Minggu, 12 Mei 2013

KIMI NI AITAKATTA part 1


“Sebenarnya apa sih masalahmu, Nabilah?”
 “Males aja!”
 “Hemmm, gitu ya? Eh, kamu mau nggak jadi sahabatku?”
 “Hemmm, gimana ya? Iya deh nggak papa.”
“Beneran?”
“Iya,” jawab Nabilah pelan, malu-malu.


                                                                          ***

            Kamar ini adalah tempat Nabilah termenung, menghabiskan waktunya setiap hari sehabis sekolah hingga malam. Di tempat ini ia banyak sekali beraktivitas, dari sekedar bernyanyi hobinya, tidur-tiduran, dan tak lupa untuk menonton televisi. Kalau belajar, ia memang sedikit malas. Untuk itu, hari-hari ketika di rumah ia habiskan untuk BB-an ataupun SMS-an dengan teman-temannya.
Ia sering melamun tentang gambar yang berjejer di dinding kamarnya. Beberapa gambar itu kebanyakan berlatar Jepang dari Gunung Fuji, Kota Tokyo, ataupun Akibahara sebagai tempat penampilan grub idolanya, AKB48. Selain itu, juga terdapat gambar kampus Tokyo University sebagai perguruan tinggi yang di cita-citakan selama ini.

Seperti sore ini, pandangannya melotot pada gambar Tokyo University itu sambil tidur-tiduran di atas ranjang. Masih berpakaian putih abu-abu yang baru ia beli beberapa minggu lalu karena baru masuk SMA. Tampak kaus kakinya masih juga melekat di kakinya seraya terus memainkan hand phone-nya.
Dari balik pintu, ia mendengar lagu “Heavy Rotation” kesukaannya. Ia memang suka lagu-lagu AKB48 dan SKE48, grub idola di Jepang itu. Lagu-lagunya banyak sekali yang ia hapal. Liriknya juga pas untuk kalangan anak muda sekarang. Tanpa basa-basi segera ia putar lagu itu di hand phone-nya sekeras mungkin. Beberapa saat lagu yang ia dengar dari balik pintu menghilang, hanya di hand phone-nya yang ia dengar.“Kakak ada di dalam ya?” terdengar suara dari balik pintu.“Iya. Masuk aja, Ria!” ujar Nabilah.
Pintu kamar itu mulai terbuka sebagian. Muka Ria mulai nongol dari pintu itu. Ia mulai beranjak mendekati Nabilah dan lagu itu masih melantun keras menggema di ruangan itu.
Nabila tersenyum pada adiknya.
“Ayo..., Ria! Kita nyanyi lagi seperti kemarin itu,” ajak Nabilah, asyik memegang hand phone-nya.
“Pasti ada maksud tertentu kakak ajak aku nyanyi lagi. Iya kan, Kak?” tanya Ria mulai menggoda Nabilah.
“Anak kecil mau tahu aja! Nggak boleh tahu...!!”
“Benar kan? Pasti lagi naksir cowok! Yah, baru seminggu aja sekolah SMA udah jatuh cinta nih. Mau jadi apa sih? Katanya mau kuliah ke Jepang. Apaan tuh?” cekikik Ria sambil menunjuk gambar kampus Tokyo University.
“Iya, iya, Kakak akui deh! Memang aku suka sama cowok itu, soalnya cowok itu sih!!” ucap Nabilah tersenyum.
“Pasti keren!” sanggah Ria.

Mendengar perkataan Ria, muka Nabila tiba-tiba kecut. Seperti ada yang ingin ia sembunyikan dari adiknya sendiri. Ia tidak mau memberitahu tentang Rizal, cowok yang sama sekali tidak keren itu. Menurutnya Rizal itu hanya cowok sederhana yang tidak terlalu memikirkan penampilan, tapi mementingkan masa depan. Ah, pantas saja Nabila langsung tersanjung akan bicaranya yang meledak-ledak, memberi semangat.
“Yah, keren banget dia,” ujar Nabila dengan berpura-pura.
“Siapa namanya, Kak?”
 “Rizal,” ucapnya pendek.
“Ya udah, aku mandi dulu, Dek. Nanti malam diteruskan lagi setelah belajar."
“Hahhh, belajar!! Tumben banget belajar, Kak? Dari dulu rasanya nggak pernah belajar. Jangan-jangan...?” ucap Ria terputus.
“Jangan-jangan apa? Biasa aja lah! Aku kan sudah SMA, tentu harus rajin belajar dong! Biar ke terima di Tokyo University gitu!” sanggah Nabila mulai melepas kaus kakinya, menuju ke kamar mandi.

Ria masih terpaku di ranjang itu. Memandang gambar Tokyo University yang paling berukuran paling besar di kamar itu. Gambar itu berada di dinding samping kiri ranjang Nabilah. Beberapa saat, Ria akhirnya kembali melewati pintu yang setengah menganga itu meninggalkan Nabilah yang berada di kamar mandi. Ia terus beranjak menuju ke kamar yang lain, lalu mulai bercerita tentang Nabila pada Mamanya.
Percakapan itu ia sampaikan pada Mamanya dengan serius mengenai Nabila yang sedikit mulai berubah. Tidak seperti biasa yang selalu malas dan tidur-tiduran sambil berteriak keras di kamarnya, bernyanyi. Ah, ini tentu karena dia mulai menginjak dewasa atau karena Rizal. 


Bersambung ...
contineu part 2
by : Zainuddin Kawula


hasil karya tulis Zainudin Kawula

0 comments:

Poskan Komentar