Selasa, 23 April 2013

-Journey- BabI -Introducing- #Chapter4



"loh! Non, non kenapa?" tanya mbo nah.
"engga, Shania ga kenapa-kenapa." jawabnya dengan menyeka bekas lelehan air mata yang ada di pipinya
"mbo nah, sini duduk sebelah aku" pinta Shania
"non, non shania sebaiknya masuk. Disini udaranya terlalu dingin!" kata mbo nah,

"mbo ... Shania mohon! Temenin shania disini, sebentar aja" pinta lagi shania. Mbo nah akhirnya duduk di sebelah shania, dengan cepat shania melingkarkan tangannya di tangan mbo nah. Dia mulai melagu mengeluarkan keluh kesahnya
"aku, kangen sama mami papi mbo!" ucap shania "kapan mereka punya waktu buat aku?" kata shania, mbo nah hanya diam mendengarkan. Dengan sesekali membelai lembut rambut shania "dari dulu ... Sampai sekarang. Papi sama mami ga pernah berubah! Papi yang sibuk dengan touring kerjaannya, mami yang yang hektik dengan kantor majalahnya!" keluh shania "apa... Buat mereka shania ini ga lebih berharga dari pekerjaan mereka?!" tanya kesal shania "kenapa shania selalu jadi prioritas kedua!" protes shania "apa mereka ga sayang sama shania?!" tanya shania..

"non... nda boleh bicara seperti itu!" jawab mbo nah
"shania pikir... saat shania pulang kesini, mami sama papi bakal ada di rumah. Tapi... Kenyataannya, mereka memang lebih memprioritaskan pekerjaannya ketimbang shania!" lagi shania mengeluh, dia tidak menghiraukan ucapan mbo nah.
"tuan sama nyonya, bekerja itu untuk non shania juga." ucap mbo nah "tuan sama nyonya itu, sayang sama non. makanya mereka bekerja keras setiap hari!" tutur mbo nah "ia, tapi apa ga bisa mami sama papi ngeluangin waktunya buat shania? Shania cuma 2minggu disini mbo!" ... "tidak ada orang tua yang tidak sayang sama anaknya, bahkan 'hewan sebuas harimau ataupun singa, mereka sayang sama anaknya. Selapar apapun mereka'" ..
"mbo, ko jadi bawa-bawa harimau sama singa sih! Emang, shania ini anak harimau apa!" jawab shania cemberut
"non,, non. non itu dari dulu... tidak berubah, selalu senang bercanda." mbo nah tertawa kecil, kemudian mengajak shania untuk masuk dan makan.

 "coba aja shania punya sodara, kakak, adik, sepupu, atau... Apalah gitu mbo!" kata shania berharap.
Mbo nah merasa kasihan pada anak majikannya ini, bukan dia tidak meng ia kan setiap kata yang di ungkapkan shania. Mbo nah tahu betul bagaimana kehidupan keluarga yang sudah dia bantu dari 20th yg lalu ini. Harta yang melimpah, tidak lantas membuat mereka bisa duduk dan bersenda gurau dimalam hari sebagai sebuah keluarga.


***
Siang hari, saat matahari sedang berada tepat diatas ubun-ubun. Dari sebuah studio musik yang berada di salah satu SMA favorit terlihat 3orang gadis sedang berdebat mengenai permainan musiknya. "Arghhhh,, Stop! STOP!!" ucap salah satu gadis yang berada di posisi belakang sebagai drumer "Jessica Veranda! Powernya kurang! mana suara kamu? Gue ga bisa denger dari sini!" dia melemparkan kritik, Ve hanya menatapnya. Belum sempat ve mengeluarkan pembelaan dia kembali berkata "kamu lagi nyanyi, atau menghitung beras sih?!" ucapannya membuat ve menatapnya dengan begitu kesal.

"dan lu kinal, permainan gitar lu itu... aDuhh... Masa ga bisa ngerasain sih! Nadanya sumbang tau!" kembali dia mengkritik, giliran gitaris yang jadi sasaran. Kinal memandang kearah gadis berambut pendek itu, dengan tatapan penuh emosi.
"apaan nih! Kayak permainan drum kamu bagus aja! Ghaida!!" kata kinal
"aku setuju sama kinal!" seru ve "woi, mengkritik si mengkritik tapi ga gitu juga kali!" kata kinal lagi, ve hanya mengangguk-anggukan
kepalanya menyetujui ucapan kinal.
"setidaknya, gue bisa lebih mengontrol permainan drum gue!" jawab ghaida, sambil melangkah mendekati kinal dan ve.
"mengontrol(?) mengontrol apanya?! Kuping aku tuh begah tau, denger suara gebukan stick kamu yang ga karuan itu! Bak, buk, bak, buk, ga jelas! Ga ada iramanya!" jelas kinal dengan nada mulai meninggi "masih mending juga permainan gitar aku, ada melody yang mengalun dari petikan jemariku." lanjut kinal, "apa?! Melody?! Melody dari mana?! Jrang, jreng ga jelas juga!" ucap ghaida.

Ve yang menyaksikan mulai menggelengkan kepalanya "mulai deh!" ucapnya pelan. Ve mencoba mencari cara untuk menghentikan perdebatan konyol sahabat2 nya ini. Kemudian ve berkata dengan berteriak "STOPPPP!" tepat di tengah ghaida dan kinal "BERISIK VERANDA!" ,,
"ampun, yang lagi berdebat. Bisa barengan gitu ngejawabnya." kata ve, dengan tersenyum senang. "kalian berdua memang cocok!" ucap ve
"maksudnya apa tuh?" tanya ghaida heran
"cocok apaan nih?" kinal ikut bertanya
"pikirin aja sendiri jawabannya! udah ah ke kantin yu? Dari pada disini semakin lama semakin menjadi perdebatan kalian!" ajak ve, kinal dan ghaida melirik ve "Ga perlu ngelirik-lirik gitu, aku tau ko! Kalo aku itu cantik." ucap ve, dia menarik kinal dan ghaida keluar dengan expresi muka mereka berdua yang jijik dengan kenarsisan ve.
Selama berjalan menuju kantin, baik kinal maupun ghaida yang ternyata masih belum puas, dengan perdebatan di studio tadi. Mereka melanjutkan perdebatan itu di sepanjang koridor. "hadeuhh... Masih aja berdebat, udah lah sama-sama mainnya sumbang. Ga perlu saling meledek gitu!" kata ve.
mendengar celotehan ve, kinal dan ghaida seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah ve. Sadar dia ditatap dengan tatapan pemburu oleh sahabatnya ve segera berkata "Hehee,, bercanda kali. maaf, tenang yah.. Peace!" dengan senyum tak karuannya. Raut muka mereka tidak berubah, malah lebih menyeramkan dari pertama tadi.

Karena takut di gelitik sama kinal dan ghaida, ve pun berlari. Tapi sayang pelariannya tidak berjalan mulus, ve menabrak seseorang
'@$%*bukkkk%$@' sampai minuman yang sedang dibawa orang itu tumpah mengotori seragamnya. "AHHH!!" dengan tatapannya yang begitu tajam,
dia membidik mata ve. "lu... ahhh! seragam gue?!!" keluhnya.

Di lain sekolah, seseorang sedang diam termenung. Memandang dengan tatapan kosong ke lapangan bola basket.
"udah siap?" tanya cindy, mengambil posisi duduk di sebelahnya.

..bersambung..

0 comments:

Poskan Komentar