Selasa, 30 April 2013

NPW (National Protection of Women) Chapter 5


Title : National Protection Of Women
Genre : Action, thriller, Mystery
Release Date : 26 Maret 2013
Story by : Chikafusa Chikanatsu
  Ini Merupakan Kisah Fiktif.


PERHATIAN : CERITA INI MENGANDUNG TINDAK KEKERASAN, PENYIKSAAN SERTA PEMBUNUHAN. DI KHUSUSKAN BAGI MEREKA YANG SUDAH BERUMUR 17 TAHUN KEATAS.

   Keesokan harinya, pagi hari ...
Diruang rapat para mantan anggota NPW berkumpul bersimpuh dengan khusyuk mendengarkan Ketua mereka, Ve, menjelaskan Strategi yang akan dipakai saat dilokasi pertukaran, yakni Pelabuhan Batam Center. Dihadiri 5 orang Agen yang akan langsung terjun dilapangan, yaitu Ayen, Acha, Haruka, Kinal serta ketua mereka sendiri, Ve. Dibalik layar Monitor berukuran 42 in Ve menjelaskan dengan Detailnya.

   "Lokasi yang akan mereka pakai saat pertukaran yakni didaerah pelabuhan Batam Center. Mereka akan datang dengan Kapal Ferry pada pukul sepuluh tepat. Sebelumnya, kita akan melakukan pengecekan pada lokasi yang akan mereka pakai melalui Tim Pertahanan Siaga Darat. Dalam hal ini, aku akan menyerahkannya pada Haruka, Aku akan mengijinkanmu membawa 10 orang petugas untuk pengecekan dilokasi. Kau mewajibkan untuk memeriksa bahan utama bom seperti Sodium Lauril Ether Sulfate, NA2SO4, Na2CO3 melalui alat detektor." 

Haruka mengeluh. "Sampai sejauh itukah? Apa kita akan melakukan pengecekan tingkat tinggi? Aku ragu bahwa Ghaida akan melakukan itu semua pada kita." Ve membalasnya. "Dunia Teroris sungguh kejam, kita tidak tahu kemungkinan Ghaida telah dicuci otaknya. Lebih baik kita mengantisipasinya."

Ve menoleh pada Kinal. "Apa lukamu sudah membaik?" Tanyanya. Kinal menggangguk.
   "Kau akan bersiaga menggunakan senjata laras panjang untuk melindungiku saat pertukaran dilakukan." Perintah Ve. Lantas Kinal kembali menggangguk. "Aku mengerti."

Ve menambahkan. "Dan Ayen serta Acha, kau tetap berada disampingku sampai proses pertukaran selesai. Kita juga akan memasang petugas penyelam yang bersiaga dibawah laut jika suatu saat terjadi penembakan."
   Dengan wajah Herannya Kinal berfikir. "Sebenarnya apa yang direncanakan Ghaida ... Ia meminta data data informasi mengenai pembuatan senjata masa depan yang sudah susah payah didapat oleh agen NPW dari pihak asing, apa dia akan melakukan penyerangan?" Lantas Kinal Menoleh pada Haruka. "Apa pendapatmu? Bukankah Team W yang sudah mengumpulkan informasi mengenai senjata itu?"

Walau tidak tahu pasti, namun Haruka berusaha menyimpulkannya. "Debut senjata senjata itu masih belum bisa diketahui, namun yang pasti, semua senjata itu didesain untuk peperangan di tingkat Negara. Dengan memakai tekhnologi yang bisa dikatakan canggih, semua serba digerakkan dengan listrik dan dapat dikendalikan oleh remote control dari jarak jauh. Ini memungkinkan berkurangnya kematian para tentara atau petugas. Dengan kata lain, senjata  canggih tersebut tidak akan melibatkan banyak petugas yang langusng terjun dilapangan, mereka akan dengan mudahnya mengendalikan senjata itu seperti robot ditempat tempat tertentu."

Ayen menerka. "Apa mungkin, senjata senjata itu digunakan untuk para teroris?"
   "Kira kira, berapa persen kau dan Akicha sudah mengumpulkan informasi pembuatan senjata canggih tersebut?" Tanya Ve pada Haruka. 
   "85 persen, aku dan Akicha sudah sampai ditahap akhir untuk menyelesaikannya."  Jawabnya.

Ve melirik arlojinya. "Sudah hampir saatnya, kalian bersiap siaplah. Kita akan terbang ke Batam saat ini juga."
Semua menggangguk.


Pukul sepuluh kurang sepuluh menit, Tepat dilokasi pertukaran, Ve berdiri gagah menanti kedatangan ketua Team P, Ghaida, untuk melakukan persetujuan yang telah mereka buat. Ayen serta Acha berada disebelah Ve yang dalam posisi siaga menggunakan pistol untuk melindungi Ketua mereka. Disebuah tower yang tingginya mencapai 32 meter, Kinal sudah dalam posisi Steady menggunakan USMC Sniper Rifle. Suasananya sungguh sepi, Ghaida dan kawan kawan akan berlabuh menggunakan kapal pengangkut barang dijalur yang memang jarang digunakan.

Sedangkan Haruka berada di tower tempat kendalinya para kapal dipelabuhan untuk memantau Kapal target yang akan berlabuh nanti, setelah sebelumnya meminta izin pada penanggung jawab keamanan Pelabuhan Batam Center. Ia melapor pada Ve melalui alat komunikasi radio. "Sepuluh menit dalam hitungan mundur, mereka akan tiba." Katanya dengan Scope yang menempel dikedua bola matanya.

   "Laporkan posisi masing masing." Perintah Ve kepada para Agen yang bertugas.
   "Regu A sudah dalam posisi." Lapor Kinal. (Regu A merupakan kelompok penembak senjata laras panjang)
   "Regu B sudah dalam posisi." Lapor ketua regu Penyelam bawah laut.
   "Password?" Balas Ve pada Regu B. Sebuah Password memang sangat diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada petugas yang disandera. "N48W" Jawab Ketua Regu B.

   "Target sudah dikonfirmasi. Kapal akan tiba dalam hitungan tiga menit." Kembali Haruka melapor.

Kapal Ferry pengangkut barang sudah mulai tiba. Ayen serta Acha mengokang pistol bersiaga. Dengan wajah Tajam Ve menunggu kehadiran Ghaida, Dibayang bayangi rasa cemas akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Kapalpun sudah mulai berlabuh, Keberadaan Ghaida pun sudah mulai nampak. Dengan gagah berani, Ghaida serta kaki tangannya berjalan menemui Ve. Ghaida dikawal oleh delapan petugas miliknya lengkap dengan senjata api yang sudah siap siaga diposisi belakang. Kini para ketua mantan dari organisasi NPW saling berhadapan.

   "Senang bertemu denganmu, apa kabar?" Kata Ghaida disela senyum tidak tulusnya itu.
   "Aku tidak percaya kau bertindak sampai sejauh ini." Balas Ve.
   "Aku juga tidak percaya bahwa ketua Team W sudah digantikan olehmu. Dan kau juga sudah menjadi ketua dalam organisasi barumu, Akicha berbicara banyak tentang mu. Selamat untuk itu." Potong Ghaida.
   "Aku tidak melihat anggota lain dari Team mu, kemana mereka? jangan bilang, bahwa anggota Team mu sudah kau jadikan sebagai tawananmu."
Ghaida terbahak. "Kau benar sekali. Tidak heran jika kau dipilih menjadi ketua yang baru oleh anggota mu. Kau berfikir cepat sekali. Cukup basa basinya, dimana Arsip yang aku minta?" Tanyanya pada Ve.
  "Tunjukkan rekan kami lebih dulu."

Ghaida menggangkat tangan kanan nya untuk memberi isyarat pada petugas yang berada dibelakang, tidak lama kemudian petugas datang dengan membawa para tawanan, mereka adalah Yona serta Akicha. "Dimana Stella?" Tanya Ve. "Saat ini Stella ada didalam mobil darurat, ia masih belum sadarkan diri, lukanya sungguh parah." Jawabnya.
   "Beritahu aku dimana mobilnya?" Potong Acha. Ghaida menoleh pada Acha setelah perkataannya barusan.  "Nyalimu besar sekali menanyakan mobil dari pihak oposisi. Mobil itu masih ada didalam kapal, ambillah sendiri jika kau berani." Tantang Ghaida. Seperti yang kita ketahui, Acha merupakan seorang Agen yang direkrut oleh Yona baru baru ini, posisi Acha masih bisa dibilang anak bawang.

Dengan tubuh yang tegar serta keberanian yang dimiliki Acha, ia berjalan seorang diri menuju kapal Ferry yang penuh oleh pihak oposisi. Ayen ingin menghalangi Acha saat itu, namun Ve menghalangi langkah Ayen. "Biarkan saja, kita tidak punya agen lain untuk melakukan itu." Ayen mengeluh. "Dia masih baru, kemampuan bela dirinya masih kurang." 
   "Biarkan saja." Jawab Ve terdengar kejam.


Tiba tiba saja, suara gemuruh terdengar dari arah selatan. Helikopter jenis AH-64D Apache muncul dengan mulusnya. Ve melirik Heli itu dalam sekejap, kemudian Ia menoleh pada Ghaida dengan wajah herannya. "Apa Heli tersebut ada dipihakmu?" 
Dengan cepat Ghaida menggeleng dan juga menunjukkan rasa heran. "Aku kira kau mencoba melawan kami dengan bantuan udara. Jadi?"

Heli AH-64D merupakan jenis Heli tempur. Heli tersebut masih melayang diudara, mesin senapan dari Heli itu mulai terbuka. Ve berteriak pada rekan rekannya. "Bahaya! Cepat lindungi diri kalian."

Senapan mesin M230 kaliber 30 mm mulai menunjukkan kaganasannya, beribu ribu peluru mulai dilontarkan pada kedua pihak yang saling bertemu itu. Semuanya saling berlindung serta menyelamatkan diri, Ve berlari masuk kedalam ruangan tempat penyimpanan barang dipelabuhan.

Haruka yang berada diruang kontrol kendali dengan cepat menodongkan pistol pada penanggung jawab pelabuhan Batam Center. "Apa yang sudah terjadi? Apa kau menghubungi pihak luar?"
   "Kalian terlalu cepat menarik kail, jika kalian ingin menangkap Ikan yang lebih besar, kalian harus berhati hati saat menariknya, kesalahan sedikit saja bisa membuat kail mu terputus."
Haruka geram. "Siapa yang telah kau hubungi? Cepat katakan!"
   "Aku telah menghubungi markas NDO. Sebelumnya, kalian memang sudah menjadi buronan pihak kepolisian Internal. Maka dari itu ..." 

'DuuuarR' Haruka melepaskan pelatupnya hingga peluru tersebut mengenai jidat orang yang ada dihadapannya. Haruka jengkel. "Penghianatan memang pantas dihukum mati."

Haruka mencoba menghubungi Ve lewat alat komunikasi radio. "Mereka dari organisasi NDO. Apa rencanamu?"
   "kau coba lumpuhkan dua orang crew pilot dari Heli tersebut. Aku akan mencoba mengulur waktu dengan melawan pasukan darat. Sisanya, kau beritahu yang lain untuk segera kembali ke markas. Pertarungan ini hanya akan membuang banyak agen." Perintahnya.

Haruka memasang sebuah alat peledak berdaya sedang pada setiap sisi pintu bangunan agar bisa mengurangi pasukan yang akan menemuinya. Bahan explosive yang Haruka gunakan berupa Nitroguandine, bahan peledak rendah sensitifitas namun sangat cepat kecepatan detonasinya.

Setelah selesai memasang ranjau explosive, Haruka menyiapkan senjata laras panjangnya. Disela bidikannya, Ia melapor pada Kinal. "ini perintah dari atasan, Beritahu yang lain untuk segera kembali ke markas. Pertemuan kali ini akan ditunda."


Regu B yang merupakan Tim penyelam bawah laut serentak menunjukkan keberadaannya dengan tiba tiba, mereka menembaki pihak NDO dengan senjata api masing masing. Namun sayang, Jumlah pasukan NDO terbilang sungguh banyak, satu persatu personil Regu B gugur dalam pertarungan.

Tepat didepan Lift sebuah bangunan menuju ruang kontrol pelabuhan, Ayen menunggu beberapa pasukan NDO yang mungkin akan menaiki lift tersebut. Lift tersebut akan mengantarkan siapa saja menuju ruang pengendali kapal kapal, sedangkan yang Ayen ketahui, diruang tersebut terdapat agen temannya sendiri, yakni Haruka. Tiga personil dari pihak NDO mulai terlihat, mereka siap menaiki lift tersebut. Disaat lift tersebut ingin tertutup, Ayen menyempatkan diri untuk menggelindingkan Explosive sebesar bola bekel melewati pintu lift yang hanya sebesar 10cm menuju tertutup. Explosive tersebut sukses masuk kedalam lift dan apa yang ada didalamnya kacau akibat ledakan yang ditimbulkan.

Ayen mendapat pesan komunikasi radio dari ketuanya, Ve. "Organisasi NDO sudah benar benar mengambil tindakan sulit. Sepertinya mereka telah bekerja sama dengan Mabes POLRI dan juga Komando Operasi Angkatan Udara I. Tidak ada cara lain selain melawan mereka. Kita telah kehilangan banyak agen dilapangan, Mereka menginginkan peperangan sungguhan dengan Organisasi kita."

Ve melanjutkan, Ia berbicara pada semua Agen yang bertugas saat itu. "Semuanya, dengarkan aku baik baik. Kita tidak perlu melumpuhkan seluruh tentara NDO, Habisi semua yang telah menghalangi langkah kita. 3 jam dari sekarang, kita akan bertemu dimarkas persembunyian NPW yang sesungguhnya."

Ayen mendengus. "Sebenarnya siapa penjahatnya? Tugas utama kita berburu teroris, lantas pihak pertahanan negara malah ingin menangkap orang baik baik seperti kami. Kesalapahaman macam apa ini?" 

Belum lama Ayen ngedumel, tentara NDO mulai berdatangan mengelilingi lokasi dirinya. Sampai saat ini keberadaan Ayen masih belum diketahui, melihat keberadaan tentara pihak NDO, Ayen berlari menuju lahan parkir dan bersembunyi dibelakang sebuah mobil. Bagaimanapun, Ayen tidak akan bertahan lama disana. Datang dari arah kiri dirinya, dengan cepat Ayen menendang perut si petugas diakhiri dengan memutarkan lebih 180 derajad leher si korban hingga persendian lehernya patah.

Kini dari arah kanan, Ayen berhasil menghindar letupan senjata jenis Assault Rifle dengan memutarkan tubuhnya, Ayen membalasnya menggunakan pistol hingga menembus jantung si target.

Dilokasi lain, Ve masih bersembunyi di sebuah gudang penyimpanan. Ia menarik nafas dalam dalam, dikencangkannya tali sepatunya, Ia mengambil pistol lalu mengokangnya. Ve berjalan perlahan menuju jalan belakang sebuah gudang untuk melarikan diri. Tidak ada wajah kepanikan dalam dirinya, wajahnya santai santai saja walau keadaan genting menerpanya. Ve merasa amat percaya diri untuk bisa menghabisi semua musuhnya.

Dalam langkah melarikan diri, Ve bertemu dengan Kinal. Diatas punggungnya, Kinal membawa tas besar berisi alat tempur canggih. "Haruka memberiku semua peralatan ini. Kita harus cepat keluar dari sini." Kata Kinal tergesa gesa.
   "Dimana Acha?"
   "Aku tidak tahu, setelah Ia memasuki Kapal pihak Ghaida, aku sudah tidak mendengar kabarnya lagi."

Ve menghela nafas. Ia memeriksa Tas yang baru saja dibawa oleh Kinal. Ia mengeluarkan semacam robot kendali berbentuk Tank dengan senjata utama senapan mesin MB240, Tank tersebut juga dilengkapi kamera yang bisa berputar 360 derajad untuk memudahkan merekam situasi. Konon, Scope yang terpasang di Tank pun bisa menembus pandangan.

Dengan memakai alat kontrol berbentuk ukuran Laptop, Robot tersebut Ve kendalikan. Tujuan utamanya adalah untuk mencari keberadaan agen miliknya. Sedangkan Kinal, Ia mengawasi situasi disekeliling.

Haruka masih terjebak diruang kontrol kendali kapal, Ia geram kesulitan menjatuhkan Heli yang terus melayang layang diudara. Tembakannya terus meleset. "Senjata macam apa ini? Apa aku harus mengekernya secara manual?" Katanya sambil memandangi Sniper yang dipegangnya.

Lantas Haruka baru saja mengingat bahwa Ia memiliki peralatan yang mungkin bisa menjatuhkan Heli tersebut. Ia kembali mengecek peralatan yang ada didalam tas besar yang ia taruh dipojok ruangan. Saat Haruka mencari cari, suara ledakan muncul dengan kerasnya. Itu adalah Exposive Nitroguandine yang sebelumnya Haruka pasang ditiap pintu dan tembok. Haruka sadar bahwa Ia harus cepat melumpuhkan Heli tersebut, petugas lain sudah mulai mendekatinya.

SMAW Rocket Launcher, peluru yang dapat menembus besi baja ringan, dengan berat 7kg. Haruka mulai membidik Heli tersebut dengan Teleskop. Peluncur SMAW Rocket mulai ditembakkan dari bahu Haruka, dengan material dasar seperti Mk.3 HEDP (High Explosive Dual Purpose) dan lain lain, menjadikan peluru rocket launcher sungguh ampuh. Pertama menembus penghalang, dan kedua meledak dalam 5.2kg pembobotan.

Hulu ledak yang dihasilkan cukup besar, puing puing dari Heli itu bertebaran diudara. Dengan cepat Haruka mengambil pistol dan mengokangnya. Haruka berlari menuju pintu keluar untuk melarikan diri. Namun ...
Dengan mendadak tubuh Haruka terpental askibat tendangan dari Irjen Rena yang muncul secara tiba tiba.

   "Suatu tindakan yang buruk untukmu melarikan diri. Aku sudah kerahkan 520 personil TNI serta 150 Agen profesional milik NDO. Menyerahlah, dan beritahu aku siapa pemimpinmu." Kata Rena.

Dari balik wajah amarahnya, Haruka mencoba melawan. Ia berlari mendekati Rena, Haruka melemparkan gumpalan tinju kearah wajah Rena dengan cepat, Rena hanya butuh sedikit hindaran dan Dengan cepat Rena memelintir lengan kanan Haruka serta menjatuhkannya dengan satu tendangan saja. Haruka tidak berkutik tanpa ada bantuan peralatan canggihnya, seperti yang kita ketahui, Haruka hanya mahir dalam bidang nya sendiri, yakni Laboratorium Vaksin. Berhadapan satu lawan satu dengan beladiri bukanlah gaya Haruka. Apalagi yang Ia hadapi adalah pemimpin langsung dari organisasi NDO. Sungguh mustahil untuknya mengandalkan beladiri.

   "Aku tidak tahu apa itu NPW, tujuannya, atau dari segi fungsi dari organisasi kalian sendiri. Hal yang ditutup tutupi hanya akan memperburuk keadaan. Kenyataannya, kalian sudah menjadi buron oleh pihak kami. Jika kau mendukungku, maka aku tidak akan mencelakaimu. Cukup kau beritahu ku dimana pemimpinmu. Kau tahu apa yang terjadi jika kau tak menempati janji? Maka aku akan segera menghabisimu." Kata Rena berusaha mengancam Haruka.

   "Aku tidak menyalahkan organisasimu untuk hal ini. Penguasa kalian (Para menteri) memang tidak pernah bisa telaten dalam menangani kasus, bertele tele, dan yang ada dipikirannya hanyalah uang. Berpuluh puluh triliun Dana yang telah disumbangkan oleh Negara untuk kemajuan Divisi Militer Republik Indonesia, Namun mereka hanya mementingkan dirinya sendiri." Kata Haruka.

    "Lalu, apa tujuan kalian?" Tanyannya pada Haruka.
    "Tujuan kami hanyalah mendirikan sebuah Organisasi yang kuat tanpa campur tangan oleh pihak Internal. Kami tahu bahwa kami tidak mempunyai banyak dukungan oleh Negara, tetapi kami yakin bisa membuat Organisasi yang tak terkalahkan sebagai Unifikasi ditingkat militer yang tidak sah menurut hukum." Kata Haruka menjelaskan.

Ayana datang menghampiri Rena, Ia berbisik memberi laporan. "Keadaan diluar sungguh tak terkendali, mereka memiliki peralatan canggih meliputi Robot pengendali jarak jauh, senapan mesin serta Rocket Launcher."

Melihat konsentrasi Rena sedikit buyar akibat percakapan yang Ia lakukan, Haruka mencoba meloloskan diri. Ia mengaitkan sebuah Carbiner (Cincin kait) pada besi pagar bangunan dengan tali yang terhubung dengan Harnes yang tertempel diperutnya. Setelah terkait, Haruka berlari dengan kencang menerobos kaca gedung dan terjun kebawah. Rena menembak nembaki Haruka yang mencoba kabur, namun tidak mengenai sasaran.

Nasib sial menerpa Haruka, persediaan Tali yang tersambung dengan Harnes tidak mencukupi. Haruka masih menggantung ditengah tengah ketinggian, Ia kesulitan mencari pijakan disisi bangunan, Tali yang tersambung dengan Harnes tidak cukup panjang, membuat kegagalan Haruka dalam meloloskan diri. Rena serta Ayana berlari melihat keadaan Haruka, Dibalik wajah seram serta tatapan tajam Rena, Ia berniat memutuskan tali tersebut dengan Pisau yang Ia ambil dari saku pahanya.

Haruka sungguh panik, jika sampai tali tersebut putus, maka nyawa Haruka dalam bahaya. Ia menggantung diatas ketinggian 28 meter. Haruka melihat keatas, sudah ada Rena yang siap memotong tali tersebut. Haruka menelan ludah cemas, wajahnya berkeringat deras. Dengan perlahan Rena mendekatkan ujung pisau yang tajam pada Tali tersebut.





Bersambung ...
Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Copyright © JKT48 NOVEL

0 comments:

Poskan Komentar