Senin, 22 April 2013

JKT48 NOVEL #5 (Season I)

 ''Aku...
Aku benci dunia ini. Aku benci Ayah. Aku benci Ibu. Aku benci segala yang ada disekitarku.
Semuanya... Semuanya sudah gak peduli padaku. Untuk apa aku hidup hanya untuk menerima kekejaman ini. Aku ingin seperti mereka, ceria dan selalu tersenyum. Kenapa semua ini terjadi padaku? Kapan semua ini berakhir? Aku udah gak peduli...''

Ruangan yang tadinya gelap menjadi terang. Semuanya sudah dialiri listrik. Walau begitu bukan berarti suasana menjadi tenang, tetap sama. Hujan masih turun. Namun tidak separah yang sebelumnya. Pandangan mata sudah bisa melihat. Kamar Ayu sungguh berantakan. Bantal serta selimut berserakan dimana mana. Peralatan make up tidak pada tempatnya, tumpahan bedak berceceran dilantai. Tak tampak keberadaan Ayu didalam kamar. Sebenarnya ada dimana?

Tepat didepan gedung apartemen tengah malam. Udaranya begitu dingin. Air hujan yang menyentuh kulit sungguh membuat badan menggigil. Wajahnya memancarkan aura kepasrahan. Ditengah guyuran hujan Ayu berdiri terdiam. Baju yang dipakainya entah kenapa bisa robek dibagian bahu. Sudah merasa tidak peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya. Keputusasaan membuat pikiranya kacau. Apalagi ditengah malam begitu Ibunya belum juga pulang menemaninya. Tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya pucat. Kurang lebih sudah dua puluh menit Ayu berada dibawah guyuran hujan. Ayu menangis, namun air matanya tidak terlihat, sudah tercampur dengan air hujan yang mengalir di wajahnya. Semua tubuhnya basah kuyup.

Tiba tiba saja Dhike muncul disisi Ayu. Memandang Ayu dengan rasa kasihan. Disisi lain juga Dhike merasa kecewa dengan perbuatan Ayu yang cari penyakit itu. Sebelumya, setelah lampu menyala Dhike segera menelepon Ayu, namun tidak diangkatnya. Setelah itu Dhike segera mendatangi kediaman Ayu, namun tidak ada yang menyapanya. Dhike menjadi khawatir.

Ayu masih belum menyadari keberadaan Dhike yang berada tidak jauh disisinya. Dhike terus memandang Ayu dengan tatapan kecewa. Tubuh Dhike sudah ikut basah kuyup diguyur air hujan. Wajah Dhike sungguh pucat, tubuhnya menggigil hebat, ditambah lagi sakit kepala yang belum kunjung sembuh. Dhike terpaksa menahan semua rasa sakit itu untuk membuktikan kalau dirinya peduli terhadap Ayu.

Diluar hanya ada mereka berdua saja. Perlahan Ayu mulai menoleh kesamping. Air hujan membuat pandangannya menjadi buram. Siapa yang didepan itu? Ayu mulai mendekatinya perlahan. Setelah mengetahui bahwa itu Dhike, ayu terdiam. Mereka saling pandang memandang. Benarkah itu kakak? Sedang apa dia disini? Apa dia memperdulikanku?

   ''k-kak...''
   ''Apa kamu puas? Apa kamu pikir kamu sendirian? Apa kamu pikir aku gak peduli sama kamu? Apa dengan begini baru kamu percaya?'' ucap Dhike.
Ayu terdiam mendengarnya. Bagaimanapun Dhike sudah menyerahkan kepercayaannya pada Ayu. Melihat sikap Dhike yang sampai sejauh itu, yang ada hanya rasa penyesalan dalam diri Ayu.

   ''A-Aku...''
   ''Tolong jangan lakukan hal yang membuatku kecewa. Aku udah janji akan selalu ada disisimu. Jika kamu merasa sepi datanglah padaku. Jika ada yang jahat bilang lah padaku. Aku akan menjadi kakak yang sesungguhnya buatmu.''
Mendengar ucapan Dhike membuat hati Ayu tersentuh. Matanya berkaca kaca.
   ''Tolong, ingatlah semua kata kataku ini. Jangan pernah...''

Dhike terjatuh sebelum menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya sudah sangat lemah. Pandangannya menjadi rabun. Sudah tidak ada tenaga untuk bangun.
''Kakak!'' teriak Ayu panik.
Ayu segera merangkul Dhike dan membawanya masuk kedalam apartemen.


***


   Disela sela kicau burung yang terdengar dari balik pohon, Cindy gulla menyempatkan diri untuk beristirahat dibawah pohon. Cindy terlihat mengenakan seragam SMP lengkap dengan tas yang tertempel di punggungnya. Saat itu masih sangat pagi, sedangkan masuk sekolahnya sekitar jam tujuh lewat dua puluh menit. Wajahnya terlihat sangat kegirangan. Seperti biasa, kalau ada waktu longgar Cindy selalu menulis riwayat hidupnya dibuku diary. Cindy segera duduk dibawah pohon yang rindang. Ditangannya sudah ada pulpen dan siap untuk menulis.

Hari ini aku senang sekali.
Hal yang aku impikan sejak kecil akhirnya bisa aku raih.
Tentu aku akan mewujudkannya dengan kerja keras ku. Aku tidak akan mengecewakan orang orang yang sudah mendukungku. Termasuk Ayah dan Ibu.
Sepertinya semakin hari, waktu terus memihak padaku. Apakah aku ini sedang bermimpi? Entahlah, tetapi aku sangat senang. Sebagai anak satu satunya yang dimiliki orang tuaku, aku akan membuat mereka bangga.
Waktunya hanya tinggal beberapa hari lagi.
Aku...
Aku akan berusaha semaksimal mungkin.


   Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Sonya dan Shania berjalan dipusat kota. Letak sekolahnya tidak jauh dari lokasi mereka sekarang. Didepan mereka terbentang bangunan bangunan modern. Entah itu toko, kantor, restoran dan juga mall. Semuanya menyatu dalam satu wilayah. Suasananya masih sepi, tidak seramai pada siang hari.

Tiba tiba saja langkah Sonya terhenti didepan sebuah toko fashion. Didalamnya terdapat pakaian pakaian cantik, bercahaya dan sungguh sempurna. Hanya ada satu kalimat yang ada di hati Sonya. 'Keren!' pandangan Sonya tetap sama, mengagumi sebuah gaun yang terpajang didalam toko.

   ''Lihat, Ju. Cantik, ya. Kapan aku bisa miliki gaun itu ya?''
   ''Kapan kapan... Mungkin.'' ejek Shania.
Sonya menatap jengkel Shania setelah ucapanya. ''mungkin katamu? Aku pasti bisa memilikinya. Ya walau bukan hari ini.''
   ''Itu juga kalau masih ada. Biasanya yang dipajang kaya gitu pasti jumlahnya terbatas. Lagipula, cocokan juga aku yang memakai gaun itu.'' Narsis Shania.
Sonya tertawa sinis. ''Cocok katamu? Cocokan juga aku!''
Shania balik menatap sinis Sonya. ''Aku!''
   ''Aku!''
   ''Aku!''
   ''Aku!''
   ''Sudah, ah. Situasi genting gini malah ngurusin gaun. Sekarang ini kita harus cari cara agar Jeje mau ikut dalam latihan.'' ucap Shania.
   ''Benar juga. Kalau sampai Jeje gak hadir hari ini, pasti kak Cleo sang penguasa dunia akan bertindak dengan sangat kejam dengan wajah killernya itu.'' gurau Sonya.
   ''Aku punya ide!'' teriak Shania tiba tiba.

Sonya penasaran dengan idenya itu. Wajah Shania memang sangat meyakinkan. Pasti idenya sangat ampuh, pikir Sonya.
   ''.Ayo cepet bilang apa idenya?''
   ''Kamu mau tau? Mau? Mau? Mau? Bener mau tau?''
Sonya menggangguk tidak sabar.
Dengan wajah jahilnya Shania berteriak. ''Kamu seret aja dia.'' Shania tertawa puas sambil berlari menhindari kemarahan Sonya.
Sonya jengkel. ''Ide macam apa itu. Seret katanya?''
   ''Sini biar aku yang seret kamu ke jurang.'' tambah Sonya.
   ''Hei! Tunggu aku! Awas,ya. Kalau ada soal yang gak ngerti jangan harap minta bantuanku lagi.'' Teriak Sonya.
   ''Aku bisa minta bantuan Jeje, weee.'' ejek Shania.
Sonya semakin kesal dan mengejar Shania.


   Diruang kelas Melody duduk melamun. Seperti ada yang menganjal di pikirannya itu. Sepanjang sisa malam itu Melody tidak bisa tidur.ia terus memikirkan tawaran ve yang kemarin itu. Betapa menyenangkannya jika ia ikut berpartisipasi dalam audisi itu. Tetapi apa yang aku bisa? Aku tidak punya semua bakat itu. Ia terus memikirkannya, terus dan terus. Kalau misalkan murid baru itu melatih ku, apa aku mampu? Apa aku sanggup? Kalimat Ve masih menghantui kepala Melody. 'ini adalah kejadian yang sangat langka. Kamu harus memanfaatkannya.'

   ''Dor!'' teriak Ve yang muncul tiba tiba sambil memukul bahu Melo.
Melo kaget. ''Ish, kamu apa apaan sih? Lama lama bahuku ini memar karena pukulanmu itu.''
   ''Hayo, lagi mikirin apa? Oya, bagaimana dengan tawaranku yang kemarin itu? Kamu bisa, kan?''
   ''Aku belum bisa putuskan sekarang, Ve. Banyak yang harus aku pikirkan dahulu. Mengikuti audisi itu gak seperti kita mengikuti perlombaan tujuh belasan. Semua orang pasti akan berjuang mati matian untuk itu. Sedangkan aku, aku masih seperti bayi yang baru dilahirkan, gak bisa apa apa.''
   ''Hanya ada satu kalimat untukmu, kehokian! Kita itu hanya orang biasa saja. Kita gak bisa mengetahui nasib seseorang dimasa depan. Plis, deh. Jangan bersikap pasrah kaya gitu. Aku lihat, murid baru itu juga akan mengikuti audisi, lho.''
   ''Bagaimana kamu bisa tau?''
   ''Aku melihatnya di internet. Setelah aku teliti ternyata benar. Dia adalah murid baru itu, Stella. Aku jadi bimbang memikirkannya, Mel.''
   ''Aku tau maksud kamu. Semua orang pasti bersaing dalam audisi itu. Yang jadi pertanyaan, apakah Stella mau mengajarimu sebagai musuh atau pesaingnya dalam audisi itu?''
   ''Maksud kamu kita?'' sindir Ve.
   ''Kamu! Gak pake kita.''
   ''Pokoknya kita. Titik! Kamu harus ikut.''
Melo menghela nafas. ''Kamu keras kepala sekali.''

Bel sekolah berbunyi. Ruangan yang lenggang mulai padat. Semua siswa memasuki ruangannya masing masing. Stella datang dengan tubuh yang tergesa gesa. Sebelumnya ia berlari karena takut terlambat masuk. Stella duduk tepat didepan tempat duduk Ve dan Melo. Sebelumnya Ve sempat ingin memberi salam pada Stella, namun Stella tidak memperhatikannya. Ve harus menunjukkan sisi baiknya jika ingin menarik hati Stella. Stella masih sibuk merapihkan buku didalam tasnya yang berantakan. Ve masih terus menunggu saat yang tepat agar bisa bercakap dengan nyaman. Namun sayang, teman sebangkunya stella telah mengambil kesempatan terlebih dahulu. Mereka berdua malah tambah asik mengobrol. Terpaksa, Ve lagi lagi harus menunggu mereka selesai.

Melody sedikit tertawa melihat sikap Ve. Baru kali ini sikapnya pemalu begitu terhadap teman satu kelasnya. Entah karena Stella murid baru atau mungkin Ve sangat berhati hati mengambil kesempatan. Takut takut kalau Ve salah mengambil kesempatan yang ada malah membuat Stella merasa tidak nyaman dan akhirnya melupakan niatnya meminta bantuannya pada Stella.

   ''P-pagi Stella.'' Ucap Ve dengan wajah malunya itu.
   ''Oh, pagi Ve, Melo.'' Stella tersenyum.
Apes, setelah sapaan Ve, Stella malah kembali asik ngobrol dengan teman sebangkunya. Melody malah semakin tertawa melihatnya.
Ve melempar wajah Jengkel pada Melo. ''Apanya yang lucu?''
Melo ngeles. ''Gak, kok.''

Saat itu memang bukan saat yang beruntung bagi Ve. Seorang guru malah sudah datang dan segera memulai pelajaran. Terpaksa, kalau tidak waktu istirahat ya mungkin saat pulang nanti Ve baru akan mengambil hati Stella.

Lagi lagi Melo meledek Ve. Kali ini tawa Melo ditahan tahan. Tetapi tetap saja Ve melihat Melo yang sedang mempertawakan dirinya.
   ''Apanya yang lucu!'' Jengkel Ve.


   Ketegangan terjadi diruang kelas mereka bertiga, Jeje, Sonya dan Shania. Tidak ada yang berani ngobrol, tidak ada yang berani melamun, semuanya harus memperhatikan wali kelasnya yang terlihat kejam dimata muridnya. Cara mengajarnya memang bisa dibilang keras, jika ada yang tidak memperhatikan pasti akan terkena pukulan si batang kayu sapu. Saat itu semua murid sedang menyalin tulisan yang ada di papan tulis dengan Sonya yang sebagai sekretaris dikelas itu. Sedangkan wali kelasnya yang wanita itu sedang mengecek absen para murid.

Wali kelas itu menoleh ke arah Sonya. ''Sonya, tiga hari berturut turut kamu kemana?''
Spontan Sonya shok mendengarnya. Memilih diantara jujur atau berbohong? Sonya menghentikan menulisnya. Wajahnya sungguh panik.
   ''A-Aku...''
   ''Cepet jawab!'' bentak guru itu.
Ketakutannya bertambah ketika gurunya membentaknya. Badannya menjadi panas dingin. Tangannya bergetar. Apakah aku harus berbohong? Apa aku harus jujur? Nasib! Siap siap kena pukul batang sapu.

Wali kelas itu mulai menampakkan mata srigalanya. Perlahan menghampiri Sonya. Siap siap kena ceramah dan juga kekejamannya. Semua murid menunduk takut. Termasuk Shania, ia pasti bakal terkena sergapannya juga. Jeje menoleh ke arah Shania, merasa mengkhawatirkannya.

   ''Apa kamu pikir sekolah itu main main? Kamu itu baru duduk di kelas satu. Baru awal saja kamu sudah dapat kasus. Apa kamu mau gak naik kelas?'' ucap guru dengan nada keras.
Sonya menggelengkan kepalanya.
   ''Tamat deh gw.'' ucap Shania sambil menjauhkan wajahnya dari tatapan guru. Takut takut jika terlihat akan senasib dengan Sonya nantinya.
   ''Ayo cepat katakan, tiga hari kemaren kamu kemana saja?''
Sonya masih menutup mulutnya. Toh jujur juga pasti akan kena hukuman, pikirnya.
   ''Gak mau jawab juga?'' kesal guru itu. Mau gak mau terpaksa guru itu mengambil sapu di pojokan kelas.
Sonya bertambah panik serta ketakutan. Siap siap tangannya memar terkena hantaman sapu.

Tidak lama kemudian Melody muncul beserta buku seabrek yang ada ditangannya seraya menggedor gedor pintu kelas. Ya, mereka ternyata masih satu sekolahan dan juga Melody merupakan kakak kelas mereka. Wali kelas itu segera membukakan pintu.

   ''Permisi, Ibu. Maaf kalau mengganggu.''
   ''Ada apa?''
   ''Guru akuntansi menyuruhku untuk memberikan buku buku ini pada semua murid baru.'' senyum Melody.
Syukurlah, Sonya merasa lega. Setidaknya perhatian guru itu tertuju pada Melo. Tapi tetap saja hanya untuk sementara. Kedepannya, i don't know.
Guru itu berkata. ''Kebetulan kamu datang. Sebagai kakak kelas berikan contoh yang baik pada adik adik mu ini.''
   ''Iya, aku akan berusaha memberi contoh yang baik nantinya.''
   ''Benar kamu akan memberikan contoh yang baik pada adik kelasmu?'' ulang guru.
Entah apa yang direncanakan guru ini. Kenapa perkataannya di ulang? Aduh, ampunilah aku, Bu.
   ''Tentu saja, Bu.'' Jawab Melo dengan rasa percaya dirinya.
   ''Aku sebagai kakak kelas pasti harus memberi contoh yang baik. Jika ada yang salah, itu pantas dihukum. Dengan begitu mereka yang salah akan kapok dan tetap berada di jalur yang sebenarnya.'' tambah Melody.

Oh, tidak! Guru itu hanya sedang memancingmu Melody.
   ''Kalau begitu kamu pukul dia dengan sapu ini.'' Ucap guru.
Melody kaget. ''Apa? t-tapi...''
   ''Kenapa? Jawabanmu yang tadi itu sudah cukup bagus. Menghukum orang salah. Orang itu ada disebelah sana.'' ucap guru sambil menoleh ke arah Sonya.
   ''Dia sudah tiga hari tidak masuk tanpa alasan.'' tambahnya.

Guru itu menyodorkan sapu yang dipegang nya pada Melody.
Di sisi lain Melo Jengkel. ''Ah, dasar. Apa dengan begini guru ini bisa terhindar dari sebutan killernya itu? Bisa bisanya dia memanfaatkanku. Aku harus bagaimana? Apa murid baru itu gak apa apa bila ku pukul?''

Tanpa banyak kata Melody mulai mendekati Sonya. Sedangkan Sonya semakin gugup saja. Apakah pukulannya akan kencang?

Ya, aku harus menghukum yang salah, aku sebagai kakak kelas harus memberi contoh yang baik. Tidak peduli siapa orangnya. Maafkan aku...

Diayunkannya batang sapu yang dipegangnya secara perlahan. Melody malah semakin percaya diri, entah kenapa wajahnya berubah menjadi membara bara. Tatapan matanya yang tajam sungguh menakutkan, seperti siap memangsa.

Sonya semakin takut saja. Baik guru atau Melody tetap saja sama. Begitu menyeramkan.

   ''Siapa dia? Apa dia ini termasuk ketua geng di kelasnya? Aduh, ampunilah aku, kak. Pelan pelan saja, ya.'' ucap kata hati Sonya.

Melody mulai membidik tangan Sonya. Kedua mata Sonya di pejamkan, tidak sanggup melihat. Sapu pun segera melayang ke arah Sonya.

Bruuk!--
   ''Aaaaaaaaw!'' teriak Sonya kesakitan.
   ''Mantep!'' Jeje keceplosan.
Kalimat Jeje terlalu keras di ucapkan. Jeje malah menjadi pusat perhatian. Semua mata memandangnya, termasuk guru.
   ''eh, b-bukan apa apa. A-aku...aku hanya...'' Jeje menjadi salah tingkah. Disaat temannya dihukum, Jeje malah mengucapkan kalimat yang bukan seharusnya. Semua temannya menjadi salah Paham dengan kalimat Jeje. Padahal, Jeje hanya kagum dengan Melody yang menjunjung tinggi aturan. Tidak peduli siapa orangnya, Melody tetap tidak segan segan memukul sampai sekeras itu.


***

   Sambil mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan di pagi hari, perasaan bibi sangat resah. Semalaman ia hanya tidur sebentar saja. Bentar bentar selalu menengok ke kamar itu, Bentar bentar ia selalu memantau Jam. Sejak kemarin sore anak majikan itu belum juga keluar dari kamarnya. Sebagai pembantu di rumah itu, bibi hanya bisa mengerjakan apa yang sudah seharusnya, dia tidak berhak mencampuri urusan majikannya. Sudah lima tahun bibi bekerja di rumah itu, Wajar bila ia sangat mengkhawatirkan anak dari majikannya. Dari kemarin sore anak majikan itu belum juga keluar dari kamarnya. Dengan perasaan gelisah bibi itu mendatangi kamar anak majikan tersebut.

Lalu bibi itu mengetuk ngetuk pintu kamar. Tidak ada yang merespon sapaannya. Kemudian bibi menempelkan telinganya ke pintu, tidak ada suara yang terdengar, apakah ia masih tidur? Biasanya jam lima pagi sudah bangun, tapi sekarang sudah jam setengah delapan. Apa dia tidak berangkat sekolah?

Bibi kembali mengetuk ngetuk pintu, disela ketukannya ia berkata. ''Non, Beby! Apa kamu gak sekolah? Sudah siang. non.''
Hasilnya tetap sama. Jelas akan sia sia. Dan nampaknya pun akan percuma jika Beby bangun saat ini juga, ia tetap akan terlambat ke sekolah.

Tidak lama kemudian orang tua Beby datang. Mungkin karena mendengar ucapan Bibi barusan. ''Ada apa. bi?''
   ''Anu, non Beby belum juga bangun. Sudah siang dan dia harus segera berangkat Sekolah.''
   ''Sudah, biar saja. Dia itu sangat keras kepala. Kemauannya itu sungguh gak masuk akal. Lagipula saya sudah mengirim surat izin ke sekolah.''
   ''Tapi, Bu. Sejak kemarin sore Beby belum juga keluar. Dia juga belum sarapan pagi ini.'' cemas Bibi.
   ''Nanti juga kalau saatnya tiba di akan keluar. Saya sudah tahu betul sifatnya. Kejadian kaya gini memang sering terjadi. Bibi jangan terlalu memanjakannya.''
   ''Bukan begitu. Saya hanya takut dia akan semakin tertinggal pelajarannya. Dia kan sudah kelas Tiga SMP.''
   ''Sudah, Bibi kembali saja bekerja. Biar saya yang tangani ini.''

Bibi hanya menggangguk. Apa boleh buat. Bibi tetaplah Bibi, seorang pembantu. Dia tidak berhak terlalu ikut campur dengan urusan Majikannya. Usia Bibi sudah lanjut, pengalaman hidup serta pemikirannya pun pasti berbeda. Biasannya yang lebih tua pasti sering mengoceh, namun dalam artian memberi nasihat.

Orang tua Beby mencoba mengetuk ngetuk pintu kamar Beby.
   ''Beby! Beby! Dengerin mamah. Cepat kamu keluar dan segera sarapan.''
Masih tetap tidak ada jawaban.
   ''Beby!'' teriak kesal orang tuanya.
Orang tua Beby mencoba membuka pintu kamar, namun terkunci. Ia segera mengambil kunci cadangan yang ia simpan di tempat rahasia.
Tidak lama kemudian pintu terbuka. Didalam kamar tidak ada siapa siapa. Ibu melihat sekeliling, kaca kamar terbuka lebar. Apa mungkin? Ibu segera menyelidikinya. Dilihat dari ukuran kaca kamarnya yang terbuka lebar, ukurannya sangat cocok dengan ukuran tubuh Beby. Tas sekolahnya pun tidak ada, begitupun dengan seragam sekolahnya. Tidak salah lagi, Beby berangkat ke sekolah secara diam diam.

   ''Anak itu! Dibilangin susah sekali. Dia kan belum sarapan.'' greget Ibu.
Kenakalan Beby memang sudah sering terjadi. Dia pasti berulah saat keinginannya tidak terpenuhi. Ini bukan hal aneh lagi bagi orang tuanya. Walau nakal dan nekat, Beby merupakan anak yang pintar di sekolahnya. Terlihat begitu banyak buku buku edukatif di kamarnya. Jika Beby merasa bosan, hal yang dia lakukan hanyalah membaca. Dan hal yang paling di bencinya adalah kekalahan, kekalahan akan debat kepintaran. Tidak heran kalau Beby sering sekali mendapat rangking dan beasiswa di sekolahnya.

Ibu mengambil ponsel dan segera menelepon teman satu kelas Beby. Walau hanya dugaan, Ibu harus memastikannya.
   ''Halo? cindy, apa Beby ada di sekolah?'' tanyanya.
   ''Oh, iya, Bu. Ini kami lagi bersama. Memangnya kenapa, Bu?'' balik Cindy bertannya.
   ''Oh, syukurlah kalau begitu. Gak apa apa. Oya, apa Cindy punya uang lebih?''
   ''Iya, Bu. Ada.''
   ''Kalau begitu bisa kamu pinjamkan pada Beby? Hari ini dia gak bawa uang jajan. Dia juga belum sarapan tadi.''
   ''Iya, Bu. Pasti. Sudah dulu ya, Bu. Sudah ada guru yang datang.''
   ''Iya, belajar yang baik ya. Salam sama Ibumu. Makasih.''
   ''Iya.''



   Dhike memandangi Ayu yang duduk sambil tertidur disampingnya. Dhike memandang terus tanpa kedip. Dari hati yang dalam timbul rasa kasihan yang amat besar. Ia merapihkan poni Ayu yang kusut dengan jarinya. Sejak kemarin malam Ayu menjaga Dhike. Penampilannya sudah tidak karuan, baju yang basah kuyup sejak kemarin malam masih dipakainya, tubuh serta rambut yang basah hanya di lap dengan kain handuk saja. Baru kali ini Ayu berpenampilan seperti itu. Padahal Ayu sangat menyukai dengan yang namanya kerapihan. Bila ada beberapa helai rambut yang kusut saja maka ia akan segera merapihkannya. Apakah keputusasaan kah yang membuatnya jadi seperti ini? Seandainya orang tuaku ada disini, dia pasti akan memanjakanmu seperti layaknya anak sendiri.

Kenapa kamu harus menerima semua ini? Sejak kecil kamu sudah ditinggal oleh Ayahmu yang entah pergi kemana. Kenapa ia tega meninggalkanmu, sedangkan aku melihat ketulusan dari hati Ayahmu itu. Hanya ada seorang Ibu yang ada disisi mu, tapi dia tidak pernah ada saat kamu berteriak ketakutan. Yang Ibumu pikirkan hanyalah pekerjaan, sampai sampai setiap sarapan di pagi hari kamu harus menyiapkannya sendiri.
Malang sekali...

Dhike melihat jam yang tertempel tepat didepan dinding kamarnya. Sudah jam sepuluh pagi. Walau Dhike tergeletak lemah di kasurnya, tetapi ia berusaha bangkit untuk membuat sarapan. Sebelum berjalan keluar kamar, Ia menyelimuti Ayu dengan selimut tebal. Sesekali kepalanya dipegang karena tidak sanggup menahan rasa sakit.

Ia menyalakan dispenser untuk menghangatkan air. Sambil menunggu air hangat, ia meletakkan dua mangkok berisi cereal yang ia ambil dari dalam kulkas. Ia juga menyiapkan roti sebagai pendampingnya. Takut takut kalau Ayu tidak mau memakan cereal.

Sepuluh menit sudah berlalu. Sarapan sudah tertata dengan rapih di meja. Dhike berjalan ke kamar untuk membangunkan Ayu.
   ''Yu, bangun. Kita sarapan dulu.'' ucap Dhike dengan memegang bahu Ayu.
Perlahan Ayu terbangun. Ia masih khawatir dengan keadaan Dhike. ''Kakak...''
   ''Aku udah mendingan, kok.''
   ''Maaf, aku ketiduran hingga lupa membuat sarapan.''
Dhike menarik tangan Ayu. ''Ayo kita makan sama sama.''
Mereka berdua menuju meja makan. Terlihat beberapa helai roti isi mentega di atas meja. Ayu menjadi mengingat masa lalunya.

 ___________
Lima tahun yang lalu di kediaman Dhike pada pagi hari. Ayu mengambil mentega dari dalam kulkas dekat meja makan untuk membuat beberapa helai roti. Setelah selesai membuatnya, ayu berjalan menuju kamar Dhike yang hanya beberapa langkah dari meja makan.

Ayu berteriak. ''Kakak! Kakak! Sarapan buatan Ayu ini sudah jadi. Ayo makan sama sama.''
Tidak ada jawaban dari Dhike. Apakah dia masih tidur?
   ''Kakak? Apa kakak bosan dengan roti isi mentega buatanku? Aku bisa buatkan nasi goreng kalau kakak mau.''

Dibalik pintu kamar Dhike tertawa jahil. ''Iya aku bosan. Apa gak ada makanan lain selain roti isi mentega? Aku ingin makan tumis kangkung yang rasanya sama percis seperti buatan Mamahku.''
   ''Tumis kangkung? Pagi pagi begini?''
Mendengar jawaban Dhike membuat Ayu merasa kecewa. Setidaknya ayu sudah berusaha untuk menyenangkan hati Dhike dengan membuatkannya sarapan. Hanya itu yang Ayu bisa. Ayu kembali kemeja makan. Sudah ada empat helai roti yang dibuatnya. Ayu memandang roti buatannya itu. ''Sia sia aja aku buat ini. Aku kan gak bisa buat tumis kangkung.''

Lalu Dhike keluar dari kamarnya. Wajahnya kesal memandang Ayu. Namun itu semua hanya sandiwara Dhike saja untuk mengerjainya. Ayu melihat tatapan mata Dhike yang menyeramkan itu. Ayu menunduk ketakutan. Pasti kakak sangat marah padaku, pikir Ayu. Ayu masih sangat kecil saat itu. Biasanya, saat Ayu ketakutan Ayu selalu mengompol. Mungkin itulah tujuan Dhike menjahilinya. Dhike memukul meja dengan keras dengan telapak tangannya. Spontan Ayu kaget serta ketakutan.

   ''Apa ini? Lagi lagi roti isi mentega. Apa kamu gak bisa masak?'' bentak Dhike.
Ayu menunduk, wajahnya cemberut. Tidak berani memandang Dhike. ''Maaf...''

Setelah melihat ekspresi ayu yang begitu ketakutan, Dhike tertawa puas. ''Apa kamu kaget? Wuuu... Lihatlah wajahmu setelah ku bentak.''
Ayu bingung dengan wajah polosnya itu. Sebenarnya kakak ini kenapa?
Dhike menghela nafas. ''Tumben, kenapa kali ini kamu gak ngompol setelah ku bentak?''
Setelah mengetahui niat Dhike, Ayu jengkel. ''Ish, kakak! Nakut nakutin aja.''
   ''Aku cuma bercanda, kok. Aku gak sungguh sungguh.'' tambah Dhike disela tawanya itu.

Mendengar keributan mereka, ayah Dhike muncul dari kamar dan menghampiri mereka.
   ''Ada apa pagi pagi begini? Kenapa ribut sekali?''
   ''Ayah! Kak Dhike tuh. Dia nakal.'' seru Ayu dengan nada manjanya itu.
   ''Kenapa? Apa Ikey kembali nakal sama kamu?''
Ayu menggangguk sambil memanyunkan bibirnya.
   ''Sini biar Ayah yang hukum. Apa kamu mau Ikey dipukul?'' tanya Ayah pada Ayu.
Ayu kembali menggangguk. Kemudian Ayahnya memukul bahu Dhike. Tentu pukulannya hanya sekedar pura pura. Tentu saja Ayu yang masih kecil percaya. -,-
   ''Pukul lagi, Ayah.'' seru Ayu dengan tawa puasnya itu.
   ''Apa? Minta pukul lagi?'' protes Dhike.

Ayah kembali memukul bahu Dhike. Ayu tertawa melihat itu. Tawanya sungguh mampu mengundang kebahagiaan bila melihatnya. Mereka saling tertawa. Sudah tiga bulan Ayah Ayu menghilang sejak saat itu. Semua orang orang yang ada disekelilingnya terpaksa berbohong pada Ayu kalau Ayahnya itu sedang bekerja. Sejak saat itulah Ayah Dhike sudah mengganggap Ayu sebagian dari keluarganya. Ayah Dhike sudah sangat baik pada Ayu sehingga Ayu merasa nyaman. Apapun yang membuat dirinya merasa nyaman pasti Ayu akan mengganggap bahwa mereka adalah sebagian dari keluarganya.

 ____________

Ayu tersenyum mengingat itu semua.
   ''Ada apa? Kenapa tiba tiba tersenyum? Apa aku terlihat lucu?'' tanya Dhike.
   ''Bukan apa apa. Aku hanya teringat saat kita masih bersama sama dengan Ayah saat kecil.''
Dhike hanya tersenyum. Sebenarnya Dhike juga mengingat itu semua.

***

   Setiap manusia memiliki nasib tersendiri yang lain dari yang lain. Ada yang bernasib baik terlahir sebagai anak orang kaya, dan ada juga yang tidak. Apakah dunia ini adil? Itulah kalimat yang sering diucapkan Shiva, Wanita kesepian yang hidup di kosan kumuh. Ruangannya begitu berantakan, begitupun dengan penampilannya. Wanita berumur tujuh belas tahun ini hidup sendirian sejak lima tahun yang lalu. Kedua orang tuanya sudah tiada, saudara saudara pun entah kemana. Shiva menjalani hidup yang sama seperti manusia lainnya, hanya saja ia begitu tertutup. Sepulang sekolah ia hanya menyendiri dirumahnya, tidak pernah ada seorang temannya yang mau menemaninya.

Salah sebuah kenangan masa kecil Shiva masih terbayang bayang ketika saat Ayah dan Ibunya menyapanya setiap pagi. Shiva merupakan anak bungsu, mungkin orang tuanya terlalu memanjakannya sampai sampai Shiva tidak ingin merelakan kepergian orang tuanya. Makanan yang ia makan sehari hari hanyalah mie instan, namun terkadang tetangganya berbaik hati memberikan makanan jika ada lebih. Setiap paginya Shiva berangkat sekolah, sepulang sekolah ia hanya menyendiri dirumah. Dan pada malam hari ia bekerja disebuah swalayan yang buka selama 24jam.

Shiva selalu merasa bahwa hidup ini kejam dan tidak adil. Yang kaya akan semakin kaya, lantas yang miskin apa bisa kaya? Dengan kerja keras? Apa gunanya bekerja keras jika sudah merasakan bahwa hidup ini buntu. Kenapa setiap manusia memiliki hati yang berbeda, ada yang jahat dan juga yang baik. Rasanya aku ingin sekali menghukum orang orang jahat yang sudah merendahkan martabat seseorang. Kenapa aku begitu lemah? Aku ingin sekali berhati kejam agar bisa menghukum mereka, tapi perasaan ini terlalu lemah. Kenapa? Kenapa dengan mereka semua? Apa mereka semua tidak mempunyai perasaan?

Aku ingin sekali mengakhiri kekejaman hidup ini dan hidup tenang di alam yang lain. Tetapi itu semua hanya pemikiranku saja, orang lama berkata, orang yang mengakhiri hidupnya sia sia tidak akan tenang di alam sana. Lalu, apa yang harus aku lakukan?

Shiva meringkuk dilantai yang dingin. Wajahnya penuh keputusasaan. Air mata kesiksaan tidak bisa ia tampung lagi. Ia menangis. Jika ia mengingat semua perlakuan teman temanya terhadapnya, ia akan semakin sedih. Kenapa manusia selalu dibanding bandingkan. Yang kaya akan selalu populer dan dipuja, sedangkan yang miskin hanya bisa di ludahi dan mendapat perlakuan kasar. Apa hanya aku yang seperti ini? Kadang aku berfikir betapa menjijikannya orang yang seperti itu.

Sudah dua jam lamanya ia menangis tersedu sedu. Hari ini ia tidak berangkat sekolah, ia sudah tidak sanggup berjalan kaki sejauh lima kilometer ke tempat sekolahnya. Kakinya sudah banyak bekas luka lecet. Gajinya sebulan hanya cukup untuk membayar listrik, air dan makan saja. Shiva sengaja berjalan kaki ke sekolah hanya untuk menghemat beberapa ribu rupiah saja dan biasanya ia pakai untuk membayar biaya sekolah.

Shiva juga sering menerima perlakuan kasar oleh pendiri swalayan tempat dia bekerja. Kerjanya di malam hari, dan saat suasana sepi, pria tersebut selalu menggodanya. Sedih rasanya menjalani kehidupan yang seperti ini. Shiva terus meneteskan air mata. Ia sesekali memanggil nama Ayah dan Ibunya. Kapan kalian kembali dan menemaniku?

Nama yang indah tapi tidak seindah penampilannya. Secara alami memang Shiva bisa dibilang cantik. Tetapi keputusasaan membuat penampilannya tidak terurus. Rambut panjang yang kusut dibiarkan terurai tanpa diikat. Pakaian yang sudah berhari hari masih tetap dipakainya.

''Va, kamu ini mau sekolah apa mau mulung? Tas kamu itu udah seperti karung tau. Sepatu juga robek kaya gitu. Apa kamu seorang pemulung?''
''Va, kamu gak punya minyak wangi? Baju mu itu bau apek tau.''
''eh, buat apa kita satu kelompok dengan dia, latar belakangnya mencurigakan. Eh semuanya, sembunyikan ponsel kalian. Siapa tau nanti bakalan ada maling.''
''Buku pelajaran aja kamu gak punya. Uang bayaran sering nunggak. Apa kamu seburuk itu sampai sampai tidak ada keluarga atau saudara yang peduli?''


Shiva berteriak kencang bila mengingat semua kalimat itu yang berasal dari mulut teman temannya. Ia bahkan melukai tubuhnya sendiri dengan menjambak rambutnya sendiri atau mungkin tangannya memukul mukul lantai hingga memar. Ia sudah tidak sanggup menjalani hidup yang seperti ini.



BERSAMBUNG...
Follow Us On Twitter @JKT48fanfiction

0 comments:

Poskan Komentar