Minggu, 21 April 2013

Rasa yang Terpendam Ep.1


Aku memiliki sahabat yang kukenal sejak aku pindah ke kota ini. Tepatnya ketika aku masih SD kelas satu di Kota Malang ini. Hendra namanya. Mulai dari SD sampai sekarng (SMA), aku satu sekolah dengan Hendra. Tapi ketika SMP kita tidak pernah satu kelas.Sekarang (kelas dua SMA) kami satu kelas lagi. Dia orangnya baik banget. Suka nraktirin aku jajan. Maklum anak orang kaya. Kadang dia juga curhat masalah pribadi.

Pernah dia cerita. Waktu dia kelas tiga SMP dekat dengan seorang cewek yang boleh aku bilang emang cantik dan manis, Tapi kelihatannya sih dia pemarah. Sebut saja namanya Stella. Aku sering sekali membantu Hendra untuk dekat dengan Stella. Sampai mereka sering jalan bareng, makan bareng, terkadang nonton bioskop. Karena saking senangnya dengan Stella, Hendra jarang sekali ketemu aku. Karena emang Hendra sangat cinta dengan Stella.

Sudah lebih dari enam bulan, namun Stella dan Hendra masih belum jadian. Sampai akupun memberi saran dan cara agar mereka segera jadian. Aku sih carinya di Google. Alhasil tiga hari kemudian mereka berpacaran. Namun masa bahagia itu hanya seaat. Mungkin karena Hendra dan Stella beda sekolah (ketika SMA), atau Stella sudah bosan dengan Hendra, bisa jadi lebih memilih Andre. Bintang di sekolahnya sekarang. Memang dia lebih kaya dibanding Hendra.

Sebenarnya Hendra termasuk kaya. Aku saja hampir tiap hari di traktir makan olehnya. Dan makanan yang paling kami suka adalah "Oskab asli Ngalam" Bakso asli Malang. Kami bagai kakak beradik.Tapi itu dulu, sebelum Hendra kenal dengan Stella. Tapi itu tidak menjadi masalah buatku. Walau jarang sekali aku bertemu dengannya, mungkin karena dilarang. Karena aku orang sederhana. Tapi aku dapat memakluminya.

Hendra sangat sedih ketika dia putus dengan Stella. Dia datang kerumahku yang sederhana. Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengannya. Dia curhat segala macam tentang Stella dan pacarny sekarang. Sebut saja namanya Andre. Dia sudah dikenal banyak anak karena dia adalah anak pemilik sekolah. Aku mengajak Hendra keluar rumah ke tempat yang bisa membuatnya lebih santai. Aku kasihan sekali dengan Hendra. Dia menjadi pemurung.

Akupun mengenalkan Hendra dengan teman SMP ku dulu, dia juga sahabatku. Namanya Melody, orangnya cantik sekali, rambutnya panjang, suaranya lembut, dan yang paling kusuka darinya adlah senyumnya. Laki-laki mana sih yang tidak suka melihat senyum Melody. Senyumannya mebuat jantung ini tidak bisa berdetak dengan normal. Memang aku akui, sebenarnya aku juga suka dengan Melody sejak aku SMP. Namun itu tak dapat kuucapkan. hanya pada sosoknya kuimpikan perasaanku. Walau aku sering memberi saran kepada Hendra, sebenarnya aku lebih pengecut darinya karena tidak berani mengungkapkannya.

Melody ini adalah teman dekatku waktu SMP. aku satu kelas dengannya pada saat kelas satu dan dua. Dia mempunyai daik yang tidak kalah cantiknya dengan kakaknya. Wajahnya manis sekali,Cindy Gula JKT48 kalah manis dengannya. Tapi itu menurutku hehehehe. Senyumnya pun sungguh mempesona ditambah gigi gingsulnya walauia sedikit cerewet. Eitz, tapi jangan salah paham dulu, aku hanya mengaguminya. Hatiku tetap untuk Melody.

Tiga bulan telah mereka jalani, tapi belu ada kata pacaran. Sore itu di Alun - Alun Kota Malang, sepertinya Melody dan Hendra sedang ada perbincangan. Melody bingung sekali dengan sikap Hendra. Memang sudah tiga bulan mereka lalui hubungan tanpa status. Hendra masih trauma dengan pacaran. Takut kalau Melody balkalan nyakitin hatinya seperti mantannya dulu.

"Slalu saja nyangkut-nyangkutin dengan Stella. Kalau kamu masih suka sam Stella, lebih baik kamu kembali saja sama dia. Lagian dia juga baru putus sama Andre." ungkap Melody dengan agak kesal.

"Tapi Mel, aku hanya butuh waktu." jawab Hendra.

Melody mengerti perasaan Hendra. Tapi dia butuh kejelasan darinya. Melody dengan agak kesal meninggalkan Hendra. Namun Hendra berhasil menahan tangan Melody.
Dengan sigap namun lembut. Melody pun menoleh kebelakang.

"Tunggu Mel ! " seru Hendra.

"Jika kenangan dapat melupakan cinta sejatimu, kembalilah pada masa lalumu." kata Melody.

Melody meninggalkan Hendra sendiri di Alun - Alun. Hendra sudah tidak mencegahnya lagi. Hendra berpikir, apa mungkin kembali dengan masa laluku ? Tapi disini ada cewek yang masih menunggu kepastianku. Dan setia padaku. Melody atau Stella???

Malam hari ada suara bel berbunyi dirumah Hendra. Hendra beranjak keluar dar kiamarnya dan meuju pintu depan.

"Stella." Hendra terkejut.

Stella memeluk Hendra dengan air mata yang menetes dipipinya. Dan menyesali perbuatannya yang lalu.

"Maafin aku Ndra, aku pernah membuatmu sakit hati. Aku nyesel udah ninggalin kamu. Sekarang aku sudah tidak ada apa-apa lagi sama Andre." ucap Stella.

"Kalau hanya sekedar kata maaf, sudah aku maafin kok." jawab Hendra iba.

"Makasih  Ndra," balas Stella.

"Iya sayang." jawab Hendra dengan mengusap air mata diwajahnya.

Setelah sudah larut malam, Stella pun berpamitan untuk pulang. Stella meninggalkan rumah Hendra. Beberapa langkah kemudian dia menoleh kebelakang. Dan tersenyum. Membuat Hendra menjadi gimana gitu, tau ndri kan?

Hendra semakin bingung dengan semua ini. Melody sangat baik, lebih memilih menunggu kepastian Hendra dan tidak menanggapi lebih cowok-cowok lainnya. Tapi disisi lain Hendra memang masih ada perasaan dan iba terhadap Stella.

Melody pulang dengan meneteskan air mata. Dia butuh seseorang untuk dijadikan sandaran untuk curahan hatinya. Kemudian dia menelponku dengan suara campur tangisan. Melody memang sering curhat ke aku sejak putus dengan mantannya yang bernama Rizal. Aku yang membuat Hendra dan Melody dekat. Walau sebenarnya aku masih ada rasa terhadap Melody, tapi aku tak mau mengungkapkannya. Karena aku hanya ingin Melody bahagia.

"Wan,kamu dimana ? “ tanya Melody sambil terisak nmenangis.

“Aku dirumah. Kamu nangis Mel ?” tanyaku balik.

“Kamu cepetan kesini ya Wan?” balasnya.

Akupun mengambil sepedaku dan berangkat menuju rumah Melody. Menanjaki jalan tanjakan. Aku masih mengayuh sepedaku. Kemejaku dihembus angin malam. Tapi kurasa masih kurang cepat. Lima belas menitan waktu yang harus aku tempuh untuk sampai dirumah Melody.

Melewati jalan yang agak gelap. Yang hanya disinari oleh lampu dan bulan serta bintang-bintang bersinar. Tapi diantara bintang-bintang yang bersinar, ada bintang yang paling bersinar dihadapanku. Yakni Melody yang berada di depan rumahnya menunggu kedatanganku.

Dia masih dalam keadaan menagis sambil memegang handphone.

“Mel, ada apa? Siapa yang membuatmu menagis? Hendra ya?” tanyaku pada Melody sambil mengusap air mata yang membasahi wajah cantiknya.

Aku paling tidak tega melihat cewek menangis, apalagi Melody. Dada ini rasanya seperti sesak ikut merasakan kesedihan Melody.

“Aku mau pergi saja Wan. Aku mau kerumah orang tuaku saja yang ada di Bandung. Aku sudah tidak kuat lagi. Biar aku bisa nglupain dia.”kata Melody dengan meneteskan air mata.

“Udah dong Mel, aku yakin Hendra masih sayang sama kamu.” balasku.

“Kenapa nangis Mbak? Pasti Mas Hendra lagi ya? Lama-lama nyeselin ya orang itu? Pengen hajar aja.” tiba-tiba Nabilah datang dan langsung menyaut.

“Tapi bener juga kamu Nab, pengen hajar aja tuh anak udah bikin Melody namgis sampe begini.” balasku dengan agak bercanda.

“Jangan donk, nanti kalau kalian hajar, aku malah bakaln nagis terus ngga berhenti.”balas Melody.

“Eh, denger-denger emang Mas Hendra itu cemburuan orangnya. Apalagu kalu liat Mbak Imel deket  sama Si Rizal, Ivan, Reza dan sapa lagi tuh.” cerocos Nabilah. .

“Tapi aku kan ngga begitu naggepin mereka.” balas Melody.

“Iya sih Mel. Tapi tenang saja, Hendragak bakalan ninggalin kamu kok.Udah ya? Jangan nagis lagi, nanti cantiknya hilang lho. Senyum donk cantik !” rayuku.

Melody pun tersenyum, walau sedikit agak sedih (seperti senyum manja) dan reflek memelukku.

“Makasih ya Wan ? Kamu selalu ada buat aku. Suka maupun duka.” ucap Melody

Senyumannya membuatku melayang, apalagi dipeluk oleh orang yang aku suka. Rasa nyaman dan tak ingin lepas darinya. Hangat dan dingin angin malam serta..

“Cie... cie.... “ belum selesai aku berkata dalam hati, Nabilah menggoda kami seperti itu.

Kami langsung melepaskan pelukan kami. Aku sangat senang sekali dipeluk Melody. Tapi malu dan kesal sama Nabilah. Tapi tak apalah.

Inilah “Rasa yang Terpendam” ku terhadap Melody.

 Iksan Kurniawan
@nustqiew


Next Episode: Demi Sahabat Part 2

0 comments:

Poskan Komentar