Selasa, 30 April 2013

NPW (National Protection of Women) Chapter 2


Title : National Protection Of Women
Genre : Action, thriller, Mystery
Release Date : 26 Maret 2013
Story by : Chikafusa Chikanatsu
  Ini Merupakan Kisah Fiktif.



PERHATIAN : CERITA INI MENGANDUNG TINDAK KEKERASAN, PENYIKSAAN SERTA PEMBUNUHAN. DI KHUSUSKAN BAGI MEREKA YANG SUDAH BERUMUR 17 TAHUN KEATAS.


   Tengah malam, markas Team N. Mereka sadar bahwa persembunyian mereka telah diketahui oleh pihak NDO. Terletak disebuah bangunan besar bekas pabrik tekstil yang sudah lama tidak beroperasi. Pasukan NDO dengan pangkat Bintara tinggi sudah mengepung tempat ini, Team N sadar bahwa mereka sudah harus siap penuh dengan kesiagaan, yang mereka hadapi bukan pasukan biasa. Diruang pengontrolan, Acha sudah siap memantau beberapa ranjau kendali yang suatu saat bisa diledakkan saat musuh tepat berada dititik X.

Sedangkan Yona, ia berjalan menuju gerbang timur dengan pistol sebagai senjata utamanya. Dibelakang, sudah ada Ayen yang sedang menuntun Tawanan. Setelah Yona sudah sampai di gerbang timur, ia mencoba menghubungi Acha dengan alat komunikasi radio untuk menjelaskan suasana didepan.

   "Aku butuh konfirmasi. Seperti apa musuh yang ada dihadapanku?"
   "Lima orang pasukan tepat didepan pintu yang sudah dalam posisi Steady, serta dua orang Sniper diarah jam dua dan sepuluh." Sahut Acha yang mengamatinya melalui CCTV.
 Yona memanggil Kinal.  "Kinal? Apa kau bisa mendengarku?" 
   "Ya, ini aku."
   "Aku butuh bantuanmu, jatuhkan pasukan laras panjang yang berada tepat diarah jam sepuluh serta dua."
   "Baik, Aku mengerti."

Kinal menaiki tangga hingga sampai loteng sebuah bangunan tinggi. Ia menempatkan senjata laras panjangnya dilantai. Dalam posisi tengkurap ia membidik mencari musuh. Setelah ketemu, Kinal melepaskan tembakkannya tepat dibagian Scope Sniper milik musuh hingga menembus mata.

   "Sudah saatnya! Acha, kau ledakkan semua ranjau yang berada digerbang timur. Pihak musuh akan mulai terganggu oleh ledakannya, dan aku beserta Ayen akan melewati jalan rahasia."
   "Baik, Ketua."

Lekadan demi ledakan menghancurkan apa yang ada disekitarnya. Ranjau yang ditanam disekitar area timur berdaya ledak sedang, namun dengan banyaknya jumlah ranjau, hasil ledak yang dihasilkan cukup besar dan terus menerus memancarkan material sejenis api. Semua pasukan sibuk menyelamatkan diri, sedangkan Yona serta Ayen menyempatkan kesempatanya untuk berlari menuju kendaraan yang mereka parkir.

   "Ayo cepat!" Perintah Yona pada Ayen. Gerakan Ayen memang lambat, karena saat itu memang ia sedang merangkul tawanan dibahunya.

Sesampainya ditempat tujuan, sesegera Yona serta Ayen masuk kedalam mobilnya. Dengan perasaan gelisah mereka menunggu Kinal dan juga Acha yang masih berjuang menyelamatkan diri masing masing didalam sana. Belum lama perasaan gelisah menghantui hati mereka, Acha datang dengan nafas yang pengap menemui Yona yang siap menancapkan gas mobilnya.

   "Aku tidak bisa menghubungi Kinal. Dan aku rasa alat pelacak yang ada pada Kinal telah hancur, jadi aku sama sekali tidak bisa mencarinya." 
   "Kita tidak punya banyak waktu, cepat kau naik kedalam." Kata Yona.
Acha menolaknya. "Lalu bagaimana dengan Kinal?"
Seketika wajah Yona menjadi kesal memandang Acha. "Apa kau lebih suka kita tertangkap semua? Dan karena kau mencemaskan satu nyawa saja, semua rencana kita akan sia sia? Cepat naik!" Bentaknya.

Mau bagaimana lagi, memang perkataan Yona barusan ada benarnya. Dengan perasaan terpaksa serta wajah yang masam Acha naik kedalam mobil.



Didalam ruangan kosong persegi empat, terlihat Kinal sedang berhadapan dengan Ayana. Dengan wajah yang membara bara mereka saling menatap kuat. Saat itu Kinal memang sedang dalam perjalanan melarikan diri, namun dirinya harus kepergok oleh Ajun Inspektur polisi Ayana.

Dengan cepat Ayana menodongkan pistol pada Kinal. Ia berjalan perlahan mendekati Kinal. "Jika kau bergerak sedikitpun dari tempatmu, maka aku tak segan untuk menembakmu."

Tidak banyak cara yang bisa dilakukan Kinal. Yang ia punya hanya Sniper yang berada dipunggungnya. Sungguh mustahil jika Kinal menggunakan Sniper diruangan tersebut. Ayana terus melangkah mendekati Kinal, namun seorang prajurit datang untuk memberi laporan pada Ayana. "Inspektur!" Panggilnya.

Konsentrasi Ayana menjadi buyar karena ucapan Prajurit barusan, Dengan cepat Kinal berputar menendang lengan Ayana hingga menyebabkan pistolnya terlempar keluar kaca bangunan. Kinal mengambil sebuah pisau kecil yang ia simpan di bagian paha celananya, dan ia lemparkan pisau tersebut pada Prajurit yang baru saja datang hingga menusuk dada si korban.

Ayana melawan, ia berlari dan mencoba melumpuhkan Kinal dengan beladirinya. Mereka berdua saling bertarung, sama sama kuat. Tak ada henti hentinya pukulan pukulan cepat menghantam Kinal, dan yang paling parah, Ayana mengambil sepotong kayu tebal yang ia dapat dari lantai, ia ayunkan kayu tersebut hingga mengenai kepala si target. Kinal merasa kesakitan serta pusing, ia terjatuh. Ayana mengambil kesempatan untuk melumpuhkan Kinal saat itu juga, ia mengambil pisau yang tertancap ditubuh seorang prajurit, setelah mendapatkannya, ia berlari mendekati Kinal. Pisau tersebut Ayana tancapkan pada Paha Kinal dengan kuat. Kinal berteriak kesakitan, dan ia mencoba mengelak dengan membenturkan kepala miliknya pada kepala Ayana. Saat Ayana merasa pusing akibat benturan, Kinal menendang tubuh inspektur itu hingga terpental.

Kinal berusaha bangkit, ia menarik kerah Inspektur Ayana dan memukul mukul wajahnya berulang ulang. Pukulan demi pukulan melayang hingga Ayana terjatuh dan lemah tak berdaya. Ayana ambruk dan sudah tidak kuat bangkit. Lantas Kinal berjalan Dengan sedikit pincang akibat luka tusukan yang ia terima, ia melarikan diri. Namun, nasib sial menerpanya. Dihadapannya sudah menanti Irjen Rena. Seketika Rena yang melihat keberadaan Kinal, lantas ia menodongkan pistolnya. "Jangan Bergerak!"

   "Sungguh menarik. Untuk keberapa kalinya aku jadi mulai penasaran siapa itu NPW, dan aku mulai tertarik untuk menyelidikinya." Kata Rena Geram.
   "Sebuah organisasi Internal tentu harus mengatasi hal hal yang seperti itu. Namun, Dunia kalian penuh dengan kebohongan serta kesandiwaraan. Kami tidak ingin bekerja sama atau berbagi informasi sedikitpun pada kalian." Jawab Kinal tegar.
Dan kemudian Rena mencoba mengancamnya. "Rekan kalian ... Saat ini sedang berada didalam ruang Isolasi Tingkat 2. Kau tau sendiri, yang menginterogasi bukan dari pihak polisi sendiri, namun seorang mantan teroris berdarah dingin yang sudah membunuh ratusan nyawa tanpa ada rasa iba sedikitpun. Aku takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada temanmu itu. Akan lebih baik jika kau menghalanginya dengan memanggil atasanmu kemari."
   "Ancamanmu tidak akan merubah apapun-"
   "Jangan membantah!" Bentak Rena. "Didalam penginterogasian tingkat 2 tersebut, tersangka wajib memberitahukan semua fakta yang ia sembunyikan. Jika tidak, kami tidak akan segan untuk menghabisi nyawanya."
Dengan rasa yang amat percaya diri Kinal membalasnya. "Atas dasar apa kau membunuhnya? Apa kau punya bukti bahwa pelaku penembakan waktu itu adalah rekan kami? Jika tidak, itu sama saja kalian seorang pembunuh, lebih tepatnya seorang penjahat. Dan kau tidak pantas untuk memakai pangkat Irjen yang ada pada dirimu."
Rena kesal. "Tutup mulutmu!"

Belum lama percakapan mereka berlangsung, Sebuah ledakan muncul tepat dibelakang Rena. Cahaya api besar yang menyembur keluar membuat pandangan menjadi kabur. Ledakan yang cukup besar membuat benda disekitarnya melayang layang terbang. Rena melindungi wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian Sebuah motor berdaya mesin 2 tak 148 cc datang dan segera membawa Kinal pergi.

Orang yang mengendarai motor barusan tak lain adalah mantan anggota NPW sendiri, yakni Aki Takajo dari team W. Dengan Cepat Akicha membawa pergi Kinal. Dalam boncengannya Kinal merasa terkejut juga heran. "Bagaimana kau bisa tahu.." Dengan cepat Akicha membalasnya. "Nanti akan aku beritahu saat kita sudah berada dimarkas."



Markas persembunyian Team W, Tanah Lot, Bali. Team W mendirikan sebuah markas berteknologi canggih yang berada dibawah tanah. Akicha merangkul Kinal yang sudah tak berdaya menuju ruang pertemuan yang dihadiri oleh semua mantan anggota NPW, terkecuali Team P. Setelah memasuki ruang pertemuan, Kinal sedikit terkejut bahwa didalamnya sudah terdapat anggota Team nya yang sudah bersandar duduk dengan manisnya. Masing masing anggota yang hadir antara lain, Jessica Veranda, Haruka, Yona, Acha, Ayen, serta dua orang yang baru saja datang, yakni Kinal serta Akicha.

Lantas semuanya bangkit dari tumpuannya setelah melihat keadaan Kinal yang bisa dibilang buruk. Luka memar menghiasi wajahnya, serta tusukan yang berada dipahanya hingga menyebabkan dirinya sedikit pincang. Melihat keberadaan Kinal yang tidak membaik, membuat Ve mengambil tindakan.

    "Aku akan mengobatinya terlebih dahulu. Setelah itu, rapat akan kembali dilanjutkan." Kata Ve. Saat itu juga Ve membawa Kinal keruang khusus untuk mengobati semua lukanya.

Setelah menghabiskan waktu selama 20 menit untuk mengobati luka Kinal, semua kembali berkumpul diruang rapat. Saat pertemuan tersebut, Ve dipercaya untuk memimpin rapat tersebut. Seperti yang kita ketahui, Ve memang ahli dalam bidang strategi.

   "Dalam pertemuan kali ini, pasti banyak diantara kalian yang masih bertanya tanya tentang keberadaan kami yang membuat kalian para Team N terkejut. Sudah 5 bulan kami mendirikan sebuah markas disini, dan kami diam diam memata matai pergerakan kalian. Setelah melihat sekilas berita penembakan dibandara, kami bisa menebak bahwa yang melakukan tindakan seperti itu tidak lain yakni kalian sendiri, Team N. Namun ..."

   "Langsung pada intinya saja." Potong Yona. Ia tahu bahwa Team W memang satu tujuan dengannya dan dapat dipercaya. Sebagai pemimpin, Yona berperan penting dalam mengambil suatu tindakan. Sebelum NPW pecah, Yona memang sering sekali bekerja sama dengan Akicha dalam menangani kasus. Hampir diantara Yona serta Akicha mempunyai Visi dan pikiran yang sama.

Dengan berat Ve menggangguk. "Baiklah. Hal pertama yang harus kita lakukan yakni, mencari tahu keberadaan rekan kalian, yaitu Stella. Apa diantara kalian mempunyai sedikit bocoran data yang dimiliki oleh pihak NDO?"
Kinal mengangkat tangannya. "Aku mempunyai kartu ID dari salah satu inspektur itu. Saat aku berhadapan dengannya, aku menyempatkan diri untuk mengambil kartu tersebut." Lantas Kinal memperlihatkan Kartu ID yang ia ambil dari saku jaketnya. "Apa kalian bisa mencari tahunya lewat kartu ini?" Tanya Kinal pada Ve.

Ve tersenyum. "Tindakan yang bagus. Dalam hal ini, akan aku tugaskan padamu." Kata Ve sambil menoleh kearah Haruka.
Lantas Haruka menggangguk. "Aku akan mencoba masuk kedata server dan mencari tahu biodata dari inspektur tersebut. Biasanya, Biodata organisasi oleh pihak internal bisa meliputi, Nama, Alamat, umur, pangkat serta Lokasi tempat ia ditugaskan. Aku rasa ini akan membantu."

Yona bertanya pada Ve. "Lantas siapa orang yang akan kau tugaskan dalam misi ini?"
   "Kau sendiri." Jawab Ve terdengar kejam. "Dalam hal ini, aku tahu bahwa memasuki sebuah markas dari Pihak NDO terbilang sulit, namun, kau satu satunya orang yang telaten dalam setiap menjalankan misi. Dan hanya kau yang mempunyai kemampuan beladiri jarak dekat serta ... Kau seorang yang pernah memenangkan penghargaan sebagai Penembak jitu dalam kalangan wanita. Akicha akan membantu menuntunmu lewat komunikasi radio. Aku mohon kerja samanya."
   "Aku mengerti." Jawab Yona patuh.

Ve kembali melanjutkan omongannya. "Dan yang kedua, kita akan mencari tahu informasi mengenai para teroris yang mencoba meledakkan bukit unggasan lewat tawanan yang kalian bawa barusan. Aku sudah menempatkan tawanan itu ditempat yang aman, dan aku sendiri yang akan menginterogasinya."

Kinal merasa sedikit Geram. "Lalu misi apa yang akan kau berikan padaku?" Tanyanya pada Ve.
   "Tidak ada misi apapun yang bisa kau terima untuk saat ini. Kau beristirahatlah sampai lukamu sembuh." Jawabnya singkat.
Kinal menentangnya. "Bagaimana bisa aku berdiam diri seperti ini, sedangkan rekan kami sendiri sedang dalam bahaya. Aku harus membantu Yona dalam misi itu." Kukuh Kinal.
   "Dalam keadaanmu yang seperti sekarang ini, kau mungkin hanya akan membebankan Yona dalam misi itu. Aku rasa cukup sampai disini dulu, untuk langkah kedepannya, akan aku beritahukan secepatnya setelah aku menginterogasi tawanan itu."

Rapat berakhir saat itu juga. Semua kembali mengerjakan tugasnya masing masing.


***

Pagi hari, disebuah pulau yang bernama putri di Kota Batam, Dekat perbatasan perairan antara Indonesia dengan Singapura. Sebuah bangunan bertingkat 3 berdiri dengan kokohnya. Bangunan tersebut merupakan markas dari Team P. Pimpinan mereka, Ghaida Farisya, terlihat sedang memikirkan sesuatu daribalik tumpuannya tersebut. Disebelahnya, Diasta mondar mandir keheranan memikirkan sesuatu. Didalam ruangan itu hanya terdapat mereka berdua saja, anggota Tim lain tidak diketahui keberadaannya.

   "Sepertinya rencana mu menyatukan team N dan W sudah berhasil. Lalu, apa boleh aku tahu apa tujuanmu?" Kata Diasta pada pimpinannya.
   "Simpel saja, dengan menyatunya mereka, maka aku akan lebih mudah mengetahui keberadaannya."
   "Lalu?" Tanyanya lagi.
Ghaida melirik Diasta dengan senyum tipisnya itu. "Masih terlalu dini menceritakan apa tujuanku sebenarnya. Namun, jika rencana ku berhasil tanpa sedikit noda, aku janji akan memberimu posisi tertinggi dalam suatu organisasi."
Lantas Diasta tersenyum mendengarnya. "Misi seperti apa yang akan kau berikan padaku kali ini?"
   "Kau carilah orang untuk mendampingimu. Siapapun orang yang akan menyelamatkan Stella dari ruang isolasi, kau halangilah dia. Apa kau mengerti?"
Diasta menggangguk. "Aku mengerti."

Masih didalam bangunan tempat persembunyian Team P. Kalau kita berjalan menjelajahi bangunan tersebut secara menyeluruh, terlihat sebuah kamar yang begitu tertutup. Letaknya tepat berada didalam ruangan bawah tanah. Tidak ada cahaya yang menerangi. Kemudian Diasta muncul dengan membawa beberapa toples berisi makanan, serta ditangan kirinya ia memegang senter untuk menerangi jalannya. Setelah sampai ditempat tujuan, Diasta membuka pintu dan berjalan masuk.

Ruangannya sungguh gelap, udara nya pun sungguh pengap. Tidak ada yang bisa bertahan selama 3 jam pun jika ada orang yang tinggal disitu. Cahaya Senter Diasta menjelajahi ruangan tersebut, apa yang ada disekitar ruangan mulai terlihat. Bukan main, didalam sana terdapat tiga orang tawanan yang merupakan tim mereka sendiri, yakni Dhike, Sendy serta Sonya. Ketiganya ditempatkan dimasing masing kursi dengan kaki yang diborgol dengan besi tebal. Tidak ada tanda tanda kehidupan yang terpancar dari masing masing wajah si tawanan.

Kejiwaan mereka sudah mulai terganggu. Diasta menaruh makanan yang ia bawa kelantai. "Jika kalian ingin tetap hidup, Maka makanlah. Tidak ada yang berubah sedikitpun disini, kalian masih akan tetap berada disini sampai pemimpin memberi arahan kembali padaku. Aku minta maaf ..."

   "Apa yang ia rencanakan?" Tanya Dhike sedikit memaksa.
   "Aku juga masih belum tahu tujuannya. Namun yang pasti, ia akan memberikan kita pangkat atau jabatan tinggi yang bahkan bisa membuat suatu negara tunduk. Itu saja yang ku tahu."
   "Dengan memperlakukan kami seperti ini?"  Potong Sonya dengan wajah kesalnya.
   "Ini hanya berlaku untuk sementara, jadi kalian tidak usah khawatir dan juga ... singkirkan pikiran buruk kalian terhadap pemimpin kita."

Sendy memandang tajam wajah Diasta. "Kau bicara dengan mudahnya, bagaimana tidak kami berpikiran buruk tentang pemimpin kami setelah apa yang ia lakukan pada kami."
   "Aku minta maaf." Jawab Diasta singkat. Sesegera Diasta meninggalkan ruangan tersebut.




Bersambung ...
Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Copyright © JKT48 NOVEL

0 comments:

Poskan Komentar