Selasa, 23 April 2013

Friendship Candy -2nd Chance (48jam, 48nama)- 12th~Chapter


"gak mungkin aku gak tahu, sahabat aku kan pengumpul berita! Jadi ya pasti tahulah" jawab Nabilah dengan entengnya
"eh? Maksud kamu aku sama Gaby pengumpul berita? Apaan?!" Nabilah tersenyum menyeringai
"kalian kan suka banget nangkep cerita yang seliweran, terus di kumpulin, lalu di kabarin deh sama aku beritanya! kayak acara pagi di tipi-tipi tuh, yang ngasih berita soal artis-artis tanah air!" Ayana memproses, Gaby berbicara
"hah? itu kan acara gosip! jadi kita... peng gosip dong?! Ngumpulin berita yang berseliweran!"
Nabilah tertawa diiringi anggukan "nah... itu tahu! hahaha~",
Gaby dan Ayana saling mendelik ke arah Nabilah, Ve ikut menertawakan.
"udah-udah gak usah pada kayak gitu ekpresinya, jelek tahu! Masih pagi juga. Huahahaa~" Nabilah masih tertawa. tapi dalam pikirannya tetap memikirkan tentang Stella dan lainnya yang mencari dia, apalagi kata Gaby dan Ayana wajah mereka marah. 'bakal jadi hari yang... hmm~' pikir Nabilah.

Bell masuk bunyi--
Guru PKN ternyata tidak hadir karena sedang sakit, jadi ada waktu kosong selama satu jam untuk kelas VII J. Nabilah tampak berpikir keras dengan daun telinganya dia jejali pakai earphone, Ve tetap stand by di sebelah Nabilah. Tak lama raut Nabilah berubah, dia menyanyi mengikuti apa yang sedang di putar pemutar musik nya, mencoba menikmati lagunya.
(Gaby dan Ayana lagi ke kantin, saat tahu guru PKN nya tidak bisa mengajar mereka berdua bergegas ke kantin untuk membeli cemilan.). Nabilah yang sekarang terlihat lebih kalem dari Nabilah biasanya kalau ada jam pelajaran kosong. Dia, biasanya selalu ngisengin teman-teman sekelas atau main apapun dengan mereka ketika jam pelajaran kosong, atau Nabilah selalu pergi ke kantin sama salah satu dari sahabatnya untuk membeli cemilan sebagai teman ngobrol santai di kelas.
"*No, Nothing Helps. We won't stop right now, we did it on our own nobody else it's because of you i'm standing here with you~*" Nabilah menyanyikan sepenggal lirik lagu milik One Ok rock
"*No Nothing Helps We won't stop right now we did it on our own nobody else it's because of you, we are finally came this far.
Tell me who else?,-*" Nabilah samar-samar bisa mendengar Ve bernyanyi menyanyikan lagu yang sama dengan yang sedang dia nyanyikan, Nabilah lepaskan tangan kanannya yang tadi dia pakai menyangga dagu lalu melanjutkan lagi nyanyinya di temani Ve
"*All What i can do, All what you will want me to, All what you can see me through will someday come the story goes~*" keduanya berhenti lalu menarik nafas panjang secara berbarengan. Nabilah melirik Ve sekilas 'ni arwah tahu juga lagunya One Ok Rock' bisik Nabilah dalam hati, lalu tersenyum di sudut bibirnya. Suasana kelas cukup sepi, hanya ada beberapa murid tersisa. Sementara yang lainnya sedang asik dengan kegiatannya masing-masing di jam kosong.
kembali Nabilah menopang dagunya memikirkan apa yang akan terjadi jika dia tidak bisa membantu Ve menyelesaikan misi 48 jam nya. Ayana dan Gaby datang dari pencarian makanan, mereka duduk dengan mengambil kursi mereka untuk merapat mendekat ke Nabilah. kemudian memulai obrolan--
"eh Gab, kamu kemarin merasa ada yang aneh gak sih?"
"aneh? Aneh gimana, Chan?" Gaby balik bertanya
"ya... ada yang hilang gitu dari aktifitas aku kemarin, mmm~ ada yang ganjal di pikiran aku tapi gak tahu kejadian apa yang hilang itu!" Gaby mencoba mengingat
"hmm~ enggak ah! Biasa aja, kalo kamu Bil?"
"hah? Em~ gak ada yang aneh, semua nya utuh kok! Memory aku kemarin dari pagi sampai ke pagi lagi masih aku ingat dan gak ada yang hilang!" jawab Nabilah.
Ayana tidak bicara lagi karena 2sahabatnya mengatakan tidak ada yang aneh atau apapun yang seperti Ayana rasakan. Sepertinya Ayana berjuang untuk mengingat kejadian kemarin yang hilang, saat Ve membisikan kata-katanya untuk melupakan apa yang mereka dengar plus mereka lihat saat pulang sekolah. Ke3 nya membuka topik baru dalam perbincangan pagi kosong di kelas. Sampai tak terasa waktu pelajaran di jam kedua datang dan guru Matematika pun datang, hening di kelas VII J mendengarkan penjelasan materi yang sedang di berikan.
Tiba waktu istirahat, waktu yang di tunggu-tunggu Nabilah untuk menyelesaikan misi 48jam 48nama nya Ve yang dia wakili. Nabilah menarik nafas kemudian berdiri dari bangkunya dan bersiap pergi meninggalkan kelas untuk menuju aula yang Nabilah jadikan tempat untuk mengumpulkan murid SMA yang kemarin dia kirimi pesan singkat.
"Nabilah, mau kemana?" tanya Gaby saat melihat Nabilah akan pergi
"em~ aku-- aku ada sedikit urusan sama,, um~ sama bu Anggita, aku pergi dulu ya! Dah~" Nabilah lalu pergi tanpa menghiraukan sahabatnya yang akan menanyakan hal lainnya
"ini nih!" tiba-tiba Ayana mengucapkan kata itu.
"apasih Achan!" sahut Gaby melihat tingkah Ayana
"kejadin ini yang aku maksud hilang itu Gab!" Gaby mengerung "kamu lupa apa? kemarin pas istirahat kan kita ngikutin Nabilah terus,-" ~ "terus apa Chan?" ~ "aduhhh~ apalagi ya? aku lupa! Kenapa kita kemarin ngikutin Nabilah ya?!" Ayana memegang kepalanya
"aduh Achan, Gaje banget sih! Udah ahh mending makan!!"
"haaa~ makan! Kemarin kita nawarin Nabilah untuk makan pas istirahat tapi kemudian Nabilah menolak terus nyari makan sendiri ke kantin terus~"
"terus lagi! terusan nya apaan Chan?"
"terus... terus apa lagi ya adegannya kemarin"
pengaruh bisikan Ve memang cukup manjur untuk menghentikan keduanya menanyai ini itu pada Nabilah yang mereka lihat sedang meminta maaf atas nama dirinya. Ve membisikan pada Ayana dan Gaby untuk melupakan apa yang mereka lihat yang berhubungan dengan Nabilah saat jam pulang sekolah di taman labirin, tapi entah kenapa ingatan saat Ayana dan Gaby memutuskan untuk mengikuti Nabilah pun jadi mereka lupakan. *mungkin karena itu bukan perbuatan baik kali ya? Makanya memory nya juga ikut samar-samar dan mungkin juga hilang seperti saat pulang*.
"Hhaah~ udahlah Chan, gak usah aneh-aneh deh!" kata Gaby karena melihat Ayana sepertinya masih mencoba mengingat kejadian kemarin yang menurutnya hilang.
"ish, sakit juga ya ni kepala, mikirin sesuatu yang kayaknya pernah terjadi tapi gak tahu kejadiannya apa!!" kata Ayana, lalu menyuapkan makanannya. Gaby hanya tersenyum melihat tingkah Ayana.

"Chan, Chan~ kak Stella sama teman-temannya tuh!"
"hah? Mana?" Ayana menoleh kebelakang ke arah pintu kelas. Stella, Dhike dan Yona mendekat kearah kelas mereka "apa mereka akan kesini?" tanya Ayana tanpa mengalihkan pandangannya dari arah luar
"gak tahu, tapi kayaknya iya!" sahut Gaby.
"apa kak Stella dan teman-temannya masih nyari Nabilah?" lagi-lagi Ayana membuat pertanyaan
"gak tahu juga! Tapi kayaknya emang iya!!" dan lagi-lagi Gaby hanya menyahut seperti itu. Stella, Dhike dan Yona masuk ke kelas VII J dengan wajah 'menyeramkan' nya.
"mana teman kalian? Dia sekolah kan?" tanya Dhike to the point dengn ekspresi dinginnya, Stella dan Yona berdiri di sebelah Dhike dengan tangan di lipat di depan.
"m-maksud kakak? N-Nabilah!?" Ayana terbata
"iiya, siapa lagi! Udah kalian sampein kan pesan kita sama dia!?" ucap Dhike di hadapan Ayana dan Gaby yang terlihat ketakutan.
Ini untuk kedua kalinya dalam satu hari ini, mereka di datangi geng paling populer dengan bully nya di sekolah, meski kedatangannya bukan untuk mengerjai mereka melainkan mencari Nabilah tapi tetap saja Berhadapan dengan Stella, Dhike dan Yona adalah hal yang cukup membuat adrenalin meningkat dalam ketakutan.
"uu-udah kak! Kita u..dah bilangin sama Nabilah kalau kakak-kakak semua nyariin dia!! Iya kan Gab?" ~ "ha? Ohh~ iya benar, aku sama Ayana udah bil,-"
"terus sekarang mana teman kaliannya?!" Ayana dan Gaby saling menukar pandang tentang jawaban apa yang akan mereka ungkapkan di hadapan Yona sang penanya, yang memotong kalimat nya.
"Nabilah, em~ dia lagi ada urusana sama- sama guru! Itu yang tadi Nabilah katakan pada kita!! Iya kan Chan?" giliran Gaby yang bicara dan mengalihkannya pada Ayana. Ayana hanya mengangguk untuk menanggapi.
"kalian lagi main-main sama kita?" ujar Yona, Ayana dan Gaby yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan Yona hanya bisa mengerung kan alis matanya
"tadi pagi kan kita udah titip pesan sama kalian, kalau kita bakal balik lagi kesini buat bicara sama Na..bi..la..h! Teman kalian itu!! Terus sekarang, Nabilah malah ada di ruang guru! Mau ngapain dia? Mau laporin kita yang lagi nyari dia!? Hah, iya?"
Ayana dan Gaby diam terpaku dengan pernyataan dan pertanyaan dari Yona; Stella masih diam dan memperhatikan; teman-teman sekelasnya tidak ada yang berani ikut campur dengan kedatangan senior mereka ke kelas.
"Hoy!! Jawab dong, Malah bengong!!!" Dhike menggebrak meja yang sedang Ayana dan Gaby jadikan tempat menyimpan bekal makanan
"ii-itu~ enggak kak, Nabilah keruang guru bukan untuk melaporkan kakak semua kok! Dia hanya ada sedikit yang harus di konsultasikan sama guru yang mengajar di kelas kami!! itu aja, selebihnya... kita yakin kalau Nabilah tidak akan mungkin membuat laporan tentang kalian pada guru disini!!" Ayana mencoba menjabarkan pada Mereka.
"heh, kalau sampai si Nabilah itu ngelaporin kita ke guru! Bukan cuma dia yang akan kita kerjai, tapi kalian juga akan dapat giliran!!" Dhike menyeringai di sudut bibirnya, Ayana dan Gaby hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat mendengar ancaman dari Dhike.

"kak Stella~ kak Stella~ kak Stella~ haaaah"
Novinta berlari berhamburan ke dalam kelas. Stella, Dhike dan juga Yona melihat kearah Novinta. Ayana dan Gaby heran kenapa Novinta bisa kenal sama mereka. (Novinta anggota Osis, itu kenapa Ayana dan Gaby tahu siapa Novinta. tapi mereka tidak pernah tahu kalau Novinta itu adiknya Yona)
"ada apa? Kenapa lari-lari seperti itu?" tanya Yona pada adiknya yang masih mengatur nafas
"haaaah~ itu kak, Nabilah- Nabilah lagi di aula sama murid SMA! Kayaknya dia mau minta maaf lagi untuk kak Ve!!" Novinta bisa menyelesaikan kalimatnya.
"apa? Kamu yakin itu Nabilah!?" Novinta mengangguk atas pertanyaan Stella. Stella langsung mengalihkan tatapannya pada Ayana dan Gaby yang sedang mencerna ucapan Novinta tentang Nabilah meminta maaf pada murid SMA untuk Ve.
"Heh! Tadi kalian bilang si Nabilah ke ruang guru, kalian mau mainin kita?" tanya Stella
"ki-kita juga gak tahu kak, tad..i Nabilah bilang nya mau ke ruang guru kok!" Ayana mengangguk menyetujui ucapan Gaby
"Ah! Denger ya? urusan kita belum selesai! Kalian akan dapat giliran setelah Nabilah!! cabut, kita ke aula." ancam Stella lalu mengajak teman-temannya untuk pergi menghampiri Nabilah.

Saat istirahat, Nabilah berjalan ke aula dengan Ve. Tidak ada obrolan, yang menemani perjalanan mereka ke aula. Sampai di aula ternyata murid-murid yang di tunggu sudah ada semuanya. Nabilah tersenyum senang karena dia tidak perlu menunggu 'manjur juga kata-kata ku di SMS' pikir Nabilah. Ketika Nabilah masuk seketikan semua mata tertuju pada sosoknya yang berseragam SMP.
"apa-apaan nih? Kenapa ada murid SMP juga! Siapa sebenarnya yang mengirim pesan kemarin sore" seorang murid bersuara dan di tanggapi oleh murid lainnya.
'Haaah, ini akan lebih sulit dari kemarin sama senior SMP!' bisik Nabilah dalam hati saat mendengar sahutan mereka yang bertanya siapa si pengirim pesan dan melihat kesinisan di wajah kakak kelasnya saat melihat dia masuk 'belum ngomong apapun, atmosfir udah gak enak!' kembali Nabilah berbicara pada dirinya sendiri.
"um~ anu... yang kirim pesan singkat pada kakak semua itu Nabilah kak!" mendengar ucapan Nabilah yang tiba-tiba, sontak membuat para senior membelalakan matanya.
"Hah? apa? Jadi sebenarnya yang ngirim SMS kemarin sore itu lu? terus, kenapa lu bawa-bawa nama Ve segala dalam pesan singkat lu kemarin sore! Apa maksudnya? Hah!" tanya senior pada Nabilah
"iya, apa maksudnya dengan bilang kalau Ve akan menyatakan permintaan maaf langsung sama kita!? Lu bohongin kita dalam pesan singkat lu kemarin?!" senior lainnya ikut menanggapi
"emm~ Nabilah tahu, apa yang Nabilah tulis di pesan singkat kemarin sore itu salah kak. Tapi.. gak salah-salah banget sih!" Nabilah membuat seniornya bingung, karena dia sendiri bingung "ini memang tentang kak Ve!" lanjut Nabilah.
"haaah, gak jelas! gue gak ada waktu buat dengerin ocehan anak SMP!" katanya dengan mata menatap Nabilah.
"gue juga! Buat apa gue dengerin ucapan lu, kenal juga enggak, mana lu ngebohongin lagi!!"
"lagian... kayaknya gak penting sih kita dengerin ni anak ngomong, iya kan teman-teman?"
"tapi ini beneran tentang kak Ve! Nabilah serius, dan ini penting!! Yaa, Nabilah tahu kemarin itu Nabilah salah gak jelasin secara rinci, itu karena Nabilah bingung harus mengirim pesan singkat kayak gimana?! Kalaupun di telpon, kakak semua pasti gak akan mau kan datang ke sini!!"
murid SMA tidak ada yang begitu menghiraukan Nabilah saat dia menjelaskan, mereka hanya menatapnya
"Nabilah mohon kak, dengerin dulu apa yang mau Nabilah sampein ke kakak semua! Nabilah mohon" Nabilah begitu memohon dengan tulus.
Nabilah memang tidak menjelaskan alasan dia menyuruh murid-murid itu untuk kumpul di aula saat dia mengirimkan pesannya, dia hanya menuliskan rangkaian kata maaf dan menaruh nama Ve di akhir rangkaian maafnya kemudian di akhiri permohonan agar mereka yang menerima pesannya untuk bisa datang dan menyaksikan langsung Ve meminta maaf.
senior nya masih tidak menghiraukan, malah mereka bersiap pergi dari aula untuk meninggalkan Nabilah "aduhh, gimana nih? Kok mereka malah pada mau pergi sih!" gumam Nabilah panik, kemudian dia berlari ke arah depan senior-seniornya dan mengedapankan kedua tangannya untuk menyetop seniornya agar mau mendengarkan dia
"kak~ kak~ Nabilah mohon, bentarrr aja! Dengerin apa yang mau Nabilah bicarakan, karena ini menyangkut hidup matinya kak Ve!! Pleaseeeee" Nabilah kembali memohon dengan sekarang langsung membawa nama Ve
"eh~ denger ya? kita gak perlu Ve di sekolah ini! Biarin aja dia, mau koma ke, mau hidup lagi ke, atau mau mati sekalian... mungkin akan lebih baik buat dia!" ucap salah seorang dari murid itu dengan kasarnya
"itu balasan untuk orang kayak Ve yang suka seenaknya sama murid-murid disini! Mentang-mentang dia anak pemilik yayasan terus kaya, jadi bisa bersikap dan berbuat apa saja sama murid disini!!" tambahnya.
Nabilah merasa sedikit marah akan kata-kata yang di lontarkan seniornya tapi dia tidak mau memperkeruh suasana dan malah ribut dengannya, jadi Nabilah hanya diam mendengar komplenan seniornya; Ve mengerutkan alis matanya dan terlihat sedih mendengar ucapan murid itu, apa yang setahun terakhir Ve lakukan sepertinya memang sangat keterlaluan dan sampai membekas di hati para korbannya. 'sudah sedalam inikah rasa benci mereka terhadap ku?' tanya Ve pada dirinya sendiri.
"minggir lu~" tangan si senior akan menyingkirkan tubuh Nabilah tapi dengan cepat Nabilah kembali memohon
"ok, terserah kakak semua mau bilang apa tentang kak Ve! Tapi... Nabilah mohon sebentar aja dengerin penjelasan Nabilah. setelah itu, terserah kakak semua mau bersikap seperti apapun pada kak Ve! Nabilah minta waktunya 10menit aja kak!" pinta Nabilah dengan telapak tangannya dia satukan untuk memohon
"ada yang mau dengerin anak ini?" tanya senior yang paling senior alias kelas XII, yang lainnya diam tidak ada yang meng iya kan atau meng tidak kan. "denger dan lihat sendiri kan, gak ada yang mau dengerin penjelasan kamu! Jadi... udahlah minggir sana!! Kita masuk kelas" lanjutnya
"8 menit kak!" Nabilah belum menyerah, para senior menatapnya "oook, 6 menit?!" kembali Nabilah meminta sekaligus memotong waktunya tapi kembali dia hanya dapat tatapan *pada keras ye hatinya mereka, kayak gak pernah lakuin kesalahan aja!* "mmm... 4menit kak! Nabilah mohon!!" Nabilah begitu teguh.
"Hah! udahlah, kita dengerin aja apa yang mau dia sampaikan! Dari pada kayak sekarang kita gak bisa keluar dari aula karena dia masih ngotot!" usul salah satu senior yang ada di belakang
"lagian, cuma 4menit kan? Itu gak akan lama, setelah itu terserah masing-masing mau gimana!" yang di sebelahnya ikut menanggapi dan memberi usulan.
"ya udah kalian aja, gue sih enggak mau!" si senior yang di depan tetap tidak mau "yang lainnya? Ada yang mau disini sama Sendy dan Rica buat dengerin si Nabilah!" tanyanya kemudian.
Tak lama dia lalu kembali bergerak diikuti beberapa banyak murid lainnya, yang diam hanya 4murid; Sendy, Rica, Cindy dan Olive.

Ve tidak punya pilihan lain saat melihat adegan itu *sreeeet* dia masuk ke tubuh Nabilah. Belum murid-murid yang pergi meninggalkan aula sampai di depan pintu, Nabilah yang di rasuki Ve bicara dan suaranya... itu suara Ve, jadi senior yang tadi pergi berhenti karena kaget mendengar suara Ve, begitupun dengan senior yang masih ada di dekat Nabilah. Mereka tak kalah kaget karena suara Nabilah jadi suaranya Ve.
"aku minta maaf karena aku sudah salah sama kalian!" mereka berbalik menghadap Nabilah yang menunduk "aku tahu aku salah, dulu aku sering sekali membuat kalian marah bahkan sampai membenciku! Aku sekarang meminta maaf bukan hanya karena aku akan mati kalau aku tidak dapat maaf dari kalian, aku meminta maaf karena aku ingin berubah. Aku minta maaf, aku mohon kasih aku kesempatan~ kasih aku kesempatan untuk bisa merasakan indahnya mendapat maaf dari kalian! Aku siap menerima hukuman apapun dari kalian yang masih menyimpan dendam dan benci padaku~ aku Ve, aku minta maaf~ hik, hik, hik--" Nabilah (Ve) menangis,
senior yang di dekat pintu keluar terdiam mencerna apa yang sedang mereka saksikan dan mereka dengar 'apa ini?' 'apa benar yang sedang bicara ini Ve?' 'apakah ini nyata?' 'apakah ini serius? Anak SMP ini kemasukan roh nya Ve!' 'Ve kan sedang koma, terus anak yang di depan ini?!' banyak pertanyaan muncul di benak mereka tentang apa yang mereka saksikan.
"jika kematianku bisa membuat kalian bahagia, aku akan terima itu! Tapi satu hal, aku mohon~ hik,hik,hik~ maafkanlah aku, biarkanlah aku pergi dengan membawa maaf kalian, bukan dengan membawa kebencian kalian!" ~
"jadi... kamu beneran Ve?" tanya Sendy pertama kali, Nabilah (Ve) mengangguk pelan. Sendy melebarkan bola matanya dan berbisik "ini gak masuk akal! Bagaimana bisa?".
Karena tidak juga mendapat respon dimaafkan atau tidak di maafkannya, dan waktu memasuki tubuh Nabilah pun hampir habis karena Ve hanya punya waktu 4menit untuk menggunakan tubuh si penolongnya. Nabilah (Ve) pun memutuskan untuk menurunkan badannya dengan menggunakan kaki sebagai tumpuan. Karena ini list terakhir di misinya, Ve jadi berani mengambil tindakan untuk memasuki tubuh Nabilah meski hanya punya waktu sedikit.
"kalau aku bisa hidup lagi, aku akan tunjukan pada kalian semua aku berubah, aku gak mau lagi nyakitin siapapun! Cukup setahun ini aku melakukan kebodohan dengan melukai banyak hati!! Berikan kesempatan itu untuk ku!!!" ucap Ve terdengar begitu penuh sesal, senior-senior yang di dekat pintu mulai merasa iba pada sosok Ve yang ada di tubuh Nabilah tak terkecuali dengan yang berdiri di dekat Nabilah (Ve).
Mereka sadar bukan hanya Ve yang patut mereka benci dalam kasus mereka saat di permalukan atau di kerjai, tapi masih ada Stella, Yona dan juga Dhike yang sahabatnya Ve, yang juga terlibat dalam aksi bully nya Ve. Sampai detik ini tidak ada satupun dari ketiga sahabt Ve itu yang meminta maaf seperti yang di lakukan Ve, yang sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk meminta maaf. Tapi dia mau, dia punya niat untuk meminta maaf meski dalam keadaan terdesak namun mereka yakin Ve melakukan aksi minta maaf karena dia tulus dan benar tidak ingin melukai siapapun. Mereka seperti kembali di sadarkan, akan sosok Ve dulu yang masih berstatus kelas X dan masih berteman dengan Kinal. Saat itu belum ada Ve yang menyebalkan, dan Ve yang tidak di sukai oleh banyak murid di sekolah Putri Jakarta. Dulu justru sosok Ve tidak ada yang begitu mengenal selain yang mereka tahu dia itu adalah anak pemilik yayasan, itupun bukan karena Ve mengumbar tapi karena gosip yang beredar di sekolah dan akhirnya tahulah siapa itu Ve.

Saat dari mereka akan ada yang akan mengucapkan kata 'aku mau maafin kamu' tiba-tiba pintu Aula terbuka dan 3murid yang tak lain adalah Stella, Yona dan Dhike masuk kedalam aula. Mereka berjalan cepat langsung mengarah pada Nabilah yang masih berdiri dengan setengah kaki di lipat. Murid yang ada di Aula melihat kedatangan Stella yang memasang wajah marah nya kearah Nabilah. Tanpa basa-basi Stella langsung menarik tangan Nabilah dan menyeretnya, waktu Ve masuk ke tubuh Nabilah sudah habis, dia keluar meninggalkan tubuh Nabilah.
Ketika Nabilah merasakan tangannya di tarik, dia merasa bingung.
"a-ada apa ini?" dalam cengkraman Stella Nabilah bertanya.
"Stella, itu Ve!" ucap salah satu senior pada Stella, Stella yang sedang meyeret Nabilah pun berhenti ketika mendengar nama Ve. Dia berbalik pada si empunya suara
"apa lu bilang? Dia Ve!" kata Stella sambil menunjuk wajah Nabilah yang ada di genggamannya
"iya, yang lagi kamu tarik itu Ve, dia sahabat kamu kan! Dia lagi minta maaf sama kita!! Kenapa kamu tarik-tarik dia?" Cindy bertanya karena penasaran sekaligus kasihan melihat Nabilah yang meringis dalam cengkraman Stella.
Ve ingin sekali lagi masuk dalam tubuh Nabilah untuk membuat Stella melepaskan Nabilah tapi dia harus memulihkan kondisinya terlebih dulu agar bisa masuk lagi, karena saat tubuh mereka menyatu dan kemudian terpisah lagi maka akan ada rasa sakit baik di Ve ataupun Nabilah.
"lu semua pada ngelantur! Dia ini bukan Ve!! Dia cuma anak yang pengen punya popularitas di sekolah ini dengan memanfaatkan Ve yang lagi koma!!!" Stella bicara begitu tegas, Nabilah yang masih merasakan pusing di tambah bingung dengan keadaan yang sekarang sedang dia hadapi hanya bisa memegang kepalanya.
"apa maksud kamu?" tanya Senior lainnya
"kalian jangan gampang di bohongi sama ni anak! Karena kalian tahu apa, dia itu mengaku sebagai sepupunya Ve! Padahal Ve tidak pernah punya saudara yang satu sekolah!!"
sempat senior-senior itu goyah tapi kemudian Rica bicara
"kita gak ngelantur, apa yang tadi Sinka bilang itu benar! Anak ini tadi itu Ve, ada Ve masuk dalam tubuhnya!! Kita yang ada disini bisa pastikan dari suaranya, iya kan teman-teman!?" kemudian mereka mengangguk menyetujui ucapan Rica.
"alah, udalah Stell gak usah dengerin mereka! Urusan kita kan sama anak ini!" Ujar Dhike, Stella pun melihat ke Dhike dan Yona lalu kembali membawa Nabilah dengan kasarnya.
Senior yang ada di aula tidak bisa berbuat apa-apa untuk Nabilah; Novinta ikut dengan Stella dan teman-temannya; Ayana dan Gaby yang mengikuti dari belakang sedang menyaksikan bagaimana Stella dengan kasarnya menyeret Nabilah. Yang entah akan di bawa kemana
"Nabilah!" Ayana memanggil sahabatnya yang sedang memegangi kepalanya, Nabilah melihat kearah mereka dengan dari raut mukanya terpancar kebingungan.
"kak~ kak~ Nabilah mau kalian bawa kemana?" tanya Gaby memberanikan diri karena merasa kasihan pada Nabilah
"minggir lu, gak usah ikut campur kalau lu gak mau kenapa-kenapa!!" Dhike yang menanggapi
"tapi Nabilah kesakitan kak, kakak terlalu ketat memegang pergelangan tangannya, lihatlah wajahnya Nabilah, dia Pucat!!" Gaby kembali berbicara, Ayana mengikuti Gaby dari belakangnya (Stella masih menyeret Nabilah)
"Nabilah, kamu gak apa-apa?" tanya Ve yang jalan di sebelah Nabilah. Dia begitu terlihat cemas dengan kondisi Nabilah yang tadi dia pakai tubuhnya.
"Nabilah bingung... Kak!" katanya menanggapi dengan suara yang terdengar kecil, dia tidak begitu memperdulikan Stella. "ini ada apa sih kak? Kenapa Nabilah sama...,-" ucapan Nabilah terhenti karena Stella juga berhenti.
"Yona, dan kamu Novinta. Urus mereka, jangan sampai menyela gue!!" perintah Stella sambil menunjuk Ayana dan Gaby "Ikey (panggilan Dhike) lu ikut sama gue!" Dhike mengangguk, Ayana dan Gaby pun di stop dan di tahan oleh Yona dan Novinta sesuai perintah Stella. Sementara Stella dan Dhike membawa Nabilah. Nabilah masih belum bisa melawan karena dia masih mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi dan kenapa dia bisa sampai di seret oleh seseorang yang belum Nabilah kenali siapa orangnya. Ruang aula yang posisinya ada di pojok antara gedung SMP dan SMA, tidak bisa terpantau langsung oleh guru ataupun staff yayasan. Jadi siapa yang mau melancarkan bully an biasanya mereka lakukan di aula atau di belakang aula yang tidak jauh dari taman labirin.
"tadi Nabilah bukannya di aula buat minta maaf, terus kenapa sekarang,- aw, aw, aw~ kepala Nabilah kok sakit ya?!" Nabilah menggumam di belakang Stella.
Ve ingin sekali bisa membantu Nabilah yang sedang di seret Stella, tapi apalah daya dia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk membisikan kata-kata di Hak Istimewanya Ve sudah tidak bisa, dia kehilangan energi nya saat masuk ke tubuh Nabilah. Harusnya Ve tidak menggunakan tubuh Nabilah karena efek yang timbul setelahnya cukup dirasa menganggu.

Stella ternyata membawa Nabilah ke taman labirin sekolah. Mereka masuk agak kedalam agar tidak ada dari pihak sekolah yang tahu, Stella menghempaskan tangan Nabilah dan Nabilah yang masih merasa pusing hanya bisa mengusap kepalanya.
"ini ada apaan sih? Kok Nabilah bisa sama...." Nabilah menilik wajah Stella, "huh? Kak.... Stella!" ucap Nabilah setelah bisa mengenali orang yang membawanya. Ve pernah menunjukan Stella, Dhike, dan juga Yona pada Nabilah. "kenapa Nabilah bisa sama kakak? Tadi kan Nabilah lagi di au,-"
"Ssut BERISIK! bisa diam gak?" potong Stella dengan menekan kata berisik. Nabilah seketika terdiam, dia mencoba berkomunikasi dengan Ve lewat bahasa matanya. Tersirat menanyakan apa yang terjadi?,
Ve bicara "Stella, Dhike, sama Yona tadi ke aula pas kita lagi disana...." ~ "disana (aula) mereka bilang lu lagi minta maaf untuk Ve? dan mereka bilang lu itu Ve?..." ~ "kak Ve gak tahu kenapa Stella dan yang lainnya bisa sampai di aula dan membuat acara permintaan maaf nya gak selesai" ~ "semua udah selesai, kesabaran gue sama lu udah habis~ di biarin ternyata lu malah menjadi dan terus meminta maaf untuk si Ve! Lu masuk terlalu dalam di kehidupan Ve yang lu gak tahu!!" ~ "tadi kakak masuk ke tubuh kamu untuk minta maaf" Nabilah merasa bingung, 2orang bicara secara berbarengan jadi Nabilah tidak bisa menangkap semua yang Stella dan Ve ucapkan. Dhike berdiri di sebelah Stella dan menatap Nabilah dengan tatapan intimidasi.
"aaaduhh~ satu-satu dong ngomongnya! Nabilah kan jadi gak ngerti apa yang kalian ucapkan!" protes Nabilah tanpa sadar. Stella dan Dhike menganga saat mendengar Nabilah setengah berteriak mengucapkan kalimatnya, tapi kemudian mereka bisa menguasai lagi dirinya.
"eh bocah, lu ngomong apa sih!?" kata Dhike menanyakan "dari tadi yang ngomong sama lu itu cuman Stella! Gak ada yang lainnya!! Lu mau main-main sama kita?" lanjut Dhike membuat Nabilah tersadar.
"eh? mm, eng-nggak kak Nabilah gak mau main-main sama kakak! (Nabilah merasa ciut) Maksud Nabilah itu, Nabilah gak ngerti dengan apa yang di katakan kak Stella!!" ~
"sekarang gue tanya, apa maksud lu minta maaf untuk Ve sama murid-murid di sekolah ini?!" Stella tidak menghiraukan pengelakan Nabilah.
Ve merasakan ada yang aneh dari pertanyaan dan juga sikapnya Stella pada Nabilah yang membantu dirinya.
"kenapa diam? Jawab! Terus apa maksud lu bilang ke murid yang ada di aula tadi kalo lu adalah Ve!? Lu sebenernya punya motiv apa sih dengan ngelakuin semua ini!?" Stella kembali bertanya dengan esmosinya. "eeh, malah diem aja! Lu sebenernya siapa sih? Kenapa lu harus mengaku sebagai sepupunya Ve? Dan~ kenapa lu bilang lu minta maaf atas nama Ve agar dia bisa kembali dari komanya!? Emang nya lu siapa? Tuhan? Malaikat?! Jawab!?"
Nabilah yang tadi sempat bingung dengan arah dari pertanyaan Stella sekarang sudah bisa mengerti tentang pertanyaan yang dari tadi di berondongkan padanya. Ve semakin dalam rasa herannya pada Stella yang tahu segitu detail tentang apa yang di lakukan Nabilah.
"jadi ini... tentang kak Ve?" ucap Nabilah, membuat Stella marah "jadi dari tadi gue ngomong, lu gak ngerti!?" Nabilah mengangguk polos. "lu beneran mau main-main sama kita!" Stella bicara begitu tegas dengan wajahnya mulai dia dekatkan ke Nabilah "denger ya Nabilah, kalo sampe si Ve bisa bangun lagi dari komanya dan dia bisa sembuh total! Lu gak bakal bisa hidup tenang!!" dengan nada ancaman yang begitu berat Stella bicara dengan wajahnya hanya terpaut 4cm pada wajah Nabilah


Bersambung lagi.. ^_^
Aku tunggu kicauannya ya.. Arigatou :)
Maaf Kalau membosankan + Maaf sudah membuat kalian menunggu!! ^_^a

0 comments:

Poskan Komentar