Jumat, 24 Mei 2013

Mungkin Bukan Jodohku #2 Final!


"Anak kembar ." tanyaku penasaran

"Gak kembar, cuma namanya aja yang hampir mirip."

"Eh, punya fb nya gak??"

"Yang mana?"

"Dua-duanya ajalah."

Kemudian temenku memberi link fb kedu Jessica tersebut. Setelah aku coba yang Jessica Vania. Wah, cantik juga ya? tapi bukan yang ini. Apa mungkin yang satunya? Aku coba yang satunya ternyata benar. Ini dia yang aku cari-cari. Hhahahahhaaaa....

Langsung aku tambahkan sebagai teman. Belum ada 1 menit udah ada pemberitahuan kalau Jessica Veranda menerima permintaan pertemanan anda. Lansung aja aku chatingan sama Jessica. Aku masih manggil dia dengan nama Mbak Jessica. Dengan jurus rayuan seribu gombal aku dapet juga nomor hp nya.

Semakin hari semakin menjadi. Dari yang cuma tau orangnya gak tau namanya jadi tau sebagianlah. Aku tau umurnya sama denganku. Mungkin hanya berjarak beberapa hari. Karena tahun dan bulannya sama. Mungkin dia waktu TK lebih dulu dibanding aku. Tapi itu tak jadi masalah. Kami kadan ketemuan di sekolah namun juga sering saat pulang sekolah walau hanya sebentar.

Sampai tanggal 19 November akhirnya aku jadian sama dia. Mungkin temen-temennya manggil Jessica. Namun aku memberikan nama panggilan Ve. Dia juga lebih suka kalau aku manggil dia dengan nama Ve. Karena beda dari yang laen.

Suka duka kami lewati berdua. Mulai dari jalan bareng, makan bareng, nonton bareng, sampai mandi bareng. Hahahahaha yang terkahir bercanda kok. Jangan dibayangin !!! (hahaha andalan dalam cerpen, kalimat tadi pasti gak asing kan?). Hubungan kami belum diketahui ortu masing-masing. Lagian masih kecil juga.

Saat-saat ini datang. Aku yang berada dibelakangnya menunggu Ve melihat papan pengumuman. Beberapa detik dia berbalik badan dan lari kearahku. Dia memelukku erat sekali. Sungguh saat itu rasanya sangat nyaman. Namun aku segera melepaskan pelukannya. Malu diliat anak lain.Hahhaha narsis dikit. Ve akhirnya lulus dari sekolah. Aku senang sekali waktu itu juga. Bagaimana tidak?  Dia mendapat nilai tertinggi di sekolah. Aku bangga sekali jadi cowoknya.  Namun perasaan senang berubah menjadi sedih. Saat Ve berkata sambil nangis kalau dia harus melanjutkan kuliahnya di luar kota.

Karena itu merupakan cita-citanya dari dulu, bisa kuliah di luar kota dan mendapatkan pengalaman lebih. Kebetulan juga dia mendapatkan beasiswa karena mendapat nilai terbaik di sekolah. Sedih jelas ada dalam diriku. Namun aku harus rela melepaskannya karena itu adalah impiannya. Lagian kan gak untuk selamanya.

Walau di luar kota kami masih sering sekali berhubungan lewt telepon maupun sms. Agak sedih sih mengingat Ve berada diluar kota. Setiap hari tidak bisa bertemu langsung. Biasanya kalau hari sabtu mesti kita jalan-jalan atau nonton.

Setahun telah berlalu dengan cepat. Walau persaan sepertinya lam sekali. Hahahaha yang vener yang mana nih? Akhirnya aku lulus dengan nilai yang dibilang memuaskan. Karena masuk 10 besar di sekolah. Walau gak sehebat Si Ve. Aku merasa kesepian saat itu. Seharusnya senang karena lulus. Namun aku masih teringat kejadian setahun yang lalu. Andai Ve ada disini bersenang-senang denganku lagi. Tapi itu hanya angan-angan.

Saat aku duduk di bangku taman sekolah serasa dipeluk oleh seorang Ve. Aku sungguh sangat gila. Aku membayangkan sambil memejamkan mata membayangkan Ve. Sampai-sampai mendengar suaranya. Aku ingin memnuka mata dan melihat kalau itu bukan mimpi. Namun aku takut Ve menghilang dari bayanganku.

Tapi bodoh juga kalau ketauhan lagi mimpi di taman diliat orang. Aku pun membuka mata dan melihat belakang. Kulihat Ve masih ada bayangannya. Padahal sudah membuka mata. Kulihat Ve tersenyum padaku. Aku mengucek-ucek mataku. Sampai menampar pipiku. Ternyata itu bukan bayangan. Ini sangatlah nyata. Aku takut jika kusentuh akan menghilang. Aku memeluknya dengan erat. Ini bukan bayangan ini Ve.

Aku pun melepas rasa rinduku padanya. Kurasa ada air yang menetes membasahi tanganku. Ve ternyata menangis karena terharu. Dia menceritakan pengalamannya disana. Begitupula dengan aku. Sayangnya Ve hanya tiga hari diberi waktu libur. Tapi kita bisa memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.

***

Lima tahun sudah terlewati. Aku sudah bekerja di tempat yang lumayan nyaman. Apalagi Ve sudah balik ke Kota ini dan satu kantor denganku. Pekerjaanku dan Ve sangat diberi nilai positif oleh Pimpinan. Karena setiap tugas kami selesaikan tepat waktu. Itu berkat penyemangat hidupku. Bidadari yang menemani hari-hariku. Kami seperti pasangan suami istri muda. Itu sih, kata orang yang belum kenal dengan kami.

Tapi aku tetap akan menjaganya sampai pernikahan kami nanti. Orang tua kita masih belum mengetahui hubungan kami. Karena kami mjasih ragu-ragu untuk mengatakannya. Tapi aku bertekad kalau akhir tahun aku akan melamarnya. Orang tua Ve tinggal di Bandung. Disini Ve hanya berdua dengan Neneknya.

Kurang beberapa minggu saat aku mau melamar Ve. Ada kabar buruk dari orang tua Ve. Dia disuruh  kembali ke Bandung untuk membicarakan sesuatu. Denagr-dengar sih dai sudah dijodohkan dengan seseorang oleh Orang Tuanya. Jaman sekarang masih ada jodoh-jodohan. Aku sangat terpukul sekali. Sudah hampir tujuh tahun aku menjalani hubungan dengan Ve. Kenapa harus begini? Apa dai bukan jodohku ???

Ve menolak Orang Tuanya untuk kembali ke Bandung. Berbagai cara yang dilakukan  Orang Tuanya agar Ve kembali. Tapi Ve tetap bersi keras kalu dia gak mau dijodohin. Sampai Ibu Ve menghubungiku dan meminta agar aku melepasnya kalau aku ingin dia bahagia.

Aku membujuk Ve untuk menueruti kemauan Orang Tuanya. Walau rasa ini tidak ingin kehilangan, tapi takdir yang menentukan. Ve malah menganggapku sudah tidak sayang lagi dengannya. Kami bertengkar beberapa hari.

Sampai aku tau kalu Ve akhirnya mau kembali ke Bandung. Bukan karena kemauanku. Aku dengar kalau Ibu Ve sedang sakit keras dan ingin Ve berada di sampingnya. Ingin rasanya menyusul dan menjenguk Ibunya. Tapi nanti pasti akan mendapatkan masalah.

Ve menyesal karena tidak menuruti Ibunya waktu itu. Ve sangat takut kehilangan ibunya. Dia rela tidak rela harus menuruti kemauan ibunya. Ibunya ingin dia dijodohkan dengan anak sahabat ibunya. Kebetualan orang yang dijodohkan dengan Ve berada satu kota denganku.

Aku sangat terpukul sekali. Apakah aku harus sekota dengan orang yang aku cintai yang harus bersama dengan orang lain. Dia meminta maaf padaku. Karena dia juga ingin membahagiakan Ibunya. Mau tidak mau harus mau. Aku harus mulai untuk mengikhlaskannya.

Ve menemuiku di taman sekolah yang penuh kenangan. Walau sudah lama gak kesana tapi aku ingin berada disana. Kebetulan hari itu libur. Jadi lumayan sepi. Dia menceritakan panjang lebar tentang perjodohannya. Dia sampai saat ini masih belum tau siapa orangnya. Karena sebentar lagi akan segera dilamar.

Tanpa terasa air mataku keluar dengan sendirinya. Aku tak mengerti kenapa bisa begini. Mungkin aku harus merelakan Ve. Sepertinya dia bukan jodohku. Malam itu sangat dingin. Aku dan Ve ke taman tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Aku melihat Ve tertidur dipangkuanku. Aku melepas jaketku secara perlahan. Kuselimutkan pada Ve agar dia gak kedinginan. Aku memandang langit yang gelap namun diterangi bulan dan bintang.

Serasa ada cahaya yang menyinari wajahku. Ternyata hari sudah pagi. Aku tak terasa tertidur di bangku tadi malam. Untung belum ada orang yang melihat. Bisa dikira berbuat yang bukan-bukan ntar.
 Ternyata Orang Tuaku semalam mencariku. Mereka menelponku tapi gak bisa. Aku lupa kalau kemarin hpku tidak aktif. Kehabisan batrei karena dibuat ndengerin musik. Aku meminta maaf pada mereka. Ku tahu semua itu saat ibu menceritakannya padaku. Katanya ada hal penting yang mau disampaikan.

Sebelum Ibu cerita aku menceritakan kejadian sebenarnya semalam. Sampai aku tidak pulang ke rumah. Ibuku baru tau semua itu. Begitu juga hubunganku dengan Ve.

"Semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia." kata ibuku meneteskan air mat

"Kenapa ibu menangis?" tanyaku heran

"Kamu harus mulai merelakannya nak. Ibu sebenarnya akan menyampaikan hal yang serupa. Kamu sudah besar dan sudah mapan. Sebaiknya kamu segera menikah. Ibu mau jodohkan kamu dengan anak sahabat ibu. Itu pun kalau kamu mau. Ibu gak maksa." kata ibuku menjelaskan

:"Insyaallah aku mau bu, Ve sudah tidak ada harapan lagi. Mungkin ini sudah takdir. Dia memang bukan jodohku. Semoga dia bahagia dengan jodohnya." kataku yang mulai meneteskan air mata

"Amin.."balas ibuku

***

Hari pertemuanku dengan anak sahabat ibuku pun tiba. Aku dan Orang Tuaku sampai ditempat duluan. Jadi kami nmenunggu sebentar. Disaat yang penting itu tiba-tiba aku kebelet "the piss of the cure" . Aku ijin kepada kedua Orang Tuaku.

Aku senyum-senyum sendiri teringat saat aku pertama melihat Ve. Namun aku harus melupakan dulu karena sebentar lagi akan bertemu dengan cewek yang dijodohkan denganku. Takutnya nanti malah salh tingkah.

Pas aku balik melihat cewek seperti Ve. Lagi-lagi aku mengkhayal. Aku segera kembali ke tempat tadi. Ternyata sudah datng. Tapi mana anaknya? Aku bingung mencarinya.

"Nyari siapa hayo??" goda sahabat ibuku

"Ah, gak tante. Mana anaknya??" tanyaku penasaran

"Hhahaha, dia baru aja kebelakang. Lucu ya? Acara penting gini malah kebelakang. Anak tante ternyata sama denganmu kebiasaanya." canda tante

"Hhahahahah" kami tertawa bersama.

Selang beberapa menit ada suara dari belakang.

"Maaf, semuanya menunggu lama." terdengar suara cewek

"Sepertinya suara itu tidak asing." batinku

Kemudian aku menoleh ke belakang dan melihat seorang bidadari.

"Ve...." kataku terkejut

"Loh, jadi kalian sudah saling kenal?" kata tante

"Iya tante, ini yang aku ceritakan tempo hari bu." kataku pada ibu

"Hhahahahaha... jadi...."suara ibuku dan tante barengan

"Hhahahahaha..."kami smakin tertawa.

"Ibu emang belum tau namanya nak, jadi gak tau kalau dia namanya Ve. Setahuku Jessica." kata ibu

"Oh iya bu, yang manggil Ve memang cuma aku." kataku

"Oh, jadi ini yang membuatmu gak mau ke Bandung." kata tante

"Iya mah," jawab Ve bingung

"Tau gitu kan, gak usah pura-pura sakit segala." kata tante keceplosan

"Hahhh !!! " Aku dan Ve tesentak kaget

"Jadi semua itu hanya pura-pura?? " kata Ve kesal

"Hhahahahahahahahhahhahhahahha..." kami semua tertawa.

Sudah tidak peduli ada orang banyak disana. Kukira Ve “Mungkin bukan jodohku”.
Tapi ternyata semua itu salah besar. Ternyata Ve adalah jodohku..

0 comments:

Poskan Komentar