Senin, 22 April 2013

JKT48 NOVEL #7 (SEASON II)

Proses Audisi yang diadakan dilantai delapan itu sudah mulai berjalan. Ruangannya berbentuk persegi empat, lengkap dengan beberapa alat musik serta empat orang Juri yang masing masing menilai dari pandangan berbeda, satu wanita dan tiga lainnya pria. Dari balik pintu yang berbatasan dengan ruang lobby, empat dari para peserta masuk secara bergiliran.

   "Selanjutnya! Peserta bernomor enam puluh empat sampai enam puluh delapan silahkan masuk." Seru seorang juri.

Peserta yang disebut barusan mulai berjalan masuk. Dari keempat peserta, terdapat nama Jessica Veranda serta Rica Leyona. Keempatnya terlihat gugup ataupun gelisah, seperti sudah terdapat bom waktu yang terpasang di jantungnya yang suatu saat akan meledak. Ini merupakan hari penentuan dari kerja keras selama mereka latihan.

   "Sebelum kami memulainya, kami ingin tahu apa yang membuat kalian termotivasi untuk mengikuti Audisi ini. Jawablah apa yang benar benar kalian rasakan, Jangan menjawab apa yang ingin didengar oleh kami, tapi jawablah dari hati kalian." Ucap salah satu juri pria pada keempat peserta yang ada dihadapannya.
   "Kata Ibuku, aku sangat berbakat dalam hal tari. Maka dari itu aku mengikuti Audisi ini." Jawab salah satu dari keempat peserta itu.
Lantas Juri yang menanyakan pertanyaan barusan mendadak tertawa mendengar jawaban peserta tadi.
   "Tidak ada orang tua yang tidak pernah memuji anaknya. Lantas dengan Ibumu berkata seperti itu kamu merasa percaya diri untuk ikut dalam Audisi ini? Sudah aku katakan sebelumnya, jawablah dari kata hatimu sendiri, bukan dari orang lain. Dunia hiburan tidak semudah orang orang bayangkan, menjadi populer dikalangan entertainment sangatlah berat."
   "Lalu mereka yang terkenal lewat video yang di upload melalui sebuah situs hingga sampai terkenal, itu namanya apa? Bisa anda jelaskan?" Belanya.
Lantas Juri tersebut kembali tertawa mendengarnya.
   "Iris kupingku jika sampai karya mereka dikenang seumur hidup. Kebanyakan dari Mereka hanya populer sesaat, mereka hanya ingin mencari sensasi, namun tidak ada karya mereka yang bisa dikenang selamanya. Aku rasa di negara kita lebih menyukai hal hal yang berbau lawak. Negara kita lebih mementingkan keuntungan dibanding kualitas. Namun aku tidak ingin seperti mereka yang hanya memikirkan uang, Cam kan itu. Sudahlah, peserta selanjutnya bisa menjawab."

Kemudian Ve mulai menggerakkan bibirnya, ia akan menjawab motivasinya tentang Audisi ini.
   "Kalau aku, aku ingin belajar dan masuk ke dunia hiburan. Aku tahu aku bukan yang terbaik, namun aku merasakan bahwa aku sangat tertarik dalam dunia dance. Hati ini terasa nyaman dan aku tidak pernah merasakan keluhan jika aku melakukannya. Itu saja."
   "Jadi, kesimpulannya bahwa kamu mengikuti Audisi ini karena kamu merasa nyaman melakukannya, bukan begitu?"
Ve menggangguk benar menatap juri tersebut.
   "Kalau begitu, peserta selanjutnya bisa menjawab. Namamu Rica?"
Dengan gugupnya Rica menjawab "Iya".
   "Berikan Alasanmu." Lanjut Juri itu sambil memandangnya.

Rica sempat berfikir apa yang seharusnya ia jawab, atau apa yang sebaiknya ia katakan.
   "Aku juga ingin belajar, dan aku sangat yakin bahwa aku mahir dibidang akting. Aku mengikuti Audisi ini hanya sebagai batu loncatan menuju tujuan ku sebenarnya."
   "Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu. Apa yang kamu ketahui tentang akting? Dan apa saja teknik yang perlu dikuasai." Potong Juri wanita, semua nya tahu, bawah juri itu memang menilai ekspresi suatu perwatakan. Lantas ia yang paling menguasai tentang akting. Maka dari itu ia mengetes Rica dengan teori.
   "Sebelum kamu pentas, kamu harus tau apa itu akting dan apa saja tujuan akting atau mungkin teknik yang perlu dikuasai." Tambahnya.
   "Akting ... Merupakan sebagian dari gerakan, perbuatan atau gerak yang dilakukan oleh para pelaku. Tujuannya, untuk mengekpresikan suatu perwatakan dari tokoh tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam akting yakni, konsentrasi, emosional, irama dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan Imajinasi."
   "Dalam hal teori memang benar, dan aku ingin lihat apa yang kamu ucapkan barusan. Contohkan dari sekarang."

Rica terperanjat, namun ia akan mencobanya. "Peran seperti apa yang ingin anda lihat?"
   "Peran yang menyedihkan, penuh dalam kemelut. Dalam dunia akting, menangis adalah hal tersulit untuk dilakukan. Aku ingin melihat peran itu darimu. Lakukanlah."

Rica menjadi gugup, ia terdiam sejenak, memikirkan dialog yang akan ia ucapkan. Setelah ia mengumpulkan bahan sebagai dialognya, kedua matanya dipejamkan. Ia berusaha memasuki ruang Imajinasi. Setelah ia mendapatkan posisi yang tepat, dibukanya kedua matanya secara perlahan. Ia akan mulai mengucapkan dialognya.

Disaat orang orang sibuk mempersiapkan apa yang ingin ia makan dipagi hari, aku justru masih harus bekerja menyikat lumut yang menempel dibadan kapal besar pada pagi hari. Aku tidak bisa makan jika pekerjaan ku belum selesai, upah ku bekerja hanya sebesar sepuluh ribu rupiah.

Saat aku beristirahat, aku melihat anak anak remaja seumuranku yang melintas gagah lengkap dengan tas yang ia kenakan dipunggungnya. Dan hati ini terus bertanya tanya kapan aku bisa seperti mereka. Aku bosan harus seperti ini terus. 

Belum lama aku berandai, Ibuku datang dengan tetesan air mata diwajahnya. Ia memberitahuku bahwa adikku sedang sakit parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Aku tidak mengenal rumah sakit, yang ku kenal hanyalah obat seharga seribu rupiah yang dijual di toko. Aku binggung apa yang harus aku lakukan saat itu.

Setelah aku membawanya ke rumah sakit, ia menelantarkan Adikku. Yang dokter dokter itu kerjakan lebih dulu hanyalah orang orang berduit. Ia menempatkan adikku paling belakang, padahal ia tahu bahwa adikku sudah sangat sekarat. Aku tidak terima dan aku memaki dokter dokter itu dengan sangat emosional, namun mereka tidak memperdulikan omongan ku.

Setelah lima jam berlalu, nyawa adikku melayang. Aku sungguh ambruk dan tidak menerimanya.

Itulah dialog yang diucapkan Rica, pembawaan nya sungguh sempurna, ia pun sampai bisa meneteskan air mata. Emosial memorinya sungguh terlihat. Tempo iramanya pun sungguh stabil, apalagi dengan ekspresinya yang sungguh menonjol.

Juri wanita itupun menepukkan tangan kagum.
   "Ekspresi, irama, serta pembawaanya sungguh sempurna. Kamu sudah mengerti apa itu emosional memori, kemampuan imajinasi atau mungkin harmoni. Kamu sudah bisa menyesuaikan diri, menghayati atau menjiwai peran atau perwatakan yang dibawakan."

Rica tersenyum senang mendengar pujian dari juri tersebut.


***


Ditengah suara hentakan musik mereka semua menari nari di satu ruangan tertutup. Terdiri atas tiga orang, mereka adalah Cindy, Beby dan juga Delima. Mereka berkolaborasi dengan sedikit mixing yang terlihat balance. Dalam tariannya Cindy melakukan gerakan Popping Funky dalam bentuk Battle yang ditunjukkan pada Delima, lalu Delima pun membalasnya. Itu hanya sebuah skenario yang dibentuk untuk menarik perhatian, membuat interaksi pada lawan.

Disaat Cindy dan Delima asik Battle, Beby yang berada diposisi tengah melakukan Shuffle dance yang terlihat mendukung tarian keduanya. Sungguh mengesankan kolaborasi diantara mereka bertiga.

Proses Audisi dibagi atas tiga bagian. Masing masing diantaranya dituntun oleh empat orang juri yang menilai dari sudut pandangan berbeda. Sebelumnya dalam peraturan yang diucapkan oleh panitia, peserta boleh saja bekerja sama dengan melakukan kolaborasi antar peserta lain.

Namun saat ketiganya sedang beraksi pentas, Cindy tiba tiba saja terjatuh hingga tidak sadarkan diri. Disebelahnya Delima serta Beby sangat terkejut melihat Cindy yang tiba tiba jatuh. Semuanya kebinggungan, menimbulkan kecemasan dalam hati.

   "Cepat panggil ahli medis !" Teriak dari salah satu Juri.

Perlahan Beby berjalan mendekati Cindy yang tidak sadarkan diri, lalu ia mendekapnya dengan perasaan sedih serta binggung. "Apa yang sudah terjadi dengannya?"

Tidak lama kemudian ahli medis datang, dia adalah Mova. Sesegera Mova melakukan pengecekan pada tubuh Cindy. Setelah menemukan gejala pada Cindy, Mova terperanjat.

   "Ini merupakan reaksi dari obat penenang yang berlebihan." Ucap Mova sedikit panik.
Kemudian salah satu Juri menyangkalnya. "Apa maksud mu kelebihan obat penenang? Sebelumnya dia aman aman saja dan terlihat sehat."
   "Kerja obat penenang ini mempengaruhi aktifitas pembuluh darah, pemompaan jantung, sususan saraf otak, sehingga si pemakai akan merasa nyaman dan tidak gelisah. Namun jika penggunaan nya berlebihan bisa berakibat fatal. Susunan saraf pusat akan diblok sehingga pusat napas akan tertekan dan bahkan bisa berhenti, kontrol jantung menjadi hilang dan akhirnya akan masuk dalam fase kematian."
   Mova menambahkan. "Obat penenang yang ada pada tubuh anak ini merupakan Ansiolitik (anxiolytics) yg umum digunakan dirumah sakit."

Semuanya semakin panik setelah mendengar penjelasan Mova.
   "Tunggu apa lagi, cepat bawa dia ke rumah sakit !" Bentak salah satu Juri tersebut.
   "Darimana anak itu bisa mendapatkan obat itu? Setahuku obat penenang seperti itu sudah mulai dilindungi, bahkan di klinik sekalipun. Apakah pantas seumuran dia memakai obat penenang?" Protes salah satu Juri.
   "Audisi ini membuatnya mengalami depresi hebat. Mungkin peserta itu tidak bisa mengatasi kegelisahannya dan berakhir pada obat penenang." Sahut rekan nya.

   "Cindy!" Teriak beby panik.
Sesegera Beby berlari mengikuti Mova yang tengah menggendong Cindy menuju rumah sakit. Diruangan pentas Delima terdiam, tidak percaya apa yang dilihatnya barusan. Ia bimbang apakah harus terus berada diruang pentas ini atau mungkin mengikuti Beby menuju rumah sakit.

Delima masih terdiam, kemudian ia mengingat semua perkataan Beby waktu itu yang berisi tentang persahabatan mereka.

"Cin, apa kita akan selalu menjadi sahabat selamanya? Bukan, maksud ku kita bertiga. Kita akan menjadi sahabat selamanya, kan? Aku sangat senang berteman dengan kalian. Walau kita sering bertengkar, saling mengejek atau mungkin saling iri. Tapi, aku tetap mengganggap kalian sahabat terbaikku. Aku gak pernah membenci kalian sedikit pun.''

Itulah sepotongan kalimat yang terlintas dipikiran Delima.

   "Sahabat? " Gumamnya dengan perasaan bimbang.

Kemudian terlintas kembali perkataan Beby waktu itu saat mereka bertiga ditaman. Saat itu Beby sedang menceritakan pengalaman Orang tuanya.

   ''Dulu... orang tuaku pernah mengikuti kontes audisi juga sama kayak kita. Ibu serta teman temannya sangat bersaing kuat. Diantara Ibu dan ketiga orang temannya itu, ada dua orang yang gak lolos. Sejak saat itulah Ibu dan kedua temannya itu saling bermusuhan. Mereka kesal dan iri. Dulu Ibuku masih duduk dikelas tiga SMA. Pertengkaran semakin menjadi jadi saja diantara mereka. Ibu selalu dijauhkan oleh teman teman yang gak lolos dalam audisi itu. Mereka sirik! Kenapa manusia mempunyai hati yang begitu kotor. Ibuku gak salah apa apa, kenapa mereka menjauhinya. Ibu terus memikirkan itu setiap harinya. Ia rindu dengan sikap teman teman lamanya yang dulu. Yang begitu penuh perhatian, disaat susah teman selalu membantu, disaat senang teman akan selalu berbagi. Ibu rindu dengan semua itu.''

   ''Lalu?'' kata Delima semakin penasaran.
   ''Ibu keluar dari member grup musiknya itu. Ibu ingin kembali seperti dulu, bergurau bersama sama temannya, berceloteh, berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Ibu terpaksa melakukannya. Ikatan teman memang begitu kuat. Apapun profesi atau gelar seseorang, gak ada gunanya jika ia merasa kesepian.''

Delima mencerna semua perkataan serta pengalaman Orang tua Beby.

"Apapun profesi atau gelar seseorang, gak ada gunanya jika ia merasa kesepian.''

Kalimat tersebut terus terbayang bayang dikepala Delima. Ia sudah memikirkan nya dengan matang, Dikepalkannya kedua tangannya, Dikalahkannya rasa keinginannya tersebut. Delima tahu, jika dirinya sampai keluar dari tempat itu, maka dia akan gugur.

Ditariknya nomor peserta yang terlilit dilehernya, lalu ia membuangnya. Delima meninggalkan ruang pentas dan kemudian ia berlari mengejar Beby yang sedang menuju rumah sakit bersama sama.




Saat dirumah sakit, Delima serta Beby duduk bersebelahan dengan wajah yang pilu. Mereka menunggu kabar dokter yang sedang menangani Cindy diruang Unit Gawat Darurat (UGD).

   "Semuanya telah berakhir." Ujar pasrah Beby.
Diraihnya tangan beby oleh Delima, ia berusaha menenangkan kepasrahan Beby, Walau ia pun juga merasakan hal yang sama.
   "Semoga dia baik baik saja." Cemas Delima sambil memandangi Ruang UGD.
   "Dia sendiri yang bilang untuk tidak merasa gelisah atau gugup pada kita. Namun kenyataannya, dia pun sama. Kenapa dia bisa berbuat sampai sejauh itu hingga membahayakan nyawanya sendiri. Kamu ingat kan, Del omongan dia? Kamu ingat, kan?" Protesnya.
   "Iya aku sangat mengingat kalimatnya, bahkan ia mendekapkan dirinya pada kita agar kita merasa nyaman dan tidak gugup. Ia begitu memikirkan teman temannya, hingga ia lupa memikirkan dirinya sendiri."
   "Kecerobohannya membuat semuanya kacau. Entah aku harus membenci dirinya atau aku harus melupakan kejadian ini. Apa pendapatmu tentang kejadian ini, Del?" Tanya nya.
   "Aku sudah tidak mempermasalahkan semuanya, Beb. Yang terpenting Cindy harus sehat dahulu. Semua orang pasti pernah melakukan hal yang fatal. Aku bisa memakluminya. Aku hanya takut Cindy akan marah kalau kita meninggalkan Audisi itu begitu saja, yang sudah sama sama kita perjuangkan sebelumnya."

Kemudian Delima serta Beby mencoba mendengar percakapan dokter dari balik pintu ruang UGD, Matanya terbuka lebar, ia sungguh cemas dan juga gelisah. Keadaan didalam sana sepertinya sangat buruk.

   "Reaksi obatnya sungguh besar dan menyebar cepat didalam tubuhnya. Jantungnya sudah sangat lemah, respon pupil matanya pun sungguh lemah. Kemungkinan dia akan gagal jantung. Ulang lagi! 200 Joules, Charging!"
   "Masih tidak ada respon pada EKG, pak. (Elektrokardiogramadalah grafik yang merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu)." Sahut salah satu rekan dokternya.
   "Naikkan, 300 Joules!"
   "Apakah masih tidak ada respon?" Sahut rekan dokter disebelahnya.
   "Naikkan terus! 380 Joules !"
   "Percuma saja, tidak ada reaksi sama sekali pada EKG. Apa kita harus menghentikannya?" Ucap pasrah dokter yang berada didalam.

Beby tidak sanggup mendengarnya, ia sungguh ambruk dengan tetesan air mata diwajahnya, begitupun dengan Delima.

Aku tidak terima jika ia meniggalkan kami begitu saja, Ia harus bertanggung jawab. Ia harus memikirkan kami!
Aku gak rela! Sungguh aku gak rela! Aku masih ingin bersamanya. Tuhan, tolonglah dia. Aku mohon.
Teriak Beby dengan tangisnya.



Bersambung ...

Writer : Chikafusa Chikanatsu
Terima Kasih Yang Masih Setia Mengikuti Kisah Novel Ini.
Ayo Dukung terus Novel ini, Follow kami di Twitter @JKT48fanfiction
Jika kalian mempunyai Pertanyaan bisa kirimkan ke alamat Email Parahesitisme@gmail.com
Copyright © Experience Of Jewel

0 comments:

Poskan Komentar