Selasa, 28 Mei 2013

...PELANGI DALAM SAKURA... *3rd Chapter*

 
Masa SMP itu... masa dimana perasaan labil selalu menguntit hati. Rasa deg-deggan yang dirasa kala memandang wajah lawan jenis yang di sukai, mungkin cuma sekedar rasa malu karena dia menatap, mungkin karena adanya 'dorongan' dari teman-teman yang selalu 'mengatai' hingga membuat wajah merah merona, atau mungkin memang rasa itu meletup alami karena 2hati sedang mencoba berkomunikasi, untuk bisa saling menjajaki hingga terlahir kata cinta, cinta yang mereka sendiri belum begitu tahu apa itu artinya, kalau kata orang tua sih... Cinta Monyet.


Setelah celotehan Aji di kantin tempo hari, Shania diam-diam memikirkan apa yang diucapkan teman nya itu
'benarkah... Subhan ngincer aku?'
Shania senyum-senyum dibawah sinar mentari yang mulai berbagi cahaya paginya
'apa itu artinya dia suka sama aku? Hahaa--'
Wajah Shania sungguh merona kala itu, kalau saja ada yang melihat begitu dekat, pasti bisa terlihat jelas.

Pintu kelas 9-A terbuka, Beby dan Subhan masuk setelah dari ruang guru untuk menemui wali kelasnya. Shania yang sedang menopang dagu sambil senyam-senyum, bisa langsung menguasai diri ketika Subhan lewat di depannya, Beby bisa menangkap ekpresi ‘aneh’ dari wajah Shania, ia mengerung dengan pikirannya mencoba menebak. Beby juga Subhan berjalan ke meja guru dan menyimpan buku pelajaran yang tadi mereka ambil dari ruangan wali kelasnya. Keduanya berbincang kecil saat mengambil keruang guru sampai tiba lagi di kelas.

Beby menuju tempat duduknya yang bersebelahan dengan Shania, dia menatap lekat wajah sahabatnya itu, hingga Shania menyadari tatapan dari Beby yang membuatnya risih.

“ada apaan sih? Kok ngeliatinnya gitu banget!”
tanya Shania, membalas tatapan Beby “ihhh! Beby!! Ada aappaan sih? Hah! Biasa aja kali liatnya, aku tahu aku tuh cantik, tinggi, putih.. yaa pokoknya proporsional lah! Hehehee--”

“kamu.... kenapa liatin si uchub gitu banget?” celetuk Beby, membuat Shania kaget

“gi-gitu giimana?” tanya Shania salah tingkah
“iyaa, gitu. Aneh! Kayak... mmm-- kalau di tv-tv itu, suka ada tuh cewek kalau lagi suka ama cowok pasti aja ngeliatinnya Beeda gitu! Ya kayak kamu barusan!!”
“huh? Analisa apa si tuh! Ada-ada aja!!” balas Shania
“cinta itu emang suka ‘ada-ada aja!’” dengan gimik menggoda dan sedikit berbisik kedekat Shania, Beby membalas ucapan Shania.

“eh? ma-maksudd kamu?!”
“aduh, ayolah Shania... aku ini sahabat kamu! Mau berbohong sama aku? Keliatan banget kali dari wajah kamu, kalau kamu itu suka sama si Uchub? Iya kan?”
sengaja Beby menaikan volume suaranya ketika di kalimat ‘suka sama si Uchub’ membuat yang dibicarakanpun sampai melihat kearah mereka berdua.

“Haa! Beeebyy... pelanin dikit suara kamu, kenapa sih?!” ujar Shania sambil menyimpan tangannya di depan mulut Beby.
“aaa, jadi benar? Kamu suka sama si Uch--”
“hussstt-husssttt-- hes..ahh!! Udah dibilang jangan keras-keras juga! BeByy!” protes Shania yang kini langsung menempelkan tangannya untuk membekap Beby.

Beby melepaskan diri dari bekapan Shania “ciiiee, ada yang lagi... ehem, nih!” lalu meledek pelan Shania “cerita dong sama aku? Kok bisa sih seorang Shania Junianatha suka sama Subhan yang biasanya suka jadi lawan becanda? Apa jangan-jangan kamu kepikiran sama apa yang dikatakan si Aji waktu di kantin? ya!”
Shania terlihat sedikit salah tingkah tapi masih bisa menguasai diri

“mm- iiiiyaa.. gitu deh!” jawabnya singkat, membuat Beby penasaran untuk terus menelisik .... “tapi, udah ah gak usah dibahas! Konsentrasi sama belajar, bentar lagi UNas!!” lanjutnya sambil mengalihkan pembicaraan.
“em, pake mengalihkan pembicaraan lagi! Gak seru ah!! Eh tapi, aku dukung loh kalau emang kamu suka sama si Uchub! Soalnya kalian itu cocok, yang satu cerewetnya minta ampun, nah yang satunya lagi cool-cool gimana gitu. Cocok deh buat jadi peredam kecerewetan kamu! Hahahaa---” jelas Beby
“tsh, apa sih Beb! caal-cool-caal-cool, es kali cool!! Heuheue-” sahut Shania
“ck- kalo suka mah suka aja! Gak ada larangan kok!! lagian kan gak salah juga kalau kamu suka sama dia!!”

“eh ya, kalau nanti kamu sama si Uchub udah jadian, jangan lupain aku ya! Apalagi kalau pas kita udah SMA, terus kamu malah jadi banyak jalan ama dia. Awas aja kalo ampe kayak gitu!! Aku marah nanti-” Beby terus bercerewet ria pada Shania.
“a, enggaklah Beby.. lagian kamu juga, apaa coba jadian-jadian segala, aku kan cuma…-”
“cuma apa? Cuma suka ama dia yang tinggi, item manis. Iya kan? Pake acara ngeles mulu dari tadi! Suka itu... kata yang paling Hebat, jadi jangan takut atau merasa malu! Hehee--”
Beby tersenyum pada sahabatnya itu, Shania membalas dengan senyum malu-malunya. Dari tadi dia keliatan jadi paling diam dibanding Beby yang terus menelisik,,

‘aku bukan takut atau malu Beb, tapi... ini gak mungkin terjadi! Aku gak mungkin bisa sama dia... aku kan bakal pergi!!’

Selang beberapa detik, wali kelas pun datang dan bersiap memberikan materinya dalam pelajaran Matematika.

“entar aku balas, dari tadi ganggu aku, nanti giliran kamu yang aku ganggu!” ancam Shania dengan berbisik
“eeehh? Emang mau gangguin apa?”
“kamu ama si Aji! Hehehee--” dengan senyum penuh maksud Shania mengucapkan kalimat terakhirnya dan bersiap mengikuti pelajaran dari pengajar yang juga wali kelasnya.


***
Hujan deras mengguyur kota Jogja siang ini, ini.. bulan april, tapi kenapa hujan? Bukankah seharusnya sudah masuk musim kemarau?

Meski prediksi awal sempat dan bahkan terus bertahan, tapi setelahnya dan setelahnya.. tidak ada yang bisa menjamin. Seperti cuaca di negara kita sekarang, bukankah April itu sudah harusnya masuk musim kemarau? Tapi ini tidak! Dari tanggal 1,2,3,4,.... terlihat matahari terus menyengat bumi, namun kini masuk di tanggal 8, tiba-tiba saja hujan mengguyur.

Shania berdiri dari tempat tidurnya, dia berjalan menuju jendela kamarnya. Kali ini dia merasa tidak suka melihat hujan yang masih mengguyur, biasanya kalau di musim penghujan ia dan Beby selalu saling komunikasi untuk setelahnya memandangi langit sekitar pinggiran Jogja tempatnya tinggal, siapa tahu ada pelangi yang muncul setelah guyuran hujan yang membasuh bumi. Jika mereka melihat pelangi, dengan segera keduanya berlari kearah taman perumahan, karena dari sana mereka bisa menikmati warna mejikuhibiniu nya pelangi, berdiri ditengah lapangan basket taman, lalu saling mengembangkan senyum dan kemudian saling bercerita atau berphoto ria untuk sekedar mengamadikan moment ketika ada pelangi.

Sampai detik ini, ia masih memendam agenda ke pindahannya yang tinggal 4bulan lagi. Dia benar-benar berada diambang kebimbangan, tidak tahu atau sengaja tidak ingin tahu, bagaimana cara untuk memberitahu Beby perihal hal ini. Ujian Nasional tinggal 2minggu lagi, dia selalu berpura-pura menyibukan diri, untuk menutupi rasa gundah yang menjalar perasaannya.

‘salah gak yah? Gak ngasih tahu Beby dari awal?’
ucap Shania pelan dengan matanya terpaku di jendela yang basah
‘apa dia akan menerima kabar ini, tanpa... Marah-_?’
‘semoga Beby mengerti dengan perasaanku, dan mengerti akan maksud ku melakukan hal ini! Maafkan Shania, beby--’

Pernah dengar? Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kita menutupi sesuatu dari orang lain, pasti akan ketahuan juga.

Shania memang tidak memberitahu Beby perihal pindahan itu, dia tetap dengan niat awalnya... menyimpan sampai waktu pindahan tiba, dia cukup pintar mengatasi perasaan tidak enaknya dengan berpikir ‘you think is not ok? just make it Ok. Then everything will be Ok!’.

Jika apa yang disembunyikan harus terbongkar, cara apapun itu.. pastinya akan terbongkar juga. Beby tidak tahu rencana pindahan keluarga Shania dari mulut Shania langsung, melainkan dari mamanya sendiri, yang mendapat kabar dari mamanya Shania, waktu mama Shania ada pulang ke Jogja, ia menceritakan rencana keluarganya pada mama Beby. Beby hanya bisa tercengang ketika mendapat berita itu... entah harus bereaksi seperti apalagi setelah dia tercengang? Kaget? Sedih? Nangis? Kecewa? Hmm—wajah Beby kala itu mixing.

‘Kenapa Shania menyembunyikannya?’ ...
‘Inikah alasan sebenarnya dari perubahan sikapnya akhir-akhir ini?’
Beby melamun sendiri didalam kamarnya

‘Tapi... kenapa? Kenapa dia tidak ngasih tahu!’
dia berjalan mendekat ke jendela kamarnya, memandang kosong kamar Shania yang bersebrangan.
(rumahnya dan rumah Shania bersebrangan, kamar mereka ada di lantai 2 dan kebetulan juga saling berhadapan)

Beby memikirkan kembali ucapan Mama nya, pagi tadi......

“kenapa kamu gak cerita sama Mama, kalau Shania sama keluarganya akan pindah ke Jakarta!”
“Apa?” reaksi Beby dengan wajah percaya-tidak percaya akan apa yang dia dengar
“iya.. Kenapa? kemarin tante Nia (Mama Shania) dateng kemari, dia bilang mereka sekeluarga akan pindah ke Jakarta, setelah Shania lulus!”
“Hah! Piiiindah.. maaksud Mama?” tanya Beby dengan wajah kaget, heran, campur aduk lah.

Beby diam mencerna setiap kata yang terucap dari mulut Mamanya, tentang apa yang Mama Shania sampaikan padanya. Sampai Beby tidak sadar ketika Mama pamit untuk berangkat ke rumah sakit.

“Mama berangkat dulu, ya sayang...”
“………................”
“Sayang.. Beby... Beeby!”
Mama menepuk lembut pundak Beby, beliau bisa tahu kalau putrinya itu belum mengetahui perihal pindahan keluarga Shania. Ketika sedang bercerita, Mama memeperhatikan wajah Beby yang kecewa, murung, mixing ekpresi mendung.

“ah, iyaa.. kenapa Mah?”
“hmm- jangan ngelamun gitu dong sayang..." ..... "Sahabat yang baik itu... adalah sahabat yang bisa mengerti keadaan sahabatnya” Beby menatap mama nya “Kamu... tidak akan pernah tahu betapa spesialnya sahabat kamu itu sampai mereka meninggalkan kamu. Bersyukurlah karena kamu masih diberikan kesempatan sama Tuhan untuk tahu kalau sahabat kamu itu akan pergi, sehingga kamu masih bisa melihat dan menghabiskan banyak waktu lebih lama, sebelum ‘meninggalkan’ itu datang!” mata Beby mulai berair “dia tidak memberitahu kamu... mugkin karena dia tidak ingin sebelum dia pergi, dia melihat wajah kamu yang sedih, dia ingin terus melihat senyum kamu sampai dia pergi. Itu yang Shania inginkan dari kamu sayang, dia ingin membawa senyum kamu, bukan kesedihan kamu!” Beby mencoba tersenyum, saat mendengar ucapan-ucapan Mama yang lembut.

"Be Brave, Honey.. Life is about Meet and Leave! She's your Best Friend, so... Give her something Best before she leaves you!!” ..... “satu lagi… ini Cuma sementara, terpisah jarak tidak berarti membunuh persahabatan kalian kan? Suatu saat nanti siapa tahu kamu bisa satu tempat pijakan lagi sama dia! Senyumlah, wajah kamu terlihat jelek sayang..” senyum Mama, lalu meninggalkan Beby.


“Mama benar,, kalau aku di posisi Shania... mungkin aku juga akan ngelakuin hal yang sama! Hmm--”
Beby membuang nafas panjang dengan sisa sesenggukan karena menahan tangis. Dia terus bicara sendiri untuk membangun kekuatan dalam dirinya, setelah mendapat kabar yang tidak mengenakan di pagi hari tadi.



Pagi ini Shania dan Beby saling diam dalam perjalanan mereka menuju sekolah, hanya sapaan pagi ditambah senyum terpaksa yang dibalut semenarik mungkin agar terlihat seperti biasa, ketika Beby yang menghampiri Shania kerumahnya. Dan Shania pun tak kalah hebat dalam berakting menyambut sapaan dan senyum Beby.

Aneh melihat mereka berdua seperti sekarang ini, Shania diam karena melihat Beby yang juga diam. Keduanya mulai berjalan menyusuri aspal basah bekas guyuran hujan kemarin sore yang terus mengguyur hingga tengah malam, ditambah tanpa ditemani sinar mentari pagi. Serasa langitpun tahu kalau kedua sahabat ini saling diam dalam ke-mendungan mereka masing-masing. Yang satu (Shania) belum juga mau buka mulut untuk jujur pada sahabatnya, yang tanpa dia tahu sudah mengetahui tentang kegelisahannya. Dan yang satunya lagi (Beby) sama-sama tidak buka mulut untuk mengklarifikasi kabar yang membuatnya dirinya seharian kemarin tidak keluar rumah, hanya melamunkan apa yang terjadi kedepan jika Shania tidak ada lagi bersamanya.

Mereka berdua sampai di sekolah, menyimpan tas punggungnya, dan. . . kembali saling diam. Sepertinya hari ini akan menjadi hari diam nasional untuk Shania dan Beby.

'si Beby kenapa sih? Dari tadi kok diem mulu!?'
lirik sekilas Shania pada Beby

'dia emang gak akan ngasih tahu aku soal kepindahannya!'
Beby melamun sendiri

Shania berpura-pura mengeluarkan buku pelajaran untuk mengusir atmosfir asing yang dia rasa, masih dengan mencuri pandang pada Beby yang sedang asik melamun.
'apa yang sedang Beby pikirin? Kok kayaknya serius banget! Apa dia lagi ada masalah? Hmm--'

'aku tanyain gak ya? Atau tetap diam seperti yang dia lakukan?! Haaah--' lamunan Beby, dengan ingatannya masih kuat memegang ucapan Mamanya 'apa ini... persahabatan yang sehat? Aku tahu apa yang membuat Shania diam, tapi kenapa aku malah jadi ikut diam dan sulit buat bicara ya?!' Beby menggerakan tangan kanannya memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Shania melihat itu, lalu dia mulai buka mulut untuk bicara menanggapi apa yang dia lihat

"kamu kenapa? Beb!" tanyanya heran
"hah? (wajah cengo) ahh.. apa?" Beby balik bertanya dengan tanpa sadar kalau tangannya masih meremas kepalanya.
"aku tanya, kamu kenapa?"
"mmm-- nggak apa-apa? Emang kenapa?"
"kamu aneh ya pagi ini? Ada apa sih?!" tanya Shania lebih
"aneh? Aneh gimana? Biasa aja kok!"
"barusan, kamu megangin kepala kamu, itu kenapa?"
"hah, oh... ini. . . emm, gak apa-apa kok, cuma niru adegan anime yang sok misterius aja, biar keren keliatannya! Ha..ha..ha" dengan tawa renyah yang dibuat-buat Beby menjawab seenaknya.

Keduanya kembali diam sampai bell masuk bunyi dan pengajarpun datang. Kelas begitu hening, murid-murid kelas IX begitu tenang mengikuti setiap materi ulasan untuk menyambut UN yang sengaja di agendakan pihak sekolah pada para pengajar di kelas IX. 2 guru masuk di kelas sampai tak terasa waktu istirahat tiba. Beby pamit pada Shania untuk ketemu sama teman-teman lainnya yang ikut ekskul Basket, jadi mereka berdua tidak menghabiskan waktu istirahat bersama. Untuk Beby ini cukup melegakan, ada pertemuan dengan anggota team Basket sekaligus kumpul bareng dengan seluruh anggota dari kelas VII dan VIII, jadi dia bisa sedikit menghindar dari Shania dan berpikir bagaimana cara bertanya pada sahabatnya itu.

20menit kurang lebih team basket putra dan putri berkumpul di base mereka, membahas tentang pergantian kapten team yang sebelumnya dijabat oleh murid kelas IX, tentang tournament yang akan diikuti, setelah kakak kelas mereka (kelas IX) selesai UN, dan bahasan lainnya yang akhirnya mengerucut ke schedule kumpul diluar sekolah pada saat weekend untuk membahas lebih dalam.

Beby berjalan menuju kelas

"Beb, Beby..!"
panggil seseorang membuat beby menengok kebelakang
"Uchub? Ada apa?!" tanyanya setelah tahu siapa yang memanggil
"gue. . . gue boleh minta tolong gak?" jawab Subhan dengan permintaan, Beby mengangkat satu alis matanya.
"tolong? tolong apa?!"
"eehh, pulang sekolah nanti, bisa gak lu temenin gue ke suatu tempat!" Beby mengerung
"keeeemana?"
"adadeh, liat aja ntar! Tapi bisa gak nih?" Subhan sok misterius dengan bertanya balik
"nggak ah, kamunya aja gak ngasih tahu mau kemana? Ntar bisa-bisa kamu nyulik aku!" dengan nada dingin dan gimik sok enggan Beby menanggapi Subhan, teman sekelas dan juga teman satu ekskul nya itu.
"eleuh Beby (Subhan itu aslinya orang Bandung, Ke Jogja karena 'tuntutan' orang tua yang kerja) delusi lu.. kurang banget, gak mungkin lah gue nyulik kapten team basket putri terbaik di SMP Shakusi Jogja ini. lagian, nyulik lu rugi tahu gak! Makan lu kan banyak!! Hahahaaa.." Canda subhan menanggapi Beby, Beby akhirnya kalah dan bisa ikut tertawa dengan celetukan Subhan
"kamu.. ish, biarin aja, aku makannya banyak! Yang penting kan gak gemuk!!
" balas Beby. Keduanya terlihat 'akrab' berjalan dilorong menuju kelas.

Warning: Admin bikin scene Shania tidak sengaja melihat Beby dan Subhan yang sedang tertawa Ha- Hi- Hu- He- Ho, tanpa Beby dan Subhan sadari, ceritanya Shania baru balik dari kantin.

Dia mengerutkan alis matanya saat melihat itu dari belakang, punggung sahabat terbaiknya dan orang di sebelahnya yang dia yakini kalau orang itu suka padanya, karena Shania juga suka. Begitu terlihat beda di mata Shania, karena kini Subhan sedang mendekat kearah Beby dan membisikan sesuatu yang entah apa, lalu Beby terlihat begitu girang. Beda dengan Beby yang tadi pagi dan selama di kelas sebelum istirahat terlihat mendung dimata Shania.

"jadi gimana? Lu bisa kan?!" kata Subhan
"Ok, aku siap! Pulang sekolah langsung cabut!!" balas Beby dengan membuat lingkaran kecil menggunakan telunjuk dan ibu jari.
"Ssipp, thanks ya!" tutur Subhan, diikuti anggukan Beby dengan senyum masih mengembang.

Beby dan Subhan sampai di kelas, Subhan kembali ketempat duduknya, pun dengan Beby. Dia sempat melihat sekilas, tempat duduk Shania kosong.
"Shania kemana?" suara Beby pelan.
setelah ucapan pelannya selesai Shania pun tiba di kelas, mukanya terlihat Bete tapi sepertinya Shania tahan.

"dari mana?" tanya Beby untuk mengetahui
"dari kantin!" jawab Shania singkat dan dingin,
Beby ber 'Oh' ria saja dengan jawaban Shania, tanpa memperdulikan gimik wajahnya yang terlihat kesal. Mungkin karena dari tadi pagi mereka berdua tidak banyak bicara jadi Beby tidak begitu menghiraukan wajah Shania sekarang.

"emp, sebelum aku lupa! Pulang nanti, aku gak bisa bareng sama kamu, gak apa-apa kan?" ucap Beby, terlihat wajahnya cerah benderang.
"emang kamu mau kemana?" tanya Shania berharap Beby jujur. Meski dia sudah punya tebakan jawaban kalau Beby tidak pulang bareng dengannya karena akan pergi sama Subhan.
"aku mau.. (berpikir sejenak) kumpul sama teman-teman ekskul, ngebahas yang tadi kepotong pas istirahat!" jawabnya,
"oooh, ya udah! Aku minta kak Ve buat jemput aja!!" tutur Shania dengan menahan kecewa karena Beby sepertinya tidak jujur padanya.

Beby terlihat senyam-senyum-sendiri, seperti baru merasakan sesuatu yang fantastik, hingga membuat moodnya naik cepat, ketimbang tadi pagi. Shania melihat itu, dan. . . dia mengerungkan dahinya
'apa yang sebenarnya sedang terjadi?' tanya Shania dalam hati 'tadi pagi keliatannya mendung banget, tapi abis istirahat sama ketemu ama si Uchub, kok dia jdi beda sih?!' wajah Shania mulai kesal, dia kini sedang dikuasi rasa cemburu.
'apa. . . Beby suka sama Subhan?! Tapi watu itu...' ... 'Haah, udahlah... kenapa juga aku mikirin itu! Toh aku sama Uchub kan gak ada apa-apa, dan gak mungkin akan ada apa-apa juga!!' sambil mengingat pindahan yang sudah semakin dekat.

Sepulang sekolah, Beby langsung pamit pada Shania, dia memang jalan ketempat base ekskul nya, tapi itu hanya sebuah kamuflase, untuk menghindari Shania. Subhan meminta pada Beby agar Shania jangan sampai tahu kalau mereka akan pergi bareng, Beby mengirim pesan pada Subhan kalau dia akan ke base dulu, sampai Shania pulang, dan Subhan diminta oleh Beby untuk menyuruh temannya melihat apa Shania sudah pulang atau belumnya?



...Belum Selesai...

0 comments:

Poskan Komentar