Senin, 08 Juli 2013

...PELANGI DALAM SAKURA... *7th Chapter*

"gue, Ochi!" ucap, murid perempuan yang memiliki tinggi badan yang sama dengan Shania.
"aku, Shania.." balas Shania
"lu, ga ikut ospek ya kemarin?"
Shania menggeleng, dengan matanya masih melihat ochi
"owhh.. pantes, gak lihat!"

Ochi inginnya mencoba mengakrabkan diri pada Shania, namun tak lama seorang guru datang, yang ternyata guru itu adalah wali kelas untuk kelas mereka sekaligus guru bahasa inggris. Semua siswa terlihat begitu tenang tak bergemuruh, hanya alunan nafas mereka yang berbisik, saat guru yang berperawakan kecil, terlihat masih muda dan cantik, tapi begitu penuh karisma itu memperkenalkan dirinya pada murid-murid yang akan berada dibawah tanggung jawabnya.

"selamat pagi anak-anak.."
"pagiiiii….. bu" secara serempak dan senada mereka menjawab, dengan suara yang lebih didominasi oleh suara dari murid laki-laki.
"hmm.. kok gak ada semangatnya? ini hari pertama loh!" basa-basi guru mungil berkulit putih itu, dengan wajah dipenuhi senyum bahagia.

tidak ada tanggapan, semua murid diam. mungkin karena ini hari pertama, jadi masih mencoba meraba untuk beradaptasi.

"kira-kira... dari kalian ada yang sudah tahu nama ibu?" ibu wali kelas mencoba membuat jalan untuk anak muridnya bisa mengeluarkan suara.
"ibu.. Kirei!" dengan lantangnya seorang murid laki-laki berbicara, membuat guru bahasa inggris itu melengkungkan senyum, karena sepertinya pancingannya berhasil membuat murid-murid siap berbicara.
"salah, weii!" sambar murid laki-laki lainnya "ibu itu... namanya, ibu... Melody! Iya kan?!” lanjutnya begitu percaya diri.
"huuuh, sok tahu lu!" ikut lainnya, hanya murid laki-laki yang rame bicara, sementara murid perempuannya belum ada yang terlihat ingin bicara, mereka hanya ikut menyoraki saja.
"ya tahu lah, lu kemarin pas Ospek gak pada baca buku panduan sekolah ini apa ya? disono jelas banget ada profil, guru-guru sama staff sekolah ini!" jawabnya
"iya, dan gue juga tahu.. yang lu lihat pasti staff sama pengajar yang cantik-cantik gitu kayak Bu Melody, iya kan?"
"ya iyalah.. gue kan masih normal! gile aja lu gue baca-baca profil staff sama pengajar yang bapak-bapak!!"

Semua murid bersorak ria menanggapi murid tersebut. sementara Ochi, hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah teman-teman sekelasnya. Shania tak berkomentar, tak bereaksi, dia tidak terlalu focus pada apa yang sedang bergemuruh di kelasnya. Ochi melihat Shania, dia terhenti sejenak dan terus melihat Shania sambil memikirkan sesuatu.

"Sudah-sudah, kenapa ramenya jadi seperti dipasar!” kata Melody, menghentikan adu argument murid-muridnya.
Seketika mereka diam, menuruti apa yang dikatakan gurunya.
"iya! Nama ibu Melody, dan mulai hari ini.. ibu menjadi guru bahasa inggris.. sekaligus, ibu juga di berikan tanggung jawab oleh pihak sekolah untuk menjadi wali kelas kalian!" lanjutnya begitu mantap. Semua murid terlihat senang dan antusias dengan apa yang di ucapkan Melody.

"2jam ini, ibu tidak akan memulai pelajaran dulu. Karena Ibu mau tahu dan kenal terlebih dahulu sama murid-murid ibu yang penuh semangat ini! Bagaimana? Ada yang berani maju untuk memulai? Atau, ibu panggil sesuai absensi!?"

Dengan cepat seluruh siswa di kelas mengangkat tangannya, kecuali ochi dan Shania.

"hmm, ibu mau... kamu yang maju lebih dulu!" ucap Melody dengan telunjuk tangannya dia arahkan pada Shania yang duduk bersebelahan dengan ochi. Teman-teman lainnya langsung mengarahkan pandangan mereka pada Shania.

Shania melangkahkan kakinya kedepan, dengan raut muka yang tidak ada semangat sama sekali. Ibu Melody memperhatikan muridnya itu. Dia menghela nafas sebelum memulai perkenalannya
"hai semua… nama aku Shania junianantha, aku dari SMP N 4 Shakusi Jogjakarta. . . . mmm, kalian bisa panggil aku Shania, Terima kasih!” Ucap Shania, dengan diakhiri membungkukan badannya.
"ada hal lain yang mau kamu katakan Shania?" Tanya Melody, Shania melihat kearah wali kelasnya itu, lalu menggeleng.
"ada yang mau ditanyakan? Pada Shania!" Melody beralih pada murid lainnya.

Seperti tingkah murid laki-laki kebanyakan, mereka saling berebut mengacungkan tangan nya untuk bisa bertanya pada murid perempuan, untuk sekedar mencari perhatian.
Perkenalan terus berlanjut hingga 2jam tidak terasa. Setelah perkenalan, berlanjut ke obrolan lain, dan. . . pemilihan murid-murid yang akan bertanggung jawab atas kelas X-4 selama satu tahun kedepan.


***
"Gimana Jakarta? Enak gak tinggal disana?!"
Subhan membuka obrolan kala ia hanya berdua dengan Shania.

Mereka ber empat sedang bermain di pesisir pantai kala Shania main ke Jogja, dia mengajak Subhan, Aji dan juga Beby untuk bermain ke pantai menggunakan mobilnya.

"Emmm-- enakan disinilah! Ada Beby, tante Ana, ada kalian juga " jawabnya dengan diakhiri memandang Subhan
"Emang disana kenapa?"
"Disana... aku selalu merasa sendiri Chub, di sekolah juga, aku gak bisa punya banyak teman. Seolah mereka sedang menghakimi aku yang hanya seorang gadis dari sudut Jogja, yang tidak setingkatan dengan mereka!" Kesahnya dalam jawaban "mereka dekat kalau aku punya segalanya, tapi... kalau aku tidak punya apapun mereka pasti akan menyingkirkan aku. Haaahh-- Jakarta terlalu menuntut harta, bahkan untuk seorang teman :'-)"

Subhan melihat Shania "kamu pasti bisa melewati semuanya, kamu harus tunjukan sama mereka, yang menganggap pertemanan itu hanya sebuah simbol yang digambar oleh harta. Waktu disini, kamu bisa dikenal oleh hampir seluruh penghuni Shakusi, masa di Jakarta enggak! "
giliran Shania yang melihat Subhan, dan posisinya jadi tatap-tatapan, "dan kamu tahu gak? Kenapa mereka waktu di SMP begitu senang mengenal kamu?",
Shania mengerung kecil, lalu menggeleng pelan.
"Itu karena kamu punya ini (Subhan mempraktekan senyum 2jari, dengan mata dia sipitkan, khas senyum Shania)"
"Eh? Apaan tuh? Hahahaa bisa aja!" Tawa renyah Shania.
"Aku serius tahu, itu yang bikin mereka senang kenal sama kamu. Senyum kamu Shan, senyum kamu yang merangkul mereka untuk bisa membuka diri, senyum hangat kamu yang membuat mereka berpikir, kalau kamu itu gadis yang menyenangkan dan tidak memilih-milih untuk dekat dengan siapapun!", Shania mengeluarkan senyum manisnya setelah tawa renyah "apapun yang terjadi, jangan hapus, apalagi dihilangin senyum manisnya ya, karena senyum kamu juga yang bikin aku...-"
"Bikin. . . Aku. . . Aapa?" Tanya Shania penasaran
"Bikin aku su,-"

"Woyyy! waduhh, malah pacaran lagi.. gue ama Beby gue jauh-jauh nyari air kelapa, lu berdua malah asik bisik-bisikan, mana tatap-tatapan lagi, udah kayak di sinetron striping lu berdua!!"

Shania kaget akan kedatangan Aji dan Beby; Subhan menjatuhkan kepalanya lemas, karena lagi-lagi dia gagal menyatakan cintanya pada Shania; Beby tersenyum dan mulai bersuara
"Yaaa.. maaf ya udah ganggu kayaknya barusan ada moment penting deh!"
"Moment? Moment apaan Beb?" Tanya Aji
"Euhh! Gak pernah berubah, nggak bisa peka banget sih!!" Ejek Beby "kedatangan kita ituuu.. mengganggu mereka tahu!!"
Aji melihat Subhan dan Shania "ouwhhh, maksud lu, mereka yang lagi pacaran?!"
Beby tersenyum dan mengangguk kecil "yaudah deh, nih ambil kelapanya! Gue mau main di pantai sama Beby gue.. yuk Beb!" Lanjut Aji lalu menarik paksa Beby.
"Eeehh. . . Aku ikut!" Shania malah ikutan berdiri mengejar Aji dan Beby.

Angin sepoi menemani keriangan mereka ber4, bermain air laut yang begitu biru, tawa bahagia, ejekan canda yang menyenangkan, membuat ke4 nya terlihat sangat akrab.

Akankah seterusnya aku bisa tertawa bareng bersama mereka semua? Aku merasa hidup saat dengan Beby dan juga mereka, Tuhan semoga kegembiraan ini akan bisa terus aku rasakan, setidaknya bersama sahabatku aku masih bisa merasakan kebahagian, karena Mama sama Papa terasa terus menjauh dalam kehidupanku. Terima kasih untuk hari ini Tuhan!

Sepulangnya dari pantai, Shania mampir dulu kerumah Beby, disana dia menceritakan perbincangan dirinya dengan Subhan, Beby dari diam serius mendengarkan... berubah senyam-senyum manis hingga di ending dia meluncurkan godaan untuk Shania.

Tidak lama, Shania diam dirumah Beby karena waktu semakin sore, dan dia harus kembali ke Jakarta. Sebuah pelukan hangat mengantarkannya pulang ke Jakarta. Rotasi itu mungkin akan terus seperti saat ini untuk Shania dan juga Beby hingga... entah hingga kapan.

"Pokoknya! Kalau libur semester nanti, kamu yang harus main ke Jakarta! Kalau perlu, aku culik aja kamu dari Mama Ana!! "
"Kayak yang berani aja, nyulik-nyulik aku!"
"Emm, ngeremehin Shanju!? Gak tahu siapa Shanju?"
"Enggak! Emang kamu siapa? Penting apa aku harus tahu siapa kamu " balas Beby dengan canda ejekannya.
"ck_- iya deh.. tahu dehhhh... siapa Beby Chaesara Anadila yang sekarang! Hmm-- susah deh, sekarang mau ngerjain kamu, udah gak pemalu sih!!"
"Iya! Dan itu karena kamu!! Aku berubah jadi gak pemalu, tapi..,-"
"Malu-maluin! Hahahaa" sabet Shania pada apa yang akan diucapkan Beby, Beby memanyunkan bibirnya sedikit lalu ikut tertawa bersama Shania.

Mobil berplat B itu mulai meninggalkan aspal komplek, Shania pulang dengan raut wajah yang begitu bahagia. setelah plat nomor mobil yang membawanya ke pantai tadi hilang dari penglihatan Beby, ia pun mulai menggerakan kakinya untuk kembali masuk kedalam rumah, namun... saat dia didekat gerbang yang tingginya hanya sepinggang, Beby merasakan pusing sampai-sampai dia tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri, dan akhirnya dia menggapaikan tangannya kepagar besi untuk mempertahankan agar dirinya tidak sampai jatuh keatas tanah
"Hsss-- aaaauwww..." rintihnya sambil memejamkan mata "kenapa tiba-tiba pusing gini! Aduuuhhh, heeeeuu ssakit lagi!!" Kini tangan kirinya dia angkat dari pagar besi untuk meremas kepalanya yang terasa sakit.

Entah berapa menit Beby dalam posisinya kini, dia mulai membuka matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyeimbangkan penglihatannya, dengan tangan kiri masih meremas kepalanya, Beby berpikir kalau dia harus bisa masuk ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mulai berjalan meski sedikit sempoyongan, akhirnya Beby bisa masuk juga ke rumah, dia langsung membantingkan tubuhnya keatas sofa di ruang keluarga, memijat-mijat kepalanya. Dengan perlahan, rasa sakit yang tadi menyerangnya tiba-tiba, hilang dengan sendirinya. Sampai, tanpa Beby sadari dia ketiduran di sofa, hingga Mamanya pulang dari rumah sakit.

Mama menatap sebentar putri satu-satunya itu, ia mengusap lembut pipi Beby dengan senyum dan ucapan yang hanya dia lantunkan di hati.
"Kamu begitu mirip dengan almarhum Papa kamu sayang! Mama sayang banget sama kamu!!" . . . "Mama tidak mau kehilangan kamu, seperti Mama kehilangan Papa dulu, Mama akan selalu menjaga kamu! :')"

Beby yang merasakan sentuhan dibagian wajahnya perlahan terbangun
"Ma..Mama...!" Mama membalasnya dengan senyum "Mama kapan pulang? "
"Baru saja, pasti mainnya rame banget ya? Sampai wajah kamu terlihat lelah begitu!" Beby mengangguk dengan diikuti senyum
"udah makan belum?"
"tadi sih.. beli bakso sama Shania Mah, oh ya... Shania titip salam, katanya maaf karena pulangnya gak pamit sama Mama!"
"Berarti belum makan dong! Mama tahu, tadi Shania mengirimi mama pesan singkat! cuci muka dulu sana, Mama bawain makanan kesukaan kamu, kita makan malam sama-sama!"
"Wihh.. enak nih, tapi... apa nantinya Beby gak akan gemuk? Kan kalau makan malam-malam gini suka cepet gemuk Mah!"
"Memangnya kenapa kalau gemuk? yang penting itu.. bukan Gemuk atau kurus, tapi sehat! Kalau kurus tapi sakit-sakitan? Mau!?"
"Iya deh bu Suster.. paling bisa nih Mama suster " Beby berdiri dari sofa, dia sudah tidak merasakan lagi sakit di kepalanya, sebelum berjalan untuk mencuci muka, Beby menyempatkan mendaratkan ciuman di pipi Mamanya, hingga Mama mengeluarkan protes
"Beby sayang Mama... *mmuachh "
"SaYang.. ihh itu jorok tahu? Iler kamu nempel nih di wajah Mama!"
"Biarin, yang penting Beby sayang sama Mama, hehee"

---
Hampir setiap hari, di jam yang berbeda, setelah kejadian waktu 2minggu lalu di depan rumahnya sendiri, Beby selalu merasakan pusing itu, rasa pusing yang sama persis seperti waktu itu yang datang tiba-tiba merasuki kepalanya, meski hanya dalam hitungan menit yang tidak terlalu lama, tapi itu cukup membuat Beby kerepotan, apalagi jika rasa sakit nya datang saat dia sedang berada di kelas mengikuti pelajaran, seperti sekarang.

"Beb.. psst... psst-psst" Aji mencoba memanggil Beby yang sedang meremas kepalanya "Bebyy.. lu kenapa?" Beby belum bisa menjawab, karena dia tidak mendengar ada suara seseorang sedang memanggil dan membuat pertanyaan padanya.

Aji menatap lekat Beby, ia tidak memperhatikan guru yang sedang memberikannya ilmu, sampai dia kena tegur guru itu dan diancam akan disuruh keluar kelas kalau masih seenaknya selama ada dikelasnya. Beby yang sedang memegang kepalanya pun seketika menghempaskan tangannya kebawah agar guru yang sedang memperingati Aji tidak melihat kearahnya. wajahnya terlihat menahan rasa sakit, dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir sesuatu yang sedang memukul-mukul kepalanya.

*jam istirahat datang*
"Lu kenapa Beb?" Tanya Aji yang saat mendengar bell istirahat langsung melesat ke tempat duduk Beby
"Kenapa? Apanya?
"Lu sakit ya? Muka lu pucet tahu!"
Beby memegang kedua pipinya "masa sih? Enggak ah! Aku gak lagi sakit!!" Sanggahnya,
Aji membuat kerungan kecil, saat dia akan kembali bertanya, suaranya keburu kepotong oleh Subhan yang datang dari arah luar. Subhan tidak satu kelas dengan Beby dan Aji, itu kenapa dia datang ke kelas mereka untuk mengajaknya makan di kantin.

"Woy! Ngapain lu berduaan dikelas?! Bikin orang sirik aja!!" Ucapnya dengan mengejek "ke kantin yuk ahh, gue yang traktir deh! Panas gue liat lu berduaan kayak gini, entar gue dikira setan lagi!" Subhan merangkulkan tangan kanannya pada Aji, dan melihatkan pandangannya pada Beby yang sedang tersenyum, dan sudah sedari tadi melihat dirinya. Perlahan dia melepaskan rangkulannya pada Aji dan mulai menilik Beby dengan begitu telik
"lu... saakit Beby?" Pertanyaan Subhan sama persis dengan pertanyaan Aji sebelumnya, dia mendekatkan wajahnya pada Beby dan tanpa ada komando, Subhan menempelkan punggung tangannya di kening Beby "gak panas sih, tapi muka lu pucet banget!" Ucapnya, dapat hempasan dari Beby pada tangannya yang sedang parkir di kening Beby.

"Ini.. gak si Aji, gak kamu.. kenapa sih? Pada tanya-tanya gue sakit apa enggak! Gue itu baik-baik aja, gak panas, gak dingin. Biiiasa aja! Puas?"
"Lihatkan, emang bukan gue aja yang bisa liat wajah pucat lu itu! Kalo lu sakit, lu pulang aja, biar gue anterin!" Subhan hanya diam mendengarkan dengan wajahnya masih mempelajari wajah pucat Beby.
"Apa sih Ji, lebay tahu gak! Udah ahh yuk ke kantin, pada lapar kan!?" Ucap Beby dengan mengangkat tubuhnya dari tempat duduk tapi, belum sepenuhnya berdiri. . . Dia merasakan kepalanya sakit kembali, dan kali ini... bikin Aji dan Subhan memasang tampang cemas bukan main, karena Beby tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya, untuk menahan rasa sakit.

*bruuukkk* dengan sengaja, dan entengnya seorang murid perempuan dari kelas lain menabrakan lengan atasnya pada Shania yang sedang berjalan. Shania mengambil novelnya yang jatuh, dia tidak ingin menghiraukan si penabrak. Ia berdiri dan memulai berjalan untuk melewati murid-murid itu.

"heh! Lu gak minta maaf apa!? Barusan lu nubruk gue, Freak!" Cemoohnya pada Shania,
"Eh, malah diem lagi.. lu gak denger apa yang barusan di katakan temen gue? Udah salah, malah sok bener lagi! Dasar cewek kampung dari Jogja!!" Shania membalas tatapan murid-murid itu ketika menyebutkan Jogja
"Apa lu liat-liat kita kayak gitu? Gak suka lu? Hah!" . . . "Ambil novelnya!" Kemudian dia memerintahkan teman-teman lainnya untuk merebut novel yang ada di tangan Shania
"Nggak, Jangan! Aaku minta maaf.. barusan aku yang salah, maaf karena sudah menabrak kalian.." ucap Shania, dengan tangannya menyembunyikan novel di belakang punggungnya.

karena masih melihat tatapan pemburu dari si murid-murid itu, Shania kembali meminta maaf dan kali ini diikuti bungkukan badannya, begitu terlihat sangat sopan dan terkesan memang dialah yang salah.

Murid-murid yang sedang melancarkan aksi bully nya itu tersenyum sinis bak seorang perampok yang sudah bisa menggasah rumah mewah dengan imbalan yang besar.
"Girls.. enaknya, si anak kampung orang kayak baru ini, kita apaain ya?" Teman-teman lainnya saling sahut, menanggapi.

Belum aksi bully lainnya mereka lakukan, Melody terlihat berjalan diujung lorong tempat Shania sedang dikelilingi Bullyer paling berkuasa di sekolahnya.
"Waduh, Sin.. Sinka!"
"Apa sih Van?"
"Itu.. ada guru lagi jalan kesini!" Tunjuk Vanka dengan dagunya kearah Melody yang sedang berjalan.
Sinka memiringkan wajahnya untuk melihat ke ujung lorong, dan benar saja, seorang guru berperawakan kecil itu sedang berjalan kearah mereka "ck.. ganggu acara tuh guru! Cabut, gue lagi males debat sama guru kesiswaan!" Ajaknya kemudian, dengan sebelumnya dia mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Shania
"kalau nanti... lu berdoa yang lain buat minta bantuan sama Tuhan! Jangan berdoa minta datengin guru!!. . . Kita, pasti akan ketemu lagi, dan nanti... akan jauh lebih menyenangkan" Sinka mengedipkan mata kirinya pada Shania yang diam mematung, merekapun pergi meninggalkan Shania.

Satu-dua bulan saat menjalani masa SMA di Sekolahnya kini, Shania biasa saja menjalani kesehariannya sebagai murid disana. datang tepat waktu, pulang langsung ke rumah tidak keluyuran seperti murid-murid lainnya, selama mengikuti pelajaran dikelas dia tidak pernah membuat masalah, dimata para pengajarpun Shania itu anak yang baik, dan untuk wali kelasnya, Melody. Shania itu anak yang penurut, tidak banyak tingkah, baik di kelas dengan teman-temannya, ataupun dengan murid-murid lainnya di sekolah. Meski, dia lebih banyak menghabiskan waktu selama di lingkungan sekolah itu sendirian, nyaris tidak ada satupun seseorang disampingya ketika dia berjalan ke kantin atau saat akan masuk dan pulang sekolah. Shania tetaplah baik.

Shania... bukan tidak tertarik untuk mengulurkan tangannya pada teman-teman di sekolah atau bahkan di kelasnya sendiri, tapi, mereka yang Shania ajak bertemanlah yang tidak mau membalas uluran tangan Shania secara tulus (Di Jakarta, semua terasa begitu sulit, jangankan untuk mencari rezeki, mencari teman saja saja susahnya minta ampun. Mungkin. . . Pemikiran mereka terlalu dikuasai materi tanpa memikirkan imaterinya). Setelah itu, Shania tidak pernah lagi dengan sengajanya mengulurkan tangan diikuti senyum manis penuh kehangatan untuk merangkul seorang teman. Dan ditambah kini, semakin hari setip perpindahan tanggal, yang entah dimulai di angka berapa, Shania mulai diincar oleh bullyer di sekolah elite nya itu, tanpa dia inginkan dia selalu dijadikan sasaran si 'sadis' yang membuatnya terlihat jadi si 'lemah', Shania pernah coba melawan, tapi dengan hitungan orang yang berdiri dikiri, kanan, depan bahkan belakang mereka, Shania mustahil untuk bisa melawan, dan akhirnya... setelah dia pelajari bagaimana pergerakan si bullyer (semakin dilawan, semakin menjadi ingin menjatuhkan dirinya) Shania pun tidak ingin melawan dan selalu dengan sengaja menghindar dan mengalah.

"Shania, kamu kenapa?" Tanya Melody, saat dia sampai ditempat Shania berdiri, pandangan Melody sekilas dilihatkan pada Sinka dan teman-temannya.
"emm, enggak Bu, aku gak apa-apa!" Balasnya dengan mengukirkan senyum,
"Oh, ya sudah! Kalau kamu ada masalah, cerita sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa bantu kamu " tawarnya penuh kehangatan, Shania membalas senyum Melody "iiya Bu, makasih " ... "Shania pamit dulu Bu, mau ke Kantin!" sambungnya dengan berpamitan pada Melody. Melody membalasnya dengan anggukan yang masih diikuti lengkungan senyum.
"Kasihan Shania, dia yang selalu terlihat sendiri di kelas, dan bahkan saat jam istirahat seperti ini! Apa yang sebenarnya membuat kamu terlihat sulit untuk berbaur dengan yang lainnya?" Ucap dalam hati Melody dengan matanya melihat punggung si anak didiknya "dan... kenapa dengan wajah kamu? Kenapa akhir-akhir ini, begitu tersirat rasa tidak bahagia? Apa kamu sedang ada masalah dirumahnya?"

Melody memang sangat memperhatikan murid-muridnya, apalagi dia diberikan tanggung jawab oleh pihak sekolah menjadi wali kelas. Menjadi wali kelas, kelas Satu itu... bukanlah hal yang mudah, ada tantangan tersendiri untuknya berada di posisi ini, mereka yang kedepannya harus menentukan akan mengambil jurusan apa setelah kenaikan kelas, mereka yang harus dituntun untuk menemukan bakat dan kemampuan baik dibidang akademis maupun non akademis, banyak lagi hal yang harus di pelajari dari mereka yang baru memakai seragam Putih-Abu, dan peranan Wali Kelas sangatlah penting dalam rentetan perjalanan awal mereka hingga akhirnya mereka ada dilangkah yang berikutnya.


***
Rumah yang seharusnya, menjadi tempat paling nyaman untuk berteduh, menyandarkan diri dari kerasnya dunia, dalam kehidupan seseorang. bisa bercerita lepas tentang keluh, kesah, suka dan duka, berbagi setiap cerita yang dialami baik dengan orang tua, adik, atau kakak. Bagaimana? jika Tiba-tiba keadaan nyaman itu berubah. secara perlahan tapi pasti, rumah justru menjadi tempat yang paling tidak ingin dipijak dan akhirnya yang tersisa hanya keheningan dari gemuruh yang sebelumnya begitu menderu.

Satu tahun sudah, Shania dan keluarganya tinggal di Jakarta. Menempati rumah megah dengan fasilitas serba Wah. Awalnya, Shania selalu mensugesti dirinya sendiri dengan apa yang dikatakan Kakaknya, Papa dan Mamanya kalau keadaan keluarganya akan baik, bahkan lebih dari baik dengan saat tinggal di jogja.

Awal episode kepindahan yang dipercepat itu memang cukup menyenangkan dirasa oleh Shania, karena masih tetap bisa main ke Jogja, bertemu Papa dan Mama di meja makan saat sarapan dan atau makan malam, bersenda-gurau dengan Kakak perempuannya. Tapi semakin kesini, setiap hari saat episode itu terus bertambah, keadaan dirumah dalam kota baru berhiaskan kegemerlapan itu berubah... bukan lebih atau lebih dari baik, namun menurun dan sangat menurun. Bukan dalam hal financial tentu, tetapi dalam hal kehangatan keluarga. Belum lagi Beby, sang sahabat karib yang selalu bisa mengerti dirinya, akhir-akhir ini begitu susah untuk dihubungi. Shania pikir, mungkin Beby sedang sibuk dengan sekolahnya dan juga kegiatan dia yang lain. Dan ditambah dengan masalah yang sedang dia hadapi kini disekolah.

Yang akhirnya. . . Membuat sugesti dari bisikan Ve, Ucapan lembut Mama, Janji Papa, yang di tanamkan di dalam otaknya pun perlahan luntur, dan hanya menyisakan rintihan kerinduan dari hatinya. Rindu akan adanya sosok Papa yang bisa memberikan nasihat, rindu pelukan Mama yang menenangkan, rindu candaan Kakak yang mengundang tawa hangat dalam cengkrama. Dan rintihan rasa sakit dari apa yang sedang dia hadapi tanpa adanya satu orangpun di sebelahnya.


Shania mencoba menghubungi Beby untuk membagi ceritanya yang selama satu semester terakhir ini dia alami di sekolah, dan kisah yang sepertinya akan mendapat ke suraman di depan nanti tentang keadaan keluarganya yang dirasa sudah tidak "sehat".
*tuuuut... tuuuut... tuuuut...*
Panggilan itu tersambung, namun belum ada respon.
*tuuuut... tuuuut..,- nomor yang anda tuju..,*
Shania menekan tombol putus, lalu kembali menekan tombol pemanggil, beberapa kali dia melakukan itu tapi tidak ada sama sekali jawaban dari Beby, yang biasanya tidak pernah lama jika ada telpon darinya.
"Apa sih yang sedang terjadi sama kamu?" . . .
"Apa kamu marah sama aku?!" . . .
"Aku butuh kamu Beby! Aku butuh bahu kamu!!" . . .

Shania membanting tubuhnya keatas tempat tidur empuknya dengan emosi dari kekecewaan yang sedang dia rasa.
"Kenapa... dia semakin hari semakin sulit untuk dihubungi? apa disana dia sesibuk itu? apa dia sudah lupa akan sosok ku?" ... "atau apa dia...? Terakhir, waktu kita ketemu lagi di Jogja. Kamu sama dia terlihat begitu akrab, dan terasa lebih dari biasanya!" Shania memainkan ruang bayangannya, mengingat 1bulan yang lalu, di pertemuan terakhirnya bersama Beby, Aji dan Subhan.

Saat itu Shania melihat Subhan memperlakukan Beby yang tidak seperti biasanya, dia sepertinya begitu memperhatikan Beby lebih dari biasanya, "Waktu itu... hari itu... sepertinya memang ada yang lain diantara kalian?!" Terkanya dalam bayangan kehampaan, "dan setelah pertemuan itu... kamu mulai sulit untuk aku hubungi, kamu terkesan selalu menghindar dalam setiap percakapan seluler kita! Apa sekarang... apa yang dulu pernah membuatku marah pada kesalahpahaman kamu sama dia, itu berubah nyata!?"
Kepedihan yang Shania rasa membuatnya tidak bisa berpikir lebih dari itu "Subhan memang belum pernah mengatakan apa yang dia rasa sama aku, tapi... tingkahnya, ucapannya, apa itu cuma kegeeranku saja? Apa selama ini hanya aku yang merasa suka pada dia?" . . . "Apa jangan-jangan... memang Beby lah yang Subhan sukai? Aku emang bego! Gak bisa lihat kebenaran yang begitu nyata di hadapanku!!". . . "Dan Beby sendiri.. sahabat aku sendiri, apa yang sebenarnya dia rasa? Selama ini dia selalu terlihat biasa saja menanggapi ceritaku tentang Subhan, dan malah terkesan mendukung aku dengannya, tapi... Ahhghh!" . . . "Kenapa jadi gak karuan gini sih!?" Shania menghentikan terkaannya dalam ucapan kesal yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Minggu ini... aku harus ke Jogja! Aku mau tahu dan memastikan sendiri kalau kecurigaan ku hanya bentuk rasa takut saja!!" Keinginannya yang besar membuatnya menarik keputusan itu, tanpa harus memberi tahu Beby kalau dirinya akan menemui dia tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.


Shania menuruni mobilnya, pagi ini langit sudah terlihat bersih tanpa ada gumpalan awan yang menyelimuti hamparan langit biru, yang berkilau karena sinar mentari yang benderang memberikan kehangatan. Tidak seperti sambutan matahari yang hangat, di depan gerbang, Shania sudah disambut oleh 4 murid yang selalu mengisi hari-hari sekolahnya dengan hal yang membuat Shania, menuliskan kisahnya dengan ke4 murid itu dalam Diary dengan tinta merah, menceritakan kelakuan 4 murid ini.

"Haiii Shania selamat pagi!" Sambut Sinka dengan senyum 'tulus' penuh makna.
Shania melepaskan earphonenya "Hhaii, pagii juga!" Balas Shania
"Pagi ini cerah ya? Emhh.. gimana kalau kita ngobrol-ngobrol pagi sebelum masuk ke kelas? Kamu mau kan Shania?" Sinka terlihat manis merangkaikan katanya untuk Shania.
Shania mencoba mencari alasan untuk menolak "euhmm, aku gak bisa.. ada yang harus ditanyain sama temen di kelas soal tugas yang harus dikumpulin nanti!"
Sinka terlihat perlahan melepas topeng manisnya "Ayolah Shania, barusan aku udah lembut banget loh ngajak kamu, masa kamu tega sih nolak ajakan aku!?" Shania tidak merespon, Sinka mendekatkan tubuhnya kedekat Shania "kamu tahu.. barusan, ajakan aku itu... ajakan yang begitu lembut untuk orang asing!". . . "Dan kamu harus tahu juga, aku paling gak suka ditolak! So.. let's come with me" lanjutnya dengan nada dibumbui tekanan ancaman, Shania tidak bisa melakukan apapaun selain mengikuti Sinka dan yang lainnya.


Bersambung lagi..


Copyright: Cemistri JKT48

0 comments:

Poskan Komentar