Rabu, 29 Mei 2013

Misteri 48 (Part 6)


"Untung aku bisa lolos dari tempat itu. Hampir saja aku mati disana.." batin Imo sambil berlari.

    Ia kembali ke rumahnya. Sementara itu, Mova dan Rica yang sudah sampai sekolah menceritakan pada Melody dan teman lainnya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menceritakan semua yang mereka alami secara terperinci sampai akhirnya Imo datang menolong mereka.
    "Jadi anak itu udah nolongin Rica dan Mova.. Tumben banget.." batin Stella.
    "Yaudah, yang penting kalian selamat. Besuk kalau kita semua ketemu si Imo, kita harus berterima kasih ma dia. Bagaimanapun dia udah membantu kita semua kali ini.." kata Melody.
    "Tapi masalahnya Mel.." kata Mova terputus.
    "Masalahnya apa?" tanya Melody.
    "Aku belum yakin Imo masih hidup.." tambah Mova sedih.
    "Apa? Kenapa gitu?" tanya Shania.
    "Soalnya Mr. Black itu bisa dibilang psikopat. Dia nggak ragu buat bunuh orang yang macem-macem sama dia.." jelas Rica.
    "Ditambah lagi, aku sama Rica pernah lihat dia simpen pistol di saku kanan celananya.." tambah Mova.
    "Waduhh.. Bahaya banget kalau kayak gitu.." ucap Nabilah.
    "Stella, coba kamu hubungi telponnya. Kamu punya kan?" pinta Melody.
    "Iya Mel, bentar.."

    Stella mencoba menelpon Imo, tapi tidak ada respon. Nomer yang dihubungi sedang tidak aktif.
    "Nomernya nggak aktif Mel.." kata Stella.
    "Yahh.. Gimana dong? Kamu tahu rumahnya nggak?" tanya Melody.
    "Nggak tahu Mel.." kata Stella.
    "Yaudah, kamu sms dia aja Stell. Tanya gimana keadaannya. Kalau kira-kira nggak ada balesan selama seminggu, berarti sekarang dia lagi dalam bahaya.." ucap Dhike.
    "Oke deh kalau gitu.." kata Stella.

    Setelah Stella mengirim sms pada Imo, mereka semua masuk ke dalam aula sekolah untuk membicarakan langkah mereka selanjutnya.
    "Sekarang gimana nih?" tanya Delima.
    "Kita harus tahu dulu apa sebenernya tujuan si Mr. Black itu.." kata Kinal.
    "Kayaknya nggak mungkin kalau target Mr. Black cuman siswa yang ada di sekolah ini. Pasti ada yang lainnya.." tambah Sonya.
    "Kinal dan Sonya bener. Pasti ada hal lebih penting yang ia incar dari sekolah ini. Tapi apa?" tanya Melody.
    "Gimana kalau kita tanya sama guru-guru?" usul Gaby.
    "Guru? Boleh juga sih. Tapi apa mereka tahu sesuatu?" tanya Sendy.
    "Ya kan mungkin aja tahu. Mereka kan lebih lama di sekolah ini dari pada kita.." jelas Gaby.
    "Aku setuju sama Gaby. Mungkin guru kita bisa membantu.." tambah Ve.
    "Kalian nggak perlu tanya sama guru-guru kita.." kata seseorang dari depan pintu aula.
    "Loh? Ghaida, Beby?" ucap Stella.
    "Lama nggak ketemu kalian nih.." ucap Beby.
    "Iya, kami juga ngrasa gitu. Ayo, gabung kesini.." ajak Melody.

    Maka Ghaida dan Beby yang sudah selesai dengan urusan theater dan urusan mereka lainnya pun bergabung dengan Melody dan teman-teman.
    "Ngomong-ngomong, kenapa kamu tadi bilang kita nggak perlu tanya sama guru disini?" tanya Stella.
    "Aku sama Beby udah tanya secara detil tentang masalah ini sama guru-guru kita disini. Dan ternyata yang di incer sama Mr. Black itu bukan siswa-siswa disini.." jelas Ghaida.
    "Terus apa?" tanya Stella lagi.
    "Mr. Black ngincer berlian biru yang ada di sekolah ini.." jelas Beby.
    "Berlian biru? Emang ada ya di sekolah ini?" tanya Sonia.
    "Ada. Tapi untuk letak berliannya itu, cuman kepala sekolah dan guru-guru tertentu yang tahu lokasinya.." tambah Ghaida.
    "Siapa guru yang kalian tanya?" tanya Jeje.
    "Pak Joseph, kepala sekolah kita.." kata Ghaida.
    "Apa kalian juga tanya dimana tempat berlian itu?" tanya Stella.
    "Iya, tadi tanya sih. Cuman pak Joseph nggak mau ngasih tahu.." jelas Beby.
    "Emm.. Sebenernya kalau kita bisa tahu lokasinya, mungkin masalah ini bisa sedikit lebih gampang.." kata Melody.
    "Terus, sekarang kita harus gimana? Maksa pak Joseph buat ngasih tahu lokasi berliannya?" tanya Mova.
    "Nggak Va, itu nggak mungkin lah.." kata rica.
    "Terus kita harus ngapain sekarang ini?" tanya Mova lagi.
    "Kita harus nyari berlian itu pakai cara kita sendiri.." kata Stella.
    "Nah, itu baru bagus.. Tapi.. Gimana caranya?" tanya Achan.
    "Ya kita kan bisa cari di semua tempat di sekolah ini.." kata Stella lagi.
    "Sekolah ini kan gede banget Stell, apa mungkin?" tanya Diasta.
    "Pasti mungkin. Kita sekarang udah kembali jadi satu tim lagi, total kita sekarang ada dua puluh dua orang, kita berpencar aja.." ucap Melody.
    "Pembagiannya gimana?" tanya Ghaida.
    "Kan kita semua dari kelas yang beda, awalnya kita cari di kelas kita masing-masing aja dulu. Gimana?" usul Melody.
    "Setuju sih. Tapi kalau ternyata berlian itu nggak ada di kelas kita semua?" tanya Frieska.
    "Kita kumpul lagi, terus nyari di ruang aula ini. Kita susuri tiap sudutnya.." kata Melody.
    "Kalau disini nggak ada juga?" tanya Cindy.
    "Kita cari di ruang aula theater, kita cari di tiap kursi, tiap sudut, dan tiap tempatnya tanpa ada yang ketinggalan. Kalau disana juga nggak ada, kita berpencar di halaman sekolah.." jelas Stella.
    "Stella bener. Intinya kita cari berlian itu di semua sisi sekolah ini satu per satu.." tambah Melody.
    "Oke kalau gitu. Kita mulai kapan?" tanya Rena.
    "Kita mulai minggu aja. Mumpung hari libur dan sekolah kosong, kita manfaatin itu.." jelas Melody.
    "Tapi apa kita perlu cari di ruang guru dan kepala sekolah juga?" tanya Delima.
    "Iya, pokoknya semua ruangan disekolah ini.." kata Melody lagi.
    "Oke deh. Sekarang kita pulang aja, udah siang banget. Yang lain udah pada pulang dari tadi.." ajak Stella.
    "Iya yuk, kita pulang.." tambah Ghaida.

    Mereka semua pulang dari sekolah itu. Sampai di rumah, Stella mendapat sms balasan dari Imo.
    Iya Stell, aku nggak papa kok tenang aja. Hhahaha :3

    Stella lalu membalas sms itu.
    Apa bener Mr. Black itu psikopat Mo? Kamu pasti tadi face to face kan sama dia?

    Setelah membacanya, Imo berpikir cukup lama. Lalu ia membalas..
    Psiokopat atau bukan, kamu sama temen kamu jangan deket-deket sama dia. Dia terlalu bahaya buat kalian para cewek. Aku nggak nakutin kamu, tapi kalian seharusnya jauhin dia..

    Stella pun sempat merasa kaku setelah membaca sms itu. Ia membayangkan hal yang mungkin bisa terjadi padanya dan teman lainnya bila terlalu dekat dengan Mr. Black. Tapi ia mencoba menghapus rasa takut itu, dan membalas..
    Mr. Black nggak ngincer siswa di sekolahku kok, dia ngincer berlian biru yang ada di sekolah aku..

    "Jadi bener rumor tentang berlian biru yang pernah aku denger dari orang-orang sini. Tapi, apa mungkin Mr. Black itu salah seorang karyawan sekolah itu yang berasal dari sini? Hmm.." pikir Imo. Lalu ia membalas..
    Jadi itu motifnya ya? Kalau gitu kalian harus secepet mungkin cari berlian itu, sebelum keduluan sama Mr. Black :3

    Stella membalas..
    Iya Mo, kita juga udah rencanain untuk itu kok. Besuk minggu kita semua mau mulai nyari berlian itu. Kalau bisa, kamu bantuin kita yah..

    Merasa dimintai tolong, Imo tertawa. Ia sadar dirinya masih belum sembuh benar karena tangan kanannya terkilir cukup parah. Lalu..
    Sabtu ketemuan aja ma aku. Pulang sekolah kamu tunggu di depan gerbang, ntar aku kesana. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat, sekalian cerita tentang Mr. Black itu. Eh, tapi bawa senter, bekal makan minum, sama pakai jacket ya. Hhehe.. Bye, see you :3

    "Apa-apaan ini? Mau ajak aku kemana ya dia? Hmm.. Rasanya kok penting banget ya. Apa aku perlu kasih tahu Melody tentang ini? Atau aku rahasiain aja ya? Yang jelas, asal Imo mau bantuin, aku akan ikuti dia.." batin Stella.

    Stella masih bingung, apa yang mau Imo ceritakan. Tapi demi kebaikan semua, ia menyimpan hal itu dari Melody dan lainnya. Ia tidak mau Melody dan yang lainnya mengkhawatirkannya. Sementara Imo, ia justru sibuk menyiapkan tali tambang, ketapel, dan barang-barang lainnya. Entah untuk apa itu, masih belum di ketahui. Melody yang masih termenung di kamarnya memikirkan siapa sosok Mr. Black itu sebenarnya. Kenapa Mr. Black itu bisa sampai tahu rahasia tentang berlian biru yang ada di sekolahnya, yang bahkan tidak semua guru saja tahu.
    "Mr. Black.. Sebenernya siapa ya? Aku masih ingin tahu.." batin Melody.

    Kini nama Mr. Black semakin terkenal di sekolah Melody dan teman-teman lainnya. Bahkan warga sekitar sekolah itu pun banyak yang mengetahui nama itu. Banyak rumor beredar kalau Mr. Black itu adalah pak Budi yang tidak lain adalah penjaga sekolah di High School of Theatre. Tapi banyak juga yang berpikiran bahwa kepala sekolah di sekolah itu, pak Joseph, adalah sosok Mr. Black yang sebenarnya. Semakin gencarnya rumor-rumor itu, sampai Mr. Black yang sebenarnya pun mendengarnya. Maka ia yang sudah sembuh total dari luka-lukanya akan kembali beraksi mencari berlian biru yang disembunyikan di High School of Theatre.
    "Rencanaku kali ini sangat matang, kalian semua akan menjadi korbanku. Dan berlian itu akan membawaku menjadi orang terkaya di tempat ini. Hhahaha.." batin Mr. Black yang sudah bersiap beraksi.

~ To be continued ~

Copyright: relatable48.blogspot.com

0 comments:

Poskan Komentar