Jumat, 24 Mei 2013

Este Regalo Especial Parati, Stella #5

Siang itu aku meng-sms salah satu sahabatku di sekolah, tidak lain tidak bukan ialah Iksan Kurniawan.
                        “bro, gue lagi nungguin Stella mpe ntar malem. Kalo ada yang nyariin gue, suruh ke RS aja. Kalo guru, bilangin, gw lagi di RS njenguk temen”. Kemudian sms pun terkirim. Tak berapa lama, ada balasan sms dari Iksan.
                        “oke, brad. Ntar gue kesana ma Nabilah, Shanju, Ghaida, Ivan, Ja’far, Banan, Arka, Hendra, ma Bima Kurniawan...” itulah petikan pesan singkat dari sahabatku yang juga Aremania sama denganku. “siip, kapan lu kesini?” tanyaku. “bentar, jam kunjungnya kalo sore boleh kaga?” Iksan berbalik tanya padaku. “sore.. Stella istirahat, brad. Malem bisa, tapi, jam 19.00 WIB”. Jawabku . “okelah, ntar gue nyamperin lu ma Cici kesana jam 7 malem ma anak-anak”. Aku sengaja tidak membalas smsnya, karena dia pasti sudah tahu akan hal itu. Di depan Stella sudah tersedia meja makan kecil yang dapat dilipat—khusus untuk pasien rawat inap di rumah sakit—aku segera berinisiatif untuk menyuapinya, karena hal yang aku takutkan adalah, dia terlalu lemah kondisinya, dan masih membutuhkan waktu untuk recovery, dan secara sebagai teman yang baik, tidak ada salahnya kan aku menyuapin nya?
                        “sini aku suapin..” ucapku sambil mengambil sendok yang sudah terdapat nasi dan lauknya tersebut.
                        “hmm.. iya, makasih, ya. Kamu baik banget sama aku..” kata gadis kelahiran Semarang, 18 tahun yang lalu ini.
                        “haha, itulah guna nya temen..” ucapku lagi sambil membalas senyumannya.
                        Kami tertawa bersama dan bahagia saat itu. Ada pula moment dimana Stella bergantian menyuapiku. Tapi aku dengan halus dan sopan menolaknya, tapi, dia tetap memaksaku untuk makan. “apa boleh buat, lagian jarang-jarang di suapin bidadari dunia..” gumamku sambil terus mengunyah nasi beserta lauk yang tadi disuapkan Stella padaku. Hari itu, semangat hidupku kembali, seolah, Luka yang tergores telah sembuh, Kegelapan malam mulai menampakkan titik cerahnya, bagai menemukan seberkas cahaya di dalam sebuah kegelapan dimana rasa hati dan jiwa ini tersesat entah dimana. Udara yang awalnya tidak dapat kunikmati, kini perlahan bias kurasakan kesejukannya, dada yang awalnya terasa sesak ini, seolah kembali membukakan jalan untuk membantuku bernafas secara normal kembali. Aku merasa sangat bahagia saat itu, hanya ada aku dan Stella.

                        “ngiiing.. pesawat jatuh..” candaku sambil memegang sendok di udara dan akan menuju mulut Stella yang sudah terbuka.
                        “ayo, sekarang.. gentian kamu..” kata Stella.
                        “aku udah, Ci.. udah kenyang kok..” kataku.
                        “lho, gak boleh gitu.. gak imbang dong” canda Stella.
                        “jiaah, dia pasrah..” kata Stella sambil tertawa.
                        “hahahaha..” ketawaku.
                        Kami berdua saling bercanda dan bercerita bersama, memang, saat itu, adalah hari yang sangat special untukku, dan Stella sendiri. Saat itu lagu Adele – Some One Like You, Lifehouse – You and Me, The Red Jumpsuit Apparatus – Guardian Angel, berkumandang di kamar rawat inap Stella,  hari itu memang hari ulang tahun Stella yang ke-18. Dan umurnya pun sama denganku. Detik demi detik berlalu melambaikan jarum jam nya, kemudian menjemput menit berubah menjadi jam. Ku tertidur dengan memegang tangan Stella. Kurasakan  dia mengelus-elus rambutku, sambil menyanyikan lagu favoritnya, Adele – Some One Like You. “Subhanallah..” gumamku. Suaranya terdengar sangat merdu, hatiku seolah tenang dan pikiran-pikiran negative seolah sirna bagai debu tertiup oleh angin. Aku berharap ini tidak berakhir dengan cepat. Secepat kuda besi Moto GP melaju di sirkuitnya. Tak terasa tiba-tiba terdengar suara Adzan Mahgrib berkumandang.
                        “Ayo bangun.. ayo bangun.. ayo bangun.. ayoo, bangun dong..” kata Stella.
                        “hmm..” perlahan aku bangun sambil mengusap-usap mataku.
                        “hmm, kalo udah bobo, sulit juga ya dibangunin nya..” kata Cici.
                        “emang capek kok, Cici..” elakku.
                        “hohoho.. iya iya aku paham kok”. Sambil menebar senyuman manis menggoda.
                        Tak lama kemudian, teman-temanku datang lebih awal. Sambil membawa Gift untuk Stella. Nabilah, Ghaida, Shanju, langsung berlari menuju Stella dan kemudian memeluknya, seperti beberapa sahabat yang sudah cukup lama tak berjumpa, kemudian di suatu hari mereka dipertemukan. Saat itu, Nabilah yang berlari penuh semangat menghampiri Stella dan memeluknya erat-erat.
                        “Cici..” kata Nabilah sambil terharu melihat kondisi Stella yang semakin membaik.
                        “haii, dedek.. gimana kabar, kamu??” Tanya Cici ke Nabilah.
                        “baik, Cici.. Cici gimana? Udah baikkan kan?? Kangen kita-kita nggak?? Disini maem apa ajah?? Terus Kak Gunung nungguin Cici terus apa nggak??” kata gadis penyuka Kelinci ini dengan cara bicaranya yang khas.
                        “oke, oke, tenang dulu yah, dedek Biyah.. ntar aku certain kok”
                        Nabilah, Shanju, dan Ghaida pun tersenyum.
            “Cici, kangen banget gada lu di kelas.. rasanya gue kaya kaga ada temen.. kehilangan sahabat gue, yaitu kamu..” kata Shania sambil meneteskan air mata.
                        “iya, Cici.. gue juga kangen banget ma lu.. rasanya pengen pegang dagu kamu lagi deeh..” goda si Kamen.
“waduh, kalo ada Ghaida, jadi kaga tenang gue..” balas Cici dengan bercanda.
                        “mau lari lu dari gue??” trolling Ghaida.
            “mau lari pake karpet terbang?? Orang gue aja masih di infus” kata Cici.
                        “hahahaha, bisa aja lu, Ci..” kata Shanju.
                        “oh, ya, Ci.. ini kita bawain gift buat kamu..” kata si Little Usagi.
                        “ini nih, Cici.. makanan kesukaanmu.. Ayam Goreng..!!” kata Njuu.
                        “waah, Njuu.. love it..” kata Cici
“ooh, kalian so sweet banget..” kata Cici dengan wajah memerah. Mereka satu persatu memberikan hadiahnya kepada Cici, secara bergantian.
“Iya, iya dong, kita gitu..” sahut si Kamen Ghaida dengan berkaca pinggang.
                        Mereka terlihat sangat bahagia melihat Cici yang sudah mulai tertawa riang seperti dulu lagi. Sesekali kulihat Ghaida iseng dengan menggoda Cici dan Shanju men-trolling Cici dengan menanyainya hal-hal yang terjadi saat aku bersamanya, dan sesekali pula, meng-kepo handphone Cici. Nabilah pun tidak kalah dengan banyak menguasai topic pembicaraan. Kami para kaum adam member waktu kepada kaum hawa yang sedang dilanda rasa kerinduan. Kami pun beranjak meninggalkan mereka ber-4.
                        “ayo keluar, brad.. biar ibu-ibu PKK nyelesaiin urusannye dulu” kataku.
                        “siip, tapi, kenape dadunye kaga ade ye??” kata si Bima Kurniawan yang biasa dipanggil Bimkur oleh anak-anak.
                        “ah, elu, bim, banyak komentar.. itu mah cuman majas doang..” sahut Banani.
                        “gitu aja sewot lu, bang..” jawab adik sepupu dari Hendra ini.
                        “udah udah, ini RS rame aja lu orang.. mending kita PES.an aja” goda si Hendra.
                        “berani lu nge-PES ma gue??” sahut Arka. Ketua kelas XII-A.
                        “berani, ngapain takut ma lu, ka? Kan gue pernah kalahin lu 3x sehari” kata Hendra sambil menepuk dada.
                        “lu pikir obat ape, 3x sehari?? Hadeehh” sahutku.
                        “emang kok, dia pernah kalah ma gue 3x, sampe hamper bilang ke Ghaida kalo gue main curang..” kata Hendra.
                        “yee, daripada lu, gak gue pinjemin duit, malah nangis ke Njuu” kata Arka menggoda Hendra.
                        “wes gedhe..” sahut Ivan yang tiba-tiba memecah keadaan.
                        “hahahaha, sampe segitunya..” kata Iksan sambil tertawa.
                        “udah udah ah, wes gedhe, sek rebut masalah ngene’an ae?? Haduuh..”—udah dewasa, masih aja ngributin masalah beginian??—kataku sambil memisahkan mereka berdua, aku tau, bahwa mereka sebenarnya hanya bercanda. Tapi terkadang, bercandaan mereka bias sampai ke ring tinju juga. Suasana saat itu terasa hangat, baik di dalam ruangan tempat Stella dan sahabat-sahabatnya berkumpul, maupun kami yang berada diluar. Semua itu bisa terjadi, karena kebersamaan dan kekompakan diantara kami semua. Jika ada saja keributan yang terjadi, salah satu dari kami selalu menjadi pelerai, dan satu lagi menjadi The Glue—penyatumereka tidak lain, tidak bukan yaitu, Ivan, Hendra ataupun Bimkur yang juga pacar dari Frieska, adik sepupu dari Kak Melody, dan Frieska—biasa dipanggil Mpriss, merupakan keponakanku juga—diluar hujan terus menerus tidak berhenti dan malah bertambah deras, seolah tangisan hatiku terwakili oleh hujan lebat malam hari itu. Tapi lama-lama ruangan terasa dingin pula, karena AC yang semula dalam keadaan mati, dihidupkan oleh pihak RS. Kebetulan di dekat kamar Cici ada remote AC yang tegeletak. Aku pun segera menyahutnya dan menaikkan suhu pendingin listrik itu. Yang mulanya 30 derajat celcius, kunaikkan menjadi 32 derajat celcius.
                        Jam tak terasa sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB. Suster yang saat itu bertugas mengurus Stella, dating menghampiri kami yang duduk-duduk di luar ruangan, sambil membahas lolosnya Real Madrid, FC Barcelona, Bayern Meunchen dan Juventus—yang secara tim papan atas Eropa—
                        “maaf, adik-adik, jam besuk sudah berakhir 12 menit yang lalu, dimohon untuk kalian supaya kembali lagi besok pada jam besuk yang sudah disesuaikan..” kata suster berambut panjang, putih, dan mengenakan kacamata ini.
                        “iya, suster.. ini kami juga mau pulang kok..” kata Iksan.
                        Aku hanya terperangah melihat kecantikan suster itu.
                        “hiyaaa.. ya ini, yang bikin Cici marah besar..” kata Arka.
                        “dhuss.. bengong aja lu..” kata Banani sambil menggoyang-goyangkan badanku.
                        “haa?? Apa?? Lu gatau gue lagi lihat barang bagus apa??” kataku.
                        Cici.. Mas Gunung nakal..” teriak BimKur.
                        “eh, kamprett lu! Nggak Cici, anak-anak yang nakal..”
Sementara didalam..
                        “kalian denger suara para cowo yang diluar kaga??” kata Ghaida.
                        “iya sih, samar-samar suaranya manggil nama lu, Ci..” Kata Njuu—Shania—
                        “hmm.. pasti si Gunung tuh, ngeliatin suster lagi..” kata Cici jealous.
                        “kak Gunung kenapa, Ci?? Suka godaiin suster yah?” cerocos Nabilah.
                        “hmm.. ya gitu kadang-kadang, matanya suka kemana-mana” kata Cici.
                        “kalo gitu, lu harus lebih perhatian ma dia Ci, dia nggak mungkin gitu kalo nggak Cari Perhatian atau semacamnya, kan?” Kata Neng Kamen.
                        “iya juga sih, lagian dia sebenernya juga bukan cowo gampangan kok.. aku lihat usahanya dia jagain gue, ngerawat gue, doain gue dan macem-macem dah” kata Cici.
                        “hmm.. gitu ya, Ci.. gue harap, bisa dapet cowo ayng baik, setia, perhatian ma gue..” kata Njuu.
                        “eh, lu kan dah punya si Hendra??” kata Ghaida.
                        “iye, sih, tapi, gue masih bingung, pilih dia ato Banani”. Kata Njuu galau.
                        “halaah, kan udah jelas yang terbaik siapa, Njuu” sahut Cici.
                        “hmm, biar gue kasih waktu dulu ke mereka, siapa dari mereka yang patut ngemiliki hati gue..” curhat Njuu.
                        “iya, ganbatte kakak Njuu!” sahut Nabilah. Mereka pun tertawa bersama. Dibarengi dengan suster yang tadi kupandangi memasuki ruangan mereka berada. Dia mengatakan hal yang sama pada mereka. Akhirnya, Nabilah, Njuu, Ghaida, Arka, Banani, BimKur, Hendra, Ivan dan Iksan beranjak pulang. Mereka berpamitan kepada kami berdua sebelumnya.
                        Tinggalah aku dan Cici berdua. “Dingin banget ya, Cici” curhatku, sambil membuka pembicaraan.
                        “iya, emang.. tapi ada kamu di deketku kok, jadi dinginnya gak berlebihan..” kata Stella.
                        “cia..cia..cia..” teriakku sambil menyelipkan tanganku kedalam tepian ranjang Cici.
                        “kenapa?? kejepit tangannya??” kata Cici penasaran.
                        “cia.. cia.. cia.. aku di gombalin bidadari” kataku sambil mengelak.
                        Waktu pun terasa cepat berlalu, aku segera beranjak untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim—sholat Isya berjamaah di Musholla RSSA—setelah selesai sholat, aku kembali ke ruangan Cici dirawat. Jam menujukkan pukul 20.45 WIB.
                        “capek ya?” Tanya Stella.
                        “Lumayan, kok.. hehe” jawabku.
                        “maem, gih..” kata Stella mengingatkanku.
                        “nggak dulu.. masih kenyang, Cici..” balasku.
                        “kalo kamu nggak maem, aku nggak maem juga” ancam Stella.
Dia tetap memaksaku untuk makan, saat itu aku memang tidak bernafsu makan.
                        “lho, orang sakit itu yang mustinya makan..” kataku balik menasihatinya.
                        “maem bareng hayoo?!” pinta Stella.
                        “nggak dulu, Ci.. ntar aja aku..” elakku.
                        Tak lama kemudian, suster pun datang sambil membawa makan malam dan juga obat yang harus diminum. Aku segera terus mengingatkan Stella untuk mengisi perutnya dengan makanan. Awalnya memang sulit, tapi, dengan sedikit usaha dan paksaan, perlahan hatinya melunak, akhirnya dia mau untuk menyantap menu makan malam yang telah disediakan oleh suster. Beberapa menit kemudian, satu persatu makanan beserta nasi di sendok berhasil dilahap Stella. Aku menyupainya dari tahapan awal hingga akhir, sesekali dia menyuapiku balik. Setelah selesai makan malam, aku pun mengingatkan nya untuk lekas minum obat. Setelah itu itu , aku memintanya untuk tidak langsung tidur terlebih dahulu, karena dia baru saja selesai makan, dan ada baiknya, sekitar 30-45 menit setelah makan, baru beristirahat ataupun tidur. Supaya kondisi fisik tetap terjaga. Aku pun mengajaknya mengobrol.
                        “Cici..” panggilku sambil menggengam tanganya.
                        “iya?” jawabnya halus.
                        “kira-kira, ntar kalo udah bias beraktifitas lagi, hal pertama yang mau kamu lakuin apa?” tanyaku penasaran.
                        “hmm, apa yah? Dance mungkin..” jawabnya dengan senyum.
                        “wew.. azzeekk.. aku gak sabar liat deh, pasti keren..” aku berusaha menghiburnya.
                        “hehe, makasih, tapi aku nggak bisa dance sebenernya..” katanya sambil tersenyum merendahkan diri.
                        “hmm.. gitu yah, oh ya, aku sudah gak sabar liat kamu Dance Shuffle lagi..” kataku.
                        “hoho, iya, aku juga dah ngebet banget, pengen dance lagi..” kata Stella.
                        “oh, satu lagi.. habis itu mau ada agenda apa lagi, Cici??” tanyaku lagi.
                        “hmm.. ikutan audisi aja deh..” kata Cici singkat.
                        “audisi apa ya? Pasti nyanyi kan?” kata ku penasaran.
                        “kok tau siih??” kata Stella heran.
                        “iya, tau lah.. suara kamu kan keren badaii.. haha..” ucapku sambil tertawa kecil.
                        “hmm.. suaraku lho gak bagus. Bagus tuh suaranya Teh Melody!”
                        “wew, dia kan kakakku!”  sahutku.
                        “iya kah? Aku nggak tau lho..” jawabnya heran.
                        “iyalah.. masa nggak tau??” tanyaku balik.
                        “oh gitu, ya.. aku nggak tahu, beneran..” ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya dan jarinya membentuk huruf V. kami pun tertawa bersama saat itu. Sungguh salah satu hari terindah dalam hidupku! Ditemani bidadari bidadari secantik Stella, seharian penuh!
                        “oh ya, aku baru inget. Kemarin pas aku browsing, ada audisi Sister Group AKB48, lho! Di Jakarta tapi..” kataku sedikit memelankan suara.
                        “hmm, oh iya! Audisinya JKT48!” sahut Stella dengan penuh semangat.
                        “ayo, Cici.. si el espiritu! Ganbatte! Tunjukkin ke semua orang, siapa Cici Stella yang sebenarnya.. sosok Stella Cornelia itu yang selama ini dikenal banyak orang..” kataku memberikan motivasi.
                        “emm.. pasti aku berusaha!” kata Stella semangat.
                        “siip, itu baru Ciciku!” kataku dengan senyum.
                        “oh ya, kamu nggak ada tugas kah??” Tanya Stella.
                        “hmm.. nggak ada deh, kayanya..” sambil mencoba mengingat, aku menggaruk-garuk kepalaku.
                        “hmm.. coba di inget-inget dulu.. sehari ini pelajarannya apa..” kata Cici dengan nada bicara yang dewasa.
                        “hmm.. apa ya..” agak lama aku berusaha mengingat-ingatnya.
            Tiba-tiba dari arah luar terdengar percakapan antara sepasang pria dan wanita, tampaknya, si pria ingin memberikan hadiah ke wanita idamannya, hadiah sebuah buku novel!
                        “novel!” teriakku
                        “hush.. jangan keras-keras..” ingat Stella.
                        “hehe.. gomenasaii, abis, baru inget siih..” elakku.
                        “ya udah.. buruan dikerjain, gih..” nasihat Stella.
                        Aku segera mengerjakan tugas B.Indonesiaku untuk 2 hari kedepan, dan hari itu dimana Stella sudah diperbolehkan pulang. Stella pun aku minta untuk beristirahat, sementara aku menunggu dan menjaga di sisinya. Lembar demi lembar sudah terisi dengan goresan huruf. Masih baru 8 lembar. Aku isi dengan coretan pensil membentuk huruf. Novelku menceritakan kisahku selama ini, mulai dari awal bertemu dengan Stella, pengalamanku bersama teman dan sahabatku, hingga klimaks-nya, aku harus ikhlas melepas kepergiannya seorang Stella ‘Cici’ Cornelia dan teman-temannya, karena dia akan pergi ke Jakarta. Dalam rangka keberhasilannya masuk kedalam Idol Group JKT48. Aku pun kembali tertidur di dekat Stella. Tugasku saat itu sudah selesai. Ku ingat aku mengerjakan mulai pukul 21.10 WIB, hingga pukul 24.05 WIB. 1 hari sebelum Stella diizinkan meninggalkan rumah sakit. Aku sudah tidak menjenguknya lagi ataupun menjaganya sampai berhari-hari. Itu dikarenakan keluarga Stella sudah dating untuk menjenguk dan menjaganya selama 2 hari sisa. Orang tua Stella pun, sangat berterima kasih kepadakau atas kepedulianku terhadap Stella. Aku hanya bias mengangguk dan berkata 1 kalimat “terima kasih atas apresiasi Bapak dan Ibu, saya hanya menjalankan amanah dari Ibu Stella, untuk menjaga Stella, selama anda belum sempat menjaga Stella, saya menunaikan amanah ini dengan penuh ketulusan hati dan tanpa mengharapkan seseaut apapaun dari bapak/ibu”. Kemudian Stella diizinkan pulang, tapi, tidak untuk langsung mengerjakan aktifitas berat. Terutama hobinya, Dance. Stella pun direncanakan pulang terlebih dahulu ke Semarang, karena harus mengikuti terapi kesehatan pasca opname dan harus mengikuti Audisi Member JKT48. Dia tidak sendiri, bersama dengan Ghaida, Shanju, Beby, Achan, Nabilah, Sonya, Cindy, Kak Ve, Kak Melody, Jeje dan Rena-Chan. Sementara Frieska sudah berada di Jakarta terlebih dahulu dengan si Bima Kurniawan.


Gunung Mahendra
@GunungCornelia

0 comments:

Poskan Komentar