Rabu, 29 Mei 2013

Misteri 48 (Part 2)


Dan hari theater siswa kelas G pun tiba. Hari ini siswa masuk sekolah pukul 2 siang, dan tidak ada pelajaran karena hari ini adalah hari spesial. Beberapa siswa kelas G sudah ada di aula sekolah untuk memepersiapkan kostum, mental, serta hal lainnya. Disamping itu, mereka bangga karena theater mereka hari ini akan disaksikan oleh orang luar, yaitu dari Australia, Thailand, dan Jepang. Itu pasti menjadi sebuah motivasi tersendiri dimana theater dari siswa kelas lain belum pernah mendapatkan kesempatan yang sama.
    "Ghaida, sini!" panggil Melody dari depan pintu aula.

    Maka Ghaida pun menghampiri Melody.
    "Ada apa Mel?" tanya Melody.
    "Kamu udah tahu kan kalau kita buat rencana buat pecahin masalah disekolah ini?" tanya Melody.
    "Udah Mel. Terus tugas aku ngapain?"
    "Kamu cukup fokus aja ke theater kamu, tapi kalau ada sesuatu terjadi nanti, kamu kasih tahu temen theater mu biar nggak panik dan tetep ditempat. Ngerti kan?"
    "Iya Mel, aku ngerti kok.."
    "Oiya, kasih tahu Beby juga ya. Suruh dia hati-hati.." tambah Stella.
    "Oke, thanks semua. Mohon bantuan ya.." kata Ghaida.
    "Sipp, sama-sama. Kita balik ke kelas dulu ya.." ucap Melody.
    "Oke.."

    Melody dan Stella pun pergi.
    "Mau ke kelas Mel? Kan hari ini nggak ada pelajaran.." kata Stella.
    "Enggak Stell, kita kumpulin anak-anak aja.."
    "Ohh, oke deh.."

    Mereka berdua pun mengumpulkan semua siswa yang kemarin satu tim, mereka semua berkumpul di taman dekat lapangan untuk olahraga.
    "Jadi kita disini buat siapin kebutuhan kita, dengan kata lain senter. Kalian semua bawa kan?" tanya Melody.
    "KIta bawa kok. Jangan khawatir.." kata Shania.
    "Mel, apa anak cowok kelasmu udah pada bawa juga?" tanya Dhike.
    "Udah Ke, mereka bawa. Kami sekelas bawa senter semua kok untuk jaga-jaga.." jawab Melody.
    "Baguslah. Kalau gitu, sambil nunggu theater kita ke kantin aja dulu yuk? Laper nih.." ajak Stella.
    "Ke kantin bareng? Semuanya?" tanya Gaby.
    "Iya, nggak papa kan rame-rame? Malah lebih aman.." tambah Stella.
    "Yaudah, ayo.." ajak Kinal.

    Mereka semua lalu pergi ke kantin bersama untuk makan. Disana mereka mengobrol bersama.
    "Kok tumben ini rame banget barengan disini, ada acara apa?" tanya Pak John guru matematika mereka.
    "Eh, pak John. Nggak papa kok pak, cuman pengin aja makan bareng. Kan enak, rame.. Hhhehe.." jawab Melody.
    "Bapak mau ikut makan juga?" tanya Nabilah.
    "Enggak kok, bapak kebetulan aja lewat mau ke aula theater. Eh, lihat kalian rame-rame disini, jadi bapak mampir. Yaudah, bapak ke sana dulu ya. Makan yang kenyang.."
    "Iya pak.." jawab mereka semua.

    Lantas pak John pun pergi ke gedung aula.
    "Eh, pesen minum dong.." pinta Cindy.
    "Mau apa?" tanya Melody.
    "Aku es kopi.." jawab Rica.
    "Aku es jeruk.." kata Mova.
    "Aku pop ice aja deh.." pinta Ve.
    "Yaelah, susah pesennya. Beda-beda gitu. Yang sama aja apa, yang semua suka.." kata Melody.
    "Semuanya suka es teh kan?" tanya Stella.
    "Iyaa.."
    "Nah Mel, es teh aja 20 gelas. Hhaha.."
    "Yaudah, bentar. Tapi pada bayar sendiri loh. Hhihii.."
    "Iyaa Mel, iyaaa.." ucap Sonya.

    Melody memesan 20 gelas es teh. Dan lalu kembali ke meja makan bersama teman-temannya. Setelah beberapa menit menunggu..
    "Ini es tehnya udah siap.." kata Ibu kantin.
    "Iya Bu bentar. Ntar kita ambil.." jawab Melody.
    "Bu, saya pesen nasi goreng ya. Yang pedes.."
    "Eh, pak Edi. Udah selesai ya pak tugasnya?"
    "Iya Bu, halaman sekolah dan aula theater udah bersih. Istirahat dulu sebentar.."
    "Ohh.. Aku buatkan dulu ya pak.."
    "Iya Bu.."

    Sementara itu, Ve, Sonya, Shania, Nabilah, Dhike, mengambil es teh mereka.
    "Pak Edi, tumben jajan di kantin pak.." kata Dhike.
    "Iya nak, bapak laper habis bersihin halaman sekolah sama aula theater tadi. Jadi bapak istirahat buat makan dulu.." jelas pak Edi.
    "Ohh.. Kok nunggunya berdiri disini pak? Kan duduk bisa.." tanya Dhike.
    "Nggak papalah, udah nggak sabar pengin makan.."
    "Ohh.. Yaudah deh, selamat makan ya pak.."
    "Iyaa.."

    Maka Dhike pun kembali ke meja makan.
    "Ke, punyaku mana?" tanya Melody.
    "Oiya, masih disana Mel. Lupa. Hhehe.." jawab Dhike.
    "Yaudah. Stell, ayo ambil.." ajak Melody.
    "Yuk.."

    Setelah selesai mengambil minumnya, mereka lalu ngobrol bersama lagi. Tidak terasa, waktu sudah mendekati jam 4 sore. Maka mereka bergegas ke aula theater. Sampai di aula theater, mereka melihat barisan tiap deret kelas mereka. Dan sudah sesuai dengan rencana awal mereka. Mereka langsung berpisah dan duduk di deret kursi kelas mereka masing-masing.
    Acara pun segera dimulai. Theater di sekolah itu biasa berlangsung selama 2 jam, dan tema theater yang dibawakan tiap kelas selalu beragam dan berbeda. Itu yang membuat siswa disana dan penonton dari luar tidak pernah bosan dengan theater mereka.
    Tampak beberapa tamu dari Australia, Thailand, dan Jepang mulai berdatangan.
    "Ternyata tamunya banyak siswanya dari pada guru mereka.." bisik Achan.
    "Iya. Mom Lina langsung akrab ya sama tamu yang dari Australia itu? Hhaha.." kata Stella.
    "Jelaslah Stell, dia kan guru bahasa inggris. Itu sensei Bani juga langsung akrab sama yang dari Jepang.." tambah Achan.
    "Hhaha.. Kasihan yang dari Thailand, nggak ada yang bisa bahasa mereka.."
    "Iya sih, paling pakai bahasa inggris.."

    Sementara itu, di deretan kursi Ve dan Kinal..
    "Eh Ve, kapasitas semua kursi disini berapa sih?" tanya Kinal.
    "Bentar.. Untuk murid 300 kursi, penonton luar dan tamu ada 100 kursi, terus 100 lagi untuk guru dan karyawan sekolah, jadi 500 kursi. Kenapa?"
    "Itu kok kursi buat guru sama karyawan nggak penuh ya?"
    "Iya sih, tumben. Kayaknya tadi semua guru hadir, karyawan juga banyak di aula tadi.."
    "Ve, jangan-jangan...?"
    "Cepet kasih tahu Melody Nal.."
    "Mel.. Mel..!" teriak Kinal.
    "Aduh, pakai nggak denger lagi. Rame banget soalnya. Kita panggil Mova dulu, biar dia panggil Melody.." kata Ve.
    "Va..! Mova..!" teriak Kinal lagi.
    "Apa Nal?" tanya Mova.
    "Panggilin Melody, suruh kesini bentar. Cepet..!" perintah Kinal.

    Maka Mova pun menghampiri Melody dan memberitahukan hal itu. Melody bergegas ke deretan kursi Kinal.
    "Ada apa Nal?"
    "Mel, kursi karyawan dan guru nggak penuh. Satu kursi kosong, apa mungkin pelakunya salah satu guru atau karyawan sini?"
    "Jangan terlalu cepet ambil pemikiran Nal, kita lihat dulu keadaannya. Thanks ya infonya.."
    "Iya, sama-sama.."

    "Cin, itu Melody ngapain ya tadi dari deretannya Kinal?"
    "Nggak tahu Bil, mungkin ada sesuatu.."
    "Kok kita nggak dikasih tahu?"
    "Emm, mungkin nggak terlalu bahaya buat kita semua.."
    "Ohh.."

    Suara khas opening High School of Theater di sekolah itu pun berbunyi, tanda theater akan dimulai. Semua pintu yang mengelilingi aula theater itu segera ditutup satu persatu. Satu satpam disiapkan disetiap pintu, dan ada 10 satpam yang menjaga di tiap deret kursi di aula itu. Penjagaan theater hari itu dua kali lebih ketat dari pada biasanya. Dan siswa dari kelas G satu persatu mulai muncul untuk memperkenalkan diri. Selesai itu, lampu sorot panggung dipadamkan perlahan dan musik pengiring theater mulai berbunyi. Theater pun dimulai..

~ To be continued ~

Copyright: relatable48.blogspot.com

0 comments:

Poskan Komentar