Senin, 22 April 2013

JKT48 NOVEL #10 (SEASON II)



Part Terakhir Season II

Title   : Experience Of Jewel
Genre : Tragedy, Friendship, Inspiratif, Melodrama.
Story by : Chikafusa Chikanatsu

Ini merupakan Kisah Fiktif



3 Bulan Kemudian.

   Akhir akhir ini aku sering sekali termenung memikirkan kehidupan yang aku dan dia alami. Mengapa banyak sekali hal yang menakutkan diantara kami. Sejak pertama kali bertemu, kami tidak pernah hidup dengan tenang, apakah ini kutukan? Ia belum kunjung siuman hingga sekarang setelah kecelakaan maut itu. Aku bersimpuh diam memandangi anak yang masih tergeletak itu dengan perasaan sedih. Aku sudah berjanji untuk selalu hadir menemaninya dan menjaganya. Entahlah, mengapa aku merasa bertanggung jawab untuk itu semua.

   Sesekali aku membaca majalah untuk mengetahui perjalanan teman teman ku dalam dunia entertainment. Melody, Ve serta Stella berhasil lolos dalam Audisi itu dan mereka sudah masuk kedunia Hiburan. Begitupun denganku, aku tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa aku bisa lulus dalam Audisi itu, namun kenyataannya aku menjalaninya dengan baik. Tetapi Aku menolaknya, aku menolak untuk ikut bersama dengan teman teman ku untuk masuk ke dunia hiburan. Aku tidak bisa meninggalkan atau menelantarkan Ayu sendirian disini.

   Dalam satu bulan, Ibunya hanya mengunjunginya selama 2 kali. Hati ini seakan akan teriris oleh sikapnya yang dingin terhadap anak malang ini. Aku tidak pernah mengeluh tentang kewajibannya dalam menghidupinya, Ayu merasa tidak pernah kekurangan dalam hal harta, karena setiap ia minta sesuatu pasti akan selalu diberikan oleh Ibunya. Namun, Ibunya lupa akan satu hal yang diinginkannya sejak dulu, Yaitu kasih sayang. Ibunya tidak pernah tau dan tidak ingin tahu bahwa anak ini selalu menderita menangisi sikapnya.

   Aku tidak tega melihatnya terus menangis menginginkan kasih sayang darinya, apa yang salah dengan dirinya? apa yang membuat Ibunya bersikap dingin terhadapnya? Aku ingin melihat ia membantunya dalam melakukan tugas sekolahnya dirumah, aku ingin melihat ia membuatkan bekel untuk sekolahnya, dan aku ingin melihat dirinya memeluk dengan erat saat ia merasa kesusahan. Apakah itu semua sulit dilakukan?

Aku yang bahkan bukan dari darah daging yang sama, tetapi mengapa aku selalu bisa menangisi penderitaannya? Mengapa hati ini lemah tak berdaya saat ku melihat dirinya menangis?


   "Ayu! Bukalah matamu dan katakanlah bahwa kamu baik baik saja.
Katakanlah bahwa kamu ingin membalas semua orang yang pernah mambuatmu menangis.
Jangan Lemah! Apa kamu hanya ingin tertidur selamanya diatas ranjang itu?
Injaklah! injak semua orang yang sudah bersikap kasar padamu.
Air mata harus dibalas oleh air mata, darah balaslah dengan darah.
Aku ingin kamu seperti itu."


   "Sampai kapan aku harus melihat mu terbaring disana?
Dan kapan aku bisa melihatmu membalas semua yang sudah menyakitimu?
Itulah kalimat yang ingin aku sampaikan sejak dulu, aku harap kamu mendengarnya dari balik tidurmu itu."


Flashback tahun 2007, Jepang.

   Dibawah pohon Sakura yang lebat, Jepang, kami duduk bersimpuh memandang Danau yang indah didepan. Sanking indahnya kami berdua merasa terhipnotis akan keindahannya. Saat itu kami sedang dalam liburan sekolah dan hari itu merupakan hari dimana aku sedang berulang tahun. Kedua orang tuaku mengajakku tamasya ke Jepang dan mereka pernah menanyakan kado seperti apa yang kamu idam idamkan saat itu, lalu aku menjawabnya.

   "Kado yang aku inginkan saat itu adalah,
Mengajaknya untuk pergi bersama ku.
Anak yang merupakan tetanggaku, Yaitu Ayu.
Kado terindah yang aku inginkan hanyalah melihatnya tersenyum dan Gembira.
Diantara Kado Kado yang terbilang mahal, aku lebih menyukai kado yang ia berikan padaku, yaitu senyuman yang tiada henti ia lemparkan padaku."

Kemudian aku menanyakan apa yang membuat Ayu merasa senang? Ia menjawab dengan singkatnya, Yaitu. "Kakak." Dalam hati aku sungguh aku merasa senang dengan jawabanya itu, namun aku masih belum puas dengan jawabannya itu. Aku kembali bertanya. "Mengapa?"
Dan ia menjawabnya.

   "Karena kakak merupakan bagian yang terpenting dalam hidupku. Kakak yang paling mengerti keadaanku, kakak yang selalu mau berbagi denganku, dan kakak yang selalu bisa membuatku tersenyum senang, seperti saat ini. Aku mohon, jangan pernah jauh dariku. Karena, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi yang bisa membuatku senang seperti sekarang ini."

Aku begitu tersentuh mendengarnya. Tidak lama kemudian, Ayu bangkit dari tumpuannya dan berlari menuju tempat dimana terdapat banyak Suvenir. Ia kembali dengan nafas yang pengap, ditangan kanannya ia membawa sebuah kotak yang terlapisi oleh kertas kado. Ia memberikanku kado itu seraya berkata. "Selamat ulang tahun, kakak."

Dengan senang aku menerimanya dan membukanya. Ia memberikanku Bando berwarna putih, aku sangat menyukainya dan langsung memakainya dalam perjalanan pulang kembali ke Indonesia. Kembali Ayu melemparkan Senyum yang tidak henti hentinya ia tujukan padaku, membuatku malu saja.



Tidak lama kemudian, Sendy kembali datang menjenguk Ayu. Ia sering sekali menjenguknya, bahkan dalam seminggu ia bisa datang sebanyak empat kali. Sebelumnya, setiap kedatangannya aku tidak pernah berkomunikasi dengannya, aku dan dia sama sama tidak peduli satu sama lain. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti apa tujuan ia sebenarnya. Ia bersandar disampingku, aku melihat wajah kesengsaraan darinya. Kemudian ia menangis tersedu sedu. Aku sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya itu. Kemudian aku mencoba memberanikan diri dengan bertanya sedikit tentang dirinya, sukur sukur ia mau menjawabnya.

   "Sebenarnya kamu siapa? Dan apa tujuanmu? Bukankah kamu juga lulus dalam Audisi itu, lantas apa yang membuatmu meninggalkan mimpimu itu?"

Ia menjawab dengan tangisnya sambil membuang wajahnya.

   "Aku hanyalah seorang agen kaki tangan bayaran. Sebelumnya, ada orang yang ingin mencari Ayah anak itu, dan aku ditugaskan untuk bisa menyelidikinya dan menuntaskannya, Namun aku gagal dalam misi itu. Setiap orang, pasti pernah merasakan hidup yan pahit, yang penuh penderitaan. Ibuku meninggal karena ditembak oleh sekawanan penjahat yang mempunyai dendam pada Ayahku, dan ...
satu tahun yang lalu Ayahku baru saja menjemput Ibuku, Mobil ayahku ditabrak oleh musuh dalam perjalanan sebuah misi penting. Aku baru sadar, menjadi seorang Agen mata mata itu memang berisiko. Kedua orang tuaku meninggal dengan begitu mudahnya, dan rasa dendam ini tidak pernah bisa memudar."

Aku begitu tersentuh mendengar perjalanan Hidupnya. Dan ia kembali melanjutkan perkataannya.

  "Dan anak itu, anak yang bernama Ayu itu, mengapa ia bisa menggerakkan hatiku ke titik yang paling lemah. Bersama dengannya, semua rasa dendamku seakan akan terhapus oleh dirinya. Setiap senyumnya, setiap tawanya, seolah olah ia bisa mengendalikan hati ini untuk bersikap penuh kasih sayang. Sejak misi itu diberikan padaku, aku tidak pernah sedikitpun bisa menyakitinya. Aku tidak bisa mempermainkan kepolosan hatinya, dan bahkan ia tidak pernah mau menyusahkan orang lain, ia lebih menyukai dirinya tersiksa daripada melihat sahabatnya tersakiti. Aku tidak bisa berbuat jahat padanya, hanya itu saja ..."

   "Aku dan dia sudah seperti kakak beradik yang sulit sekali terpisah. Aku paham betul kehidupan yang ia alami selama ini. Maafkan aku karena pernah menilai mu buruk, seperti katamu barusan, aku tidak tega jika ada orang yang mempermainkan dirinya, maka dari itu aku begitu sensitif. Setiap dirimu hadir untuk menjenguknya, aku sempat berfikir bahwa diriku telah salah dalam menilai mu."

   "Tak apa. Wajar jika kamu sampai bersikap seperti itu padaku."

    "Oya, aku dengar kamu juga lulus dalam Audisi itu, lantas kenapa kamu menolaknya?" Kembali ku bertanya pada Sendy.

   "Karena memang niat utama ku bukan itu. Aku mengikuti Audisi itu hanya untuk mempermudah ku untuk memata matai Ayu. Dan juga, aku berfikir bahwa kepopuleran bukanlah segala galanya. Ada yang lebih penting dari kepopuleran, yaitu kebersamaan. Kebersamaan bisa menciptakan ketentraman dalam hidup. Namun bukan berarti kepopuleran itu selalu buruk, selama niat pikiran kita hidup hanya untuk nafkah."


***


   Kekuasaan memanglah segala galanya didunia ini. Hati manusia yang sudah berubah menjadi hitam, memang sulit untuk dipudarkan. Namaku Shiva Lestari, Aku sudah gagal dalam Audisi itu. Aku tidak tahu betul mengapa aku bisa gagal, aku penasaran dan aku bertanya pada Juri yang pernah berselisih denganku saat itu. Ia menjawabnya dengan singkat, "Kekuasaan adalah segalanya." Itulah hati manusia, seandainya manusia tidak pernah merasakan dendam, mungkin tidak ada yang bisa dilukai hatinya. Aku tahu bahwa dia menilaiku secara tidak bijak, namun tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku tidak mempunyai apa apa untuk melawannya, pangkat? Harta? aku tidak punya semua itu. Yang ku punya hanyalah masa pahit beserta kenangannya.

Aku rasa hidupku memang penuh dengan ketidakberuntungan. Aku merasa bahwa aku sudah berada ditembok besar yang menghalangi jalanku. Aku tidak punya cara untuk melewati tembok besar tersebut. Seperti yang aku katakan sebelumnya,

Kepopuleran membuat semuanya terasa kecil dan mudah. Mereka lebih memilih orang orang yang sederajat. Disaat orang 'punya' sedang merasa kesepian, ia memanfaatkan orang 'rendah' yang tidak mempunyai apa apa untuk dijadikan bahan pereda kesepiannya. Setelah mereka puas dan mendapatkan orang yang sederajat dengannya, tanpa basa basi mereka meninggalkan si 'rendah'  dengan sangat dinginnya. Padahal ia tahu, bahwa si 'rendah' lah yang selalu hadir untuk menemani si 'punya' saat dirinya kesepian.

Mereka semua malu. Orang kaya harus bersama dengan yang kaya pula, sedangkan yang miskin harus bersama dengan yang miskin. 

Kalimat tersebut hampir sama dengan yang aku alami saat ini. Setelah kepopuleran menguasai hatinya, ia lupa terhadap teman yang pernah bersama sama berjuang melalui masa sulit. Setelah Mereka semua lulus, Cleo, Sonya, Shania dan juga Jeje, mereka sudah tidak pernah lagi mengunjungiku, atau paling tidak mereka bisa menenangkan diriku yang sudah gagal dalam audisi itu. Mereka semua tidak datang untuk menghibur hatiku yang sedang terluka ini.

Cleo bilang bawah Semua orang akan butuh yang namanya tolong menolong. Jika kamu mengalami masa sulit dan kamu tidak tau harus berbuat apa, maka, temuilah teman mu. Itulah arti kebersamaan.

Tapi apa yang kudapat kali ini? Apa semua kalimat itu hanya omong kosong?

Aku sudah tidak kuat. Aku ingin mengakhirinya dunia yang penuh dengan kebohongan dan omong kosong ini. Diatas gedung ini aku berdiri membawa bukti, bukti kalau yang aku ucapkan adalah kebenaran. Aku ingin mengakhiri kehidupan ini dan menyusul kedua orang tuaku. Aku sudah tidak bisa menampung semua kesedihan ini. Aku ingin melompat dan segera mengakhirinya.

Maafkan aku ...

   "jangan bertindak bodoh!" Teriak seseorang dari belakang tubuhku.

Aku membalikkan tubuhku, dan aku melihat kerumunan teman satu perjuangan ku saat Audisi. Cleo, Sonya, Shania serta Jeje, Aku melihatnya. Tiba tiba saja orang yang sangat membenciku berlari dan memelukku erat, Dia adalah Shania.

   "Aku mohon jangan lakukan itu. Maafkan aku karena telah membencimu saat itu. Aku tidak tahu bahwa kamu mengalami masa sulit yang bahkan aku tidak bisa membayangkannya."

   "Maaf kalau kami baru bisa mengunjungimu. Setelah kami lulus, berbagai kegiatan menerpa kami. Kami sungguh sibuk. Namun, kami tidak pernah lupa memikirkanmu sedikitpun." Potong Sonya.

   "Setiap malam, Shania terus menangisi ketidaklulusan mu. Yang dia pikirkan hanyalah dirimu. Kami pun rindu dengan kehadiranmu. Aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama sama, aku rindu semua itu. Jadi tolong jangan menilai kami buruk." Ucap Cleo Menenangkan Jiwa Shiva.


Air mataku megalir mendengar semua ucapan itu. Tidak lama kemudian, Jeje mengambil sebuah kotak besar dari dalam tasnya, Kotak tersebut ia berikan kepadaku. Lantas aku membukanya, aku melihat kue besar yang penuh dengan krim coklat bertuliskan Happy Birthday Shiva :)

Aku tersentuh serta keheranan, bagaimana mereka bisa tahu kalau hari ini adalah hari kelahiranku?

Sonya menjelaskan.   "Shania lah yang sudah membuat semua kejutan ini. Diam diam ia menelusuri kehidupanmu dari semua tetangga sekitar rumahmu. Ia mengetahui alamat rumahmu dari Biodata yang kamu berikan saat Audisi."

Aku begitu terharu sehingga air mataku tidak henti hentinya keluar. Disebelah ku, Shania terus menatapku dengan senyum, dan tidak segan segan ia mengusap air mataku.

   "Mungkin aku akan lebih sering menemuimu, jadi aku mohon saat kita bertemu suatu saat nanti, aku ingin melihat senyuman dari wajah mu itu." Ujar Shania.

Sonya berpura pura kesal memandang Shania setelah ucapannya itu. "Apa maksud dengan kata 'Aku' ? Kami juga pasti akan sering mengunjungi Shiva, tau. Mana mungkin kami meninggalkan sahabat kami sendiri."

Semua tertawa ceria.

 "Terima kasih semuanya, Terima kasih telah membuat ku percaya akan arti dari kebersamaan. Aku begitu gembira mereka semua berada disisiku, aku tidak melihat perbedaan diantara mereka, semuanya sama. Aku akan memotong kue ini dan akan aku berikan pada semuanya."

Terima kasih ... Sahabatku.


E N D .

0 comments:

Poskan Komentar