Rabu, 29 Mei 2013

Sahabat


Di negeri sakura hidup dua sahabat yang sangat dekat. Mereka adalah Achan dan Shania. Achan adalah seorang wanita cantik yang kini tinggal di Jepang, sedangkan Shania adalah seorang wanita yang juga cantik dari Indonesia. Sudah hampir dua tahun mereka menjalin persahabatan disana. Setiap sore mereka bermain bersama di bawah pohon di taman yang dipenuhi oleh bunga sakura. Sekeliling dari mereka adalah bunga-bunga sakura yang sangat indah. Diatas mereka langit biru yang luas selalu menyelimuti, dan yang mereka injak selama ini adalah tanah Jepang yang sangat mengagumkan.

“Achan, kamu kan sudah lebih lama tinggal disini, pasti asik ya setiap hari main di taman penuh bunga seperti ini?” Tanya Shania.
“Dulu aku main disini sendirian. Tapi sekarang ada kamu, jadi ada yang nemenin aku..” jawab Achan.
“Hhehe. Iya juga yaa. Aku lupa gimana awalnya kita bisa kenal dan sahabatan kayak sekarang ini. Apa kamu masih inget?”
“Kalau nggak salah, waktu itu kamu juga main disini kan? Terus aku samperin kamu dan kita kenalan. Dan jadi sahabat sampai sekarang ini..” terang Achan.
“Wah, iya bener kamu. Aku inget sekarang. Semoga kita bisa bersahabat lebih lama lagi ya.” Kata Shania.

Achan tersenyum dan merasa sangat bahagia memiliki sahabat seperti Shania. Achan sering kesepian karena teman-temannya yang lain jarang bermain dengannya, dan kakak-kakaknya sudah besar sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Maka, Shania adalah sosok yang selalu ada disaat Achan kesepian.

“Udah sore nih, ayo kita pulang!” ajak Achan.
“Eh? Nggak mau lihat matahari terbenam dulu? Bentar lagi loh..” pinta Shania.
“Enggak Shan, besuk aja ya. Aku takut dicariin orang tuaku lagi seperti kemarin..” tolak Achan.
“Ohh, ya udah. Ayo pulang..”
Mereka berdua pulang ke rumah masing-masing. Rumah mereka berdekatan. Bila di samping kanan adalah rumah Shania, maka samping kirinya adalah rumah Achan.
“Ma, tadi Shania main sama Achan lagi di taman bunga kayak kemarin. Seru banget loh Ma, bunganya bagus-bagus..”
“Kalau begitu, Mama juga ikut seneng Shan. Ya udah, kamu mandi dulu sana terus makan malam bareng Mama.”
“Oke Ma..”
Shania lalu mengikuti perintah Mamanya itu.
“Achan, dari mana saja kamu? Kok jam segini baru pulang?” Tanya Mama Achan.
“Achan habis main di taman bunga sama Shania Ma. Seru banget tadi..”
“Oh, Shania tetangga sebelah ya?”
“Iya Ma. Achan kan dari dulu main sama dia terus. Habisnya nggak ada yang mau nemenin Achan main kayak dulu..”
“Emm. Ya udah kalau kamu main sama dia, Mama akan izinkan. Tapi inget, jangan sampai sekolah kamu dilupakan ya. Sudah, mandi sana. Terus makan malam..”
“Iya Ma..”
Achan juga mandi. Apa yang mereka lakukan hamper mirip dan bersamaan. Naluri persahabatan yang mereka jalin sangat kuat layaknya sebuah saudara.
Hari baru telah tiba. Shania dan Achan siap-siap untuk ke sekolah mereka. Mereka berangkat bersama karena sekolah yang mereka tuju juga sama.
“Pagi Chan..”
“Eh, pagi juga Shania. Mau ke sekolah ya?”
“Enggak kok Chan, mau ke taman. Hahaha. Ya jelas ke sekolah dong, orang pakai seragam gini.”
“Hehe, iya juga yah. Bodohnya aku pakai Tanya segala. Hahaha..”
“Eh Chan, aku ada  nasehat penting nih buat kamu..” ucap Shania serius.
“Hah? Apaan Shan?” Achan juga menanggapi serius.
“Kamu jangan suka molor di kelas lagi ya? Hahahaha..” ejek Shania.
“Hih! Kamu nih. Kirain apaan, ternyata cuman ngejek aku..” kata Achan kesal.
“Loh, beneran kan kamu suka molor dikelas? Temenmu ada yang bilang ke aku soalnya, jadi aku tahu..” terang Shania.
“Udah ah, nggak usah dibahas lagi. Eh, ntar sore ke taman lagi ya. Lihat sunset juga boleh kok. Aku udah izin sama Mama ku..”
“Yang bener Chan? Oke, ntar sore ya? Kamu nunggu didepan rumah aja, ntar aku dating kesana..”
“Oke Shan!”

Mereka berencana untuk pergi ke taman bunga sore hari. Namun sebelum itu, mereka harus bersekolah terlebih dahulu. Shania sangat serius dalam hal yang satu ini, sedangkan Achan justru tertidur ketika pelajaran matematika sedang berlangsung. Achan berpura-pura meletakkan buku di meja dan membacanya sambil menundukkan kepala, padahal ia tidur dengan trik itu.

(*)

Bell pulang sekolah pun akhirnya berbunyi. Semua siswa pulang ke rumahnya masing-masing, termasuk Shania dan Achan. Mereka pulang ke rumah bersama-sama, istirahat di siang hari, dan mempersiapkan diri untuk janji mereka.

Waktu yang ditunggu telah tiba. Shania menghampiri Achan ke rumahnya, dan ternyata Achan sudah ada di depan rumahnya. Mereka pun langsung berangkat ke taman bunga yang sudah menjadi tempat favorit mereka sejak lama. Di sana mereka bermain bunga sambil berfoto-foto juga. Mengobrol dan bercanda, menghabiskan waktu bersama di sore hari itu. Sambil mengobrol, mereka memandangi langit biru yang indah.

“Shan, apa kira-kira kita bisa bersahabat terus sampai kita dewasa nanti?”
“Aku belum tahu masalah itu Chan, tapi yang jelas aku menikmati yang sekarang terjadi pada kita. Untuk esok, itu masih belum pasti..”
“Ohh, aku juga menikmati persahabatan kita selama ini. Kamu selalu ada untukku saat aku sendirian, menemani aku. Waktu aku sedih, kamu hibur aku. Waktu aku senyum, kamu ikut bahagia. Waktu aku nangis, kamu yang hapus air mataku. Dan waktu aku pernah nggak dateng kesini, kamu tetep nungguin aku. Makasih Shan, kamu baik banget sama aku. Aku udah anggep kamu kayak saudara aku..” terang Achan.
“Sama-sama Chan, kamu juga baik kok sama aku..”
“Ngomong-ngomong, kamu belum pernah nggak dateng kesini ya? Maksudnya waktu aku disini, kamu juga ada, iya kan? Belum pernah ya aku dateng dan kamu nggak ada?”
“Hehe, iya Chan. Aku selalu disini. Waktu aku lagi sedih, bunga-bunga ini yang nemenin aku, begitu juga kamu. Waktu kamu disini, aku pasti ada kok..” terang Shania.
“Iya Shan. Eh, ngomong-ngomong impian kamu apa sih Shan?” Tanya Achan.
“Impianku? Aku sih pengin bisa jadi juara lomba nyanyi di Jepang ini. Itu impianku. Kalau kamu Chan?” Tanya Shania balik.
“Impianku sederhana. Aku pengin lihat musim gugur besuk bareng kamu Shan. Hehe..”
“Kalau itu pasti bisa Chan. Kan tahun kemarin kamu juga rayain musim gugur bareng aku, gimana sih kamu. Impian yang lebih besar nggak ada ya?”
“Emm. Untuk sekarang aku belum tahu Shan. Aku belum tahu bakatku dimana. Hehe.” Ucap Achan polos.
“Suatu saat nanti, kamu pasti punya mimpi kok. Karena mimpi itu, kita punya motivasi untuk menjalani hidup ini lebih baik lagi..” kata Shania.
“Iya Shan. Eh, ngomong-ngomong aku pengin medali yang kamu dapetin kalau kamu jadi juara nyanyi di sini. Janji ya, medali itu kamu berikan ke aku nanti?” pinta Achan.
“Hehe, iya Chan. Aku janji. Tapi kalau aku bisa menang ya. Kejuaraan nyanyi disini kan nggak gampang walaupun masih tingkat rendah.”
“Pokoknya aku mau itu. Hehe..”
Mereka berdua menyudahi percakapan yang hangat itu dengan sama-sama tertawa. Mereka menatap matahari terbenam yang sinarnya sangat indah seindah persahabatan mereka berdua.

(*)

Hari-hari telah berlalu. Semua terasa begitu cepat seakan baru kemarin. Shania sedang dalam perjalanan mencapai mimpinya, yaitu menjuarai lomba nyanyi tingkat pelajar di Jepang. Sedangkan Achan, sudah sebulan tidak ada kabarnya. Shania yang bertanya kepada Mama Achan bilang, kalau Achan sedang pergi ke luar kota tapi akan segera kembali.

Mendengar hal itu, Shania pun sedih karena sahabat terdekatnya kini tidak ada disampingnya untuk sementara. Walau ia tidak tahu kapan Achan kembali, ia selalu setia bermain di taman bunga dan menunggu Achan disana. Ia berharap di sana Achan akan datang.
Dan ternyata benar, Achan datang kesana setelah sekian lama tidak menunjukkan dirinya.

“Shan, kamu kenapa sedih?”
“Achan?” ucap Shani lalu memeluk erat Achan.
“Kamu kemana aja selama ini? Sebulan kamu nggak main sama aku. Apa kamu nggak kangen aku?” Tanya Shania.
“Tentu aja aku kangen kamu, tapi sebulan lalu aku ada urusan mendadak sama Papa ku diluar Jepang dan aku nggak sempet kasih tahu kamu. Maafin aku ya Shan?”
“Iya Chan, aku maafin kamu kok. Janga pergi-pergi lagi ya..” kata Shania.
“Eh, ngomong-ngomong aku masih inginin medali kejuaraan nyanyi kamu loh. Mana? Kamu udah menang belum?” Tanya Achan.
“Belum Chan. Finalnya besuk, dan aku juga masuk final. Doain ya semoga aku menang, jadi aku bisa kasih medali itu ke kamu..”
“Iya Shan, aku selalu doain kamu kok. Kamu kan sahabat aku. Eh, aku pulang dulu ya? Udah sore nih. Janji ya kasih medali itu ke aku..”
“Iya Chan, janji. Aku juga mau pulang.”
Mereka berdua pulang bersama. Persahabatan yang terjalin ternyata tidak berakhir disana. Persahabatan mereka masih terjalin baik walaupun lama tidak saling bertemu. Tapi hari esok akan menyambut mereka. Hari dimana masih menjadi misteri untuk Shania dan Achan.

(*)

Lomba menyanyi tingkat pelajar di Jepang pun dimulai. Shania menyanyi dengan sangat bagus saat itu. Dan ia pun akhirnya menjuarai lomba itu. Seperti janjinya pada Achan, medali yang ia dapatkan akan ia berikan kepada Achan dan ia berpikir bahwa Achan pasti akan sangat senang.
Shania datang ke taman di sore hari sambil membawa medalinya. Tapi Achan ternyata tidak ada disana. Ia menunggu Achan cukup lama. Sudah tiga jam lamanya ia menunggu Achan, tapi Achan tak kunjung datang. Maka ia pulang dan datang ke rumah Achan untuk bertanya pada Mama Achan.

“Tante, apa Achan ada? Ini saya tante Shania, saya mau ngasih medali ini untuk Achan. Saya sudah berhasil jadi juara lomba nyanyi tingkat pelajar hari ini, dan Achan meminta medali ini untuknya. Apa saya bisa bertemu dengan Achan?” terang Shania.
“Maafin Achan ya nak, Achan sudah tidak tinggal disini lagi. Achan sudah pindah ke Indonesia dan tinggal sama Papanya. Sekarang disini tinggal kakak-kakaknya dan tante saja.”
“Jadi begitu ya tante? Kalau begitu Shania pamit pulang saja tante. Makasih ya tante.” Shania pulang sambil meneteskan air mata karena Achan justru pergi ke negara asal Shania.

Mengetahui hal itu, Mama Achan juga ikut sedih karena ternyata disini anaknya memiliki sahabat yang sangat sayang padanya, yaitu Shania. Mengetahui kalau Achan sudah tidak disini lagi, Shania sangat sedih. Hari-harinya pun berlalu dengat penuh kesepian.
Hari baru tiba. Shania kembali datang ke taman bunga sendirian. Ia menggantungkan medalinya di salah satu ranting di salah satu pohon di taman itu.

“Chan, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu mau pergi? Aku nangis bukan karena kamu pergi, tapi aku nangis karena mungkin kamu nggak kembali lagi. Apa kamu juga kesepian disana seperti aku disini? Aku kangen kamu Chan. Semoga kamu bisa ambil medali ini suatu hari nanti..” batin Shania sambil menangis.
Ia pulang dan menitipkan surat pada Mama Achan untuk di berikan pada Achan.
“Tante, kalau misalkan Achan bales surat saya, kasih tahu saya ya tante? Terima kasih, Shania mau pulang dulu tante.”
Mama Achan menerima surat itu, lalu membacanya.

Chan, sebelum kita kenal dan sayang satu sama lain, mengatakan selamat tinggal itu tidak sulit. Tapi setelah semua yang kita lalui selama bertahun-tahun, semua itu ternyata sulit dan meninggalkan luka dihati. Sekarang kita harus berpisah, itu sangat sulit buat aku. Aku ingin kamu tahu, kalau disini aku kesepian. Sampai kita berpisah seperti sekarang ini, berapa banyak waktu yang udah kita lalui? Sampai kita saling memahami seperti ini, dan sampai kita menjalin persahabatan kita, apa kamu ingat berapa kali kita ke taman bunga dan main bersama disana? Karena aku sendiri lupa. Bukan karena tidak ingat, tapi karena itu nggak terhitung.
Sesegera mungkin, atau selama mungkin, kita akan segera bertemu kembali. Karena kamu pergi ke negara asalku. Tapi sedih dihatiku ini sudah sangat dalam. Bahkan musim gugur yang sebentar lagi datang tidak bisa aku nikmati bersamamu. Aku berpikir, apa aku kuat menanti semua itu sampai kita bertemu lagi? Kalau aku tahu kamu akan pergi, aku ingin hentikan waktu yang berjalan. Agar aku bisa menghabiskan waktu bersamamu lebih lama lagi. Tapi aku tidak tahu dan tidak bisa.
Air mataku menetes waktu aku nulis semua ini, apa air matamu juga menetes saat kamu baca ini? Tapi dibalik tetes air mata kita, jangan ada lagi perpisahan setelah nanti kita bertemu lagi nanti. Nggak tahu itu kapan, walaupun lama dan aku kesepian, aku ingin kamu tahu kalau aku sayang kamu. Dan aku selalu menunggumu disini.

Shania

Mama achan menangis membaca itu. Maka secepat mungkin surat itu ia kirimkan kepada anaknya lewat fax mail. Mama Achan bangga pada Shania, ia orang yang baik. Dan suatu saat akan kembali bertemu dengan Achan lagi.

0 comments:

Poskan Komentar