Senin, 22 April 2013

JKT48 NOVEL #3 (SEASON II)


Ini adalah Hari besar yang ditunggu tunggu Sonya. Ia mengayuh sepedanya dengan kencang menuju tempat gedung audisi berlangsung. Sonya berfikir untuk mengendarai sepeda pada saat itu, tempat gedung audisi berlangsung juga tidak terlalu jauh dengan kediamannya. Tidak lupa ia juga membawa beberapa pakaian di dalam tas yang ia gendong. Sepertinya Sonya sedikit agak terlambat, teman temannya sudah pergi mendahuluinya. Bagaimanapun hari ini adalah hari dimana ia harus memperlihatkan bakat nya pada semua orang. Ia tidak ingin melewatkannya. Kemudian handphone Sonya berdering, ia menyempatkan waktu sejenak untuk membaca pesan yang ia terima. Ternyata dari temannya, yaitu Shania.

- Kamu dimana? Pembukaan Audisi sudah mau dimulai. Cleo, Jeje dan aku masih menunggumu di pintu gerbang. Jangan sampai terlambat ya.  (*^▽^*)  -
- Iya, aku lagi dijalan. - Balasnya.

Sonya sempat berfikir. "Mereka yang menungguku hanya bertiga, kalau begitu dimana anak baru yang bernama Shiva itu? Apa mereka gak pergi bersama?"

Shiva merupakan teman baru yang ia dapat dari tempat latihan. Mereka berlatih bersama selama satu minggu. Sosok Shiva memang bisa terbilang pendiam, sebelumnya mereka sudah berjanji untuk berangkat bersama sama, Namun tidak terlihat keberadaan Shiva. Sonya pun melanjutkan perjalannya. Ditengah perjalanan ia diberhentikan oleh seorang pria muda. Ternyata pria muda itu adalah Yuda. Tidak ada yang salah dalam diri Sonya, kenapa pria yang ada dihadapannya menghalangi jalan ku? pikir nya. Ia sempat kebingungan.

   "Kenapa? Apa aku berbuat salah?"

Yuda mengamati penampilan Sonya dari atas hingga bawah. Ia melihat kartu peserta yang dikenakan Sonya. Kemudian ia tersenyum senang.

   "Asssiiiiiikkk ... Kamu pasti salah satu peserta Audisi, benar kan? Siapa namamu? Ah, S O N Y A ... Apa semua penampilan peserta akan sama miripnya dengan mu?"

   "Maksud kamu?"
   "Apa kamu gak tau apa yang aku maksud?"
Sonya menggelengkan kepalanya.
   "Emmm, Kamu tau? ini seperti kamu menyukai seorang pria bertubuh besar, tampan dan berkharisma. Itu yang aku maksud."

Kedua mata Sonya tampak besar keheranan. Ia masih binggung dengan apa yang diucapkan pria yang tidak dikenalnya dihadapannya.
Kemudian Yuda mendekati kuping Sonya. "Putih, Cantik, Seksi dan banyak lekukan ditubuhnya. Sama sepertimu." Bisiknya sambil tertawa.

Sonya mendadak kesal, tanpa basa basi ia menginjak kaki Yuda dengan keras. Pekik Yuda kesakitan. Sonya yang sedang buru buru malah dihadang oleh seorang pria yang tidak jelas, tentu Sonya akan merasa jengkel.

   "Sudah aku pergi dulu. Aku lagi buru buru. Lagipula aku gak kenal kamu."
Lagi lagi Yuda menghalangi jalan Sonya sambil merengek rengek. "Tunggu, tunggu, tunggu... oke, oke. Yang tadi itu aku hanya bercanda. Tetapi aku mohon dengarkan permintaan ku ini. Aku mohon."
   "Sebenarnya ada apa? waktu ku gak banyak jadi cepat katakan."
   "Boleh ya aku ikut ke tempat Audisi bersama mu, aku mohon." Bujuk nya tiba tiba.
   "Kenapa? Apa jangan jangan kamu juga termasuk peserta Audisi ya?" Tukas Sonya yang setengah tertawa.
   "Enak saja, Aku ini masih waras. Aku hanya ingin mendukung seseorang disana."
   "Ya, Ya Yasudah, ikuti aku. Jika gak mau sampai tertinggal, keluarkan semua energi mu itu."
   "Maksud kamu apa?"

Kemudian Sonya mulai mengayuhkan sepedanya dengan kencang. Ia meninggalkan Yuda begitu saja.
   "Hei! Tunggu! Pelan pelan. Kenapa aku harus lari kayak gini? Tolong bonceng aku disepedamu itu."
Sonya membalikkan kepalanya menatap Yuda dengan jengkel. "Enak saja! Kamu lari aja, anggap saja lagi olah raga."

Beberapa saat kemudian, Sonya telah sampai didepan pintu gerbang gedung Audisi. Ia segera menemui teman teman nya. Shania keheranan setelah melihat Sonya yang membawa seorang pria disebelahnya. Nafas Yuda tidak beraturan setelah berlari mengejar Sonya.

   "Halo Semuanya ! Maaf aku terlambat." Seru Sonya dan segera berlari memberi salam pada teman temannya.
Shania melirik Yuda, kemudian ia berbisik pada Sonya. "Dia siapa?"
   "Aku juga gak kenal, dia minta aku memberi jalan ke tempat Audisi ini, udah gitu aja."
Wajah Cleo saat itu juga menunjukkan keheranan nya, tapi ia heran bukan karena keberadaan Yuda, melainkan temannya yang tidak hadir saat itu.

   "Panda, kamu gak sama Shiva datang kesini?" Tanya nya.
Sonya justru semakin heran mendengarnya. "Lho, Aku pikir dia berangkat bersama kalian. Kalo dia gak ada disini lalu ada dimana? Kak Cleo udah hubungi dia?"
   "Aku sudah menghubunginya, tapi hingga kini belum ada kabar. Dia gak pernah jawab panggilan ku."
Shania jengkel mendengar teman temannya mengkhawatirkan Shiva, dari awal Shania memang tidak menyukai temannya yang bernama Shiva itu. "Sudah lah biar saja, lagipula latar belakangnya aja gak jelas. Mengetahui tempat tinggal nya saja dia gak mau. Salah dia sendiri."
   "Shan, apa yang membuatmu begitu benci padanya?" Tanya Jeje.
   "Aku gak suka dengan tatapannya. Dia seperti sedang mempermainkan kita saat itu."
Jeje membela. "Ada apa dengan tatapannya? Saat pertama kali aku bertemu dia begitu lembut dan polos. Kenapa aku sama sekali gak bisa merasakan apa yang kamu rasa, Shan."
   "Sudahlah, pokoknya aku gak suka dengannnya. Dari pertama kali bertemu hingga kini aku masih mencurigainya."
Sonya serta Cleo hanya berdiam, mungkin mereka sudah bosan mendengar keluhan kebencian yang Shania rasakan. Sonya pun menoleh ke arah tempat Yuda berada, Namun tempatnya sudah kosong.
   "Kemana dia? Tiba tiba menghilang. Kamu lihat dia?" Tanya Sonya heran bagaimana pria itu menghilang begitu saja.
   "Kenapa? Apa kamu ada perlu dengan pria itu?" Balik Cleo bertanya.
Sonya menggeleng, salah tingkah. "Enggak, enggak. Aku hanya binggung aja."
   "Yaudah, kita masuk duluan saja. Barangkali aja Shiva udah ada disana."
   "Lagi lagi dia, lagi lagi dia. Mendengar namanya aja udah membuat aku kesal." Gerutu Shania.



Sendy yang saat itu baru saja membeli beberapa minuman mesti harus berurusan kembali dengan Dhike. Mereka saling bertemu di aula gedung. Ini merupakan pertemuan kedua bagi mereka setelah sebelumnya cekcok satu sama lain. Saat itu Sendy tidak terlihat bersama dengan Ayu, sebelumnya Sendy menyuruh Ayu untuk tidak mengikutinya dan menunggu nya di taman belakang gedung. Keduanya saling menatap cuek dan jengkel. Namun saat Sendy ingin pergi meninggalkan Dhike, lengan Sendy ditarik oleh Dhike hingga menyebabkan kaleng minuman yang dipegang Sendy terjatuh. Saat itu Dhike memang tidak berniat untuk menjatuhkan minuman yang Sendy Pegang, melainkan hanya ingin berbicara empat mata dengannya. Namun tarikan Dhike begitu keras dan membuat Sendy salah paham.

Sendy mengambil kaleng yang terjatuh lalu menatap Dhike kuat. "Serendah itukah dirimu?"
   "Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu." Tanya Dhike mengerutkan kening, ia masih penasaran.
   "Apa lagi? Apa yang membuatmu merasa penasaran? Kita bisa tuntaskan disini."
Dhike menarik nafas dalam dalam. "Saat kita pertama kali bertemu, bagaimana bisa kamu mengetahui namaku?"
Sendy sedikit terperanjat mendengarnya. Sebelumnya Sendy memang keceplosan menyebutkan namanya walaupun Sendy sebelumnya sudah mengetahui sedikit latar belakang Dhike. Sendy memang sudah harus beralasan, tidak mungkin jika ia menggungkapkan yang sebenarnya.
   "Aku melihat beberapa foto mu di ponsel Ayu." Jawabnya. Meskipun sebenarnya Sendy belum pernah menyentuh ponsel Ayu. Tetapi Sendy berfikir secara logika, jika mereka sudah menganggap saudara satu sama lain, pasti mereka menyimpan foto foto kenangannya di ponsel.
   "Foto foto mu tersimpan rapih disatu folder lengkap dengan nama lengkap mu." Tambahnya.
Dhike tertawa sanking tidak percayanya. "Kamu pasti sedang mengada ngada. Memang benar kalau Ayu menyimpan fotoku disatu folder yang berbeda, tetapi apa kamu tau, aku dan Ayu sudah memberi password pada folder itu. Dan yang tahu password nya hanya kami berdua." Dhike meneruskan dengan rasa percaya yang kuat.

Diluar dugaan, Sendy semakin terpojok dengan jawaban Dhike itu. Sendy sempat berfikir dan memang harus berfikir untuk kembali beralasan.
Sebuah password? 
Tiba tiba saja kedua mata Sendy terbuka lebar. Ia mengingat sesuatu saat diapartemen Ayu. Seminggu yang lalu Sendy memang pernah menyusup kedalam apartemen kediaman Ayu. Ia menuju kamar dan melihat Catatan Diary milik Ayu yang tergeletak dikasurnya. Ia sempat membukanya dan terdapat banyak sekali judul yang sama disetiap awal catatan yang Ayu tulis.

Nabilah & Dhike 2007, Seperti itulah judul yang Sendy lihat disetiap catatan Diary milik Ayu. Kemudian Sendy mulai mencerna arti dari kata tersebut.

Disetiap judul terdapat kalimat yang sama, pasti itu merupakan tahun spesial mereka. Jika memang benar begitu, mereka tidak mungkin mengambil password sepanjang itu. Pasti mereka menyingkatnya, Mengambil Sebuah password memang harus yang mudah diingat agar tidak mudah dilupakan. Apa mungkin N&D2007?

   "Kenapa kamu diam saja?" Ucapnya yang berusaha memojokkan Sendy.
Sendy menatap Dhike dengan mata menyala. Sendy yakin betul bahwa tebakannya memang benar. Tetapi jika memang tebakan Sendy salah, semua akan hancur. Dhike akan mencurigai Sendy sebagai orang yang sengaja mempermainkan Ayu dengan mengincar sesuatu yang ada pada diri Ayu. Sendy mulai menggerakkan bibirnya.

   "N & D  2 0 0 7." Jawabnya sambil terbata bata. Sungguh gugup Sendy mengucapkannya.

Dhike terperangah serta wajahnya berubah masam. Ia sedikit kecewa dengan jawaban Sendy, karena password yang diucapkan Sendy memang benar. Jadi kesimpulannya, Ayu memang sudah mempercayai Sendy sebagai sahabat terdekatnya, Sampai sampai password yang hanya diketahui oleh mereka berdua bisa sampai jatuh ke tangan Sendy. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Dhike, karena ia berfikir memang Ayu dan Sendy sudah berteman cukup baik.

   "Jawabanmu memang benar. Tapi aku gak semudah itu mempercayaimu. Aku masih meragukan mu."
   "Terserah apa katamu. Teruslah untuk tidak mempercayaiku, karena dengan begitu maka aku akan lebih mudah mendekati Ayu."
   "Sebenarnya apa yang kamu incar darinya? Dari banyaknya orang atau orang yang mengikuti audisi, kenapa kamu memilih dia? Bukankah lebih cocok untuk mu mencari teman yang sebaya dengan mu? Perbedaan umur diantara kalian cukup jauh. Itulah yang membuatku penasaran."
   "Apakah sebuah pertemanan membutuhkan persyaratan? Lalu, bagaimana dengan mu? Umur diantara kalian juga sama jauhnya. Maaf saja kalau aku memutar balikkan kalimat itu, karena aku paling benci dengan kekalahan."
   "Aku berteman dengannya sejak umurnya masih 5 tahun, kami bahkan sering tinggal bersama seperti layaknya kakak adik. Saat itu kami masih sangat kecil dan gak mungkin mempunyai pikiran kotor. Beda dengan sekarang."
Sendy tertawa sinis mendengarnya. "Wah, wah, wah. Pintar sekali kamu dalam menjawab. Mungkin Aku akan mulai menyukaimu. Kamu lawan yang sepadan dengan ku. Jika memang kamu mengkhawatirkan Ayu, selidikilah latar belakangku dan cari tau apa tujuan ku sebenarnya."

Perkataan Sendy barusan memang terdengar seperti ia sedang menantang Dhike. Mendengarnya kuping rasanya sungguh panas. Tubuh Dhike bergetar kesal, ia ingin sekali mengetahui apa yang Sendy rencanakan. Didekatkannya wajah Dhike pada Sendy dengan mata yang menyala nyala.

   "Omong kosong ! Aku peringatkan, jika terjadi sesuatu pada Ayu maka aku akan mulai menyalahkan mu."

Percakapan mereka berakhir, Dhike berjalan meninggalkan Sendy setelah ancaman nya itu.

Ada apa dengan nya? Apa aku terlihat seperti orang jahat? Kenapa dia begitu membenciku. Aku bahkan belum pernah menyentuhnya. Sedekat itukah hubungan mereka? 

Sendy pun mulai berjalan menemui Ayu yang menunggunya dibelakang taman gedung.




Suasana Gedung sungguh padat dan sumpek, meliputi area pintu masuk, Taman, Hall serta Lobby. Semua dipadati oleh para peserta Audisi. Hanya tinggal menunggu setengah jam saja untuk bisa memulai waktu pembukaan Audisi. Gedung yang dipakai untuk memulai Audisi memang bisa dikatakan mewah, bisa kita lihat dari taman yang begitu tertata rapih, terjaga dan sungguh bersih. Jika kita berjalan 20 langkah maka kita akan menemukan tempat sampah disetiap kelipatannya, sungguh banyak bahkan bisa dikatakan berlebihan. Penjagaan yang dilakukan pihak gedung pun sungguh ketat. Tentu jika kita mau menyewa gedung mewah ini rasanya harus memiliki sejumlah uang yang cukup besar. Namun itu tidak masalah selagi yang menyewanya adalah seorang produser terkenal yang didatangkan langsung dari Jepang, ia adalah Yasushi Akimoto, seorang produser, penulis lirik, skenario dan bahkan sutradara di Jepang sana.

Rasa gugup pasti ada dan akan bersarang disetiap peserta, sebelum melakukan Audisi, Para peserta banyak yang melakukan pemanasan agar gerakan yang dihasilkan lebih paten saat Berlangsung nya Audisi. Dengan musik yang diputarkan di latar belakang headset mereka menari nari dengan lincah dan gemulai. Yang lemah akan semakin minder jika melihat salah seorang yang sungguh pro dalam hal tari. Terlihat tiga gadis belia yang saat itu sedang berjalan menuju lobby gedung. Cindy, Delima serta beby bercengkrama tidak jelas.

Wajah Delima menunjukkan kekusutanya, rambutnya dijambak jambak sedikit. "Gugup! Aku sungguh Gugup! Gak lama lagi aku pasti jadi gila."
"Gak bilang gila juga kamu udah kayak orang gila. Udah jangan mainin rambut mulu. Rambutmu jadi kusut begitu, Ma." Ledek Cindy sembari merapihkan rambut Delima yang setengah kusut.
"Bagian kegugupanku itu pada saat sesi tanya tanya. Semoga aku bisa menjawab semua pertanyaan dengan mudah dan benar." Keluh Beby.
Cindy menoleh setelah perkataan Beby. "Memangnya pertanyaan seperti apa yang membuat mu jadi gugup?"
"Semuanya! Aku paling grogi kalo di tanya tanya depan juri atau panitia. Tetapi kalo mereka bertanya soal pendidikan mungkin rasa gugup ku akan berkurang."
"Memangnya ini kontes cerdas cermat!"
"Hehe."

Tiba tiba saja Cindy terdiam, ia menyadari perasaan Beby dan Delima yang gugup itu. Kenyataan nya Cindy juga mempunyai rasa yang sama. Namun ia tidak ingin memperlihatkan kegugupannya didepan teman teman nya, karena mungkin itu akan menjatuhkan rasa semangat mereka. Cindy menyentuh bahu delima serta Beby, ia berusaha menghiburnya dan menenangkannya. Namun yang dilihat Beby saat itu, wajah Cindy menunjukkan kecanggunggannya terhadap orang banyak.




Ayu yang baru saja cekcok dengan Dhike kini masih harus berurusan dengan segerombolan pria. Terdiri atas empat orang pria bertubuh besar dan mengincar semua barang milik Ayu yang ia pegang ditangannya. Keempat pria tersebut berhasil lolos dengan memanjat tembok pembatas gedung, memang pantas disebut pria berandalan yang selalu memeras orang yang lemah. Lebih tepatnya kejadian tersebut terjadi di area belakang gedung. Saat itu Ayu memang sedang sedih sedihnya makanya ia ingin menyendiri ditempat yang sepi. Tapi hal yang tidak pernah diduganya kini datang menerjangnya. Saat itu Ayu sungguh benar benar sial, Sendy yang sebelumnya bersama dengan Ayu kini ia tidak lagi bersamanya. Sepertinya Sendy masih dalam perjalanan menemui Ayu setelah sebelumnya membeli minuman.

Keempat pria berwajah sangar itu pun mulai mendekati Ayu. Kepanikan tidak bisa dihindarkan oleh Ayu. Salah satu dari keempat pria itu mendekat.

   "Tenang saja, Kami tidak akan melukaimu. Cukup kamu serahkan beberapa uang dan barang bawaan mu itu pada kami." Ucapnya sambil tertawa.
Ayu memegang erat tas yang dipeganggnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

Melihat itu, Pria yang ada dihadapannya merasa kesal.
   "Dasar Brengs*k! Cepat berikan! Jangan sampai gumpalan tangan ini bisa melukai mu. Apa kamu dengar?"

Ayu masih bersikeras melindungi semua barang barangnya. Ayu tetap menggelengkan kepalanya.
Kemudian pria itu memegang erat dagu Ayu. Ia menggertak, Ayu begitu ketakutan dan berteriak.

   "Aaa--!"

Teriakannya sungguh keras, sampai sampai Sendy yang berada dibalik tembok bisa mendengarnya. Beruntung Sendy saat itu sedang dalam perjalanan menemui Ayu. Setelah mendengar suara teriakan, Sendy mempunyai perasaan yang tidak enak. Walaupun sebenarnya teriakan itu belum pasti benar benar milik Ayu, karena Sendy baru saja berteman dan belum hafal betul dengan suaranya. Namun Sendy akan mewaspadainya dan berlari ketempat Ayu berada, lagipula munculnya sumber suara tersebut berasal dari tempat Ayu berdiam sebelumnya.

Dilihatnya empat orang pria bertubuh besar dihadapannya. Itu mungkin tidak akan mempan oleh Sendy untuknya merasa takut. Apalagi Sendy telah mewarisi beberapa keahlian Bela diri dari Ayahnya. Sendy memandangi kuat keempat Pria yang ada dihadapannya.

   "Jangan sentuh dia."  Gertaknya.
   "Kakak !" Teriak Ayu ketakutan.

Keempat pria tersebut melirik Sendy dan mendekatinya. Sendy balik menatap tajam pria yang ada dihadapannya.
   "Apa anda salah satu temannya? Teman mu itu sungguh tidak sopan. Disaat orang dewasa berbicara ia tidak pernah mendengarkan. Jadi, Bisa kamu ajarkan dia tentang sopan santun?"
   "Andalah yang seharusnya di ajarkan itu semua." Jawabnya dengan nada rendah.
   "Kurang ajar! Waktu ku tidak lama. Aku akan bereskan ini semua. Kalian duduk dan tonton lah saja aku." Ucap salah satu Pria yang berusaha memamerkan rasa percaya dirinya itu pada rekan rekannya. Bagaimana tidak merasa percaya diri dan keren, yang dilawannya saat itu hanyalah seorang wanita, pikirnya.
   "Wuuu ..." Seru sorakan kagum dari pada rekan rekan pria tersebut.
   "Kamu tenang saja, Ini tidak akan sakit. Apalagi aku selalu lembut pada wanita."

Kemudian lengan pria itu meraba leher hingga sampai dada Sendy hingga merangsang nafsunya. Niatnya hanya ingin berbuat mesum pada Sendy. Namun Sendy melawannya, Ia balik memegang tangan pria tersebut lalu memelintirkannya dan menjatuhkannya. Pria itu sedikit kesakitan dan balik menghantam Sendy dengan Pukulan tangannya, Namun Sendy berhasil menghindarnya dan balik menendang kaki pria tersebut. 2 - 0, lagi lagi pria itu kecolongan. Ia tidak mau dipermalukan oleh semua rekan rekan yang menontonnya. Pria tersebut mulai serius.

   "Oke, Oke ... Aku akan sungguh sungguh mulai saat ini. Kali ini aku tidak akan memandang bahwa anda adalah seorang wanita. Jadi aku harap anda harus lebih berhati hati."
   "Aku tidak butuh nasehatmu." Lagi lagi Sendy menJawab lembut dan tenang.

Pria itu mulai mendekat dan mencoba memulai pukulan berikutnya. Ia berusaha menendang tubuh Sendy, Namun sayang lagi lagi Sendy menghindar dan Sendy balik menyerang dengan Gerakan Kekomi (Kekomi adalah gerakan menendang dalam Karate). Pria tersebut terpental dan rekan rekannya pun menertawainya.

   "Kurang ajar! Sudah jangan banyak tertawa dan habisi saja dia." teriak kesal pria itu sambil menunjuk Sendy dengan mata setannya.

Keempat pria tersebut pun mulai mengelilingi Sendy. Sendy tahu bahwa ia sudah harus mulai berhati hati. Empat lawan satu memang bisa dikatakan tidak seimbang, tetapi mau diapakan lagi, Sendy akan mencobanya.

Ini sudah berlanjut, aku harus menyelesaikannya. Lagipula, aku rasa dengan menyelesaikan ini Ayu akan lebih mempercayaiku ... Ucap kata isi hati Sendy sambil memandangi Ayu.

Ayu begitu khawatir. "Kakak, Hati hati ..."

Sendy kelihatan aman tentram walau sudah dikelilingi empat pria yang ingin menghabisinya. Rupanya ia menikmatinya. Sudah lama aku tidak melemaskan otot otot ku.
Salah satu diantara pria pria tersebut mencoba memulai tinju nya, satu demi satu pukulan berhasil Sendy Hindar. Gerakan Sendy memang sangat gesit, sampai sampai sejauh ini Sendy masih belum menerima pukulan dari siapapun. Sungguh mengagumkan.

   "Tidak bisakah kalian serius menghadapiku?" Ledeknya sambil terengah engah.
   "Sepertinya ia memiliki gerakan bela diri, aku baru melihatnya yang seperti ini. Akan aku tunjukan apa itu arti curang bocah kecil."

Tidak di duga duga, salah satu dari keempat pria tersebut mengambil potongan kayu bekas kursi yang tergeletak dipinggir jalan.

Lagi lagi Sendy memojokkannya dengan meledeknya. "Empat lawan satu saja sudah tidak adil. Apa kalian akan menggunakan cara itu? Hey, Aku hanyalah seorang wanita."
Mendengar ledekan Sendy membuat suasana semakin panas. Agar keinginannya tercapai, segerombolan berandalan akan rela melakukan apa saja demi keinginannya tercapai, Bahkan membunuh sekalipun.
Pukulan demi pukulan terus datang menerjang Sendy, ditambah sebatang kayu yang diayunkan kearah dirinya. Sendy pun mulai kewalahan menghadapinya. Bagaimana tidak, Sendy hanya mempunyai dua kaki dan dua tangan untuknya bisa melawan. Fisiknya pun sudah mulai melemah.

Akhirnya tidak lama kemudian Sendy pun harus terkena hantaman tinju yang diarahkan ke tubuhnya. Itu sungguh membuat Sendy sedikit merasa terguncang. Jika terkena Satu pukulan saja, maka itu akan membuyarkan konsentrasinya. Disaat tubuh Sendy melemah, kedua Tangan Sendy berhasil dikunci oleh salah seorang dari pria tersebut. Sendy pun tidak bisa berbuat apa apa, terjangan pukulan terus menerpa tubuh Sendy hingga tubuhnya menjadi sangat lemas.

   "Kakak!" Teriak Ayu khawatir. Ia tidak tega melihat Temannya dipukuli di depan mata nya sendiri.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku ini selalu membawa kesialan? Aku sungguh lemah, Sungguh ...
Aku harus berbuat sesuatu, aku akan mencobanya.

Kemudian Ayu mengambil sebuah batu dan dilemparkannya batu itu hingga mengenai salah satu kepala dari pria tersebut. Dampaknya, Aliran darah pun mulai mengucur dari si kepala korban. Ayu yang melihat itu mulai gemetaran karena takut. Pria tersebut kesakitan dan sungguh kesal, ia berjalan mendekati Ayu dengan mata yang berkobar kobar.

   "Lari ! ! !" Teriak Sendy.

Jangan, aku mohon jangan sakiti aku. Dan aku tidak bisa meninggalkan teman yang sudah melindungi ku. Aku akan tetap disini.

   "Bruukk !!!."

Terdengar suara pukulan yang cukup keras. Sendy terdiam terperangah, Tubuh Sendy menjadi sangat lemas setelah melihat Ayu diterjang pukulan batang kayu yang mengenai kepalanya. Baretan dan sedikit bercak darah mulai muncul dibagian kepala. Melihat itu Sendy sungguh kesal. Sendy mulai kesetanan, Rasa kasihan yang tumbuh membuat kekuatan Sendy bertambah. Sekuat tenaga Sendy mencoba meloloskan diri dengan menendang tubuh pria yang saat itu sedang mengunci gerak Sendy. Akhirnya Sendy pun berhasil lolos dan segera berlari menghampiri Ayu.

   "Ayu!"

Sendy menuntun Ayu yang setengah tidak sadarkan diri itu ke pojok tembok. Hantaman keras yang diterima Ayu membuat kepalanya sungguh pening, pandangan nya pun mulai samar samar. Tidak tega Sendy melihat itu semua, Mata nya berkaca kaca memandangi Ayu.

Kakak ... Gumam nya.

Sendy begitu marah, tangannya bergetar kuat. "Dia hanyalah anak kecil yang gak bersalah sama sekali. Aku ... Aku akan membalas nya untukmu, aku bahkan bisa lebih kejam dari ini. Aku sudah muak melihat para berandalan itu."

Sendy memandang tajam pria yang telah melukai Ayu. Rasa Dendam sudah tumbuh dalam dirinya, seperti ingin segera menghabisinya. Sendy berlari ke tempat ia menyimpan tas nya dilantai. Ia mengambil Nunchaku dari dalam tas nya (Senjata Tradisional Jepang yang terdiri dari dua batang kayu yang di ujungnya tersambung dengan rantai). Perlahan Sendy mulai mendekati para pria tersebut.

   "Kalian telah salah dalam memilih mangsa. Hiiaatt !!!"

Keempat pria itu mulai menyerang Sendy. Sendy berlari kencang dan mengayunkan Nunchaku hingga menghantam hampir seluruh tubuh para pria tersebut. Kanan, kiri, atas serta bawah penuh dengan ayunan Nunchaku milik Sendy. Sepertinya Sendy hampir berhasil menjatuhkan pria pria tersebut. Mereka kesakitan dan menderita luka memar hampir disetiap bagian tubuh. Sendy memang sungguh lincah memainkannya. Namun sayang, satu pria berhasil kabur. Sendy ingin sekali mengejarnya, tetapi keadaan Ayu sedang tidak baik baik saja saat itu. Terpaksa Sendy kembali menghampiri Ayu yang sudah tergeletak di lantai.

Seorang Security muncul dari arah timur, Security tersebut datang setelah diberitahukan ada keributan dari pantauan CCTV gedung dari bagian arah selatan. Semua tersangka mencoba lari meloloskan diri.

"Mereka menuju arah barat. Tutup semua pintu gerbang dari arah barat dan kerahkan beberapa personel keamanan. Terutama tempat tempat terpencil yang dicurigai sebagai tempat lolosnya tersangka. Jangan sampai berita ini bocor ketangan orang dalam, ini akan mengacaukan atau mengganggu kelangsungnya acara." bisiknya dengan bibir mendekat pada alat komunikasi radio yang tertuju pada ruang pengendali CCTV dan personel keamanan.

Sendy menggendong Ayu yang setengah tidak sadarkan diri berlari menuju rumah sakit terdekat. Wajah nya menunjukkan kekhawatirannya dan juga belas kasihnya.

Mengapa kehidupannya penuh dengan kemelut. Hari besar yang ditunggu nya apakah akan berakhir disini setelah ia bersusah payah menyambutnya? Akankah ini menjadi sia sia baginya? Hanya tinggal beberapa menit saja waktu pembukaan Audisi dimulai. Aku tidak akan biarkan kejadian ini untuk menghalangi impiannya. Lagipula tugasku masih belum selesai dengannya, Aku masih harus terus mendalami kehidupannya agar misi ku tercapai.


Bersambung ...


Terima Kasih Yang Masih Setia Mengikuti Kisah Novel Ini.
Follow @JKT48fanfiction
Writer : Chikafusa Chikanatsu
Storyline Meter : 25% in progress.

0 comments:

Poskan Komentar