Selasa, 23 April 2013

Friendship Candy -2nd Chance (48jam, 48nama)- 13th~Chapter

“maksud kakak apa? Kakak ngancem Nabilah? Kenapa kakak kayak gak senang kalau kak Ve bisa sembuh?” Nabilah dengan keberaniannya bicara pada Stella “bukankah... kak Ve itu sahabatnya kakak semua?” Nabilah balik mengajukan pertanyaan
“Hah (senyum sinis) Sahabat? Gue? (sambil nunjuk dirinya sendiri) Sama si Ve? Haha...” Stella tertawa sebelum melanjutkan kata-katanya; Ve memperhatikan tingkah Stella; Nabilah heran dengan kakak kelas yang lagi ada di depannya ini. “lu denger Key? anak ini bilang Gue, lu, Kita sahabat nya si Ve! HAHA~” dengan nada mencibir Stella melanjutkan kata-katanya, Dhike ikut tertawa menemani Stella. “heh! Kata siapa gue sama si Veranda itu sahabatan hah?... Jangan sok tahu kalau jadi anak!” Stella berhenti tertawa dan kembali bicara dengan nada serius penuh amarah.
Ve mengerung saat mendengar ucapan Stella ‘apa maksud ucapan Stella?’ ‘kenapa dia bicara seperti itu?’ bisik Ve yang terdengar jelas oleh Nabilah, Nabilah melirik sekilas pada Ve.
“di sekolah ini... siapa yang gak tahu sama persahabatan kakak, kak Dhike, kak Yona sama kak Ve, yang... suka banget ngerjain murid lain!?” ujar Nabilah (dia kini sudah kembali mempunyai energi dan bisa melawan Stella karena gerah dengan kata-katanya Stella yang bikin greget)
“Haha.. pengaruh Ve, eh-- bukan! Tapi pengaruh bokap dan nyokapnya, di sekolah ini. memang bisa bikin gue, Dhike dan juga Yona tenar! Dan si Ve yang polos, bisa dengan mudah gue manfaatin!!” kata Stella yang belum Nabilah pahami. “lu mau tahu? kisah gue, Dhike, Yona sama Ve? Hmm~ lu pasti mau tahu kan?!” Nabilah hanya bisa merapatkan alis matanya melihat Stella. “gue... sama si Veranda itu gak pernah nganggep dia SAHABAT, gue, Dhike sama Yona, itulah sahabat! Sementara Ve, dia cuma alat buat gue!” Nabilah semakin dalam merapatkan alis matanya dan Ve begitu terkejut saat mendengar hal itu. “dia cuma alat buat gue balas dendam sama bokapnya dia yang udah bikin keluarga gue jatuh! Dan bikin bokap gue di rawat karena kena serangan jantung!!” Stella terdengar marah bercampur sedih. Dia terus menjelaskan pada Nabilah tentang kenapa dia menjadikan Ve alat untuk balas dendam.

Ayah Stella dan Ve, dulu mereka pernah menjalin kerjasama dalam membangun sebuah usaha. Keduanya begitu kental dalam jalinan persahabatan dan membangun suatu usaha sampai akhirnya usaha mereka berkembang pesat, Ve dan Stella berteman juga karena seringnya pertemuan di antara keluarga mereka. keduanya terlihat tidak hanya seperti sahabat tapi juga sudah seperti saudara. Tapi kemudian ketika Ve dan juga Stella masuk ke Sekolah Dasar kelas 4, kedua ayah mereka mulai terlihat renggang sampai terjadi perpecahan karena Ayahnya Ve menendang Ayahnya Stella dalam bisnis mereka dan hanya memberikan 5persen bagian dari dulu saat membangun usaha. Ayah Stella pun membangun usahanya sendiri hingga, ketika Ve dan Stella mulai memasuki bangku Menengah Atas. mereka bertemu dalam sebuah perebutan project, namun ayahnya Stella kalah sampai membuat perusahaannya collapse dan ia sendiri masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung. Kini keluarga Stella hidup dalam kesederhanaan yang begitu sederhana, setelah serangan jantung, ayahnya terkena stroke dan ibunya pergi meninggalkan Stella dan juga ayahnya.

Dari sanalah Stella mulai merasakan kebencian pada ayahnya Ve yang tak lain adalah pemilik dari yayasan yang menaungi sekolah yang kini dia tempati untuk menuntut ilmu, sekaligus dalam rencana balas dendamnya. Stella tahu pemiliknya, Stella tahu kisah ayahnya, dan kemudian Stella merencanakan idenya untuk menghancurkan ayahnya Ve dengan melalui Ve sebagai alatnya.
Ia ingin melihat bagaimana hancurnya perasaan ayah Ve ketika anaknya yang akan membuat dia malu, Perlahan tapi pasti Stella merangsak dan mulai masuk di kehidupannya Ve dengan sebelumnya menyingkirkan Kinal, sahabatnya Ve. Dia membuat Ve tahu dunia malam, mabuk-mabukan, pulang pagi, dan Ve yang penurut bisa melawan ayahnya, meski Stella tahu cerita Ve yang tidak pernah mendapat perhatian dari orangtuanya yang super sibuk. sampai Ve di kenal sebagai pembuat onar hingga kepala sekolah sering melaporkan tingkah Ve yang berubah begitu drastis. Tidak jarang Ve terlihat sedang di marahi oleh ayahnya, dan setelah memarahi Ve ayahnya pasti memegangi dadanya. Itu membuat Stella cukup senang, dengan seperti itu Stella pikir ayahnya Ve bisa merasakan rasa sakit yang di alami oleh ayahnya sendiri.

Nabilah begitu dalam masuk di kehidupan Ve sampai dia jadi tahu bagaimana ke fiktipan persahabatan yang di buat oleh Stella meski dulunya mereka adalah teman; Ve begitu terkejut kaget saat mendengar cerita Stella, dia tidak pernah tahu akan kejadian itu, dan lebih ternyata, Stella itu adalah teman main, teman baik, dan…. Orang terdekat yang pernah Ve miliki waktu kecil untuk berbagi apapun. Meski Ve dulu sempat bertanya pada Ayahnya tentang keluarga Stella yang tidak pernah ada datang lagi ke rumah mereka, ayah hanya menjawab mereka punya kesibukan sendiri setelah usaha mereka maju. Ve tidak bisa bertanya apapun lagi hanya bisa menerima pernyataan ayahnya dengan berat hati karena tidak bisa lagi bertemu dengan Stella, papa dan mamanya yang sudah Ve anggap seperti orangtuanya sendiri.
Hingga tiba dia menginjak remaja dan masuk di sekolah yang didirikan ayahnya sendiri SMA Putri Jakarta, lalu Stella masuk dalam kehidupannya menggantikan Kinal dengan cara 'halusnya', Ve sama sekali tidak menyadari kalau itu adalah Stella teman mainnya waktu kecil.

“ja....di ini semua tentang balas dendam? Dan kak Stella, temenan sama kak Ve cuma buat ngerusak kebahagiaan dalam hidupnya kak Ve?! Karena ulah papanya kak Ve yang...,- apa kak Stella tahu? Kenapa dulu papanya kak Ve sama kak Stella jadi renggang dan akhirnya papa kak Stella di keluarkan dari kerjasama itu?”
Nabilah bicara dan bertanya begitu jelas, “dan... kakak semua yang bikin persahabatan antara kak Ve sama kak Kinal jadi berantakan dan berakhir dengan permusuhan yang di deklarasikan oleh kak Ve untuk kak Kinal?”
Stella masih mendiamkan Nabilah menanyainya, sampai akhirnya Nabilah menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan situasi yang sedang dia hadapi. Stella yang merasa hidupnya berantakan karena ulah papanya Ve yang Stella sendiri sebenarnya tidak begitu tahu alasan kenapa sampai papanya di tendang oleh papa Ve dalam kerjasamanya itu, Ve yang hanya korban.. dia mendapatkan banyak hal yang tidak menyenangkan dalam masalah yang dibuat Stella, papa mamanya yang semakin hari semakin jarang memperhatikan dia, teman-teman satu kelas bahkan satu sekolah dan satu yayasan (SMP SMA) membenci dia karena ulahnya yang jadi tidak menyenangkan, kehilangan sahabat baiknya yang sangat dia percaya, dan sekarang dia mungkin akan kehilangan dirinya sendiri dengan kebencian yang mengantarnya, apa yang Stella lakukan untuk balas dendam pada papanya Ve justru malah lebih banyak nyakitin Ve ketimbang papanya Ve sendiri (pikir Nabilah).

“kak Stella kok jahat sihh!” kata Nabilah tanpa ada rasa takut, Stella menatap Nabilah
“gue jahat? kalo gue jahat, gimana dengan papa nya Ve? Dengan Ve sendiri yang suka jahatin murid-murid disini!? Ck~ gak usah sok nilai deh kalau gak tahu!!” jelas Stella dengan tatapan dinginnya, Nabilah mengerung, Ve terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“kak Ve emang jahat, tapi dia jadi kayak gitu kan karena kak Stella sama yang lainnya juga! Bukan karena kemauan sendiri!!”
Stella terlihat geram dengan pernyataan Nabilah yang membela Ve “lagian, kak Stella kan dendam sama papanya, kenapa harus lampiasin nya sama kak Ve!? Dan... kak Ve itu kan teman main kakak waktu kecil, kok kakak tega sih berbuat hal seperti itu?” Stella semakin geram.
“eh denger ya? Lu bisa ngomong kayak gitu, karena lu gak ada di posisi gue! Lu gak tau kan gimana rasanya saat kehidupan lu lagi tenang, tiba-tiba bokap lu jatuh sakit terus nyokap lu ninggalin lu gitu aja!!” Nabilah melihat Stella yang terlihat sedih, Dhike memegang pundak Stella memberikan semangatnya (Dhike itu sahabat Stella dari SMP, dia sangat tahu tentang Stella), Ve bisa merasakan apa yang Stella rasa, dia tidak menyalahkan Stella untuk hal yang membuat dirinya berubah, dia justru merasa bersalah karena tidak tahu akan kejadian antara orang tua mereka.
“lu ataupun Ve bahkan bokapnya Ve, gak akan pernah bisa ngerasain rasa sakit yang ada dalam hati gue! Gue cuma seorang anak, yang akan merasa sakit ketika ayah atau ibunya di sakiti, dan gue cuma mau orang itu (ayahnya Ve) merasakan apa yang gue rasa!” Stella berhenti sejenak "gue.. sakit ngeliat bokap gue sekarang gak berdaya dan gue merasakan sakit saat gue ditinggal sama nyokap gue gitu aja!!, dia pergi ninggalin bokap gue yang stroke dan ninggalin gue yang masih butuh perhatian dia! Apa lu pikir? Tindakan gue itu jahat?” Stella bertanya pada Nabilah yang masih menatapnya
“gue mau dia (papanya Ve) ngerasain gimana sakitnya kehilangan orang yang dia sayangi! Kalau Ve... mati, pasti nyokapnya akan marah terus-- dia pasti akan di tinggalin sama nyokapnya Ve, so.. kita impas, dia kehilangan Ve anak perempuannya yang dia sayangi dan juga istrinya! Sama kan kayak gue?!”
Ve kaget saat mendengar ucapan terakhir Stella, dia merasa sangat bodoh tidak tahu masalahnya lebih awal.
Nabilah merasa bingung, karena dia ada dalam 2keadaan yang ke2 nya sama-sama dalam lingkaran tersakiti. Nabilah tidak mau lagi bicara karena dia merasa ini bukan jalurnya, dia memang sedang menolong Ve tapi saat menghadapi Stella dan mendengar kisahnya... Nabilah tidak tahu harus berkata seperti apa.

“hmm~ hidup itu... keras! Kalau lu lembek dalam ngejalaninnya dan lambat dalam melakukan pergerakan, maka, lu... hidup Tidak untuk mendapat APAPUN, karena lu... cuma pecundang yang bersembunyi dibalik punggung orangtua lu!" Nabilah hanya diam mendengarkan curahan rasa sakit Stella, begitupun dengan Ve. "ketika seseorang mengambil kehidupan lu, lu harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik lu! Ketika seseorang membuat lu merasakan sakitnya menjalani kehidupan, maka lu harus bisa membuat dia yang bikin hidup lu sakit merasakan apa yang lu rasakan!!" Stella bicara begitu jelas tanpa ada keraguan, entah dia bicara apa tapi kata-katanya lebih menyiratkan luka yang dia derita sudah terlalu pedih sampai membuatnya tidak perlu berpikir 2,3,atau 4kali untuk melakukan tindakan 'dia nyuri dari kamu, kamu curi lagi.' balas dendam untuk membuat rasa sakitnya terobati.
"Haaah (Stella mendesah) lu gak seharusnya ada di garis ini Nabilah! Lu gak ada kaitannya dengan semua ini, tapi... saat lu masuk dan membuat pernyataan untuk meminta maaf pada murid-murid disini atas nama kakak SEPUPU lu (Ve), gue gak punya pilihan lain! Gue bakal bikin lu... angkat kaki dari sekolah ini, dan BERHENTI meminta maaf untuk si Ve dengan alasan agar dia bangun dari koma nya! Dia gak perlu lagi bangun dari tidurnya yang sekarang bukan?" Stella berhenti dengan melontarkan pertanyaan, Nabilah melirik sekilas ke arah Ve yang sedang menatap Stella dengan raut sedih, yang sebelumnya terpancar expresi bercampur di wajah kalem nya. Marah, sakit, benci, lalu sedih, setelah mendengar setiap ucapan-ucapan yang terlontar dari Stella.

Kediaman Nabilah membuat Stella kembali bicara dan menanyakan pertanyaan awalnya yang belum sempat di jawab Nabilah.
“kenapa diam? Lu gak mau ngomong lagi? Buat belain si Ve?” Nabilah mengalihkan matanya kearah Stella, masih dalam posisi bibirnya yang dia kunci rapat.; Dhike masih tetap diam.

“emm~ gak ada lagi yang perlu Nabilah omongin kak!”
dengan nada kalem Nabilah menjawab, dia ingin bisa segera pergi dari taman karena merasa kasihan pada Ve yang terlihat sakit.
“lu, masih harus ngomong, bukan untuk belain Ve. Tapi untuk menjawab pertanyaan gue tentang, kenapa lu minta maaf sama murid disini? Atas nama Ve!”
Nabilah bingung dengan pertanyaan Stella, apa harus dia katakan yang sebenarnya? Atau dia kembali tutupi dengan berbohong?. Tapi yang bertanya ini Stella, orang yang cukup tahu tentang Ve meski tidak semuanya. Ditambah lagi tadi Stella menanyakan kenapa dirinya mengaku sebagai Ve saat di aula. Nabilah berpikir (tentang kejadian di aula) begitu dalam untuk menjawab.
“diam lagi! Kenapa? Kenapa gak bisa selancar saat lu berbohong sama murid-murid disini, sebagai sepupunya Ve dan... sebagai Ve saat di aula?! Jawab?!” Stella kembali meneror.

*di aula, Ayana dan Gaby dengan bantuan senior yang tadi di mintai maaf. Melakukan perlawanan pada Yona dan Novinta yang menghalangi jalannya Ayana dan Gaby untuk mengikuti Stella dan Dhike yang menyeret Nabilah. Karena Yona dan Novinta dengan tegas dan beraninya melawan setiap ucapan yang di lontarkan senior lainnya, Ayana dan Gaby masih belum bisa melewati mereka. Sampai akhirnya ada seorang guru yang datang ke aula karena bell masuk istirahat sudah bunyi dari 1jam yang lalu, dan beberapa guru yang mengajar di beberapa kelas (SMP dan SMA) mengeluhkan tentang murid-murid yang di dalam buku absen tadi pagi hadir, tapi setelah istirahat mereka tidak ada masuk kelas. Melihat kedatangan guru itu, mereka yang terlibat adu mulut dan mereka yang dengan diamnya menyaksikan segera mengunci mulut mereka rapat, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan guru ataupun mengadukan Yona dan Novinta yang sedang melindungi Stella dan Dhike yang membawa Nabilah. Si guru terus bertanya ada apa? Kenapa kalian berkumpul di aula? Apa yang sedang kalian lakukan dan ahirnya dengan mengeluarkan ucapan maut nya, si guu berhasil membuka mulut murid-murid yang ada di aula.
“Ok! kalau kalian tidak ada yang mau bicara, dan menjelaskan apa yang sedang kalian lakukan! Maka..” guru itu berhenti sejenak dan melihat murid-muridnya satu-persatu “kalian semua, akan mendapat surat panggilan untuk orang tua kalian! Ibu akan suruh mereka datang ke sekolah dan.,-“ belum si guru menyelesaikan kalimatnya, satu murid berseragam SMA akhirnya buka mulut dan menceritakan semuanya... SEMUANYA dari saat di aula ketika Ve meminta maaf sampai akhirnya cerita Nabilah yang di bawa Stella dan Dhike.

Guru berperawakan tinggi kecil itu sempat kaget ketika mendengar Ve masuk dalam tubuh Nabilah si murid SMP dan meminta maaf, tapi dia bisa mengendalikan ke kagetannya dan tetap memancarkan kharismanya sebagai seorang pengajar.
“baiklah, kalian semua masuk kelas. Kecuali untuk.. Yona dan Novinta! Kalian ikut ibu, tunjukan kemana Stella membawa adik kelas kalian!!” katanya lalu memerintah.
Ayana dan Gaby segera melontarkan pernyataan agar bisa ikut dengan si guru untuk melihat Nabilah.
“bu, kita ikut! Kita juga mau lihat teman kita yang di bawa sama kak Stella!!” kata Ayana
“iya bu, kami mau ikut! Kami khawatir dengan Nabilah, karena tadi..,-“ Gaby terhenti karena tidak sengaja dia melihat tatapan Yona yang mengintimidasi
“tadi apa?.... Gaby!” tanya guru dengan melihat papan nama Gaby, Gaby menekan rasa takutnya dan memberanikan diri untuk melanjutan kata-katanya karena di pikirannya masih jelas wajah Nabilah yang pucat dan kesakitan saat di bawa Stella
“tadi.. kak Stella menyeret Nabilah dengan kasar bu!” katanya sambil menunduk, si guru melebarkan kedua bola matanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, guru dan ke4 muridnya itu pergi dengan Yona sebagai penunjuk jalan ke tempat Stella membawa Nabilah. Yona tahu tempatnya karena sesuai rencana dari Stella, mereka bertiga akan membawa Nabilah dari kelas ke taman labirin untuk mengintrogasi dia.

“Nabilah... Nabilah emang lagi bantuin kak Ve!~” Nabilah mulai bicara untuk menjawab Stella “sebenarnya... Nabilah... bantuin kak Ve karena....” Nabilah melihat dulu kearah Ve, saat dia akan melanjutkan ucapannya dan berniat membuka semua cerita di balik aksi permintan maafnya untuk Ve pada Stella, agar teman kecil Ve itu tahu bagaimana tersiksanya Ve hingga dia harus mengalami hal mengerikan, yaitu ada diambang hidup dan mati. Tiba-tiba kedua matanya melebar, Nabilah merasakan sesuatu masuk dengan paksa kedalam tubuhnya, dia terlihat kesakitan lalu detik berikutnya... dia menunduk sejenak, Stella dan Dhike terkejut dengan adegan yang mereka lihat, lalu mereka menjadi lebih terkejut ketika mendengar suara Nabilah berubah menjadi suara yang tidak asing di telinga mereka.
“dia meminta maaf karena aku meminta bantuannya!” kata Ve melanjutkan ucapan Nabilah.
“V-Vveee..” suara Stella terdengar ketakutan, dan wajah Dhike tak kalah takutnya dengan suara Stella.
“awalnya... aku pikir, semua ini tentang permintaan maaf pada teman-teman disini yang pernah aku sakiti. Tapi ternyata aku salah, aku salah mengartikan apa yang dia bicarakan waktu itu!”

-Flashback On-
“bagaiman rasanya? Ada di dunia dengan keadaan, kamu bisa melihat orang-orang tapi mereka tidak bisa melihat ataupun merasakan adanya kamu?” suara seorang perempuan dengan wajah yang begitu menentramkan dan suara yang lembut penuh kharisma. Ve hanya bisa mengerung, karena tidak mengerti dengn apa yang di ucapkan perempuan yang ada di hadapannya yang sedang melihat kerungan di keningnya.
“kamu tahu? Jessica Veranda. Kamu itu, orang yang paling beruntung karena masih mendapat kesempatan kedua untuk bisa tahu tentang apa yang terjadi di sekitar kamu. Agar kamu bisa kembali menjadi kamu yang seharusnya! Dan kamu... bisa dengan jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi!! Ini semua tentang kamu.” katanya tanpa mengalihkan pandangan dari Ve “kamu... punya waktu 48jam untuk bisa pergi dari dunia ini, 48nama akan menjadi jalan kamu! Gunakanlah baik-baik, kembali pakailah hati kamu saat berhadapan dengan orang lain, Jessica!” ucapan terakhirnya, lalu pergi meninggalkan Ve yang masih bingung..
-FlashBack Off-

“48nama itu... bukan jalan ku untuk pulang, tapi ternyata... jalanku untuk akhirnya tahu sebuah kisah, sebuah cerita dari sahabat kecilku! 48jam itu... waktu ku untuk akhirnya menyadari siapa aku sebenarnya! Ini semua... memang tentang diriku!!”
Nabilah yang kembali di pinjami tubuhnya oleh Ve menatap Stella; Stella balik menatap dia bukan sebagai Nabilah tapi sebagai Ve; Dhike hanya menyimak dengan ketegangan di wajahnya.
“sebuah kepedihan yang aku tidak pernah tahu. Sementara kamu berjuang melawan rasa sedih kamu, aku bisa dengan biasanya menjalani kehidupanku, sebagai gadis remaja yang terus tumbuh dalam semua fasilitas yang papa kasih meski papa dan mama jarang ada di rumah, tapi kamu...” Nabila (Ve) menitikan air matanya “maafkan aku Stella.. maafkan papa ku?” Nabilah (Ve) menunduk “harusnya aku tahu, kenapa dulu kamu, papa kamu dan juga mama kamu tidak pernah datang lagi ke rumah? Harusnya dulu... aku terus mendesak papa untuk memberitahukan ku alasan kalian pindah rumah, alasan Papa, mama kamu membawa kamu pergi tanpa pamit atau apapun! Harusnya aku tahu, dan... saat kita kembali dipertemukan dalam satu kelas, harusnya aku sadar dan tahu kamu itu Stella, Stella yang waktu kecil selalu membelaku dari gangguan teman-teman lainnya ketika kita bermain ditaman, Stella... yang selalu menjagaku, memperhatikanku dan menyayangiku sebagai sahabat, sebagai adik, Stella yang sudah aku anggap sebagai kakak ku!... maafin aku yang gak bisa langsung sadar akan kesakitan yang kamu derita!! maaaf..---- maaaaf“
Stella diam termangu ketika mendengar ucapan dari Ve yang membuat pikirannya kembali bermain di masa lalu.
Nabilah (Ve) kembali mengangkat wajahnya, kini dia berjalan mendekati Stella lalu... Dia memeluk Stella dengan kedua tangannya dia lingkarkan di pinggang Stella
“Aku tidak tahu, apa aku bisa kembali dari dunia ku yang sekarang (hidup lagi), tapi satu hal yang aku tahu.. Stella tidak pernah berubah untuk ku, kamu tetap Stella yang selalu menyayangiku dan menjagaku, meski dengan cara seperti itu! Aku tidak marah dengan apa yang sudah kamu lakukan dengan menjadikanku alat untuk balas dendam, karena dengan itu aku jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi!! Aku minta Maaf------ maafkan aku… maafkan papa ku…" kembali kata maaf menjadi kata terakhir Ve dan... dia pun akhirnya keluar dari tubuh Nabilah karena waktunya sudah habis bahkan lebih sedikit dari yang seharusnya.
Stella yang tidak membalas balik pelukan Nabilah (Ve) karena pikirannya begitu sibuk memutar kenangan dulunya bahkan kenangan saat mereka menghabisan waktu sebagai geng populer dan dikenal sebagai geng bully paling di takuti. Stella memang selalu merasa tersiksa dengan apa yang sedang dia lakukan pada Ve tapi saat mengingat kondisi ayahnya dan ibunya yang entah kemana, dengan cepat Stella menepis rasa sedih dan bersalahnya pada Ve yang juga sudah dia anggap seperti adiknya sendiri, dan Stella terus melanjutkan rencana balas dendamnya. Stella merasakan tubuh Nabilah akan ambruk dari posisi memeluknya karena tangan Nabilah mengendur, segera Stella mencoba menopang tubuh Nabilah agar tidak langsung jatuh ke tanah dengan kasar. “Ve.. kamu gak apa-apa?” suara Stella keluar setelah tadi dia hanya bisa termangu. Nabilah memegangi kepalanya yang terasa pusing, dan Ve melihat dari sampingnya dengan dia ikut berjongkok untuk melihat kondisi Nabilah
“Nabilah... kamu gak apa-apa?” tanya Ve
“maafin aku Ve” ucap Stella terdengar menyesal
“maafin kak Ve ya Bil..” keduanya meminta maaf pada Nabilah yang masih mencoba untuk membuka matanya. “Bil, Nabilah.. Jawab kak Ve? Kamu gak apa-apa kan?” Ve terdengar sangat khawatir, karena dia kembali memakai tubuh Nabilah dalam kurun waktu yang tidak begitu jauh dan kali ini dia diam di tubuh Nabilah lebih dari waktu yang seharusnya. Nabilah masih meraih tingkat kesadarannya (Nabilah menopang tubuhnya dengan kedua lututnya posisi duduk ala orang japan sambil meremas kepalanya yang pusing; Stella ada di depannya; Ve ada di sebelah Nabilah dan Stella; Dhike masih diam terpaku mencerna apa yang baru saja terjadi dengan wajah cengo).
Nabilah bisa membuka matanya dengan rasa pusing yang mulai berkurang, saat dia melihat ke depan, Nabilah terkejut dan dengan reflek dia jadi tersungkur kebelakang, kini posisinya Nabilah jadi menopang badan dengan kedua tangan sebagai tumpuan kebelakang sebagai penahan agar punggungnya tidak berakhir di tanah "kak-kak Ste..lla!" ucap Nabilah. Stella baru setengah berdiri maksudnya akan membantu Nabilah berdiri. Tapi, belum dia melakukan tindakannya...
“Nabilahhhh” terdengar suara Ayana diikuti Gaby dengan mereka berlari kecil kearah sahabatnya yang terlihat mencemaskan, guru, Novinta dan Yona ikut berlari kecil. Nabilah melihat kearah mereka dengan kerungan di alis matanya untuk mengenali siapa saja yang sedang berlari kearahnya.
Posisi yang sedang Nabilah, Stella dan Dhike perlihatkan sontak memunculkan pemikiran bahwa Nabilah kemunginan di dorong oleh Stella dan pikiran jelek lainnya kalau Stella dan Dhike sedang memperlakukan Nabilah tidak pada tempatnya (dipikir Nabilah sampah!)
“apa-apaan ini... Stella? Dhike? Kalian sedang melakukan apa pada adik kelas kalian ini?!” tanya guru setelah sampai di dekat Nabilah, Stella dan Dhike
“ib-ibuuu.. bu Anggrek? Ke-kenaaapa?,-" Dhike terbata lalu melihat kearah Yona dan Novinta, Stella tidak bicara.
“kenapa? Kenapa ibu bisa tahu kalian disini?” guru yang tak lain adalah wali kelas dari Dhike, Stella dan juga Yona itu menembak Dhike dengan pernyataannya. “kalian itu.. mau sampai kapan seperti ini! Ibu sudah capek dengan tingkah kalian yang seperti anak kecil!!” Stella, Dhike, Yona, Novinta (dan Ve) mendengarkan ucapan guru mereka, dengan Stella terus mencoba melihat kearah Nabilah yang masih dia pikir ada Ve di tubuhnya Nabilah; Ayana dan Gaby sudah di dekat Nabilah dan membantunya untuk berdiri “kamu gak apa-apa, Bil?” bisik Gaby, Nabilah menggeleng menggantikan kerja mulutnya untuk bicara memberitahukan pada sahabtnya kalau dia tidak apa-apa.
“sekarang! Kalian.. ikut ibu ke ruang guru!! Dan kamu.. (menunjuk Novinta) ikut juga, nanti akan ibu serahkan kamu pada wali kelas kamu!!!” bu Guru kemudian mengalihkan pandangannya pada murid SMP lainnya
“kamu tidak apa-apa, nak?” tanya bu Anggrek lembut, Nabilah kembali menggeleng untuk menjawab pertanyaan ‘tidak apa-apa?’, karena Nabilah merasa bingung dengan situasinya seperti saat tadi dari aula. “kalian (Ayana dan Gaby) bisa bantu ibu? untuk bawa teman kalian langsung ke UKS! Nanti biar ibu ijinkan kalian pada wali kelas kalian! Kalian dari kelas berapa?” ucap bu Anggrek karena melihat wajah Nabilah yang pucat. Gaby dan Ayana langsung mengangguk dan menyebutkan kelas serta nama wali kelasnya.

Ve yang masih mencemaskan kondisi tubuh Nabilah, kini juga mencemaskan Stella yang digiring ke ruang guru, meski ini bukan untuk yang pertama kalinya mereka di bawa keruang guru karena urusan bully-membully tapi ini untuk pertama kalinya mereka keruang guru tanpa dirinya yang biasanya menjadi tameng dan akhirnya Stella, Dhike dan Yona bebas dari hukuman. Tapi Ve akhirnya lebih memilih untuk pergi dengan Ayana dan Gaby yang mengantarkan Nabilah ke ruang UKS. Sampai di UKS, Nabilah diperiksa oleh perawat yang ada di ruangan yang kental dengan nuansa warna putih dan bau obat menyelimuti ruangan yang tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu besar juga. Ayana dan Gaby duduk melihat Nabilah yang sedang diperiksa, beberapa menit lamanya perawat itu pun selesai dan bicara pada Nabilah
“kamu mengalami kelelahan berlebihan, itu yang membuat wajah kamu pucat, ibu akan kasih kamu vitamin setelah itu kamu istirahtkan dulu tubuh kamu disini, masih cukup banyak waktu sebelum bell pulang untuk kamu bisa tidur dan memulihkan kondisi kamu!” lalu berjalan kedekat lemari yang berisi obat-obat dan mengambil satu tablet vitamin, setelah Nabilah meminumnya perawat masih saja bicara “sebaiknya kamu jangan begadang, karena sepertinya itu yang menjadi penyebab utama kamu mengalami kelelahan. kamu itu masih kecil.. kasihan tubuh kamu, kalau kelelahan seperti ini sering terjadi dan intens bisa-bisa kamu kena,---“ ucapan selanjutnya dari perawat tidak lagi bisa Nabilah dengar dengan jelas, karena dia sudah tertidur, bukan hanya karena efek dari obat yang diberikan perawat saja tapi karena Nabilah memang merasakan kelelahan yang amat sangat.
Ayana dan Gaby pun pamit pada perawat untuk balik ke kelas dan menitipkan Nabilah agar dijaga, karena mereka tidak enak takut mengganggu Nabilah, belum lagi mereka masih ada sisa kelas yang harus diikuti.
“makasih, suster... pulang sekolah nanti kita jemput Nabilah, minta tolong jagain teman kami ya suster?!” kata Ayana dengan sopannya, perawat itu tersenyum dan mengangguk.
Ayana dan Gaby pun pergi dari UKS, hanya ada perawat, Nabilah yang terbaring dibangsal dan Ve yang duduk di sebelah bangsal tempat Nabilah istirahat. Ve memperhatikan wajah Nabilah, dia tersenyum melihat Nabilah yang terlihat kelelahan di hari terakhirnya dalam waktu 48jam. Setelah Ve menyadari tentang pesan dari wanita yang waktu itu bicara padanya. Ia sadar, mungkin... 48jam itu tidak akan ada untuknya, mungkin... 48jam dan 48nama itu hanya dorongan untuknya bangkit dari rasa takut karena stuck di satu dunia yang dia sendiri tidak tahu, 48jam 48nama bukan jalan untuknya bisa kembali dari koma dan hidup lagi seperti biasanya (mungkinkah?... pikir Ve).
“kalau akhirnya... kak Ve harus meninggal, kak Ve tidak akan marah sama Tuhan, kak Ve tidak akan marah sama kehidupan, dan kak Ve... tidak akan merasakan penyesalan, karena kakak tahu apa tujuan sebenarnya semua ini terjadi pada kakak!” ucapnya pada Nabilah yang sedang tidur “kak Ve gak akan lupain kamu, Bil. Kamu itu... penolong kakak dan kak Ve (Ve menunduk) kak Ve bahagia dengan semua ini! Makasih ya dek, makasih untuk bantuan kamu buat kakak!!” Ve menyeka tetesan air yang keluar dari kelopak matanya. Kemudian, samar-samar, Ve melihat tubuhnya transparan~ lalu biasa lagi, dan... terlihat transparan lagi~ kemudian biasa lagi.

lagi, lagi Bersambung.. ^_^
Aku tunggu kicauannya ya.. Arigatou :)
Maaf Kalau membosankan + Maaf sudah membuat kalian menunggu lama!! ^_^a

0 comments:

Poskan Komentar