Jumat, 24 Mei 2013

Este Regalo Especial Parati, Stella #1


Pukul 04.00 WIB, Pagi hari yang cukup dingin, terdengar suara akan berkumandang di telingaku. Aku segera terbangun dari tidurku, untuk segera mengambil air wudhu, untuk menunaikan ibadah sholat shubuh. Kesan pertama memang mata ini sulit untuk bisa menatap dengan normal. Tapi, seiring berjalannya detik waktu, perlahan ku mampu membuka kedua mataku secara normal—meskipun rasa ngantuk terus membebani—sampailah di kamar mandi, membaca doa niat wudhu. Tak lama kemudian, aku pun keluar dari kamar mandi dan segera berlari menuju Musholla dekat rumah.
Bersamaan dengan itu, Iqomah juga berkumandang—aku segera melepas kedua alas kakiku dan melangkahkan kaki kananku di rumah Allah—imam pun segera memulai sholat Shubuh 2 rakaat. Tidak bisa dipungikiri rasa ngantuk masih setia mendera dan menguji ke-khusyu’an Sholatku. Tapi, itu bukanlah hal serius, apabila kita sudah membulatkan tekad untuk menunaikan ibadah secara khusyu’, ikhlas, dan tulus.
“Assalamuallaikum warrahmatullahi wabbarakatuh..—imam mengucapkan salam 2x—aku dan makmum lain pun juga mengikuti imam dan setelah itu kami bersalaman dengan satu sama lain. Kemudian, aku panjatkan doa. “Bismillahirrahmannirrahim.. Ya Allah, semoga hari ini, adalah hari yang terindah untuk saya” Doaku dalam hati.
            Sepulang dari Musholla, aku menanggalkan busana muslimku di lemari, dan melipat sarungku ke dalam lemari pula—sebelumnya, alat solat tadi, sudah tertata rapi di dalam lemari—karena aku masih mengantuk dan lelah, aku pun kembali tidur. Alarm aku set pukul 05.00 WIB. Tak lama kemudian—perasaanku mengatakan demikian—alarm handphoneku bordering, “But it’s but real .. why you denied me, baby? While I wait you always .. all in m life I’d sacrifice. Around the world.. it’s hard to find someone like you.—Ringtone lagu LionBlues – Still Friend—langsung aku kaget! | “wah, sudah jam 5!! Kenapa cepet banget yaah?!?!? Gumamku dalam hati.
            Sejurus kemudian, segeralah aku menuju ke kamar mandi—hari itu suasana cukup dingin, karena hujan deras semalam—karena sudah tidak ada waktu lagi untuk memasak air supaya dapat mandi air hangat, aku pun segera saja mandi dengan air yang sudah tersedia di bak mandi—Kota Malang, sangat dingin saat itu—
            “Dingin banget nih air!! Sapa yah nuker air buat mandi ma air es siih?!?! Wah rempong amat! Lanjut ajah!! Gumamku sambil mengigil.
            Tak berapa lama kemudian, aku pun selesai mandi, tetap dengan gaya mengigil. Aku mengambil seragam putih-putih yang terletak di dalam lemari. Setelah berpakaian seragam sekolah dengan rapi—dasi, sabuk, dan bet SMA telah terpasang dengan rapi—
            Aku pun langsung menuju ke luar kamar untuk segera ke dapur, untuk menghampiri kakakku yang sedang memasak untuk sarapan. Melody, ia adalah kakakku yang pertama—aku anak ke 3 dari 3 bersaudara, dan semua kakakku adalah perempuan—Kak Melody adalah kakak yang sangat perhatian padaku, dan kakak keduaku, Veranda. Kak Veranda biasa dipanggil Ve oleh teman teman kuliahnya. Sama halnya dengan Kak Melody, Kak Ve juga sangat perhatian padaku. Mereka berdua adalah kakak cantik yang sangat bertanggung jawab dan dewasa.
            “di bikini teh hangat, dek??” kata Kak Ve.
            “hmm.. iya deh, kak.. dingin juga soalnya” jawabku.
            “iya, dingin emang, jangan lupa pake jaket ntar”. Nasehat Kak Ve.
            “iya, kak!” jawabku singkat.
Bersamaan dengan Kak Ve mengantarkan teh hangat ke meja makanku—kami sarapan bertiga saat itu—
            “Sepeda motornya udah di panasin,dek?” Tanya Kak Melody yang bertinggi sekitar 150 cm ini, tak lebih tinggi dariku. Mungkin dia sebahuku, dan tinggiku adalah 169 cm. aku pun segera menghentikan sarapanku dan segera mengeluarkan motor dari dalam rumah.
            “tuh kan.. kalo nggak diingetin, mesti gitu” sahut kak Melody.
            “udah. Gapapa, kak.. mungkin lagi lupa dia..” elak kak Ve yang bertinggi 164 cm ini.
Mereka berdua pun tetap melanjutkan sarapan. Waktu mulai menunjukkan pukul 05.46 WIB. Aku pun segera menghabiskan sarapanku. Karena waktu tidak akan menungguku menghabiskan sarapan. Lagipula sekolah masuk pukul 06.30 WIB. Dan jika aku terlambat, hukuman sudah menantiku untuk di lahap. Lalu, aku selesai sarapan, tepat bersamaan dengan Kak Melody dan Kak Ve.
            “Buruan, dek ntar telat lho..” nasihat Kak Ve.
Aku hanya mengangukkan kepala sambil memasang sepatu di kedua kaki. Tentu saja dimulai dari kaki kanan terlebih dahulu. Di televisi, kudengar hasil liga Champions Eropa. Yang mempertemukan jagoanku, Chelsea dengan Jagoan kakak sepupuku, Dhen, Juventus. Dhen adalah kakak sepupuku yang tinggal di Jakarta. Dia bekerja disana dengan beberapa temannya. Dia memang lebih tinggi dariku, sekitar 172 cm tingginya. Dia adalah kakak yang baik, dewasa, dan gampang untuk di ajak bercanda. Dan dia juga sering mentraktirku membeli atribut-atribut sepakbola Italia—karena aku juga memfavoritkan atau pun juga mensupport tim tetangga AC Milan, I’ll Nerazzuri, Internazionale Milano—dan pernah juga dia membelikanku jersey Chelsea, jumlahnya 3 buah. 1 kostum Home, 1 kostume Away, dan 1 3rd pack.  Pertandingan 2 raksasa di dua Negara berbeda tu, di selenggarakan di Juventus Arena, Turin—markas besar pasukan I’ll Bianconerri—itu merupakan Matchady ke-5. Dan saat itu kudengar skor berakhir dengan kemenangan Juventus atas tim Biru London 3-0.
            “ya ampun..  lupa kaga liat tadi pagi!!” sesalku.
            “kenapa, dek??” tiba-tiba kak Melody ada di sebelahku sambil meminum secangkir teh hangat. “Itu kak.. Chelsea main.. tapi aku nggak liat, kalah lagi..” curhatku. “hmm.. kaga  apa-apa.. lha udah ada beritanya kan?? Itu di depan mata.. lagian udah lewat, dek pertandingannya. Masih ada pertandingan lain kok, perjalanan Chelsea masih panjang, belum ntar ketemu MU di putaran kedua.” Jawab kakakku yang lahir di tanah Sunda, Bandung 20 tahun yang lalu. “iya, kak..” belum sempat ku selesaikan kata-kataku, Kak Ve datang dan memberitahuku bahwa kekalahan kembali menghantui kubu tum Biru London. “wiih, 3-0 Juve menang ya, dek..” sahut kak Ve. Kemudian aku pun mulai tersentak mendengar kata-kata Kak Ve—saat itu aku masih sibuk memakai sepatu, dan pandangan mataku tidak menuju ke televise—
            “waduh.. kok bisa kalah yaa?!?! 3-0 lagii .. haduuhh..” keluhku
            “iya mungkin belum waktunya menang, dek.. MU aja tadi juga kalah kok” imbuh kak Melody dengan nada halus.
            “Arsenal besok, loh..” sahut Kak Ve.
            “iyaa, kak.. lawan Montepillier kan??” yakinku.
            “yapp! Doain menang yaa” kata kak Ve.
            Bersamaan dengan kata-kata yang terucap dari kakak keduaku itu, aku lekas menuju motorku yang berada di depan rumah—untuk segera berangkat ke sekolah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 WIB—
            “Assalamuallaikum, kak!” kataku sambil berlari keluar rumah dengan membawa tas,
            “Waalaikumsallam! Ati-ati, dek! Jangan ngebut di jalan!” jawab kak Melody padaku. Di saat itu, kak ve tidak mengetahui apabila aku sudah berangkat menuju ke sekolah.
            “Kak Imel, adek mana??” Tanya kak Ve. Kak Melody di panggil Imel oleh teman-temannya, bahkan semua saudaraku memanggilnya seperti itu.
            Udah berangkat anaknya. Baru saja” jawab kak Melody.
Ternyata, bekal makan siangku tertinggal. Dan itu buatan kak Ve! Makanan kesukaanku, lalapan ayam goreng. “sial!!” gumamku di jalan memikirkan bekal makanku yang tertinggal itu. Tapi, tak apalah, nanti di sekolah aku masih bisa membeli nasi di kantin.
             Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju tempat parkir motor yang berada di dekat kantin. Ku taruh helm, dan segera berlari menuju kedalam kelas—kelasku berada di tingkat 2, kelas XII A—Tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi. Anak-anak pun segera memasuki ruang kelas masing-masing, untuk bersiap-siap memulai pelajaran jam pertama. Tak lama kemudian, guru Matematika melangkahkan kaki kanannya, melewati garis batas pintu masuk kelas. Kebetulan, guru tersebut adalah guru yang bisa dikatakan atau dikategorikan, guru matematika yang tegas. Sejurus kemudian, kelas terasa hening. Beliau terus berjalan menuju meja guru yang terletak di depan bagian kiri kelasku.
            “Assalamuallaikum warrahmatullahi wabbarakatuh, selamat pagi anak-anak” salam guru matematika tersebut, namamnya adalah Ibu Wati.
            “Waalaikumsalam warrahmatullahi wabbarakatuh, selamat pagi, Bu.” Jawab anak-anak kelas XII A dengan kompak. Aku hanya bisa merasakan degup jantungku berdebar debar.. karena, pelajaran ini, adalah pelajaran yang menyulitkan bagiku. Kemudian, guru berkata “anak-anak.. hari ini, kita kedatangan siswa baru, dari sistem pertukaran pelajar, antara sekolah kita dengan salah satu sekolah negeri di Jakarta.” Kata Bu Wati menjelaskan.
            “Cewek apa cowok, bu??” sahut teman sekelasku Adit—Adit adalah teman sepermainanku dulu sejak kelas 3 SD. Tapi, saat SMP, Kami berbeda sekolah—
            “kalau yang ini semua cewek..” jawab bu Wati.
            “Waah.. yang jomblo.. yang jomblo..” Kata Etsa, anak paling gokil di kelas setelah Nashrul, Adit, Hendra, Pandu, Banani—Etsa adalah teman sekelasku juga, sejak kelas X SMA bersama dengan Hendra, Iksan, Ja’far, Ivan Arka dan Banani—“hahaha .. “ ketawa anak-anak sekelas. Aku hanya terdiam dan tertawa kecil. Karena takut jika aku ikut ramai bersama yang lain, aku bisa saja ditunjuk untuk maju kedepan kelas dan mengerjakan soal Matematika, kebetulan, hari itu pekerjaan rumahku belum ku kerjakan sama sekali. Keringatku menetes mengalir di kedua pipi. Tiba-tiba, Hendra menepuk pundakku dari belakang—Dia adalah salah satu sahabatku, dia dulu tinggal di Pare-pare, Sulawesi. Dan kini pindah ke Malang karena ibunya adalah orang Malang Asli, sementara ayahnya bekerja di Solo—
            “hooi, tante nung.. knapa lu??” Tanya Hendra.
            “Tante, tante .. kapan gue nikah ma om loe??” jawabku.
            “emang lu pernah nikah ma om gue??” Tanya Hendra dengan bercanda.
            “hadehhh .. enak aja lu kata!! Neng.. Neng..” sahutku.
Tiba-tiba Pandu menyahut dialogku dengan Hendra.
            “Tau nih anak.. Tumben diem” sahut Pandu—Pandu adalah temanku saat masa kanak-kanak dulu, sempat tidak bertemu beberapa tahun karena beda SD dan SMP, dia pindahan dari Bandung dan tentu saja pandai berbahasa Sunda—
            “Ada cewek noh.. bakalan dateng” imbuh Iksan.
            “Hmm.. pasti cantik” tambah Ja’far sambil mengetuk-ngetuk bolpoinnya ke meja. Aku pun tetap terdiam setelah bercanda dengan teman-temanku tadi, walaupun hanya sesaat saja. Lalu, Bu Wati segera memanggil masuk murid baru yang telah menunggu diluar, beberapa saat setelah ibu Wati menjelaskan tentang perihal kedatangan murid baru tersebut.
            “wuss..” Hendra menjailiku dengan meniup-niup bagian belakang kepalaku.
            “ngapain sih, lu neng?? Ganggu aja!!” sahutku dengan sedikit marah.
            “santai, te.. hanya untuk menambah efek dramatis..” kata Hendra dengan nada bercanda.
            “lu piker kita lagi main pilem gitu??” sahutku lagi.
            “yang bener, film.. Tante Gunung.. bukan pilem” serobot si Adit.
            “iye iye, gue tau!! Haadehhh..” sahutku untuk kesekian kalinya.
            Tak lama kemudian, masuklah sosok perempuan, berambut panjang dengan sedikit keriting gantung, dan berponi. Oh, ya. Menggunakan kacamata! Kacamata yang dia pakai, bukan kacamata yang biasa di pakai orang-orang pda umumnya yang meimiliki kelainan mata seperti plus atau min. kacamata yang ia gunakan melainkan kacamata palsu, dan tak berlensa. Dan yang satu lagi, berambut pendek, manis dan berpenampilan layaknya anak laki-laki—tomboy—“anak-anak. Ini dia murid baru kita, mereka berdua merupakan siswi pertukaran pelajar antara sekolah kita yang berdomisili di Malang dan yang berdomisili di Jakarta”  jelas Bu Wati. Kedua temanku yang sedari tadi belum menampakkan suara ocehan dari mulutnya, kemudian mulai angkat bicara. Mereka berdua bernama Banani dan Arka—mereka berdua memiliki kriteria perempuan idaman yang sama. Dan mereka adalah teman sekaligus sahabatku, selain Pandu, Hendra, Adit, Etsa, Iksan, Ja’far dan Ivan—“bussett..” sahut Banani dan Arka kompak, karena mereka berdua duduk bersebelahan dalam 1 bangku di deret nomer 2 dari depan. Sontak, sekelas mentertawakan mereka. Begitupun juga kedua murid baru itu. Mereka tertawa kecil sambil menutupi keindahan bibir mereka.
            Di sekolah kami, yang pindah atau sedang dalam kegiatan pertukaran pelajar ke Jakarta, yaitu, Ray, Bangkit dan Nashrul—Ray, teman dekatku waktu SMP kelas 2 dulu, termasuk anak yang baik dan tidak neko-neko, Bangkit, adik kelasku sekarang, kami sering bermain bola bersama teman-teman SMP ku dulu, dan paling permainan sering dimainkan adalah futsal, dia kelas X B. Sementara Nashrul, aku biasa memanggilnya Azam, ketua kelasku pada saat kelas XI dulu. Dia adalah anak yang baik, dia juga sering mentraktirku makan. Maklum saja, dia anak orang kaya—mereka bertiga sudah berangkat sejak beberapa hari lalu, dan baru tiba di Ibukota Indonesia, kemarin sore, pukul 16.15 WIB. System pertukaran pelajar ini berlangsung selama 1 semester, dilaksanakan dengan upaya adanya ilmu  berbeda yang bisa di dapat oleh siswa maupun siswi yang dalam sistem “Movement Students”
            “Silahkan, memperkenalkan diri” kata ibu Wati.
            “haloo, teman-teman” sapa perempuan berambut panjang yang tingginya tak setinggi aku, mungkin sekitar 155 cm ini.
“haloo..” kata teman-temanku sekelas.
            “Nung,, noh, cewek idaman lu!!” kata Ja’far sambil meneriakiku—Ja’far adalah sahabat baikku juga. Jika mempunyai masalah atau aku butuh bantuannya, aku selalu meminta bantuan ke dia.—sontak, aku pun kaget, karena pada saat itu, aku tidak fokus, pikiranku kemana-mana, dan aku menundukkan kepala sambil tangan kananku mengadah di kepalaku. “hah?! Dimana?! Cantik kan?!” jawabku secara tidak sadar karena kaget. Langsung saja, 2 anak perempuan yang tengah berdiri di depan papan tulis berwarna putih itu tertawa, diikuti dengan teman-teman sekelasku yang lain. Aku hanya bisa menganga melihat bidadari berambut panjang, putih, cantik, berponi. Itulah type perempuan idamanku. Dia melempar senyuman manis yang membuat dadaku terasa seperti ada angin yang berhembus.
            “anak-anak! Harap tenang” sahut Bu Wati yang suaranya sekejap memecah keramaian menjadi hening seketika.
            Perlahan-lahan anak-anak mulai bisa meredam hasrat untuk banyak berbicara, maupun bergurau.
            “perkenalkan.. namaku Stella Cornelia” katanya
            “suit.. suit.. Tante Gunung..” suara si Hendra.
“cie.. cie.. Gunung, semriwing..” sahut Adit.
“waduuh.. mukanya mulai merah..” imbuh Banani.
Aku berusaha mengelak, dari sergahan anak-anak yang menggodaku secara bertubi-tubi, seolah aku berada di sebuah markas tentara Nazi, yang di bombardir habis-habisan oleh pasukan Amerika di Pantai Omaha, bulan Juli tahun 1944. Aku hanya duduk, diam terpaku melihat senyuman manis bagaikan bidadari dunia menyapaku, Yang terpancar dari keanggunan aura Stella Cornelia.
“saya pindahan dari Jakarta, bersama teman saya.. dan mohon bantuannya ya teman teman semua..” kata Stella sambil membungkukkan badan kemudian berdiri kembali—seperti halnya salam dari masyarakat Asia Timur, Korea dan Jepang, ketika melakukan perkenalan terhadap orang yang baru ditemui atau di kenal—“kemudian anak-anak.. siswa yang satu lagi. Silahkan memperkenalkan diri.” Imbuh Bu Wati sambil menengok ke arah perempuan yang berambut pendek sebahu yang juga memiliki senyuman yang tidak kalah manisnya dengan Stella. Dan gadis yang memiliki tinggi sekitar 159 cm ini mulai memperkenalkan diri.
“hai semua..” salam perempuan yang terlihat tomboy ini.
“haiii..” sahut teman-temanku sekelas.

Gunung Mahendra
@GunungCornelia

0 comments:

Poskan Komentar