Jumat, 24 Mei 2013

Este Regalo Especial Parati, Stella #3

“Cici Stella lagi opname, sob!” ujar Hendra. “hah?? Yang bener lu, sob!” jangan bercanda ya!” “bentakku. “kaga! Ngapain gue bercanda kalo masalah ginian?” kata Hendra. “trus dia dirawat di RS mana??” tanyaku kebingungan. “di RS Saiful Anwar! Buruan kesini. Anak-anak sudah disini!” sahut Hendra. “oke, sob. Ane meluncur kesana!”. Aku pun segera mengambil jaket yang tergantung di lemari dan bergegas memakai celana jeans. Kemudian segera memacu sepeda motorku menuju ke TKP. Sesampainya di RS, aku segera memarkir motorku di tempat yang sudah tersedia. Aku segera berlari menuju ke ruang corridor RS. Nafas terengah-terengah disertai keringat mengucur di setiap sisi kepala. Sambil terus ku berlari. Terlihat pintu masuk RS sudah di depan mata, aku segera memaksimalkan lariku untuk segera menginjakkan kaki kananku di pintu masuk RS saat itu juga.
“Suster.. pasien bernama Stella Cornelia dirawat di ruang mana?” tanyaku sambil berkeringat sehabis berlari menuju pintu RS.
“ada di ruang 48, di korridor J, sebelah timur ruang K,dan kemudian anda belok kekiri di ruang K. Di sana ada ruang 48” kata suster yang kebetulan lewat di dekatku tadi. Aku pun bergegas menuju ke arah yang tadi di jelaskan oleh perawat berambut panjang nan cantik yang membawa peralatan medis. Ku berlari terengah-engah menyusuri setiap lorong korridor untuk mencari dimana tempat Stella di rawat. Tak lama, terdengar suara seseorang memanggil namaku dari kejauhan—suara itu terdengar tidak asing di telingaku, itu suara kakakku yang pemalu tetapi tetap Fashionable, Kak Ve—“adek..!” seru kak Ve. Aku pun segera membalikkan badan untuk menengok ke arah mana sumber suara itu berasal. Terlihat Kak Ve bersama Sonya—gadis cantik berambut panjang yang mempunyai hobby makan—Nabilah, Cindy, Achan, Jeje, Beby, Shanju, Ghaida, Hendra, Pandu, Etsa—teman dekatku yang jahil bersama Si Azam—dan Puguh—kakak kelasku dulu, yang sekarang sudah kuliah bersama Kak Ve dan Kak Melody—
“Bang Bhima, Ivan, Ja’far, Iksan, mana, guys??” tanaku sambil terengah-engah dan membungkuk memegang kedua lututku.
“Kak Ivan lagi d perjalanan, Kak Gunung..” sahut Nabilah sambil memegang handphonenya.
“sama kak Iksan..” ibuh Nabilah, yang tampaknya baru saja menerima pesan singkat dari Iksan yang biasa kupanggil Nustqiew ini.
“Kak Ja’far juga lagi on the way, kakak..” sahut adikku Jeje. Jeje bersahabat dengan sahabatku, Ja’far. Tapi mereka berdua sama sekali tidak memendam rasa selain rasa untuk hanya berteman.
“Arka ntar telat dateng katanya, tapi pasti kesini kok..” ujar Ghaida yang mulai akrab dengan Banani dan Arka akhir-akhir ini.
“hmm.. kalo Banani, bentar lagi dateng kok. Masih di parkiran orangnya”. Sahut Shania yang mulai tampak dekat da akrab dengan Banani.
Tiba-tiba, handphoneku bergetar di saku kananku. “new sim 1 text message from Teh_Melo” itulah tulisan yang tertera di LCD handphoneku. “oh, kak Melody..” gumamku. “dek.. aku denger kabar, Stella di RS ya??” tanya Kak Melody. “iya, kak.. kakak kesini ya” balasku melalui sms. “iya.. ini lagi di perjalanan ma Adit, dia yang ngasih tau kakak kalo Stella di RS” Adit memang memendam rasa terhadap kakakku yang 1 ini. Tapi kakakku masih belum menunjukan tanda-tanda akan menerima Adit sebagai pacarnya. Kakakku ini malah menanggap Adit sebagai adiknya yang lain. Tapi, itu tidak membuat Adit putus asa ataupun pasrah. Dia terus berusaha mendapatkan hati kakakku ini. Dan aku lihat perjuangan cintanya tidak main-main. Dia tampak serius menjalin hubungan dengan Kak Melodyku. Aku sah-sah saja kakakku berpacaran dengan siapa saja, asal pria yang menjadi kekasih kakakku ini mampu membuatnya bahagia dan bertanggung jawab. Aku melihat, kak Melody tampak cukup bahagia dengan Adit, tapi aku masih meragukan sifat tanggung jawabnya. Sekitar 15 menit kemudian, kakakku ini datang, dia buru-buru menghampiriku, meninggalkan Adit di belakang yang berjalan sambil memegang handphonenya, tampaknya dia sedang bermain Facebook. “gimana kondisi Stella, dek?” tanya Kak Melody penasaran. “masih belum tau, kakak.. dokter masih belum ngijinin kita masuk.” Semua berharap-harap cemas saat itu. Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang rawat inap dengan mengenakan masker. “disini ada keluarga atau kerabat dekat dari pasien yang bernama Stella Cornelia?” semua kemudian menunjuk ke arahku dengan cara yang sopan. “Nung..” kata Adit. Dokter pun mengarahkan pandanganya padaku dan mengajakku masuk kedalam ruang rawat inap, tampaknya aku akan menjadi orang pertama yang di beritahu oleh dokter, apa yang sebenarnya terjadi dengan Stella. Aku pun berjalan mengikuti dokter memasuki ruang rawat inap tersebut. Betapa kagetnya aku, melihat bidadari impianku tergolek lemas di aas ranjang RS dengan infus dan bantuan oksigen menutupi hidung dan bibir manisnya. Wajahnya pucat, matanya terpejam.
“begini, kondisi pasien..” kata dokter singkat, sambil menunjukkan tangan kanannya kearah Stella.
“kalau saya boleh mengetahui penyebab sakit pasien sakit pasien, dok? Tanyaku sambil menahan air mataku.
“Stella sedang mengalami Tyfus, dan dia sangat kelalahan. Dan mengakibatkan daya tahan tubuhnya lemah, sehingga dia kehilangan kekuatan untuk beraktifitas normal.” Kata dokter menjelaskan.
“berapa lama ini akan berlangsung, pak dokter?” tanyaku.
“jika dihitung melalui sistem matematis, bisa 1-2 bulan..” jelas dokter, sambil menyuruhku untuk duduk di kursi yang sudah disediakan pihak RS, untuk keluarga yang menjenguk pasien.
“sa..sa..tu.. satu dua bulan, dok?” kataku.
“hmm, bisa dikaakan seperti itu, kita hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah SWT, Supaya Stella bisa kembali sehat. Kami akan berusaha semaksimal mungkin supaya bisa mengembalikan kondisi Stella hingga benar-benar pulih 100%. Dan, tolong kamu jaga dia. Dalam keadaan seperti ini, kehadiran orang yang ia sayang dan cintai, sangat berarti” kata Dokter sambil menepuk pundakku. “baik, pak dokter. Saya mengerti” jawabku singkat.
“sudah kuduga.. semua menyimpan rahasia di balik semua ini” gumamku.
Aku pun berusaha menahan emosiku, arena telah di bohongi oleh teman-temanku, bahkan sahabatku sendiri. Kemudian, aku menghampiri Stella.
“cepet sembuh ya, Cici..” kataku sambil mengelus-elus rambutnya yang panjang lurus. Mataku pun mulai berkaca-kaca.
“aku akan selalu mendoakan agar kamu cepet sembuh..” perlahan, air mataku menetes di pipinya, lalu, segera ku hapus dengan jari di tangan kananku. Tak lama, aku melihat air mata mengalir di kedua pipinya secara bergantian dan perlahan, yang itu membasahi wajah cantiknya. Di dalam hati ku berdoa.
“ya Allah, berikanlah kesembuhan untuk bidadariku ini.. supaya dia dapat beraktifitas seperti dulu lagi, menemani hariku, dan mewarnai kehidupanku.. ya Allah, ya Tuhan kami, perkenankanlah doa saya ini, ammin ya rabbal allamin..” kemudian suster membuka pintu dan berkata, “maaf dek, jam besuk pasien sudah berakhir. Silahkan kebali lagi nanti pukul 19.00 WIB atau besok pukul 10.00 WIB—saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 17.48 WIB, Sudah saatnya sholat Mahgrib—aku pun hanya mengganguk dan kembali menatap Stella yang terbaring, sembari berdiri untuk meninggalkan tempat. Ku elus lagi rambut dan poninya, kemudian, aku mencium keningnya yang tertutupi oleh poni. Agak lama, sekitar 2 menit. Perawat pun sabar menunggu. Karena ini adalah hal yang sangat emosional untukku. Kemudian, aku pergi berjalan menjauhinya, ditemani dokter yang sedari tadi menemaniku menjaga Stella. Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari ruang rawat inap itu. Dan diluar teman-teman, sahabat, dan saudaraku telah menantiku dengan raut wajah penasaran, apa yang sebenarnya menimpa Stella.
“gimana keadaan Stella, Nung?” semua menanyakan hal yang sama padaku.
“sorry, guys, gue lagi down banget, kasih gue waktu sendiri dulu, besok gue ceritain”. Bersamaan dengan kalimat terakhir yang aku ucapkan, aku, Achan, Jeje, dan Kak Ve beranjak pulang. Sementara yang lainnya—semua sudah berkumpul termasuk Arka, Banani, Ivan, Japar dan Ivan—yang masih tinggal di RS, berkeinginan untuk masuk ke urang rawat inap pukul 19.00 WIB. Terlihat Pandu dengan Beby, Arka dengan Ghaida, Banani dengan Shanju, Ivan dengan Nabilah, Iksan dengan Cindy, dan Ja’far sedang berbincang–bincang dengan Kakakku, Melody, mengenai rencana berikutnya untuk memecahkan masalah apabila aku mengetahui bahwa mereka berbohong kepadaku, meskipun aku sudah tau kalau mereka membohongiku. Masih juga terdapat Adit dan Hendra, Adit sedang menunggui Kak Melody sambil memainkan handphonenya dan mendengarkan musik melalui Headset. Sementara Hendra—yang juga memendam rasa terhadap Shanju—juga menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan Shanju, yang dari awal mengobrol dengan Banani. Sementara itu, di perjalanan, aku hanya bisa duduk terdiam dan termenung sambil berboncengan dengan Kak Ve terbesit di pikiranku “kenapa teman-temanku bisa tega menyembunyikan hal seperti ini?? Pa maksud dari semua ini??” gumamku dalam hati. Sambil mengepalkan tangan kananku.
“sabar ya, dek..” ujar Kak Ve sambil mengelus-elus punggungku dan berusaha menenangkanku.
“hmm.. iya, kakak. Makasih yaa” ujarku pelan.
“jangan nangis yaa, sini peluk kakak.” Kata Kak Ve menghiburku.
“nggak dah, kak. Jangan sekarang, lagi males ngapa-ngapain ini” kataku.
Keesokan harinya, di sekolah, aku bertemu dengan Beby. Dia mengajakku berbicara empat mata saja. Sementara Achan, Jeje, Ghaida, Shania, Sonya, Cindy, dan Nabilah, sedang berlatih dance—pada saat itu, mereka Free Lessons karena dipersiapkan untuk mengikuti lomba Dance di Jakarta—Beby pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku secara spesifik, lengkap dan jelas. Perlahan aku mulai memahami apa maksud dari semua ini.
“kami semua menyembunyikan kabar ini dari kakak, karena takutnya ntar kak Gunung kenapa-kenapa ataupun shock..” kata Beby menjelaskan. Tiba-tiba, Ghaida menghampiri kami beruda yang tengah berbincang-bincang, Ghaida terlihat kelelahan setelah melakukan latihan Dance, dan ingin meminta minuman dari Beby, “Beb, aku minta minummu ya..” kata Ghaida sambil mengambil tas Beby yang berada di sampng kananku. “oh, iya, ambil aja neng Kamen..”—Beby memanggil Ghaida dengan sebutan Kamen, karena si Ghaida sangat menggemari tokoh fiksi asal Jepang, Kamen Rider, atau yang akrab di panggil Ksatria Baja Hitam—Setelah, selesai menenggak minuman isotonic yang di bawa oleh Beby, Ghaida pun ikut “nimbrung” bersama kami berdua.
“iya! Tapi nggak gini juga caranya! Kalau dia cuman sakit biasa aku dikasih tau telat, nggak masalah. Ini udah keterlaluan, sampe dia opname di RS 6 hari! Besok udah hari yang ke-7! Seminggu!” hentakku dengan sedikit emosi. Ghaida dan Beby berusaha menenangkanku, seketika itu, kedua adikku, Achan dan Jeje menghampiriku, karena mendengar hentakkan suaraku tadi. “kenapa, kak?” tanya Jeje. “iya nih, kakak.. sabar atuh, ada apa sih?” tanya Achan keheranan. “ngga ada apa-apa kok, dek.. ini cuman mo latian drama aja ma Beby, biasa.. hehe” jawabku dengan sedikit senyuman palsu. Kemudian, mereka berdua tetap melanjutkan latian mereka, dan meninggalkan aku dan Beby berdua saja. Di saat itu pula aku berusaha menahan emosi dan terus berjuang menghadapi sakit hati ini “sendirian”. Selama kurang lebih 25 menit, kami berbicara 4 mata—aku datang ke sekolah 30 menit lebih awal, dan jam masuk sekolah pukul 06.30—
Untuk sementara waktu, aku fokus memperbaiki nilai-niali di sekolahku yang menurun. Perlahan nilaiku mulai naik dan kembali stabil. Dan teman-temanku terus mensuppportku saat “down” seperti ini.
Waktu istirahat pun tiba, Ivan yang sedari tadi kulihat ingin mengajakku bicara, selalu tidak bisa, karena tadi, masih dilangsungkan Ulangan Harian Fisika.
“Nung..” panggil Ivan sambil mengeluarkan handphone di saku kanannya.
“apa, bro?” jawabku singkat.
“Ada sms dari Sonia..” sambil menunjukkan sms itu padaku.—Sonia adalah adik kandung dari Stella, dia memiliki tinggi yang hampir sama dengan kakaknya, tapi perbedaannya adalah, dia selalu menangis bila dikerjai oleh kakaknya—
“Kak Ivan.. tolong bilangin ke Kak Gunung.. Sonia sama mama mau jenguk Cici Stella. Soalnya kami dapet kabar kalo Ci Stella opname di RS”. Itulah petikan pesan singkat Sonia melalui Ivan. Sonia mengirim sms ke Ivan, karena kontak nomor di handphoneku semua terhapus saat Sonia berganti nomor baru. Dan Sonia berganti nomor, aku sudah tidak pernah mengirim sms ke dia lagi. Sepulang sekolah, aku langsung menuju Terminal Arjosari untuk menjemput calon mertua dan adik iparku—hanya dalam mimpi penulis—kami langsung menuju RS. Setelah sampai di RS, dan menuju ke ruangan dimana Stella dirawat, ibunya pun tak kuasa menahan air mata melihat putri pertamanya terbaring lemas di atas Ruang perawatan dengan selang infuse di pergelangan tangan kirinya, beliau pun sedih dan meneteskan air mata. Aku pun mundur beberapa langkah dan menuju ke keluar ruangan, untuk memberikan waktu tersendiri untuk keluarga Stella. Tak hanya ibu Stella saja yang menangis, adiknya pun, yang akrab disapa Wawa ini pun ikut larut dalam kesedihan. Aku pun menunggu diluar saja, sendirian. Aku pun tertidur karena kelelahan. Lalu, beberapa menit kemudian, ibu Stella membangunkanku dari tidurku.
“Gunung..” ujar Ibu Stella sambil sedikit menggoyang-goyang pundakku.
“ouh.. iya? Ada apa tante?” jawabku sambil berusaha membuka mata.
“kami harus kembali dulu ke Semarang, tolong kamu jaga Stella, ya” ucap ibu Stella dengan nada percaya padaku.
“ouh, baik tante, saya siap” jawabku dengan nada tegas tapi tetap kalem.
Kemudian, mereka beranjak pergi meninggalkanku—sebelum itu, ibu Stella berbicara panjang lebar kepadaku semua hal yang disukai maupun tidak disukai oleh Stella—tentu saja aku sempat mencium tangan kanan ibu Stella. Segera aku kembali ke ruangan untuk menjaga Stella. Dokter pun mengizinkanku untuk beraktifitas disitu, seperti sholat,menggambar, mengerjakan PR. Asal tidak menggangu keamanan dan kenyamanan penghuni RS yang lain—di ruangan itu hanya ada Stella dan aku—setiap pulang sekolah, mulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB aku setia menunggu Stella untuk membuka kedua matanya—bangun dari tidur panjangnya—dan menyebut namaku. Ku pegang erat-erat tangan kananya setiap aku tertidur karena kelelahan. Tak jarang, bila aku terbangun tanganku sudah basah dengan air mata. Aku sudah merindukan senyuman Stella yang berhasil menaklukkan hatiku. Ku masih ingin melihatnya bernyanyi lagi, terutama lagu Adele – Someone Like You yang ketika itu kunyanyikan bersamanya di alun-alun kota di sore hari yang ditemani matahari sore yang terbenam. Dance Shuffle-nya, tak akan mudah kulupakkan begitu saja. Aku selalu berdoa untuk kesembuhannya. Dan aku mulai membawakan gift-gift untuknya, mulai dari jersey AC Milan bertuliskan Stella bernomor punggung 48, Boneka, CD dan album Adele dan jacket AC Milan pula. Aku juga bergantian dengan teman-temanku yang lain, dalam hal menunggu Stella, terkadang 1-2 hari ataupun tidak bergantian sama sekali…~To Be Continue..

Gunung Mahendra
@GunungCornelia

0 comments:

Poskan Komentar