Selasa, 23 April 2013

Friendship Candy -2nd Chance (48jam, 48nama)- 11th~Chapter


*di lain tempat*
Novinta sedang berlari kecil untuk menghampiri seseorang,
sesampainya di tempat tujuan. Dia bicara pada 3murid SMA yang dia temui....
“apa? Jadi sekarang anak itu... meminta maaf sama murid SMP? Dengan alasan yang sama waktu dia minta maaf sama beberapa murid di SMA!?” katanya setengah berteriak setelah mendengar ucapan Novinta, Novinta mengangguk
“dan… sepertinya Nabilah berhasil meyakinkan mereka untuk memaafkan kak Ve, kak!”
“apa? *lagi-lagi apa_-!* ini gak boleh di biarin! Kalau Ve sampai sembuh...” ~
“kita bisa habis!” sahut salah satu temannya
“kii..ta? Aku gak masuk hitungan kan kak?” tanya Novinta polos pada ucapan Yona yang tak lain adalah kakaknya.
“kamu udah terlibat! Jadi ya... kamu masuk itungan dong!!” ujar Dhike yang tadi belum bicara
“loh, kok gitu sih! Novinta kan cuma mata-matain Nabilah yang kata kalian ada gerak-gerik mencurigakan!! Selebihnya... Novinta gak tahu apa-apa! Iya kan kak?” jelas Novinta lalu mengarahkan
pandangannya pada Yona sang kakak.
“tetap aja, kamu terlibat! Karena kamu tau rencana kita semua!!” Dhike kembali mempertegas tentang Novinta yang juga harus ikut terlibat
“ya, enggak lah! Kak Dhike itu gimana sih, kakak lupa? Novinta cuma di suruh sama kalian, lagian soal penye,-“
“CUKUP!” teriak Stella yang tadi pertama kali menanggapi ucapan Novinta “jangan ributin masalah itu! Yang penting sekarang gimana caranya kita menghentikan Nabilah untuk meminta maaf atas nama Ve pada murid-murid yang ada disini!!” kata Stella membuat Novinta, Dhike dan Yona diam “kalau apa yang
di katakan Nabilah dalam alasannya meminta maaf itu benar, dan Ve bisa kembali dari koma nya... kita gak perlu takut! Karena tidak ada yang tahu akan apa yang sudah kita lakukan!! Bahkan Ve sekalipun!!! Kalau sampai ada yang tahu, itu artinya... Salah satu dari kita ada yang membocorkan. Jelas!?” Stella terdengar begitu tegas “dan kamu Novinta, sebaiknya kamu hati-hati dengan mulut kamu! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu!! Ngerti?!!” Novinta mengangguk dengan rasa takut menghantui benaknya.

Sebelumnya. Stella, Dhike, dan Yona mendengar kabar burung tentang adanya anak SMP yang nongkrong di depan mading sekolah lalu nyamperin Ghaida dan... (SMP dan SMA tidak begitu akur *untuk yang merasa punya popuaritas* di Putri Jakarta, maklum isinya semua cewek jadi ya.. hal kecil bisa jadi besar dan hal besar bisa semakin membesar) ada sedikit keributan, tapi buat Stella dan lainnya itu bukanlah berita yang WAH, jadi mereka acuhkan saja berita yang datang tanpa perlu mereka minta itu. Namun, setelah itu... siangnya mereka kembali dapat berita yang kali ini mampu menarik perhatian mereka. Kalau si murid SMP kembali berurusan dengan murid SMA yang ternyata tujuannya
bukan untuk cari masalah seperti pagi tadi (jadi aja Nabilah dikira pencari masalah) tapi meminta maaf atas nama Ve. Itu lah yang membuat Stella, Yona dan Dhike menaruh perhatian besar pada si murid SMP yang mereka tahu bernama Nabilah anak kelas VII. Apalagi mendengar detailnya alasan Nabilah meminta maaf semakin membuat mereka penasaran, mereka pun ambil tindakan untuk tahu lebih tentang Nabilah. Stella meminta Yona untuk menyuruh adiknya memata-matai Nabilah, Novinta tidak
bisa menolak diapun mengikuti kemauan Yona dan juga Stella.
Tahulah si Novinta tentang Nabilah yang sudah meminta maaf pada Ghaida, Nisa, Diasta, Shania, Beby. Dan saat Novinta menyampaikan hasil mata-matanya, Stella semakin gerah. Karena Nabilah meminta maaf atas nama Ve sang kakak sepupunya, Stella mencurigai Nabilah. Karena dia tahu betul siapa Ve!
Ve tidak punya kakak, adik, atau saudara yang dekat termasuk sepupu.
Apa sebenarnya tujuan Nabilah? Kenapa dia mau meminta maaf untuk Ve yang bukan siapa-siapanya? Dan.. kenapa Nabilah bilang kalau dia meminta maaf agar kakak sepupunya itu sadar dari koma?.

“kita harus segera cari tahu, siapa Nabilah sebenarnya? Untuk apa dia susah-susah meminta maaf pada murid-murid di sekolah ini atas nama Ve!” Dhike dan Yona mengangguk atas ucapan yang dilontarkan Stella.

~Malam, menjelang!~

Nabilah dan dan Ve berjalan di sebuah trotoar. Mereka baru pulang dari rumahnya Ve
“ternyata... bibi rumaya emang bisa merasakan kehadiran kak Ve, Bil!” Nabilah tersenyum (dia sudah menelpon Melody meminta untuk di jemput, tapi karena Melody belum datang juga akhirnya Nabilah memutuskan untuk berjalan kaki. Meski dia sudah ditawari untuk diantar tapi kali ini Nabilah menolak)
“hmm~ ternyata kehidupan kakak, gak seburuk apa yang kakak pikirin selama ini! Masih ada yang perduli dan tulus sayang sama kakak!!” ucap Ve sambil melihat ke atas.
“makanya, jangan suka mikirin yang negatif dulu! Kan belum tentu, orang yang gak pernah lihat kita itu gak perduli dan.. orang yang suka lihat kita itu perduli! Bisa aja kan sebaliknya?” Nabilah sok gede, padahal yang disebelahnya lebih gede. “hidup mah gak perlu dibikin kayak di sinetron lah kak. santai tapi kita tahu arah saat jalan! gak usah nanggepin satu hal yang belum kita tahu detailnya dengan berlebihan, yang ada ntar malah nyesel!!”
Ve mengangguk dengan ucapan Nabilah
“semoga kakak gak akan ngalamin hal itu! Nyesel karena nanggepin satu hal dengan berlebihan!” Nabilah tersenyum

“eh ya Bil, kamu mau terus jalan kaki? Ini udah jam... jam berapa nih? Kayaknya udah cukup malam!!” kata Ve
“mm~ tadi di sms sih, katanya kak Melody udah jalan tapi macet soalnya ada kontainer mogok gitu lah!”
“kenapa gak tunggu di rumah aja sih? Kan lebih aman, daripada sekarang kamu jalan sendirian kayak gini!”
“gak masalah buat Nabilah, toh Nabilah kan gak jalan sendirian! Ada kak Ve di sebelah Nabilah, terus... ada beberapa mahluk yang ngeliatin Nabilah juga, jadi ya.. Nabilah ngerasa udah lebih dari aman, kak!” kata Nabilah
“eh? be-berapa makh..luk? mak...sudnya?” tanya Ve sambil mengusap tengkuknya *Ve takut? Benarkah? Arwah takut sama Arwah?* :O
“iya makhluk kayak kakak! HANTU...” kata Nabilah dengan masih melihat kedepan, Ve lebih mendekatkan dirinya pada Nabilah “he? Kenapa kak? Apa sih? Pake mepet-mepet segala!”
“kamu barusan bilang hantu kan?!”
"iya! Ter,- eh? Jangan-jangan?” Nabilah melebarkan bola matanya
lalu tertawa “Ha.. ahahaaaaahahaa... kakak takut?, apa-apaan nih? Masa hantu takut sama hantu? Lucuuuu... Hahahaaa” Nabilah tidak bisa menahan diri, dia terus menertawakan Ve dan menggodanya.

“A! I-iitu... di--di belakang kakak ada-,” Ve celingukan “aaa...da! Haaantuuuuu....” teriak Nabilah sambil bersiap lari, Ve terlihat panik, dia siap mengikuti Nabilah untuk lari. Tapi kemudian Nabilah
membatalkan larinya dan malah kembali tertawa puas.
“Hahahaaaa.. ini seriusan? Kak Ve sang Hantu, takut sama temannya sendiri… Hantu!? Hahahaaa--,”
“gak lucu, Bil!”
“itu lucu~ hahahaa! Hantu takut sama Hantu! Hantu apaan tuh?haha, memalukan!!”
“terus aja ketawa, sampai puas!”
“hahhaaaa---- hah! Udah ahh capek!” kata Nabilah sambil melihat Ve yang masih mendelik ke arahnya. keduanya berjalan lagi di bawah sinar bulan dengan angin malam yang berhembus.

*tid~ tid~ tidddd~*

Nabilah dan Ve menoleh ke arah suara klakson dan... itu suara klakson mobilnya Melody. Nabilah pun masuk
“kenapa gak tunggu kakak di rumahnya kak Ve aja?” kata Melody tanpa basa-basi, mengingat sudah jam 8.30 malam, pastinya Melody merasa khawatir.
“gak apa-apa kak, Nabilah jalan kan gak sendirian!” jawab Nabilah sambil memasangkan seatbelt nya
“ya, tetep aja... itu kan bahaya! kalau ada apa-apa gimana? Kak Melo bisa di pecat jadi anak nya mama sama papa, karena gak bisa jagain kamu!”
“aduhhh, serem amat pake pecat-pecat segala! Hehe~ gak lah kak, Nabilah udah gede ini... ni liat, wajah Nabilah ama kak Melo aja kalau di tilik-tilik kayak sepantaran!! Hahaha~ iya kan?” Melody mendelik lalu menginjak gas mobilnya
“Bil, itu barusan ledekan buat kamu apa buat kak Melo?” bisik si arwah di belakang, Nabilah mengangkat matanya mencerna pertanyaan Ve. Wajah Nabilah memang terlihat dewasa ketimbang umurnya apalagi kalau dia sedang diam, sementara Melody yang punya tinggi badan yang hampir sama dengan Nabilah membuat dia terlihat seperti hanya beda satu-dua tahunan dangan Nabilah. Padahal bedanya mereka itu 7th.
“hmm~ mau bales ngeledek nih ceritanya?’ kata Nabilah tiba-tiba, membuat Melody melihat padanya sekilas.
“gak ada maksud itu kok kak Ve mah! Hihihii~” Nabilah mengabaikan Ve, karena tidak mau memecah konsentrasi kakaknya yang sedang menyetir, dengan bicara menanggapi Ve.

“kamu abis ngapain aja seharian ini? Sampai malam-malam baru pulang!” tanya Melody kemudian untuk menghilangkan jenuh
“em~ ceritanya panjannnggggg banget kak!” jawab Nabilah
“perjalanan kita juga bakal panjangggggg banget dek, soalnya kontainer itu masih ngalangin jalan pulang kita!”
“bisa aja kak Melody, nih!”
“kak Melo serius dek, kontainer itu mogok terus cuma nyisain jalan yang cukup buat satu mobil.. jadi jalannya di buka tutup satu lajur, giliran gitu!”
“ooohhh!~”
“jangan Ohhh aja! Cerita dong, biar kak Melo tahu gimana serunya minta tolong buat orang yang.... gak keliatan!” kata Melody membuat Ve melihat ke arahnya dengan ekspresi kaget.
“hahaha~ orang yang gak keliatan! Arwah kak, Itu sebutannya!!” jawab Nabilah “Haah~ ok, ok! untuk membayar ongkos jemputan ini... Nabilah bakal cerita deh ke kakak! Jadi gini kak......”
Nabilah mulai menceritakan gimana sialnya dia saat bangun tadi kesiangan, nyampe di sekolah kesiangan, di hukum guru depan tiang bendera, dan yang terakhir nyatet di white board. Cerita Nabilah itu membuat Melody tidak tahan untuk tertawa, begitupun dengan Ve yang mengingat setiap detail kejadian tadi pagi. Terus Nabilah juga menceritakan gimana ketegangannya saat 2guru hari tadi membuat Nabilah merasakan sial yang luar biasa selama dia mencicipi bangku sekolah. Kembali Melody tidak bisa menahan tawanya, dia merasa puas menertawakan Nabilah yang bercerita.
Dan tiba pada cerita saat Nabilah melancarkan misi minta tolongnya dan aksi bijaknya di hadapan para seniornya untuk meyakinkan mereka kalau Ve pantas mendapatkan maaf dari mereka, persis seperti saat juru kampanye mempromosikan kandidat jagoan mereka di pemilu-pemilu. Sampai Nabilah menceritakan gimana pengaruh Ve yang tidak masuk di akal bisa membuat Ayana dan Gaby yang sebelumnya memberondongi dia dengan pertanyaan langsung diam persis kayak orang yang di
hipnotis. Cerita itu membuat Ve membanggakan dirinya sendiri dan Melody mengatakan ‘Wah’ lalu bertanya ‘kok bisa?’, Nabilah jawab, dia juga gak tahu. Tapi Ve memang pernah melakukan hal itu pada satpam di rumahnya saat pertama kali Nabilah main ke rumahnya Ve. terus Melody bertanya ‘apa mungkin Ve menyuruh Gaby sama Ayana untuk melupakan kejadian yang tadi mereka saksikan?’, kayak di drama-drama hantu yang si hantunya bisa menyuruh seseorang untuk melakukan apa yang dia mau
dengan cukup membisikan di telinganya. Nabilah terkejut dengan pernyataan Melody, dia berpikir lalu menjawab… mungkin juga sih~ dan Nabilah melihat ke arah Ve yang memasang tampang senyam-senyum gak karuan.

Ve memang bisa membisikan kata-katanya untuk bisa di turuti. Tapi itu ada quotanya *ceile pake quota segala_- penulis korban quota :v*, dia punya 2hak istimewa selama jadi arwah.
1. Bisa membisikan kata-katanya yang hanya bisa di pakai pada 8orang, itupun bukan orang yang akan dia minta maaf tapi orang netral yang sekiranya bisa menjadi pengganggu.
2. Bisa masuk ke tubuhnya Nabilah dengan batasan tidak lebih dari 2kali, untuk menggunakan tubuh Nabilah kalau dia memang butuh karena mendesak.
Meski itu hak istimewa, tapi bukan berarti gak ada konsekuensinya kalau Ve sampai melanggar. Maka akan ada hukuman dari si pemberi hak itu.

Setelah beberapa menit lamanya yang... cukup lama sih! Nabilah becerita pada Melody, dia akhirnya menyerah karena merasa lelah sampai dia tertidur dengan Melody yang masih fokus menyetir.
Melody tidak bisa melakukan apapun dia hanya tersenyum melihat adiknya dengan wajah lelahnya sedang tertidur

“Kinal!” Tiba-tiba Ve berbisik melihat ke depan, saat Kinal akan masuk taksi. Dia terus memperhatikan Kinal sampai akhirnya taksi itu melaju, tanpa sadar Ve menyuruh Melody untuk mengikuti taksi yang dinaiki Kinal “kak Melody, ikutin taksi itu dong! Please~” karena Nabilah sedang tidur. Melody tidak merespon “eh, eh~ kok belok sih kak, kak?, taksi nya lurus kak,-" Ve baru sadar kalau dia tidak bisa melakukan itu, namun karena dia masih punya hak istimewanya. Tanpa berpikir terlalu panjang, Ve segera berbisik di telinga Melody. Saat pesan Ve untuk mengikuti taksi RedBlue itu sampai di pikirannya, dengan sangat mendadak Melody menginjak rem mobil sampai Nabilah yang sedang tertidur jadi kebangun karena gerakan injak rem mendadak yang di lakukan Melody.
“auw~ aduhh~ kak Melo kenapa sih!?” tanya Nabilah, tapi Melody tidak merespon “lho, lho~ kok muter lagi sih! Mau kemana nih?” kembai Nabilah bertanya dan kembali Melody tidak menjawab karena dia masih dalam pengaruh bisikan Ve. Nabilah yang merasa bingung dan linglung dengan sikap Melody dia segera berbalik kebelakang dan melihat si arwah yang sedang serius melihat kedepan “kak Ve, ini ada apa sih? Kok kak Melody ditanya diam aja!” Nabilah lagi-lagi bertanya tapi sayangnya dia lagi-lagi tidak mendapat jawaban. “hoy! Kak Veranda!!”
“Aapa?” jawab Ve karena mendengar Nabilah berteriak
“apa, apa! Ini yang apa! Ini ada apa sih? Kenapa mobilnya belok lagi? Kenapa kak Melody,- ahh, jangan-jangan kak Ve yang ngelakuin ini? kakak ngelakuin hal yang sama kayak yang kakak lakuin ke Achan sama Gaby! Iya kan?” Nabilah nyerocos
“Ssut! Jangan berisik Bil, nanti kakak kamu bangun dan kita kehilangan jejaknya!”
“jejak? Maksudnya?” Nabilah benar-benar memasang tampang bingungnya.
“iya jejak, jejaknya Kinal!” dengan mata masih melihat kedepan Ve menjawab
“Kinal? Kak Kinal?!” kata Nabilah, Ve mengangguk dan kemudian menceritakan saat dia melihat Kinal dan meminta bantuan pada Melody untuk mengikuti taksi.

"dia mau kemana kak? mau pulang kali ya!” Nabilah bertanya tapi kemudian di jawab sendiri pakai tebakannya.
“bukan, Kinal barusan pergi dari rumahnya Bil!,-“
“hah! pergi dari rumahnya! Malam-malam gini, mau kemana tuh kak Kinal! Kalau di negeri orang lain ya kak, udah kena jam malam tuh. Siswa keluyuran malam-malam gini” Nabilah mengeluarkan apa yang dia ketahui *jam 10 kurang dikit*
“kak Ve juga gak tahu, makanya minta tolong sama kakak kamu! Soal jam malam... ini belum masuk jam malam Bil, masih kurang dikit!”
“cuma dikit kan? Gak banyak!” sahut Nabilah tak mau kalah.
Ve masih menaruh matanya pada RedBlue yang mengarah ke satu tempat yang entah tempat seperti apa yang akan di datangi roda empat itu.

“huh? r-rumah sakit! ini~ ini~ ini bukannya rumah sakit tempat kakak di,-” kata Nabilah melihat Ve, tapi.. “kak Ve? lho kak Ve~” Ve sudah tidak ada di seat belakang, dan saat Nabilah melihat kedepan “ah, hsss~ tu arwah udah di luar aja!” Ve sudah mengikuti Kinal yang masuk ke rumah sakit. “Kak Ve tunggu!” teriak Nabilah dari dalam mobil, kondisi halaman rumah sakit sepi. “aduh, kak Melody gimana nih--” Nabilah bingung, karena Melody masih belum lepas dari pengaruh bisikan arwah Ve. “kak Ve, ahh Nabilah bingung! aduhh~ gimana nih?” Nabilah mengucek rambutnya sendiri. Dan akhirnya dia bicara pada Melody “kak, kakak tunggu disini ya! Nabilah keluar sebentar, kakak jangan kemana-mana! Ok?!” tanpa mengucapkan kalimat, Melody mengangguk meng iya kan ucapan Nabilah dan menuruti kata-kata adiknya. Setelah itu Nabilah pun keluar dan berlari kecil mengikuti Ve dan juga Kinal yang sudah masuk. Saat akan masuk lobi rumah sakit, Nabilah di jegat satpam. Hari ini untuk kedua kalinya Nabilah di pasangin badan satpam. Untuk yang di sekolah, bukan hal yang sulit untuknya masuk, tapi kalo di rumah sakit seperti ini... Nabilah sepertinya akan menemui kesulitan yang cukup sulit.
"he~ e~ eh~ mau kemana? Malam-malam gini anak kecil keluyuran, mana masih pakai seragam lagi!” tegur si satpam dengan setengah tegas karena melihat orang yang di hadangnya masih berseragam.
“em~ mau-- itu pak, anu- aku mau” Nabilah terbata sambil melihat kedalam, dimana Ve dan Kinal sudah ada disana dua-duanya “mau jeng,-!” Nabilah terhenti, dia memikirkan ulang kata yang akan dia ucapkan, karena kalau sampai salah bisa-bisa Nabilah tidak akan di ijinkan untuk masuk
“um~ e, i-itu pak, k-kakak aku- kakak aku sakit! Aku bingung!” Nabilah gelagapan untuk meyakinkan
“apa maksud kamu?”
“iya, k-kakak aku tiba-tiba sakit pak. Tadi kita lagi.... mau jalan pulang ke rumah, eh tiba-tiba kakak aku nya gak bisa ngomong terus cuma bengong! iya itu~” si satpam menilik Nabilah untuk memastikan apa yang sedang di bicarakannya itu benar “eh, si bapak malah bengong! Cepetan pak tolongin kakak aku,-“
“i-iya, iya~ sebentar!” satpam itu masuk untuk memanggil perawat UGD ‘maafin Nabilah kak!’ bisik Nabilah dalam hati karena sudah menjadikan kakaknya bahan alasan, dia celingukan ke arah dalam tapi sudah tidak nampak Ve ataupun Kinal. Tak lama satpam dan 2orang perawat keluar dengan membawa kasur roda
“dimana kakak kamu?” tanya si perawat perempuan
“ya? Oh~ itu suster, disana” tunjuk Nabilah ke mobilnya, “cepetan sust, tolongin kakak aku!” Nabilah kembali berakting, perawat dan juga satpam segera meluncur ke arah mobil dengan Nabilah pura-pura seperti akan mengikuti mereka dari belakang tapi kemudian dia berbalik dan memasuki rumh sakit ‘maaf kak~ maaf, maafin Nabilah!!’ kembali Nabilah berbisik di hatinya ‘ini benar-benar gila!’ gumam Nabilah, dia menaiki lift tapi tidak tahu akan ke lantai mana, saat di dalam lift Nabilah tidak memijit angka yang ada di lift ‘aisssh~ kak Ve sama kak Kinal di lantai mana ya? Ohh gawat nih! Ke lantai berapa nih?’ Nabilah sudah merasa lelah, dengan aktifitas tidak biasanya seharian ini.
‘temannya mama’ Nabilah ingat saat pertama kali bertemu dengan Ve ‘tante itu di rawat di lantai berapa ya? Aduhh Nabilah… coba ingat-ingat dong!’ Nabilah bicara pada dirinya sendiri ‘4? Lantai 4? Bukan~ em- 8? Lantai 8? ~ eh, bukan-bukan! 4~ 4 , lantai 4- iya pasti lantai 4!!’ Nabilah sudah tidak bisa berpikir dengan jelas karena memang kenyataannya waktu menemani mama nya dia tidak begitu memperhatikan jalan bahkan saat naik lift dia cuma mengekor mamanya dengan tangan sibuk memainkan game pocket. Jadi tidak begitu mengingat, ke lantai berapa waktu itu dia dan mama nya pergi. Nabilah memang kalau pergi ke satu tempat yang tidak dia sukai, dia tidak pernah memperhatikan sekitarnya. Nabilah yang masih sangat muda masih suka seenaknya dengan kondisi sekitar, kalau dia tidak suka maka tidak suka dan kalau dia menyukai sesuatu maka dia akan terus memburu hal itu. ‘ah udahlah ke lantai 4 aja dulu!’ Nabilah memutuskan untuk menekan angka 4 dan beberapa menit dia sampai di lantai 4. Nabilah celingukan mencari dan dia tiba di meja perawat yang sedang jaga malam, dengan menekan rasa gugupnya Nabilah menghampiri meja itu lalu siap bertanya tapi, saat akan mengeluarkan kata-katanya Nabilah keburu melihat Kinal yang baru keluar dari sebuah ruangan. Namun dia tidak mendapati sosok Ve yang tadi mengikuti Kinal. Nabilah tidak langsung menghampiri Kinal, dia diam berjalan pelan dengan matanya mencuri kearah Kinal tapi tidak terlihat mencurigakan, perlahan Kinal berjalan lalu memasuki lift, Nabilah melihat angka di lift membentuk digit 8. Karena penasaran dengan keberadaan Ve, Nabilah pun melihat dulu ke ruangan tempat Kinal sebelumnya masuk.
Nabilah melihat Ve berdiri diam terpaku di ruangan itu, Nabilah masuk “kak, ngapai...n ... di..sini~” ucapan Nabilah terhenti, bukan karena melihat Ve yang sedang terpaku tapi karena melihat Ve yang sedang terbujur di atas bangsal dengan alat pendeteksi jantung yang terdengar nyaring membunyikan detak jantung Ve yang lemah, masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya, Nabilah memperhatikan tubuh Ve yang baru pertama kali Nabilah lihat. Perban warna coklat yang menutupi kepala bagian atasnya, sebuah codetan menggores di sudut alis kanannya, di tangan sebelah kirinya menggantung slang infus dengan di telapak tangannya melingkar perban putih sepertinya ada luka di telapak tangannya, dan di tangan kanannya slang transfusi darah.
“a..pa.. kakak... mas...ih bisa hidup?” suara Nabilah pelan, entah seperti apa perasaan Nabilah saat ini ketika melihat tubuh Ve yang tak berdaya dengan luka disana-sini dan selabu darah menggantung tepat tak jauh dari pandangan Nabilah. (Nabilah takut kalau melihat darah, tapi kali ini dia tidak terlihat takut akan darah melainkan takut akan orang yang ada di depannya… berakhir). Nabilah terlihat iba melihat kondisi Ve yang seperti itu tanpa ada siapapun yang menungguinya, dia melihat kearah arwah yang masih diam termangu ‘kasian kak Ve’ lirih Nabilah lalu melihatkan lagi pandangannya pada tubuh Ve.

“kak? kak Ve... gak apa-apa?” pertanyaan apa yang keluar dari mulut Nabilah, mana mungkin Ve tidak apa-apa, yang dia saksikan saja sudah mengindikasikan kalau Ve sedang apa-apa dan mungkin kedepan dia akan sangat apa-apa atas kondisinya. Ve tidak menjawab, Nabilah hanya bisa diam.

"lho? kak Ve mau kemana?” tanya Nabilah karena melihat pergerakan Ve “kak, kak Ve!” Nabilah memanggil tapi tidak di gubris, karena dari tadi merasa diabaikan terus sama Ve Nabilah pun berlari dan berhenti di depan Ve “Stop Kak! Jangan bergerak!!” dia menghentikan Ve (masih di dalam ruangan tempat Ve) “kakak mau kemana? mau cari kak Kinal?”
“iya, kak Ve harus cari kak Kinal! Kita harus cari Kinal, Nabilah!! Ada yang dia sembunyikan tentang kemarahannya dulu sama kak Ve!” Nabilah bingung dengan apa yang di ucapkan Ve.
“Nabilah gak ngerti kak?”
“pokoknya sekarang kita cari Kinal!”
“iya tapi kenapa? Ayolah kak, ini udah malem! Dan..” ucapan Nabilah terhenti, dia baru ingat kalau Melody di bawa ke Unit Gawat Darurat “Nabilah lupa, kak Melody kan di bawa ke UGD!”
“Hah! apa? Kamu bilang kak Melody di UGD?” Ve kaget mendengar ucapan Nabilah, Nabilah hanya menjawab dengan anggukan. “kok bisa? Tadi kan kak Melody di mobil dan,- aduhh kak Ve juga lupa! Tadi kakak minta bantuan kak Melody dengan berbisik terus kakak lupa pas sampai rumah sakit kakak gak nyuruh kak Melody buat kembali ke sikap semulanya!!” Ve menjelaskan. Dan tidak tanggung, dia pun jadi menjelaskan dengan panjang kali lebar tentang Hak istimewa yang dia dapat. Nabilah semakin-semakin heran dengan dunia arwah yang ada di cerita ini.

“jadi gimana nih kak? Nabilah harus temuin kak Melody, sebelum pihak rumah sakit menelpon ke rumah atau ke handphone nya papa mama” Nabilah jadi bingung, sementara dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan Ve tadi saat Kinal keluar lalu pergi ke lantai 8 dan juga penasaran dengan apa yang di katakan Ve di ruangannya tadi. Tak kalah bingungnya, pikiran Ve pun jadi buyar antara mencari Kinal atau melihat Melody dan menyadarkannya.
“um~ ya udah lah kita samperin kakak kamu! Soal Kinal besok pagi di sekolah kita bisa nemuin dia kan!!” Nabilah merasa kasihan pada Ve, tapi apalah dayanya dia sekarang sedang berdiri di antara 2 keadaan yang tidak bisa di sepelekan.
“tapi kakak? Gimana sama kakak? Kak Ve belum tahu kan kak Kinal sedang apa disini, setelah dari ruangannya kak Ve!?” Ve berpikir lalu mengangguk pelan, seolah tahu kalau Nabilah sedang memikirkan kepentingannya juga.
“emm~ gak apa-apalah Nabilah. Kita bisa cari tahu besok di sekolah, lebih baik kita sekarang ke kak me,-”
“enggak! Urusan kak Melody, biar Nabilah yang tanganin! Sekarang kakak kasih tahu aja Nabilah, gimana caranya ngembaliin kak Melody ke kondisinya semula. Terus kakak pergi lihat kak Kinal, dia tadi ke lantai 8!” Ve melebarkan bola matanya yang manis saat mendengar usulan dari Nabilah. Dia begitu terharu mendengar Nabilah begitu perhatian dengan kondisinya “kak~ kok malah bengong sih! Bisa kan? Apa yang tadi Nabilah usulkan terkabul?”
“Haah? Ah~ i-iya, kak Ve dengar! Ya udah kalau menurut kamu itu baik kak Ve ikutin.” Ve pun mulai memberi tahu bagaiman cara agar Melody kembali dari alam bawah sadarnya. Nabilah mengerti lalu keluar dari ruangan itu dan jalan menuju lift untuk turun ke bawah dan menghampiri Melody. Sementara Ve dia langsung menuju lantai 8 seperti yang tadi Nabilah bilang, Kinal ke lantai 8. Dan saat berpisah Nabilah bilang pada Ve ‘kalau urusannya lihat Kinal sudah selesai Nabilah akan tunggu Ve di mobil’

*Di UGD*
’pranggg’ sebuah plat dari alumunium tempat menyimpan kapas bekas membersihkan luka jatuh. Melody yang sedang berbaring dengan tatapan kosong nya mulai mengedip-ngedipkan bola matanya, dia melihat langit-langitnya dan kemudian memainkan ke arah lainnya di ruangan itu “mm~ heeeh dimana nih?” bisik Melody sambil memegangi kepalanya dan bangun dari pembaringannya, dia melihat beberapa orang berseliweran sana-sini dengan seragam putihnya “ah, ini... rumah sakit? apa ini rumah sakit?” lalu Melody membelalakan matanya karena kaget saat dia menyadari kalau tempat yang sedang di tatapnya itu rumah sakit. “rumah sakit! Kenapa aku bisa disini? Terus~ Nabilah? Nabilah dimana ya?” Melody melihat sekeliling dan mulai menurunkan kakinya untuk menginjak lantai “kenapa sih aku bisa disini? Nabilah dimana? Ini ada apa sebenarnya?” Melody mencoba mengingat kejadian terakhir.

“kamu sudah sadar?” tanya seorang suster yang melihat Melody bergerak dari bangsalnya
“sadar? Memangnya saya kenapa suster?” Melody balik bertanya dengan kebingungannya.
“Kakakkkkk,,” Nabilah berlari berhamburan ke arah Melody.
“Nabilah!” ucap Melody pelan saat Nabilah memeluk Melody “kakak udah gak apa-apa?” tanya Nabilah kemudian, Melody menggeleng karena dia sebenarnya masih bingung kenapa bisa berbaring di UGD. Suster yang tadi mau menjelaskan keadaan Melody, jadi menelan kembali penjelasannya karena melihat Nabilah yang berlari sambil teriak. Dan di ganti dengan kata-kata pemberitahuan kalau Melody bisa dibawa pulang
“kakak kamu sudah tidak apa-apa, dia bisa pulang, tidak perlu di rawat!” kata suster.
“bentar-bentar sust, aku masih bingung! Kenapa suster sama kamu juga dek bawa-bawa kata ‘apa-apa’ emang kak Melody kenapa?” Suster dan Nabilah saling berpandangan, entah apa maksudnya.
“em~ kakak gak perlu mikirin tentang itu, mending sekarang kita pulang yuk kak! Ini udah malem juga!!-- Ya?” kata Nabilah dengan diakhiri memberikan usulan. Melody masih ingin bertanya tentang bagaimana ceritanya dia bisa terdampar di Rumah Sakit tapi karena saat melihat jam tangannya sudah memperlihatkan hampir jam 11, bukan hampir deh tapi sudah jam 11 lebih. Jadi terpaksa Melody menekan ego nya dan berdiri dari atas bangsal untuk keluar dari emergency room itu bersama dengan Nabilah yang sudah terlihat lelah.

“em~ kakak gak apa-apa... nyetir?”
Melody berpikir sebentar, lalu menjawab dengan gelengan dan beberapa kata “gak, kak Melo gak apa-apa.. dan, emang gak kenapa-kenapa!” Nabilah tersenyum ke arah Melody sambil mengangguk kecil. “kamu gak mau ceritain nih, kenapa kakak bisa sampai di UGD?” Melody bertanya dengan tangannya sudah menstarter mobilnya, Nabilah memainkan matanya dan memikirkan ulang. Kemudian memutuskan untuk menceritakan ceritanya pada Melody, sampai Melody yang semula sudah menstarter mobil mematikan kembali mobilnya. Dan Nabilah pun mulai mendongeng.... untuk mengulur waktu juga karena si arwah masih belum kembali.

*Di sebuah kamar di lantai 8*
Ve melihat Kinal di sebuah ruangan, dia sedang duduk menunggui ibunya. Ve menundukan kepalanya mengucapkan kata Maaf saat melihat dan mendengar Kinal bercerita pada ibunya yang sedang koma. kembali kilasan kejadian dulu dengan Kinal keluar dari dalam pikirannya *“Aku udah muak temenan sama Ve! Dia itu manja, egois, mentang-mentang anak orang kaya.. terus dia bersikap seenaknya!! Aku udah gak mau lagi sahabatan sama dia!!!”Ve diam terpaku saat mendengar Kinal berbicara seperti itu pada Stella, Yona dan Dhike.*

“apa ini? Kenapa sebenarnya dengan Kinal?!” Ve berbisik dalam hati, saat kilasan itu muncul “dia bilang gak mau lagi temenan sama aku, dia bilang muak bersahabat dengan ku, dia bilang dia hanya memanfaatkan ku! Terus tadi apa? Kenapa dia keruanganku dan...” Ve terlihat sedih “dan... dia kah yang selalu mengganti bunga di kamarku? bunga yang sama setiap hari selama aku terbaring!. diakah yang selalu menjengukku setiap malamnya? Apa yang sebenarnya terjadi? terus kenapa sama tante Mila? (mamanya Kinal)” kembali Ve bertanya pada dirinya sendiri. Setiap malam, setelah Nabilah tertidur. Ve selalu pergi ketempat jasadnya berbaring, awalnya Ve mengira perubahan di vas bunganya itu adalah perbuatan si perawat yang bergiliran menjaganya tapi malam ini, Ve tahu... siapa sebenarnya yang mengganti bunga di pass nya!

“HHah? jadi kakak di bisikin sama kak Ve”
Nabilah mengangguk “ya, dan terus.. Nabilah di kasih tahu sama kak Ve gimana cara nyadarin kak Melody! Tapi, pas Nabilah sampai di UGD ternyata kakak udah sadar!!” Melody memproses setiap ucapan Nabilah
“hmm~ kenapa kayak di film-film ya? Kak Melody pikir, roh itu gak akan bisa ngasih bisikan sama kita!” Nabilah mengangkat kedua bahunya “au deh, tanyain aja sama penulis cerpennya!” kata Nabilah sambil tersenyum.

~Keesokan Paginya~
Nabilah bangun sangat pagi, tanpa ada yang membangunkan, entah itu Melody ataupun Ve, tanpa ada alarm yang berteriak. Padahal semalam dia, Melody dan juga Ve sampai di rumah jam 12malam lewat 24menit. Setelah Nabilah bercerita dan Melody menjadi pendengar sekaligus komentator, sambil menunggu kedatangan si arwah yang cukup lama diam di lantai 8 rumah sakit. Nabilah sempat bertanya pada Ve ‘bagaimana Kinal?’ tapi Ve tidak menjawab, dia bungkam dan wajahnya terlihat sedih dan ada gurat penyesalan dari kepucatannya.

Sesampainya di sekolah, Nabilah dan Ve saling diam. Nabilah diam karena dia memikirkan tentang hari terakhir di misi VeNa yang hanya menyisakan waktu kurang lebih 10jam, dia memang sudah mendapatkan nomor HP murid-murid SMA yang akan Ve mintai maaf dan Nabilah pun sudah mengirimkan pesan nya kemarin sore pada mereka, tapi Nabilah merasa khawatir karena dia takut kalau acara yang sudah dia rencanakan berantakan dan Ve tidak mendapat maaf dari mereka. ‘apa yang akan terjadi sama kak Ve ya kalau misi ini gagal?’ Nabilah berbisik dalam hati sambil melihat Ve yang jalan di sebelahnya sambil melamun. Kemudian dia kembali melihat kedepan dengan sebelumnya menghela nafas. Ketegangan cukup terlihat menyelimuti wajahnya Nabilah yang biasanya selalu ceria. Sementara Ve, dia diam bukan hanya memikirkan misi 48jam namun memikirkan juga tentang cerita sahabat yang pernah dia tendang dari perjalanan kehidupannya.

Sampai di lorong sekolah, murid-murid SMP saling berbisik ria ketika melihat Nabilah lewat. Nabilah merasakan pandangan dan juga bisikan dari murid-murid yang berdiri di lorong, tapi dia tidak mau ambil pusing dan membiarkan mereka rame dengan mainannya yaitu melihat Nabilah, buat Nabilah itu bukan hal yang penting sekarang.
Sampai di kelas, Nabilah langsung di serbu oleh Ayana dan Gaby. Mereka berdua bicara barengan tanpa menghiraukan kebingungan di wajah Nabilah. Keduanya terus nyerocos, dan Nabilah juga Ve tidak begitu menangkap apa yang mereka katakan. Ve yang dari tadi diam tanpa kata, kini mengeluarkan kata-katanya dalam bentuk pertanyaan pada Nabilah
“mereka berdua kenapa, Bil?” Nabilah menggeleng dan berbisik pelan “kan kakak yang kemarin bikin mereka bengong!” dengan mata masih terpaku pada kedua sahabatnya yang sudah lupa akan kejadian kemarin.
“kok kamu diem aja sih, Nabilah! Jawab ke? Atau apa lah, tanggepin gitu!” protes Ayana, setelah dari tadi bicara. Gaby mengangguk menyetujui Ayana.
“jawab? Nanggepin? Gimana aku mau ngejawab atau ngasih tanggapan! Orang dari tadi kalian nyerocos mulu, mana aku gak ngerti lagi bahasa yang kalian pakai!!” Nabilah menanggapi, Ayana dan Gaby tersenyum “pake senyum-senyum lagi! Awas ahh, aku mau duduk!” lanjut Nabilah sambil menerobos Ayana dan Gaby lalu duduk di mejanya. Kedua sahabatnya mengikuti, mereka duduk dan melihat Nabilah dengan tatapan mengharapkan jawaban. Nabilah menggerak-gerakan bola matanya melihat keduanya.
“kalian ngapain sih, liatin aku kayak gitu!?”
“ish, si Nabilah gimana sih! Aku sama Gaby kan nungguin jawaban kamu! Iya kan Gab?” Gaby mengangguk.
“jawaban? Pertanyaannya aja aku gak ngerti!” kata Nabilah,
“ehh~ jadi gini loh Nabilah, tadi itu aku sama Gaby nanya kenapa ada anak SMA yang kesini terus nanyain kamu dengan raut mukanya kayak yang marah!” ~ “terus ya... murid SMA nya itu gak satu orang tapi” Gaby berhenti sejenak “3orang, dan kamu tahu Bil mereka yang nyari kamu itu siapa?” Nabilah mengerung lalu menggeleng. Gaby pun melanjutkan “mereka itu... sahabat-sahabatnya kak Ve!” Nabilah dan Juga Ve membelalakan matanya saat mendengar ucapan Gaby “maksud kalian? Kak Stella, kak Dhike sama,-" ~ “kok kamu tahu Bil!?” Ayana memotong ucapan Nabilah


Bersambung lagi.. ^_^
Aku tunggu kicauannya ya.. Arigatou :)
Maaf Kalau membosankan!! ^_^a

0 comments:

Poskan Komentar