Senin, 20 Mei 2013

CERITA SONYA part 5

Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Aku harus segera pulang kerumah
“Sonya aku pulang dulu ya. Sudah malam” ujarku
Sonya mengangguk “Iya terima kasih Langit”
“Kamu cepat sembuh ya… kalau kamu kamu sudah sembuh aku akan bawa kamu kemanapun yang kamu mau”  kataku
“Aku sayang kamu Langit” ujarnya.
Perkataannya membuatku benar-benar kaget. Benarkah dia mengatakan itu padaku ? aku terduduk kembali dikursi dekat dengan Sonya, kukecup keningnya
“Aku juga sayang kamu Sonya” bisikku ditelinganya aku segera keluar dari kamar Sonya sesekali kumelihat wajah Sonya yang sudah tidak terlihat pucat.

Hari-hari berlalu setiap jam, menit, detik, kuhadapi seperti biasa. Tetapi tidak untuk perasaanku pada Sonya perasaanku akan terus mencintainya perasaan yang tidak akan pernah padam sampai kapanpun. Aku dan Sonya  telah menjadi sepasang kekasih, sepasang kekasih yang bagiku sangat sempurna, sepasang kekasih memiliki kehidupan kesetiaan dan pastinya cinta
“Langit” seseorang memanggilku aku menoleh kebelakang
“Sonya…” bisikku kecilkini Sonya terduduk lemah disebuah kursi roda yang menyangganya, dia bagaikan burung merpati  yang kehilangan sayapanya. Leukemia. Penyakit yang membuat wanita yang kucintai menjadi tidak berdaya. Tuhan, kenapa kau memberikan penyakit itu kepadanya. Kenapa tidak kau kirimkan penyakit itu untukku saja ?.
Kuhampiri Sonya yang sepertinya sudah menungguku. Melihat dia tersenyum bagaikan melihat mutiara yang bersinar dan disaat aku melihatnya, hanya terlihat tubuhnya yang sudah kurus, wajahnya yang pucat dan rambutnya yang mulai menipis
“Hai sayang kamu sudah bangun ?” tanyaku
Sonya mengangguk bibirnya membentuk sebuah senyuman “Sudah. Aku jenuh setiap hari tiduran dikamar” tuturnya
“Kamu mau makan ?”
“Enggak. Aku gak lapar Ngit” jawabnya sesaat kami terdiam lalu kudorong kursi rodanya kearah balkon villa yang terbuat dari kayu jati. Sore hari yang indah, mungkin membuat Sonya merasa lebih nyaman
“Menjadi seperti langit itu indah iya ?” suaranya penuh harap.
Matanya terpejam merasakan udara dingin di villa keluargaku. Dia menirukan semua yang pernah aku ajarkan tentang kita dan langit “Langit itu benar-benar membuat hariku menjadi lebih sempurna” ujarnya
kugenggam tangannya lalu kupejamkan mataku “Langit disana pasti cemburu melihat matahrinya berada disebelahku sekarang”  kataku
“Langit disebelahku tidak lebih baik dari langit diatas sana”   ujarnya
kubuka mataku dan melirik kepadanya “Tapi Langit disebelahku yang mampu memberikan cintanya pada wanita lemah seperti aku” lanjutnya, kini matanya terbuka kembali.

Aku terduduk dihadapannya setara dengan kursi rodanya. Lalu kumengambil sesuatu disakuku, dan kutujukan benda kecil itu  dihadapan Sonya. sebuah cincin yang tidak terlalu  mahal dan mewah yang kubeli dari sisa uang jajanku. Sonya tersentak kaget, air matanya tertahan diantara kelopak matanya pipinya mulai memerah. Kulihat raut wajahnya yang menggambarkan kebahagiaan tetapi sedikit keraguan
  “Sonya Pandawarman. Maukahkah menikah denganku?" ujarku lantang
Sonya masih terpaku dengan sikapku, air matanya mulai terjatuh dipipinya. Sedangkan aku masih menanti sebuah jawaban dari bibirnya “Aku…” Sonya terlihat gugup
matanya berubah menjadi hampa “Aku gak bisa Ngit” jawabnya
perkataanya membuatku merasa sakit dan seakan tidak percaya “Kenapa ? Aku mencintaimu Sonya!” ujarku meyakinkan
Sonya menggeleng “Bukan itu Langit” perkataanya
terpotong kutunggu beberapa saat hingga dia mampu mengutarakan isi hatinya
“Aku  gak bisa menikah sama kamu” ucapannya terulang
“Tapi kenapa ?”
“Langit ….” Lagi-lagi perkataanya terulang air matanya membasahi pipinya dan terjatuh ditanganku
“Aku sakit langit. Apa kamu gak bisa lihat ?”
“Aku tahu” tukasku “Kamu sadar
"Aku itu bukan untuk kamu, aku gak sempurna seperti wanita lain. Bahkan dokter bilang padaku umurku gak akan lama lagi !” terangnya
 kupegang tangannya dengan erat, aku berusaha untuk terus meyakinkan hatiku pada Sonya “Aku mengenal hari-hari menjadi indah karena ada kamu. Aku mengerti akan arti sebuah kehidupan saat aku selalu bersamamu. Aku belajar untuk setia saat aku mempertahankanmu dan aku akan selalu mencintaimu sampai Tuhan menakdirkan kita untuk berpisah suatu hari nanti” kataku
“Langit aku mohon kamu sadar. Tuhan itu gak menakdirkan kita untuk bersama, aku dikirim hanya untuk mengisi hidupmu semenatara” ujarnya Wajah berubah menjadi takut
“Aku gak perduli Sonya. yang aku mau hanya kamu” ujarku
lagi-lagi Sonya terdiam matanya sudah mulai membengkak pipihnya basah  dengan air matanya
“Asalkan kamu mengerti Sonya. cinta itu tidak membutuhkan alasan”
“Aku lelah Langit memikirkan ini. Aku memang membtuhkan hatimu tapi bukan kehidupanmu” ujarnya yang berusah menjalankan kursi rodanya
Hatiku tidak percaya Sonya berkata seperti itu wanita yang selama ini aku anggap bahwa dia mencintaiku ternyata menyerah dengan kehidupannya
“Hatiku akan terasa lebih sakit Sonya jika kamu seperti ini” suaraku sedikit terdengar keras
kursi roda Sonya terhenti “Kalau begitu lupakan aku” jawabnya yang segera berlalu masuk kedalam villa.


Bersambung
contineu part 6

0 comments:

Poskan Komentar