Senin, 20 Mei 2013

CERITA SONYA part 4

Keesokan harinya setelah aku pulang dari kuliah, aku langsung pergi kerumah Sonya untuk memastikan keadaannya. Kebetulan rumah Sonya dan aku hanya berbeda tiga blok saja jadi tidak terlalu jauh.
Saat dijalan menuju rumah Sonya kulihat Nabilah yang baru turun dari angkot“Nabilah” panggilku dari kejauhan Nabilah menoleh kebelakang dan melihat tepat kearahku
kulamabaikan tanganku dan secepatnya menghampiri Nabilah
“Kak Langit ?” ujarnya yang masih heran
“Kamu dari mana ?” tanyaku yang sesegukan
“Aku habis dari apotek kak” jawabnya yang sembari menunjukan kantung plastik yang baru dibelinya
“Habis beli obat yaaa ?”
wajah Nabulah tampak bingung “Koq kakak tahu?” tuturnya
aku tertawa kecil “Iyalah dimana-mana apotek itu tempat menjual obat-obatan dan resep dokter” kataku
Nabilah menyengir malu “hhmm aku lupa. Oh ya kak Langit mau kemana ?” tanyanya
“Aku mau kerumah kamu. Mau jenguk kak Sonya”
“Oh yaudah bareng aja yuk” ajaknya
kamipun melanjutkan perjalana kami kerumah Sonya

Tiba dirumah Sonya, kulihat pagar dan pintu rumah tertutup dan terlihat sangat sepi
“Nabilah koq rumah sepi ?” tanyaku
“Iya mamah lagi nganterin pesana kue, papah biasa kerja. Kalau kak Sonya paling jam segini lagi tidur” jawabnya
Nabilah membuka pintu pagar dan masuk kedalam,  terlihat rumah yang tidak terlalu besar dan mewah tapi masih terlihat asri bersih dan banyak memajang tanaman bunga angrek putih
“Ayo kak masuk” ajak Nabilah Nabilah menutup pintu pagar dan langsung masuk kedalam rumah, aku mengikutinya dari belakang.
“Kak Langit kalau mau ketemu kak Panda kekamarnya saja. Aku mau siapin makan siang untuk kak Panda” jelasnya.
Nabilah memang anak yang baik dan pengertian, aku bersyukur Sonya mempunyai adik sebaik Nabilah
“iya, kakak kekamar kak Sonya dulu ya?” kataku yang langsung bergegas menunuju kamar Sonya

Pintu kamar Sonya tertutup rapat, sejujurnya bagiku kurang sopan mengganggu seseorang yang sedang beristirahat. Tapi tidak apalah niatku juga baik. Kuketuk pintu kamar Sonya dengan pelan tapi tidak ada balasan dari dalam, kuketuk lagi sedikit lebih kencang dan pintupun terbuka. Terlihat Sonya yang membuka pintu, wajahnya pucat, tubuhnya juga berkeringat dan yang baru aku sadar dia terlihat lebih kurus dari waktu aku bertemnu denganya “Hai…” sapaku Sonya tersenyum, tapi senyumnya sungguh lemah
“Masuk Ngit…” ujarnya yang berjalan menuju tempat tidurnya
Sonya kembali berbaring ditempat tidurnya yang cukup besar “Kamu sudah pulang kuliah ?” tanyanya
“Sudah. Hari ini kelas kosong jadi aku pulang saja” jawabku
“Oh. Kamu mau minum ? biar aku ambilin dulu” katanya yang berusaha bangun
namun aku mencegahnya bisa-bisanya disaat kondisinya seperti ini masih memikirkan orang lain
“Hei tidak perlu. Hausku sudah hilang saat melihat kamu tadi” ledekku
Sonya tertawa malu “Maaf yaa” sereunya
aku bingung dengan perkataan Sonya “Maaf untuk apa ?”
“Maaf saja” singkatnya
“Aku benar-benar tidak mengerti” lagi-lagi dia tersenyum padaku, kenapa dia pandai sekali memikat hatiku dengan senyumannya.
Batinku selalu berbicara ‘Aku mencintainya Tuhan, izinkan aku untuk tetap bersamanya izinkan aku untuk mencintainya dan bisa memberikan dia hatiku yang tulus ini’
“Langit… Langit” suara Sonya membuyrakan lamunanku
“Iya apa ?”
“Kenapa diam ?” tanyanya
“Enggak koq, gak apa-apa” jawabku berbohong

Tiba-tiba “Uhuk-uhuk-uhuk” suara batuk Sonya yang terdengar nafasnya membuat aku semakin tidak tega melihatnya. Aku langsung bergegas mengambil air yang berada dimeja hias dekat dengan tempat tidur Sonya
“Ini minum dulu” bujukku
Sonya melepaskan dekapan tangannya, kulihat darah yang keluar di bibir dan tangannya. Lagi-lagi Sonya berdarah, inilah yang membuatku semakin khawatir dengan kondisinya
“Sonya kamu berdarah ?” ujarku
Sonya secepatnya menghapus darah di bibir dan tangannya.
Tidak lama Nabilah datang membawa nampan yang berisikan bubur, air, dan beberapa obat-obatan
“Hallo… pasti lagi pad…” ucapannya terhenti ketika dia melihat darah Sonya
Secepatnya dia menaruh nampan di meja hias “Kakak …” suara Nabilah pecah
Sonya mencoba menenangkan aku dan Nabilah “Aku gak apa-apa koq. Mungkin efek samping dari obat yang tadi pagi aku minum” ujarnya
Mata Nabilah sedikit berkaca-kaca, dia menahan air matanya yang tertahan dipelopak bawahnya tatapannya begitu dalam melihat kakaknya “Lebih baik kamu makan dulu, habis itu minum diminum obatnya” ujarku yang mengambil bubur disebelahku.
Kuaduk bubur yang dibawa Nabilah masih terasa panas. Lalu kucoba menyendokkan pada Sonya
“Aku gak lapar” tolaknya
“Tapi kamu harus makan. Bagaimana kamu bisa sembuh kalau kamu gak makan ?” bujukku
Sonya terdiam sesaat, lalu tidak lama dia membuka mulutnya. Aku menyuapkan bubur kemulut Sonya secara perlahan. Nabilah terlihat tidak khawatir lagi ketika melihat kakaknya yang mulai ingin makan
“Ngit…” panggil Sonya, aku masih sibuk mengaduk bubur dan menyuapakan bubur pada Sonya
“Iya apa?” jawabku lembut
“Bawa aku…” ungkapnya tertahan
“Bawa kemana ?” tanyaku yang masih bingung Sonya menunduk, raut wajahnya berubah sedih
“Sonya ?” tanyaku mengulang
“Bawa aku ketempat yang paling indah didunia ini” jawab Sonya kini matanya berpasangan dengan mataku.  Kutatap matanya, hasrat ini benar-benar membuatku menjadi semakin mencintainya, menctai wanita yang bagiku bagai sebuah angin terbang
“Kemanapun Ngit. Kemanapun kamu pergi bawa aku bersamamu” lanjutnya
Sonya tersenyum dia menggenggam tanganku, genggamannya sangat erat.  Aku mengelus pipinya yang halus, tulang pipinya terasa antara aliran darahku. Akupun mengangguk sebagai jawabannya
“Aku ikut yaaa?” ujar Nabilah dia membuat suasana hening menjadi lebih berwarna  “Iya kamu boleh ikut” ucapku kamipun mengobrol dan bercanda hal-hal yang tidak penting. Hari itu membutaku lebih mengenal dengan sosok Sonya.


Bersambung
Contineu part 5

0 comments:

Poskan Komentar