Senin, 20 Mei 2013

CERITA SONYA part 6

Malam hari aku mengurung diri di kamar sejak perdebatankudengan Sonya tadi siang. Perkataanya selalu terulang di memoryku, mengapa diabisa berkata sedemikian lemahnya ? apa dia tidak mengerti dengan perasaanku ?entahlah.

Sebenarnya aku mengerti mengapa Sonya menyuruhku untuk tidak berbicara tentang sebuah pernikahan. Sonya sadar akan penyakitnya yang mungkin membuat umurnyatidak akan bertahan lama.  Kak Rica juga pernah berkata padaku penyakit leukemia sangat jarang ada yang bertahan kecualiada suatu mukjizat dari Tuhan.

***

Cahaya matahari menembus masuk kedalam kamarku, membuatmataku menjadi silau. Kulihat jam beker yang berada disebelahku yang menunjukanpukul delapan pagi. Lagi-lagi aku bangun siang.
Kubangkit dari tempat tidurku dan langsung bergegas keluar kamar. Langkakhku terhentidi kamar mandi yang cukup besar. Kunyalahkan keran dan kubasuh wajahku denganair. Sedikit lebih segar.
Kudengar suara gentingan piring dari ruang makan pasti Sonyasedang menyiapkan sarapan untukku. Kakiku melangkah menuju ruang makan.Ternyata dugaanku salah, bukan SOnya yang sedang mempersiapkan sarapan tapi kakRica ? kenapa kak Rica bisa berada disini ? yang aku ingat hanya aku dan Sonya sajayang berlibur di villa keluargaku
"Kakak ?” tanyaku heran dan ragu
“Hai kamu sudah bangun ?” tanyanya yang masih sibuk dnegan piring-piringnya
“Sejak kapan kakak berada disini ?”
“Sejak semalam” jawabnya
alis mataku terangkat sebelah “Kakak kesini dengan siapa ?”
“Dengan calon adik iparmu”
perkataanya membuatku berpikir dan otakku berhenti pada gadis yang sama cantiknyadengan Sonya
"Nabilah ?” terkaku
kak Rica mengangguk sebagai jawabannya kini dia sibuk dengan sebuah mangkukbesar yang berisi nasi goreng
“Nabilah sekarang dimana ?” tanyaku yang seakan-akan tidak puas dengan jawbakak Rica
“Dikamarnya SOnya. eh tapi kamu jangan ganggu dia. Sepertinya dia lelah”gumamnya
aku tidak mengubris perkataan kak Rica lagipula aku kesana bukan untuk melihatNabilah. Tapi ingin melihat keadaan Sonya.

Pintu kamar Sonya terlihat tidak tertutup rapat dan tanparagu aku masuk ke kamar Sonya. kulihat Nabilah yang sedang tertidur di tempattidur, mataku menjelajahi sudut demi sudut ruangan yang cukup besar ini tetapiaku tidak menemukan Sonya. kakiku beranjak menuju kamar mandi yang masih saturuangan. Ke mencoba mengetuk pintunya beberapa kali tapi tidak ada jawaban,kucoba untuk membuka kamar mandi ternyata Sonya juga tidak ada dalam sana.
Aku kembali menuju ruang makan dengan perasaan gelisah.Sesampainya, kulihat kak Rica yang tengah asyik dengam sarapan paginya
“Kak. Kakak lihat Sonya gak ?” tanyaku khawatir
kak Rica yang baru memasukan sesendok nasi goreng  langsung meliriku “Sonya ? tadi kakak Tanyadia katanya mau pergi ke danau” ucap kak Rica dengan mulut yang masih penuhdengen nasi.
Aku sedikit jengkel dengan sikap kak Rica yang seakan tidak perduli pada Sonya,apa dia tidak tahu kalau Sonya sedang sakit parah ? jika Sonya pergi ke danauseorang diri apa dia tidak memikirkan jika terjadi apa-apa dengan Sonya ? diabahkan akan menjadi seorang dokter spesialis, bisa-bisanya dia bersikap acuhkeapda seseorang yang sedang sakit
“Kenapa gak bilang dari tadi kalau Sonya ada di danau ?” keluhku kesal
“Kamukan tadi tanyanya Nabilah buka Sonya” jawabnya
benakku mengiyakan perkataan kak Rica, sepertinya aku sudah mulai gila denganperasaanku.

Aku tiba di dermaga danau. Kulihat Sonya yang tengah dudukdi sebuah kursi dekat dengan dermaga. Kuhampiri dirinya dan ku dudukdisebelahnya. Matanya tertutup, wajahnya terlihat  lebih cerah dan segar dari hari hari sebelumnyaditambah lagi cahaya matahari yang memantul antara kulit tipisnya.
“Kamu sudah bangun ?” tanyanya mulai dan seakan mengetahui akulah yang beradadisana
“Sudah”
“Sudah makan ?”
“Sudah” jawabku berbohong
matanya terbuka dan bibirnya melipat sebuah senyuman saat dia melihatku “Maaf”ucapnya
aku tidak mengerti maksud dari ucapannya dan kenapa dia sering sekalimengucapkan kata maaf
“Maaf untuk apa ?”
“Maaf atas perasaanku” jawabnya sedikit parau
sejujurnya aku tidak ingin mengingat apalagi membahas kejadian hari kemarin danaku mencoba untuk besikap biasa didepannya walupun hari itu hatiku sakit.
“Hei aku tidak ingin kita bertengkar seperti kemarin dan aku juga tidak inginmengingatnya. Aku yang salah” kataku
“Aku yang salah” tukasnya yang menatapku
aku menyerah “Kita yang salah” singkatku.

Sonya kini memandang kearah danau yang ada dihadapannya. Kulihat matanya yang menggambarkan sebuah harapan, kebahagiaan, dancinta. Ku taruh kepalaku dipundkanya, terasa begitu nyaman. Wangi tubuhnyamembuat hidungku terasa segar. Sonya meletakan kepalanya diatas kepalaku. Kitasama-sama merasakan sebuah  kisah romanyang membuat aku terhanyut dalam sebuah cinta.
beberapa saat aku merasakan setitik air yang jatuh di antara keningku
“Apa kamu menangis ?” tanyaku
“Tidak”
“Jangan bohong. Air matamu jatuh di keningku” jelasku kepadanya
“Apa semua wanita suka menangis tanpa sebab ? Itukah jurus jitu seorang wanita terhadap pria dan mungkin pria akan merasa lebih iba melihat wanita yang menangis”tukasku
Sonya mengangkat kepalanya dari kepalaku beberapa saat lalu dia menjitak keapaluyang tertempel di pundaknya “Ini air mata kebahagiaan apa kau tidak bisamembedakan air mata kesdeihan kesusahan dan kebahagiaan ?” ucapnya yangterdengar sedikit marah
“Air mata kebahagiaan ?” aku mencoba mengulang perkataanya.
dia tidak membalas perkataanku yang bagiku memang seharusnya tidak untudijawab lalu Sonya beralih memandang kembali danau yang terbentang di depankami.



Bersambung
contineu part 7

0 comments:

Poskan Komentar