Selasa, 30 April 2013

-Journey- BabII -Beginning- #Chapter5

2nd Quarter, kinal dan kawan2 masih memimpin 24-20. Teman2 nya masih terus menyemangati mereka, lapangan basket begitu rame. Seorang siswa dari kelas X S I berdiri, dia bernyanyi diikuti teman2 nya untuk menyemangati jeje dan yang lainnya. Hal konyol yang mereka lakukan mampu mengundang senyum dari pihak lawan ataupun dari teman lainnya.

Quarter terakhir, XI S I balik memimpin. Dengan skors beda tipis 38-35. Jeje sedang mendrible bola, postur tubuh kinal yang lebih tinggi darinya membuat jeje cukup kesulitan untuk menghindari kinal. Tapi dengan cekatan jeje melihat dhike berlari meski dalam bayang-bayang ghaida yang sedang mengawalnya. Karena ini quarter terakhir, mereka melakukan permainan man-to-man untuk mencetak angka. Jeje passing bola ke dhike, karena kinal lengah jeje bisa lepas dari penjagaannya. Dengan cepat dhike kembali passing bolanya ke jeje, dan jeje berhasil melakukan shooting di area 3second violation.
Giliran jeje yang lengah, setelah mencetak skor. Jeje melakukan selebrasi. Hal itu dimanfaatkan ghaida yang langsung melakukan overhead pass pada kinal yang sudah berlari dan berada di area lawan, tanpa ada keraguan kinal membidik ring dari tempat point guard dengan bola telah siap di tangannya dan... Suara teman2nya bersorak, kinal berhasil melakukan shooting 3point..
Kinal melakukan hormat pada teman2 sekelasnya (maksudnya meledek jeje) kemudian bersiap kembali membayangi jeje.

Saat nabilah membuka pintu rumahnya, dia hampir terjatuh. Karena menghindarkan kakinya agar tidak menginjak barang yang sudah ada di depan pintu.
"mawar merah! Hmmm.." nabilah menilik mawar itu,
nabilah kembali berjalan ke dalam rumah.
"ka, kayaknya ini bukan buat nabil deh!" ucap nabilah memberikan setangkai mawar merah itu.
"siapa yang ngirimin ini de?" tanya melody, mengambil mawarnya. Nabilah hanya menggelengkan kepala.

"udah ah, nabil mau berangkat dulu! Takut telat. Entar achan sama cindy marah! Dah kaka.."
nabilah berlalu meninggalkan melody yang masih sibuk membaca pesan singkat di kertas kecil itu.

"'3->8 aku hadir bukan untuk membuatmu sakit lagi!'"
wajah melody begitu penuh dengan tanda tanya, sudah 3 mawar yang dia terima.. tiba-tiba mulutnya menyebutkan satu nama "Rony" ...
seperti dibawa naik mesin waktu. Pikiran melody melayang ke masa lalu, 4th silam. Saat rony pertama kali masuk dalam kehidupannya, membuat hari-hari yang dijalaninya menjadi sangat berwarna. Ketika tak ada satu orangpun kala itu yang mau menjadi temannya, karena terlalu seriusnya melody pada sekolah dan pelajarannya. Agar prestasi di sekolah tetap bisa di genggamnya dan membuat ayah bangga. Rony datang dengan senyumnya menyapa melody, mengulurkan tangannya untuk menjadi teman, duduk disebelah melody menawarkan sebungkus permen, mengajaknya bercanda. Hingga semakin hari kedekatan mereka semakin dekat, akrab, dan tahu satu sama lain. Dimana ada melody disitu pasti ada rony, begitupun sebaliknya. Sampai teman sekelas mereka mengira jika mereka sudah pacaran.

Namun.. Seperti kata orang-orang, dimana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, Dan itu yang terjadi pada melody. Saat kelulusan rony menyampaikan bahwa dia harus pergi ikut orangtuanya. Meskipun saat itu rony meninggalkan melody dengan sebuah janji yang diucapkannya dipinggir lapangan tenis komplek perumahannya. Tapi tetap, kepergian rony membuat hati melody sakit, karena tanpa dia tahu dan bisa dengan fasih menerjemahkan apa yang dirasakan hatinya, saat didekat rony dia selalu sangat bahagia. Tapi jika rony tidak masuk sekolah atau tidak ada di dekatnya melody merasa ada yang hilang. Rony bilang 'aku akan kembali untuk kamu, dibulan ke8 dalam kalender. Bulan yang sama saat aku terpaksa harus meninggalkan kamu dan kebersamaan kita. kamu akan tetap jadi melody terindah yang mengiringi setiap langkahku. aku akan kembali!!'

"ahh, ga mungkin! Dia kan sudah pergi. Dan ini.. Sudah hampir di penghujung bulan ke-8!" melody mencoba menenggelamkan kembali nama itu, meski tidak bisa dipungkiri. Pikirannya begitu kuat memegang nama 'rony' seseorang dimasa lalunya, yang sepertinya cukup berarti buat melody.

"Duarrr!!" nabilah menepuk pundak cindy dari belakang, sampai cindy kaget dan berteriak. "nabilahhhh!!" ...
"uuu, marah! Hehe, maaf.. maaf! Becanda cindy.."
ucap nabilah sambil tersenyum lebar di hadapan cindy.
"ga lucu!" jawab cindy ketus
"kalo yang ini... lucu ga cin?" nabilah bersiap menggelitik cindy
"jangan lakuin itu bil!" cindy bergeser menjauhi nabilah, tapi nabilah terus menggoda cindy. Mereka terus bercanda sambil menunggu kedatangan ayana.

"haiiii.." ayana setengah berjongkok di depan cindy dan juga nabilah "maaf telat! Hufttt Capenya.."
nabilah dan cindy menatap ayana.
"ish, biasa aja liatinnya! Aku tau ko, aku telat.. Kan udah minta maaf!" dengan mengedip-ngedipkan matanya yang sayu
"ya.. ya... maafin yah!" ayana merayu cindy dan nabilah yang masih menatapnya.
"apa.. perlu aku cium kalian? Biar kalian maafin aku! Hemmm" dengan senyum manis penuh maksud. "owh,, ga usah! kita ga marah ko? ia kan cindy!" kata nabilah memberikan isyarat pada cindy, "ga apa-apa ko bil, mumpung gratis tau! Banyak yang mau di cium sama aku. masa kamu yang di kasih gratis ga mau sih!" "haha, ga usah chan beneran! ga perlu Ok!"
jawab nabilah dengan senyum tak karuan. Dia paling tidak suka kalau harus dicium. Cindy tertawa melihat ayana yang terus berusaha untuk mendaratkan ciumannya di pipi nabilah.

Saling kejar angka terjadi XI A I kembali memimpin tipis 44-45, jeje dan kawan2 mendapatkan kesempatan emas. Saat ghaida mencoba 3point tembakannya gagal, dengan cepat fika melakukan rebound dia passing bola ke dhike dari dhike ke jeje. Dhike berlari kedepan, jeje bersiap menghadapi kinal.
Jeje terus mendrible bolanya, saat jaraknya sudah begitu dekat dengan kinal. jeje membalikan tubuhnya seolah akan melewati kinal dari arah kanan tapi ternyata dugaan kinal salah, jeje melakukan cross over saat akan berbalik dia memutarkan bola melewati bagian belakang punggungnya sehingga ada di sebelah kirinya. Jeje kembali memutar tubuhnya dan berhasil menguasai bola dan juga sudah melewati kinal dia chest pass bolanya ke dhike. dengan lay up yang apik dhike berhasil membawa kelasnya unggul 46-45.

kinal dan teman-temannya membangun serangan. waktu yang sudah mepet, ditambah stamina yang sudah terkuras. membuat mereka melakukan passing cepat, chest pass kemudian pick and pal screen (melindungi pembawa bola). Kinal melewati dhike, *passing* Assist (overan) yang indah diperlihatkan kinal pada runa yang ada di pojok bawah area 3point, dan dengan cepat tapi begitu terarah runa melakukan jump shoot ....... Bola berputar dalam ring dan... *gebloss* 3point hasil assist dari kinal dan jump shoot runa membawa kelas mereka memenangkan pertandingan dengan skors 46-48. Para pendukung bersorak menyerukan nama teman2nya yang berada di lapangan. Jeje, dhike dan teman-temannya terlihat kecewa. Tapi, itulah pertandingan pasti ada yang kalah dan yang menang.Pemain XI S I menghampiri pemain XI A I kedua team bersalaman dan mengucapkan selamat atas kemenangan kelas XI A I.

"mmmm, teman-teman aku mau ngomong sesuatu sama kalian!" kata cindy, Ayana dan nabilah berhenti bercanda.mereka melihat kearah cindy dan bersiap mendengarkan.

"aku... aku... Hemmm" cindy begitu sulit mengeluarkan kata-katanya "aku sebenarnya ngajak kalian kesini itu buat.. buat..." cindy memainkan tangannya, nabilah dan ayana semakin penasaran. "aku... mau minta maaf sama kalian!" ucap cindy tertunduk, nabilah masih melihat cindy tanpa berkomentar seperti ayana. "kamu kan ga punya salah ataupun masalah sama kita, kenapa harus minta maaf cindy?!"
ujar ayana melihat cindy yang masih tertunduk
"aku minta maaf karena.. a,,aku ga bisa satu sekolah sama kalian!" sesuatu yang hangat mengalir membasahi pipi cindy. ayana tersentak kaget. "tapi.. bukannya, bunda kamu.. ngasih ijin cindy! Terus sekarang kenapa tiba-tiba kamu bilang ga bisa satu sekolah dengan kita?!" ayana menatap cindy.
"bunda mencabut ijinnya karena bunda menghawatirkan aku! Bunda takut apa yang terjadi sama ka kinal dulu.. itu terjadi sama aku," cindy menjelaskan keadaanya "bunda menyuruh aku untuk masuk di sekolah yang sama dengan ka kinal. Dan... Jarak dari rumah ke sekolah tempat ka kinal itu ga terlalu jauh! Ga kayak ke GSA!!"..

Dengan senyum sedikit sinis, nabilah akhirnya mengeluarkan suaranya untuk berkomentar "akhirnya.. diucapkan juga!"
ayana menatap nabilah heran, begitupun cindy.

Bukan reaksi seperti itu yang ada dalam pikiran cindy saat dia akan menyampaikan berita ini.

"kenapa pada ngeliatin? Ada yang aneh?!" tanya nabilah dengan kedua tangannya diangkat kesamping.
"bukan aneh lagi bil! sangat amat aneh! kalau ada kata yang lebih dari kata 'aneh' pastinya itu buat kamu sekarang!!" jawab ayana melihat nabilah yang sedang berdiri. "cindy barusan bilang bakal ga satu sekolah sama kita! Terus kenapa reaksi kamu gitu aja?!!" pertanyaan yang diajukan ayana, membuat cindy tak perlu susah untuk menanyakannya pada nabilah.

"terus? mau kalian reaksi aku gimana? Marah sampai meletup-letup kayak popcorn? Atau ehhhhh.. nampar cindy? Karena dia udah nutupin semuanya dari kita! Atau.. gimana kalau aku marah, nampar, udah gitu pergi sambil nangis dan bilang ke cindy kalau kita bukan lagi sahabat?!! Kalian mau yang mana?" nabilah melihat kedua sahabatnya yang masih duduk, cindy menatap nabilah dengan mata berkaca-kaca. "kalau aku sih pengennya yang ke3!! kamu mau yang mana achan? menurut kamu.. mana reaksi yang harus aku perlihatkan dihadapan kamu cindy?" setalah nabilah menatap ayana dan mengajukan pertanyaan, nabilah beralih menatap cindy. cindy tak kuasa menahan air matanya, dia menangis melihat sikap nabilah. Untuknya lebih baik melihat nabilah langsung mengungkapkan kemarahannya daripada melihat nabilah dengan sikapnya yang seolah tidak marah tapi sebenarnya dia sangat kecewa akan dirinya. "kenapa pada diam? Bukannya kalian mau aku ber,-"

"marahlah bil! teriaklah, marahlah sama aku!!" cindy memotong ucapan nabilah dengan tangannya dia simpan di tangan bagian atas nabilah. "aku tahu, aku salah! Karena tidak bilang langsung sama kalian!! marahlah nabilah marah! jangan seperti ini!!" cindy tertunduk, tangannya masih memegang tangan nabilah. air matanya begitu deras. Ayana ikut menangis melihat cindy, dia merasa cindy tidak perlu mendapat kemarahan darinya ataupun nabilah. Ayana pikir, cindy tidak langsung menyampaikan keputusan ibunya karena dia tidak ingin membuat dirinya ataupun nabilah sedih.

..bersambung..

0 comments:

Poskan Komentar