Sabtu, 25 Mei 2013

Haruskah Ku Relakan Dirimu Pergi #cerpen1



Aku termenung sendirian dijendela kamarku.Memandangi sekaligus menikmati indahnya suasana malam.Bintang satu persatu bermunculan menampakan cahayanya yang indah.Diikuti kemunculan bulan yangg berbentuk sabit.

Angin malam tak henti-hentinya berhembus.Aku merasa kedinginan.Semua itu membuatku menginga ketika diberi pakaian hangat oleh sahabatku,Dion.
"Nih pake jaketku!"Dion melihatku kedinginan dibawah rintikan air hujan.Ia melepas jaketnya.Ia rela berkorban demi aku."Makasih ya.."aku segera memakai jaket itu.

#Jedaarrrr...
Suara petir itu membuyarkan lamunanku.Tetes demi tetes butiran bening bercucuran dari langit dan semakin membesar."Apa aku sanggup ya besok,lusa,dan setersunya hidup tanpa Dion?"gumamku.

Rasanya aku tak ingin hari berganti.Jika hari berganti,itu tandanya aku benar-benar harus terpisah dengan Dion.Aku ga sanggup! Sebab,siapa yg nanti akan menolongku jika aku kesulitan,membantuku membuatkan PR,memberiku contekan saat ulangan,atau mengantar dan menemaniku kemanapun?

Aku terlarut dalam lamunan hingga aku tertidur pulas.Terdengar suara ayam berkokok.Waktu sudah pagi! Oh god,kenapa kau biarkan hari berganti? Kenapa kau biarkan aku dan Dion berpisah?

Rasanya sangat malas untuk beranjak dari tempatku semula.Aku ingin memutar waktu agar dapat terus bersama-sama dengan Dion.Tapi,itu semua mustahil.Ya sudah kupaksakan diri untuk berangkat kesekolah.

Sepanjang jalan aku hanya bisa fokus ke jalanan.Kulupakan sejenak tentang Dion.Sesampainya disekolah,aku langsung berlari menuju kelas.Berharap bisa menghabiskan waktu berdua dengan Dion walau hanya 5 menit.

Tapi harapanku itu sekejap musnah.Ku lihat ayah Dion sedang berjalan menuju parkiran.Perasaanku mulai tak enak.

"Ya Tuhan,semoga Dion masih ada dikelas..."pintaku.Aku pun mempercepat langkahku.

Sesampainya dikelas,aku melihat Dion.Sepertinya dia menungguku.

"Hai semua."sapaku."Maaf kalau membuat kalian menunggu."sambungku.
"Shania,kamu dari mana aja?"tanya Dion.
"Maaf,aku ga mau berpisah dengan kamu,Dion!"rintihku.
"Aku juga ga mau! Tapi ya gimana lagi,aku harus ikut ayahku ke Kalimantan.Maafkan aku ya..."ucap Dion.Seketika suasana kelas menjadi hening.
"Maaf,Dion,sepertinya ayahmu sudah menunggu."ujar wali kelasku.Aku segera duduk kebangku ku sebari menangis.
"Baik,Bu!"sahut Dion."Teman-teman semuanya,saya minta maaf kalau selama ini saya punya salah.Kali ini saya harus pergi.Tapi bukan berarti kita tak bisa bersama-sama lagi.Sekali lagi saya minta maaf.Terima kasih selama ini kalian sudah mau menjadi teman saya.Saya harus pergi.Bye..."lanjut Dion.

Seketika itu juga Dion pergi meninggalkan kelas.Aku seperti tak sadarkan diri.

"Ya Tuhan,semoga ini hanya mimpi buruk!".Tak henti-hentinya aku menucapkan kalimat itu dalam hati.Kulihat Dion sudah melangkah cukup jauh,akupun mengejarnya.

"Dion,tunggu!"ujarku dengan nafas terengah-engah.
"Shania? Aku kira kamu ga akan ngejar aku!"sahut Dion.
"Dion,jangan pernah lupa sama aku ya! Kita tetap sahabatan kan?"tanyaku lirih.
"Iya,Shan! Aku ga akan pernah lupa sama kamu.Iyah,kita tetap sahabatan kok!"sahut Dion seraya memelukku.
"Janji yah!"tanyaku.
"Iyah aku janji!"jawab Dion."Oia ini buat kamu."Dion memberiku sebuah kalung berliontin D&S.Ia pun langsung memakaikannya kepadaku
"Makasih ya,Dion.."
"Kamu harus janji.Kapanpun aku kembali,kalung ini harus tetap ada!"pesan Dion.
"Iya aku janji."kataku meyakinkan.
Dion pun pergi.Sungguh aku tak rela.Aku hanya bisa menangis.Semoga saja Tuhan mengizinkan kami bertemu lagi dilain waktu.

***The End***

Ini hanyalah cerita fiksi.Bukan kisah nyata^^
_AjengFhanyan




0 comments:

Poskan Komentar