Sabtu, 25 Mei 2013

"Sebentar" (Part 5)


"Halo, halo. Mau kemana nih?" kata imo pada gadis itu.
    "Aku mau kesana.." sambil menunjuk ke salah satu mall dekat sana.
    "Ohh. Sendirian aja ya? Mau aku temenin? Hhahaha.."
    "Enggak kok. Aku sama cowok ku.."
    "Mana cowoknya? Kok jalannya sendirian?"
    "Itu.." sambil menunjuk ke seseorang yang sudah berdiri di depan mall.
    "Mana?" Imo melihat dan melirik dari kejauhan.
    "Sialan. Cowoknya keker gede gitu. Wah, bahaya nih. Cabut aja deh.." pikir Imo.
    "Jadi, mau nemenin aku ke mall? Hhaha.." ejek gadis itu melihat Imo ketakutan pada cowoknya.
    "Hhehe, nggak jadi deh. Temen aku nungguin disana. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
    "Namaku Cindy.."
    "Ohh. Hhehe, aku Imo. Yaudah, aku pergi dulu ya. Bye!"

    Imo lalu kembali ke restoran tadi. Ia takut melihat sosok cowoknya Cindy tadi. Badannya besar dan sudah seperti anak kuliahan.
    "Sial. Mau deketin cewek aja susah banget. Untung aku belum suka sama tuh cewek.."

    Imo lalu sampai di depan pintu restoran. Teman-temannya sudah mentertawainya, melihat mukanya yang gagal. Tapi..
    "Tolooooong!" teriak seorang gadis dari kejauhan.
    "Hah? Ada apa itu?" Imo menengok ke belakang.

    Dan ternyata Cindy dan cowoknya itu sedang di copet oleh tiga orang preman disana. Imo pun kaget.
    "Sen, cepet ikut aku!" teriak Imo sambil ia berlari menghampiri Cindy.
    "Sebentar ya semua. Ada problem kayaknya.." Yansen berkata pada temannya di restoran.

    Yansen pun secepat mungkin lari dan membantu Imo. Tiga preman tadi mencoba mencuri tas yang dibawah oleh Cindy. Imo pun datang menghajar salah satu preman itu. Dan cowok Cindy juga mencoba melawan satunya. Sedangkan Cindy masih memegang erat tasnya berebutan dengan preman yang satunya. Yansen datang, dan langsung menendang preman yang mencoba mengambil tas Cindy itu.
    "Sial. Itu tendangan khas ku. Main curi aja.." kata Imo ke Yansen.
    "Hhaha. Tapi keren kan?"
    "Cerewet.."

    Tiga preman itu lalu lari ke arah restoran. Disana, Aji rupanya sudah memanggil polisi yang ada di dekat sana. Dan tiga preman itu tertangkap polisi. Orang-orang yang ada disana hanya bisa melihat aksi Imo dan Yansen. Mereka tidak bisa membantu karena tiga preman tadi adalah penguasa di wilayah itu. Dan mereka sering lolos dari kejaran polisi, namun tidak kali ini berkat Aji.
    "Kamu nggak papa Cin?" tanya Imo.
    "Iya. Makasih ya.."
    "Gimana om? Sehat?" tanya Imo pada cowoknya Cindy.
    "Om? Aku masih SMA. Tapi ngomong-ngomong, terima kasih. Aku dan Cindy tertolong.."
    "Udah, nggak usah dibahas. Aku nolong Cindy kok, bukan nolongin kamu.."
    "Hhahahaha.." Yansen tertawa mendengar itu.
    "Apaan? Udah ayo, balik.."
    "Oke bro.. Hhahaha.."
    "Lain kali hati-hati bro. Jaga cewek yang bener, kasihan kalau Cindy terluka.." kata Imo pada cowok Cindy sambil lalu.

    Cindy dan cowoknya hanya bisa tersenyum. Mereka sangat berterima kasih pada Imo dan Yansen.
    "Cowok itu beda Cin.."
    "Iyaa sih. Dia konyol, tapi jarang.."
    "Ngomong-ngomong, siapa namanya?"
    "Namanya Imo.."
    "Oh, Imo ya? Hhehehe.."

    Imo dan Yansen berjalan kembali ke restoran. Disana, teman mereka sudah menyambutnya dan menyebut mereka pahlawan. Pahlawan hebat untuk Yansen, dan pahlawan jomblo untuk Imo. Tapi Imo tidak memikirkan itu. Dia hanya makan karena lapar sudah terlalu banyak tingkah tadi..
    "Siapa yang kamu tolong tadi?" tanya Ve pada Imo.
    "Yang cewek namanya Cindy, yang cowok sih nggak peduli namanya aku.." kata Imo sambil makan.
    "Hhahaha. Jadi pahlawan bro hari ini? Salut.." kata Alvin.
    "Diem ah. Lagi makan nih.."
    "Eh Ji, kapan lomba sepak bola antar SMA nya?" tanya Yansen.
    "Seminggu lagi. Kita tandang.."
    "Ohh. Eh Mo, kamu ikut ya? Aku, Alvin, ma Hasby juga ikut.." pinta Yansen.
    "Terserah. Kalian mau ikut, mau nggak ikut, aku nggak peduli. Yang penting makan dulu, laper banget.."

    Hhahahahaha. Semua temannya disana tertawa akan tingkahnya itu. Setelah selesai makan, Imo pun izin pulang lebih dulu.
    "Aku pulang duluan ya?"
    "Loh, kok nggak bareng?" kata Jeje.
    "Iya, bareng aja bro sama kita.." ajak Aji.
    "Nggak ah. Terlalu rame, males aku. Hhaha."
    "Dasar geblek.." kata Yansen.
    "Hhaha. Sen, thanks ya makanannya. Kamu kan yang bayar? Aku kan nongkrong di danau nggak bawa duit, so kamu yang bayar karena kamu yang ngajakin. Hhahaha.."
    "Iya bro. Beres.." kata Yansen.

    Imo lalu pulang sendirian. Ia berjalan dari restoran ke rumahnya. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar seratus meter saja. Ia berjalan sambil melihat indahnya bintang di malam itu. Meletakkan tangannya di belakang kepala dan menatap langit malam.
    "Kapan ya aku kayak mereka? Punya pasangan sendiri-sendiri. Enak kali ya kalau nggak jomblo? Tiap hari ada yang perhatiin. Hhaha. Eh, apasih aku ini? Mikir apa aku tadi. Sialan.." pikir Imo.
    Imo lalu sampai rumah dan langsung tertidur pulas. Ia berharap hari esok tidak menyusahkan seperti hari ini.
(*)

    Dan hari Senin pun tiba. Imo bersiap ke sekolah.
    "Senin pasti membosankan, jam pertama udah fisika. Selasa juga sama, jam pertama matematika. Rabu juga, kimia duluan. Kamis, Jum'at, Sabtu, juga membosankan. Sial. Kapan aku bisa berhenti dari hal-hal kayak gitu? Huh.." batin Imo.

    Ia lalu sampai sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasanya, yaitu tidur di dalam kelas. Saat istirahat, langsung pesan nasi goreng. Saat pelajaran, tidur lagi. Dan saat pulang, main ke danau. Mau kemana arah hidupnya nanti, ia belum tahu.
    Hari-hari terus berlalu. Dan tidak terasa sudah hampir seminggu.
    "Apa? Aku dimasukin ke tim?!" teriak Imo.
    "Iya bro. Kemarin si Aji yang masukin kamu.." kata Yansen.
    "Jir! Aku hajar dia nanti.."
    "Hhahaha. Nggak papalah. Lama juga kan udah nggak main bola lagi?"
    "Iya sih bro. Tapi males aku. Coba kalau penontonnya cewek cantik semua, kaya Ve, Jeje, Nabilah, Shania, sama Cindy gitu, aku pasti semangat mainnya. Lah kalau penontonnya cewek, tapi udah tua? Masih mending cewek, lah kalau om-om? Kalau bapak-bapak? Kalau kakek? Kalau nenek? Nggak enak banget.."

    Yansen melirik Imo singit karena mendengar kata-kata Imo yang konyol dan tidak masuk akal itu.
    "Ngapain ngelihatin aku kayak gitu? Pergi aja sono. Nggak bisa di ajak curhat.." kata Imo.
    "Habisnya nyerocos nggak jelas gitu. Mau main bola atau mau lihatin cewek cantik tujuannya?"
    "Tujuanku bukan itu. Tujuanku nyari cewek. Hhahaha.."
    "Dasar.." kata Yansen.

(*)
    Hari pertandingan pun tiba. Aji, Yansen, Hasby, Alvin, dan anggota tim lainnya bersiap-siap. Mereka masih menunggu Imo yang belum datang.
    "Sen, kemana Imo?" tanya Aji.
    "Iya nih. Udah hampir mulai pertandingannya.." tambah Alvin.
    "Tenang aja, dia pasti dateng kok. Dia nggak pernah ingkar janji. Yaah, walaupun dipaksa sekalipun. Hhaha.."

    Mendengar itu, semua anggota tim pun bersedia menunggu Imo. Tidak lama kemudian.
    "Nah, itu dia anaknya.." teriak Hasby.

    Terlihat Imo dari jauh sedang menggoda salah satu murid dari sekolah lain..
    "Tapi kok sama cewek? Pasti dia lagi nyoba deketin tuh cewek.." kata Alvin.
    "Hhaha. Iya.." kata Yansen.

    Disana..
    "Ohh, namanya Sendy ya? Hhehe. Namanya bagus banget.. Mau tau nggak namaku?" kata Imo.
    "Enggak juga nggak papa kok.."
    "Sialan.." batin Imo.
    "Hhehe, namaku tapi bagus loh. Lebih bagus dari nama cowok-cowok di sekolahku.."
    "Emang siapa?"
    "Hilman Imosagi. Hhaha. Panggil aja Imo.."
    "Imo? Kayak merk handphone. Hhaha."
    "Sial untuk kedua kalinya." batin Imo..
    "Woii Mo! Cepet kesini! Kita udah telat.." teriak Aji dari kejauhan.
    "Ngapain sih tuh anak, ganggu aja.." batin Imo.
    "Sendy, udah dulu ya. Anak buahku udah pada manggil nih. Hhehe. Bye!" kata Imo lalu berlari.
    "Iyaa.." kata Sendy.
    "Cowok yang lucu. Sayang aku udah punya cowok. Hhihii.." batin Sendy sambil tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya.

    "Apa? Ada apa?" kata Imo kepada semua rekannya dengan wajah singit.
    "Ya kita mau tanding kan? Masak lupa?" kata Hasby.
    "Eh, siapa itu bro? Cewek baru ya?" tanya Yansen.
    "Namanya Sendy bro. Lumayan sih. Hhaha. Tapi dari gayanya, kayaknya dia udah punya cowok. Nggak jadi deh. Hhaha.."
    "Iya juga ya? Hhaha.."
    "Iya juga apa? Tahu dari mana? Sok tahu banget.."
    "Hhahahaha.." Aji dan Alvin menertawakan Yansen.
    "Yaudah ayo berangkat. Mana motornya?" tanya Imo.
    "Kita nggak naik motor. Sekolah kemarin nyewa bus untuk kita.." jelas Aji.
    "Apa? Bus?" Imo kaget.
    "Emang kenapa kalau naik bus?" tanya Hasby.
    "Enggak papa kok. Hahaha."
    "Apa kamu masih.." kata Yansen belum selesai.
    "Nggak. Apaan sih? Aku udah gede tahu!" elak Imo.
    "Emang ada apa sih Sen?" tanya Alvin.
    "Nanti kamu juga tahu kok. Hhaha."

    Maka semua anggota tim masuk ke bus satu per satu. Imo masuk yang paling terakhir. Ia masih ragu ingin masuk bus atau tidak.
    "Ya Tuhan, semoga tidak terjadi hal-hal buruk kepada hambamu ini. Amin" Imo doa dalam batin.

    Tapi belum ada setengah perjalanan, Imo sudah dilanda mabuk. Bukan mabuk asmara, melainkan mabuk bus. Semua anggota lain terus saja mentertawainya. Bagaimana bisa, anak yang jago kelahi dan berbakat seperti itu kalah dengan hal seperti ini. Hanya karena naik bus, ia mabuk. Imo pun tidur di dalam bus. Hampir satu jam tertidur, akhirnya mereka sampai. Yansen membangunkan Imo. Saat Imo bangun, ia langsung dengan cepatnya loncat keluar dari bus lewat pintu yang dekat dengannya. Imo langsung mencari tempat sepi.
    "Nah, disana ternyata ada sungai.." batin Imo.

    Ia lalu menuju ke sungai itu, dan muntah. Mualnya sudah tidak tertahankan.
    "Ini kesialanku yang ketiga hari ini." pikir Imo.

    Selesai melakukan ritualnya, ia dan anggota tim bolanya pun masuk ke stadion. Mereka bersiap berganti pakaian. Sang pelatih menyuruh mereka semua berganti pakaian secepatnya agar bisa pemanasan lebih lama sebelum bertanding. Namun, Imo justru tidur di ruang ganti. Mungkin mualnya masih belum sembuh sepenuhnya.
    "Nanti kalian harus bermain dengan baik. Jangan mempermalukan sekolah kita. Di lapangan juga ada cheer leader dari sekolah ini, mereka cantik-cantik. Mungkin itu bisa membuat kalian lebih semangat.." jelas pelatih.
    "Cheer leader? Mana pak? Dimana? Aku mau lihat.." Imo yang tadinya tidur pun bangun mendengarkan itu.
    "Dasar anak ini. Begitu masalah cewek aja, langsung semangat.." kata Yansen.

    Sang pelatih dan anggota tim tertawa.
    "Cheer leadernya udah ada di lapangan. Tapi kita pemanasan dulu, agar nggak terjadi hal buruk saat main nanti.." tambah pelatih.
    "Di lapangan pak? Oke, ayoo kesana! Hhahaha.." kata Imo sambil berjalan keluar dari ruang ganti.
    "Eh? Cepet banget gantinya?" kata Alvin.
    "Iya nih. Udah pakai sepatu lagi. Gila.." tambah Hasby.
    "Hhahahaha. Kalau masalah cewek kan harus cepet. Iya kan pak? Oke, aku mulai duluan.." Imo lalu ke lapangan.

    Sang pelatih hanya tersenyum saja.
    "Kalau begitu, cepet kalian susul Imo latihan.." kata pelatih.
    "Aku nggak yakin anak itu akan latihan.." bisik Yansen ke Aji.
    "Iya, aku juga.." bisik Aji.

    Mereka semua pun siap, dan menuju ke lapangan untuk pemanasan menyusul Imo yang sudah duluan..


    ~ Wait for the next Part ~

0 comments:

Poskan Komentar