Rabu, 29 Mei 2013

Misteri 48 (Part 8) END


Tidak biasanya sekolah dibuka pada hari minggu, namun itu justru memudahkan mereka. Ketika masuk ke dalam kantor guru, mereka melihat semua guru disekap disana. Lantas mereka langsung melepas ikatan itu..
    "Pak Joseph, siapa yang lakuin ini?" tanya Nabilah.
    "Bapak nggak tahu, yang jelas orang itu tingginya sekitar 180cm dan badannya nggak terlalu gemuk. Orang itu pakai baju item dan celana item, mukanya juga ditutup. Makanya bapak nggak tahu.." jelas pak kepala sekolah itu.
    "Apa ada kemungkinan dia orang dalam sekolah ini?" tanya Dhike.
    "Kita nggak tahu. Sama sekali nggak tahu.." ucap sensei Bani.
    "Yaudah, ayo kita kejar aja dia.." ucap Imo.
    "Ayo.."
    "Anak itu? Bukannya dia..?" batin Mom Lina.

    Mereka lalu mencari Mr. Black.
    "Stell, di kertas itu, ruangannya yang mana?" tanya Melody.
    "Kalau disini, ada tulisan F-L-R : 2. Kemungkinan di lantai dua sekolah ini.." jelas Stella.
    "Yaudah ayo kita kesana.." kata Ghaida.
    "Bentar, aku mau pergi bentar ya.." ucap Imo.
    "Kemana? Kita nggak bisa buang waktu.." ucap Gaby.
    "Ke kantor guru tadi, ada yang mau aku pastiin.." kata Imo sambil berlari kembali ke lantai satu.
    "Oke. Kita tunggu di atas.." ucap Sonya

    Sampai dilantai dua, mereka melihat seseorang disana masuk ke bawah tanah.
    "Apa itu Mr. Black?" tanya Achan.
    "Iya.. Nggak salah lagi.." ucap Stella.
    "Dari mana kamu tahu?" tanya Ve.
    "Kemarin ini aku ketemu dia pas dapetin kertas ini.." jelasnya.
    "Yaudah, ayo kita masuk.." ucap Kinal.

    Ketika masuk ke ruang bawah tanah, ruangan itu ternyata sangat terang. Ruang bawah tanah itu pun sangat terawat. Sementara itu, Imo yang kembali ke kantor guru..
    "Bapak itu disekap lagi? Nggak salah lagi.." batin Imo yang lalu melepaskan ikatan tali dari pak Joseph.
    "Terima kasih nak.." ucap pak Joseph.
    "Sama-sama pak. Pak, ngomong-ngomong, bapak-bapak disini yang mukanya kayak orang Jepang tadi siapa ya?" tanya Imo.
    "Dia sensei Bani. Dia, pak John, sama Mom Lina yang nyekap bapak disini. Kelihatannya mereka itu juga jahat.."
    "Bani? Bukannya nama itu kayaknya ada di.. Tunggu, jangan-jangan..? Sial. Stella sama yang lain dalam bahaya.." batin Imo.
    "Kenapa nak?"
    "Pak, apa ada jalan pintas dari sini ke ruang bawah tanah tempat berlian biru itu diletakkan?"
    "Dari mana kamu tahu masalah itu?"
    "Itu nggak penting pak, orang-orang yang nyekap bapak tadi juga incer benda itu. Dan sekarang, Stella, Melody, sama yang lainnya dalam bahaya karena mereka kesana.. Apa ada jalan pintasnya?"
    "Jadi, mereka berkhianat padaku?"

    Imo hanya menganggukkan kepalanya.
    "Kalau gitu, kamu bawa kunci ini. Itu kunci brankas dari tempat berlian biru. Terus, kamu lari ke pintu itu yang warna merah, belok ke kiri dan lurus terus. Itu jalan pintas ke tempat berlian itu.." jelas pak Joseph.
    "Oke pak, terima kasih. Kalau gitu, sekarang bapak telpon polisi aja kesini biar semuanya lebih mudah. Setelah itu, bapak juga ke tempat berlian itu.." ucap Imo sambil berlari ke salah satu pintu.

    Imo lantas berlari secepat mungkin ke sana. Namun, ia melihat Mr. Black sudah ada disana, dan Melody serta teman lainnya ada di belakang Mr. Black.
    "Sial, mending aku disini dulu aja. Baca situasi.." batin Imo.

    "Hey kamu!" teriak Melody.
    "Hhahaha.. Jadi anak-anak tikus ini juga ada disini? Pintar juga kalian. Tapi kalian terlambat, berlian ini sudah ada di depanku.." kata Mr. Black.
    "Kami yakin, kamu tidak memiliki kunci untuk membuka berlian itu.." teriak Mova.
    "Kunci? Jangan salah.. Ngomong-nomong kamu bukannya kamu dulu korbanku juga ya? Hhaha.. Sekarang berani juga ya kalian.." ucap Mr. Black.

    Dari belakang muncul pak John, sensei Bani, dan Mom Lina.
    "Sensei, ayo tangkap dia.." ucap Nabilah.
    "Dia? Hhahaha.. Sayangnya, dia itu rekan sensei. Jadi tidak bisa. Maaf ya nak.." kata sensei Bani sambil berjalan ke arah Mr. Black.

    Lantas Mom Lina, dan pak John pun juga bergabung dengan Mr. Black.
    "Jadi bener mereka sekongkol. Hmm.." batin Imo.
    "Mel, kayaknya mereka sekongkol. Dan kita sekarang dalam bahaya.." bisik Cindy.
    "Iya, aku juga ngerasa gitu.." jawab Melody.
    "Sekarang apa yang mau kalian lakukan hah?" teriak Mr. Black sambil mengeluarkan pistol revolvernya.
    "Disaat kayak gini. Kita harus gimana.." pikir Stella cemas.

    Lalu ada langkah kaki terdengar.
    "Siapa itu?" teriak sensei Bani.
    "Tenang, aku cuman anak kecil sama kayak mereka. Aku nggak berbahaya.." ucap Imo.
    "Imo?" ucap Stella.
    "Ohh.. Jadi anak yang berhasil lari dariku waktu itu juga ada disini? Kalau gitu, semua lengkap. Setelah berlian ini, kau yang akan aku bunuh.." teriak Mr. Black.
    "Hhahaha.. Bunuh? Dengan pistol yang bahkan tidak ada pelurunya itu? Jangan bercanda.." ucap Imo.
    "Apa? Dari mana kau tahu?" tanya Mr. Black.
    "Di hari itu kau yang mengatakannya.." kata Imo.

    Mr. Black mengingat-ingat kejadian itu, dan benar. Ia sempat memberikan petunjuk kalau peluru di pistolnya itu hanya tinggal satu. Dan sudah digunakan di hari itu..
    "Bagaimana? Benar kan?" tanya Imo lagi.
    "Hey kau, bagaimana kalau kau bergabung saja dengan kami?" ajak Mom Lina.
    "Bergabung? Boleh aja sih.. Asal hasilnya di bagi sama rata.." kata Imo.
    "Hhahaha.. Jangan khawatir, untuk ukuran bocah, hasilnya akan sangat banya.." jelas pak John.
    "Apa? Kamu ajak anak ingusan ini?" tanya Mr. Black.
    "Kita sekarang sudah terpojok, mungkin anak ini bisa membantu. Lagi pula aku tahu anak ini, bukan anak sembarangan.." jelas sensei Bani.

    Imo lantas mendekati mereka semua. Ketika berjalan, ia menunjukan ke empat jarinya.
    "Apa? Empat? Empat detik? Bukan.. Langkah ke empat.." batin Stella.
    "Mel, setelah langkah ke empat Imo, kita serang mereka.." bisik Stella pada Melody.
    "Apa?" tanya Melody.
    "Ini siasat dari Imo.."
    "Ohh, oke.."

    Dan ketika langkah ke empat, Stella, Melody dan lainnya pun menyerang Mr. Black, Mom Lina, Sensei Bani, serta Pak John dengan ketapel yang sudah mereka siapkan. Lalu Mr. Black dan yang lainnya kaget. Bidikan Melody dan yang lainnya mengenai tubuh Mr. Black serta guru lain itu. Karena jaraknya cukup dekat, itu tentu memberikan efek sakit kepada mereka. Tidak lama kemudian, polisi yang di panggil oleh pak Joseph pun datang dari jalan pintas lalu menangkap mereka semua.
    "Sial.. Jadi ini semua sudah direncanakan?" teriak Mr. Black.
    "Kau sebenarnya meninggalkan petunjuk di kertas itu. Kode 4A-5-18 itu menunjukan 4A itu menunjukan bulan ke berapa, angka lima itu menunjukan berapa huruf, dan 18 itu menunjukan tanggal. Jadi, tidak salah lagi Mr. Black itu lahir pada tanggal 18 bulan April.." jelas Stella.
    "Setiap kode di kertas itu mudah dibaca. Dan 4 august itu adalah kode brankas itu, dengan kata lain kodenya adalah 48. Sama dengan misteri angka di sekolah ini.." ucap Melody.
    "Jadi kodenya cuman 48? Simpel sekali.." batin Imo.
    "Dan tulisanmu di papan tulis itu, awalnya kami pikir kau orang dengan tipe tulisan latin karena tiap coretan di belakang huruf itu. Tapi, itu ternyata kau sengaja agar kami berpikiran begitu dan mengambil kemungkinan bahwa Mr. Black adalah salah satu guru di sekolah ini.." jelas Dhike.
    "Kalung yang tertinggal di kamar mandi aula theater itu pun petunjuk, dengan kata lain, kau adalah orang yang sering menggunakan kalung itu. Dan setelah ada bagian yang hilang, kau tidak menggunakannya lagi.." tambah Kinal.
    "Dan benar, kau itu pak Budi. Si penjaga sekolah ini.." ucap mereka bersamaan.

    Polisi membuka topeng Mr. Black itu, dan benar bahwa dia adalah pak Budi.
    "Aku melakukan ini karena aku punya seorang anak yang tahun depan ingin sekolah disini, namun tidak bisa karena kami tidak punya biaya. Sekolah ini sangat mahal, aku tidak tahu harus berbuat apa. Maka aku melakukan semua ini. Aku menyekap semua anak disini dan tidak berniat mengembalikannya agar sekolah ini kekurangan murid, dan tahun depan anakku bisa masuk sini. Namun semua itu selalu gagal. Maka aku mengincar berlian biru itu. Sensei Bani dan lainnya juga sudah dari dulu ingin mendapatkannya, maka kami bekerja sama.." jelas pak Budi.
    "Jadi angka 48 itu benar dari 4 agustus?" tanya Diasta.
    "Ya.. Aku selalu mengincar anak-anak yang lahir antara tanggal atau bulan itu, atau mungkin kebalikannya.." jawab pak Budi.
    "Jadi ketika itu Cleo memang sengaja dilepaskan karena dia tidak lahir di tanggal ata bulan itu.." batin Sendy.
    "Sekarang semua sudah terungkap, kalian tertangkap dan akan kami bawa ke kantor polisi untuk keterangan lebih lanjut.." ucap salah seorang pak polisi.
    "Aku juga akan memecat sensei Bani, Mom Lina, pak Budi, dan pak Joseph. Aku akan mencari guru dan penjaga sekolah baru.." ucap pak Joseph.
    "Bapak?" kata Nabilah.
    "Sensei Bani dan yang lainnya sudah menyekap bapak tadi setelah kalian pergi. Untuk ada anak itu yang menolong bapak.." ucapnya.
    "Anak itu siapa pak?" tanya Sonia.
    "Yang anak laki-laki bareng kalian tadi.." katanya.
    "Imo?" tanya Melody.
    "Pokoknya yang sama kalian tadi.." ucap pak Joseph lagi.
    "Iya juga. Dimana dia? Kok nggak ada? Tadi kan di ruang ini.. Hah? Pintu itu kebuka.." batin Stella.

    Stella lalu berlari ke sana. Melody dan lainnya kebingungan, tapi mereka juga kesana, begitu juga pak Joseph dan beberapa polisi. Lalu..
    "Imo.. Kamu ngapain?" tanya Stella.
    "Eh, kamu Stell. Hhehe, nggak papa kok. Ngomong-ngomong ini udah sejam dari sebelum kita masuk kesini belum sih? Aku nggak bawa jam sih.." kata Imo.
    "Iya, kurang beberapa detik lagi sejam. Kenapa emang?" tanya Melody.
    "Nggak papa kok. Hhehe, kalau gitu, aku pergi dulu ya.." ucap Imo.
    "Mau kemana kamu?" tanya Stella.
    "Hhaha.. Mau tahu aja sih.." kata Imo sambil berjalan ke arah jendela.
    "Ngomong-ngomong tinggi juga ya lantai dua? Coba loncat ah. Hhaha.. Bye! Sampai ketemu lagi Stella.." kata Imo.

    Ia lalu loncat dari jendela itu.
    "Mo!" Teriak Stella yang berlari lalu melihat ke bawah melihat dari jendela.

    Imo hanya hormat kepada Stella sambil menunjuk berlian biru yang dibawanya itu. Menyadari itu, Stella membuka brankas disana.
    "Mel, coba buka brankasnya.." ucap Stella.
    "Itu bukanya harus pakai kunci.." kata pak Joseph.

    Melody membukanya, dan terbuka begitu saja. Namun, berlian biru itu sudah tidak ada.
    "Dimana berlian itu?" tanya pak Joseph khawatir.
    "Sudah di ambil sama anak itu tadi pak.." jelas Stella.

    Pak Joseph pun melihat keluar jendela, dan ada truk yang dilengkapi dengan kasur besar di bagian belakangnya. Imo jatuh tepat disana, dan tentu saja ia tidak terluka.
    "Tolong, tangkap anak itu dan orang yang menyetir truk itu.." kata pak Joseph kepada beberapa polisi disana.
    "Baik pak.."
    "Semua percuma! Anak itu didikan mafia.. Dan kemungkinan yang mengendarai truk itu pun juga mafia senior.." teriak Mom Lina dari ruang sebelah.
    "Dari mana anda tahu?" tanya seorang polisi.
    "Aku langsung tahu ketika bertemu dengannya di kantor guru tadi. Ada gelang hitam di tangan kirinya, bukan gelang sembarangan yang dijual. Tapi itu gelang ke anggotaan mafia Moeza. Aku pernah melihat gelang itu sebelumnya.." jelas Mom Lina.
    "Aku tidak peduli! Tangkap anak itu!" kata pak Joseph.
    "Pantas saja dia bisa lolos dariku saat itu.." pikir Mr. Black.

    Sementara itu..
    "Jadi Imo itu anggota mafia?" tanya Melody.
    "Aku malah baru tahu Mel. Aku juga nggak habis pikir.." ucap Stella menyesal.

    Di dalam truk yang di tumpangi Imo..
    "Untung Om tepat waktu. Kalau telat beberapa detik lagi, aku udah nggak bisa ngulur waktu lagi.. Hhaha.." ucap Imo.
    "Hhaha.. Untuk ukuran bocah, mendapat berlian seperti itu sudah sangat hebat.." kata Om itu yang tidak lain adalah Om Yandre, yaitu Om kandung Imo yang juga salah satu anggota mafia..
    "Terkadang, orang yang sangat kita percayai itu bisa jadi orang yang paling berbahaya buat kita. Dan orang yang berbahaya itu bisa saja datang dari teman dekat kita sendiri. Sampai ketemu lagi semuanya, Stella.." batin Imo.

~ END ~


All those stories written by : Hilman Imosagi 
Copyright: relatable48.blogspot.com

0 comments:

Poskan Komentar