Rabu, 29 Mei 2013

Misteri 48 (Part 7)


Dan hari sabtu pun tiba. Seperti janji sebelumnya, Stella akan pergi bersama Imo ke suatu tempat. Entah untuk apa itu, Stella bahkan belum tahu.
    "Stell, kenapa nggak pulang?" tanya Melody.
    "Enggak Mel, kalian duluan aja. Aku mau pergi bentar.." jawab Stella.
    "Kemana Stell?" tanya Shania.
    "Itu.. Ke toko buku sana, mau nyari novel.. Hheheh.." jawab Stella lagi.
    "Ohh.. Yaudah, kami duluan yah.." ucap Melody.
    "Iya.. Hati-hati.." kata Stella.

    Stella terpaksa tidak jujur karena ia tidak ingin teman lainnya mengetahui rencananya ini. Ia tidak mau membahayakan teman-temannya, walau sebenarnya ia sendiri belum tahu akan kemana nanti. Setelah sepuluh menit menunggu, Imo datang..
    "Aduh.. Maaf telat.." ucap Imo ngos-ngosan.
    "Nggak papa sih. Itu kan emang kebiasaan kamu.." kata Stella.
    "Hhahaha.. Yaudah, ayo ikut aku.." aja Imo.
    "Sebenernya kita mau kemana sih?" tanya Stella.
    "Udah ikut aja. Aku nggak akan apa-apain kamu kok.." kata Imo.
    "Emm.. Iyahh.."

    Maka mereka pun pergi. Imo berjalan bersama Stella ke suatu tempat yang tidak jauh. Dan ternyata tempat itu adalah gedung bekas pabrik tekstil yang tidak lain adalah tempat persembunyian Mr. Black.
    "Tempat apa ini?" tanya Stella.
    "Ini tempat sembunyinya Mr. Black. Dulu temen kamu, Mova ma Rica kan disekap disini.." ucap Imo.
    "Apa? Terus kita kesini mau ngapain? Bahaya tahu..!" kata Stella.
    "Hhehe.. Nggak papa kok Stell. Aku ajak kamu biar kamu terbiasa sama hal-hal yang berbahaya. Lagian kamu kan nggak sendiri.." ucap Imo sambil terus berjalan.

    Stella masih terdiam di tempatnya berdiri. Masih belum berani menambah langkah kakinya ke depan. Ia lalu melihat Imo di depannya, dan mulai masuk ke gedung itu bersama. Imo tahu Stella mulai berani, lalu..
    "Yang perlu kita takuti itu cuman Tuhan. Kalau kamu punya Tuhan, nggak perlu takut sama yang lain.." ucap Imo.

    Stella lalu melangkah berani dan bersampingan dengan Imo. Imo membuka pintu gedung itu, dan suasana gelap mulai terlihat seperti saat pertama kali ia masuk kesana. Hanya cahaya matahari dari luar yang menyinari gedung itu. Masih terlihat banyak perangkap disana, dan beberapa pemandangan yang tidak asing bagi Imo.
    "Ayo masuk ke dalam sana.." ucap Imo.
    "Ehh, iyaa.." jawab Stella.

    Mereka masuk ke dalam, ke ruangan dimana Mova dan Rica dulu disekap.
    "Bentar, kamu mundur dulu." ucap Imo.

    Maka Stella pun mundur selangkah. Imo menarik tali tekstil yang terletak di lantai, dan seperti dulu, dari samping kanan dan kiri ada batang kayu yang bergoyang ke arahnya. Karena sudah tahu trik itu, ia dengan mudah menghindar.
    "Nah, kamu lihat kan? Dulu aku pernah kena jebakan ini. Tali-tali tekstil yang berceceran di lantai ini ada beberapa yang jadi bahan perangkap. Masih banyak di ruangan ini.." jelas Imo.
    "Berarti waktu itu, situasi kamu, Mova, sama Rica bahaya banget dong?" tanya Stella.
    "Hhahaha.. Bisa dibilang kayak gitu sih.." jawab Imo.
    "Terus kenapa kamu nggak lari aja? Mova sama Rica kan bukan temen akrab kamu. Kenal aja baru sehari dulu itu kan?" tanya Stella lagi.
    "Hhahahaha.. Sebenernya waktu itu aku juga kepikiran untuk lari dan ninggalin mereka. Cuman.." kata Imo terputus
    "Cuman apa Mo?" tanya Stella penasaran.
    "Cuman mereka itu temen akrab kamu. Jadi siapapun temen baik kamu, aku pasti bantuin kalau aku bisa. Hhehe.." jelas Imo.
    "Yeee.. Sok banget kamu. Gaya bener.. Hhaha.." ejek Stella.
    "Dibilangin malah. Yaudah yuk sekarang kita nyari Mr. Black di gedung ini. Ada atau enggak. Kalau ada, kita pancing dia keluar dari sini.." ajak Imo.
    "Ohh, jadi kamu pengin mancing dia keluar ya? Oke, ayoo.." jawab Stella.

    Mereka pun lalu mencari Mr. Black di seluruh ruangan di gedung itu, tapi hasilnya nihil. Mereka tidak menemukannya. Stella berjam-jam lamanya, mereka beristirahat diluar gedung itu.
    "Jadi alasan kamu suruh aku bawa bekal itu biar bisa makan disini?" tanya Stella.
    "Hhaha.. Iya, aku juga laper habis nyariin tadi. Kamu pasti juga kan? Hhahaha.." kata Imo.
    "Iya sih.. Hhehe.."

    Disaat mereka makan, ada seseorang berjalan ke arah gedung itu. Imo melihat dari kejauhan, ia pikir itu Mr. Black. Maka..
    "Stell, ayo sembunyi di semak-semak itu. Kayaknya Mr. Black dateng kesini.." ajak Imo.
    "Hah? Iya.."

    Dari semak-semak, mereka melihat seseorang dengan baju dan celana hitam masuk ke gedung itu. Setelah orang itu masuk, Imo dan Stella pun juga ikut masuk kesana. Mereka mengikuti Mr. Black dari belakang sambil sembunyi-sembunyi. Langkah kaki mereka, mereka pelan dan lambatkan agar tidak ketahuan.
    "Kertas apa ya itu? Kok dibawa sama dia?" pikir Imo.

    Mr. Black meletakan sebuah kertas di atas meja. Lalu ia pergi masuk ke suatu ruangan dan menutup pintunya.
    "Stell, kamu diem dulu disini ya. Aku mau ngambil kertas itu, kayaknya sih penting sampai Mr. Black bawa kesini.." kata Imo.
    "Tapi, aku disini ngapain?" tanya Stella.
    "Kamu diem aja, kalau kira-kira Mr. Black muncul terus dia nangkep aku, kamu pergi lari aja. Tapi inget, jangan balik lagi kesini. Itu bahaya.." ucap Imo.
    "Kayaknya aku dulu juga pernah ngomong gini sama Mova dan Rica. Hmm.." batin Imo.
    "Emm.. Oke. Good luck ya.." kata Stella.

    Imo lalu berjalan pelan ke arah meja itu sambil sembunyi dan melihat situasi. Ia berjaga-jaga bila Mr. Black tiba-tiba muncul. Sampai di meja itu, ia lalu mengambil kertasnya. Ia meihat apa isinya, dan ternyata seperti denah lokasi suatu tempat. Tapi ia masih belum tahu apa itu. Secepat mungkin ia kembali ke tempat Stella dan keluar dari gedung itu. Mereka berjalan cepat pulang.
    "Tadi itu kertas apa sih?" tanya Stella.
    "Aku nggak tahu sih, kayaknya isi kertas itu denah suatu tempat.." kata Imo.
    "Mana sini, aku lihat.." pinta Stella.
    "Nih.." kata Imo sambil memberikan kertas itu.
    "Loh.. Ini kan denah sekolahku, kenapa Mr. Black bawa ginian ya?" tanya Stella.
    "Nggak tahu sih. Kamu bawa aja itu, siapa tahu penting buat kamu sama temen mu.." kata Imo.
    "Emm.. Oke lah, ntar dirumah aku coba teliti lagi apa isi sama maksudnya angka-angka yang ditulis di gedung sekolah ini.." kata Stella.
    "Oke.. Yaudah deh, aku pulang dulu ya.." ucap Imo.
    "Kok kesana? Rumah kamu kan disana?" tanya Stella.
    "Hhehe.. Aku ada urusan bentar. Rumah kamu udah deket kan? Hati-hati.." kata Imo sambil berlari ke arah yang berlawanan dengan Stella.
    "Eh.. Aneh banget. Tapi yaudah lah.." batin Stella.

    Imo ternyata mendatangi sekolah Stella, High School of Theatre. Sampai disana, ia masuk ke halaman sekolah itu dan melihat ke gedung-gedung yang ada di sekolah itu. Lalu ia pergi berjalan ke depan ruang aula, lalu ke gedung aula untuk theater.
    "Jadi ini maksudnya. Kertas tadi itu nunjukin lokasi berlian biru yang ada di sekolah ini. Nggak salah lagi, susunan angka di tiap gambar gedung di kertas tadi nunjukin tingkatan lantai, pintu ke berapa, sama arah utara atau selatan. Tapi angka 48 dan arah panah kanan terakhir tadi untuk apa ya? Sial, aku nggak bisa masuk jadi nggak tahu.. Kalau gitu, besuk aku kesini lagi aja lah.." pikir Imo.

    Imo lalu berjalan pulang ke rumahnya. Ia melihat seorang bapak-bapak sedang membenahi jendela rumahnya.
    "Ini jendela nomer berapa pak?" tanya anak Bapak itu.
    "Nomer satu, itu yang 48 cm panjangnya.." kata Bapak itu.
    "Yang ini pak?"
    "Iya nak.."

    "Apa? Jadi angka itu bukan cuman nunjukin lantai, pintu, sama arah? Ada kemungkinan jendela juga? Bentar.. Huruf L-C-T di kertas yang dibawa Mr. Black itu pasti maksudnya L-O-C-A-T-I-O-N. Terus huruf S-C-H itu juga pasti singkatan S-C-H-O-O-L. Huruf lainnya ada W-D-W, D-O-R, W-H-R sama F-L-R itu singatan buat W-I-N-D-O-W, D-O-O-R, W-H-E-R-E, sama F-L-O-O-R. Kalau 4 august itu apa ya? Terus angka deretan 4A-5-18 itu buat apa? Sial, masih banyak lagi angka di kertas itu. Kalau tadi aku bawa, mungkin lebih gampang.." pikir Imo sambil berdiri di depan rumah Bapak-bapak tadi.

    "Ada apa nak?" tanya Bapak itu.
    "Eh.. Nggak papa kok pak. Hhehe.. Permisi.." ucap Imo lalu pergi.

    Sementara itu, Stella yang sudah sampai di rumah pun langsung mencoba untuk memecahkan angka-angka yang sangat banyak di kertas yang dibawanya tadi. Mr. Black yang tahu kalau kertasnya sudah dicuri pun hanya tertawa.
    "Ternyata ada yang ngambil kertas curianku itu. Untung namaku sudah aku hapus, kalau belum akan sangat berbahaya. Hhaha.. Mereka pasti mencoba untuk menterjemahkan angka-angka dan huruf-huruf yang ada di kertas itu. Tapi terlambat, butuh waktu sehari bagiku untuk memahami itu. Dan besuk adalah hari yang sudah lama aku tunggu.. Yaitu, untuk mengambil berlian biru itu. Dan aku akan menjadi kaya raya.. Hhahaha.." batin Mr. Black lalu tertawa keras.

    Inilah hari yang ditunggu-tunggu oleh Mr. Black, yaitu hari dimana impiannya akan tercapai. Tidak lain untuk mendapatkan berlian biru dari sekolah incarannya itu. Imo yang mengetahui itu menyiapkan sebuah rencana.
    Stell, hari ini kamu ajak semua temenmu ke sekolah. Kemungkinan besar, Mr. Black bertindak hari ini. Oke? Imo.

    Tak lama kemudian Stella membaca pesan itu.
    "Hari ini? Tapi ini dia pakai nomor siapa ya kok beda? Hmm.. Yang penting aku harus lakuin itu.." batin Stella.

    Maka Stella langsung memberi kabar kepada Melody dan teman-teman lainnya. Setelah mereka semua berkumpul, mereka langsung berada di sekolah. Sementara itu, Imo sedang menelpon seseorang dan terlihat dari kejauhan.
    "Ohh.. Jadi gitu ya? Berarti nggak salah lagi Om.." ucap Imo dari telpon.
    "Kalau gitu, kapan Om kesana?" tanya orang itu.
    "Aku nggak bisa pastiin, tapi sekitar sejam dari sekarang mungkin.." jawab Imo.
    "Oke.."

    Dan percakapan itu berhenti.
    "Siapa Mo?" tanya Stella.
    "Eh, kalian udah sampai disini ternyata. Anu, itu tadi polisi. Aku ajak untuk bantu kita. Tapi sejam lagi baru bisa dateng.." ucap Imo.
    "Ohh.. Yaudah, sekarang gimana rencana kita?" tanya Melody.
    "Gini Mel, ini ada kertas, mungkin ini denah dimana tempat berlian biru itu berada.." jelas Stella.
    "Apa? Yang bener Stell?" tanya Jeje.
    "Iya. Nggak salah lagi, dari kode angka dan huruf disini, nunjukin suatu tempat. Cuman ada beberapa angka yang aku masih belum ngerti.." kata Stella.
    "Kamu dapet itu dari mana?" tanya Shania.
    "Untuk masalah itu, ntar aja Shan jelasinnya. Yang penting ayo kita cari.."
    "Oke, ayo kita cari sebelum keduluan Mr. Black.." ajak Melody.
    "Jadi Stella udah tahu cukup banyak ya? Pinter juga. Hhaha.." pikir Imo.
    "Mo.. Kamu nggak ikut?" tanya Melody.
    "Eh, iya. Ayo.."

    Mereka semua lalu masuk ke dalam sekolah dan bersiap untuk mengungkap dan menangkap Mr. Black..

~ To be continued ~

Copyright: relatable48.blogspot.com

0 comments:

Poskan Komentar