Senin, 20 Mei 2013

CERITA SONYA part 7


Kupejamkan mataku saat bersandar di pundaknya. Angan-anganku mulai menggambarkan sebuah skema yang tertulis antara aku dengan dirinya.Terlintas bayangan aku dan dirinya berada disebuah taman luas yang bertemakebun dimana aku menjadi seorang pengantin lelaki dengan sebuah jas dan dasiyang terlihat gagah dan Sonya memakai gaun putih panjang dengan rambutpanjangnya di kepang membentuk sebuah lingkaran antara kepalanya hingga membuatdirinya tampak begitu cantik dan anggun. Lalu skema itu berubah kedalam suatu ruangan yang berdinding penuhdengan pernak-pernik gambar lucu, kulihat Sonya yang sedang  menimang seorang bayi mungil ditangannya,seorang putri kecil yang kumiliki mirip dengan Sonya. Putri kecilku yangmemiliki bibir seperti ibunya, kugenggam jari kecilnya kulitnya terasa halusditanganku dan mataku beralih pada seorang wanita yang kini menjadi istriku daitersenyum bibirnya sangat terlihat sempurna seperti putrid kecil kami. Khayalankuberubah lagi dimana aku sedang duduk di teras rumah mataku dimanjakan  dengan jajaran bunga-bunga anggrek putihdihalaman. Kulihat Sonya sedang berdiri diantara bunga-bunga anggrek yangtengah menyirami bunga. Wajahnya yang cantik mulai di tutupi dengan keriput danrambutnya sudah mulai beruban tetapi bagiku dia masih seperti 60 tahun yanglalu
 “Nenek cantik iya kek ?” kata seseorang di sebelahku
aku tersenyum dengan perkataan seorang cucu yang juga memperhatikan Sonya
 “Dialebih cantik dari bidadari manapun” jawabku…
dan lamunanku pudar aku tidak menemukan skemaku di alam bawah sadarku
“Langit” suara Sonya menyadarkanku dari imajinasiku
“Apa ?”
“Apa kamu tidur ?” tanyanya yang memalingkan wajah ke arahku
aku terbangun dari sandaranku di pundak Sonya mataku bertemu dengan matanya“Tidak”
“Lalu kenapa dari tadi diam saja ?” keluhnya
aku tersenyum “Aku hanya memikirkan tentang kita”
Sonya mengerutkan keningnya “Tentang kita ?” tanyanya ragu
aku menggangguk sebagai jawabannya
“Jangan-jangan kamu memikirkan yang tidak-tidak iya terhadapku ?” ujarnyayang curiga
kini giliranku yang membalas, kucubit pipinya hingga dia mengernyit kesakitan
“Dasar bodoh kenapa bisa-bisanya kamu berpikir seburuk itu kepadaku ?”  ujarku gemas
Sonya berteriak kesakitan "Aduh Langit sakitttt” ujarnya yangmengelus-ngelus pipi dengan telapak tangannya
“Bersihkan pikiran kotormu terhadapku” kataku yang langsung bangkit daridudukku

Aku menyusuri jalanan bebatuan yang terpajang di jalananrumput, diam-diam aku tertawa melihat Sonya berekspresi seperti tadi. Langkahkuperlahan tapi semakin jauh dari tempat duduk Sonya. dan beberapa saat terdengarsuara seorang terjatuh seperti suara beban jatuh ke sebuah tanah, aku menolehkebelakang tepat di mana tempat duduk Sonya
“Sonya ?” batinku bergumam
Sonya terjatuh lemah di kursi yang menyangganya tangannya menggenggam erat dadanya, wajahnya terlihat berubah pucat. Aku termenung sesaat melihatnya, danlangkahkulah yang membawaku menghampiri dia.

“Sonya ?” suaraku mulai panik
tangan Sonya mengulur ke arah lengan tanganku, tapi aku mengambilnya danmencoba menggenggamnya
 “Sakit Ngit…” suaranya begitu pecah dan sesekali mendengar sesakan nafas yang tidak teratur
“Kamu harus kuat. Aku akan bawa kamu ke rumahsakit” 
tanpa berpikir lama aku mencoba memapah Sonya tapi kondisinya terlalu lemahuntuk bisa berdiri. Dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Aku segera mengangkat tubuh Sonya dan membawanya ke mobilyang kuparkir di garasi villa. kaki dan tanganku sudah tidak seimbang danbergemetar karena rasa panikku di tambah aku harus menggendong Sonya yang cukupberat.
Sampai di garasi aku langsung menuju mobil dan kubuka pintunya. Lalu kuturunkansandaran jok kursi itu dan segera ku taruh Sonya di kursi jok. Akupun segerabergegas melangkah memutari mobil dan masuk kedalam. Ku tancapkan gas dengankecepatan tinggi agar bisa sampai  dirumah sakit lebih cepat.

***
Hampir dua jam aku menunggu Sonya yang berada di ruanganUGD. Tapi hingga kini belum ada suster maupun dokter yang keluar untukmengkonfirmasi tentang keadaan Sonya. Hatiku merasakan resah, ketakutan, marah,dan selalu berdo’a. 
“Kak Langit ???” suara seseorang memanggilku
ku menoleh dimana titik pusat suara itu terdengar
“Nabilah ?” bisikku
kulihat Nabilah yang berlari menuju ke arahku dengaan raut wajah yang sangatcemas, ku bangkit dari duduku dan mendekatinya, di belakangnya terlihat kakRica yang juga memasang wajah khawatir.
“Kak Langit. Kak Panda gimana ?” tanyanya
matanya terlihat sembab dan nafasnya sesenggukan.
mataku beralih pada kak Rica yang mencoba memberikan isyarat larangan. Akumengerti dengan isyarat itu, sekarang bukan waktunya untuk menjelaskansemuanya.
kak Rica mendekati Nabilah yang masih menunggu jawabanku
“Nabilah kamu harustenang. Jangan panik seperti itu.Lebih baik kita berdoa sekarang semoga kakPanda baik-baik saja” ujar kak Rica yang mencoba menenangkan Nabilah. Nabilahmenurut perkataan kak Rica dia terdiam dan kini terduduk di sebuah kursi.Tetapi di balik diamnnya aku tahu pasti dia akan bertanya dan merasa takutdengan keadaan kakaknya.


Pintu ruangan UGD terbuka terlihat seorang suster yang masih mengenakan masker di mulutnya. aku beranjak mendekati suster itu setiap langkah kaki selalu memunculkan pertanyaan dengan keadaan Sonya di dalam.

Bersambung
contineu part 8 (final episode)

0 comments:

Poskan Komentar