Selasa, 23 April 2013

Friendship Candy -2nd Chance (48jam, 48nama)- 9th~Chapter

“ceritanya nanti di lanjut kak!” ujar Nabilah pada Ve, dengan matanya dia arahkan ke Ayana.
“kamu kok belum pulang, Bil?” tanya Ayana setelah di depan Nabilah
“aku..,” Nabilah memainkan matanya untuk memikirkan alasan “aku lagi... em~ nungguin kak Melody!” di akhiri senyum Nabilah memberikan alasan
“Owh~” Ayana mengangguk-angguk “terus kak Melody nya? Belum datang?!” Nabilah mengangguk
“ya, jelas kak Melody belum datang. Orang dia kan gak ada acara jemput kamu! Hihi..” bisik Ve, membuat Nabilah menanggapinya tanpa sadar dengan keberadaan Ayana “berisik!” ~ “kok kamu ngomongnya gitu sih!” Ayana memanyunkan bibirnya
“eh, eh~ bukan..bukan! bukan ke kamu Chan!!”
“hem~ terus? Kan disini cuma ada kamu sama aku?!”
“ini beneran bukan maksudnya ke kamu! Hehe.. aku tuh~… ngomong sama diriku sendiri, soalnya di otak ku lagi berisik. Nyuruh buat nyari makan! Dari tadi istirahat kan aku belum makan!!” Nabilah tersenyum memaksa.
“Aduhh, kak Ve lupa! iya, ya.. kamu kan belum makan dari tadi!!”
“Emmm.. kaaa…siannnn, ya udah~ pulang bareng aku aja yuk! Dari pada disini nungguin kak Melo, tapi gak dateng-dateng?!” Nabilah memasang tampang berbinar 'pucuk di petik jadilah teh kotak' :v pikir Nabilah. (duh Bil, lagian biasa juga kamu nebeng ama Anaya_-)
“cari makan dulu tapi... ya-ya-ya-ya?” Nabilah melebarkan senyumnya
“gimana ya?~ hmm~ okelah! Aku juga sama lapar! Yuk berangkat...” ajak Ayana.

Keduanya di tambah Ve pergi meninggalkan sekolah. Selama perjalanan, seperti biasa Ayana sibuk ngoceh berbagi ‘berita’ yang dia kumpulkan disekolah. Nabilah tidak bisa menolak informasi itu, dia pun jadi ikut larut dalam berita yang di bawakan Ayana.

**
“aku mimpa maaf~”
“Nabilah~”
“em~ maapin ya? kak Ve baik kok!”
“Nabilah~~”
“iya tahu.. Tapi—“
“Nabilah~~~!!”
Nabilah membuka kedua matanya dan mengedip-ngedipkan nya dengan cepat.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Ve menyadarkan
“kak.. Ve?”
Ve mengangguk “ia! ini kak Ve!” jawabnya atas ucapan Nabilah.
Nabilah tidak lagi bicara, dia mengarahkan matanya ke jendela dan.. seketika membelalakan kedua matanya saat melihat sinar mentari sudah menerobos gorden kamarnya, Nabilah bangun
“jam berapa ni?” tanya Nabilah kemudian
“kak Ve liat di jam dinding kamu sih, jam 06.30 pagi, Bil!!”
“HAH? APA?!” Nabilah kaget dan melihat jam dinding spongebob nya “KAK VEEEEEE! kenapa gak bangunin Nabilah?!” Nabilah segera berhamburan turun dari atas tempat tidurnya
“kak Ve udah bangunin kok!”
(Notes: Papa Mama gak ada *tau deh kemana*, Melody udah bangunin tapi Nabilah cuma jawab *hemm,, ia,, Nabilah akan bangun* pada Melody yang ada kuliah pagi. Sampai akhirnya Melody bicara sendiri untuk menitipkan Nabilah pada Ve)
“kalo kak Ve bangunin masa iya Nabilah telat bangun nya!!”
“yeee, kamu nya aja yang susah di bangunin!” Nabilah sibuk, panik, liatin sana-sini mencari handuk warna ping nya “kakak kamu juga udah bangunin kamu dari tadi subuh, ehhh~ kamunya hah heh hah heh doang! Sampai akhirnya kak Melody nitipin kamu ke kak Ve buat di bangunin, soalnya dia ada presentasi di kampusnya!”
“haduhh!!~ handuk aku mana ya?” dengan tanpa dosa nya Nabilah bicara menanyakan handuknya
“kamu gak dengerin penjelasan kakak ya?”
“aduhh~ udah siang ni! Kak Ve liat handuk aku gak?”
Ve cuma menghela nafas lalu menunjuk ke dalam lemari bajunya Nabilah, Nabilah membukanya dan tersenyum lebar “disini toh ngumpetnya! Hehehe, aku cari-cari juga!!-- hah? Aduh Lupa! Nabilah kan telat ya?! Aduh, aduh~ Nabilah telat~ gawat~ gawat~ gawat~..” Nabilah rusuh sendiri sambil lari ke kamar mandi, dan Ve hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah anak baru gede yang menolongnya.

“hah~ sudah jatuh, tertimpa tangga.. ini nih pribahasa yang cocok gambarin keadaan Nabilah sekarang!” Nabilah menggerutu di depan tiang bendera.
Ya, dia terlambat datang kesekolahnya. Dengan susah payah dan mati-matian Nabilah lari dari rumah ke tempat dia biasa nyetop angkot, dengan tanpa sarapan sebelumnya, sesampainya di sekolah dengan mengeluarkan rayuan maut yang tidak begitu memberikan efek ‘Wah’ pada satpam Nabilah bisa masuk ke sekolah, dia diperbolehkan masuk karena satpam tahu betul siapa saja langganannya yang datang terlambat ke sekolah, dan Nabilah tidak pernah ada di listnya. Karena itu si satpam memperbolehkan Nabilah masuk dengan wejangan agar Nabilah jangan sampai terlambat lagi kedepannya.
Merasakan perasaan lega karena bisa masuk sekolah, Nabilah berjalan cepat menggantikan tugas lari-lari sebelumnya. Nafasnya naik-turun gerakan kakinya terus melambat karena Nabilah merasakan capek yang amat sangat. Sialnya, sampai di depan kelas Nabilah di sambut guru yang punya disiplin tingkat dewa. Dia di jegal tidak bisa masuk ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran pagi ini dari sang guru, ditambah hukuman hormat di depan tiang bendera. Tapi, bukan Nabilah namanya kalau dia tidak melakukan protes pada apa yang gurunya bebankan, Nabilah melakukan pembelaan atas keterlambatannya tapi sayangnya guru wanita yang punya tinggi sekitar 180cm itu TIDAK bisa di goyahkan, Nabilah kembali meluncurkan alasan lain, kali ini dengan polosnya Nabilah bilang kalau teman-teman di kelasnya pada telat mereka bisa masuk untuk mengikuti pelajaran tapi kenapa giliran dia yang terlambat tidak boleh ikut pelajaran, mana dapat reward Hormat lagi.
*ya, iyalah Nabilah... gurunya beda pas temen-temen kamu telat!*.
Guru yang di kenal Mrs. Discipline itu membelototkan bola matanya ke arah Nabilah, belum si guru mengeluarkan kata untuk mengiringi tatapan maut matanya itu, Nabilah langsung menyerah tanpa kata-kata lagi, akhirnya dia berjalan ke tempat tiang bendera yang berdiri tegap di antara gedung SMP dan SMA.

“tumben ni lapangan sepi!” Nabilah menggumam, melihat sekeliling yang biasanya suka ada beberapa murid yang sedang di jemur di depan tiang bendera.
Sekolah internasional, dengan murid yang di dalamnya cukup banyak yang kelas tinggi dan begitu sangat modern dalam hal apapun yang ada di sekolah itu, tapi hukuman telat tetap klasik. Di jemur depan tiang bendera, angkat tangan kanan, kepala melihat keatas di mana merah putih sedang berkibar tertiup angin.
“berarti cuma kamu yang telat!” ucap Ve menganggapi Nabilah, Nabilah mendelik Ve dengan posisi wajahnya masih melihat keatas.

“kalau aja kak Ve gak cerita, Nabilah pasti gak akan kesiangan gini!” Nabilah menyalahkan Ve atas keterlambatannya
“loh? Kok kak Ve sih?! Kamu telat kan karena kamu susah di bangunin!!”
“iyya, tapi kan aku telat bangun karena semalam itu dengerin curhatannya kakak!!” Nabilah masih menyalahkan Ve dan seolah membantah yang di ucapkan Ve.
“kan kamu yang minta kakak, buat ceritain yang saat siang kepotong sama Ayana!!”
“kenapa kakak gak hentiin ceritanya? Kak Ve kan pasti liat jam di dinding sudah menunjukan jam malam untuk anak sebesar Nabilah!!”
“*sigh*”
“kenapa menghela nafas gitu? Nabilah bener kan?!” tanya Nabilah mendengar desahan Ve atas ucapannya. Nabilah bisa leluasa ngobrol di dekat tiang itu, karena pasti gak akan ada yang liat soalnya mereka sedang belajar.
“hmm~ iya, iya,.. kak Ve yang salah! Puas?" Ve mengalah, karena dia tahu dia tidak akan mungkin terus beradu argument dengan Nabilah yang cukup keras kepala. Sementara jam pasir terus meluncur ke sisi bawah, misi sudah di mulai dari kemarin sore. Harusnya pagi ini Nabilah dapat lagi murid yang akan dia mintai maaf, tapi karena terlambat, tidak ada satupun yang Nabilah dapat.
“nah... gitu dong, kalau salah ya akui!” ujar Nabilah dengan tenangnya,
semalam Nabilah memaksa Ve untuk menceritakan lanjutan ceritanya sampai tak terasa sudah jam 10 malam dan Ve sempat mengingatkan Nabilah kalau itu sudah jam 10. Tapi emang dasar Nabilah keras kepala, dia terus mendesak Ve untuk bercerita semuanya sampai akhirnya dia tertidur dengan sendirinya saat jarum jam sudah ada di angka 1.

Nabilah diam Ve pun ikut diam, saat Nabilah masih dengan tenangya nya melihat keatas, Ve mengitarkan matanya menikmati setiap pemandangan yang ada di sekolahnya, dari setiap sudut di sekolah itu banyak menyimpan kenangannya. saat masih jadi anak baik-baik dan juga saat sudah menjadi anak yang menyebalkan dan suka seenaknya.
“ki..nal...” Ve berbisik pelan menyebutkan nama seseorang
“kak Ve! ada yang mau Nabilah tanyain!?” Ve masih fokus melihat seorang murid yang sedang berjalan ke arahnya dan juga Nabilah
“Oy... kak Ve!! KAK!!! ck~ lagi liatin apa sih serius bener!? Ampe ucapan Nabilah gak di dengerin!” Nabilah komplain tapi Ve tetap tidak mendengarkan “haaah~” Nabilah mengeluarkan keluhan lewat nafasnya, dan wajahnya masih dengan gagahnya melihat keatas.
Nabilah melihat lagi Ve tapi kali ini dia melihat langsung dengan full seluruh matanya, tidak seperti tadi hanya dengan sudut mata saja. saat Nabilah bisa melihat jelas wajah Ve, dia melihat si arwah itu sedang melihat ke arah lain, karena penasaran Nabilah pun mengikuti alurnya dan... saat Nabilah akan mleihat arah itu Nabilah terkejut “HA!~” seorang murid berseragam SMA sudah berdiri di sampingnya, dia melirik Nabilah yang terkejut, karena sadar di tatap, Nabilah pun segera meminta maaf “m-maaf kak!” ucapnya dengan kembali menjalankan ‘tugas nya’ murid itu hanya tersenyum sekilas lalu kembali melihat bendera.
Kini Nabilah memiliki teman dalam menjalankan tugasnya.
Raut muka Ve yang pucat terlihat sedih ‘apa yang terjadi?’ pikir Ve dengan matanya melihat seseorang. Nabilah diam karena di sebelahnya ada seseorang ‘wajahnya terlihat capek?’ Ve masih berpikir dengan kesedihan masih menyelimuti wajahnya.
Nabilah merasakan bosan, capek, panas, sampai dia berkeringat, sudut matanya melirik Ve tangan kirinya diapakai untuk menyeka keringat yang ada di keningnya. lalu *kreuikkkk~* Nabilah melebarkan matanya saat mendengar suara dari perutnya, murid yang ada di samping nya melihat Nabilah kemudian tersenyum dan bicara
“kamu lapar?” tanyanya
“heh?” Nabilah melihat kearahnya, tapi si murid itu masih melihat keatas
“perut kamu barusan bunyi!” katanya lagi, Nabilah tersenyum malu dengan kata-kata yang dia dengar.
“hehe~ aduh Nabilah jadi malu...” ucap Nabilah masih dengan senyum malu-malunya.
Murid itu tersenyum mendengar ucapan Nabilah. Si murid yang tidak melepas penglihatannya dan tidak menurunkan wajahnya dari atas tiang bendera, tiba-tiba menurunkan tangannya dan membalikan tas di punggunggnya, dia mencari-cari sesuatu dan.... dia memberikan sesuatu itu ke depan Nabilah
“eh? a-aapa ini kak?”
“buat kamu, biar cacingnya gak pada nyanyi!” tuturnya di barengi senyum khas dari wajahnya. Dia memberikan Nabilah roti selai coklat
“buat Nabilah kak?” dia mengangguk “ma-maakasih kak!” Nabilah mengambilnya tapi dia ragu untuk memakan roti itu karena takut ada guru yang melihatnya
“kakak bantuin kamu, kamu makan aja rotinya biar kakak liatin sekeliling!!” murid manis itu menawarkan, Nabilah tidak mungkin menolak kebaikan seniornya yang langka dia dapat. Dia membuka bungkus rotinya dan dengan speed cukup cepat Nabilah memakannya.
*Ve masih memakukan pandangannya dan begitu asik dengan memory lamanya*.

Bell pelajaran pertama berbunyi, itu artinya hukuman Nabilah dan juga murid yang baik sudah habis, Nabilah merapihkan mulutnya agar tidak terlihat sisa-sisa rotinya, dan si murid SMA bersiap pergi menuju kelasnya yang sudah tidak dia masuki selama 2hari.
“kak!” Nabilah memanggil seniornya, dia berbalik
“ya?”
“um~ makasih ya kak, untuk rotinya!” Nabilah tersenyum cerah, dia pun membalas lalu membalikan lagi badannya dan pergi.
“eh? Nabilah lupa! Tu kakak siapa namanya ya?! Hesss- Hadduh--” Nabilah hanya bisa melihat punggung si senior.
Nabilah mulai berjalan menuju kelasnya, tapi saat baru beberapa langkah... Nabilah baru sadar sesosok arwah yang selalu mengikutinya tidak ada berjalan di sampingnya, Nabilah melihat kembali ke belakang dan dengan gontai dia melangkah balik pada Ve yang masih terpaku.
“kak, ayo balik ke kelas!” tidak ada respon.
“Kaa~aaak Ve...” Nabilah melambaik-lambaikan tanganya di depan wajah Ve.
“Kak Ve!” Nabilah mencoba melakukan kontak dengan Ve tapi dia malah membelalakan matanya dan menatap tangan kanannya yang bisa menembus bahunya Ve. “Waaa~ Kee..ren!!” ucap Nabilah mengagumi apa yang baru dia alami. Dengan senyum jahil di sudut bibirnya Nabilah melakukan lagi kontak dengan Ve tapi lagi-lagi nembus, dan lagi~ dan cuma nembus lagi, coba lagi~ dan masih tetap hanya nembus, Nabilah cekikikan senang. tapi... saat yang ke 4 kalinya, belum tangan Nabilah sampai, Ve terlebih dulu menyetop apa yang akan di lakukan Nabilah
“Stop! Itu sakit tahu!!” komplain Ve pada apa yang di lakukan Nabilah
“sakit? Gak kena juga! Masa ia sakit?!” kata Nabilah
“itu beneran sakit Nabilahh!!” jawab Ve
“di giniin doang sakit?” kata Nabilah sambil kembali melakukan kontak dengan Ve
“udah di bilangin itu sakit! AHH!! bandel banget sih~” suara keras dari Ve cukup membuat Nabilah kaget, Nabilah buru-buru minta maaf pada Ve
“iya-iya-- maaf! Jangan marah dong, kak!!” kata Nabilah
“kamunya sih, di kasih tahu gak mau nurut! Saat tangan kamu nembus badan kakak, itu terasa sakit sama seperti kalau kamu mendorong bahu seseorang, orang itu merasakan sakit!!” Nabilah memainkan bibirnya “kamu pernah kan merasakan sakit saat bahu kamu di dorong seseorang?” Nabilah menggeleng, karena dia tidak pernah merasakan di dorong. “hemm~ ya udahlah!!” kata Ve,

Nabilah merasakan aneh pada sikapnya Ve kali ini, sebelum bahkan saat Nabilah di hukum sikapnya masih biasa saja padanya bahkan masih sempat meledek halus, tapi saat Ve melihatkan matanya pada seseorang ‘seseorang? siapa ya tadi yang di lihat kak Ve?’ pikir Nabilah sambil berjalan dengan sudah kembali di temani Ve. Selama berjalan tidak biasanya si arwah ataupun Nabilah saling diam, mereka selalu ada topik pembicaraan kalau sedang jalan berdua dan kondisi sekeliling aman dari gangguan orang-orang.
Tinggal beberapa langkah lagi Nabilah akan sampai di kelasnya, tiba-tiba Ve mengucapkan beberapa kata dengan suara yang hampir berbisik “yang tadi itu...” Nabilah mengerung karena merasa mendengar arwah di sebelahnya mengucapkan sesuatu “yang tadi itu Kinal, Nabilah!”
“apa?” tanya Nabilah untuk memastikan apa yang di ucapkan Ve.
“yang tadi di hukum bareng kamu itu... dia Kinal!!”
“HAAAH!!” tanpa Nabilah sadari dia sudah ada di ambang pintu masuk kelasnya, otomatis teriakannya membuat se isi kelas termasuk guru yang baru datang dan baru duduk di mejanya melihat kearah Nabilah.
“ada apa Nabilah?” tanya si guru laki-laki melihat Nabilah
“huh? Eeeh~ em~.. ng-nggak pak! Gaaak apa-apa!! Hehe..” ucap Nabilah sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, wajah teman-teman masih tertuju padanya. Ayana dan Gaby saling menukar pandang melihat kelakuan sahabatnya yang sudah mereka rasa aneh, akhir-akhir ini.
“ya sudah, duduk sana!” kata guru sejarah nya itu menyuruh Nabilah.
Dengan setengah membungkukan badannya Nabilah mengucapkan iya dan berjalan ke mejanya. Dia mendapat tatapan penuh tanya dari kedua sahabatnya. 'istirahat pasti di berondongi pertanyaan nih!' pikir Nabilah sambil duduk, Ve hanya bisa diam karena melihat posisinya Nabilah sedang tidak bisa di ganggu dan Ve pun tidak ada niatan untuk mengganggu Nabilah.

‘eh, iya.. Nabilah kan mau tanya sesuatu ke kak Ve!’ bisik Nabilah dalam hati dengan tangannya memainkan ballpoint, dia memainkan matanya untuk mencari Ve. ‘hemp! tu arwah kemana sih? lagi dibutuhin juga!!’ Nabilah celingukan sampai Gaby yang duduk di sebelahnya (tempat duduk mereka satu seat - satu seat) melihat Nabilah heran ‘aduh kak Ve, muncul dong! Kak Ve dimana sih?!’ masih celingukan tidak fokus pada pelajaran (Gaby memberikan isyarat pada Ayana untuk melihat tingkah Nabilah). Saat Nabilah melihat kearah kiri (wajahnya masih tanda tanya) dan kemudian kearah kanannya... tiba-tiba Nabilah tersentak kaget (wajahnya jadi tanda seru) sampai membuat ballpoint yang tadi dia pegang jatuh dan mengeluarkan bunyi yang cukup menyita perhatian guru yang sedang mencatat materi dan kemudian akan menjelaskannya, si guru yang rambutnya tidak menutupi semua kepalanya itu segera menengok ke arah murid
“ada apa?... Nabilah!-- Ada apa lagi kamu?” kata si guru setelah melihat Nabilah akan membungkukan badannya untuk mengambil ballpoint
“hah :O , ng-nggak pak, gak apa-apa!! Ini~ pulpen Nabilah jatuh!” jawab Nabilah dengan keringat dingin
“catat apa yang sedang bapak catat Nabilah! Nanti akan ada pertanyaan!!” lanjut si guru dengan suara beratnya
“iii..a pak! Nabilah lagi nyatet kok~” Nabilah menghela nafas

“ada yang mau Nabilah tanyain kak?” Nabilah berbisik dengan suara seeeee kecil mungkin
“tentang?” jawab Ve dengan tanya balik
“kak Ve nyimpen nomor HP teman-teman sekelas kak ve, gak?” Nabilah kembali berbisik sambil memainkan matanya, karena takut ada yang memperhatikan. Ve menggeleng “hah?! Gak ada!” Ve mengangguk
“hmm~ Kak Ve emang bukan mahluk sosial!” ~ “masa kak Ve gak punya nomor HP teman sekelas sih!?” Nabilah mendesah (Gaby sedang memperhatikan tingkah Nabilah). Ve kembali menggeleng
“kakak emang gak punya!” jawabnya “emang nomornya buat apa sih!?” lanjut Ve dengan pertanyaan
“buat di gadein! Ya buat di hubungin lah kak, aku ada rencana dengan nomor-nomor itu!!”
“rencana? Rencana apaan?”
“rencana renovasi rumah! Aduh kak banyak nanya banget!! Ada gak nomornya?” kembali Nabilah memastikan.
“gak ada, Bil! Lagian kamu kan tahu kalau kak Ve...-”
“ahh, STOP! Nabilah gak butuh penjelasan!!” kembali, tanpa sadar Nabilah mengucapkan kalimatnya dengan suara normal sampai si guru berhenti menggunakan tangannya untuk menulis “kamu bicara apa Nabilah?!” tanya si guru masih belum berbalik
‘Adduh! Mati aku~’ Nabilah menepuk jidatnya, teman-teman sekelasnya kini sedang meliht ke arah Nabilah yang dengan jelasnya mengucapkan kalimat yang tidak enak di dengar. “Nabilah~ Nabilah gak bicara apa-apa pak!” Nabilah mencoba mencari alasan.
“sekarang, kamu maju!!” perintah si guru yang sudah melihat Nabilah, Nabilah melebarkan kedua bola matanya “ayo maju, kamu catat ini di white board dan bapak akan menjelaskan pada teman-teman kamu!!” ~
“kan Nabilah bukan sekretaris pak! masa Nabilah yang nyatat di white Board!” Nabilah masih bisa melakukan protes dengan apa yang tadi sudah dia katakan (Gaby dan Ayana melihat Nabilah)
“kamu, mau catat ini ke white board” si guru menunjuk bukumya “atau kamu catat catatan bapak di buku kamu, sambil berdiri di luar kelas?!” Nabilah menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan gurunya, daripada di keluarkan Nabilah pun akhirnya maju ke depan untuk mencatat dan si guru menjelaskannya. ‘alahhhh~ sialnya ni hari!!’ gerutu Nabilah dalam hati.
2jam kurang Nabilah mencatat, si guru menjelaskan, dan Nabilah kembali mencatat dengan diikuti si guru yang menjelaskan.

~bell istirahat berbunyi~
Guru sejarah yang mengajar kelas VII-A + sudah menjadikan Nabilah sekretaris dadakan pun keluar dari kelas. Nabilah kembali duduk di mejanya, dengan gerutuan dari bibirnya
“haah! sial banget pagi ini~” Ayana dan Gaby yang ingin mengajukan pertanyaan pun jadi urung, “bangun telat, gak sempet sarapan, gak bekal makan buat istirahat, suruh hormat ke bendera, ehh~ di tutup sama tugas sekretaris.. NYATET di white board! Mana tadi yang di tulis panjang banget lagi!! Hah!!!” keluhnya dengan kedua tangannya menopang dagu.
“em~ kamu gak bawa makan Bil?” Nabilah mengangguk dengan bibirnya masih di tekuk, ke arah Gaby yang bertanya “ya udah, ni- berdua sama aku!” Gaby menawarkan, Nabilah tersenyum senang
“punya aku juga nih!” susul Ayana menawarkan
“Wahhh~ serius nih?” Gaby dan Ayana mengangguk, Nabilah masih tersenyum senang “kalian emang..... The Best!” balas Nabilah dengan tangannya sudah dia turunkan dari dagu dan bersiap mencicipi bekal Gaby dan Ayana, tapi belum tangan putih itu dekat dengan bekal. Nabilah keburu ingat akan misi dan rencana yang sudah dia susun tanpa sepengetahuan Ve, Nabilah memutar otaknya untuk mencari alasan agar bisa keluar dan mencari si arwah yang kembali tidak terlihat
“um~ Gab, Chan, gak jadi deh icip makanan kalian nya!” kata Nabilah, membuat Gaby dan Ayana bertanya 'kenapa'
“aku mau jajan aja ke kantin! Tahu sendiri porsi makan aku gimana!!” lanjut Nabilah memberikan alasan dengan senyum lebar ke arah Ayana dan juga Gaby, tanpa ada perlawanan kedua sahabat Nabilah itu hanya mengangguk dan bilam 'ohhh, ya udah!'. Nabilah heran dengan reaksi yang di tunjukan sahabat-sahabatnya itu, biasanya mereka suka ingin tahu lebih detail. tapi Nabilah tidak mau ambil pusing, diapun segera keluar dari kelasnya berjalan kearah.. kearah yang belum pasti, untuk mencari sosok Ve. ‘kak Ve dimana sih? ngilang-ngilang mulu!!’ pikir Nabilah sambil jalan. ‘waktunya kan udah di mulai! Dia malah bertingkah aneh!!’.
Nabilah masih berjalan, dia berpikir untuk ke taman sekolah, entah kenapa pikiran Nabilah mengaungkan tempat yang di penuhi bunga itu agar dia datangi. tapi karena dari perutnya si cacing kembali bernyanyi, Nabilah pun belok dulu ke kantin untuk membeli makanan yang bisa mengganjal perutnya agar si cacing tidak melakukan mega konser bernyanyi ria dalam perutnya.

Sampainya di taman ternyata apa yang di bisikan pikirannya benar, Nabilah bisa melihat si arwah.
“hmm~ Di cariin juga! Tahunya mejeng disini!!” ucap Nabilah mengambil posisi duduk, dengan sebelumnya melihat situasi sekitar taman. Nabilah mengunyah sisa makanan yang dia beli di kantin
“ada yang aneh sama Kinal, Bil!” kata Ve dengan suara pelan, Nabilah melihat Ve
“aneh? Aneh kenapa kak?” tanyanya dengan di mulut masih ada makanan
“dia akhir-akhir ini sering bolos sekolah! Dan... tadi pagi pas telat~ Kinal bukan murid yang suka terlambat datang ke sekolah Bil!!” Nabilah berpikir sejenak ‘kenapa ni arwah tahu ya?’ “apa yang sebenarnya sudah terjadi?... haaaah~ kenapa aku dulu sama Kinal harus berantem ya?!” lanjut Ve dengan nada menyesal,
“kenapa juga kakak dulu mesti marah-marah dan dorong kak Kinal untuk menjauh?” kata Nabilah dengan polosnya, Ve melihat Nabilah. “kalau dulu kakak gak marah sama kak Kinal, terus gak jauhin kak Kinal, mungkin sekarang kakak gak perlu ngalamin semua ini! Ia kan?” tutur Nabilah.
“hemm~ mung...kin!” kata Ve sambil memikirkan ucapan Nabilah.
“ya udahlah kak, itu kan yang dulu! Yang sekarang itu mending kita cari cara untuk gimana minta maaf sama kak Kinal, sama teman-teman disini, sama orang tua kakak yang... sekarang orang tua kakak dimana kak?” Nabilah mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan karena seperti yang Ve bilang orang tuanya super duper sibuk. Meski mereka tahu anaknya sedang koma yang entah akan sembuh atau mati mereka sepertinya tidak terlalu memusingkan hal itu. Mereka sudah menitipkan Ve yang ada di ruang ICU pada dokter dan suster-suster di rumah sakit dengan uang dan kekuasaannya.

“em~ kakak juga gak tahu, Bil! Mereka ada dirumah apa gak? Mereka kapan ada di rumahnya? Kakak gak tahu, dan… gak pernah tahu tentang papa dan mama! *sigh*” jawab Ve dengan begitu lemas.
“mmm~*Nabilah berpikir* gimana...” Ve melihat Nabilah “kalau sore nanti, kita ke rumahnya kakak!” Nabilah menawarkan, Ve tersenyum dan membalas tawaran Nabilah
“boleh, rencana kamu apa?”
“rencana apa kak?”
“ya rencana kamu ke rumah kakak! Itu buat apa? Dan mau ngapain?”
“owh! yaaa.. Nemuin orang tuanya kakak lah! Kalaupun mereka nya gak ada, kan ada bibi rumaya... Sekalian aja minta maaf, sama tanya kapan orang tua kakak akan ada di rumah atau... ya gimana caranya lah biar papa mama nya kak Ve bisa kita temuin sebelum 48jam itu berakhir!!” Nabilah menjelaskan
“bibi rumaya… dia bakal maafin kakak gak ya?” gumam Ve,
Nabilah masih sibuk dengan kegiatan makannya sambil bicara “pastilah kak! bibi nya kak Ve itu... mm~ waktu pertama Nabilah ke rumah kakak, dia kayak tahu keberadaan kakak yang ada di dekat Nabilah!”
“oh ya?” Ve sedikit terkejut, Nabilah mengerung
“ya, iyalah.. jangan-jangan kakak dulu gak dengerin apa yang Nabilah ucapkan?” Ve balas mengerung dengan melihat Nabilah
“yang mana Bil?” Nabilah tidak menjawab pertanyaannya Ve, dia berhenti melahap makanannya dan mengelus kening sebelah kanannya sambil menarik nafas.
“udahlah gak usah ngebahas yang itu~ pokoknya kak Ve ikutin apa yang Nabilah akan lakuin untuk misi kita ini! Ok?”
“misi kita?” Ve tersenyum lebar “kamu udah mau nerima misi ini Bil?” lanjutnya, membuat Nabilah bereaksi
“hemp! Misi kita, misinya Veranda dan Nabilah! Yang Nabilah namain misi VeNa.. Hahahaaa!!” Nabilah tertawa dengan apa yang di ucapkan bibirnya. Ve yang tadi sempat murung bisa ikut tertawa dengan kelakuan Nabilah.
Ve menatap Nabilah dan kembali berpikir dia sangat beruntung bisa mendapat pertolongan dari Nabilah, meski kadang Nabilah suka mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar yang mengindikasikan kalau Nabilah menolong dirinya karena keterpaksaan, dengan bilang ‘ini bukan misinya’ ‘kenapa Nabilah harus mau bantuin kak Ve’ ‘apa untungnya buat Nabilah’ ‘kenapa kak Ve gak pilih orang lain’. Dan tak jarang Nabilah juga suka bercanda dan menggodanya untuk hal-hal konyol yang sudah pernah dia lakukan di saat sebelum kecelakaan itu datang. Tapi kembali Ve berpikir kalau itu bukan masalah serius yang perlu Ve simpan dalam hati, karena Ve tahu pasti Nabilah tulus menolongnya, dan apa yang Nabilah lakukan itu hanya refleksi dari siapa Nabilah dan bagaimana dia... Nabilah tetap anak yang masih berusia 13th meski dari wajahnya sepintas sudah seperti anak SMA :D , dia senang bercanda, dia senang meledek sebatas untuk bercanda, dia senang berteman dengan siapapun, dia senang bicara sampai menghabiskan durasi orang lain, dan kesenangan lainnya yang di lakukan anak seusianya.
“heh! Kenapa liatin Nabilah kayak gitu?” Tanya Nabilah “Nabilah cantik ya?” lanjutnya membuat Ve tersenyum lalu menjawab
“ya pasti kamu cantik lah, orang kamu kan cewek!”
“hmm~ bilang ia aja, tanpa ada kata karena Nabilah cewek, buat nyenengin hati Nabilah, susah banget ya? kayaknya! Nyebelin!!" gerutu Nabilah, Ve tidak bisa menahan kegemesannya pada Nabilah “iya, iya~ Nabilah cantik, manis, lucu, imut, semua dehh!” kata Ve sambil melihat Nabilah
“nah gitu dong! Kan mood nya Nabilah jadi bagus buat nolongin kakak!!~ hehe.. - eh ya kak, masih inget sama apa yang Nabilah tadi tanyain di kelas?" Nabilah bertanya pda Ve yang kini sedang mencari jawaban
“emm~ ... tentang.... nomor HP?” Nabilah mengangguk dengan jawaban Ve
“kalau kakak gak punya nomor teman sekelas kakak, atau nomor murid-murid yang akan kita mintai maaf. Gimana caranya kita dapat nomor HP mereka, kak? Dari mana Nabilah bisa dapetin nomor mereka?!" Nabilah mengarahkan badannya ke arah Ve
“em~” Ve berpikir (si arwah sudah bisa kembali ke mood awal sebelum bertemu Kinal, dan masih bisa menggoda Nabilah) “em~~ dari...”
“ck~ lama amat sih! Jadi dari mana nih? Nabilah protes karena Ve terlalu lama
“dari... dari mana ya Bil?” dengan lurusnya Ve malah bertanya balik pada Nabilah
“ish, kirain tahu! Dari tadi sok-sok mikir tuh!!” ucap Nabilah
“kan tadi di kelas juga kak Ve udah kasih tahu, kak Ve gak punya nomor mereka dan gak tahu juga harus dapetin dari siapa? Tahu sendiri kak Ve bukan mahluk sosial!” ~ “lagian, mana mungkin kak Ve nyimpen nomor mereka.. kenal aja enggak!! Yang ada di kontak nya kakak paling cuma Stella, Dhike, Yoona, sama Kinal, Udah! sisanya nomor...,-“
“gak usah di terusin kak, kelamaan!” potong Nabilah atas penjelasan Ve “sekarang kita pikirin dari mana kita bisa dapetin nomor nya mereka-mereka!!” Ve mengangguk “jangan ngangguk aja! Jadi gimana nih? Dari siapa kira-kira kita bisa dapat nomornya?” kembali Nabilah bertanya, Ve memainkan matanya *sepertinya berpikir*
“apa kita minta tolong sama kak Stella, kak Dhike dan kak Yoona”
“Jangannn!” Nabilah terbelalak mendengar jawaban cepat Ve
“ke...napa?” tanya Nabilah pelan, menjawab Ve.
“gak tahu...” jawab Ve tak kalah pelan
“lah, gak bolehin kok malah gak punya alasannya sih? Hiss-- terus gimana dong?”
“umm~ gimana kalau kamu minta tolong Shania sama Beby aja?” usul Ve
“kalo ke kak Shania sama kak Beby udah Nabilah pikirin kak! Nabilah udah minta tolong sama mereka, tapi buat minta nomor HP nya murid-murid yang di SMP. Kalau yang di SMA kan... gak mungkin kak?”
Ve menatap lagi Nabilah
“aaapa sih? Seneng banget liatin Nabilah kayak gitu, dari tadi?” kata Nabilah yang diliatin Ve, sambil senyum mengembang dari bibir nya Ve.
“mm-nggak, kakak lagi seneng aja!” Nabilah mengerutkan keningnya
“idihh... dasar arwah labil! tadi mukanya di tekuk, bersedih sinetron~ sekarang senyam-senyum kayak mau pinjem duit!”
“hahaha~ bisa aja nih si cadel!!”
“aduh itu ngomongnya? Cadel, Cadel~ eh kak, cadel-cadel gini juga banyak yang ngantri sama Nabilah, tahu!”
“ngantri? Mau pinjem duit?! Hahahaa”
“kagak kak, ngantri buat nonton theater JeKaTe empat delapan!! Puas!?”
“eh? WL dong?! Hahahaaa~” ~ “Hahahaaa~ betull! panjang tuh antriannya” Nabilah dan Ve malah sibuk ketawa dengan candaan jayusnya.

*beberapa centimeter dari tempat Nabilah dan Ve berbincang, ternyata ada 2murid yang sedang menguping dan melihat Nabilah (karena Ve tidak terlihat dan tidak terdengar)*
“tuh kan, aku bilang juga apa! Ada yang aneh sama Nabilah!” kata si murid satu berbisik, si murid lainnya mengangguk menyetujui. (Posisi mereka berjongkok, sembunyi di belakang deretan bunga-bunga matahari yang ada di taman yang bentuknya seperti labirin kotak).
“jadi gimana nih Ga-,”
“Ssuutt,, jangan berisik! Gak kedenger Nabilah ngomong apa lagi!” katanya dengan menghalangkan tangan kanan pada teman yang ada di sebelahnya.

Bersambung lagi.. ^_^ cape ngetik :D
Aku tunggu kicauannya ya.. Arigatou :)
Maaf Kalau membosankan!! ^_^a

0 comments:

Poskan Komentar