Jumat, 24 Mei 2013

Angel Brillo

Matahari pagi menyinari seluruh area yangberada di Indonesia bagian barat. Saat itu tepat pukul 06.15 WIB. Tampak dikejauhan seorang gadis berambut panjang sebahu—terlihat panjang karena adasedikit wave bending di kedua ujungsisi rambut—mengenakan kacamata dan memakai seragam merah muda dengan lenganpanjang berawarna putih, serta rok yang panjangnya tak sampai se-lutut.  Dan kaus kaki hitam kecoklatan panjang sampaibetis. Tentu saja juga mengenakan sepatu. Dia nampak terburu-buru menuju kesekolahnya. SMAN48. Dimana sekolah tersebut, semua muridnya adalah perempuan.Gerbang sekolah akan segera ditutup  olehsatpam yang bertugas. Terlambat seper sekian detik saja, dia sudah tidakdiperbolehkan untuk masuk kedalam sekolah dan mengikuti pelajaran yangbersangkutan. Dia masih berlari, menuju lorong sekolah yang sudah sepi, hanyatampak 1, 2 orang Office Girls yangsedang membersihkan ruang-ruang kelas yang kosong. Tak lama kemudian, tepat di kelas XII A, langkah itu berhenti,terdengar suara ketukan pintu memecah kesunyian kelas XII A yang sedangmelakukan kegiatan Belajar Mengajar. Tepat saat itu adalah pelajaran IPA.Suasana sejenak menjadi hening.
                        “maaf, bu. Saya terlambat.” Kata gadiskelahiran Semarang ini.
                        “hmm.. kamu saya izinkan masuk, tapibersihkan kelas ini dulu.
“kata Miss Takamina—Takahashi Minami—guru asal Negeri Sakura Jepang bertinggisekitar 160 cm ini kepada Stella. Stella hanya menganggukkan kepala untukmemberi isyarat kalimat ‘ya’. Yap, Stella Cornelia. Dia adalah gadis yang baik,rajin, cantik dan pandai. Semangatnya yang selalu ingin menjadi yang utama,mampu mengalahkan rasa-rasa negatif yang membuat kacau pikirannya. Dia jugaadalah gadis yang tegas, kuat dalam pendirian dan pekerja keras. Dia jugaadalah seorang kakak yang baik dan dewasa, meskipun Stella juda ‘doyan’ menjahili adiknya hinggamenangis. Sekalipun hal itu sering ia lakukan, ia adalah kakak yang sayangterhadap adiknya, Sonia Natalia. Gadis cilik ini akrab di sapa Wawa oleh temansebaya nya. Wawa, berumur 1 tahun lebih muda daripada kakaknya. Wawa berumur 17tahun. Sedangkan Cici, panggilan akrab Stella, berumur 18 tahun. Stella jugaseumuran dengan Gunung, teman dekatnya yang lahir di Tangerang tapi sudah lamamenetap di Kota Bunga, Malang. Bersama Stella dan Sonia yang juga baru pindahdari Semarang.

                        Mau tidak mau, Stella mengerjakannya.Kemudian, dia melangkahkan kaki kanan nya memasuki kelas. Sorak sorai cemoohmenyambutnya, bak tim Sepakbola yang bertamu ke kandang lawan, dan mendapaatsambutan kurang menyenangkan dari kubu tuan rumah. Itulah yang dirasakan Cici.Dia berusaha untuk tidak mengindahkan hal itu, dengan pandangan lurus, iamenaruh tasnya di atas meja belajarnya di kelas. Ia tetap berjalan untukmengambil sapu yang terletak di ujung kelas. Ghaida yang merupakan ketua Gang di kelas. Mempunyai sifat keras,tegas dan berjiwa laki-laki, meskipun secara harfiah dia adalah seorang anakgadis. Perawakan yang manis, dengan rambut pendek ber-style Jepang. Selalu menjadi ciri khas nya. Meskipun terlihat sangar, dia termasuk gadis yang feminim.Dalam Gang yang ia pimpin, diamengomandoi Jessica Vania Widjaja-Jeje—, Sonya Pandarmawan—Panda—, RezkyWiranti Dhike—Dhike, Sendy Ariani—Sendy—tiba-tiba mengganjal kaki Stella hinggaakhirnya ia terjatuh. Kacamatanya pun lepas dari tempat dimana benda ituberada, Stella hanya diam tanpa sepatah kata pun terlontar dari mulutnya.
                        “ouh.. kasian, ada yang jatuh. Huhuhu..” ejekGhaida.
                        “makanya, jalan liat-liat dong, non cantik..”sahut Dhike.
                        “ada apa ini ribut-ribut??” suara MissTakamina pun memecah kebisingan tersebut.
                        “Stella jatuh, bu! Tadi di jatuhin ma siKamen!” teriak Ve.
                        “iya, bu.. kita juga barusan liat, kok!Stella jatuh!”
                        “enak ja lu! Nuduh temen gue, orang Stellajatuh sendiri” cecar Panda.
                        Stella pun segera berdiri dan berkata..
                        “udah! Gue gak apa-apa, tadi cumin kesandungma ujung meja” elak Stella. Sambil memegangi lutut kanannya yang memar karenaterbentur lantai. Ghaida dan kolega-nya tertawa sinis melihat gadis yang jugaMilanisti ini. Ve, yang merupakan salah satu sahabat Stella, yang bernamalengkap Jessica Vania Tanumihardja. Ia lahir 19 tahun lalu di Bandung. Gadiscantik ini memiliki tinggi kurang lebih 168 cm. dan hal yang paling menarik,ialah kibasan rambutnya yang mirip bak iklan shampoo seperti di layar kaca televise pada umumnya. Bersuahamembantu Stella untuk berjalan. Tapi, hanya melambaikan tangan pada Ve yangberada di dekatnya.
                        “Cici, sini aku bantuin berdiri..” kata Vesambil mengulurkan tangan.
                        “udah, gue gak apa-apa, lu lanjutin pelajaranaja.” Kata Cici dengan nada halus.
                        “beneran kaga apa-apa lu, Ci?” imbuh Shania,yang akrab di sapa Njuu ini. Dia berasal dari Kota Bakso, Solo. Gadis yangmemiliki tinggi kurang lebih se Ve ini juga termasuk senpai –gadis yang populerdiSMA48. Dia juga anggota OSIS, bersama Kinal, Stella, Ve, dan Beby. Kinal, iaadalah ketua kelas XII-A. meskipun umurnya masih tergolong muda, sekitar 19tahun, dia sudah mampu memimpin kelas XII-A ini. Gadis satu ini memangmempunyai gaya bahasa dan tata cara bicara layaknya seorang atasan di tingkatkemiliteran. Tak heran, kawan-kawannya banyak memanggilnya dengan sebutan “Miss General” atau bu Jendral. SementaraBeby, berumur 15 tahun. Gadis kelahiran Bandung ini, baru merayakan ulangtahunnya yang ke-15 19 Maret lalu. Beby Chaesara Anadilla itulah namalengkapnya. Dia sangat mahir dalam hal Dance.Keahlian dance-nya juga turutmembawanya sebagai salah satu siswi yang berprestasi. Banyak dariteman-temannya berguru padanya. Meskipun dia jago dalam hal tersebut, ia samasekali tidak besar kepala. Dan selalu berkata “aku tidak sejago Agnes Monicaatau Dancer-dancer kelas dunia lain.Aku masih butuh banyak belajar” mayoritas, memanggil Beby dengan sebutan “Queen” atau ratu, jika menilik bakat danskill dancing-nya yang memukau.
                        Setelah membersihkan kelas, kurang lebih 13menit, Cici sudah diperbolehkan duduk di tempatnya. Dan mulai mengikutipelajaran. Stella mengikuti pelajaran dengan semangat dan antusias. Begitupundengan siswi yang lainnya. Beralih sejenak ke kelas XI A, terdapat AyanaShahab—Achan—, Frieska Anastasia Laksani—Mpriss—, Nabilah Ratna AyuAzalia—Biyah—, Sonia Natalia—Wawa—, Cindy Christina Gulla—Cigull—, RenaNozawa—Rena—, Sinka Juliani—Sinka—Cindy Yuvia—Yupii—, dan 10 orang siswilainnya. Ayana dan Rena sama-sama lahir di Jepang. Yang membedakan ialah, Ayanaadalah keturunan Arab-Jepang. Sedangkan Rena, ialah produk asli Negeri MatahariTerbit tersebut. Mereka berdua sering berkomunikasi menggunakan Bahasa Jepang,tapi juga terkadang menggunakan Bahasa Indonesia. Ayana, yang biasa di panggilAchan ini, selalu tertidur di kelas, setelah mengerjakan PR di pagi hari, dandisaat istirahat kebiasaannya ini menimbulkan kesan bak seorang putri tidur,dan teman-temannya tak ragu untuk memanggilnya dengan sebutan Sleepy Head. Rena. Sahabat si adik kecilAyana  ini, memiliki tinggi kurang lebihse Veranda. Rena ini juga sering kesulitan dalam membangunkan si Sleepy Head. Walaupun selalu kesulitandalam membangunkan Achan, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untukmembangunkannya. Hingga akhirnya gadis kecil manis bermata sayu ini punterbangun.
                        “Achan.. ayo ke kantin.” Ajak Rena.
                        “hmm.. sekarang, Ren?” Tanya Achan yangberusaha membuka mata.
                        “iya.. ayo, ayo buruan! Keburu terlambatnanti..” seru Rena sembari menarik-narik tangan Achan. Kebetulan, saat itukelas XI-A di perbolehkan istirahat terlebih dulu, dikarenakan mereka jugasedang free setelah mengikuti UjianTengah Semester.
                        “oke.. oke.. aku bangun dulu nih..”. jawab Miss Typo ini. Achan juga di juluki miss Typo, karena kebiasaan nya yangsering salah dalam mengerik sesuatu, terutama status di media-media sosial.Mereka pun akhirnya pergi berdua ke kantin. Melewati kelas XII-A yang sedangada pelajaran IPA, dan di pimpin oleh Miss Takahashi Minami, a.k.a. MissTakamina. Salah seorang guru favorit Stella. Miss Takamina mengajar IPA,setelah ditunjuk oleh kepala sekolah untuk menggantikan posisi dari Miss MelodyNurramdhani Laksani yang sakit. Miss Melody juga kakak kandung dari Frieska.Miss Takamina juga tidak mengalami kesulitan dalam bahasa. Karena ia menguasai3 bahasa berbeda. Antara lain, English, Indonesia dan Japanesse tentunya. Guruberumur 21 tahun ini berangkat ke Indonesia, ditemani oleh beberapa guru ataupun teman-temannya yang juga memberdari AKB48. Salah satu Idol Groupdari Jepang. Teman-teman dari Miss Takamina ini, antara lain adalah MissKashiwagi Yuki, guru bahasa Jepang, Miss Kojima Haruna, guru bahasa Inggris,Miss Haruka Shimazaki, guru Penjaskes—Pendidikan Jasmani dan Kesehatan—, MissWatanabe Mayu sebagai guru Matematika dan Kesenian, sementara guru terakhir,ialah Miss Juju, atau Matsui Jurina.
                        Di SMA48 ini, juga terdapat ekstrakulikuler dance, yang berdasarkan konsep dari Idol Group AKB48 di Jepang. Sistem inidigunakan untuk memotivasi siswi yang memiliki bakat dalam dance, menyanyi dan modeling.Nilai plus diberikan, apabila siswi yang berprestasi bias memiliki keunggulandi dunia acting. Semua siswidiwajibkan mengikuti eksul ini, siapapun, berapapun umurnya.
                        Bel pulang sekoah berbunyi. Semua siswi SMA48ini tampak bahagia dan bersorak ria. Karena ini adalah hari sabtu, akhir pekan,dimana besok adalah hari minggu. Dimana semua elemen masyarakat dapatberistirahat. Kecuali pemerintah. Miss Takamina pun memperbolehkan siswinyauntuk berkemas dan bersiap meninggalkan kelas. Terlihat Stella kebingungan.Tampaknya dia kehilangan sesuatu!
                        “handphone-kudimana, ya?” gumam Stella dalam hati.
                        “kenapa, Ci?” Tanya Shanju.
                        “eee.. HP gue ilang deh..” curhat Stella.
                        “terakhir lu taruh dimana?” sahut Rica.
                        “tadi, gue taruh di tas gue, disini..” ujarStella sambil beberapa kali membongkar-bongkar isi tasnya.
                        “emang HP lu kaya gimana, Ci?” Tanya ShanjuGadis kelahiran Solo ini.
                        Karena kebingungan, Stella tidak menghiraukankalimat yang terucap dari Shania. Melihat Stella yang kebingungan, Sendytertawa sinis ditemani oleh Ghaida dan Jeje. Tampaknya, mereka sengajamenyembunyikan handphone milikStella. Tampak tangan Jeje mengenggam handphoneStella yang berwarna merah muda. Hal ini dilakukan dengan motivasi supayaStella tidak bias pulang ke rumahnya yang terletak cukup jauh dari sekolahnyaini. Sekitar 3 Km! diluar kelas, Sonia sudah menanti kedatangan sang kakak.Tiba-tiba, Ghaida yang berjalan menghampiri Stella yang sedang berkumpul denganRica, Ve, Shanju, Kinal dan Beby menabrak Stella dari belakang dengan sengaja.Dan Sonia pun ikut nimbrung bersamamereka.
                        “oops.. sakit, yah? Sorry gue gak liat lu berdiri di situ” kata Ghaida sambil berkacapinggang.
                        “makanya kalo lagi ngerumpi jangan ditengahjalan dong, woy!” sergah Jeje. Gadis berkulit putih yang juga keturunanTionghoa ini, lahir 17 tahun yang lalu dan baru berulang tahun bulan Januarilalu. Dia juga biasa di panggil Cici Bakpau. Karena melihat pipinya yangmengembang seperti bakpau saat tersenyum, maupun tertawa.
                        “lu bisa nggak sih, gak ngganguin Cici??”bentak Rica.
                        Panda mendorong Rica dan menatap mata Ricadalam-dalam.
                        “masalah buat loe? Emang loe siapanya Cici?”sahut Panda Sinis.
                        “Gue..” belum selesai Rica bicara, Cicilangsung berdiri di tengah-tengah Panda dan Rica.
                        “lu berdua, bisa nggak sih dewasa dikit?Udahan lah..! yuk, kita pergi aja, cumin nambah-nambah dosa doang kita disini!”kata Cici dengan nada sedikit geram dan berjalan menjauhi Ghaida dankolega-nya. Diikuti dengan teman-temannya. Kemudian, secara mendadak terlontarkata-kata dari Ghaida yang berdiri diantara Jeje dan Panda.
                        “hei.. Stella! Berani lu ngacir gitu aja darimuka gue?” kata Ghaida sinis.
                        “pengecut lu ya?? Huuftt..” Panda menghelanafas.
                        Cici yang merasa terusik, mulai menghentikanlangkah kakinya. Dia terdiam sejenak. Teman-temannya heran. Apa yang terjadidengan Stella? Dia berdiri terdiam tanpa kata ditengah lorong kelas yang sepi,dan disinari sinar matahari siang yang terik.
                        “lu bertiga, bisa diem kaga?” kata Cici yangmenundukkan kepala.
                        “ouh, mulai songong nih anak ternyata..”sahut Cici Bakpau.
                        “tau tuh, udah punya nyali gede keliatannya”imbuh Panda.
                        Ghaida hanya tersenyum sambil menatap Stelladengan pandangan penuh kebencian, kedengkian dan rasa dendam. Sonia pun tampakheran. Apa yang terjadi dengan kakak kandungnya itu.
                        “aduh, kakak gue kenapa lagi ini..” gumamSonia dalam hati.
                        “Sonia, kenapa tuh kakak loe?” Tanya si Dancing Queen, Beby.
                        “gue juga nggak tau, Beb. Biasanya kakak gakgini deh”. Kata Sonia dengan sedikit pucat wajahnya.
                        “kalo loe berani.. sini kita selesain pakecara cepet..” tantang Ghaida.
                        Stella yang dari pagi sudah merasa gregetan,segera menileh sedikit, sekitar 45° ke kiri menghadap jendela yang terkenapancaran sinar matahari. Lalu ia berlari dengan cukup kuat dan cepat hinggadaun-daun kering yang berguguran diluar sekolah, seakan terkena efek darikecepatan lari Stella hingga bertebaran di udara. Dalam sekejap, tangan kananCici yang mengepal, sudah berada tepat di depan wajah Ghaida yang bercucurankeringat di kedua sisinya secara bergantian. Stella mempunyai kemampuan gerakreflek tubuh yang luar biasa. Dan, seketika suasana hening..
                        “hmm.. kenapa? Gak berani lo ngehajar gue?”tantang Ghaida.
                        Cici terdiam sejenak, dan perlahan iaberkata..
                        “kita liat aja, apa yang bakal terjadiberikutnya..” kata Cici dingin.
                        “Ghaida..” sahut Panda.
                        “Kak Stella..” kata Sonia sambil menggengamkedua tangan nya di depan dada.
                        “Ci, udahan! Ayo kita pulang! Teriak Shania.
                        Tangan Cici yang sudah bersiap mendarat dipipi Ghaida, tertunda karena ajakan dari sahabat karibnya, Shania. Ia punmengurungkan niatnya itu. Tangan Cici yang bergetar karena emosi yang sudahmeluap-luap turun perlahan. Ia memutar badan, membelakangi Ghaida. Kibasanrambutnya bak iklan shampoo yang erlibas di depan wajah manis Ghaida.
                        Stella dan kawan-kawan berjalan menjauhimereka bertiga. Mereka berusaha menengangkan Stella.
                        “kakak.. udah ya, jangan marah lagi..” ujarSonia berusaha menenangkan Stella.
                        “hmm.. iya, dek. Makasih ya”. Stella  berjalan bersama teman-teman sebaya nya.Sementara Ve, Shanju, Beby dan Rica sudah pulang terlebih dahulu yang sudahditunggu masing-masing oleh keluarganya yang sudah menunggu di depan gerbangsekolah.
                        “Cici, gue pulang dulu ya ma Kak Ve n Bebyyah..” mereka bertiga melambaikan tangan ke Stella dan Sonia. Matahari yangtadinya terik, mulai mengurangi intensitas cahaya panasnya. Stella yang handphone-nya masih belum ditemukan,masih tampak kebingungan. Sonia, kemudian melihat jam yang berada dipergelangan tangan kirinya.
                        “jam berapa, dek?” Tanya Stella.
                        “jam.. 02.15 AM, kak.. laper nih”. CurhatSonia.
                        “hmm.. bentar lagi ya, abis ini mungkin papanyusul, kok..” Stella berusaha menghibur adiknya itu dengan mengelus-elusrambutnya.
                        Kriingg..! terdengar suara bel pulang sekolahdari SMA46 yang terletak di sebelah sekolah yang di komandoi oleh kepalasekolah Miss Oshima Yuko ini. Tampak beberapa siswa laki-laki beredar  menuju keluar sekolah yang di seberang jalan adataman yang asri dan terdapat air mancur di tengah-tengah area taman. Beberapa siswa SMA46 yang mengenakan jersey sepakbola berwarna biru-birulengkap dengan sepatu bola beserta kaus kakinya. Jersey yang mereka kenakan tidak lain tidak bukan ialah, jersey dari klub asal Ibukota Inggris,London. Tepatnya London barat, yaitu Chelsea FC. Mereka adalah anggota dari Chelsea FC Soccer School Indonesia. Yangbercabang di kota-kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Kota Bunga,Malang ini. Tampak anak-anak laki laki ini berjalan dalam satu kesatuan. Merekaadakah siswa yang mengikuti seleksi klub milik Roman Abramovich, seorang taipanasal Rusia. Mereka berjalan menuju lapangan di sebelah timur taman. Disanatampak seorang pelatih yang mengenakan topi berinisialkan RD. di lapangan itupula tampak beberapa siswa SMA46 yang sudah berkumpul terlebih dahulu dammelakukan warming up. Terlihat Gaung,Ray, Pandu, Adit, Hendra, Bima, Hadi dan Bangkit. Sedang melakukan larimengelilingi lapangan sebanyak 5x. di bawah asuhan assistanceallenatore—assisten pelatih—Djoko Susilo yang juga assisten pelatih di timArema Indonesia FC. Aku dan Stella saling menatap satu sama lain. Awalnyamemang tidak ada kesan berarti. Tapi aku merasa, aku pernah bertemu dengannya,mengenalnya, tapi aku tidak mengetahui siapa sebenarnya gadis yang menatapku.
                        “Gun.. loe bengon aja, ayo buruan jalan nye!”sahut Iksan.
                        “oh, oke..oke.. sabar napa??” jawabkusingkat.
                        “ayo! Rebut aja ku berdua!” sergah Zuhdy.
                        Tiba-tiba terdengar suara pembicaraan dibelakang gerbang sekolah SMA48. Dan suara itu pun terdengar semakin keras.Tampak Ghaida, Jeje Dhike, Panda dan Sendy. Sendy dan Panda tampak sedang asyikmemainkan handphone milik Stella.
                        “ou.. ou.. ou.. ada si Cici disini..” kataGhaida yang baru menoleh kea rah kiri ketika menginjakkan kaki keluar darisekolah.
                        “hehehe.. rupanya ada bidadari kampungandisini..” imbuh Sendy yang sedang melempar-lemparkan handphone ke udara.
                        “ngapain lagi kalian kesini? Bisanya cumannggangu kakak gue aja!” sergah Sonia yang sudah menahan emosi sedari tadi.
                        “tau apa lo, bocah?” sahut Jeje.
                        “huuh.. awas loe ya!” Sonia menggengam tangankanannya, dan tampak ingin menghajar Jeje, tapi, dengan sigap Stella menahanlajunya dengan menghalangi menggunakan tangan kanan nya.
                        “preet.. setan loe!” tambah Jeje lagi dengangaya meremehkan.
                        “ngapain, loe belum pulang, Stell?” Ghaidamenghampiri Stella.
                        “bukan urusan loe!” jawab Cici singkat.
                        “hmm.. mulai belagu lu ya!” Ghaida sudahberada tepat di depan Stella. Menatap tajam ke dalam mata Stella. Tak lama,tangan kanannya diangkat, dan mulai menuju dagu Stella.
                        “heeh.. mo ngapain loe??” Cici mulai resahdengan perlakuan Ghaida.
                        “gak suka loe gue giniin?” Ghaida menatapStella.
                        “lepasin, gak tangan loe dari gue?!” tantangStella.
                        “so?What you gonna do? Screaming to looking for a helps, huh?” ujar Ghaida.
                        “Ghaida gimana nih handphone butut di tangan Sendy?” Dhike ikut dalam pembicaraan.
                        “buang aja.. buat apa juga, kita nyimpengituan” imbuh Panda.
                        Sendy dan Panda yang memainkan handphone Stella, dengan sengajamenjatuhkannya. Praakkk! Handphone Stellayang terlihat masih bagus itu pun mulai tak beraturan. Baterai, LCD dan komponen-komponen yang lainberserakan. Kraakk! Bunyi itu seolah memecah keramaian adu mulut antar senpai—member atasan yang populerSMA48 ini.
                        “oops,sorry, hape lu gue injek..” Dhike membuka obrolan.
                        “uu.. kacian, hape masih bagus dah ancur”imbuh Sendy yang juga bisa bernanyi dengan music dangdut ini.
                        “padahal.. gue mau ambil tuh hape, kanlumayan bisa kita jual terus duitnya buat makan-makan” Panda merunduk melihatkondisi handphone Stella yang hancurtak berbentuk. Ghaida menoleh sejenak kea rah teman-temannya, dan tertawasinis. Tangan kiri Ghaida perlahan membelai rambut Stella yang terurai lembut.Sementara tangan kanan nya masih berada di bawah dagu Stella.
                        “Je, Ghaida ngapain sih?” Dhike penasaran,dia bertanya pada Jeje dengan suara yang relativekecil.
                        “hmm.. biasa. Kaya lu gak pernah kenal Ghaidaaja.” Jawab Jeje sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sambil berlagakseperti seorang bos yang  menunggui anakbuahnya bekerja. Stella hanya bisa termenung diam melihat tingkah Jeje, Sendydan Dhike yang menghancurkan handphone Stella.Sonia yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, perlahan meneteskan air mata, diamerasa bersalah, karena hanya bisa diam tak berkutik melihat salah satu bendakesayangan kakaknya itu hancur. Sendy melihat jam yang berada di tangankirinya. “guys, udah jam 14.15!gimana kalo kita cabut?” ajak Sendy. “kemana, Send?” Tanya Dhike. “pulang kerumah lah, disini panas, gerah gue..” jawab Sendy sambil mengkipasi dirinyadengan kipas yang baru ia ambil dari tasnya. Ghaida terdiam sejenak. Mendengarajakan teman-temannya. Kemudian, tangan kanan Ghaida yang berada di bawah daguStella, ia lepaskan dengan sedikit sentuhan lembut. Stella merasakan sesuatuyang membuatnya tidak nyaman akan hal itu. Stella menatap Ghaida dengan tatapankosong, mulut sedikit terbuka, seolah-olah Stella terhipnotis oleh Ghaida.
                        “yuk, kita pulang guys.. kita tinggalin bidadari gembel ini” kata Ghaida dengansinis.
                        “yups! Gue udah laper nih!” sahut Pandasambil memegangi perutnya.
                        “perasaan, tadi lu dah makan deh, Onya..”kata Jeje sambil menatap ke Panda dengan wajah keheranan.
                        “apaan, Je? Gue cumin makan dikit bangettadi” elak Panda.
                        “udah, rebut amat sih! Udah gerah nih gue,pengen cepet-cepet berendam di kolam renang gue di rumah.” Sahut Sendy. Merekaounperlahan membalikkan badan, kecuali Ghaida yang terakhir memutar badan disaat teman-temannya berada cukup jauh darinya.
                        “adios,senorita..” salam Ghaida yang berarti sampai jumpa, nona. Ghaida mengucapkankata-kata tersebut dengan senyuman sinis merendahkan. Perlahan Ghaida berjalanmenjauhi Stella yang sedang menunduk kemudian mengambil serpihan-serpihan handphone-nya, ditemani oleh Sonia yangmasih shock akan kejadian itu. Halitu terlihat cukup jelas, karena air masih membasahi pipi gadis berusia 17tahun ini.
                        “kak, maafin adek ya..” Sonia berusahamenghibur kakaknya.
                        “minta maaf? Buat apa, dek? Kamu kan nggaksalah apa-apa” Cici berusaha mendewasai dan menasehati adiknya secara tersirat.
                        “aku nggak bisa ngapa-ngapain tadi, pas kakakdi jahilin ma mereka” curhat gadis yang akrab di sapa Wawa ini.
                        “hmm.. nggak apa-apa, dek. Tenang aja. Merekaya emang gitu. Mau diapain lagi? Kakak cumin bisa berdoa aja, semoga merekasadar, kalo selama ini mereka mengambil jalan kehidupan yang salah”. KataStella dengan nada rendah dan halus.
                        “iya, kakak..” seru Sonia sambilterisak-isak.
                        Di lapangan dekat taman yang tak jauh daritempat Stella dan Sonia, tampak para gladiator lapangan hijau tengah berjibakuuntuk mendapatkan tempat terbaik di tim inti Chelsea U-21. Yang tengahdipersiapkan menghadapi NextGen Series 2012—UEFA Champions League-nyaU-21—Tahap kali ini  masih berupaseleksi. Allenatore Rahmad Darmawan,Nampak serius mengawasi aku dan teman-temanku melakukan warming up. Karena hal ini dinilai sebagai salah satu aspek yangmenentukan bahwa pemain itu siap bermain selama 90 menit atau turun sebagaipemain pengganti. Setelah melakukan warmingup kurang lebih 15 menit, Coachasal Metro Lampung ini segera menginstruksikan anak asuhnya untuk membentuk 2tim. Tim J dan Tim K. aku masuk Team J bersama Banani, Hendra, Adit, Iksan,Ivan, Amirul, Adi, Candra, Pandu dan Bangkit. Sementara untuk Tim K, terdiridari Rahadian, Zuhdy, Bima K, Puguh, Etsa, Hadi, Ray, Drain, Ja’far, Gaung danNawandaru.
Berikut ini adalah Line Up Team J :                    
GK : Amirul .M ©                                                     
CB : M. Banani
CB : Pandu Aji P.
LB : Bangkit Andika C.
RB : Adi Hakim R.
DMF : Iksan K.
CMF : Candra P.
OMF : Ivan E.
RMF : Gunung M.
LMF : Aditya H.
CF : Hendra W.

Berikut ini adalah Line Up Team K :
GK : Etsa Kurnia
CB : Hadi ‘Dies’
CB : M. Ja’far S.
LB : Nanta ‘Drain’ ©
RB : Bima Kurniawan
DMF : Puguh Dwi W.
OMF : Gaung Adzaning J.
RMF : Ray Prayoga
LMF : Rahadian M.
CF : Nawandaru R.
CF : Zuhdy A.
                        Sementara teamT yang dijadwalkan akan datang, mengalami delayakibat cuaca buruk yang terjadi di London saat ini. Tim T ini, berisikanpemain-pemain asli Chelsea Academy. Dan akan diadakan Sparring Partner antara Tim J Vs Tim T, dan Tim K Vs Tim T. hal inidilakukan guna menuju panggung kehormatan berlaga bersama Chelsea U-21 diStadion Stamford Bridge. Menapakkan kaki disana dengan ekspresi wajah ceria,kepala mengadah ke atas, perasaan optimis, dan semangat membara. Ketikamerasakan atmosfer di stadion kebanggaan para Trueblue tersebut.
                        Kick Off pun dimulai, sementara tampak Stelladan Somia berbincang-bncang dengan Rena, Achan, Naomi, Yupii dam Sinka. Tentusaja aku tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan..

~To Be Continue..


Gunung Mahendra
@GunungCornelia

0 comments:

Poskan Komentar