Sabtu, 04 Mei 2013

JKT48 NOVEL SEASON III #7

Title   : Experience Of Jewel
Genre : Tragedy, Friendship, Inspiratif, Melodrama.
Story by : Chikafusa Chikanatsu
   Ini Merupakan Kisah Fiktif. 


  Menurut istilah sekarang, Mutiara akan selalu mempunyai cahaya terang dikulitnya, hanya saja, butuh waktu untuk menghidupkan cahaya tersebut. Itulah rencana yang akan Direktur Pelangi Entertainment lakukan pada sejumlah peserta buangannya.

   "Kumpulkan dan Periksa kembali semua arsip dari tiga tahun yang lalu. Panggil semua orang yang pernah mendaftarkan diri pada Pelangi Entertainment." Perintah direktur pada asistennya.
   "Aku sedikit terkejut dengan langkah yang anda ambil kali ini. Apa yang anda pikirkan?" Tanya Asisten.
Direktur menoleh. "Sesuatu yang kita kerjakan sungguh sungguh untuk mencapai suatu tujuan, lantas seseorang tersebut menerima kekecewaan di akhir skenario, kira kira apa yang akan mereka dapatkan? Putus asa. Seperti itulah, keputusasaan membuat jalan yang terbentang terhalangi oleh tembok besar. Saya tidak ingin impian yang mereka idam idamkan buntu seketika tanpa adanya pencapaian dalam dirinya. Saya akan mencoba membangkitkan kembali jiwa yang telah terkubur dengan memanggilnya kembali."

Seorang penulis wanita muda datang menghampiri Direktur untuk memberi laporan. Penulis tersebut bernama Lia, wanita yang sebelumnya pernah bertemu dengan Shania. "Aku sudah menyelesaikan Episode 3. Kali ini, akan aku pastikan bahwa naskahku tidak akan disentuh oleh pihak lain, aktor, sutradara, maupun Anda sendiri."
Direktur hanya bisa menggangguk memahami keadaan si penulis. Memang tidak enak rasanya menerima revisi terus menerus dari kalangan pihak dalam, itulah resiko sebagai seorang penulis.

   "Saya tidak menyangka Anda bisa menyelesaikannya secepat itu. Lanjutkan kerjamu." Puji Direktur sambil tersenyum.


***

   Sebuah taksi mengkilap melaju dan terpakir didepan sebuah apartemen kediaman Haruka. Seorang gadis belia menunjukkan sosoknya dengan menonjolkan style fashion yang terbilang modern. Rambutnya yang sebahu di ikat, hidungnya mancung, parasnya cantik. Pakaian yang dikenakannya pun tidak ketinggalan jaman, orang yang melihat keberadannya pasti akan berkomentar bahwa gadis tersebut merupakan 'orang punya'. Gadis tersebut melirik pada sebuah apartemen diatas, tatapannya tertuju dengan jelas, sepertinya Ia memang sudah pernah berkunjung sebelumnya.

Beberapa saat kemudian ...

Haruka tepat berada didepan pintu apartemennya, Ia terlihat membawa banyak kantong plastik berisi persediaan makanan yang baru saja dibelinya di supermarket. Ia memasukkan password kamar apartemennya. Baru beberapa langkah menuju ruang tamu, Ia dikejutkan oleh sesosok gadis yang sedang tertidur lelap di sofa. Rasa terperanjatnya hanya sesaat, sebab Haruka mengenal gadis tersebut.

Haruka tersenyum memandanginya. "Dia pasti lelah sekali melakukan perjalanan dari Jepang."
Gadis tersebut terbangun. Ia bangkit dari rebahannya, menatap Haruka dan memeluknya erat. "Aku sungguh rindu denganmu. Sudah 2 tahun lamanya kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu disini?"
   "Apa yang mambawamu jauh jauh sampai kesini?" Tanya Haruka dengan wajah yang biasa biasa saja.

Ayana Shahab, begitulah nama lengkap dari gadis yang baru saja menemui Haruka. Ayana merupakan sahabat Haruka saat berada di Jepang, keakrabannya begitu dekat. Walau umur mereka berbeda jauh, namun Ayana terlihat sebagai wanita anggun dan juga dewasa. Kehidupannya yang rumit membuat Ayana sebelumnya memang suka berpindah pindah dari Jepang ke Indonesia, entah kehidupan apa yang Ia jalani.

Haruka menyuguhkan secangkir teh hangat pada Ayana. Diruang tamu mereka duduk berhadapan diatas sofa. Prilaku Kedua gadis tersebut mempunyai kemiripan, dari cara memandang seseorang atau mungkin pengucapannya.

    "Apa kamu masih bekerja ditoko kue?" Tanya Ayana.
Haruka hanya menggangguk.
   "Apa itu menyenangkan? Apa tidak ada yang menganjal dalam kehidupanmu?" Tanyanya kembali.
   "Sebenarnya, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Balik Haruka bertanya. Sebab, sebelumnya memang Ayana tidak pernah mempermasalahkan apa yang menjadi profesi Haruka.

Ayana tertegun sejenak, lantas ia menatap Haruka. "Aku dengar, Pelangi Entertainment kembali menarik semua peserta dari 3 tahun yang lalu. Aku mendapat Email dari perusahaan mereka. Bagaimana tanggapanmu?"
   "Maksudmu, kamu datang jauh jauh kemari hanya untuk mengajakku kembali terjun ke dunia hiburan? Itu kan yang kamu maksud?" Terka Haruka, Wajahnya seketika mendung.
   "Mencoba yang kedua kali bukan berarti sepenuhnya seseorang tidak mempunyai bakat. Hanya saja, mungkin itu hanya waktu yang tertunda dan butuh proses untuk menggapainya. Aku mengatakan ini sebagai sahabatmu yang sama sama mempunyai tujuan dan impian yang sama. Semudah itukah kamu melupakan angan angan mu?" Kata Ayana berusaha menjelaskan.
Haruka menatap kuat Ayana dihadapannya. "Aku senang dengan apa yang aku lakukan saat ini. Lagipula, seseorang berhak mempunyai lebih dari sekedar 1 impian aja. Menjadi pengusaha sukses, aku akan meraihnya dengan kedua tanganku..."
   "Apa kamu ingin mengikuti jejak orang tuamu yang menjadi pengusaha? Aku tahu bahwa ini adalah jalan kedua yang kamu tempuh, setelah sebelumnya jalan utama yang kamu lalui buntu akibat kegagalan yang kamu dapatkan." Kata Ayana. Ayana menambahkan, Ia berusaha membuat Haruka mengerti. "Ini adalah kesempatan kedua. Ayo kita kejar mimpi itu bersama."

Haruka belum menjawab, Ia malah memalingkan wajahnya.
Melihat tingkah Haruka, Ayana sedikit jengkel. "Benar, aku datang jauh jauh hanya untuk memberitahumu informasi ini. Karena aku merasakan apa yang kamu rasa. Kita sama sama menerima keputusasaan ..."
Haruka memotong. "Aku sudah mengubur masa itu dalam dalam. Sungguh sulit untukku kembali menggalinya. Biarkan aku memilih jalan ku sendiri, aku minta maaf."

Ayana kehabisan cara. Ia merenung, kembali mengingat kalimat kalimat manis yang Haruka ucapkan saat berada di Jepang. "Tidak bisakah kamu melakukannya? Kamu bilang, Menyanyi adalah bumbu penyedap dalam hidupmu, tidak seharipun yang terlewat tanpa bernyayi. Sebelum tidur, saat ingin berangkat sekolah, atau bahkan saat berada di kamar mandi, yang kamu lakukan hanyalah menyanyi untuk membuat hidupmu sempurna."

Haruka menjadi serba salah. Sebenarnya Haruka memang menyukai kehidupan yang Ia lakukan sekarang, namun disisi lain, Ia pun ingin menggapai angan yang lain. Haruka ingin membuka mulutnya, tapi tak segera keluar. Dan akhirnya Haruka mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku harus ke toko sekarang. Jika kamu ingin makan sesuatu, semua ada di kulkas." 
   Haruka menambahkan. "Oya, Saat ini aku tinggal bersama dengan dua orang temanku di apartemen ini. Sapalah mereka dengan baik." Haruka segera meninggalkan Ayana.

Ayana mendengus. Kejengkelannya melonjak saat Haruka mengakhiri percakapannya tanpa ada penyelesaian.



Ayu yang sedang duduk manis ditaman seketika tersipu melihat kedatangan Cindy. Ayu buru buru bangkit dari tumpuannya dan menyapa Cindy yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah. "Maaf merepotkanmu."
Dengan cepat Cindy membalas. "Oh, tidak apa apa."

Sebelumnya Ayu memang meminta Cindy untuk menemuinya ditaman. Kesehatan Ayu memang bisa dikatakan sudah membaik, Ia sudah dipulangkan dari rumah sakit. Namun, sesuatu yang tidak diharap harapkan nantinya juga akan menimpa Anak malang tersebut. Hanya tinggal menunggu waktu, suatu saat Ayu akan kehilangan penglihatannya.

   "Boleh aku meminta sesuatu darimu?" Pinta Ayu.
   "Apa itu?"
Ayu meraih lengan Cindy. "Tolong temani aku untuk melihat keindahan dunia ini."
Cindy mendadak terdiam, Ia jadi merasa sungguh Iba pada Ayu. Cindy mengetahui apa yang akan diderita oleh Ayu melalui Dhike, bahwa penglihatannya akan segera hilang. Cindy mendekap erat Ayu dengan air mata berlinang. "Mengapa semua ini terjadi padamu. Kamu juga pasti ingin sekali menjalani kehidupan seperti yang aku jalani saat ini. Bersekolah, jalan jalan ke mall, atau mungkin mengejar impian yang di idam idamkan. Apa semua itu akan berakhir?"

   "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Maka dari itu aku akan meninggalkan jejak yang indah sebelum hal yang tidak diinginkan menimpaku. Aku tidak sanggup untuk mengajak Kak Dhike, karena mungkin Ia akan selalu mencemaskan aku. Maka dari itu aku memintamu untuk menemaniku." Kata Ayu.

Memang benar, Ayu belum mengetahui apa yang akan dideritanya dikemudian hari. Ayu tidak ingin tahu dan tidak mau tau soal itu. Sebab, mungkin pikirannya tidak akan tenang jika Ia mengetahui penyakit yang akan dideritanya.

Dibalik wajah Ibanya, Cindy tersenyum lebar. "Cepat katakan apa yang ingin kamu lakukan bersamaku. Aku akan mewujudkannya untukmu. Dan aku akan menyingkirkan siapa saja yang ingin menghalangimu." Katanya didampingi tawa.


Sebuah tempat hiburan, yakni Dufan (Dunia Fantasi), Ayu mengajak Cindy ketempat itu. Berisik, Padat dan ramai. Seperti itulah suasana yang tergambar saat itu. Setiap kaki melangkah, musik berirama disko kendengaran menyentak. Hanya wajah ceria yang berseri seri yang terpajang disetiap orang. Wahana yang tersaji disana membuat siapa saja kagum.

Pandangan Ayu jatuh pada salah satu wahana didepannya. Yakni Hysteria, Menara setinggi 56 meter. Ayu menoleh pada Cindy. "Aku ingin sekali mencoba wahana itu, Ayo temani aku." Ajaknya. Cindy terkejut, Ia menelan ludah panik. Sebenarnya Cindy sungguh takut dengan wahana tersebut, Ia pun menjadi serba salah. Karena sebelumnya Cindy berkata akan mewujudkan semua keinginan Ayu.

Pengunjung mulai ditembakkan keatas dengan kecepatan 4G dan kemudian dijatuhkan dengan kapasitas minus 1G. Adrenalin mereka mulai bergejolak, mereka berteriak menikmatinya. Begitupun dengan Cindy, rasa takutnya hilang begitu saja setelah menjajal wahana barusan. Cindy begitu antusias, dia makin bersemangat.

   "Ayo kita coba yang itu." kata Cindy dengan menunjuk pada sebuah wahana bernama Tornado. "Atau mungkin yang itu." Tambahnya dengan menunjuk wahana bernama Halilintar. "Atau mungkin rumah hantu. Ayo kita coba semuanya." Tambahnya lagi.

Ayu terdiam benggong dengan tingkah Cindy yang berubah drastis. Sebelumnya Cindy tidak sesemangat itu, Namun Ayu senang. Ayu menggandeng lengan Cindy dan kemudian mereka berlari dengan wajah yang bercahaya menjajal setiap wahana.

Setelah mereka puas dengan wahana yang menjadi pilihannya, akhirnya mereka beristirahat disebuah taman dengan banyak toko suvenir disekelilingnya. Ayu memandang sebuah toko yang penuh dengan boneka, Ia menghampiri dan kemudian mengambil boneka kelinci berwarna putih. Boneka itu mengingatkan Ayu pada kakak angkatnya.

   "Aku pernah menabung dari hasil uang jajanku hanya untuk membeli sebuah boneka. Aku Begitu senang saat boneka itu sudah ada dalam gengammanku. Semua kasih sayangnya, perhatiannya serta didikan yang pernah Ia berikan padaku, Aku menghadiahkan boneka itu padanya." Kata Ayu sambil memandangi boneka ditangannya.
Cindy menerka. "Apa dia kakak angkatmu?" 
Ayu menggangguk, Ia menoleh pada Cindy. "Apa kamu mempunyai orang yang kamu sayangi? Sudahkan kamu memberinya hadiah? Aku yakin, Orang tersebut akan sadar bahwa kamu berniat berterima kasih padanya. Lantas Ia akan merasa senang bahwa Ia telah berguna baginya."
Cindy menggangguk, Ia pun merasakan hal yang sama. "Aku mempunyai banyak orang yang aku sayangi, begitupun dengan mereka yang selalu menyayangiku. Hal yang paling aku banggakan yaitu, saat sahabat sahabatku membela serta mencemaskan diriku. Aku tahu bahwa mereka sungguh berharga bagiku."

Ayu membeli boneka yang sedang Ia pegang, setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua berjalan jalan dan berakhir disebuah kursi taman. Mereka berdua bersimpuh memandang keramaian didepan sana.

   "Hal yang paling aku takut takuti yakni kegelapan. Dimana kegelapan akan membuat dirimu buntu dan tidak bisa melakukan apa apa. Aku benci saat dimana ada kilat disertai suara petir yang besar, aku bisa berteriak ketakutan karenanya." Kata Ayu.
Cindy memegang bahu Ayu secara perlahan. Cindy berbelas kasih, Mengapa hal yang ditakutinya mesti harus menyelimutinya dikemudian hari. Cindy termenung, hatinya yang hangat membuat rasa kasihan yang timbul sungguh besar, membuat dirinya ingin membantu penderitaan Ayu, tetapi bagaimana?

   "Apapun yang akan terjadi, aku harap kamu tetap bersikap tegar. Masih ada aku, kak Dhike dan juga lainnya yang akan selalu hadir disisimu."

Ayu memandangi kerumunan yang ada dihadapannya, terlihat seorang Ibu dan Ayah yang sedang memanjakan anaknya dengan membelikannya cenderamata. Semua berwajah riang, berseri dan bercahaya dengan murninya.
   "Kebahagiaan itu hanya sesaat yang ku lalui. Waktu begitu cepat berlalu hingga diriku berada didalam sebuah ruangan yang tanpa cahaya." Kata Ayu bersedih.
   "Tidak ada yang bisa meramalkan nasib seseorang. Mungkin dengan adanya kebersamaan, maka kamu akan merasa kuat untuk bisa melaluinya." Kata Cindy membuat Ayu untuk terus kuat.

Lama kelamaan bahan obrolan menjadi mengering, Lagipula langit sudah petang. Ayu memberikan boneka yang baru saja dibelinya pada Cindy. Timbul pertanyaan dari dalam hati Cindy. "Apa kamu ingin berterima kasih padaku?" Cindy semakin tersipu. "Ini belum seberapa, mungkin kedepannya akan ada banyak hal yang akan kita lakukan bersama."
Ayu menatap Cindy, Ia tersenyum. "Terima kasih banyak telah menemaniku hari ini. Aku tidak akan melupakan hari ini. Dan juga ... Aku minta maaf karena telah merepotkanmu, aku bahkan tidak mempersilahkanmu untuk mengganti pakaianmu. Salamkan saja aku pada beby dan juga Delima, kita pasti akan bertemu lagi."

Cindy balik melempar senyum. "Pasti..."


Saat saat ini Haruka menjadi binggung. Perasaannya sungguh tidak enak, disaat yang lain sibuk membuat makan malam, Haruka malah lebih memilih duduk bersantai di sofa apartemennya. Diruang dapur, sudah ada Shiva, Akicha serta Ayana. Baru baru ini mereka berteman. Shiva serta Akicha menghormati betul sosok Ayana, Ia begitu murah senyum dan mempunyai hati yang hangat, berada disebelahnya sungguh membuat perasaan tentram.

Ayana yang sedang membuat adonan menoleh pada Shiva.   "Jadi, kamu adalah rekan kerja Haruka ditoko?"
   "Ya..." Sahutnya. "Dia sangat mahir membuat berbagai kue yang enak, aku begitu kagum dengannya." Tambahnya dengan berbisik pada Ayana.
Ayana hanya manggut manggut, Ayana memang sungguh percaya bahwa Haruka pandai melakukannya, sebab, di Jepang pun kedua orang tua Haruka memang seorang pengusaha yang menjual berbagai kue. Sejak kecil Haruka memang sering sekali membantu orang tuanya dalam menjalani bisnis.

Ayana menjadi serba salah, Niatnya Ia kemari hanya untuk mengajak Haruka terjun kembali kedunia hiburan. Namun, sepertinya Haruka memang benar benar sudah merasa nyaman dengan bidang nya kali ini.

Sedangkan dipojokan, Akicha sering sekali berdiam diri. Shiva datang menghampiri kakaknya itu. "Mau bantu aku memotong wortel?" Tanyanya. Daripada berdiam diri, pikirnya.
   "Sop merupakan makanan kesukaan Ibu, aku selalu memikirkannya. Bagaimana Ibu mengajari aku membuatnya. Aku selalu menyesal tidak dapat melihat Ibu dikeadaan terakhirnya, aku bahkan belum sempat berkata salam perpisahan. Aku sungguh menyayangi Ibu dan juga Ayah. Mereka yang mendidik kita dan merawat kita hingga kita menjadi anak baik." Kata Akicha dengan tangisnya.
   Shiva memakluminya, Ia memegang pundak kakaknya. Shiva tersadar bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar dimasa lalu. "Kakak istirahat saja, biar aku dan Ayana yang membuat makan malam."

Akicha berjalan menuju ruang santai, Ia duduk tepat disebelah Haruka. Haruka memandangi Akicha yang pipinya basah akibat tangisnya. "Apa kamu bisa menjawab pertanyaanku?"
Akicha menoleh. "Ya?"
Haruka menarik nafas. "Bukannya aku berlagak sok padamu, dan aku juga belum tau betul apa yang kamu rasakan. Karena aku masih mempunyai orang tua."
   "Lalu?"
   "Apa yang kamu dapat setelah menangisinya? Sesuatu yang kamu tangisi terus menerus hanya akan membuat hatimu rapuh. Tidak ada orang tua yang suka melihat anaknya menderita dengan tangisnya. Melihat dirimu sukses dan mengenggam dunia ini dengan kedua tanganmu, itulah yang semua orang tua inginkan pada anaknya. Mereka menyekolahkanmu, merawatmu, tujuannya hanya untuk melihat anak anaknya sukses dan hidup bahagia. Walau aku tahu bahwa kamu tidak bisa menunjukkannya secara langsung, tetapi buktikannlah pada mereka. aku yakin, kamu pun akan merasa bahagia atas kesuksesanmu." Kata Haruka.

Akicha diam sejenak, lalu Ia menoleh pada Haruka. "Kamu benar, namun menghilangkan semua memori itu sungguh sulit, mereka datang dan terus berputar putar dipikiran, membuat ku terus memikirkannya." Keluh Akicha.

Suara bel apartemen berbunyi, Haruka menutup pembicaraannya dengan Akicha lalu berjalan untuk membuka pintu. Pintu pun sudah terbuka, Haruka sedikit heran dengan orang yang ada dihadapannya, Ia tidak mengenalnya. Satu orang wanita beserta asistennya. "Apa benar wanita yang bernama Shiva tinggal disini?" Tanya wanita itu.
Haruka menggangguk. "Benar, ada apa? Silahkan masuk."

Haruka berjalan untuk menjemput Shiva yang sedang didapur. Shiva tercengang memandangi tamu wanita itu. Perasaannya seketika menjadi jengkel. Wanita itu merupakan seorang Juri yang pernah menilai Shiva saat Audisi  berlangsung.
 
   "Apa kabar? Apa kamu masih mengenalku?" Tanya Juri itu basa basi.
   "Aku tidak pernah lupa dengan orang orang yang pernah menyakiti perasaanku. Kabarku baik. Ada apa? Sepertinya anda menyesal memperlakukanku dimasa lalu." Sahut Shiva begitu emosional.

Juri tersebut mendengus. "Kalau bukan karena direktur, aku tidak akan menemuimu kali ini."
Lantas Juri tersebut mengambil beberapa dokumen berisi sebuah kontrak dari dalam tasnya. Ia berjalan menghampiri Shiva. "Ini merupakan kontrak casting yang akan dilaksanakan 2 hari lagi. Namun kamu jangan senang dulu, ada ratusan orang yang akan mengikuti casting ulangan yang dipimpin oleh Direktur Pelangi Entertainment sendiri. Jika anda lolos dalam casting tersebut, maka aku akan memberitahu kekurangan yang ada pada dirimu. Saat audisi berlangsung waktu itu, aku membencimu karena memang ada alasan tertentu. Aku tunggu kedatanganmu."

Haruka menjadi tertarik dengan percakapan tersebut, Ia menghampiri juri tersebut. "Apa aku boleh tau mengapa Direktur ingin sekali mengumpulkan orang orang yang telah gugur?"

   "Tidak ada alasan yang tersembunyi. Hanya saja, Direktur berbaik hati pada mereka yang masih ingin meraih mimpinya." Jawab Juri itu.

Haruka terdiam, nyatanya bahwa Haruka pun begitu antusias dengan langkah yang diambil oleh Direktur. Akicha ikut merenung sebentar, Ia hanyut dalam percakapan tersebut. Ia kembali mengingat kalimat kalimat Haruka barusan. 'Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita. Mereka menyekolahkanmu dan merawatmu hanya ingin melihatmu sukses dan bahagia.'





Bersambung ...


Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Web http://jkt48novel.wix.com/jkt48fanfiction
Copyright © JKT48 NOVEL

0 comments:

Poskan Komentar