Selasa, 30 April 2013

-Journey- BabII -Beginning- #Chapter15



Sendy tidak bicara apapun setelah mereka duduk di meja kantin; Mova masih memilah-milih kata untuk dia memulai percakapan yang akan berujung pertanyaan pada Sendy.
"kamu mau pesan makan atau minum dulu?!"
mova berbasa-basi
"gak, makasih!" jawab cepat Sendy.
"ehm,.." Mova terhenti, sendy masih melihat dengan ekspresi herannya pada gadis yang sekarang duduk di depannya yang sudah membuat dia mengikuti langkahnya hingga ke kantin.
"time is running!" suara sendy membuat Mova mau tidak mau mengeluarkan semua keberaniannya untuk bertanya pada Sendy. "eeh, yang mau aku tanyain itu.. Kamu... kamu dulu pernah tinggal di Bandung gak?" Sendy menatap Mova dengan memberikan ekspresi memberengut pada pertanyaannya. "ah, kalo gak mau jawab juga.. gak apa-apa kok! Hheeu." ..
"ia, dulu gue emang tinggal di bandung!" pikiran Mova mulai membuka potret dulu dengan Sendy
"terus, ehh.. kamu.. kamu pernah punya teman gak waktu kecil pas lagi tinggal di bandung!"
kembali Mova melemparkan pertanyaan, pertanyaan kali ini membuat Sendy terkejut tapi sengaja tidak dia perlihatkan di depan Mova.
"ck, sebenarnya apa sih yang mau lu tahu dari gue!!"
Sendy berdiri dari tempatnya "gue harus pergi!"
"tapi,-" Mova mencoba memotong pergerakan Sendy dengan ucapannya tapi kemudian ucapannya terhenti sejenak
"em, maaf! Udah ganggu! Makasih udah mau jawab pertanyaan aku yang berharga!!" lanjutnya dengan tertunduk, Sendy melihat Mova lalu dia pergi meninggalkan Mova tanpa ada kata.

*Di dalam mobil*
"siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tanya-tanya gue soal... Arghhh!! Ngapain juga gue harus mikirin itu!!"
pikiran Sendy terkunci pada pertanyaan singkatnya Mova, sosok yang memang sebenarnya membuat Sendy berpikir kalau dia itu Icha sahabat kecilnya, Saat pertama kali dia melihat sekilas Mova saat di cafe.
"kenapa dia mengajukan pertanyaan kayak gitu? Apa... apa mungkin dia memang Icha!?" gumam Sendy dengan matanya tetap fokus ke jalan. "argh! Sendy, sudahlah.. Kalau toh dia Icha kenapa juga gue harus mikirin! Dia juga gak pernah mikirin gue yang katanya sahabat dia!!" gerutu Sendy pada dirinya sendiri, "Tapi,.. kalau dia memang benar Icha?! Gue mesti gimana? Gue udah gak mau lagi mengusik masa lalu gue, termasuk Icha!!" lanjut Sendy bicara sendiri di mobilnya. Inginnya mengingkari kalau Mova itu adalah Icha, tapi hati kecilnya terus berteriak lantang kalau dia memang Icha Sahabat kecilnya dulu.

"Bego! gue kan mau nanyain no hp sama alamat rumahnya!!" Mova menggaruk kepala bagian belakangnya "kenapa malah langsung nanyain pertanyaan tadi sih!! Hadeuhhhh MOVA loading kok diabisin sendiri sih!!! Ah!!"
Mova masih diam dengan posisi kepalanya tertunduk diatas meja kantin, dan lamunannya masih bermain di masa lalu. Namun saat dia sedang merewind kembali kenangannya, handphonenya berbunyi. Mova bangun dan mengambil hp nya yang berteriak itu, dia lihat si pemanggil yang ternyata manager nya yang menelpon. Dia mengabari pada mova kalau mova di undang di salah satu stasiun radio untuk berbincang mengenai sinetron terbarunya sekaligus promo.
"hah! interview radio?! tante, aku kan peSinetron bukan penyanyi! Kenapa radio coba?!" keluh mova pada orang yang ada di ujung handphone nya "tante tahu mova, makanya tante jadi manager kamu! lagian, emang yang di interview di radio itu harus penyanyi aja apa?" Mova memberengut mendengar jawaban manager nya yang juga adalah tante nya sendiri "yang di interview di tv-tv juga gak selalu entertainer kan?! Pokoknya kamu harus siap untuk interview, waktunya besok malam jam 7 di J-Radio. Interview ini bagian dari promo sinetron baru kamu, jadi gak cuma kamu yang hadir di stasiun radio itu!"
Mova mengolah setiap kata yang diucapkan managernya itu
"hm, fine.. Besok kan?!"
"ia besok, tante sama pak tukimin jemput kamu jam 4 ya? Siap-siap!! See you tomorrow Icha!" setelah mengucapkan kalimat terakhirnya manager Mova segera menutup telpon tanpa mendengar jawaban balik dari Mova. Dan Mova... dia kembali melamun, apalagi saat mendengar manager nya menyebutkan nama kecilnya.
"dia memang Sendy!" pikirnya "apa yang harus aku lakuin, kalau nanti dia tahu siapa aku!?" gumamnya sambil menghela nafas.
Mova begitu yakin kalau Sendy yang dia paksa untuk menjawab pertanyaan nya itu adalah Sendy sahabat kecilnya, yang dulu dia tinggalkan karena dia harus pindah kota mengikuti orang tuanya. "apa yang harus aku katakan sama Sendy!" memorynya kembali ke saat ayahnya memberitahu dia perihal kecelakaan yang dialami Sendy dan keluarganya, yang mungkin membuat Sendy tidak ingin mengingatnya lagi sebagai sahabat.

Sesampainya di radio, Sendy disambut oleh Rycko.
"kenapa lu? Senyum-senyum gitu!? Ihh"
ucap Sendy dengan wajah meringis
"guest what? besok malam radio kita bakal kedatangan beberapa artis ternama!" ujar Rycko dengan antusiasnya, Sendy tidak begitu menanggapi. Dia terus berjalan untuk masuk ke ruangan meeting sebelum nanti malam dia siaran. "dan kamu tahu apa Sendy, yang datang itu salah satunya Mova, hahahahaa.." Sendy berhenti mendengar kata terakhir yang di ucapkan Rycko
"Mova?!" "ia Mova, Alissa Galliamova! Temen sekampus kita!!" jawab Rycko, Sendy kembali berjalan dengan sedikit bicara menanggapi keantusiasan Rycko
"Haah! Who cares!!"
"jutek banget sihh.." kata Rycko melihat Sendy, Sendy hanya mendelik kearah Rycko
"eh ya Sen, waktu hari.... hari apa ya gue lupa lagi. Si Mova nelpon gue, dan lu tahu apa yang dia tanyain sama gue? Dia nanyain soal lu!!" Sendy mengerutkan dahinya, dia melihat Rycko dengan langkahnya terus berjalan. "dia, nanya sama gue nama lengkap lu siapa, terus nanyain no hp sama alamat rumah lu!" "terus? Lu kasih tahu semuanya?!" potong Sendy,
"ya gak lah! Gak semua maksud gue, hehhee.."
"ck!" Sendy melihat Rycko dengan sudut matanya
"gue cuma ngasih tahu dia nama lengkap lu, selebihnya gue gak kasih! Kan itu privasi lu.."
tutup Rycko dengan senyum sok manis pada Sendy.
"kalo sampe lu kasih tahu semua! Gue bakal blacklist lu, dan gue gak mau lagi ngomong sama lu!!"
"haaa, Dark Side Sendy Ariani On! untung otak gue waktu itu lagi normal! Coba kalo gak, bisa habis gue!!"
ucapan Rycko kali ini mampu membuat Sendy tersenyum, meski senyumnya tidak terlalu lebar. Dan Rycko yang melihat itu membuatnya senang. Mereka berdua berjalan keruangan yang di dalamanya sudah menunggu produser untuk melakukan briefing sebelum Sendy mengudara, seperti biasanya.

**
Pagi menjelang, aktifitas kembali mulai dijalani. Ini hari senin, hari dimana banyak sekali orang-orang di luar sana tidak menyukai hari ini. Bahkan sampai ada trademark 'i hate monday' namun tidak dengan mereka yang selalu menjalani hari dengan penuh semangat tidak perduli hari apapun itu. Mereka akan selalu siap menaklukan hari ini dengan kebahagiaan ataupun kesedihan yang akan menghampirinya.

Nabilah berangkat di antar Melody di hari pertamanya memakai seragam putih abu, dia sibuk dengan handphone nya mengabari Ayana untuk menunggunya di depan gerbang kalau dia sampai duluan ke sekolah.

Beby mengirim pesan singkat pada Ochi
"Occcchiii >< , ini hari pertama aku! Mana gak ikut ospek lagi!! *deg, deg an!*" *klik* tombol send
"ciyus? miapa?! :D hahaha.."
balasan dari Ochi membuat Beby memainkan bibirnya.
"GAK LUCU!"
"CAPSLOCK JEBOL NON?! *BHAHAHAA #eh malah ikutan Jebol :D" "Ochiiiiiiii! Ah!!"
"napa Beb? Marah? Kesal? Banting aja tuh HP! Apalagi kalo yang dikirimin Message nyebelin *hohoho XD"
"ia kayak kamu! Kalo bisa aku banting juga, tapi bukan HP nya! Kamu yang aku banting :@"
Ochi tertawa kecil membaca balasan dari sahabatnya itu dengan posisi berdiri di depan halte bus menunggu bus yang akan membawanya ke sekolah di hari pertamanya.
"Woles kali beb! Gak usah segitunya, toh kamu kan gak ikutan Ospek juga bukan karena di sengaja! Ia kan? :)"
balasan yang datang kali ini membuat Beby menyiratkan seulas senyum di sudut bibirnya, sampai mama nya yang sedang menyetir menanyakan apa yang sedang terjadi.
"kamu itu kenapa, tadi mukanya di tekuk! Terus sekarang senyum-senyum?!"
"hm? gak mah! Ini biasa si Ochi, kalo udah mainin sms dari Beby!!" jawab Beby dengan kedua jempolnya diatas Handphone.

"Cindyyy!"
teriak Ochi memanggil Cindy yang sedang berjalan dari parkiran bersama Kinal.
"Ochi" sambut Cindy dengan senyumnya
"Cindy, kamu masih kayak anak SMP padahal udah pakai seragam SMA! Hihihihi" Ochi menggoda Cindy, dan Cindy tidak mau kalah dengan godaan Ochi. Dia membalas
"dan kamu.. udah sangat cocok untuk pakai seragam SMA, dan lebih cocok kalau aku manggil kamu kakak. Hehehee"
"eh? Aku jadi kakak kelas kamu gitu, terus itu artinya aku lebih tua dong dari kamu!?"
"ia, emang cocok kan? Kamu jadi yang lebih tua dari aku!? Hahahaa"
Ochi mendelik Cindy, Kinal yang berjalan bersama mereka ikut tersenyum mendengar ucapan adiknya membalas Ochi.
"eh ya lupa! Chi, kenalin ini kakak aku" kata Cindy, Kinal melihat Ochi dengan senyum dia melambaikan tangan ke Ochi "kak, dia Ochi.." Ochi balas melihat Kinal sambil menganggukan kepalanya
"kalian cocok tuh jadi temen, dan seperti yang Cindy suka ceritain kamu anak nya rame ya?!" Ochi hanya bisa tersenyum dengan wajahnya terlihat malu "kak Kinal duluan ya soalnya harus ke ruang Osis dulu!" lanjut Kinal sambil pamit pada Cindy dan Ochi.

"Kakak kamu hangat ya?" ujar Ochi "pasti bahagia banget deh bisa punya kakak kayak kak Kinal!" lanjutnya, membuat Cindy berbicara menanggapi
"kita kan sekarang temenan Chi, kakak aku ya kakak kamu juga!" "wah, cindy so sweet... berarti kalau nanti kamu punya pacar! pacar kamu, pacar aku juga dong? Hehehe"
sambut Ochi dengan kembali menggoda
"kalo yang itu pengecualian!" jawab Cindy dengan gimik dingin, Ochi tersenyum melihat raut wajah Cindy
"anak kecil jangan ngambek dong, disini gak ada tukang gulali! Hahahaaa"
"Jayus!" jawab kilat Cindy masih dingin
"Jayus siapa Cin? Yang Ochi tau cuma Iyus! Calon guru Matematika, itu juga kalau dia kebagian ngajar di kelas aku atau mungkin kelas kamu!"
"Garing, sumpah!!" kata Cindy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. tapi tak lama mereka kembali akrab dan saling bercanda lagi sambil terus berjalan mencari kelas nya masing-masing.

"Waaa,, Nabilah kita satu kelasss..." teriak Ayana kegirangan, melihat kertas yang terpampang namanya di nomer atas dan nomer Nabilah dibawah. Nabilah menyambut kegirangan Ayana dengan senyumnya.
Mereka berdua masuk kedalam kelas dan... kembali Ayana 'Heboh'
"Sonia! aaaa, kita satu kelas!"
teriaknya sambil menghampiri Sonia
"haaa, ayana.. Aku gak nyangka ternyata kita satu kelas!"
balas Sonia, mereka berdua heboh berdua dengan dilihat oleh Nabilah, Frieska dan juga Gaby yang ternyata satu kelas di kelas X-1. Saat sedang melalukan perkenalan dengan obrolan kecilnya, tiba-tiba Gaby memanggil nama seseorang yang baru masuk dan sedang celingukan mencari tempat duduk yang masih kosong.




..bersambung..

0 comments:

Poskan Komentar