Jumat, 24 Mei 2013

Este Regalo Especial Parati, Stella #final


Tetapi sebelum pergi ke Jakarta, Stella kembali bersekolah lagi dan mengikuti latihan Dance bersama teman-temannya. Aku sesekali menengok Stella yang berada di bawah—sekolahku 2 tingkat dan kelasku berada di atas—tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang.
                        “eh, dhuss,, ayo nge-PES” kata Banani. Banani sering memanggilku dengan kata-kata dhuss, karena aku terlalu sering berkata itu terhadap teman-temanku dikelas.
                        “enak aja lu panggil gitu ke gue! Itu mah cocok buat si Japar tuh” kataku. Ternyata orang yang sedang kubicarakan ada di samping Banani.
                        “ape lu??” kata Ja’far.
                        “kaga.. tadi Yukirin, member AKB48 lewat bilang, Gunung I Love You..” kataku sambil tertawa terbahak-bahak.
                        “weee.. ngarep lu” kata Ja’far.
                        “enak ngarep tah, timbang mburi.. gak oleh opo-opo”
                        (enak depan, daripada belakang.. tidak dapat apa-apa).
                        “ini.. mulai dah..” sahut Banani.
                        “ayo ngePES!” elakku.
                        Tetapi sebelum aku bermain PES—Pro Evolution Soccer—dengan keuda temanku ini, aku hanya menganggukkan kepala tanda oke. Aku terus melanjutkan memandangi Stella di kejauhan, walaupun di dalam keramaian, tak apa tak dia sadari.. Stella yang berada di bawah bersama Jeje, Achan, Kak Melody, Kak Ve, Rena-Chan, Shanju, Ghaida, Panda—Sonya—Cigull—Cindy Gulla—Nabilah dan Beby. Tiba-tiba Stella melihatku, dia melambaikan tangan padaku sambil tersenyum. Aku pun membalas lambaian tangan kanannya dengan melaukukan hal yang sama seperti yang Stella lakukan padaku saat itu. Kemudian muncullah suara teriakan..
                        “waduh! Torres mandul!” aku sontak kaget, dan tertawa. Itu seperti suara Ivan, aku segera memasuki kelas kosong yang berada tepat dibelakang tempatku berdiri, dan disana sudah ada teman-temanku yag sedang asyik menonton pertandingan PES antara Chelsea Vs Real Madrid. Sebelumnya, Banani dan Ja’far sudah masuk terlebih dahulu dan meninggalkanku yang sedang sibuk menikmati serpihan surge dunia, yaitu melihat Oshimen-ku, Stella Cornelia. Setelah cukup puas melihat Stella latihan, aku beranjak masuk dan nimbrung bersama teman-temanku di depan layar computer yang sedang berlangsung PES 2013 tadi. “ini pasti seru banget!” gumamku. Didalam kelas sudah ada Arka, Banani, Pandu, Adit, Hendra, Ivan dan Iksan. Ivan menggunakan jagoanku Chelsea FC, sementara lawan mainnya, Hendra, menggunakan tim kesayangannya dan kakakku Ve, Arsenal. Derby London, itulah tajuk pertandingan kali ini. Meskipin bukan pertandingan asli, dan hanya bersifat game, pertandingan ini cukup seru, karena sejarah lebih memihak ke Kubu London Biru, Chelsea. Dan mereka berdua bermain dengan menggunakan filosofi bermain yang hamper sama, Lebih banyak menguasai bola lebih baik, daripada membuang-buang bola jauh kedepan tanpa ada yang bisa menggapainya.. terlihat mereka berdua asyik bermain, kemudian aku tengok e arah Score Board—di pojok kanan atas layar Komputer—skore menunjukkan kedudukan 2-0 untuk tim milih Taipan asal Rusia, Aroman Abramovich.
                        “waduuuh.. kok bisa kalah gini ya?? Curhat Hendra.
                        “gak berkah lu, pake Arsenal..” kata Pandu.
                        “iya, mungkin kudu make Madrid.” Sahut Hendra.
                        Pertandingan berlangsung cukup seru, kedua tim sama-sama menerapkan filosofi All Out Attack dan mengandalkan Fast Break yang mematikan, beberapa kali kami bersorak karena peluang yang dihasilkan kedua tim yang harusnya berbuah gol, tetapi tidak terjadi. Dan sayang seribu sayang, dewi fortuna belum memihak kepada kubu Meriam London. Skor 2-0 untuk The Roman Emperror bertahan hingga babak kedua usai. Dan dengan terpaksa Anak asuhan Arsene Wenger ini harus angkat kaki dari kompetisi UEFA Champions League PES 2013.
                        Tibalah saatku bermain, dalam Drawing yang sudah di setting oleh PES itu sendiri, team yang kupakai, Inter Milan, harus menghadapi hadangan dari El Barca. Dan yang menggunakan tim itu adalah Ja’far.

                        “tumben lu make Barca, par??” tanyaku heran.
                        “bosen gue make Muenchen, sekali kali lah, make Barca” katanya dengan penuh kepercayaan diri.
                        “jiaah.. kampret lu..” kataku sedikit sewot.
                        Baru saja aku memegan stick untuk memulai kick off babak pertama—bermain di Giuseppe Meazza, kandang I’ll Nerazurri, tim kebangaanku dan adik kecilku, Achan—tiba-tiba Stella datang menghampiriku. Dan seketika pandanganku gelap!
                        “woy! Gelap!” jawabku dengan sedikit teriak. Teman-temanku semua hanya tertawa melihatku. Kemudian aku perlahan mulai mencium wangi parfum yang sudah asing lagi bagi hidungku.
                        “hmm.. wanginya..” kataku.          
                        “hiyaa, ketahuan..” kata Cici.
                        “lho, Cici beneran..” kataku kaget.
                        “cie.. cie.. cie.. Ja’far” kata Ivan.
                        “lho, kok gue?? Si Gunung nooh!” sahut Ja’far.
                        “wahahahahaha..” mereka semua tertawa melihat tingkah Ivan.
                        “ada apa, Cici?” tanyaku dengan nada halus. Saat itu, aku meminta Adit untuk memainkan timku, walaupun itu adalah tim rival dari AC Milan, yang secara itu adalah jagoan dari si Adit.
                        “anterin aku, yuk..” pinta Cici.
                        “kemana emang??” tanyaku bingung.
                        “beli kacamata..” jawab Cici.
                        “Nung, ntar gw main yo!” sahut Arka.
                        “terserah lu aja dah.. yang penting tim gue menang!” jawabku singkat.
                        “woke, woles, om!” sahut Arka lagi.
                        “kamu tau tempatnya gak?” Tanya Stella.
                        “hmm… seingetku, tau kok..” jawabku singkat.
                        “siip, anterin yaah..” pintanya lagi.
                        “iya, iya, Cici Stella Cornelia Winarto..” kataku kalem.
                        Aku segera mengambil motorku yang aku parker di tempat parker belakang sekolah, tepatnya, dekat Kantin. Dan mengacunya menuju tempat Stella berdiri—dia menunggu di depan sekolah—di sana terlihat Stella menungguku dengan model rambut di kuncir dua. Tetapi, tetap dengan poni yang masih menjadi daya tarik tersendiri bagiku.
                        “misi, neng.. mau kemana??” tanyaku iseng.
                        “mau ke toko kacamata, kang..” jawabnya halus.
                        “ayo neng, bareng aing..” kataku singkat.
                        “iya, ayo, kang, berangkat.” Kata Stella sambil naik ke motorku.
                        Diperjalanan kami berbincang bincang, tetapi, tidak terlalu intensif, sebab ini sedang di jalan raya. Hilang fokus, nyawa bisa melayang.. cinta pun pupus tak tersampaikan.. jiwa melayang, nama pun hanya bisa di kenang..
                        Kemudian, sekitar 17 menit dari sekolah, sampailah kami di took kacamata tempat temanku magang untuk mengisi waktu luangnya. Aku segera memarkir motorku di tempat parker yang sudah tersedia. Kami pun masuk kedalam took tersebbut—tentu saja, Ladies First—dan disana kami di sambut dengan ramah oleh Assisten Owner took itu, kebetulan aku mengenalnya. Namanya, Indra—temanku yang sedang magang tadi—aku biasa memanggilnya Drain, kebalikan dari namanya Indra, dan menggunakan unsure bahasa Malangan. Atau biasa di sebut Boso Wali’an (Bahasa Yang dibalik).
                        “halo, broo” sapa Drain sambil memberikan salam Toast seperti layaknya seorang Rapper bertemu kawan-kawan seperkumpulannya.
                        “halo, brad, what’s up??” kataku.
                        “I’m good my friend, what you’ll do here??” tanyanya.
                        “I’m just wanna buy somethin’ for her..” sambil menunjuk kearah Stella.
                        “Who’s she?? Your girl, huh?” tanyanya baik-baik.
                        “No, of course not, we haven’t been together anyway.. I just still waitin’ for the best moment to say ‘I love u’ to her, broo..” jelasku.
                        “Hmm.. I see, I’m sure, she’s the best for you, bro, I saw it”. Kata Drain menyakinkan.
                        “Are you kidding me, dude? She’s too special for me! Be with her, it’s just a damn high dream..” kataku sedikit sedih.
                        “You should wait for a great moment! And you’ll be with her. Trust me, dude!” kata Drain menyakinkan lagi.
                        “How do you know??” Tanyaku heran.
                        “Internet, Bro..” kata Drain singkat.
                        “Can you stop your bullshit, please? Don’t you tired always told me a lies??” kataku sedikit naik darah.
                        “Cool, bro. I just wanted to help you as my friend. I din’t mean to say that” kata Drain menenangkanku.
                        “I’m Sorry before, bro. Very well, let’s see then.. Excuse me a moment, I want to accompany her to looking for some glasses..” kataku sambil pergi menuju Stella.
                        Belum selesai kami bercanda Stella memanggilku dari kejauhan.
                        “Gunung! Sini dong” panggilnya.
                        “iya? On the way, Cici..” aku segera berlari menghampirinya.
                        “ coba liat nih, aku udah nemuin kacamata yang aku cari-cari” katanya sambil menunjukkan kacamata yang tak berlensa, tetapi berwarna hitam di kedua frame-nya dan berwarna-warni di kedua batang frame-nya.
                        “coba sini, aku lihat..” pintaku ke Cici.
                        Kemudian, Cici memberikannya padaku.
                        “lho, kok kaga ada lensanya, kok bisa?” tanyaku keheranan.
                        “bisa lah, mataku nggak minus kok..” jelasnya.
                        “oalah.. kirain kenapa? Kok milih itu kenapa?” tanyaku bingung.
                        “hmm.. kaga apa-apa, stylish aja” katanya sambil menebar senyum.
                        “azzekk.. coba pakai gih..” pintaku.
                        Kemudian Stella memakainya, terasa dadaku tertiup oleh angon.. jantungku berdegup kencang dan akan meledak, jiwaku melayang-layang tanpa tujuan, mataku seolah dipenuhi oleh fatamorgana surge, ketika kupandang sosok Stella yang berbeda, dengan kacamata itu. Belum pernah sebelumnya aku melihat Stella memakai kacamata, aku hanya bias diam terpaku menatap kedalam matanya.
                        “Subhanallah.. sungguh indah gadis ini ya, Allah..” gumamku dalam hati. Dengan rambut panjang terurai, poni yang menutupi dahinya, kacamata yang ia pakai, sudah cukup melengkapi kecantikannya kemudian Stella melambaikan 5 jarinya di depan wajahku. Sambil berkata.. “halo.. halo.. halo..?? kok bengong aja sih??” “hah?? Oh”. Aku mengedipkan mata dengan cepat dan menggeleng-gelengkan kepala. “hahaha.. kenapa, kamu??” Tanya Stella keheranan. Aku segera mengedipkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala.
                        “aku bingung, nih milih warna kacamata yang mana aja?? Bantuin milih dong..” pintanya dengan sedikit manja.
                        “hmm.. gimana kalau yang warna biru, kuning, pink, ma hitam?” ujarku.
                        “kayanya keren tuh.. iya deh, aku pilih warna yang kamu pilih”. Kata Stella
                        Saat itu, aku ada keinginan membelikan 4 kacamata tersebut untuknya. Tapi dia berkata untuk membelinya sendiri. “ya udah, aku tunggu diluar ya” kataku. “iya” jawab Stella singkat. Tak lama aku menunggu diluar toko, Stella pun dating, membawa tas kresek berwarna merah muda.
                        “wew, warnanya pink, hahaha..” candaku.
                        “haha, iya, habis, aku suka warna pink warna yang  kalem, tenang dan cewe banget”. Katanya sambil menebar senyuman manisnya.
                        Kemudian aku mengantarnya sampai di depan rumahnya. Disana sudah ada Sonia, adiknya—Stella dan keluarganya sementara ini ada di rumah yang di Malang.
                        “ngapain kamu diluar, dek?” Tanya Stella.
                        “lagi nungguin kang Bakso, laper, kak”. Jawab adiknya yang selalu menangis bila di goda oleh Stella ini.
                        Kebetulan tadi sebelum pulang mengantarkan Stella, aku membelikan Ayam Goreng dari satu resto untuk di bawa pulang Stella.
“udah, masuk aja gih.. kakak bawain Ayam Goreng, dibeliin ma Mas Gunung..” kata Cici dengan mengelus-elus rambut Sonia.
Aku hanya tersenyum melihat kakak beradik ini bahagia.
“yeee, ayam goreng, makan enak malem ini ya, kakak” jawab Sonia bahagia.
“bilang terima kasih ma kak Gunung..” kata Stella mendewasai
“makasih ya, kak Gunung” kata Sonia dengan senyum ramah.
            Aku hanya mengangukkan kepala tanda, iya.  Waktu itu, aku melihat jam di handphoneku dan waktu sudah menunjukkan pukul 17.48 WIB. Dan ada beberapa sms yang ku baca, salah satunya, dari sodara sepupuku, Kak Sendy, dia berumur 1 tahun lebih tua dariku. Kakak sepupuku ini berada di Jakarta, dia juga merupakan Daisuki dari sahabatku, Iksan. Dia berkata, bahwa dia aka pergi ke Malang, untuk menengok Kak Melody & Kak Ve. Dan sms yang lain, berisi pesan dari kakakku, Melody. “pasti gue dimarahin ini ntar..” gumamku dalam hati. benar dugaanku. Aku mendapat ceramah dari kakakku yang lahir di Bandung 20 tahun yang lalu ini. Yang berisi kalimat-kalimat yang menandakan aku dimarahioleh kakakku yang pertama ini. Itu terjadi, karena sudah seharian aku tidak pulang, dan aku juga tidak meminta izin bahwa aku akan pulang terlambat. Ada pula sms dari Si Etsa, yang meminta bantuanku untuk bisa mempunyai nyali guna mendapatkan hai dari Rena, dengan cara menyatakan cinta padanya. Tapi, untuk sementara, aku tidak menghiraukan sms mereka semua, karena ini sudah saatnya untuk pulang.
            “Eh, Cici.. aku pulang dulu, ya!” kataku sambil tergesa-gesa.
            “Lho, nggak mampir dulu? Knapa keburu-buru amat sih?” Tanya Stella heran.
            “aku udah di cariin kakakku! Kayanya bakal dimarahin saya!” ucapku sambil menhidupkan motorku.
            “oh, iya udah.. hati-hati di jalan! Jangan ngebut!” nasihat Cici.
            Aku hanya berkata iya, dan segera memacu motorku untuk segera pulang kerumah. Sesampainya di rumah, aku dimarahi oleh kak Melody. Tapi dengan nada menasehati, tidak dengan cara membentak-bentak. Kak Ve pun juga menasehatiku supaya lebih ingat waktu dan me-management waktu dengan baik dan benar. Kak Ve berkata, bahwa ada saatnya bermain, berpacaran, dan yang paling penting, ialah belajar.
            Keesokan harinya di sekolah, pagi-pagi terasa dingin, belum lagi cuaca yang juga tidak mendukung untuk melakukan aktivitas olahraga, karena hujan cukup deras melanda Kota Malang saat ini. Aku sudah duduk di tempatku, dan mulai menunggu kedatagan Stella. Suasana kelas memang sedikit gaduh. Karena bel masuk sekolah belum berbunyi dan jelas, guru pn belum hadir di kelas. “hei, brad..” sapa Pandu sambil menepuk pundakku. “ape, ndu?” tanyaku sambil sesekali menengok keluar.
            “gimana Ci Stella? Dia masuk hari ini??” Tanya Pandu berusaha menghiburku.
            “tau, noh.. kayanya dia masuk..” jawabu singkat.
            Bersamaan dengan bel masuk sekolah berkumandang, dan Stella masih tidak kunjung datang, “ayo Cici.. datanglah..” gumamku dalam hati beberapa kali. Tak lama kemudian, guru Bahasa Inggris datang. Dan mulai mnaruh tas di atas meja guru. “Good morning, children.. How are you today??” sapa guru bahasa  inggris yang manis itu—kalau tidak salah, umurnya masih sekitar 22 tahun—“Good morning, miss..” seru anak-anak sekelas.
            “okay, kids.. now we’re going to start the lesson today, well, learning about tenses. But I’ll check your attendance first” kata Guru yang manis, berambut panjang dan berkulit putih itu. Satu per satu siswa di absen. Giliranku dating—aku bernomor absen 17 sementara Stella, nomor 33—aku langsung mengacungkan tangan kananku. Setelah nomor demi nomor di sebutkan, tibalah saat dimana Stella dipanggil, “Stella Cornel..”  belum selesai guru menyebut nama Stella, tiba-tiba tedengar suara hentakan kaki mendekat ke arah kelas.. betapa kagetnya diriku, yang kulihat yaitu, sosok Stella! Dia muncul sambil berlari dan berkata “saya hadir, miss..” sambil mengacungkan tangan kanannya. “Unbeliveble..” kata-kata itu yang terngiang di hatiku. Dia berdiri tepat di depan mataku! Kemudian, saat dia menoleh ke arahku, kibasn rambutnya seperti di salah satu scene pada iklan shampoo! Wangi lembut tercium melewati hidungku. “hmm.. wangi yang selalu kudambakan, mampir lewat hidung gue..” gumamku lagi. “itu, bra Oshimen-mu masuk noh!” goda si Adit. “yoii, Dit”. Stella pun segera menuju tempat duduknya, tepat di sisiku.
            “kok telat, Ci?” tanyaku.
            “tadi, jalannya macet, padahal udah bangun pagi, jadi telat deh..” curhat Cici Stella.

            Akhirnya pelajaran pun dimulai, aku dan Stella secara intensif bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik di mata pelajaran yang kami favoritkan. Secara bergantian, aku dan Stella bergantian mengacungkan tangan untuk menjawab semua pertanyaan dari guru bahasa Inggris kami, Miss Anis. Dan aak sedikit yang menyoraki kami berdua, “ciee.. jadiian dah..” goda si Etsa. “tembak wess..” sahut Arka. “ayo, Gun.. gak usah malu-malu, keburu disikat ma Adit lho!
“ sahut Hendra dengan nada keras. Aku hanya sedikit sedikit tertawa, kulihat wajah Stella memerah sambil tersenyum manis melihat tingkah teman-temanku.
            Hari-hari ku selalu kuhabsikan hamper selalu dengan Stella, seperti pulang bersama, makan malam berdua, jalan-jalan berdua, hingga libur ke pantai pasir putih berdua. Semakin dekat jarak diantara kami berdua. Kami seperti sudah berpacaran. Tapim, status kami masih cenderung seprti sahabat. Atau bisa dikatakan seperti saudara. Stella mengajakku pergi ke alun-alun kota berdua. Kami bernani berdua disanam dibawah pohon rindang dan sambil menatap matahari terbenam. Saat itu aku meminjam gitar milik temanku, Ivan. Dan sebelum aku meminjamnya, aku meminta tolong untuk diajarkan Chord Guitar Adele – Someone Like You—lagu favorit Stellasetelah paham dan hafal, aku pergi mengajak Stella ke alun-alun kota seperti yang sebelumnya. Beruntung, hanya sedikit aktifitas orang disana, karena sudah sore hari. Stella pun memanfaatkan moment tersebut, untuk menceritakan mengenai Audisi yang diikutinya, Audisi Idol Group JKT48. “Gunung.. kamu udah tau kan, kalo aku ikut Audisi JKT48?” cerita Stella. “hmm.. belum” kataku singkat. “aku kesana, sama temen-temen dance-ku..” katanya sambil sedikit murung. “hehe, golongannya Beby itu, ya?” tanyaku. “iya..” jawabnya pelan. “lho.. kok sedih? Tanyaku heran. “nggg.. nggak apa-apa kok..” jawabnya sambil berusaha tersenyum. Tiba-tiba sms datang menghampiri handphone-ku. Aku segera melihatnya, itu dari Shania. “nung.. Ci Stella tadi ngomong ke gue, dia mau nembak loe.. tapi, karena secara logis, cewe nggak pantes nembak cowo, jadi, lu duluin deh nembak dia. Buruan, keburu ilang kesempatan loe..” itulah petikan sms dari gadis asal Solo yang biasa dipanggil, Njuu ini. Aku dilanda badai kebingungan, disisi lain, aku mau sekali menembak Stella, dan aku yakin, dia menanti pernyataanku ini. Tapi, aku tidak bias menemaninya selalu, baik di saat sedih, maupun senang. Dan aku pun tak mau melukai hatinya jika nanti aku berpacaran dengannya. Aku segera bertanya pada Cici.
                        “Ci, mau nggak, nyanyi bareng? Mumpung aku lagi bawa gitar nih.. punya Ivan sih.. biar gak sedih lagi..” kataku berusaha menghiburnya. “hmm, iya deh..” jawabnya halus. Kami pun bernyanyi bersama, Stella menyanyikan lagu Adele – Somenone Like You, dengan ku iringi gitar dan suara 2. Aku juga membawakan lagu special untuknya yaitu, Hoobastank—band Alternative Rock asal Amerika—yang berjudul The Reason. Stella sempat memuji suaraku, tapi aku tetap tidak yakin suaraku bagus, karena aku bukan seorang vokalis. Dan posisiku di band LionBlues—bandku bersama ketiga temanku, Ivan, Hakim dan Mustakim—adalah Drummer/Rapper.
                        Memasuki pertengahan bulan November, tepatnya, tanggal 20 November 2012. Aku mendengar percakapan wali kelasku mengenai kontrak pertukaran pelajar saat istirahat. Hal itu mencakup bebrapa teman sekelasku juga, Nashrul, Ray, Frieska dan Bangkit. Dmana kontrak itu akan habis per 21 November 2012. Yang tidak lain tidak buka, adalah esok hari! “hm.. ini pasti ada hubungannya ma Cici n Ghaida..” gumamku. Kemudian, aku kembali ke kelas—saat itu aku kebetulan lewat di depan kantor guru—sepulang sekolah, Stella sudah menungguku di bangku depan kelas, kemudian, mengajakku mengobrol berdua, di taman dekat sekolah. “Gunung.. aku boleh kan ngobrol bentar ma kamu?” tanyanya baik-baik. “iya, silahkan aja.. waktuku banyak kok” jawabku. “aku harap, kamu bisa ngertiin aku dan perasaanku..” dia berkata sambil berusaha menahan air mata. Ku lihat, kacamata biru yang dia pakai—kacamata yang aku pilihkan saat itu, aku pilih berdasarkan warna favorite dan mood Stella, misalnya biru, ia merasakan sesuatu yang membuatnya sedih, tapi dia tetap berusaha untuk ceria dan bahagia, walaupun itu menyesakkannya. Hal-hal seperti itu biasanya membuat Cici menjadi Anxious/Galau. Jika Pink, mood-nya sedang sangat baik, dan dia cenderung semangat dan sangat antusias dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Kuning, perasaannya sedang gelisah, tapi, hal itu masih bisa ia atasi, dan senyuman masih bisa terpancar dari wajah cantiknya. Sedangkan untuk warna hitam, tidak perlu di jelaskan panjang lebar lagi. Warna ini melambangkan warna duka, kesedihan, dan kegundahan yang mendalam. Aku segera menyadari apa yang sedang terjadi.
                        “lho, maksudnya gimana, Cici?”tanyaku heran.          
                        “kamu sayang kan ma aku?” tanya Stella.
                        “eh, i.. i.. i.. iya.. aku sayang ma kamu..” kataku sambil terbata-bata.
                        Kemudian, Stella memelukku erat-erat. Perlahan, dia meneteskan air mata. Sambil menangis terisak-isak. Dia berkata..
                        “aku.. lolos audisi JKT48..” kata Stella dengan pelan.
                        “wah, bagus banget dong, kalo gitu.. keren. Akhirnya impianmu terkabul kan? Aku bangga banget, Ci ma kamu”. Ucapku sambil menahan air mataku, agar tidak membasahi pipiku.  Aku sembari mengelus-elus rambut panjang lurusnya. “tapi, apa kita harus berpisah secepat ini??” “hmm.. mau gimana lagi hayoo? Ini udah jadi peluang besar kamu, buat meraih mimpimu, Cici..’’ kataku dengan nada pelan. ‘’kamu kan dulu pernah bilang ke aku, kalo kamu pengen jadi model, penyanyi n dancer, iya kan?’’ kataku. “iya, memang aku pernah cerita itu ke kamu.. tapi aku nggak mau ninggalin kamu, Gunung..” curhat Stella. “udah, jangan nangis ya.. aku nggak suka liat cewek cantik kaya kamu nangis..” aku berusaha menghiburnya. Ingin ku menangis rasanya. Bersamaan dengan itu, hujan pun perlahan turun membasahi Kota Malang. Tangisanku, tangisan sedih kehilangan seorang bidadari yang selalu mencerahkan hari dan mewarnai hari-hariku selama ini. Berat memang melepasnya.  Tapi, haruskah aku menghalangi orang yang ku sayangi untuk meraih impiannya? Mimpi yang dulu hanya bisa di imajinasikan, kini menjadi nyata.
                        “maafin aku, Gunung..” dia berkata sambil melepaskan pelukannya.
                        “hmm.. nggak apa-apa. Nggak perlu minta maaf, kamu nggak salah, kok” jawabku sambil menghapus air mata yang mengaliri wajah cantiknya itu. “aku akan selalu merindukanmu, Gunung.. terima kasih buat semuanya ini, kesetiaanmu, perhatianmu, dan semua kebaikanmu”. Kata Stella sambil menangis terisak-isak. “iya, itu semua juga aku lakuin dengan ikhlas dan tulus dari hati kok. Nggak ada maksud apa-apa” jawabku. Bersamaan denga itu, handphone-nya berbunyi. Ringtone-nya adalah lagu favoritnya. “bentar ya, aku angkat telfon dulu..” dia berkata sambil sedikit menjauh dariku untuk menerima telfon tersebut. Sekitar 3 menit, dia berbincang-bincang. Tampaknya, itu telfon dari ibu-nya yang sudah berada di Jakarta. “Gunung.. aku diminta pulang sama mama..” curhatnya. “hmm.. iya dah.. ayo tak anterin pulang ke ruamh dulu”.
                        Aku segera mengantarnya pulang. Di perjalanan, kami hanya diam saja. Tak ada sepatah katapun terlontar dariku ataupun Stella. Sesampainya dirumah, Sonia sudah menanti kakaknya.
                        “kak, ayo buruan ganti baju dari official. Bis Official JKT48 Regional Malang bentar lagi dateng”. kata Sonia mengingatkan
                        “udah, buruan gih.. telat lho, ntar..” kata Stella.
                        Stella pun segera memasuki rumahnya dan mulai mengganti pakaiannya. Dia keluar dari rumah, mengenakan kaos bertulisan JKT48 berwarna merah. Sama seperti yang dikenakan adiknya, Sonia. “hmm.. udah cantik ya, kakak ma adeknya”. Pujiku. “terima kasih..” kata mereka bersamaan. Aku pun beralasan disuruh pulang oleh kakakku. Karena hari sudah menjelang malam. Hal itu aku lakukan, supaya hati ini bisa ikhlas melepasnya pergi.
                        “Cici.. aku di sms nih, di suruh pulang ma kakak” ucapku sambil berpura-pura membaca sms di handphoneku.
                        “oh, gitu ya.. iya udah deh, hati-hati di jalan yaa..” dia memelukku.
                        “iya,  makasih ya, Cici..” kataku.
                        Stella sesekali menghapus air matanya menggunakan tissu.
                        “Sonia.. juga kakak Stella ya, terus, kalo kamu di jahilin jangan diam aja ya, lawan dong.. hehe..” ucapku sambil mengusap-usap kepala Sonia.
                        “hehe, iya, kak Gunung makasih.. ntar aku nggak akan tinggak diam, kalo dijahilin kakakku ini” sambil memasang wajah sewot ke Stella.
.”hahaha.. siip, siip, jangan cengeng lagi ya..” kulihat Stella tersenyum manis, walaupun air mata kesedihan masih terlinang di pipinya.
“siap, kak!!” jawab Sonia semangat.
Tak lama kemudian, Bus Official Regional Malang—bus di bagi menurut regional-regional kota besar yang sudah ditentukan, untuk menjemput para calon member—aku segera berpamitan pulang pada mereka berdua. Kemudian, aku melihat mereka di kejauhan, mulai menapakkan kaki ke dalam bus berwarna merah, ber-plat nomor B 4118 JKT. Terlihat juga di dalam bus, ada Shanju, Beby, Cindy, Nabilah, Ghaida, Sonya, 2 kakakku, Melody dan Ve, 2 adikku, Achan dan Jeje, Rena. Dan kurasa, teman-temanku juga sudah mulai bisa melepas kepergian daisuki –nya masing-masing. Aku pun mencatat tanggal hari, dimana Stella pergi meninggalkanku. Tepat tanggal 7 November 2012. Seleksi dilakukan tanggal 9 November 2012. Dan hari itu, peresmian member , member’s profile videos,  dan hal lainnya di Launching hari itu pula. Aku sangat bangga melihat sosok Stella berdiri bersama 23 bidadari lainnya dibawah naungan manajemen JKT48, Sister Group luar Jepang pertama.  Foto, video, dan akun Twitter Stella pun mulai ramai dibicarakan orang-orang. @stellaJKT48. Itulah akun twitternya. Dan aku sempat pula mendownload video member profilenyaa di Youtube.
            Air mata ini pun terlinang, ketika mendengar lagu Adele-Somene Like You. Lagu yang mengingatkanku pada sosok Stella Cornelia. Foto-fotonya bersama member JKT48 yang lain pun telah di share kemana-mana. Aku akan selalu mengingatmu saat dimana ia ucapkan “dengan senyum, aku akan menaklukan dunia! Hai, namaku Stella!”. Saat itu aku membuka Twitter Fans JKT48, aku mendapat kabar, bahwa JKT48 akan Perform di Kota Wisata Batu. Aku kaget sekaligus senang. Akankah ini momenku supaya bisa bertemu dengan Stella lagi? Aku pun berharap demikian. Teman-temanku, satu per satu mengirimiku sms, mengajakku pergi menonton konser yang kabarnya akan dimeriahkan oleh band Seventeen dan band-band pendukung lainnya. Awalnya, banyak yang berkata bahwa itu Hoax.  Karena Official belum resmi mengatakan bahwa akan ada agenda JKT48 di Kota Wisata Batu, untuk memeriahkan HUT Kota Batu. Aku merasa terpukul dan kecewa saat mendengar hal itu.
            Beruntung aku mempunyai teman-teman yang perhatian terhadapku. Mereka bergantian satu per satu menyakinkanku, bahwa Show di Kota Batu itu bakal terlaksana. Aku hanya bisa berkata, iya. Terkadang, rasa rindu terhadap Stella menghantui pikiranku. Selalu ku pandangi foto yang ia berikan padaku. Dan ku dajikan walpapper ataupun screen server di handphone-ku. Lagu 3 Doors Down - Here Without You, kembali berkumandang di telingaku. "i'm here without you, Stella.. But you just still on my lonely mind.. I think about you, Stella, and i dream about you all the time.." lirik di bagian reff itu selalu kunyanyikan sembari menatap senyuman manis Stella. Tanpa ku sadari, tiba-tiba ada air jatuh di atas layar handphone-ku. Pada awalnya ku kira atap rumah bocor, karena saat itu hujan cukup deras dan sudah 4 jam tidak berhenti. Aku menengok ke atas, tidak ada apa-apa. Ternyata, itu adalah air mataku sendiri. Rasa rinduku pada 2 kakakku dan 2 adikku juga tak pernah reda, rasa ingin bertemu terus mengebu-gebu di dadaku. Tapi, semua itu sirna, ketika kulihat Stella, Kak Melody, Kak Ve, Achan dan Jeje perform bersama JKT48. Terutama saat di Mega Konser, DahSyat, Onbox dan yang paling baru ialah di OVJ--Opera Van Java--aku sangat bahagia dan bangga terhadap Stella, walaupun ida dulu pernah sakit, dan opnmame selama beberapa minggu, kerja kerasnya unutk menggapai impiannya, patut diacungi banyak jempol. Mimpinya untuk menjadi seorang Dancer, penyanyi dan model kini sudah tercapai. Aku merasa sangat terinspirasi olehnya. Dan kali ini aku berfikir, bagaimana menjadi seorang "fans" yang baik dan selalu mensupport "Idol" dengan baik, benar, positif dan bermanfaat bagi Idol itu sendiri, maupun orang lain.
Ku dengar, kini JKT48 sudah memiliki gedung Theater sendiri, sebagaimana Sister Group mereka yang berada di Jepang, AKB48. Gedung Theater itu selalu ramai dipenuhi oleh para fans JKT48. Atau biasa dipanggil Wota. Yang terkenal dengan kekompakannya jika sedang melakukan Wotagei ataupun Chant Mix. Banyak dari mereka yang sudah terbiasa ber-wotagei dan melakukan Chant Mix. Dan hal terakhir yang masih kuingat ialah, sms dari Shanju yang mengatakan..
“Stella sempet nangis, ketika dia nungguin kamu nembak dia, sebenernya dia mau ngomong suka ma kamu. Tapi, Cici memendam rasa itu. “Temo Demo No Namida” itu kata Stella”. Itulah petikan kalimat dari Njuu, salah satu sahabat terbaik Cici Stella. Dan ada kabar menggembirakan. Tanggal 10 November—tepat hari ulang tahun Nabilah—JKT48 akan Show di Kota Wisata Batu! Kami pun segera mempersiapkan diri. Shiw dimulai pukul 19.00 WIB dan JKT48 akan perform pukul 21.30 WIB. Dan 5 lagu yang akan mereka bawakan untuk memeriahkan malam bertambahnya umur Kota yang masuk wilayah Malang ini. Kami yang seharusnya dijadwalkan tiba di KWB pukul 13.30, sedikit molor dikarenakan salah satu teman kami, mengalami sedikit hambatan yang membuatnya sedikit terlambat untuk menghampiri aku, Banani dan Ivan yang sudah menunggu di sekolah untuk berangkat bersama-sama. Adit yang sudah berangkat dari awal, sempat bertemu dengan bus Member JKT48 di salah satu stasiun pengisian bahan bakar—SPBU-- Pukul 16.15, Ja’far yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya mulai menunjukkan batang hidungnya. Kami pun berangkat dari sekolah—bersama dengan Iksan dan Arka—Di temani beberapa Crew dari Aremation, yaitu Amirul, Adi, Candra. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, Kami pun tiba di KWB pukul 17.05 WIB. Kami menunggu sejenak dan melihat-lihat suasana panggung dan juga penonton. Tak terasa adzan mulai berkumandang, kami beranjak untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Yaitu, Sholat Maghrib. Disana sudah tersedia Musholla, dan tampak banyak Fans JKT48 juga menunaikan sholat maghrib berjamaah yang dipimpin oleh salah satu kepala Polres Batu. Kaos berwarna merah bertuliskan JKT48, beserta regional-regionalnya mulai bertebaran usai sholat maghrib.
Kami pun kembali menuju ke depan panggung untuk menanti bidadari-bidadari dunia beraksi menunjukkan bakat terbaik mereka bersama JKT48. Memang cukup lama kami menanti, tapi tidak apalah, ini juga termasuk salah satu support Fans kepada Idol masing-masing, tak terkecuali aku yang kali ini bertindak sebagai Fans terhadap Stella. Pukul 21.15 WIB, tampak bus merah bertuliskan JKT48 melintas di sisi kiri stage, banyak penonton yang mulai meneriaki Oshimen masing-masing, ada yang berteriak Stella, Dhike, Nabilah, Melody dan masih banyak lagi. Di dalam hatiku, aku hanya menunggu kehadrian Stella, terlepas aku merindukkan keempat saudaraku. Host yang memandu saat itu adalah Gading Martin dan salah satu Host perempuan yang aku sudah lupa siapa namanya. Host berteriak..
            “Jekate..” para penonton pun kompak menjawab..
            “48..!!!” hal itu dilakukan beberapa kali hingga para member JKT48 mulai menapaki Stage.
            Ketika si Gading berkata,
            “Batu are you ready?? Please welcome.. JKT48!!” para penonton pun, termasuk aku dan kawan-kawanku mulai merasa impian kami terasa nyata. Melihat perjuangan teman-teman sekelas kami dulu kini sudah menjadi kenyataan. Sungguh hal yang sangat membanggakan bagi kami semua!.
                        Sial bagi Arka, Ghaida yang dijadwalkan ikut perform, ternyata tidak hadir. Tapi, kami tetap berusaha menjaga mood agar tetap stabil dan happy, meskipun aku hanya bias melihat Stella dari kejauhan, di tengah keramaian para Fans JKT48, hal itu tidak sedikit pun menyurutkan  semangatku untuk men-support Stella di atas panggung kesuksesan! Beberapa kali aku teriyaki namanya.. “STELLA..!! STELLA..!! STELLA..!!” tapi hal itu hanyalah kesia-siaan saja, karena Stella berdiri jauh dariku. Lagu yang dibawakan saat itu ialah, Aittakata, Heavy Rotation—Opening song—Ponytail To Chou Chou, Baby! Baby! Baby! Dan Kimino Kotoga Suki Dakara. Perform mereka diawali dengan Overture.. diiringi Chant dari fans JKT48. Saat itu setelah lagu Kimino Kotoga Suki Dakara, ada sesi dimana Nabilah mendapat sambutan ulang tahun dari Kak Melody, Shanju dan Cleo—yang saat itu masih belum graduate dari JKT48—sungguh hal yang sangat indah yang pernah kurasakan, bertemu kembali dengan bidadariku yang sudah lama tidak bertemu, dan saat bertemu, ia sudah sukses dengan Idol Group JKT48. Subhanallah..
Seusai show, kami pun beranjak pergi meninggalkan TKP. Rasa puas dan bahagia bercampur dengan rasa sedih di hatiku. Puas dan bahagia. Sekaligus bangga, karena kau sempat menjadi bagian kehidupan dari Stella yang tidak lain tidak bukan adalah sosok bidadari dunia yang telah banyak mengubah kehidupanku menjadi lebih berwarna dan bermakna. Hal yang membuatku sedih, ialah karena aku tidak ada kesempatan lagi untuk bias mengobrol, menyapa, memeluknya dan melakukan hal positif bersamanya lagi, seperti dulu. Kini hanya bias kubayangkan hal itu dalam mimpi-mimpiku ketika ku terlelap di kegelapan malam. Tapi, aku sangat berterima kasih pada Stella, sejak aku mengenalnya duu. Kini aku telah banyak berkarya dan menjadi lebih rajin daripada sebelumnya.
            “arigatou gozaimasu, @stellaJKT48. Senyumanmu kan selalu kuingat dan itu  akan selalu mampu menaklukkan hatiku, bahkan dunia. Muchas gracias Cici Stella. Kau telah memberikanku motivasi untuk hidup, menginspirasiku melalui perjuanganmu di JKT48 hingga kau menjadi sukses seperti saat ini. Wajahmu kan selalu ku kenang. Dan Jinkhokusaimu kan selalu bergema di pikiranku, tuk menemaniku menuju jalan kesuksesan sepertimu. Aitakatta Cici Stella JKT48!! Semoga kau selalu di beri kesehatan, kemudahan, kelancaran, kenyamanan dan kesuksesan selalu bersama Idol Group JKT48. Dan aku akan selalu mengingat kata-kata terkahir mu beberapa minggu setelah kau pergi”.. “aku bernanyi sekuat tenaga, dari tidak bisa menari sampai setidaknya aku tahu cara menari,  sampai akhirnya aku dapat bercerita, di panggungku sendiri, dimana aku bias melakukan itu semua, karena JKT48!!” itulah kutipan kata-kata Stella yang selalu ku ingat hingga saat ini..
~THE END~



Gunung Mahendra
@GunungCornelia

0 comments:

Poskan Komentar