Selasa, 30 April 2013

-Journey- BabII -Beginning- #Chapter6

"Cindyyy... Kamu mau aku marah? Aku emang marah sama kamu, aku kecewa sama kamu!! kenapa harus disembunyikan coba? kenapa ga dari saat bunda ngambil keputusan itu kamu langsung bilang sama kita?!" ujar nabilah, yang kini berbalik nabilah menggenggam tangan cindy. "kenapa kamu harus menyiksa diri kamu seperti ini?!" ... "GSA emang sekolah impian kita! Tapi, bukan berarti kalau salah satu dari kita ada yang ga masuk di sekolah itu.. terus kita marah sama dia dan ngejuhinnya!"
ayana melihat nabilah yang begitu tenang, kemudian ke cindy yang terlihat masih menangis.

"kita akan selalu jadi sahabat cindy! ia kan achan?"
tutur nabilah, ayana mengangguk,
"aku, kamu, nabilah.. Kita untuk selamanya... Cindy!!"
ucap ayana sambil melejit memeluk cindy.
Akhirnya mereka bertiga berpelukan dalam tangis bahagia.

Sebenarnya nabilah sudah tahu tentang masalah cindy sebelum cindy menyampaikan. Kemarin malam kinal menelpon nabilah setelah kinal melihat cindy yang mencurahkan kegelisahannya pada ve saat dirumahnya. dan kinal pun menjelaskan semuanya, kinal berharap nabilah ataupun ayana tidak ada yang marah apalagi sampai memusuhi cindy. Karena sudah tidak jujur pada mereka dan tidak bisa satu sekolah dengan mereka seperti rencana yang sudah mereka bangun saat memasuki kelas IX. Nabilah memang merasa kecewa pada cindy, tapi di sisi lain. Maksud cindy tidak memberitahu yang sebenarnya karena dia tidak ingin membuat dirinya ataupun ayana membatalkan untuk bersekolah ditempat itu, membuat nabilah bahagia karena dia punya seorang sahabat yang begitu sangat baik seperti cindy.

Sebelum pulang kerumah, melody dan mova mampir dulu ke sebuah cafe. tadi siang mova minta melody untuk menemaninya menemui cewe yang waktu itu dia tabrak, cukup lama melody dan mova berada di rumah beby. mova menyampaikan permintaan maaf nya pada orangtua beby dan juga beby, karena waktu itu mova harus pergi dan tidak bisa menunggui bahkan mengantarkan beby pulang untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah diperbuatnya. Mova sangat bersyukur karena ternyata orangtua beby bisa mengerti kondisi mova yang adalah seorang public figur. beby juga memaafkannya dan sudah tidak mau membahas lagi masalah itu.

Melody dan Mova duduk disebuah meja yang dekat dengan jendela, "aku mau pesen dulu,-" "ga usah! biar aku aja! kan kamu udah baik mau nemenin aku kerumahnya beby, jadi.. aku aja yang pesenin.. Ok!" ujar mova memotong kata-kata melody, dengan senyum khasnya.
"tumben? mau kedepan buat pesen?!" ledek melody dengan melempar senyum. "tadi kan udah bilang alasannya! lagian.. biasa akunya lagi pengen baik!" jawab mova, kemudian berjalan. Melody hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
Sahabat melody yang satu ini sifatnya memang berbanding terbalik dengan sonya. Suasana hatinya yang suka berubah-ubah dengan ataupun tanpa alasan yang jelas. membuat mova kadang bisa ceria seceria mungkin tapi tak lama bisa jadi pemurung, pendiam, bahkan suka kesal dan marah-marah sendiri tanpa alasan yang jelas. Beda dengan sonya yang memang selalu ceria, rame, tapi sedikit manja.

"selamat siang, silahkan mau pesan apa mba?"
pelayan cafe yang juga seorang barista (pembuat coffe) itu menawarkan dengan senyumnya yang menyegarkan.
"siang, aku mau order.. mmmm"
mova melihat ke papan menu yang ada diatas belakang pelayan itu. "aku mau floatwhite coffe, bubble ice tea, sama rainbow cake dua!" mova memang tahu selera minumannya melody. dia paling suka sama teh, jadi dimanapun mereka mejeng untuk makan atau sekedar minum. Pasti yang dipesan melody itu minuman yang berbau teh.

Setelah selesai pertandingan, ve memberikan ucapan selamat pada teman-temannya kemudian, ve pamit untuk meeting dengan panitia lomba 'menulis puisi', menentukan puisi-puisi yang akan menang dan juara 1nya puisi akan dibacakan oleh ve. besok saat penutupan acara tahunan di sekolahnya itu.

"sudahlah,, jangan pada lemes gitu dong! meskipun kalah.. kan udah berusaha, kalian juga tadi mainnya keren ko!! senyum donggg..." ucap stella memberi semangat pada jeje, dhike dan teman-teman lainnya.
"ia,, kalian kan tetap juara.."
sahut temannya yang lain memberi semangat
"ia! tapi cuma juara 2" kata jeje dengan sedikit kesal.
"Jangan sepelekan juara2 ataupun 3.. Karena itu tetap Juara! Seperti halnya kejujuran, jangan sepelekan hal itu. Meski cuma hal kecil yang kamu tutupi tapi itu bisa berdampak besar!"
tiba-tiba, cleo bersuara sambil melangkah pergi dengan sudut mata kirinya mengarah pada jeje. saat melihat tatapan itu.. jeje merasa terhenyak. Dia belum memberitahukan tentang mama nya. 'apa mungkin cleo sudah tau..' bisik hati jeje, setelah jarak cleo cukup jauh darinya.
"cleo kenapa?" kata dhike heran,
stella menatap kepergian cleo. Stella yang memang dari awal sudah merasa sikap cleo aneh pada jeje kini perasaan itu sepertinya memang benar. Ada sesuatu antara cleo dan jeje. Setelah cleo menghilang dari pandangannya, stella mengalihkan tatapannya pada jeje. Sebenarnya, stella ingin langsung bicara pada jeje. Tapi, melihat kondisi jeje yang baru saja bertanding dan pasti menguras tenaganya. Membuat stella menunda dulu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya jeje sembunyikan dari mereka. "udahlah.. ga usah terlalu diambil pusing soal cleo! dia cuma lagi bt aja kali, dari tadi pagi kan mukanya udah di lipet!! besok juga paling dia biasa lagi!" ujar stella mencairkan suasana.
"udah sana pada mandi, ganti baju tuh! Bau keringatnya udah nyampur sama udara disini!"
kata stella dengan tangannya mendorong tubuh jeje dan dhike.

"silahkan mba.. Satu floatwhite coffe, satu bubble ice tea, sama dua rainbow cake!" ucap pelayan cafe itu begitu sopan dengan senyum tak henti menghiasi wajahnya.
"makasih ya mba!" ucap melody.
Saat pelayan itu hendak berjalan untuk kembali, tiba-tiba seorang perempuan yang sedang berjalan dari arah kiri menabraknya sampai nampan yang dia bawa jatuh. dan membuat pengunjung cafe termasuk melody dan mova melihat kearah mereka.
"maaf,, mba! saya minta maaf. mba ga kenapa-kenapa kan?" ucap pelayan itu, dengan tangannya bersiap mengambil nampan.
"jangan! biar aku aja!" sendy menghentikannya dan dengan cepat dia mengambil nampan itu.
"aku yang harusnya minta maaf.. karena sudah teledor, main hp sambil jalan! maaf ya.." kata sendy yang sudah menabrak waitress yang memiliki tinggi badan sedikit lebih tinggi darinya.

"maaf ya mba.. Rica!" ujar sendy sambil menyebutkan nama pelayan terbaik yang dimiliki cafe itu, setelah melihat di saku kemeja seragamnya tertera nama 'Rica Leyona'
"oh.. mba berlebihan, saya yang salah karena tidak hati-hati saat akan kembali!" tutur rica begitu santun.
"ya udahlah, kita berdua yang salah! sama-sama teledor!"
jawab sendy sambil tersenyum. sendy berjalan menuju sebuah meja, dan rica kembali ketempatnya untuk melayani lagi pengunjung.

"hei!" melody menjentikan jarinya di depan wajah mova.
"liatin apa sih mova? adegan tabrakan nya udah selesai!"
lanjut melody, yang melihat mova begitu serius memperhatikan sendy. "adegan tabrakan? emangnya lagi syuting apa!" kata mova, tangannya mengambil floatwhite nya. Melody tersenyum
"ya kamu sendiri.. ngeliatin orang lain sampe dihayati gitu! Kayak di sinetron tau ga!" mova mendelikan matanya pada melody.
"ck.. ga gitu juga kali! aku tuh kayak pernah liat cewe itu mel. Tapi dimana ya? dia kayak ga asing buat aku!"
mova menjelaskan alasannya melihat sendy. melody menanggapinya dengan bilang 'Ooh..' "ehh.. Jadi aja inget sesuatu saat kamu bilang 'ga asing'. tadi pagi, aku dapat lagi mawar mova." ujar melody bercerita
"oh ya! ada nama pengirimnya?" tanya mova,
melody menggelengkan kepalanya sambil menyuapkan rainbow cake. "isi suratnya apa?" kembali mova bertanya.

Melody pun menceritakan semuanya, sampai tebakan dia pada si pengirim mawar. Mova cukup terkejut di bagian akhir cerita yang di lagukan melody. dia baru tahu kalau ternyata melody memiliki seseorang yang cukup special di masa lalunya. selama 3th mereka bersahabat, melody tidak pernah cerita tentang cowo itu. Dengan alasan, dia hanya masa lalunya. Menceritakan tentangnya sama saja membuka lembar kenangan yang sudah melody tutup rapih dan membiarkan hatinya terjebak pada sosoknya yang entah akan hadir lagi atau tidak di kehidupan melody. Mova mengerti perasaan melody, mungkin jika mova yang diposisi melody. Dia juga akan melakukan hal yang sama, coba menyimpan dan menutup rapat semua kenangan dan kebersamaan yang pernah terjalin.

**
"ihhh,, senyum-senyum sendiri.. Entar kesambet loh!"
kinal menghampiri cindy, yang sedang berdiri di depan rumah. "kesambet? hantunya aja masih disini! belum masuk ke tubuh cindy!!" cindy menjawab peryataan kinal, dengan matanya dia tunjukan pada kakanya itu.
"ia! ka kinal itu emang hantu,, yang bakal nyambet kamu.. bentar ya kaka siap-siap dulu buat masuk!" kinal tak mau kalah atas adiknya. Cindy tersenyum begitu manis melihat tingkah kakanya
"kenapa udah senyum-senyum sendiri? ka kinal belum masuk tau!" ujar kinal dengan gaya bercandanya.

"hari ini cindy bahagiiaaaa banget ka!" ucap cindy
"punya gebetan ya?" tebak kinal dengan matanya dia mainkan ke arah cindy "ish, ka kinal mah.. bukan! aku masih kecil, sama bunda ga boleh punya gebetan-gebetan dulu! kalau pacar boleh katanya.. Hahaha" cindy tertawa menjawab pertanyaan kakanya, kinal ikut tertawa melihat adiknya yang juga punya selera bercanda.
"cindy itu.. senang karena, cindy udah bilng seeemuanya sama nabilah sama achan!" ujar cindy,
"bilang apa?" tanya kinal pura-pura tidak mengerti.
"soal.. cindy ga akan satu sekolah sama mereka!"
"kamu baru bilang sama mereka? ka kinal kira udah kamu bilang dari dulu!" cindy tersenyum sambil menggeleng ke arah kinal
"terus.. reaksi mereka gimana de?" kinal begitu terlihat natural, seperti dia benar-benar tidak tahu yang mengganggu suasana hati adiknya dulu.
"achan emang terlihat kaget.. terus nabilah, dia sempet bikin cindy takut ka! Masa dia cuma bilang 'akhirnya diucapkan juga!' gitu ka!" cindy terus bercerita, kinal menyimak dengan sesekali tersenyum. "tapi akhirnya.. Kita semua berpelukan kayak teletubies! Hahaha.. ahhh cindy emang beruntung bisa punya sahabat kayak mereka ka!" terang cindy, kemudian menutup ceritanya. "thats called a true friends 'best friends' de. mereka akan mengerti dengan keadaan kamu, seperti kamu selalu bisa mengerti keadaan mereka." ,, "wiihhh,, kata-katanya.. dapet dari mana ka? tumben rada berat!" ledek cindy, sambil tertawa.

"haii.. Selamat malam sabtu muda-mudi 'J', huhh.. Ga kerasa ya, perasaan ariani baru aja nyapa terus berbagi cerita sama kalian kemarin. ternyata sekarang, ariani ada lagi diruang dengar muda-mudi 'J'.. siap cerita dong sama ariani? biar malam minggu kalian besok, ga ada kata 'Galau!' ok, seperti biasa untuk pemanasan. kita dengerin dulu lagunya 'trading yesterday' dengan May i.." sendy memutar lagu itu, dengan tangannya melihat-lihat email yang masuk untuk di bacakan nanti.

Saat di club, stella terlihat tidak berkonsentrasi. beberapa kali dia hampir menabrak pengunjung club.
"biar gue yang anterin!" ucap seorang waitress pada stella
"tapi ini kan,-" .. "alah udah deh, sini biar gue aja! Lu mending cuci muka dulu atau duduk dulu sana di belakang stell, dari tadi gue perhatiin lu ga konsen kerjanya! nanti kalo pa Billy ngeliat lu kayak gitu... bisa-bisa di lu dipanggil!"
stella memberikan nampan yang sudah berisi pesanan untuk meja no14, seraya mengucapkan terima kasih pada teman waitress nya. Di kamar mandi, stella mencuci mukanya. dia tatap wajahnya yang terlihat lelah.. tapi itu tidak mengurangi kecantikannya sebagai seorang perempuan. Sejenak stella melamun di depan kaca yang memiliki panjang kurang lebih 1mtr, dia melihat bayangan wajah jeje.

Tadi sore hanya tinggal dirinya dan jeje yg belum pulang, saat akan pulang jeje memberitahukan tentang pernikahan mama nya dengan papa nya ve. stella benar-benar terkejut dengan pernyataan jeje, dia menyimpan berita itu beberapa minggu lamanya. dan baru memberitahukannya saat besok lusa mama nya akan menikah. Jeje sulit memberitahukan hal itu karena dia tahu cleo pasti akan marah dan mungkin membencinya karena jeje nanti akan menjadi saudara dengan ve. Stella mengerti posisi jeje, cleo yang memang sangat tidak suka pada ve karena masalahnya dulu. Membuat cleo jadi tidak ingin berhubungan dengan yang namanya jessica veranda untuk hal apapun itu. Dan jeje, dia pasti takut jika nantinya cleo akan menjauhi dia dan mungkin juga menyuruh stella dan dhike untuk menjauhi jeje.
'cleo sudah tahu hal ini!' stella bicara sendiri didepan kaca
'gimana besok memulainya? cleo pasti tidak akan begitu saja memaafkan jeje, yang sudah tidak jujur sama dia. termasuk sama aku dan dhike!' stella merasa bingung. satu sisi, dia tidak bisa menyalahkan jeje akan apa yang sudah ditutupinya. tapi di sisi lain, dia juga tidak bisa mencegah kalau cleo mau marah dan mungkin menjauhi jeje karena jeje sudah menutupi masalahnya.

"gimana nih, menurut kalian muda-mudi 'J' cerita yang tadi ariani bacakan dari email? Sangat menyentuh bukan?!
'Bagaimana hebatnya perjuangan seorang ibu, demi melihat anaknya agar menjadi seseorang kelak di masa depan. Beliau begitu keras menimpa dirinya dengan segudang pekerjaan demi mengais rupiah. tak memperdulikan apa yang dikatakan orang, tak perduli bagaimana cuaca diluar! beliau terus bekerja tak kenal lelah' jadi, bahagialah kalian.. yang memiliki kehidupan yang cukup, tidak perlu melihat ibu atau ayah kalian bekerja sedemikian kerasnya. kalian tinggal belajar dan menjadi pelajar yang baik, agar kelak kalian bisa memberi sesuatu yang pantas untuk orang tua kalian!" ucap sendy menanggapi surat elektronik yang masuk.

"baiklah, cukup dengan emailnya! kita beralih mendengar cerita seseorang lewat line telpon.. Halo selamat malam, dengan siapa disana?" sendy membuka perbincangan dengan pendengar yang sudah tersambung di line telpon, suara seorang perempuan terdengar menjawab sapaan sendy.
"haii,, ariani! selamat malam! aku icha.." katanya memperkenalkan diri "hai icha, selamat malam juga buat kamu! Jadi.. kamu siap berbagi cerita kamu? ok muda-mudi 'J' kalian siap mendengar cerita dari teman kita yang suaranya terdengar lembut ini.." setelah aba-aba dari sendy, perempuan yang bernama icha itupun langsung mulai bercerita

"tadi siang saat di cafe, aku ngeliat seseorang.. wajahnya begitu tidak asing buat aku! Dan aku baru ingat dengan wajah itu.. Dia mengingatkan aku sama sahabat masa kecilku, yang kini aku engga tahu dia ada dimana? Apa dia baik-baik aja? Apa dia masih inget sama aku?"
sendy hanya tersenyum, dengan headphone yang sedari tadi terpasang di telinganya.
"sampai sahabatku, merasa aneh karena aku ngeliatin seorang cewe sampai segitu lamanya! Dulu itu.. Salahku sendiri, aku pergi ninggalin dia. Hanya lambaian tangannya yang masih aku ingat saat kita berpisah. setiap libur sekolah, aku tidak bisa datang ketempat lamaku. Hanya sebuah surat yang aku titip ke papa untuk dikasih ke pak pos. 5th setelah kita tidak bertemu, aku kehilangan kabarnya. Setiap surat yang aku kirim tidak pernah lagi dapat balasan, kita udah tukeran no hp waktu itu. Tapi seperti halnya surat, sms atau telpon ku pun tidak di respon. Sampai no nya tidak aktif. saat itu aku nangis, terus minta sama papa mama aku untuk pergi ketempat tinggalku yang lama. Tapi, karena papa begitu sibuk jadi... aku hanya bisa berharap dan berdoa kalau dia baik-baik aja! Seminggu setelahnya, papa ngasih tau hal yang membuat aku sangat terkejut. Papa bilang kalau keluarganya sahabat aku meninggal dalam kecelakaan, hanya dia yang selamat kala itu." *deggg* perasaan sendy merasakan hal yang aneh, saat mendengar kata-kata terakhir icha. Itu mengingatkan dia akan kejadian yang menimpanya.

"bukan hanya itu, saat papa ngasih kabar. Ternyata kejadiannya itu sudah hampir mau setahun berlalu. Karena papa juga baru tahu kejadian itu dari tetangga kita dulu saat papa sedang istirahat di sebuah mesjid. Dari sana aku benar-benar merasa kalau aku itu bukan sahabat yang baik buat dia! Saat aku sedih atau dalam kesulitan dia selalu datang untuk menghiburku, tapi.. saat dia terpuruk dalam rasa sakit yang aku sendiri tidak berani membayangkan bagaimana perasaanya kala itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku terlambat mengetahui semuanya. Yang aku bisa hanya menangis dan mengucapkan namanya dalam setiap doaku. Semoga dia tetap menjadi sahabatku yang selalu ceria, tangguh, dan hebat!"
suara icha sudah terdengar serak dari tadi, dia begitu sedih menceritakan kisahnya. Sendy pun tak kalah haru, matanya berkaca-kaca. Karena kisah yang di lantunkan icha, seperti kisah hidupnya.
"doaku yang tak pernah lepas untuk dia sigadis manis sahabatku yang hebat. Aku sangat berharap Tuhan mendengar doaku dan akhirnya aku bisa dipertemukan kembali dengannya!" ujar icha dengan suara tangis yang sudah terdengar. Kemudian sambungan line telpon pun mati.

"hemmmhah!.. Kalau bicara tentang sahabat dan persahabatan, itu ga akan pernah ada habisnya. Sampai kita menua nanti! cerita indah akan tetap terpatri dihati. Memiliki seorang sahabat itu.. Rezeki tersendiri yang dikasih Tuhan. dari dia kita belajar bagaimana saling mengerti perasaan, bagaimana cara berbagi, bagaimana cara mendukung. Karena siapapun atau sekuat apapun dia, pasti akan butuh seseorang untuk di ajak berbagi. Entah untuk berbagi air mata, seulas senyum bahkan segelak tawa dalam canda. Terimakasih buat icha dan juga tadi yang mengirim email nya.. semoga dari kedua cerita tadi kita bisa mengambil suatu pelajaran!"
sendy menutup acaranya dengan memutarkan sebuah lagi lawas dari Sheila On7 'Kisah Klasik Untuk Masa Depan'

Hingga tengah malam, jeje masih terjaga. Dia tidak bisa memejamkan matanya, terlalu banyak yang berisik dipikirannya. Soal cleo, cara ngasih tau cleo dan dhike masalah mama nya, pernikahan mama nya yang tinggal 1hari lagi, nilai di raport besok, tinggal satu rumah dengan ve. Dan entah apalagi yang kini sedang berseru di dalam benaknya. Padahal tadi siang jeje sudah menguras tenaga dan keringatnya dilapangan, harusnya dia bisa tidur nyenyak dengan suguhan segelas susu coklat sebelumnya.

..bersambung..

0 comments:

Poskan Komentar