Sabtu, 25 Mei 2013

"Sebentar" (Part 6)

Ketika tim dan pelatih menuju lapangan, mereka di kejutkan dengan pemandangan yang tak di duga. Tim musuh sudah lebih dulu pemanasan dan berlatih di sudut kiri. Tim musuh berlatih dengan sangat baik. Terlihat kalau skill mereka bagus. Tim SMA CAHAYA NUSANTARA ini pun di kejutkan dengan jumlah penonton yang cukup banyak di stadion musuhnya itu. Tapi ada sesuatu yang janggal pada penonton di sana, mereka seperti mentertawakan sesuatu. Mereka pikir apa yang aneh dengan mereka, sepertinya tidak ada. Dan ketika melihat ke sudut pojok kanan lapangan tempat para cheer leader berlatih, Imo ternyata ada disana menggoda dan mengajak berkenalan mereka satu per satu.
    "Dasar anak itu, membuat malu aku dan tim.." batin pelatih.
    "Yansen, panggil dia. Yang lain latihan dulu.." perintah pelatih.

    Maka Yansen pun menghampiri Imo.
    "Ohh. Jadi namanya Stella ya? Kamu pemimpin cheer leader ini kan? Hhihi. Pantesan paling cantik.." goda Imo.
    "Hhehe, enggak kok. Semua cheer leader disini cantik-cantik." kata Stella.
    "Ohh. Hhehe. Tapi kamu yang paling cantik loh menurut aku. Boleh minta nomer hp nya enggak?"
    "Boleh kok. 082031194848.."
    "Hhehe, makasih yaa.."
    "Eh, bro. Dipanggil pelatih suruh latihan tuh. Sana cepet." kata Yansen.
    "Bentar dulu ah. Jangan ganggu.."
    "Eh, beneran ini. Bentar lagi mau tanding.."
    "Iya udah sana, Imo latihan dulu sana.." suruh Stella.
    "Nggak papa nih aku tinggal? Hhahaha. Nanti ngobrol lagi ya. Byee!"
    "Bye.." kata Stella.

    Imo dan Yansen pun berjalan ke lapangan dimana tim nya pemanasan. Imo senyum-senyum senang sendiri.
    "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Yansen.
    "Nih, lihat. Hhahaha.." kata Imo sambil menunjukan kertas yang di bawanya.
    "Hah? Dari mana kamu bisa punya bolpen sama kertas itu?"
    "Tadi aku minta sama pelatih musuh. Waktu aku dateng, di lapangan cuman ada cheer leader sama pelatih musuh kita. Nah, aku minta kertas dan pinjem bolpennya untuk catetin nama cheer leader itu plus nomer hp nya. Lumayan kan? Hhaha.." jelas Imo.
    "Terus bolpennya buat kamu?"
    "Yaa enggak lah, ini mau aku kembaliin.."
    "Yansen, Imo, cepet ikut latiahn sini!" teriak pelatih mereka.

    Imo hanya tersenyum dan melewati mereka begitu saja. Tapi Yansen mulai ikut pemanasan.
    "Sen, mau kemana dia?" tanya Aji.
    "Mau ngembaliin bolpennya pelatih musuh kita.."
    "Hah? Imo kenal?" tanya Hasby.
    "Enggak sih. Katanya baru ketemu tadi juga.."
    "Bolpennya untuk apa sih?" tanya Hasby lagi.
    "Untuk catetin nama dan nomer hp cheer leader itu. Hhaha.."
    "Apa? Dia dapet nggak? Kertasnya dari mana?" kata Alvin.
    "Dapet semua malah. Kertasnya juga dapet dari pelatih itu.."

    Imo pun menghampiri mereka semua. Ia tersenyum sangat senang.
    "Haloooo. Pada ngomongin aku ya? Hahahaha.."
    "Udah Imo. Cepet kamu latihan. Jangan buang waktu lagi.." kata pelatih.
    "Pak, musuh kita pakai formasi 5-3-2 loh. Mereka pasang satu pemain di depan keeper. Kayaknya yang badannya tinggi itu." jelas Imo sambil menunjuk ke salah satu pemain musuh.
    "Dari mana kamu tahu?"
    "Tadi waktu ngembaliin bolpen pelatih itu, aku sempet lihat papan susunan formasinya. Hhaha.."
    "Hmmm. Kalau begitu, kita harus berhati-hati. Gunakan counter attack sebaik mungkin.." ucap pelatih.

    Mereka semua pun berlatih bersama lagi. Imo ikut pemanasan, namun ia tidak fokus. Ia terus saja melirik ke gadis cheer leader bernama Stella. Kadang ia melambaikan tangan, namun tidak di balas. Dan pertandingan pun akhirnya dimulai. Ke dua tim bersiap di tengah lapangan.
    "Priiiiiitt.."
    Suara peluit wasit menandai dimulainya pertandingan itu. Imo masih di cadangkan. Namun ia justru tidak menyaksikan jalannya pertandingan, ia justru menyimpan nomer hp dan nama-nama cheer leader yang ia dapatkan tadi di hp nya.
    Berjalan dua puluh tiga menit, gawang tim CAHAYA NUSANTARA kebobolan lebih dulu. Pemain belakang tidak menduga kalau musuh berniat mengumpan bola pada rekannya, padahal jarak dengan gawang sudah dekat.
    "Wahh.. Gebleeek!" teriak Imo dari bangku pemain.

    Kedudukan pun 1-0 untuk tim tuan rumah. Tim dari sekolah Imo selalu mencoba menyusun serangan, namun selalu gagal dan bisa di baca oleh pemain belakang lawan. Hal itu membuat mereka mendapat serangan berubi-tubi dari tim musuh. Sang pelatih bingung, apa taktik yang akan ia gunakan lagi. Melihat counter attack selalu gagal, serangan dari sayap pun tidak berhasil, pelatih bingung. Belum lagi ini pertandingan pertama dan pertama kalinya juga SMA ini mengikuti kompetisi ini.
    Jelang menit ke empat puluh, tuan rumah kembali mencetak gol lagi. Kali ini melalui umpan dari sayap kanan mereka, dan di sambut dengan baik oleh pemain bernomer punggung sepuluh mereka, yang tidak lain adalah pencetak angka gol pertama tadi.
    "Hiiiiaaah. Kebobolan lagi? Kasihan sekali. Prihatin, prihatin.." kata Imo.
    "Imo, nanti kamu langsung main di babak kedua. Sekarang pemanasan lagi sana.." perintah pelatihnya.
    "Pemanasan lagi pak? Masih capek saya pak. Saya main akhir-akhir aja, di sekitar menit tujuh puluhan lah. Ya pak? Nanti di ruang ganti saya bantu bapak susun strategi. Hhaha.."
    "Memang kamu bisa? Jangan main-main kamu. Ini kejuaraan pertama kita.."
    "Tenang aja pak. Percaya sama saya. Hhahaha.."
    Sang pelatih itu masih belum percaya pada Imo, melihat Imo adalah anak yang nakal. Bahkan awalnya pun sang pelatih tidak berniat memasukan Imo ke dalam tim, tapi karena sang kapten Aji, bersikeras, maka Imo masuk dalam tim. Sang pelatih menjadi bingung apa yang Aji ketahui dari Imo sampai ia bersikeras memasukan anak itu.

    Babak pertama pun berakhir. Semua pemain masuk ke ruang ganti untuk istirahat 15 menit. Di sela itu, Imo sibuk menyusun strategi.
    "Nah, ini pak strategi saya. Hhahaha.." sambil menunjukan papan.
    "Strategi apa itu? Aneh sekali.." kata Aji.
    "Iya, nggak mungkin bisa pakai strategi aneh kayak gitu.." tambah Hasby.
    "Cerewet. Kalian itu mainnya jelek sekali, nggak cocok jadi pemain bola. Mending gantiin cheer leader aja. Hhahaha.."
    "Sudah, tidak usah ribut. Imo, coba jelaskan strategimu itu.." kata pelatih.
    "Uhuk. Gini pak. Formasi ini 3-2-1-2-2. Kalau dari kiper di tarik garis keliling sampai semua titik ketemu di pemain tengah, bentuknya jadi "Love". Hhahaha.."
    "Apaan itu? Terus hebatnya dimana?" tanya Alvin.
    "Hebatnya itu kalau kalian main bola pakai hati, jangan main bola karena ingin menang aja. Main bola itu perlu feeling juga, percuma jadi pemain bola tapi main hanya untuk cari uang dan terkenal. Sementara ia nggak sama sekali cinta sama permainan itu. Main bola juga pakai otak, jangan asal nyerang, gagagl, terus nyerang, gagal lagi. Tapi susun serangannya yang rapi, sebisanya bikin pemain belakang mereka itu terpancing maju.."
    "Betul apa yang di bilang Imo. Babak pertama tadi kalian nggak main kayak waktu kita latihan dulu. Kali ini kalian main terburu-buru, nggak ada satu shoot pun dari kita. Di babak ke dua nanti, kalian harus main dengan baik. Buat peluang sebanyak mungkin, dan manfaatkan itu.."
    "Siap pak!" semua pemain pun kembali semangat. Sementara Imo hanya tertawa sendiri mengingat wajah mereka saat ia ceramahi tadi.

    "Imo, akhirnya bapak tahu kenapa Aji bersikeras memasukan kamu ke tim.." kata pelatih.
    "Hahaha.." Imo tertawa. Namun ia tidak tahu apa yang di katakan pelatihnya. Ia tertawa karena masih mengingat wajah teman satu timnya tadi.
(*)

    Babak kedua dimulai. Mereka akhirnya menggunakan formasi yang diberikan Imo tadi, walau masih belum yakin akan berhasil, namun mereka ingat perkataannya untuk bermain bola dengan hati dan otak, jangan hanya karena ingin menang.
    Dan ketika berjalan dua puluh menit, Aji pun berhasil mencetak gol lewat umpan terobosan yang di berikan oleh Yansen. Kedudukan kini menjadi 2-1, masih unggul untuk tuan rumah. Namun setidaknya, ada perubahan dari segi permainan.
    "Imo, sekarang kamu pemanasan. Nanti kamu ganti Hasby dan jadi center forward.." perintah pelatih.
    "Siap pak!"

    Imo pun turun ke lapangan, dan pergi ke pinggir lapangan. Penonton masih mengingat kekonyolannya tadi, maka beberapa memperhatikan tingkahnya. Namun, bukannya latihan, Imo malah menghampiri Stella di beberapa cheer leader yang ada disana. Pelatih mengetahui hal itu, dan membentaknya dari jauh. Maka Imo pun langsung sungguhan pemanasan. Baru lima menit pemanasan, Imo sudah dimainkan. Beberapa penonton penasaran bagaimana cara Imo bermain. Banyak dari mereka yang meragukan kepandaian Imo, karena kekonyolan yang sudah dilakukan itu sangat tidak rasional.
    Tapi baru sepuluh menit bermain, penonton dikejutkan dengan aksi individual Imo. Ia membawa bola melewati dua orang, sayangnya orang ke tiga menjegalnya dan membuat Imo terjatuh. Kakinya pun sakit karena ia tidak pemanasan dengan benar sebelum bertanding. Maka ia pun di gotong ke pinggir lapangan. Tapi karena itu, timnya mendapat hadiah pinalty. Dan sang kapten, Aji, yang akan mengeksekusinya.
    Aji pun menendang bola, dan bola tersebut masuk. Keeper musuh mengira bola akan ke arah kanan, padahal ke arah sebaliknya. Maka kedudukan pun jadi imbang berkat dua gol dari Aji. Pelatih dan pemain lain pun senang dan kembali semangat. Para penonton pun bertepuk keras karena itu. Bukan karena kedudukan imbang, namun karena melihat usaha yang dilakukan oleh tim tamu, terutama Imo yang sampai kakinya sakit.
    Pertandingan pun kembali di lanjutkan, dan Imo masih di obati di pinggir lapangan. Stella dari kejauhan pun melihatnya. Walau belum terlalu kenal siapa Imo, tapi Stella tahu bagaimana asiknya anak nakal yang satu itu. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya.
    "Kamu nggak papa Mo?" tanya Stella.
    "Eh, kamu. Hhehe. Aku nggak papa kok, kayak gini aja belum ada apa-apanya.."
    "Aduh. Padahal sakit banget nih. Sial." batin Imo.
    "Udah, nggak usah main lagi. Ganti pemain yang lain aja, jangan terlalu memaksakan.."
    "Hhahaha. Ternyata ada yang peduli ya walau belum kenal banget ma aku? Hhhaha."
    "Aku serius. Jangan bertindak bodoh dan sakit cuman karena ingin menang.."

    Imo kaget akan perkataan Stella itu. Ia hanya tersenyum, lalu berkata..
    "Kalau mencari kemenangan itu kebodohan, aku mau kok jadi orang bodoh. Asal aku bisa menang terus. Hhehehe.."

    Stella pun hanya terdiam mendengar itu. Ternyata anak nakal dan konyol ini sebenarnya berbeda.
    "Kalau begitu, cepat main sekarang. Dan harus menang!" kata Stella.
    "Loh? Kamu dari tim tuan rumah kan? Kok malah dukung aku? Aneh.."
    "Itu nggak penting, aku cuman ingin lihat seberapa bodohnya kamu! Bye!"

    Stella pun kembali ke teman-temannya. Imo tahu kalau Stella menyemangatinya, maka ia kembali bermain lagi. Dan waktu tersisa lima menit saja.
    "Gimana nih bro? Waktu tinggal lima menit?" tanya Yansen.
    "Jangan bilang tinggal, tapi bilang masih. Ayo, jangan di sia-siain." kata Imo.
    "Okelah.."

    Permainan kembali dimulai. Tim tuan rumah menyerang terus menerus tim tamu, tim tamu hanya bisa bertahan. Penonton semakin yakin kalau tim tamu akan kalah. Tapi, ketika bola berhasil di ambil keeper tim tamu, bola itu langsung di tendang jauh ke Imo yang berdiri di garis paling depan. Maka Imo mengambil bola itu. Tersisa tiga pemain belakang tim tuan rumah, Imo mencoba melewatinya. Ia berhasil melewati pemain pertama, saat ingin melewati pemain kedua bolanya terlepas dan bergulir ke belakang. Tapi disana ternyata ada Yansen. Maka Imo kembali berlari ke depan. Mengetahui maksud sahabatnya itu, Yansen memberi through pass ke Imo, dan mengecoh back ke dua. Kini Imo berhadapan dengan back terakhir yang badannya sangat tinggi. Namun ia tidak mau ambil pusing, ia menendang bola ke arah back itu, dan mengenai perutnya. Maka back itu pun sedikit lengah, dan Imo kembali mengambil bolanya.
    Yansen, Aji, Alvin berlari dari belakang untuk membantunya. Belum sampai, Imo sudah menembakkan bola itu ke gawang dan gol. Keeper musuh terkecoh dengan arah bola. Dan peluit akhir pertandingan bunyi disaat itu. Mereka pun bersorak karena menang di pertadingan pertama ini. Pelatih sangat senang, begitu juga dengan semua pemain cadangannya.
    Stella dari kejauhan melihat itu, Imo pun melambaikan tangannya. Dan Stella hanya membalas itu dengan senyuman. Penonton bertepuk tangan keras atas permainan bagus dari mereka semua. Baik tim tamu, maupun tim tuan rumah, mereka bermain sangat bagus..

    ~ Wait for the next Part ~

0 comments:

Poskan Komentar