tadi justru memulai pembicaraan terlebih dulu dia bertanya
            “Mas mas, boleh nanya?” kata wanita itu sambil melihat ke arahku.
            “Eh.. iya iya boleh, mau nanya apa ya?” dengan agak terkejut aku menjawap pertanyaanya. Rupanya pertanyaan gadis itu memecahkan lamunanku tentang dirinya.
            “Ini mas, ini bus berhenti di terminal condong caturkan?” lanjut pertanyaanya.
            “Oh.. condong catur, iya berhenti disana kok nanti. Kebetulan aku juga mau kesana tuh..” aku menjawab pertanyaanya. Walaupun aku tidak terlalu sering ke Jogja, tapi aku tau beberapa tempat, berbekal pengalaman muter-muter nyari penginepan tadi. Dan meskipun sebenarnya aku seharusnya berhenti di halte sebelum terminal itu, tapi ngga papalah buat modus lumayankan bisa kenalan sama cewe, pikirku.
            “Oh.. gitu ya, makasih..” jawabnya singkat disertai dengan senyuman manis. Dengan dia tersenyum seperti itu saja membuatku serasa melayang diudara menembus langgit ketujuh tempatnya para dewa-dewa pada kumpul, ngga segitunya juga kali haha... setelah jawaban terakhirnya tadi, seolah membuatku pupus harapan untuk bisa sekedar berkenalan dengannya. Karna setelah itu aku tak punya kata-kata lagi untukku katakan padanya.
Sesampainya di terminal condong catur, gadis itu bergegas turun begitupun dengan aku. Gadis itu sepertinya sedang menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Dan kali ini aku coba beranikan diri untuk memulai pembicaraan lebih dulu, karena jika aku biarkan akan tetap sama, aku tak akan bisa kenal dengan gadis itu.
            “Eh.. kalo boleh tau kamu lagi nunggin siapa? Jemputan?” tanyaku sedikit ragu dan gugup.
            “Iya, aku lagi nunggu jemputan.” jawabnya singkat.
            “Emang ada acara apa ke Jogja?” tanyaku lagi.
            “Ya ngga papakan, cuma main aja kesini, disini aku ke rumah saudaraku.” Terangnya.
Jawaban terakhirnya membuatku sedikit putus asa, karena aku mulai speachless dan bingung akan bertanya apa lagi padanya. Kemudian ketika aku bingung mau basa-basi apa lagi, dia mulai bertanya padaku,
            “Kalo kamu ngapain ke Jogja? Aku tau kamu juga bukan orang sinikan?” tanya dia padaku.
            “Tau aja kalo aku bukan orang Jogja, aku kesini mau ikut seleksi perguruan tinggi, nah tesnya disini.”
            “Oh gitu, yaudah semoga bisa diterima ya.”
            “Iya makasih ya.”
            “Yaudah aku duluan ya, aku udah dijemput tuh, makasih ya udah mau nemenin..”
            “Santai kali, yaudah sanah entar jemputanmu nunggu kelamaan lagi..”
Gadis itupun akhirnya pergi, dan akupun harus melanjutkan perjalanan ke lokasi ujian berlangsung untuk sekedar menginap dan beristirahat. Aku memutuskan untuk menggunakan taxi untuk kesana. Di dalam taxi aku baru ingat, “aduh.. aku lupa nanya siapa namanya, ah emang sial.” Kataku sedikit kecewa. Sesampai di lokasi, hal yang pertama aku lakukan adalah mencari Masjid untukku beribadah dan berencana untuk bermalam di dalam Masjid, dan rupanya ngga sedikit orang yang memutuskan untuk bermalam di masjid itu juga.
Malam telah berlalu dengan aku yang ngga bisa tidur gara-gara kepikiran sama gadis di terminal kemarin. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 itu berarti aku sebentar lagi akan melaksanakan ujian. Pada pukul 11.00 ujian ku telah berakhir, setelah ujian itu yang ada dipikiranku cuma jalan-jalan ke Malioboro, mumpung lagi di Jogja. Setelah sampai, aku turun dari bus kota dan langsung mencari beberapa barang yang aku inginkan. Setelah dapet beberapa, tiba-tiba aku liat gadis itu lagi.
            “Kayak ngga asing sama tu cewek..” Kataku penasaran. Lalu aku mendekat, dan rupanya memang benar, dia adalah gadis yang kemarin di terminal. Langsung aja aku sapa.
            “Hai.. inget aku ngga?” tanyaku mencoba untuk akrab.
            “Kamu yang di terminal kemarinkan?” tanyanya sekaligus menjawab pertanyaanku.
            “Haha.. iya, masih inget juga, eh kamu mau kemana?” sambungku lagi, walaupun masih sedikit canggung tapi aku coba untuk keliatan santai.
            “Mau jalan-jalan aja kesini, tadinya aku bareng sama saudara-saudaraku tapi aku malah misah sendiri, jadi kaya orang ilang gini..” Ia menjawab pertanyaanku, sepertinya dia sudah mulai terbiasa denganku.
            “Nyasar ya? Haha, mau aku temenin? Sambil nyari sodara kamu..” sambil sedikit menggodanya.
            “Boleh, buat yang kemarin sekali lagi makasih ya, udah mau nemenin.”
            “Iya santai kali, cuma nemenin doang aja kok, eh kita ngobrol-ngobrol gini tapi aku belum tau nama kamu, kalo boleh tau nama kamu siapa?” akhirnya aku menanyakan namanya.
            “Oh.. iya ya kita udah akrab gini, tapi belum tau nama masing-masing, aku Nabilah, kalo kamu?” menanyakan balik namaku.
            “Aku Dias, yaudah kita langsung aja cari yuk.”
Sambil berjalan dan mencari saudara Nabilah kami menjadi semakin akrab karena obrolan dan candaan-candaan di perjalanan itu. Walaupun obrolan kami lebih banyak didominasi sama Nabilah, karena emang dia orangnya yang ceerewet tapi justri itu yang malah buat aku menjadi suka sama dia. Cukup lama kami menyusuri jalan di Malioboro tapi kami tetap tidak bertemu dengan saudara-saudara Nabilah. Lelah mencari aku memutuskan untuk mengajaknya makan di sekitar emperan jalan Malioboro.
            “Eh Bil, kita makan aja dulu yuk, kamu juga belum makan siangkan dari tadi.”
            “Iya si, yaudah ayo.”
            “Kita makan deket halte itu aja ya, buat kali ini aku yang bayarin dah.”
            “Loh, kok jadi kamu yang bayarin?”
            “Ya.. ngga papakan, itung-itung buat salam perkenalan dari aku aja.”
            “Ah ngga usah la, ngga enak juga sama kamu, kamu udah baik banget sama aku.”
            “Udah ngga papa santai aja kali, jarang-jarang nih aku mau bayarin orang. Soalnya aku yang biasa di bayarin orang haha..” jawabku meyakinkan Nabilah.
Tanpa sadar sepertinya aku mulai jatuh cinta kepada gadis yang pertama kali aku temui di halte kemarin. Dengan pikiran seenaknya, aku memikirkan hal seperti itu. Ngga lama setelah kami selesai makan, Nabilah mendapat sms dari saudaranya yang katanya juga mencari Nabilah, karena ngga ketemu juga jadi mereka pikir kalau Nabilah sudah pulang duluan jadi saudara-saudaranya segera menyusulnya kerumah.
            “Trus gimana? Mau pulang sekarang?” aku bertanya padanya
            “Udah nanti aja lah, lagian aku juga udah tau kalau meraka udah sampai rumah, aku masih mau jalan-jalan di sini, temenin aku ya.”
            “Yaudah terserah kamu aja dah, aku mah ngikut aja.”
Tidak terasa makin lama, aku dan Nabilah menjadi semakin akrab dan aku bisa kenal Nabilah lebih deket, tapi waktu yang ngga ngijinin aku untuk bisa lebih lama lagi bersama Nabilah. Karena aku juga harus pulang ke kota asalku
            “Yaudah Yas, kita pulang yuk udah sore nih.”
            “Ya ayo, aku anter kamu ya, udah mau gelap gini takutnya ada apa-apa.”
            “Oke, maksih ya.”
Kami berdua pergi ke halte terdekat dan menunggu bus ke terminal condong catur.
            “Eh Yas, sekali lagi makasih ya, udah baik banget sama aku gini, aku jadi ngga enak sama kamu, padahal kita baru aja kenal, tapi kok kaya aku udah kenal kamu lama ya..” Nabilah mengatakan itu kepadaku sambil tersenyum
Aku hanya bisa tersenyum sendiri salah tingkah, sambil berbisik “senyummu itu memang sangat manis Nabilah”
            “Apa? Kamu bilang apa tadi?”
            “Hah? Aku ngga bilang apa-apa kok..” aku yang terkejut rupanya dia mendengar aku berbisik tadi. Nabilah yang merasa sangat penasaran terus saja memojokanku untuk mengatakannya lagi, dan aku hanya diam dan coba untuk mengalihkan pembicaraan. Setelah sampai di terminal aku terpaksa mengantarnya lagi sampai ke rumah saudaranya dengan berjalan kaki karena kendaraan yang dipakai saudaranya untuk menjemput Nabilah masih dipakai pamannya bekerja.
            “Masih kuat jalan ngga?”
            “Aduh, cape juga jalan-jalan seharian.”
            “Yaudah sini aku gendong, kasian anak manis kecapean ya.” Godaku.
            “Yee.. siapa yang kecapean, aku masih kuat jalan kali..”
Tiba-tiba kaki Nabilah terkilir dan terpaksa aku harus menggendongnya sampai rumah. Walaupun memang aku juga merasa sangat lelah.
            “Dias, maaf ya jadi sering ngrepotin kamu terus kaya gini.”
            “Udah ngga papa slow, kapan lagi bisa gendong cewe cantik kaya gini haha..”
            “Ohh dasar, cari-cari kesempatan juga ternyata ya, jewer nih..” kata Nabilah sambil menarik kupingku. Tak berapa lama kemudian sampailah di rumah saudara Nabilah.
            “Eh Nab, bentar lagikan aku pulang ke rumah nih, aku boleh minta no. Handphone kamu ngga? Ya buat komunikasi aja sama kamu kalo lagi kangen hehe..”
            “Oh iya boleh, nih catet.”
Setelah aku mencatat no. yang diberikan Nabilah, sambil melambaikan tangan dan mengucap salam perpisahan aku langsung bergegas ke terminal Giwangan supaya tidak terlalu larut, soalnya kalo kemaleman ngga ada kendaraan buat aku pulang ke rumah nantinya. Dan akupun pulang ke kota asalku dengan kenangan yang tak akan mungkin bisa ku lupakan begitu saja. Karena bersama dirimu saja I’m so satisfied.
            “Bisa menjadi teman dekat Nabilah adalah hal terbaik kedua dalam perjalanan pertemananku. Bertemu dengannya adalah yang pertama..”


Author : Nanda Dias

Read more: http://www.jkt48fans.com/

0 comments:

Poskan Komentar