Senin, 22 April 2013

JKT48 NOVEL #1 (SEASON II)

Pesta malam itu berjalan meriah dan sukses besar. aku melihat begitu banyak nafas nafas kemudaan serta kebahagiaan diantara mereka. sejak kejadian itu aku tidak berani menghampiri mereka. aku takut, sungguh aku takut.

Aku tidak seperti mereka yang mempunyai banyak harta serta kecantikan yang menonjol. Dibalik dedaunan yang membatasi pagar aku hanya bisa menonton. ya, walaupun aku bisa berjalan masuk dan bercampur dengan kemeriahan pesta, aku lebih memilih untuk berdiam di tengah kesunyian ini.

Pesta diadakan diteras rumah kepunyaan teman sekelas ku. Lampu hias serta aksesoris yang tergantung sungguh memanjakan mata bila melihatnya. Mereka berdiri atau mungkin duduk di satu tempat dengan ruangan yang begitu luas lengkap dengan kolam renang disisinya. Wangi hidangan yang tersaji dimeja sungguh menusuk hidung, seakan akan ingin segera menyantap hidangan tersebut.

Tiba tiba saja aku mendengar seseorang yang memanggil namaku. Aku kenal dengan suara panggilan itu, suara yang sangat aku suka bila mendengarnya. Aku menengok ke arah sumber suara, aku tersenyum memandangnya. Dia adalah teman baikku. Teman yang selalu hadir saat aku kesusahaan atau menderita, Dialah yang telah membuat aku kuat, Kuat untuk bisa melalui hidup didunia yang entah kejam ini. Dia bernama Devi Kinal Putri, Biasa aku memanggilnya dengan sebutan Kinal.

"Nyash, kamu ngapain menyendiri disini? kamu gak masuk kedalam?" Tanya teman nya itu.
Nyash hanya terdiam tertunduk. Nyash merasa bagaikan hidup di kehidupan yang berbeda. Walau begitu, Nyash berusaha bersikap tegar dihadapan temannya yang bernama Kinal tersebut. Bagaimanapun, Nyash tidak tega melihat temannya yang selalu menghkawatirkannya.

"Aku gak apa-apa. Aku hanya ingin menghirup udara segar. Aku lebih nyaman berada disini. Anginnya sungguh sejuk, iya kan?"

Kinal ingin mempercayainya, namun ia ragu. Pesta yang diadakan 3 tahun sekali dengan biaya serta kemewahan yang sungguh luar biasa pasti sangat sulit bagi siapa saja untuk mengabaikannya.

  "Apa kamu menghindari mereka semua?" Terka Kinal sambil menoleh kearah kerumunan pesta.
Nyash hanya terdiam, masih terdiam.

"Nyash, tolong jawab aku. Apa lagi-lagi kamu menghindari mereka semua? Apa kamu tidak merasa kasihan oleh Orang Tuamu? Orang Tua mu sudah susah payah mencari uang sana sini hanya untuk kamu ikut serta dalam Pesta besar ini. Ibumu ingin melihat kamu bahagia. Ibumu ingin sekali melihat senyumanmu yang sudah lama hilang. Aku mohon, jangan kecewakan Orang tuamu. Kamu adalah kamu, Temanku yang selalu ada untuk menjagamu. Apapun yang orang katakan terhadapmu, aku tidak akan perdulikan."

Nyash menjawab dengan nada sedikit agak kesal. "Aku mohon tolong hentikan. Sampai kapan kamu harus terus membelaku? Sampai aku terlihat seperti manusia pada umumnya? Apa setelah itu kamu akan berhenti memikirkan ku? Sudah aku bilang aku tidak apa-apa."

"Tapi aku lihat kamu tidak baik-baik saja!" Potong Kinal sembari membentak Nyash karena kesal.
"Jalani hidupmu seperti orang-orang pada umumnya. Kamu tidak usah perdulikan mereka yang telah mengejekmu atau mungkin merendahkanmu. Kamu adalah kamu, mereka adalah mereka." Tambahnya.

Nyash menunduk. Ia merenungkan dan menyaring semua perkataan Kinal barusan. Nyash sangat sayang pada kedua orang tuanya. Ia tidak ingin orang tuanya tahu bahwa dirinya tidak ikut dalam kemeriahan pesta. Uang yang sudah didapatkan dengan susah payah kini harus dibuang sia sia, Pikirnya.

Kinal memegang erat tangan Nyash dengan penuh kehangatan. Ia berharap Nyash mau ikut dengannya kedalam kerumunan pesta dengan perasaan percaya diri.

"Ayo Masuk..." Ucap lembut Kinal.
Nyash menggangguk Ragu.

Sebentar Nyash memperhatikan ke arah kerumunan pesta. Dengan perasaan terpaksa ia pun mulai melangkah masuk beserta dengan Kinal.


Aku melihat begitu banyak mata yang begitu menyeramkan yang mengarah ke arah ku. Kenapa dengan Mata Mata itu? Mereka memandang seolah olah aku membuat kesalahan.


"Eh, Ngapain dia ada disini? Bikin orang jijik aja." Seru seseorang.
"Nal, ngapain kamu ajak dia kesini? kamu kan tau sendiri semua orang gak suka kalau dia ada disini. Bikin aku mual aja."
"Udah suruh keluar lagi aja dia."
Mendengar semua penghasut itu tubuh Kinal merasa panas, ia kesal serta Emosi. Lain dengan Nyash, ia begitu drop begitu temannya memojokkannya. Nyash membalikkan tubuhnya, ia tidak ingin teman temannya melihat dirinya. Nyash berpikir ucapan temannya ada benarnya, ia takut semua yang melihatnya akan merasa mual.

Kinal menghampiri salah satu penghasut tersebut. "Memangnya kenapa? Dia sama seperti kita. Gak ada yang melarang dia untuk tidak hadir disini."

"Aku ragu dia bisa mendapatkan undangan nya. Memang nya dia mampu bayar? Orang tuanya saja seorang penjual Gorengan keliling. Apa kamu yang sudah membiayai dia?" Tambah Seseorang.
Ucapannya memang bisa dibilang Kasar. Apalagi dengan gampangnya menyebut profesi orang tua dengan perasaan merendahkan. Mendengar itu, Kuping Kinal merasa sangat panas. ia mengepal kedua tangannya dan menghampiri si penghasut terakhir itu.

"Apa katamu? Bisa jaga ucapannmu, tidak? aku sama sekali gak membiayai Nyash sedikit pun. kenapa? Karena aku tidak pernah membeda bedakan apapun profesi yang dimiliki orang tuamu. Aku yakin semua orang bisa melakukannya jika mereka bersungguh sunguh. apa kamu iri dia bisa ikut dalam pesta ini dengan profesi orang tua yang kamu bilang tadi?"
"Apa? Iri? aku iri dengan dia?"
"Sudah Hentikan!" Teriak Nyash tiba-tiba.
Nyash begitu drop. Ia sudah tidak sanggup berada dalam kerumunan itu.

"Lebih baik aku keluar dari sini. Dan hentikan pertengkaran kalian. aku gak mau pesta ini berakhir ribut hanya karena aku. Aku akan pergi dari sini. lanjutkan Pesta kalian. Maaf ..."
Kata "Maaf" yang terakhir Nyash ucapkan itu segera berakhir pula keberadaan Nyash. Ia berjalan keluar menjauhi pesta.

Kemudian Kinal Memandang semua teman teman yang sudah membenci Nyash. Ia kembali mengingat betapa baiknya Nyash pada teman temannya itu. Walau teman temanya tidak pernah tau akan hal itu. Karena itulah mengapa Kinal selalu sedih. Semudah itukah mereka merendahkan seseorang tanpa berpikir panjang? Semudah itukah mereka mengejek orang orang yang mungkin tidak sempurna? Mengapa ada orang yang seperti itu.

"Apa kalian puas? Dalam hidupnya dia hanya berpikir tentang orang lain. Dia terlalu lembek maka ia selalu direndahkan. aku juga benci dengan sikap itu. tapi, apakah kalian pernah berpikir bahwa Nyash sangat baik terhadap kalian? Ia selalu memikirkan teman temannya."

Kinal Kesal dan segera menemui Nyash yang baru saja berjalan keluar.


***


Keesokan paginya, suasana taman begitu ramai oleh orang orang yang lagi berolah raga. Udaranya sungguh sejuk dipadukan dengan pandangan yang memanjakan mata, dimana jika kita melihat ke kanan atau kiri, banyak bangunan bangunan mewah dan modern. Keempat gadis belia itu sengaja memanfaatkan akhir pekannya dengan berlari bersama untuk melatih fisiknya. Mereka adalah, Stella, Melody, Ve dan Dhike. Sudah sepuluh menit mereka berlari. Suara hentakan sepatu tidak henti hentinya berhenti, semakin lama hembusan nafas semakin kuat, keringat terus mengucur hingga menembus kaos yang mereka kenakan itu.

''Bentar dulu, deh. Aku capek, aku istirahat dulu.'' keluh Dhike menghentikan langkah kakinya. Nafasnya sudah tidak stabil, ia sulit mengambil oksigen. Fisik Dhike memang bisa dibilang lemah dari yang lainnya.
''Yaudah, kita istirahat dulu aja.'' kata Stella berusaha memaklumi keadaan Dhike itu. Kemudian semuanya manggut manggut sepakat.

Mereka segera beristirahat duduk di kursi taman. Mata Ve mengamati semua teman temannya itu, tidak ada yang membawa minuman. Ve inisiatif, ia segera mengirim pesan pada supirnya itu agar segera menghampirinya dan membawakan minuman untuk teman temannya. Siapa sih yang tidak kenal dengan Ve, remaja yang terlahir sebagai anak konglomerat. Ia punya supir dan bahkan seorang bodyguard yang selalu menjaganya diam diam. Memang, tidak enak rasanya jika terus di awasi, apalagi Ve masih remaja, tentu ia berharap banyak kebebasan. Namun, mau di apakan lagi, orang tuanya terlalu mencemaskannya.

Belum lima menit berlalu, sebuah mobil yang dikendarai oleh supir milik Ve itu datang menghampirinya. Supir itu segera memberi empat botol minuman segar pada Ve.

Sesegera itu pula supirnya meninggalkannya.

''Duh, Ve. Bagaimana supir mu itu bisa tau kita ada disini?'' tanya Melody keheranan.

Ve cengar cengir, ia ingin jujur bahwa ada yang mengawasinya, tapi itu hanya membuat teman temannya merasa tidak enak. Terpaksa mulut Ve di kunci.

''Jangan jangan, supirmu itu selalu mengawasimu ya?'' tukas Stella.

Mendengar tuduhan Stella membuat Ve salah tingkah. "Bu..Bu.. Bukan. Mana mungkin. Yang benar saja." Stella masih mencurigainya. ia masih tidak percaya dengan ucapan Ve.

Mana mungkin anak konglomerat begitu bebas. Dengan harta yang banyak maka mereka harus banyak pula melindungi barang barang yang berharga, termasuk anaknya (Ve).  Bagaimana jika ada penculik yang menyandera anaknya (Ve)? mereka pasti berfikir sampai situ. Aku harus mencari pengawal nya. Pasti ada disekitar sini. Ucap Stella dalam hati.

Belum lama Stella akhirnya menemukan salah satu dari bodyguard milik Ve yang sedang menelepon tepat 30 meter dihadapannya.

"Lalu itu siapa?" Ucap Stella sambil menunjuk ke arah bodyguard milik Ve.
Semua mata memandang Pria yang telah ditunjuk Stella barusan. Melody serta Dhike ikut keheranan.

Ve panik. "Siapa? aku gak tau. Mana mungkin kamu tau dia itu pengawal ku atau bukan, iya kan?"

"Hey, hey hey. jangan salah, aku sering melihatnya di tv. Pakaian nya sungguh rapi, memakai Jas serta kacamata hitam. Tubuhnya juga sangat berotot. Pas banget sama pria itu." Jawab Stella.
Ve menghela nafas, ia menyerah. Toh nantinya juga rahasia yang ditutup tutupin juga akan terbongkar. Lebih baik tau sejak dini daripada dipendam. Itu akan membuat perasaan yang tidak akan pernah tenang. Akhirnya Ve memang mengakui nya.

"Iya, Iya. kamu benar, Stell. Memang benar kalau ada yang sedang mengawasi kita."
"Waaaahh... Kamu hebat, Ve." Kagum Dhike.
"Hebat apanya, Dhike? bagaimana kalau kita sedang berada di kolam renang dan mereka mengawasi kita? aku paling gak suka kalau ada seorang pria yang melihat tubuh ku ini saat sedang memakai Bikini." Keluh Stella.
Mereka serentak tertawa bersama.

"Apa kamu juga punya supir, Ve?" Tanya Stella berlebihan
Ve menggangguk.

''Aku baru tau kalau kamu juga punya supir, Ve.'' Kagum Stella. Mereka belum lama ini berteman, Stella masih belum tahu banyak tentang latar belakang masing masing temannya itu, Kecuali Dhike dan juga Melody.

''Wah, kapan kapan boleh kan aku di ajak ke rumah mu, Ve. Aku juga mau ke rumah Dhike dan juga Melo. Ya ya ya? Dengan begitu kita akan bisa lebih akrab.''

Ekspresi Stella seketika itu pula memancarkan wajah yang penuh pengharapan. Mereka segenerasi, sama sama remaja, bagaimanapun sikap pendiamnya seseorang, tapi kalau sudah menceritakan latar belakang mendadak lancar bicara. Mungkin Dengan mengetahui latar belakang masing masing akan mendapat manfaat, yang kekurangan tentu harus kita bantu, sebaliknya, yang punya lebih jangan takut untuk berbagi. Itulah sahabat yang sebenarnya dan di inginkan semua orang.

''Ya tentu boleh, Stell.'' Sahut Melody.
Tidak jauh dari Melody dan kawan kawan berkumpul, Terlihat Ayu yang saat itu habis membeli sarapan melewati mereka diseberang jalan. Perban yang terbalut di kaki serta tangan Ayu sungguh menonjol, membuat setiap mata memandang kearah perban tersebut. Ayu masih belum mengetahui keberadaan mereka, begitupun sebaliknya. Namun, Melody sempat melirik ke arah seberang jalan dengan pandangan samar samar.

"Ayu..." Ucap ragu Melody.
Walau Ucapan yang diucapkan Melody terdengar sungguh pelan, tetapi sesegera itu membawa akibat. Semua mata mengarah ke arah seberang jalan. Ingin tahu apakah yang diucapkan Melo itu benar. Rasa kasihan tumbuh setelah Dhike tahu bahwa itu benar Ayu.

"A.. Adik... Siapa yang sudah mencelakaimu? itu pasti sakit."
Dhike segera berlari menghampiri Ayu.

"Apa tadi dia bilang? Adik? jadi wanita itu adalah adiknya?" Ucap Stella keheranan.
"Bukan begitu, Stell. Dia masih 1 apartemen dengan Dhike. Mereka begitu dekat sehingga mungkin Dhike mengganggap dia udah seperti keluarga sendiri."
"Oo.. Jadi gitu, Mel."

Ayu terperangah setelah Dhike muncul tiba tiba dari sisinya. Dengan perasaan kasihan Dhike jalan perlahan mendekati Ayu. Ia begitu penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada diri Ayu. Dhike mengganggap Ayu sudah tidak punya siapa siapa kecuali dirinya. Apapun yang terjadi pada diri Ayu, Dhike sudah merasa bertanggung jawab terhadapnya.

"Apa yang sudah terjadi? Kenapa kalau kamu sakit gak bilang bilang? Lututmu kenapa? apa itu sakit?"
Ayu ingin sekali Jujur terhadap Dhike bahwa ia terluka saat sedang latihan pada malam itu. Tetapi Dhike pasti bertanya tanya untuk apa Ayu melakukan latihan? Hanya Dhike lah yang selalu menghkawatirkannya dan menjaganya. Ayu ingin sekali melepaskan semua kesusahannya dan menceritakan semua yang ia rasa pada Dhike. Tetapi sungguh sulit. Mata Ayu mulai berkaca kaca, ia menjadi sedih jika mengingat semua kesusahan yang ia alami. Tanpa sadar seluruh tubuh Ayu menjadi lemah, makanan dalam plastik yang ia gengam pun terlepas. Ayu berlajan mendekap pada Dhike. Ia menangis tersedu sedu dalam dekapan Dhike.

"Kak... Aku sungguh kesulitan. Aku sungguh kesusahan. Aku merasa gak baik baik saja. Jangan pernah jauh dari aku. Cuma kakak yang aku punya. Tolong, percayalah apa yang semua udah terjadi pada diriku dan percayalah apa yang udah aku ucapkan. Aku Mohon ..."
Dhike sempat terperangah mendengarnya.

Sebegitu susah nya kah kehidupan yang dialami Ayu? Ayahnya menghilang begitu saja yang entah pergi kemana atau mungkin masih ada didunia ini atau tidak. Ibunya jarang sekali menengoknya. Teman temannya tidak ada satupun yang mengerti keadaannya. Dia menjadi pendiam dan frustrasi karena semua itu.

"Kakak akan selalu ada disisimu. Dan selalu menjagamu ..."



Ditengah kota yang terbilang mewah terdapat sebuah restoran kecil yang berdiri. Restoran tersebut menjual berbagai macam kue kue kering dan roti. Terlihat begitu banyak para pelanggan yang mengantri hanya untuk membeli kue ataupun roti. Rasa kue dan roti roti yang dijual memang bisa dibilang sungguh enak. Tidak heran jika sampai mempunyai pelanggan tetap sebanyak itu. Seorang wanita cantik selalu hadir untuk melayani setiap pembeli dengan senyuman yang manis.

"Halo, Selamat siang dan selamat datang ditoko kami. Kami menjual berbagai kue dan roti kering. Kami harap anda sekalian menikmatinya. Terima kasih."

Tidak ada henti henti nya pelayan wanita itu mengucapkan kalimat tersebut didampingi dengan senyuman manisnya. Ia mengganggap senyuman lah yang mampu membuat kedamaian.

Hai! Namaku ...
Hmm... Setiap orang yang mendengar namaku pasti sudah tau tempatku berasal.
Aku senang sekali membuat kue kue cantik dan menjualnya.
Walau ini bukan milik usahaku, tetapi aku menyukai pekerjaan ini.
Aku tinggal disebuah apartemen didekat sini.
Aku sangat beruntung mendapat pekerjaan yang tidak jauh dari tempat ku tinggal.
Aku tinggal seorang diri dan jauh dari orang tuaku.
Aku tidak ingin selalu merepotkan orang tua ku makanya aku mencari pekerjaan.

"Haruka, bisa tolong kamu buatkan kue tambahan? Biar aku yang melayani para pembeli." Seru rekan satu kerjanya.

Wanita yang ditanya nya itu menggangguk dan segera melangkah keruang pembuatan kue.

Yup! Namaku adalah Haruka Nakagawa.
Golongan darahku adalah O dan tinggi badanku 160cm, lengkap sekali, bukan?
Aku berasal dari Jepang dan sudah tinggal di Indonesia selama 3 Tahun.
Aku sudah bisa berbahasa Indonesia. Tetapi bukan sepenuhnya bisa, kadang masih ada beberapa kata yang masih tidak kupahami.

"Disaat pekerjaan menumpuk begini kamu masih bisa tersenyum? Kamu tidak mengeluh atau kesal?" Tanya Seorang rekan wanita nya yang berada disebelahnya.
"Aku suka melakukannya. Aku suka membuat makanan seperti kue."
"Apa menurutmu itu sangat mengasyikan? apa itu semacam hobi mu? kalau aku, apapun pekerjaan yang kudapat, tetap saja akan merasa jenuh. sangat gak asik jika mendapat pekerjaan tambahan kayak gini."

Haruka hanya bisa memakluminya saat mendengar keluhan dari salah satu rekan kerjanya. Pekerjaan yang dikerjaan tanpa ada rasa semangat dalam diri memang sulit untuk dinikmati. Aku beruntung, tidak pernah mengeluh dan selalu senang mengerjakan sesuatu. Ibuku sudah mengajarkan itu sejak aku masih kecil.

"Oh, iya. Haruka, Apa kamu punya seorang pria?" Ucap penasaran rekannya itu.
"Pria? Aku punya banyak teman pria."
"Bukan, Bukan. maksudku seorang pacar. punya?"
"Ohh.... Enggak, Memangnya kenapa?"
"Kamu berasal dari Jepang, Cantik, putih dan kulit mu itu sungguh mulus. Masa ia gak ada pria yang melamarmu?"
"Aku gak sempat memikirkan itu. Jangan berlebihan memujiku. Aku masih belum siap akan hal itu."
"Kenapa?" Tanyanya agak memaksa.
"Karena ... Impianku belum tercapai. Aku lebih suka menggapai impianku terlebih dahulu. Aku sangat suka dengan proses nya, Proses dimana aku mengejarnya, mengejar impianku. Begitu."
"Apa semua orang Jepang sama sepertimu?"
"Enggak juga ..."
"Ohh.. jadi kayak gitu, Baiklah. Lanjutkan kerjamu."
"Ya."

Sesekali, rekan satu kerjaku sering menggodaku dan memujiku.
Mereka sering sekali bertanya tentang kehidupanku.
Mereka penasaran, ingin tahu mengapa aku bisa seperti ini di umurku yang masih sangat muda.
Mereka selalu bilang bahwa aku ini pekerja keras dan anak yang selalu ceria.
Dan aku sangat senang, diantara mereka tidak ada satupun yang membenciku.
Tersenyumlah dengan semua orang, karena senyuman mampu mengubah hati seseorang menjadi gembira dan nyaman memilikimu. Banyak senyum berarti banyak teman.


BERSAMBUNG ...



Terima Kasih Yang Sudah Mendukung Novel Ini.
Follow @JKT48fanfiction
Writer : Chikafusa Chikanatsu

0 comments:

Poskan Komentar