Sabtu, 25 Mei 2013

"Sebentar" (Part 2)

Setelah dua minggu berada didalam kelas yang sama dan duduk bersebelahan di satu bangku, tingkah laku mereka berdua mulai berbeda. Mereka mulai menunjukan rasa kepedulian satu sama lain. Teman-teman sekelasnya mengetahui hal itu.
Imo dan Jeje menjadi bahan gosip terbesar di sekolah itu. Banyak yang menggosipkan bahwa mereka berdua berpacaran. Mulai dari anak kelas I, II, dan III.
Kabar itu pun diketahui oleh Yansen. Yansen merasa bahagia karena gossip itu. Ia memberi selamat kepada Imo.

    “Mo, selamat! Kamu sudah pacaran sama Jeje kan?”
    “Siapa bilang? Jangan asal bicara..”
    “Halah, mengaku sajalah sudah banyak siswa sekolah ini yang membicarakan itu..”
    “Apa kamu tahu hal itu benar atau salah?” tanya Imo.
    “Tidak juga.. Tapi mereka semua menggosipkan kalian berdua Bro..”
    “Kalau tidak tahu benar atau salah, jangan jadi sok tahu. Kami berdua hanya teman saja, tidak lebih. Tanya saja dia..” ucap Imo sambil melirik ke Jeje.
    “Emm Jeje, apa benar kalian berdua hanya teman?”
    “Iyaa benar. Kami berdua cuman teman.."
    “Tapi suatu saat kalian bisa benar-benar pacaran kan? Hahahaha..”
    Jeje terdiam, begitu juga dengan Imo. Mereka berdua tampak malu.
    “Sudahlah. Kamu keluar sana. Mencampuri urusan orang lain saja, kurang kerjaan..” Imo meminta Yansen untuk keluar.

    Yansen keluar kelas A sambil tertawa keras. Imo dan Jeje masih terdiam kaku di dalam kelas. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Mereka menjadi canggung satu sama lain.
    Bell pulang sekolah berbunyi. Semua siswa pulang kerumah masing-masing. Imo yang tahu bahwa jalan pulang Jeje sama dengannya, mengajak Jeje untuk pulang bersama. Jeje dengan senang hati menerima tawaran itu. Mereka berjalan bersama sepulang sekolah. Tapi..

    "Eh, kamu punya cowok belum sih?" kata Imo.
    "Emmm.. Belum kok. Kenapa?"
    "Mau nggak jadi pacarku?"
    "Emm, aku suka kamu Mo. Tapi aku cuman anggep kamu sebagai sahabat aja nggak lebih. Maaf yaa.." tolak Jeje.
    "Ohh, begitu ya. So, selama ini kamu anggep aku sahabat aja? Oke, oke. Nggak papa kok. Hhhihii.." kata Imo dewasa.
    "Sialan. Giliran aku suka cewek malah di tolak. Nasib.." batin Imo.

    Maka mereka berpisah dan ambil jalur pulang yang berbeda, karena gang yang mereka tuju tak sama. Sampai dirumah..

    "Hey broo! Apa kabar?" kata seseorang dari Hp Imo.
    "Apaan sih? Siapa ya? Sok kenal. Nggak ada namanya lagi di hp ku.."
    "Masak lupa? Aku Alvin! Temen SD dulu. Inget nggak?"
    "Alvin? Alvin and the chipmunks itu? Hhahaha.." ejek Imo.
    "Iyyaa, iya. Giliran yang nggak jelas malah inget. Sial.."
    "Ngapain telpon? Tumben banget?"
    "Hhaha. Aku mau pindah ke sekolah mu bro! Kita satu sekolah lagi nanti.." jelas Alvin.
    "Apa? Nggak usah, nggak usah. Cari sekolah lain aja sono! Bosen sama muka mu.."
    "Sialan. Dasar nggak berubah. Terserahlah, pokoknya aku pindah kesana. Hhaha. Bye!"

    Telpon pun ditutup oleh Alvin. Raut muka Imo menjadi sinis karena ia harus bertemu teman lamanya yang suka mengganggunya itu. Tapi ia tak mau pikir panjang dan menambah beban pikirannya. Hari ini ia di tolak Jeje, dan besuk akan bertemu Alvin. Nasibnya seperti suatu kutukan. Ia pun mandi dan tidur untuk melupakan semua itu.

(*)
    Hari baru tiba. Imo bangun dari tidur kesiangan, pukul delapan pagi. Padahal, kemarin ia tidur sejak pukul lima sore. Yah, itulah kebiasaannya.
    "Imo! Mo! Bangun! Telat kamu nanti!" kata Ibunya.
    "Ahh, biar. Aku nggak sekolah hari ini. Males!"
    "Mulai kumat ya penyakit bolosnya? Besuk harus masuk!"
    "Iyaaa!" teriak Imo keras.

    Ia melanjutkan tidurnya, melupakan yang kemarin, dan akan memulai yang baru hari esok. Sementara itu..

    "Perkenalkan, aku murid baru disini. Namaku Alvin, salam kenal. Mohon bantuannya ya!" Alvin yang tidak lain teman Imo dulu memperkenalkan diri.
    "Alvin, kamu duduk di sebelah Jeje. Kebetulan Imo tidak berangkat.." kata Pak guru.
    "Iya Pak.."
    "Sialan tuh anak. Tahu aku sekolah disini, dia malah nggak masuk.." batin Alvin.
    Alvin lalu sebangku dengan Jeje. Ia sedikit grogi mengetahui kalau Jeje itu gadis yang cantik. Ia ingin memulai pembicaraan, tapi ia bingung.
    "Hey, kenalin aku Jeje.."
    "Ohh, i.. iyaa, aku Alvin.." kata Alvin grogi.
    "Kamu pindahan dari mana?"
    "Aku dari Bandung. Hhehe.."

    Mereka berkenalan. Dan di hari itu, mereka sering mengobrol lalu mereka menjadi sangat akrab.
    Imo sudah seminggu tidak berangkat sekolah. Yansen yang mencoba menemuinya ke rumah, tidak bisa bertemu dengan Imo karena Imo sudah lama tidak di rumah. Ibunya juga bingung, kemana perginya anak itu. Maka Yansen pun pergi ke danau yang ada di dekat sekolahnya..

    "Ternyata disini ya? Si anak nakal yang pemalas? Hhaha.."
    "Apaan sih? Nggak jelas. Pergi sana.." kata Imo.
    "Jir! Bukannya disambut sebagai sahabat, malah di usir. Hhaha. Ada masalah ya?"
    "Hmm. Nggak ada sih sebenernya, aku cuman pengin sendirian aja.."
    "Udah seminggu nggak masuk sekolah, pasti ada sesuatu. Si Jeje jadi nggak ada saingannya setelah kamu jarang masuk. Semua pertanyaan dilibas dia, aku cuman kadang aja. Hhaha.."
    "Dasar bodoh. Gitu aja nggak bisa.."
    "Sialan, dibilang bodoh lagi. Eh, ada murid baru bro. Namanya Alvin. Lumayan asik sih orangnya. Enak juga kalau di ajak ngobrol.." jelas Yansen.
    "Dia udah masuk sekolah kita? Dia temenku SD kali.."
    "Hah? Ciyuus? Miapah? Enelan? Oong kan?"
    "Jir! Pergi aja sono! Alay! Huss! Huss!"
    "Hhaha. Bercanda kali. Tahu juga kan gimana aku sebenernya? Hhaha.."
    "Cerewet.."
    "Hhhahahaha.."
    Mereka berdua terus mengobrol sampai sore. Mereka sangat dekat walau bertemu dan berteman baru sejak SMP. Namun mereka sangat loyal satu sama lain. Yansen pun juga bisa membujuk Imo untuk pulang ke rumah dan berangkat sekolah lagi..

(*)
    Kamis datang. Imo berangkat sekolah seperti biasa lagi. Tapi masih tetap dengan perasaan malas dan pemikiran kapan sekolah yang membosankan ini berakhir. Sesampainya di sekolah, ia bertemu Alvin. Dan saat itu, Alvin sedang bersama Jeje.

    "Hey Mo!" panggil Alvin.
    "Sial. Aku mau menghindar dari bocah itu, tapi malah ketahuan. Sialan." batin Imo.
    "Mo! Sini!" panggil Alvin lagi.
    "Iyee, bentar. Cerewet banget.." kata Imo sambil menghampiri Alvin.
    "Kamu kenal Imo, Vin?" tanya Jeje.
    "Iya lah. Dia temenku waktu SD dulu.."
    "Ada apa manggil aku? Ada kabar penting nggak?" tanya Imo.
    "Hhaha. Seperti dulu, langsung to the point. Nggak ada sih, pengin ketemu aja bro. Long time no see.."
    "Ohh. Pengin ketemu doang? Sekarang udah ketemu kan? Yaudah, aku pergi ke ruang gudang dulu yaa? Bye Vin, Bye Jeje.."
    "Eh, kamu nggak ikut pelajaran lagi?" tanya Jeje.
    "Males ah. Kalau nggak salah fisika kan? Mending tidur dulu buat santai, belajarnya di rumah. Hhaha.." kata Imo sambil lalu.
    "Sial tuh anak. Dari dulu nggak berubah. Tetep aja pemalas. Prihatin aku.." kata Alvin.
    "Iya Vin, kadang aku juga bingung. Dia nakal dan pemalas gitu, tapi pinternya dari mana ya? Kamu juga ngerti kan Vin?" terang Jeje.
    "Hhaha. Yaa itulah dia. Pemalas yang konyol. Udah lah, ayo kita masuk kelas. Nanti keburu bell.."

    Alvin dan Jeje pun masuk ke kelas. Pelajaran di mulai.
    "Loh, mana Imo? Bapak tadi lihat dia dateng ke sekolah. Sekarang kok nggak ada?" tanya pak guru.
    "Imo nya molor pak, di ruang gudang. Biasalah pak, dia nggak suka fisika.." kata Yansen.
    Semua murid kelas itu pun tertawa dengan setengah tidak kepercayaan.
    "Sudah, jangan tertawa lagi. Bapak mau menemui dia dulu. Jangan bikin gaduh.."
    Pak guru fisika yang terkenal killer itu pun menemui Imo di ruang gudang.
    "Imo, Imo bangun!" bentak pak guru.

    Imo masih tidur dengan pulas di kursi kayu cukup besar yang ada disana. Kepalanya hanya berbantalkan tas, namun tidurnya sangat pulas karena tempat itu memang sejuk dan terawat. Apalagi ruang itu berada di gedung paling belakang sekolah yang sebelahnya adalah danau tempat favoritnya.
    Setelah lama membangunkan Imo, anak itu akhirnya terbangun juga.

    "Eh, bapak.. Hhehe, ada apa pak? Mau ikutan tidur di sini? Silahkan pak. Nanti Imo pindah ke kursi sana. Hhehe.."
    "Bukan! Dasar anak nakal! Sekarang pelajaran bapak, cepat masuk ke kelas!"
    "Iya pak, bentar.."
    "Udah cepat!"

    Imo di bawa ke kelas dengan di jewer telinganya. Sampai kelas ia di tertawakan oleh murid yang lain karena telinganya sangat merah.
    "Sana, cari tempat duduk. Cepat!"
    "Iya pak. Sakit nih kupingku.."
    "Dasar guru botak. Bisanya marahin murid aja. Jir!" batin Imo.

    Ia menghampiri bangku Jeje sambil memegang telinganya dan kadang memejamkan mata karena sakit. Tapi..
    "Heh! Ngapain kamu disini bro? Pindah sono.." kata Imo sambil menunjuk Alvin.
    "Hhaha. Selama nggak masuk, aku duduk sini.."
    "Udah pindah sono, cari tempat lain.." perintah Imo.
    "Nggak mau, aku maunya deket Jeje. Hhahaha.."
    "Ohh.. There must be love yee Vin? Dasar bocah.."
    "Imo! Cepat kamu cari bangku! Malah ngobrol nggak jelas.." kata pak guru.
    "Iyaa pak, bentar.."

    Murid kelas itu semuanya tertawa melihat tingkah Imo. Imo cuek saja. Ia melihat bangku-bangku dari depan kelas. Ia melihat bangku di samping Yansen ternyata kosong. Yansen dipindahkan ke kelas A, ia mulanya dari kelas B. Dengan muka sinis, ia pergi dan duduk disana.

    "Hhaha. Kembali lagi bro? Sahabat memang nggak bisa dipisahkan.." kata Yansen.
    "Cerewet. Terpaksa doang.."
    "Ayo kita mulai pelajaran. Kalian siapkan buku.." perintah pak Guru.
    "Bro, mana buku mu? Tas mu juga nggak ada?" tanya Yansen.
    "Oh, iya. Ketinggalan di gudang sana. Sial. Biarlah, males ngambil aku.."
    "Imo! Mana buku kamu!" teriak pak guru.
    "Ketinggalan di gudang pak.."
    "Ambil sana cepat! Apa perlu Bapak jewer lagi kupingmu yang satunya?"
    Hhahaha. Murid tertawa semua.
    "Iya pak, aku ambil.."
    Imo lalu mengambil tasnya. Ia keluar kelas dan pergi ke gudang.

    "Apa aku tidur lagi aja ya? Enak kali ya? Hhaha. Tapi nanti di jewer dan ke BK lagi. Sialan.." batin Imo.
    Sambil berjalan ke gudang, ia berpapasan dengan salah satu murid di siswa itu yang berasal dari kelas lain. Gadis itu menuju ke kamar mandi.

    "Wah, siapa ya dia? Kayaknya kakak kelas deh? Lumayan juga sih. Kok aku baru tahu yaa?" pikir Imo.
    Imo lalu mengikuti gadis itu.

    "Hey, hey, maaf. Boleh kenal nggak? Nama kamu siapa? Murid baru ya?"
    "Boleh, aku Shania. Aku nggak murid baru kok. Aku daftar tahun ini.." kata Shania.
    "Wahh, kok aku baru tahu ya? Hmm.."
    "Yaudah ya, aku mau ke kamar mandi dulu. Udah kebelet nih. Bye!" Shania lalu meninggalkan Imo.
    "Sial. Sebentar banget ngobrolnya. Lumayanlah tapi. Kemana aja ya aku ini? Ternyata banyak gadis yang wow disini.. Hmm. Eh, aku tadi mau kemana ya? Oiya ding, ambil tas. Sial, lupa. Musti cepet nih sebelum pak botak dateng.."
    Ia melanjutkan jalannya sambil tersenyum sendiri..

~ Wait for the next Part ~

0 comments:

Poskan Komentar