Sabtu, 25 Mei 2013

"Sebentar" (Part 7)


"Kalian bermain sangat bagus hari ini. Bapak bangga pada kalian. Imo, di pertandingan selanjutnya, bapak akan memainkan kamu dari babak pertama. Bapak tidak meragukan kamu lagi.." kata pelatih.
    "Apa pak? Nggak ah. Pertandingan ini yang pertama dan yang terakhir kalinya. Lagi pula saya mau ikut karena Ibu saya bilang kalau cewek dari SMA musuh kita ini cantik-cantik. Awalnya sih nggak percaya, tapi akhirnya saya coba, dan ternyata benar. Kalau bukan karena itu mana mau saya ikut.." jelas Imo.
    "Ternyata itu alasannya? Pantas saja. Waktu di danau dulu dia marah banget, tapi akhirnya dateng. Jadi karena ini? Sial.." pikir Yansen.

    Semua anggota disana seolah tidak percaya. Jadi hanya karena alasan ingin melihat cewek cantik, anak itu mau ikut. Ia juga tidak serius ingin membantu sekolahnya, hanya karena cewek. Karena cewek? Memang anak yang aneh.
    "Hhahaha. Jadi kamu mau ikut karena itu? Kalau kamu memang tidak ingin ikut di pertandingan selanjutnya, bapak tidak akan memaksa. Tapi kapanpun kamu ingin bermain, bapak dan tim akan menerima kamu.." kata pelatih.
    "Hmm.." kata Imo singkat.

    Maka mereka pun lalu bersiap untuk pulang ke sekolah dengan kabar baik. Seperti awal berangkat, saat pulang pun Imo tetap saja mual di bus dan tidur karena hal itu. Dan tidak terasa, mereka sudah sampai di sekolah. Seperti awal juga, Imo langsung turun dari bus dan mencari tempat untuk muntah. Maka para murid di SMA nya pun langsung mentertawainya karena hal itu. Namun Imo tak peduli akan hal itu.
    "Jangan mentertawainya. Kalau bukan karena anak itu, tim kita mungkin kalah hari ini.." kata pelatih pada murid-murid yang mentertawai Imo dengan senyumnya.

    Murid-murid pun lalu terdiam. Dan gosip itu pun langsung tersebar cepat di sekolah. Imo yang dicari oleh beberapa orang di sekolah itu ternyata sudah tidak ada disana. Ia pulang dengan loncat dinding belakang sekolah, padahal belum waktunya jam pulang.
    "Sial sekali hari ini. Mual-mual terus. Tapi yang penting aku dapet nomernya para cheer leader tadi. Namanya siapa ya? Aduh lupa lagi. Stelli? Hmm, bukan. Stello? Hmmm. Kayaknya juga bukan. Lihat hp ah.. Nah, iya Stella. Hhahahaha. Bisa sampai lupa gini.. Apa aku sms aja ya? Hhihi.." pikir Imo sambil tiduran di pinggiran danau dekat sekolahnya.

    Hallo Stella? Inget nggak sama aku? Hhihii..

    Imo mengirim sms itu ke Stella. Lalu ia tiduran sambil melihat langit biru. Beralaskan tas, ditemani sekaleng minuman soda, ia sudah merasa nyaman berada disana. Sepuluh menit kemudian, ia mendapat sms.
    "Nah ini, pasti dari Stella. Hhihi. Deg-degan aku. Hhaha.."

    Ketika dibuka sms nya..
    Bro, dimana? Ada acara makan-makan nih dikantin, buat ngerayain kemenangan kita. Cepet kesini!

    Imo membaca sms itu dengan muka penuh kesal. Ia mengira itu Stella, tapi ternyata sahabatnya Yansen.
    "Jir! Udah berharap baik juga. Sial.." batin Imo.

    Tak lama kemudian, hp nya berdering lagi.
    "Nah kalau yang ini pasti Stella. Hhahaha.."

    Cepet bro ke sini! Semua anak-anak nungguin. Pelatih juga..

    Melihat itu, Imo pun semakin kesal. Dua kali dugaannya salah. Selang beberapa menit, hp nya kembali berdering.
    "Palingan juga dari monyet sekolahan. Males ah aku bukanya.. Eh, tapi kalau Stella gimana ya? Hmmm. Nggak, pasti bukan.."

    Imo pun tetap membuka hp nya, dan kali ini dari Ibunya.
    Nak, nanti kalau kamu pulang, Ibu titip belikan roti bakar ya? Ibu udah lama nggak makan itu. Terima kasih.

    "Aaaarrrgghh!! Dari tadi sms yang masuk nggak mutu semua! Sialan. Stella.. Ayo dong bales sms aku.."

    Kali ini hp nya berdering, tapi bukan sms, melainkan telpon.
    "Eh, ini ada telpon? Tapi kok nggak ada namanya ya? Hmm. Pasti nggak mutu lagi nih. Biarin ah.."

    "Yaahh, kok nggak diangkat sih.." kata Stella dari luar telpon.
    Stella mencoba menelpon lagi.

    "Ini siapa lagi sih? Kok nomernya kayak tadi ya? Hmm. Angkat deh.."

    "Hallo.."
    "Iya hallo. Siapa ini?"
    "Ini aku Stella. Kok tadi malah nggak diangkat sih?"
    "Eh, Stella? Beneran? Bukan Ibu ku kan? Bukan Alvin? Bukan Yansen?"
    "Jelas bener Stella lah. Masak kamu nggak kenal suara aku.."
    "Hhehe. Iya iya. Maaf, tadi aku sms kamu. Nah, ada sms masuk banyak dan berulang. Aku kira kamu, ternyata bukan. Nah ada telpon, makanya aku diemin. Eh, ternyata malah kamu. Hhahahaa.."
    "Ohh.. Kenapa kamu sms aku?"
    "Hhehe, nggak papa sih. Kamu kenapa telpon aku?"
    "Malah nanya balik. Aku nelpon kamu itu karena aku mau tahu kenapa kamu sms aku. Hp ku lowbat, tapi aku sempet baca sms kamu. Jadi aku pakai telpon rumah.."
    "Ohh. Hhehe, kalau gitu alasan aku sms kamu itu biar kamu mau telpon aku. Hhahaha.."
    "Yeeee, nggak masuk akal.."

    Mereka pun lama mengobrol ke sana sini. Membicarakan banyak hal dan berkenalan lebih dekat lewat telpon. Setelah sekitar setengah jam telpon, mereka berhenti dan menyudahi pembicaraa itu. Imo sangat merasa senang akan hal itu. Ia berharap, itu akan menjadi pertanda baik untuknya.

    Maka Imo dan Stella pun berkenalan dan semakin dekat hari demi hari. Sudah sebulan mereka berteman baik. Imo pun juga menceritakan hal itu kepada sahabat-sahabatnya.
    "Apa? Jadi udah deket nih sama si Stella?" tanya Yansen kaget.
    "Iya dong bro. Hhaha.."
    "Wah, congrats ya bro. Semoga pacaran deh. Hhaha.." kata Aji.
    "Amin, amin. Hhaha.."
    "Kalau gitu, traktir makan dong?" pinta Hasby.
    "Iya bro. Hitung-hitung perayaan progress lah. Hhaha.." tambah Alvin.
    "Jiirr! Kagak mau. Belum juga jadian udah pada minta traktir. Enak banget.." kata Imo.
    "Hhahaha. Kalau jadian, traktir kita ya broo.." kata Yansen.
    "Kalau jadian yaa. Hhaha.." kata Imo.

    Mereka semua pun terus berbincang hangat. Sebagai sahabat, mereka saling support satu sama lain. Karena malam minggu, mereka berada di resto itu sampai larut malam. Aji, Alvin, Hasby, dan Yansen rela tidak bermalam minggu dengan pacarnya masing-masing karena mereka tahu Imo lebih membutuhkan teman berbincang saat itu. Lagi pula mereka merasa lebih baik jika berada dan mengobrol bersamanya sebagai seorang sahabat.
    Setelah merasa puas mengobrol, mereka semua pun pulang. Menanti hari minggu esok..
(*)

    Maka hari minggu pun tiba. Imo yang ingat dirinya punya janji dengan Stella segera bangun dan bersiap untuk itu. Setelah selesai, ia pun berangkat. Ketika ia sampai di tempat yang ditentukan, ternyata Stella sudah menunggu disana.
    "Eh, maaf ya telat. Hhehe.."
    "Nggak papa kok. Ayo!"
    "Eh, mau kemana? Bukannya mau makan disini ya?"
    "Hhehe, bukan. Aku mau ke mall aja. Ayoo.."
    "Iyyaa, iyaaa.."
    "Untung aku nggak lupa bawa dompet kali ini. Jadinya kalau dia minta apa, aku bisa beliin. Huh.." pikir Imo.

    Sesampai di mall, mereka pun pergi untuk memilih kalung.
    "Bagus nggak kalau ini?"
    "Kalung? Buat siapa?"
    "Buat aku dong. Siapa lagi?"
    "Hmm. Mending yang itu aja tuh.." saran Imo sambil menunjuk ke salah satu kalung.
    "Coba mbak, lihat yang itu." kata Stella.
    "Ini.." kata penjualnya.
    "Ini bagus? Bagus gimana?" tanya Stella.
    "Bentar. Eh, mbak. Ini kalungnya bisa di ukir nama sendiri kan?" tanya Imo.
    "Bisa kok. Malah kalung ini memang untuk itu.."
    "Nah, tuh. Beli aja yang ini, terus di ukir namamu.."
    "Iya yaa? Kayaknya keren deh. Hhehe. Yaudah mbak, yang ini ya.." kata Stella.
    "Mungkin jadinya sekitar satu jam lagi yaa.."
    "Apa mbak? Satu jam? Lama banget sih.." kata Imo.
    "Iya, soalnya kan ini perak. Jadi ukirannya harus hati-hati.."
    "Hmm.." kata Imo.  
    "Iya mbak, nggak papa kok. Nanti kita kesini lagi yaa.."
    "Iyaa.."
    "Yaudah yuk, kita makan dulu." ajak Stella.
    "Hhihi, itu yang aku tunggu dari tadi." kata Imo.
    "Dasar kamu.."

    Mereka pun lalu mencari makan. Mereka menemukan resto pizza di mall itu. Maka mereka pun memutuskan untuk makan pizza disana.
    "Ini pizza nya. Silahkan menikmati.." kata pelayan disana.
    "Terima kasih.." kata Stella.
    "Yummyy. Hhahaha." ucap Imo.

    Imo langsung memakan itu. Ia tidak menggunakan garpu dan pisau yang disediakan. Ia menggunakan tangannya. Lalu ia melihat cara Stella makan..
    "Ini anak ngapain sih? Apa enaknya makan pizza kayak gitu?" pikir Imo.
    "Eh, Stella kamu makan pizzanya kayak gitu?"
    "Iya dong. Makan pizza kan emang enak pakai garpu dan pisau gini.."

    Imo lalu menyingkirkan garpu dan pisau itu.
    "Udah, makan pakai tangan kayak aku nih loh. Cepet, cobain.." kata Imo sambil menunjukkan caranya makan.

    Stella pun sedikit kaget akan hal itu. Ia pikir itu norak, tapi ia mencobanya.
    "Hhihii, iya. Ternyata enak gini ya? Nggak ribet. Bisa masuk mulutnya banyak juga. Hhehe.." kata Stella.
    "Nah, makanya. Nggak usah berlaku kayak bangsawan atau orang desa, pilih aja mana yang enak dan nyaman. Hhahaha.."
    "Iyaa.."

    Selesai makan, mereka pun kembali ke toko kalung tadi dan mengambil kalung untuk Stella itu.
    "Berapa mbak?" tanya Stella.
    "Udah, aku aja yang bayar." sela Imo.
    "Loh kok?"
    "Kamu kan traktir aku pizza, aku traktir kamu kalung. Impas kan? Hhaha. Ini ya mbak uangnya. Semoga tokonya makin laris ya. Hhihi.."
    "Terima kasih yaa.." kata penjual toko itu.

    Mereka lalu pergi dari toko itu.
    "Aku jadi nggak enak sama kamu Mo. Harganya kan lebih mahal dari pizza.."
    "Udah, lupain aja. Asal kamu mau pakai kalung itu tiap hari, hutang kamu lunas kok. Hhahaa.."
    "Makasih yaa.."

    Imo terkaget sejenak mendengar itu.
    "Hhehe, sama-sama.."
    "Hmm. Apa ini artinya Stella mau jadi pacar aku ya? Hhahaha. Jalanin dulu aja deh.." pikir Imo..

    Mereka lalu pulang kerumah masing-masing. Sampai dirumah.
    Mo, apa kamu udah dirumah?

    Imo pun membalas sms dari Stella itu.
    Udah kok. Mau tidur nih. Capek, jalan-jalan ma kamu. Hhahaha :p

    Stella tersenyum melihat itu, lalu membalas.
    Take a rest yaa. Thanks buat hari ini. Aku seneng banget..

    Belum sempat membaca sms Stella yang terakhir, Imo pun sudah tertidur pulas. Sementara itu, Stella menunggu sms balasan dari Imo. Cukup lama menunggu, tapi tidak dibalas..
    "Hmm. Dia pasti udah tidur. Hhehe. Yaudah deh.." pikir Stella lalu meletakan hp nya.

    ~ Wait for the next Part ~

0 comments:

Poskan Komentar