Selasa, 23 April 2013

-Journey- BabI -Introducing- #Chapter6



Melody masuk kedalam mobilnya. Dengan wajah bingung, heran, penasaran, tapi ada sedikit senang juga.melody menilik-nilik setangkai mawar itu, saat di dekatkan ke hidung, wanginya begitu menenangkan. melody tersenyum tipis, kemudian segera menyalakan mobilnya.
Dia meluncur meninggalkan parkiran kampus.

malam hari di kediaman Ve. Ve dan papa nya sedang makan malam. Papa mulai membuka obrolan dengan anak perempuan satu-satu nya ini.
"gimana di sekolah, sayang?" tanya papa sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"baik pah..." jawab ve tampak sedikit murung, ve masih mengingat kejadian tadi siang
"kamu sudah siap? Ujian kan tinggal 1bulan lagi!"
"udah pah.."
"terus, liburan nanti. sudah tau mau kemana?"
"belum pah.." ve menjawab, sambil memainkan nasinya. "kalau nasinya dimainin gitu,kapan habisnya?" ucap papa "ve, ga selera makan pah!" jawab ve, bersiap meninggalkan meja makan. "kamu sakit?" tanya papa, begitu lembut. ve hanya menggelengkan kepala, kemudian meninggalkan papa sendirian di meja makan. sejenak pa tama menghela nafas, pikirannya menerawang ke masa lalu. "kalau saja ... kamu masih ada Jasmine. Mungkin ve bisa bercerita bebas dengan kamu." bisik pa tama dalam hati. "semoga kehadiran Siska nanti ... Bisa menggantikan sosokmu Jasmine, untuk anak kita.." pa tama begitu berharap.

waktu menunjukan pukul 10.00 malam. Terlihat melody sedang berdiri di depan kamar nabilah. Dengan perasaan bingung, antara mengetuk atau tidak. Tapi, akhirnya melody memutuskan untuk mengetukan tangannya ke pintu kamar nabilah. melody masuk, disambut tatapan heran nabilah yang sedang duduk di kursi dekat jendela kamarnya. "ada apa?!" tanya nabilah begitu dingin, seperti udara diluar.
"kaka, boleh ga tidur disini?" melody balik bertanya seraya menghampiri nabilah
"kenapa harus di kamar aku!" jawab nabilah, dia kembali memandang keluar.
"soalnya, di luar anginnya berhembus sangat kencang. Jadi.. Kaka kedinginan." jawab melody,
matanya mulai berkaca-kaca menatap sikap dingin adiknya.
"terus, apa hubungannya sama aku?!" kata nabilah, tanpa menatap sang kaka.
melody terlalu kaku terhadap adiknya sendiri. Baik melody maupun nabilah, mereka mungkin sudah lupa kapan terakhir menjalin keakraban. Dengan seiring berjalannya waktu, tanpa sang ayah sadari dia sudah menciptakan sekat diantara kedua saudara itu.Ayah yang lebih sayang, perhatian, baik pada melody. Sementara nabilah selalu dapat tentangan, bentakan emosi. Di tengah prestasi yang sama-sama menunjang.

"ya... Kaka merasa kedinginan aja tidur di kamar sendirian. Jadi, kaka putuskan untuk ikut tidur di kamar kamu. mmm.. Itupun kalo kamu ngasih ijin." ucap melody dengan suara terdengar agak berat, karena menahan air mata.
"tutup jendelanya, matiin AC nya. Nyalain penghangat ruangan! Kalo masih dingin, pake selimut yang tebal!!" nabilah menjawab dengan acuh ta acuh.
Melody tak kuasa lagi membendung air matanya, yang kini sudah mulai turun dari kelopak matanya yang indah.
"kenapa masih berdiri disan,-" ucapan nabilah terpotong, kini melody tengah memeluk tubuhnya. Dengan tangis yang mulai menjadi "Maafin kaka .. de." nabilah kaget. dia terdiam merasakan begitu hangatnya pelukan dari kaka semata wayangnya yang sudah lama tidak dia rasakan. Terlalu seringya perseteruan dengan sang ayah, membuat nabilah merasa terasing dari hangatnya dukungan keluarga.
"maafin kaka, ya de. kaka bukan kaka yang baik buat kamu."
kata-kata yang di ucapkan melody, seperti tamparan untuk dirinya sendiri. Karena nabilah merasa dia juga bukan adik yang baik untuk melody yang terlalu baik. "maaf, karena kaka terlalu lemah. Untuk bisa bilang tidak pada setiap tuntutan papa." kalimat itu mampu membuat nabilah ikut meneteskan air mata.
Dia bisa merasakan bagaimana kerasnya perjuangan melody demi membahagiakan ayah, tanpa memperdulikan kebahagiaan dan keinginannya sendiri.
"kaka ingin memulai semuanya dari awal. Hari ini dikamar ini. Kaka janji, kaka akan selalu mendukung kamu membantu kamu, ada disisi kamu saat kamu membutuhkan seseorang." tanpa terasa bulir air mata terus turun membasahi pipi nabilah saat mendengar semua ucapan melody. Ada keinginan untuk membalas pelukan kakanya yang begitu tulus. Tapi, entah kenapa nabilah sepertinya sulit untuk menggerakan tangannya.

Sudah sepanjang inikah jarak yangdiciptakan ayah, sampai nabilah tidakbisa membalas pelukan melody.

..bersambung..

0 comments:

Poskan Komentar